• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI DAN PEMIKRAN PENDIDIKAN ISLAM KH. HASYIM ASY'ARI

N/A
N/A
rofiqi zakki

Academic year: 2023

Membagikan "TEORI DAN PEMIKRAN PENDIDIKAN ISLAM KH. HASYIM ASY'ARI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KH. HASYIM ASY’ARI

Oleh: Achmad Rofiki Zakki dan Abd. Latif Khosni Program Pendidikan Islam

Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya Abstrack

This paper reviews the concept of Islamic education thinking Hasyim Asy'ari which explains about how the rules of teaching and learning that emphasizes the ethical aspects of learning. The concept of Islamic education Hasyim Asy'ari is one of the bids in overcoming the spiritual crisis in the world of education today. Hasyim Asy'ari's educational thought does have high spiritual values of Sufism. This is due, Hasyim Asy'ari put tasawuf as the foundation of education in shaping the character of learners who berakhlatul karimah and intlektual.

The concept of Islamic education Hayim Asy'ari, if associated with the Concept of Sufism Ahmad Khatib Al-Sambasi not only complement each other but strengthen the theory of Islamic education Hasyim Asy'ari. Hasyim Asy'ari's education theory is very relevant in shaping the character of learners in their morals, intellectual and spirituality in this modern era. Modern education today, tends to emphasize the cognitive aspect although in

educational theory there are elements of cognitive, affective and psychomotor aspects. This is what resulted in the lack of "blessing" knowledge of learners in gaining knowledge. One of the most important parts to be considered and emphasized in addition to the cognitive aspect is the affective aspect (spirituality and ethics) in the teaching and learning process, whether as a teacher or pupil in education. It is time for education to focus on affective aspects (moral, ethical and spiritual). Spiritual, ethical and moral crises are an important study in the world of education, especially Islamic-based education.

Key Word: Educational Thought, Concept of Sufism, Spiritual Crisis and Ethical Crisis.

Abstrak

Tulisan ini mengulas tentang konsep pemikiran pendidikan Islam Hasyim Asy’ari yang menjelaskan tentang bagaimana kaidah–kaidah dalam belajar mengajar yang menekankan pada aspek etika belajar. Konsep Pendidikan Islam Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tawaran dalam mengatasi krisis spritual di dunia pendidikan saat ini. Pemikiran pendidikan Hasyim Asy’ari memang mempunyai nilai–nilai spritualitas tasawuf yang tinggi. Hal ini disebabkan, Hasyim Asy’ari meletakkan tasawuf sebagai pondasi Pendidikan dalam membentukkan karakter peserta didik yang berakhlatul karimah dan intlektual. Konsep pendidikan Islam Hayim Asy’ari, jika dikaitkan dengan Konsep tasawuf Ahmad Khatib Al–

Sambasi bukan hanya sekedar saling menlengkapi satu sama lain, melainkan memperkuat

(2)

teori pendidikan Islam Hasyim Asy’ari. Teori pendidikan Hasyim Asy’ari sangat relevan dalam membentuk karakter peserta didik berakhlakul karimah, intlektual dan spritualitas di era modern ini. Pendidikan modern saat ini, cenderung menekankan pada aspek kognitif meskipun dalam teori pendidikan terdapat unsur aspek kognitif, afektif dan pskomotorik. Hal ini lah yang mengakibatkan kurangnya “keberkahan” ilmu dari peserta didik dalam menimba ilmu pengetahuan. Salah satu bagian terpenting yang harus diperhatikan dan ditekankan selain pada aspek kognitif adalah aspek afektif (spritualitas dan etika) dalam proses belajar mengajar, baik sebagai guru atau murid dalam pendidikan. Sudah saatnya pendidikan lebih mengutamakan aspek afektif (moral, etika dan spritual). Krisis spiritual, etika dan moral menjadi kajian penting dalam dunia pendidikan terlebih pendidika berbasis Islam.

Kata Kunci: Pemikiran pendidikan, Konsep Tasawuf, Krisis Spritual dan Krisis etika Pendahuluan

Kelompok manusia yang tidak memanfaatkan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pandangan bahwa pendidikan merupakan hal yang penting sudah lama disadari manusia. Pendidikan telah terbukti melahirkan peradaban yang telah tercatat dalam sejarah umat manusia.2 Manusia sebagai khalifah Allah di alam semesta, mendapat otoritas untuk melaksanakan pendidikan terhadap dirinya sendiri, dan manusia pun

mempunyai potensi untuk melaksanakannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan urusan hidup dalam kehidupan manusia, dan merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri.

Pada ruang lingkup pendidikan yang lebih fokus, banyak akademisi, tenaga pendidik, dan pemikir hebat yang muncul dalam bidang keilmuanya akibat sistem pendidikan yang baik.

Pendidikan di Indonesia masih mencontoh skema dan sistem pendidikan dari luar dan dimodifikasi oleh pemerintah.

Pada dasarnya, hakikat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Namun di sisi lain, antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual tidak selamanya berjalan berdampingan. Sebagai contoh, manusia kurang mampu menghadapi berbagai macam

tantangan dalam kehidupan dan berperan pada tiap-tiap lingkungan. Hal ini diakibatkan oleh pemahaman spiritualitas yang tidak utuh sebagai akibat dari kekurangtepatan dalam

mendidik. Teori-teori pendidikan yang dibangun dari hasil uji coba binatang, misalnya, banyak mendominasi praktik pendidikan di dunia ini.

Kehadiran pendidikan Islam diharapkan mampu menjawab semua problem pendidikan di era modern. Karena, pada dasarnya, pendidikan agama lebih menekankan pada esensi

spiritualitas dibandingkan dengan kognitif. Secara historical root, pendidikan Islam

berkembang mulai dari bentuk yang amat sederhana (tradisional) sampai dengan bentuk yang modern. Pada tahap kemunculannya, pendidikan Islam diselenggarakan secara informal dan sederhana oleh para mubalig muslim yang dilaksanakan di langgar, surau, atau masjid yang kemudian berkembang menjadi embrio pembentukan sistem pendidikan Islam, yang disebut dengan pondok pesantren. Pesantren merupakan suatu tipe nyata pengajaran dan Pendidikan

(3)

tradisonal, terutama sekali di Asia dan tersebar luas di Indonesia. Dalam pada itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam juga tengah menyaksikan usaha pembaruan pendidikan, yang dimotori oleh kalangan reformis yang menjadikan dirinya sendiri sebagai target utamanya.

Salah satu tokoh yang giat melakukan pembaharuan dan memiliki perhatian besar dalam dunia pendidikan Islam adalah KH. M. Hasyim Asy‘ari. Dia merupakan tokoh terkemuka sekaligus pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 M. Dia merupakan ulama yang mempertahankan tradisi lokal, yaitu tradisi masyarakat Islam Indonesia dengan

berbagai varian yang masih sejalan dengan prinsip-prinsip Islam sepanjang perpaduannya memiliki landasan dan tujuan religius. Konsep Islam lokal yang tergambar dalam kontruksi pemikirannya juga menjadi pembeda pandangan antara Islam di Timur Tengah yang kental dengan Arabismenya dengan pandangan Islam di Nusantara, sehingga corak pemikirannya tentang pendidikan masih nampak tradisionalis. Budaya Nusantara yang kental dengan kesantunan, baik dalam tutur kata maupun perbuatan, tergambar jelas dalam pemikirannya.

Hasyim merupakan seorang ulama yang hidup di penghujung abad ke-19 M. dan awal abad ke-20 M. yang berperan penting bagi kemerdekaan Indonesia dan pembangunan masyarakat, yang sudah berabad-abad menjadi bagian dari tanah jajahan, sehingga

pendidikan dan martabatnya terpuruk. Kolonialisme merendahkan martabat bangsa dengan menganggap bahwa bangsa ini tidak mempunyai peradaban tulis-menulis. Padahal pada waktu itu Nusantara sudah mengenal bahasa Arab sebagai media surat-menyurat. Melihat kondisi umat yang sudah mulai teracuni oleh sistem pendidikan Barat, Hasyim memandang bahwa gerakan pemikiran harus diintegrasikan dengan moralitas keagamaan.

Melalui Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim, tatanan pendidikan diharapkan bisa diubah, sehingga lebih mengarah pada perilaku yang penuh dengan moralitas. Dewasa ini, pemikiran Hasyim yang saarat akan moralitas penting untuk diperkenalkan kembali untuk menunjang kehidupan berbangsa yang saat ini jauh dari moralitas. Pemikirannya tentang pendidikan Islam merupakan pemikiran brilian.

Biografi KH. Hasyim Asy’ari

Muhammad Hasyim itu adalah nama kecil pemberian orang tuanya, lahir di desa Gedang, sebelah timur Jombang pada tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H. atau bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Asy’ari merupakan nama ayahnya yang berasal dari Demak dan juga pendiri pesantren keras di Jombang. Sedangkan ibunya, Halimah merupakan putri Kiai Usman pendiri dan pengasuh dari Pesantren Gedang akhir abad ke-19 M. KH. Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sebelas bersaudara, yaitu Nafi’ah, Ahmad Sholeh, Radi’ah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Beliau merupakan seorang Kyai keturunan bangsawan Majapahit dan juga keturunan ‘elit’ Jawa. Selain itu, moyangnya, Kiai Sihah adalah pendiri Pesantren Tambak beras Jombang. Ia banyak menyerap ilmu

(4)

agama dari lingkungan pesantren keluarganya. Adapun Ibu KH. Hasyim Asy’ari, merupakan anak pertama dari lima bersaudara, yaitu Muhammad, Leler, Fadil dan Nyonya Arif.1

Adapun silsilah garis nasab KH. Hasyim Asy’ari bila diurutkan berasal dari raja

Brawijaya V1 yang juga dikenal dengan Lembu Peteng (kakek kesembilan). Salah seorang putra Lembu Peteng bernama Jaka Tingkir atau disebut Karebet. Hal ini dapat dilihat dari silsilah beliau, yaitu: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Joko Tingkir alias Karebet bin Prabu Brawijaya V1 (Lembu Peteng).2

Saat berumur lima tahun, KH. Hasyim pindah dari Gedang ke Desa Keras untuk mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru. Dia menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun di desa. Dia kemudian meninggalkan Desa Keras untuk belajar ke berbagai pesantren ternama di tanah air, bahkan hingga ke Mekah. Saat berumur 21 tahun, tepatnya pada tahun 1892 M./1308 H., dia menikah dengan Nafisah, putri Kiai Ya‘qub dari Siwalan Panji, Sidoarjo. Setelah itu, dia bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekah untuk beribadah haji. Dia dan istrinya kemudian menetap di Mekah untuk menuntut ilmu. Tujuh bulan kemudian, Nafisah wafat setelah melahirkan seorang putra bernama Abdullah. 40 hari kemudian, anaknya, Abdullah, wafat menyusul sang ibu.

1 Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: LkiS, 2000),17.

2 Chairul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, (Sala: Jatayu Sala, 1985), 57.

Brawijaya VI Abdul Aziz/Lembu

Peeteng

Abdurrahman alias Mas Karebet alias Jaka Tingkir alias

Sultan Hadi

Abdullah alias Pangeran Benowo

Muhammad alias

Pangeran Sambo Ahmad Abdul Jabbar

KH. Shihah

KH. Said + Fatimah KH. Usman + Layyinah

Putra-Putri yang Lain

KH. Hasbullah KH. Asy’ari + Halimah KH. Wahab

Hasbullah KH. Hasyim Asy’ari

(5)

Kematian dua orang yang dia cintai itu membuat KH. Hasyim terpukul. Pada akhirnya, dia memutuskan tidak berlama-lama di tanah suci, sehingga dia pun kembali ke Indonesia setahun kemudian.

Setelah lama menduda, KH. Hasyim menikah lagi dengan Khadijah, putri Kiai Romli dari Desa Karangkates, Kediri. Pernikahan ini terjadi setelah dia pulang dari Mekah pada tahun 1899 M. atau 1315 H. Pernikahannya dengan istri keduanya ini juga tidak bertahan lama, karena Khadijah wafat dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1901 M. KH. Hasyim kemudian menikah lagi dengan Nafiqah, putri Kyai Ilyas yang merupakan pengasuh Pesantren Sewulan, Madiun. Dia dianugerahi sepuluh anak dari pernikahannya dengan Nafiqah, yaitu: Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf.3 Pernikahan KH. Hasyim dengan Nafiqah juga berhenti di tengah jalan, karena Nafiqah wafat pada tahun 1920 M. Sepeninggal Nafiqah, dia menikah lagi dengan Masrurah, putri Kiai Hasan yang merupakan pengasuh Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dia dianugerahi empat orang anak dari pernikahan keempatnya ini, yaitu: Abdul Qadir, Fatimah, Khodijah, dan Muhammad Ya‘qub.

Pernikahannya dengan Nafiqah merupakan pernikahan terakhir KH. Hasyim hingga akhir hayatnya.4

Dari segi silsilah, KH. Hasyim merupakan sosok yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pesantren. Dia dilahirkan dan tumbuh dewasa di lingkungan pesantren asuhan ayahnya, Asy‘ari. Kiai Usman, kakeknya, merupakan ulama terkenal yang merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Gedang. Kiai Sihah, kakek buyutnya, merupakan pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang. Dengan demikian, wajar bila KH. Hasyim kemudian menjadi seorang ulama yang seluruh kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Pesantren Tebuireng di Jombang, pondok terbesar dan paling berpengaruh di Jombang dan Jawa Timur, merupakan pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim. Pesantren ini masih eksis dengan ribuan santri dari berbagai penjuru tanah air hingga saat ini.5

KH. Hasyim wafat pada bulan Juli 1947 M. di Jombang karena darah tinggi atau stroke setelah menerima kabar tentang kondisi Indonesia saat itu; pada tanggal 2 Juli 1947, utusan Bung Tomo dan Jenderal Sudirman datang kepadanya untuk menyampaikan kabar agresi militer Belanda I. Pasukan Belanda yang membonceng Sekutu di bawah pimpinan Jenderal SH. Poor telah berhasil mengalahkan tentara Republik dan menguasai wilayah Singosari, Malang. Bahkan pasukan Belanda juga menyasar warga sipil, sehingga banyak di antara mereka menjadi korban.

3 ‘Ishâm al-Dîn Hâdziq, “Al-Ta‘rîf bi al-Mu’allif,” dalam Muhammad Hâsyim Asy‘arî, Âdâb al-‘Âlim wa Al- Muta‘allim (Jombang: Maktabah al-Turâts al-Islâmî, 1415 H.), 3.

4 Ishomuddin Hadziq, KH. Hasyim Asy‘ari: Figur Ulama dan Pejuang Sejati (Jombang: Pustaka Warisan Islam, 1999), 17.

5 Abdul Hadi, KH. Hasyim Asy’ari: Sehimpun Cerita, Cinta, dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara (Yogyakarta: DIVA Press, 2018), 17-8.

(6)

Latar Belakang Pendidikan

Berlatar belakang dari keluarga pesantren, Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari tidak berbeda jauh dengan kebanyakan muslim lainnya, dimana dari kecil KH. Hasyim Asy’ari belajar sendiri dengan ayah dan kakeknya, kiai Usman. Bakat dan kecerdasan beliau sudah mulai nampak sejak diasuh oleh keduanya, Karena kecerdasan dan ketekunannya tersebut di usia 13 tahun dibawah bimbingan ayahnya, beliau mempelajari dasar-dasar tauhid, fiqh, tafsir dan hadits. Bahkan di usia yang tergolong masih sangat belia sang ayah menyuruhnya mengajar para santri di pesantren yang dimilikinya.6

Pada umur 15 tahun, beliau mulai berkelana mencari pengetahuan agama Islam ke beberapa pesantren, sebut saja Pesantren Wonokoyo Probolingga, Pesantren Langitan-Tuban, Pesantren Trenggilis-Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura dan Pesantren SiwalanSurabaya. Di Bangkalan beliau belajar tata bahasa, sastra Arab, fiqh dan sufisme dari Kiai Khalil selama 3 bulan. Sedangkan di Siwalan, beliau lebih memfokuskan pada bidang fiqh selama 2 tahun, dengan Kiai Ya’kub. Diperkirakan KH. Hasyim Asy’ari pernah belajar bersama dengan Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), petualangan beliau dalam mencari ilmu juga sampai di Semarang.15 Kemudian KH. Hasyim Asy’ari pergi ke Hijaz guna

melanjutkan pelajarannya disana. Semula beliau belajar dibawah bimbingan Syekh Mahfudz dari Termas, Pacitan. Syekh Mahfudz adalah ahli hadits, beliau orang Indonesia pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Mekkah. Dari beliau KH. Hasyim Asy’ari mendapat ijazah untuk mengajar Shahih Bukhari. Di bawah bimbingannya, KH. Hasyim Asy’ari juga belajar Tarekat Qadariyah dan Naqsyabandiyah. Ajaran tersebut diperoleh Syekh Mahfudz dari Syekh Nawawi dan Syekh Sambas. Jadi, Syekh Mahfudz merupakan orang yang

menghubungkan Syekh Nawawi dari Banten dan Syekh Sambas dengan KH. Hasyim Asy’ari. Pengaruh ini dapat ditemukan dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, KH. Hasyim Asy’ari juga belajar dari Syekh Ahmad Khatib yang juga seorang ahli astronomi, matematika dan al-Jabar, KH. Hasyim Asy’ari juga belajar fiqh madzhab Syafi’i. Atas izin dari beliaulah KH. Hasyim Asy’ari mempelajari tafsir Al-Manar karya Abduh

Kiprah KH. Hasyim Asy’ari

Kiprah dan perjuangan beliau sangatlah banyak dalam berbagai bidang, seperti

kemasyarakatan, sosial dan politik merupakan cerminan dari praktek keagamaan beliau dan pendidikan. Dalam bidang-bidang inilah beliau menunjukkan perjuangannya.

Pertama, perjuangannya dalam bidang kemasyarakatan. Dalam bidang ini kiprah beliau diwujudkan dengan mendirikan Jami’iyah Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 bersama sejumlah kiai. Bahkan beliau ditunjuk sebagai Syeikhul Akbar dalam perkumpulan ulama tersebut. Dengan Nahdhatul Ulama, beliau berjuang mempertahankan kepentingan umat. Disatukannya potensi umat Islam menjadi kekuatan kokoh dan kuat, tidak mudah

6 Badiatul Rozikin, et. al., 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia, (Yogyakarta: e-Nusantara, 2009), 246.

(7)

menjadi korban oleh kepentingan politik yang hanya mencari kedudukan dengan mengatasnamakan Islam.

Kedua, bidang ekonomi, perjuangan KH. Hasyim Asy’ari juga layak dicatat dalam bidang ekonomi. Perjuangan ini barangkali adalah cerminan dari sikap hidup beliau, dimana meskipun zuhud, namun tidak larut untuk melupakan dunia sama sekali. Tercatat bahwa beliau adalah juga bekerja sebagai petani dan pedagang yang kaya. Mengingat para kyai pesantren pada saat itu dalam mencari nafkah banyak yang melakukan aktifitas

perekonomiannya lewat tani dan dagang dan bukan dengan mengajar. Perjuangan beliau dalam bidang ekonomi ini diwujudkan dengan merintis kerjasama dengan pelaku ekonomi pedesaan. Kerjasama itu disebut Syirkah

Mu’awanah, bentuknya mirip koperasi atau perusahaan tetapi dasar operasionalnya menggunakan Syari’at Islam.

Ketiga, bidang politik. Kiprah beliau dalam bidang ini ditandai dengan berdirinya wadah federasi umat Islam Indonesia yang diprakarsai oleh sejumlah tokoh Indonesia yang

kemudian lahirlah Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang menghimpun banyak partai, organisasi dan

perkumpulan Islam dalam berbagai aliran. Lembaga ini menjadi Masyumi yang didirikan tanggal 7 November 1945, yang kemudian menjadi partai aspirasi seluruh umat Islam.

Sedangkan perjuangan beliau dimulai dari perlawanannya terhadap penjajahan Belanda.

Acapkali beliau mengeluarkan fatwa-fatwa yang sering menggemparkan pemerintah Hindia Belanda. Misalnya, ia mengharamkan donor darah orang Islam dalam membantu peperangan Belanda dengan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, KH. Hasyim Asy’ari memimpin MIAI (Majlis Islam Ala Indonesia). Demikian pula dalam gerakan pemuda, seperti Hizbullah, Sabilillah dan Masyumi, bahkan yang terakhir beliau menjadi ketua, membuat beliau dikenal sebagai kyai yang dikenal oleh banyak kalangan.

Keempat, dalam bidang pendidikan, perjuangan beliau diawali dengan mendirikan pesantren di daerah Tebuireng, daerah terpencil dan masih dipenuhi kemaksiatan. Tepatnya tanggal 12 Rabi’ al Awwal 1317 H. atau tahun 1899 M, pesantren Tebuireng berdiri dengan murid pertama sebanyak 28 orang. Berkat kegigihan beliau pesantren Tebuireng terus tumbuh dan berkembang serta menjadi innovator dan agent social of change masyarakat Islam tradisional di tanah tersebut.7

Karya KH. Hasyim Asy’ari

Kealiman dan keilmuan yang dimiliki Kiai Hasyim yang didapat selama berkelana menimba ilmu ke berbagai tempat dan ke beberapa guru dituangkan dalam berbagai tulisan.

Sebagai seorang penulis yang produktif, beliau banyak menuangkannya ke dalam bahasa Arab, terutama dalam bidang tasawuf, fiqih dan hadits. Sebagian besar kitab-kitab beliau

7 Zuhairi Misrawi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan, dan kebangsaan, (Jakarta: Kompas, 2010), 82.

(8)

masih

dikaji diberbagai pesantren, terutama pesantren-pesantren salaf (tradisional).

Diantara karya-karya beliau yang berhasil didokumentasikan, terutama oleh cucu beliau, yaitu KH. Ishamuddin Hadziq,8 adalah sebagai berikut:

1. Adabul ‘Alim wal Muta’alim. Menjelaskan tentang etika seorang murid

yang menuntut ilmu dan etika guru dalam menyampaikan ilmu. Kitab ini diadaptasi dari kitab Tadzkiratu al-Sami’ wa al-Mutakallim karya Ibnu Jamaah al-Kinani.

2. Risalah Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah (kitab lengkap). Membahas tentang beragam topik seperti kematian dan hari pembalasan, arti sunnah dan bid’ah, dan sebagainya.

3. Al-Tibyan Fi Nahyi ‘An Muqatha’ati’ Al-Arkam wa Al-‘Aqarib Wa AlIkhwan. Berisi tentang pentingnya menjaga silaturrahmi dan larangan memutuskannya. Dalam wilayah sosial politik, kitab ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kiai Hasyim dalam masalah Ukhuwah Islamiyah.

4. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li jam’iyyat Nahdhatul Ulama’. Karangan ini berisi pemikiran dasar NU, terdiri dari ayat-ayat AlQur’an, hadis, dan pesan-pesan penting yang melandasi berdirinya organisasi NU.

5. Risalah Fi Ta’kid al-Akhdzi bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Karangan ini berisi tentang pentingnya berpedoman kepada empat mazhab, yaitu Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali.

6. Mawai’idz. Karangan berisi tentang nasihat bagaimana menyelesaikan masalah yang muncul ditengah umat akibat hilangnya kebersamaan dalam membangun

pemberdayaan.

7. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’i Jamiyyah Nahdlatul Ulama’. Karya ini berisi 40 Hadis tentang pesan ketakwaan dan kebersamaan dalam hidup, yang harus menjadi fondasi kuat bagi umat dalam mengarungi kehidupan.

8. An-Nur Al-Mubin Fi Mahabbati Sayyid Al-Mursalin. Menjelaskan tentang arti cinta kepada Rasul dengan mengikuti dan menghidupkan sunnahnya. Kitab ini

diterjemahkan oleh Khoiron Nahdhiyin dengan judul Cinta Rasul Utama.

9. Ziyadah Ta’liqat. Berisi tentang penjelasan atau jawaban terhadap kritikan KH.

Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mempertanyakan pendapat Kiai Hasyim memperbolehkan, bahkan menganjurkan perempuan mengenyam pendidikan.

Pendapat Kiai Hasyim tersebut banyak disetujui oleh ulama-ulama saat ini, kecuali KH. Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mengkritik pendapat tersebut.

10.Ziyadah Ta’liqat. Berisi tentang penjelasan atau jawaban terhadap kritikan KH.

Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mempertanyakan pendapat Kiai Hasyim memperbolehkan, bahkan menganjurkan perempuan mengenyam pendidikan.

Pendapat Kiai Hasyim tersebut banyak disetujui oleh ulama-ulama saat ini, kecuali KH. Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mengkritik pendapat tersebut.

8 keterangan lebih lanjut baca dalam kitab kumpulan karangan KH. Hasyim Asy’ari yang dihimpun oleh KH.

Ishomuddin Hadzik dalam kitab Irsyad al-Sari.

(9)

11.Dhau’ul Misbah fi Bayani Ahkam al-Nikah. Kitab ini berisi tentang halhal yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari aspek hukum, syarat rukun, hingga hak-hak dalam pernikahan.

12.Risalah bi al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus. Menerangkan tentang permasalahan hukum memukul kentongan pada waktu masuk waktu sholat.

13.Risalah Jami’atul Maqashid. Menjelaskan tentang dasar-dasar aqidah Islamiyyah dan Ushul ahkam bagi orang mukallaf untuk mencapai jalan tasawuf dan derajat wusul ila Allah.

14.Al-Manasik al-shughra li qashid Ummu al-Qura. Menerangkan tentang permasalahan Haji dan Umrah.

Selain karangan tersebut, juga terdapat karya yang masih dalam bentuk manuskrip dan belum diterbitkan. Karya tersebut antara lain, Al-Durar Al-Munqatirah Fi Al-Masa’il Tis’a Asyara, Hasyiyat ala Fath alRahman bi Syarh Risalat al-Wali Ruslan li Syaikh al-Islam Zakariyya al al Anshari, al-Risalat al- Tauhidiyyah, al-Qalaid fi Bayan ma Yajib min al Aqaid, al Risalat al-Jama’ah, Tamyuz al-Haqq min al-Bathil.9

Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

Dalam ruang diskursus pendidikan, banyak aliran pemikiran pendidikan, baik klasik maupun kontemporer, tetapi semuanya pada hakikatnya memiliki kesaamaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam. Hal ini karena upaya peningkatan dan

pembaharuan konsep-konsep pendidikan Islam disebabkan oleh perubahan dunia yang begitu cepat. Al-Ghazâlî, misalnya, menekankan pada pembentukan akhlak yang baik. Menurutnya, keluarga adalah substrata pertama sebagai tempat pembentukan akhlak anak. Orang tua harus mengarahkan anaknya pada hal-hal positif dan menjadi teladan.

Sebagai pemimpin pesantren terkemuka, Hasyim sering dijadikan sebagai rujukan oleh ulama lain, terutama ulama di Jawa dan Madura. Dia merasa terpanggil untuk menulis sebuah kitab tentang etika bagi pendidik dan murid di tengah-tengah upaya modernisasi yang melingkupinya.10 Kitab Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim merupakan salah satu karya penting KH. Hasyim tentang pendidikan. Ide dan pemikiran utama dalam kitab ini berasal dari Abu Hanifah. Kitab ini terdiri dari delapan bab yang dikelompokkan menjadi empat kelompok sebagai berikut:

1. Keutamaan Pendidikan

Dalam membahas keutamaan ilmu, Hasyim sering mengutip ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu agar ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Karena ilmu penting, syariat mewajibkan manusia untuk mencarinya dengan memberikan pahala yang besar.23

9 Zuhairi Misrawi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan, 99.

10 Sya’roni, Model Relasi Ideal Guru dan Murid: Telaah Atas Pemikiran Al-Zarnuji dan KH. Hasyim Asy‘ari (Yogyakarta: Teras, 2007), 66.

(10)

Pemikiran Hasyim ini sejalan dengan pemikiran pendahulunya, yaitu Ibn Jamâ‘ah.

Dia mengungkapkan, sibuk untuk mengamalkan ilmu karena Allah lebih utama daripada melaksanakan ibadah sunah yang berupa salat, puasa, dan tasbih, karena manfaat ilmu semata-mata untuk pemiliknya dan umat manusia lainnya, sementara manfaat ibadah sunah hanya untuk pelakunya saja.

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu: pertama, murid seyogianya berniat suci saat menuntut ilmu, bukan berniat untuk hal-hal duniawi, dan tidak melecehkan atau menyepelekannya. Kedua, dalam mengajarkan ilmu, guru seyogianya meluruskan niatnya terlebih dahulu dan tidak mengharapkan materi semata. Di samping itu, ilmu yang diajarkan seyogianya sesuai dengan tindakannya.

Dalam penjelasannya, dia tidak mendefinisikan belajar secara khusus. Titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar merupakan ibadah untuk mencari rida Allah yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, belajar harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar untuk menghilangkan kebodohan.

2. Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Murid a. Etika Murid dalam Belajar

Seorang murid setidaknya harus memiliki 10 macam etika, yaitu: (a)

Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian; (b) Membangun niat yang luhur, yaitu mencari ilmu pengetahuan semata-mata untuk mendapatkan rida Allah swt. serta bertekad untuk mengamalkannya setelah ilmu itu diperoleh; (c) Tidak menunda nunda waktu belajar; (d) Sabar dan kanaah terhadap segala macam anugerah dan cobaan; (e) Pandai mengatur waktu; (f) Menyederhanakan makanan dan minuman; (g) Bersikap hati-hati atau warak; (h) Menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang pada akhirnya menimbulkan kebodohan; (i) Menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan; dan (j) Meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.11 b. Etika Murid terhadap Guru

Seorang murid setidaknya harus memiliki 12 macam etika terhadap gurunya, yaitu: (a) Dalam memilih figur seorang guru, seorang murid hendaknya terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Allah swt. tentang orang yang dianggap paling baik untuk menjadi gurunya dalam menimba ilmu pengetahuan dan yang bisa membimbingnya pada akhlak yang mulia; (b) Bersungguh-sungguh dalam mencari seorang guru yang diyakini memiliki pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu syariat serta diakui keahliannya oleh guru-guru yang lain; (c) Patuh kepada gurunya serta tidak membelot dari perintah dan anjurannya; (d) Memiliki pandangan yang mulia terhadap guru serta meyakini derajat kesempurnaan gurunya; (e) Memerhatikan sesuatu yang menjadi hak guru; (f) Bersabar atas

11 Badr al-Dîn ibn Jamâ‘ah, Tadzkirah al-Sâmi‘ wa al-Muta‘allim fî Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim (Mesir: Dâr al-Âtsâr, 2005), 71.

(11)

kekerasan guru atau perilakunya yang kurang menyenangkan; (g) Berkunjung kepada guru pada tempatnya, atau meminta izin terlebih dahulu bila berkunjung kepadanya bukan pada tempatnya karena keadaan yang memaksa; (h) Duduk dengan rapi dan sopan saat berhadapan dengan guru; (i) Berbicara dengan sopan dan lemah lembut; (j) Ketika mendengarkan gurunya yang sedang menjelaskan suatu keterangan, dia hendaknya tetap menyimak dengan baik; (k) Tidak menyela ketika guru sedang menjelaskan; dan (l) Menggunakan anggota yang kanan saat menyerahkan sesuatu kepada gurunya.12

KH. Hasyim juga menekankan bahwa murid harus mendoakan gurunya, baik ketika dia masih hidup maupun ketika sudah wafat, dan memelihara kekerabatan dengannya, para keturunannya dan mencintainya sebagaimana mencintai gurunya.

Poin ini merupakanbukti bahwa pemikirannya humanis dan religius, sehingga ajarannya menjadi bahan acuan yang penting untuk mengembangkan komunitas pendidikan yang respek terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan religiusitas.

c. Etika Murid terhadap Pelajaran

Saat belajar, seorang murid seyogianya memerhatikan 13 etika sebagai berikut:

(a) Sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain, dia hendaknya mempelajari ilmu yang bersifat fardu ain terlebih dahulu; (b) Harus mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung ilmu fardu ain; (c) Berhati-hati dalam menangani ikhtilaf ulama; (d) Mendiskusikan dan menyetorkan hasil belajar kepada orang yang dia percayai; (e) Senantiasa menganalisis dan menyimak ilmu; (f) Memancangkan cita-cita yang tinggi; (g) Bergaul dengan orang yang berilmu lebih tinggi; (h) Mengucapkan salam bila sampai di majlis taklim; (i) Bertanya bila terdapat hal-hal yang belum dia pahami; (j) Bila kebetulan bersamaan dengan banyak teman, dia sebaiknya tidak mendahului antrean bila tidak mendapatkan izin; (k) Senantiasan membawa catatan kapan pun dan di mana pun; (l) Mempelajari pelajaran yang telah

diajarkan secara istikamah; dan (m) Menanamkan semangat belajar.

3. Tugas dan Tanggung Jawab Guru

a. Etika yang harus dipedomani oleh seorang guru adalah sebagai berikut: (a) Mendekatkan diri kepada Allah; (b) Takut kepada Allah; (c) Bersikap tenang (sakinah); (d) Warak (berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan); (e) Tawadu (rendah hati/tidak sombong); (f) Khusyuk dan mengadukan persoalannya kepada Allah swt.; (g) Berpedoman kepada hukum Allah dalam setiap persoalan;

(h) Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih keduniawian semata; (i) Tidak selalu memanjakan anak didik; (j) Zuhud dalam kehidupan duniawi; (k)

Menghindari pekerjaan hina; (l) Menghindari tempat-tempat kotor dan maksiat;

(m) Menghidupkan syiar dan ajaran Islam, seperti salat berjemaah di masjid; (n) Mengamalkan sunah nabi; (o) Istikamah membaca al-Qur’an; (p) Bersikap ramah, ceria, dan suka mengucapkan salam; (q) Membersihkan diri dari perbuatan yang

12 Ibn Jamâ‘ah, Tadzkirah al-Sâmi‘, 213.

(12)

tidak disukai oleh Allah; (r) Menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu; (s) Tidak menyalahgunakan ilmunya dengan cara menyombongkan diri; dan (t) [ CITATION Muh15 \l 1033 ]Membiasakan diri menulis, mengarang, dan meringkas.13

b. Etika guru ketika akan mengajar

Ketika hendak mulai mengajar, seorang guru harus memerhatikan beberapa etika.

Dalam hal ini, Hasyim menawarkan gagasan tentang etika guru. Di antaranya adalah sebagai berikut: (a) Menyucikan diri dari hadas dan kotoran; (b)

Berpakaian yang sopan dan rapi serta berusaha menggunakan wangi-wangian; (c) Berniat ibadah ketika mengajarkan ilmu kepada anak didik; (d) Menyampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah; (e) Membiasakan diri membaca untuk

menambah ilmu pengetahuan; (f) Mengucapkan salam saat masuk ke dalam kelas;

(g) Memulai pelajaran dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama meninggalkan kita; (h) Berpenampilan kalem dan menjauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang oleh mata; (i) Menjauhkan diri dari gurau dan banyak tawa; (j) Tidak mengajar dalam keadaan lapar, marah, dan mengantuk; (k) Duduk pada tempat duduk yang strategis saat mengajar; (k) Berusaha untuk berpenampilan ramah, lembah lembut, jelas, tegas, lugas, dan tidak sombong; (l) Mendahulukan materi-materi penting dan menyesuaikan dengan profesinya; (m) Tidak

mengajarkan sesuatu yang syubhat yang bisa membinasakan; (n) Memerhatikan kemampuan para murid dalam mengajar dan tidak mengajar terlalu lama; (o) Menasihati dan menegur dengan baik bila terdapat anak didik yang bandel; (p) Bersikap terbuka terhadap bermacam persoalan yang ditemukan; dan (r) Memberi kesempatan kepada anak didik untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami.

Selain itu, KH. Hasyim Asy’ari juga menganjurkan poin-poin penting lainnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Di antaranya adalah guru selalu melakukan introspeksi diri, mempergunakan metode yang mudah dipahami bagi peserta didik, membangkitkan antusiasme peserta didik dengan memotivasinya, dan memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu.14

c. Etika guru kepada murid, yaitu: (a) Berniat untuk mendidik, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan menghidupkan syariat Islam; (b) Menghindari ketidakihlasan dan mengejar keduniawian; (c) Selalu introspeksi diri; (d) Menggunakan metode yang mudah dipahami oleh murid; (e) Membangkitkan antusiasme peserta didik dengan memotivasinya; (f) Memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu;

(g) Selalu memerhatikan kemampuan peserta didik; (h) Tidak terlalu

mengutamakan salah seorang peserta didik dan menafikan peserta didik yang lain;

(i) Mengarahkan minat peserta didik; (j) Mencari informasi ketidakhadiran peserta didik melalui teman-temannya bila terdapat peserta didik yang

13 Badr al-Dîn ibn Jamâ‘ah, Tadzkirah al-Sâmi‘ wa al-Muta‘allim, 216.

14 Muhammad Hâsyim Asy‘arî, Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim (Jombang: Maktabah al-Turâts al-Islâmî, 1415 H), 40.

(13)

berhalangan hadir; (k) Membantu memecahkan masalah dan kesulitan peserta didik; (l) Bersikap terbuka dan lapang dada terhadap peserta didik; (m)

Menunjukkan sikap arif dan penyayang kepada peserta didik; dan (n) Tawadu.15 4. Etika terhadap Kitab/Buku

Hayim menyebutkan beberapa etika guru dan murid terhadap buku. Di antaranya adalah sebagai berikut: (1) Menganjurkan dan mengusahakan agar memiliki buku pelajaran yang diajarkan; (2) Merelakan dan mengizinkan bila ada kawan meminjam buku pelajaran. Sebaliknya, peminjam buku harus menjaga buku pinjaman tersebut;

(3) Meletakkan buku pelajaran pada tempat yang layak dan terhormat; (4) Memeriksa terlebih dahulu saat hendak membeli atau meminjam buku; (5) Bersuci terlebih dahulu dan mengawali dengan basmalah sebelum menyalin buku pelajaran tentang syariat. Memulai dengan hamdalah dan shalawat nabi sebelum menyalin buku pelajaran tentang ilmu retorika atau semacamnya. 16

Berdasarkan paparan di atas, inti pemikiran pendidikan Islam Hasyim adalah untuk beribadah kepada Allah atau menciptakan manusia yang produktif dan dinamis pada jalan yang benar. Dalam Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim, Hasyim menjelaskan bahwa moralitas harus menjadi pijakan kehidupan manusia di dunia. Seorang pencari ilmu harus

mengejawantahkan ilmunya dalam kehidupan kesehariannya dengan perilaku hidup tawakal, warak, beramal dengan mengaharapkan rida Allah semata, dan bersyukur.

Kesimpulan

Pengenalan kembali gagasan pendidikan KH. M. Hasyim Asy‘ari adalah sebuah upaya untuk mengingatkan urgensi etika, terutama dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini merupakan fondasi pembentukan karakter manusia. Pengajaran tentang sesuatu yang baik akan berdampak pada pola pikir yang baik pula. Kehadiran pendidikan Islam diharapkan mampu untuk menjawab semua problem pendidikan di era modern. Pada tahap

kemunculannya, Pendidikan Islam diselenggarakan secara informal dan sederhana oleh para mubalig Islam yang dilaksanakan di langgar, surau, atau masjid yang merupakan embrio pembentukan sistem pendidikan Islam ala pondok pesantren.

Kitab Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim karya KH. M. Hasyim Asy‘ari diharapkan mampu untuk mengubah orientasi pendidikan yang lebih mengarah pada pembentukan perilaku yang penuh dengan moralitas. Etika pendidik dalam lembaga pendidikan senantiasa lebih

ditingkatkan dengan mendekatkan diri kepada Allah, tidak mmenggunakan ilmunya untuk meraih keduniawian semata, mengamalkan sunah nabi, dan dan membaca al-Qur’an. Dengan demikian, mendidik bukan sekadar profesi biasa, tetapi merupakan sebuah ladang amal yang terus mengalir dan pekerjaan yang mulia. Belajar bagi seorang siswa merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalani sampai akhir hayat. Belajar dengan penuh etika akan mendapatkan keberkahan ilmu.

15 Badr al-Dîn ibn Jamâ‘ah, Tadzkirah al-Sâmi‘ wa al-Muta‘allim, 219.

16 Badr al-Dîn ibn Jamâ‘ah, Tadzkirah al-Sâmi‘ wa al-Muta‘allim, 219-220.

(14)
(15)

DAFTAR PUSTAKA

Anam, Chairul. Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Sala: Jatayu Sala, 1985.

Asy'ari, Muhammad Hasyim. Adab al-Alim wa al-Muta'allim. Jombang: Maktabah al-Turats al- Islami, 1415.

Hadi, Abdul. KH. Hasyim Asy'ari; Sehimpun Cerita Cinta dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara. Yogyakarta: Diva Press, 2018.

Hadziq, Ishomuddin. KH. Hasyim Asy'ari: Figur Ulama dan Pejuang Sejati. Jombang: Pustaka Warisan Islam, 1999.

Jama'ah, Badr al-Din ibn. Tadzkirah al-Sami' wa al-Muta'allim fi Adab al-Alim wa al- Muta'allim. Mesir: Dar al-Atsar, 2005.

Khuluq, Lathiful. Fajar Kebangsaan Ulama; Biografi KH. Hasyim Asy'ari. Yogyakarta: LkiS, 2000.

Misrawi, Zuhairi. Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari; Moderasii Keutamaan dan Kebangsaan.

Jakarta: Kompas, 2010.

Rozikin, Badiatul. 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia. Yogyakarta: e-Nusantara, 2009.

Sya'roni. Model Relasi Ideal Guru dan Murid: Telaah atas Pemikiran al-Zarnuji dan KH.

Hasyim Asy'ari. Yogyakarta: Teras, 2007.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu bagian terpenting yang harus diperhatikan dan ditekankan selain pada aspek kognitif adalah aspek afektif (spritualitas dan etika) dalam proses belajar

Muhammadiyah dan NU merupakan organisasi sosial Islam mainstreamdi Indonesia yang telah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Kedua organisasi ini menggerakkan pembaharuan

Pendidikan Islam yang selanjutnya akan dikaji ini adalah konsep pendidikan berdasarkan pada pemikiran Hasyim Asy’ari, penulis merasa penting untuk mengkaji pemikiran

Selama men gikuti perkuliahan mahasiswa wajib berpakaian sopan dan rapi (bagi laki-laki memakai dasi). Tidak membawa senjata tajam, senjata api/bahan

penuntut ilmu dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat, maka harus memperhatikan sepuluh macam etika, Antara lain; membersihkan hati dari berbagai macam gangguan keimanan

K.H. Hasyim Asy‟ari merupakan ulama‟ yang lahir dari keluarga elit kiai di daerah Jombang, beliau pernah belajar di berbagai pesantren di pulau Jawa sebelum

Untuk mencari figur seorang guru yang baik, murid harus melibatkan Allah SWT agar selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mencari ilmu daan memiliki ilmu

Ada pun etika adab-adab seorang guru ketika mengajar, Hasyim As’Ari menawarkan gagasan tentang etika atau adab-adab guru ketika mengajar sebagaimana berikut: Mensucikan diri dari hadas