• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Pemrosesan Informasi

Dalam dokumen Teori Belajar al-Bayān Berbasis Al-Qur'an (Halaman 176-181)

Teori belajar al-bayān selalu mewajibkan alat peraga pembelajaran (wasa’il ta’limiyat) untuk memberikan fungsi mata.

Sementara dalam teori pemrosesan informasi juga membutuhkan visualisasi berupa mata. Ada tiga teori pemrosesas informasi yang mendukung dan memperkuat teori belajar al-bayān, yaitu: (a) Teori pemrosesan informasi. Dalam teori pemrosesan informasi, Gagne mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa mental diuraikan sebagai transformasi-transformasi dari input (stimulus) ke output (respons).12 Teori pemrosesan informasi dapat digambarkan sebagai kumpulan kotak dengan garis-garis. Informasi dalam bentuk energi fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk ucapan, tekanan untuk entuhan, dan lain-lain) diterima oleh reseptor ysng peka terhadap energi. Resesptor-reseptor itu mengirim tanda-tanda dalam bentuk impuls-impuls elektrokimia ke otak. Lebih lanjut menurut pakar ini, bahwa setelah impuls-impuls saraf masuk ke registor pengindraan yang terdapat dalam sistem saraf pusat akan bertahan selama seperempat detik dan seluruh informasi yang masuk sebagian kecil disimpan dan selanjuutnya diteruskan ke memori jangka pendek. Memori jangka pendek bisa

11Ada dua materi yang diaplikasikan guru agama Islam yang menggunakan media konkret yaitu materi shalat mayat dengan menampilkan boneka sebagai media dan materi haji dengan menampilkan replika kabah berukuran dua meter persegi yang dibuat khusus oleh sekolah. Kedua materi Fikh tersebut dipalikasikan oleh seorang guru Fikh bernama Wahyudi. Lihat Laporan Hasil Penelitian “Problematika Penggunaan Metode Pembelajaran Agama Berbasis Konkret di Kalangan Guru Agama Islam MAN 2 Model Mataram”, Tidak diterbitkan, IAIN Mataram, 2015, 62.

12Lihat Ratna Wilis Dahar,Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:

Erlangga, 2006, h.27.

keluar sekitar 10 detik kecuali informasi itu diulang-ulang, kecuali informasi itu memerlukan pemecahan dan otak daat difungsikan sehingga membentuk memori kerja bersifat pengkodean (kode) dan tersimpan dalam memori jangka panjang di mana informasi baru diintegrasiikan dengan informasi lama dan informasi inilah yang bisa dipanggil atau digunakan lagi.13 Dengan demikian dapat dipahamai bahwa teori pemrosesan informasi memerlukan fungsi mata dengan dukungan alat peraga sebagai bahan informasi jangka panjang.

(b) Teori pemrosesan informasi pengkodean. Teori pemrosesan informasi pengkodean menurut Allan Paivio (1971) mengatakan bahwa informasi yang tersimpan dalam memori pada otak manusia melalui dua bentuk yaitu verbal dan imajinal.

Informasi verbal diperoleh dalam bentuk terpisah-pisah, pernyataan tunggal, atau rangkaian pernyataan yang saling terkait secara kompleks, sedangkan informasi imajinal mengambil bentuk kesan-kesan dalam bentuk yang beragam, dan berbentuk visual atau gambar. Artinya, segala sesuatu yang diungkapkan dengan kata-kata akan terrepresentasi secara verbal dalam memori dan segala sesuatu yang bisa dikodekan sebagai kesan akan terreperesentasi secara imajinal dalam memori. Karena itu, adanya gambar yang bisa langsung dibayangkan dan diikuti kata atau statemen yang mengacu pada sesuatu yang bisa langsung digambarkan, dengan sendirinya akan mengarah pada representasi ganda, baik verbal maupun imajinal. Paivio berasumsi tersimpan secara verbal, sementara banyak stimuli abstrak yang tidak tersimpan secara imajinal. Karena itu sebagian besar item tersimpan dalam bentuk verbal dan imajinal atau dalam bentuk verbal saja. Menurut Paivio, kita lebih mudah memanggil kembali suatu item dari penyimpanan memori jika item itu direpresentasi dengan cara (verbal dan imajinal) daripada satu

13Lihat Ratna Wilis Dahar,Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:

Erlangga, 2006, h.28.

cara (verbal atau imajinal saja).14 Karena itu, kata-kata yang ada wujudnya, seperti rumah dan anjing, yang bisa digambarkan dengan mudah akan lebih cepat diingat dengan baik daripada kata-kata abstrak, seperti kebenaran dan keabadian. Hasil penelitian Paivio membuktikan bahwa seseorang yang disodorkan gambar akan lebih mudah memahami gambar itu secara imajinal daripada kata-kata konkret. Karena itu memori untuk gambar sangat bagus dan lebih baik daripada memori untuk kata-kata. Artinya, menurut teori Paivio pemrosesan informasi pengkodean temuan Paivio bahwa belajar memerlukan alat peraga atau visualisasi agar memori manusia mudah tergambar secara verbal dan imajinal.

(c) Teori pemrosesan informasi berbasis memori.

Menurut Richard c. Atkinson dan Richard M. Siffrin bahwa teori pemrosesan informasi berbasis memori ada tiga tempat (wadah) penyimpanan yaitu wadah pencatat sementara (register sensory), penyimpanan jangka pendek, dan penyimpanan jangka panjang.

Pertama, wadah register sensory bahwa semua informasi yang masuk melalui indera dicatat di sana dahulu. Semua informasi yang kita terima, entah itu dari pendengaran, penglihatan atau dengan acara apapun langsung masuk ke registrasi sensori. Informasi tersebut tinggal di sana selama kurang dari satu detik kemudian hilang.15 Registrasi sensori mirip sebuah gambar di televisi atau LCD.

Kedua, penyimpanan jangka pendek (short term store) atau memori jangka pendek (short term memory) atau memori kerja (working memory) yaitu menyimpan informasi dalam waktu yang lebih lama, dan tidak selalu dalam bentuk aslinya. Contohnya, informasi nomor telepon yang baru kita lihat di buku telepon lalu sengaja kita ingat sebentar untuk kita telepon. Infomrasi semacam ini tidak tidak diingat secara

14Lihat Winfred F. Hill, Theories of Learning (Teori-Teori Pembelajaran), Bandung; Nusa Media, 2009, h. 290. Edisi terjemahan.

15Lihat Winfred F. Hill, Theories of Learning (Teori-Teori Pembelajaran), Bandung; Nusa Media, 2009, h. 285. Edisi terjemahan.

permanen, melainkan dalam kenyataannya seringkali terlupakan dalam hitungan detik. Atau contoh lain, seseorang sedang mengerjakan soal Matematika dan ia sudah mengingat sebuah angka cukup lama agar bisa mengalihkannya dengan angka lain, namun ketika telah mendapatkan hasil perkaliannya, mulai melupakannya, dan contoh ini menunjukkan memori kerja,16 Ketiga, penyimpanan jangka panjang (long term store) yang merupakan penyimpanan yang memiliki kapasitas tidak terbatas dan tidak ada hal yang hilang darinya. Penyimpanan jangka panjang ibarat sistem pemberkasan (filing system) dalam sebuah perpustakaan. Berdasarkan tiga jenis peyimpamanan memori dikatakan Richard c. Atkinson dan Richard M. Siffrin bahwa memori tersimpan dengan baik manakala pancaindera mata juga ikut difungsikan dalam proses pembelajaran. Artinya, memori yang baik adalah bergantung pada hubungan antara cara pelabelan item-item ketika mereka masuk ke dalam peyimpanan jangka panjang dan cara penelusuran mereka ketiba tiba saatnya memanggil mereka kembali. Adapun cara item-item memasuki penyimpanan jangka panjang adalah pengulangan. Semakin sering sebuah item diulangi dalam penyimpanan jangka-pendek, semakin besar kemungkinan item itu berpindah ke dalam penyimpanan jangka panjang.

Berdasarkan rangkaian uraian di atas dapat digaris bawahi bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa tiga teori belajar tersebut di atas semua mendukung dan memperkuat teori belajar al-bayān dalam al-Quran, dimana alat peraga memberikan fungsi indera pandang (mata) secara nyata untuk memperjelas materi pembahasan. Diharapkan pihak stakeholder dan pemegang kebijakan dunia pendidikan tingkat dasar sampai perguruan tinggi mampu mengambil pelajaran dalam al-Quran sebagai dasar pijakan

16Ibid. h. 287.

dalam menetrapkan teori belajar al-bayān proses pembelajaran di kalangan dosen dan mahasiswa.

Dalam dokumen Teori Belajar al-Bayān Berbasis Al-Qur'an (Halaman 176-181)