BAB II KAJIAN TEORI A. Colaboration
Teori kolaborasi (Collaborative Theory) menurut Chris Ansell Alison Gash adalah “A governing arrangement where one or more public agencies directly engage non-state stakeholders in a collective decision-making process that is formal, consensus-oriented, and deliberative and that aims to make or implement public policy or manage public programs or assets” menjelaskan bahwa Collaborative governance(Ansell & Gash, 2008). sebagai strategi peraturan pemerintahan sebagai kebijakan dalam proses pengambilan keputusan secara kolektif dan bersifat formal, berorientasi konsesus, dan musyawarah bertujuan untuk membuat atau mengimplementasikan kebijakan publik, mengelola program atau asset publik.
kolaborasi belajar peserta didik merupakan usaha seorang guru untuk melatih peserta didik agar mampu bekerja sama dalam kelompok. Kemampuan kolaborasi dapat mengarahkan peserta didik untuk saling menghargai pendapat orang lain dan dapat bekerja sama dalam belajar.
Kemampuan kolaborasi berperan penting untuk guru dalam melatih peesrta didik, menurut Risman dalam penelitiannya, menyatakan bahwa “Collaboration Learning adalah sebagai suatu rangkaian proses yang membantu para peserta didik dalam berinteraksi bersama untuk mewujudkan tujuan proses pembelajaran.
Sedangkan menurut Piaget dengan konsepnya” active learning” berpendapat bahwa para peserta didik belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bahwa bila suatu kelompok aktif, kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik.
Pembelajaran kolaboratif kelompok merupakan bentuk yang paling banyak digunakan dalam membangun kelas kolaboratif. Kelompok kecil kolaboratif akan lebih efektif apabila peserta didik diaktifkan dalam diskusi. Kolaborasi dalam kelas dapat terjadi dalam interaksi antara para peserta didik, guru-guru dan antar peserta didik dengan guru. Kolaborasi biasanya melibatkan tutor atau kelompok kerja kolaboratif yang kecil.
Kemampuan kolaboratif merupakan model pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori belajar. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai suatu model pembelajaran dengan menumbuhkan para peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompokkelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut Thobroni pembelajaran kolaborasi adalah “pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran.
Pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para peserta didik dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antar individu.” 18
Peran guru dalam model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai mediator.
Guru menghubungkan informasi baru terhadap pengalaman peserta didik dengan proses belajar di bidang lain, membantu peserta didik menentukan apa yang harus dilakukan jika peserta didik mengalami kesulitan dan membantu mereka belajar tentang bagaimana caranya belajar. Sedangkan menurut Funali dalam penelitiannya, definisi kolaborasi yaitu selain guru sebagai mediator, guru juga harus menyesuaikan tingkat informasi peserta didik dan mendorong agar peserta didik memaksimalkan kemampuannya untuk bertanggung jawab atas proses belajar mengajar. Peran sebagai model dapat diwujudkan dengan cara membagi pikiran tentang suatu hal atau
menunjukan pada peserta didik tentang bagaimana melakukan sesuatu secara bertahap.
Dalam penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kemampuan kolaborasi belajar peserta didik dapat mengarahkan peserta didik agar mereka memiliki keharmonisan, saling menghargai pendapat dan bekerja sama dalam belajar.
Kolaborasi belajar peserta didik dapat disebut sebagai usaha seorang pendidik dalam melatih peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok yang bervariasi untuk membantu antara satu dengan yang lainnya.
B. ASICS
ASICC (Adapting, Searching, Interpreting, Creating &
Comunicating)dimana pada tahap interpreting peserta didik dibimbing bekerjasama dalam kelompok kecil. Strategi pembelajaran ASICC merupakan jenis strategi pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memberdayakan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan argumentasi, memanfaatkan unsur e-learning, memberdayakan kesadaran dan keterampilan metakognisi, serta meningkatkan kolaborasi antar peserta didik (Santoso et al, 2021).
Model pembelajaran ASICC memiliki sintaks yang dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi, namun sampai saat ini penelitian yang mengungkap pengaruh keterampilan kolaborasi terhadap peningkatan belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran ASICC belum dilakukan. Oleh sebab itu ASICC dipilih sebagai model pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan kolaborasi. Berpijak pada ciri yang dimiliki oleh model ASICC peserta didik nantinya akan diarahkan untuk mengikuti setiap tahapan pembelajaran model ASICC ini, sehingga harapanya peserta didik akan lebih bertanggung jawab atas tugasnya dan memiliki keterampilan kolaborasi yang baik.
C. Lesson study
Lesson study adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip- prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk, 2009: 5). Selain itu Styler dan Hiebert (Susilo, 2009: 3)
mengatakan bahwa: Lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasikan masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan diajarkan); membelajarkan peserta didik sesuai dengan skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sedangkan yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya).
Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa lesson study adalah sebuah model pembinaan guru dalam meningkatkan kinerja guru yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok guru demi mewujudkan kinerja guru ke arah yang lebih baik lagi. Lesson study sendiri bukan merupakan metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan metode atau strategi
pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.
Lesson study merupakan pembinaan kompetensi profesional guru tentu mempunyai keunggulan atau keutamaan yang membedakan lesson study dengan cara lain dalam mengembangkan kompetensi profesional guru. Rusman (2010: 391) mengatakan bahwa “Keutamaan dari lesson study adalah dapat meningkatkan keterampilan atau kecakapan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru melalui kegiatan lesson study, yakni belajar dari suatu pembelajaran.”
Dalam pelaksanaannya lesson study terdiri dari tiga tahapan yaitu :
Pertama, tahap plan. Pada tahap ini berlangsung diskusi secara intensif, dalam diskusi ini dilakukan pemilihan guru model dan pembuatan perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seluruh peserta lesson study.
Kedua yaitu tahap do. Pada tahap ini semua perencanaan yang telah dirancang pada tahap plan dipraktikkan oleh guru model dan guru lain berperan sebagai observer untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang dipraktikkan oleh guru model. Sebelum kegiatan do dimulai biasanya para guru peserta lesson study melakukan breafing terlebih dahulu.
Ketiga yaitu tahap see. Pada tahap ini seluruh peserta lesson study membentuk forum diskusi yang dipimpin oleh seorang moderator dimana setelah kegiatan dibuka oleh moderator dilanjutkan dengan penyampaian kesan oleh guru model saat melakukan kegiatan pembelajaran pada tahap do. Guru lain yang bertugas sebagai observer juga menyampaikan hasil pengamatan mereka terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru model. Masalah yang ada dipecahkan secara bersama, dan solusinya dipakai sebagai bahan masukkan untuk 21 pembelajaran setiap guru dimasing-masing sekolah tempat mereka bertugas dan itu diartikan sebagai tahap tindak lanjut dari kegiatan lesson study.
D.