Dalam surat an-Nahl ayat 78 menjadi inspirasi awal teori belajar al-bayan dalam al-Quran. Kandungan surat an-Nahl ayat 78 ini, Allah menciptakan tiga fungsi penting dalam organ tubuh manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan, yaitu fungsi pendengaran yang berasal organ telinga; fungsi pembuktian yang berasal dari mata, hidung, lidah, dan kulit; dan fungsi keyakinan berasal otak. Allah berfirman sebagai berikut:
ُ َّ
للّئ َو ۡي َ
ش َ نو ُم َ
ل ۡع َ ت َ
لَ ۡم ُ ك ِت َٰ َه َّم ُ
أ ِنو ط ُب ۢن ِّم م ُ ُ ك َج َر ۡ
خ َ أ ٔ
َع ۡم َّسلئ ُم ُ م َ
ل َ َع َج َو إ
ۡ ف َ ۡ
لۡئ َو َر َٰ َصۡب َ ۡ لۡئ َو ِٔ
َ نو ُر ُ ر ۡ
ك َ ش ۡم ُ
م َّ
ل َع َ ل َ َ
دَة ٨٧
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pembuktian-pembuktian, dan keyakinan-keyakinan, agar kamu bersyukur. (QS.an-Nahl/16:78).
Mencermati kandungan surat an-Nahl ayat 78, tampaknya Allah menjelaskan bahwa manusia setelah keluar dari rahim ibu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Secara hakikat maksud
kandungan ayat tersebut di atas bahwa pada dasarnya manusia tidak tahu apa-apa atau tidak memiliki ilmu pengetahuan sedikitpun.
Kemudian Allah menjadikan tiga fungsi penting dari klaster organ vital kepala manusia, yang semata-mata sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi manusia itu sendiri, yaitu fungsi pendengaran.
Manusia diwajibkan untuk belajar dari mana pun smbernya. Dan fungsi pertama yang wajib dijalankan oleh manusia adalah fungsi pendengaran, yang dilakukan oleh kedua telinga manusia. Telinga mendengar berbagai macam informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain atau dar sumber apa saja. Tentu saja jika seorang bayi, maka fungsi pendengaran yang pertama kali dimanfaatkannya. Seorang bayi dalam kandungan bisa mendengar keluhan ibu dan apa yang dibaca oleh ibu dan bapaknya melalui perut ibunya. Begitu dilahirkan, ia bisa mendengar apa saja yang ada di sekitarnya dan memasuki usia sekolah bertambah informasi dan pengetahuan melalui fungsi pendengaran, palagi manusia itu memasuki lembaga pendidikan formal mulai dari sekolah dasar, mennegah, dsampai pergutuan tinggi. Sudah pasti, fungsi pendengaran terus mengalami perkembangan yang lebih baik dan banyak menyerap informasi dan pengetahuan, baik informasi itu sebagai bahan informasi belaka, seperti; penjelasan guru/dosen, ceramah, khutbah, bacaan al-Quran dan hadits, bercakap-cakap, diskusi, berdebat, tanya jawab, menyanyi, mendongeng, bercerita, berpantun, dan lain sebagainya maupun sebagai sumber referensi ilmu pengetahuan. Karena itu, manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan apa-apa, kemudian Allah menjadikan tiga fungsi klaster organ manusia sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan, yaitu fungsi pendengrana (as-sama’), fungsi pembuktian-pembuktian (al-abshar), dan fungsi keyakinan- keyakinan (al-afidah). Ketiga fungsi kelompok organ kepala dan kulit tersebut, para mufasir menjelaskan secara tekstual tanpa pernah memahami secara pasti organ atau jaringan syaraf apa saja
yang memiliki fungsi perolehan ilmu pengetahua dalam kepala dan kulit manusia. Pertama, fungsi pendengaran. Dalam al-Qur‟an, Allah menjadikan fungsi pendengaran (as-sama’) sebagai tahap pertama manusia memperoleh segala ilmu pengetahuan. Para mufasir sepakat bahwa as-sama’ berfungsi untuk mendengar pengetahuan, bahkan dalam kandungan ibu, seorang bayi sudah bisa menangkap ilmu pengetahuan. Peneliti sepakat dengan para mufasir bahwa yang dimaksud dengan organ yang berfungsi pendengaran adalah telinga, meski para mufasir umumnya tidak tahu secara pasti organ atau saraf bagian telinga yang mana berfungsi untuk mendengar.
Sesuai proses tahapan kedua perolehan ilmu pengetahuan dalam surat an-Nahl ayat 78, bahwa semua ilmu pengetahuan yang diterima melalui pendengaran wajib dilakukan pembuktian- pembuktian oleh empat indera manusia yaitu mata, hidung, lidah, dan kulit. Adanya proses perolehan ilmu pegetahuan wajib dilakukan melalui tahap pembuktian-pembuktian oleh empat indera manusia, menunjukkan bahwa manusia memahami atau belajar sesuatu yang ingin diketahuinya wajib tampak secara faktual (fisik), tampak secara aroma, tampak secara rasa, dan tampak secara suhu.
Atau minimal salah satu dari empat indera bisa dibuktikan adanya ilmu pengetahuan yang diterima dari fungsi pendengaran. Adanya pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan secara nyata dan jelas oleh salah satu empat indera manusia, barulah ilmu pengetahuan itu diperoleh secara sah, valid, nyata dan jelas.
Kedua, fungsi pembuktian-pembuktian. Dalam ayat ini, Allah menjadikan fungsi pembuktian (al-abshar) sebagai tahap kedua manusia mendapatkan dan membuktikan suatu ilmu pegetahuan. Namun secara umum ahli tafsir umumnya mengartikan kata al-bashar bersifat singular (tunggal) yaitu melihat, padahal kata tersebut berbentuk plural (al-abshar). Misalnya Ibnu
Katsir mengartikan kata bashar adalah melihat.1 Sama halnya Mustafa al-Maraghi mengartikan kata al-abshar dengan melihat.2 Di kalangan mufasir, kata al-abshar berbentuk jamak umumnya diartikan mata (banyak mata). Misalnya, Mustafa al-Maraghi mengartikan kata al-abshar adalah mata yang berfungi melihat. Sama halnya Ibnu Katsir mengartikan mata. Berbeda dengan peneliti, kata al-abshar bermakna pembuktian, karena setelah proses mendengar melalui organ telinga maka ada empat organ kepala dan kulit yang lain membuktikan hasil pendengaran yaitu; mata, hidung, lidah dan kulit. Karena itu, Allah menggunakan bentuk jamak pada kata al-abshar. Empat organ kepala dan kulit tersebut memiliki spesifikasi pembuktian masing-masing sesuai pengetahuan yang diterima dari saraf telinga. Misalnya, saraf telinga menerima pengetahuan bahwa kambing itu warnanya hitam, aromanya amis, kulitnya halus, dan rasa dagingnya enak. Berbagai informasi dari telinga seseorang itu perlu dibuktikan oleh semua empat inderan yang lain, yaitu; mata, hidung, lidah dan kulit. Mata berfungsi membuktikan bahwa kambing itu benar ada dan berwarna hitam.
Selanjuntnya untuk memastikan bahwa bau kambing itu benar amis, maka hidunglah yang membuktikannya bukan mata.
Sedangkan untuk memastikan bahwa kambing itu memang kulitanya halus, maka sentuhan kulit tangan yang membuktikannya.
Adapun untuk memastikan bahwa kambing itu dagingnya enak, maka lidahlah yang membuktikannya.
Mengingat belajar adalah memerlukan tahapan-tahapan, maka tahap pertama tentu saja mendengar informasi atau pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pihak, maka tahap berikutnya adalah membuktikan apakh informasidan pengetahuan itu ada wujudnya atau tidak, agar informasi dan pengetahuan bisa dipahami dengan baik dan bisa dibuktikan dengan mata, hidung, lidah, dan kulit
1Lihat Ibnu Katsir, Tafsir
2 Mustafa al-Maraghi
bahwa informasi dan pengetahuan benar adanya dan ada wujudnya.
Artinya dalam kata abshar, mengadung makna pembuktian- pembuktian karena kata benda tersebut berbentuk plural (banyak) dan memang banyak organ tubuh yang ikut membuktikan informasi dan pengetahuan itu adalah benar dan bisa dimanfaatkan untuk kepentigan manusia, bukan mata an sich.
Ketiga, fungsi keyakinan-keyakinan. Para mufasir umumnya mengartikan kata al-afidah dengan hati atau qalbu berbentuk singular, padahal aslinya berbentuk plural. Peneliti mengartikan kata al-afidah dengan keyakinan-keyakinan dan berbentuk plural. Dasar pertimbangannya karena sesuai dengan proses tahapan perolehan ilmu pengetahuan, fungsi al-afidah merupakan hasil akhir dari verifikasi fungsi pendengaran melalui telinga dan fungsi pembuktian-pembuktian melalui catur indera manusia. Fungsi keyakinan-keyakinan (al-afidah) merupakan hasil kerja otak dan bagian-bagiannya dengan semua jaringannya masing-masing.
Dalam hal ini mata sudah membuktikan informasi atau pengetahuan itu benar dan valid adanya. Sama halnya lidah berfungsi merasakan sesuatu yang diterima dari pendengaran dan lidah bisa membuktikan dan memberikan penilaian bahwa informasi atau pengetahuan itu benar beritanya. Adapun pendengaran memiliki jaringan langsung dengan otak bagian kiri.
Artinya kedua otak bagian kanan dan kiri sama-sama mengirim sinyal hasil perolehan informasi/pengetahuan ke otak kiri dan akan sesuai ketetapan Allah.
Dengan demikian, ketiga organ di atas sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan, dan fungsi mata adalah organ paling penting karena ia menjadi penentu apakah ilmu yang kita peroleh lama ingat atau bisa dijadikan pelajaran atau kreatifitas serta inovasi bagi manusia. Artinya, jika manusia hendak mendapatkan ilmu pengetahuan dengan benar dan yakin, maka secara tidak langsung Allah memerintahkan manusia berprofesi guru/dosen
atau instruktur lainnya menjelaskan materi pembelajaran disertai alat peraga atau peragaan secara nyata kepada siswa/mahasiswa atau peserta belajar agar ilmu yang mereka peroleh dipahami secara baik, diamati dengan seksama, dan dibuktikan langsung objek yang dijelaskan itu. Perintah Allah secara berulang-ulang kepada manusia untuk senantiasa memperhatikan di langit dan bumi menunjukkan manusia pandai menfungsikan mata untuk melihat, mengamati, dan menyelidiki segala sesuatu sebagai bahan renungan, kajian, dan berpikir yang akhirnya bisa dijadikan sumber ilmu pengetahuan.
Kemudian pada surat al-Isra‟ ayat 36, Allah juga mengingatkan manusia untuk tidak boleh mengikuti sesuatu tanpa ilmu.3 Artinya, manusia kalau melakukan sesuatu mutlak diawali dengan memahami sesuatu atau punya ilmu dahulu, selanjutnya boleh mengikuti sesuatu. Ayat ini menjadi penguat perlunya manusia mencari ilmu sebelum berbuat. Misalnya, orang mau bekerja di bagian pertanian, wajib pahami dan kuasai dahulu ilmu pertanian. Ada empat ayat yang sama pada empat surat yang berbeda menjelaskan pentingnya fungsi pendengaran, fungsi pembuktian-pembuktian, dan fungsi keyakinan-keyakinan yang redaksinya sama persis, yang mana Allah mengingatkan kita manusia untuk menfaatkan ketiga fungsi organ kepala dan kulit itu dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh ilmu pengethuan dan juga banyak bersyukur kepada Allah demi keselamatan manusia sendiri.4
3Lihat QS. al-Isra‟/17:36.
4Lihat QS. al-Mukminun,/25:78, as-Sajadah/ 32:9, al-Ahqaf/46:26, al- Mulk/ 67:23;.
B. Tahapan Belajar Menurut Surat An-Nahl ayat 78 dan Ilmu