C
TESIS
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PERUSAKAN HUTAN DI SEKTOR EKOSISTEM GAMBUT DI
KECAMATAN PINGGIR KABUPATEN BENGKALIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum ( M.H )
OLEH :
NAMA : RYAN FAHLEVI HAMIDHAN DALIMUNTHE
NOMOR MAHASISWA : 211022205
BIDANG KAJIAN UTAMA : HUKUM PIDANA
PROGRAM MAGISTER (S2) ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU
2024
ABSTRAK
Kerusakan hutan di Indonesia adalah masalah yang terjadi saat ini, ketika hutan-hutan kita dirusak akibat aktivitas manusia seperti, illegal logging, perambahan lahan, dan kebakaran hutan. Akibat kerusakan hutan ini, banyak spesies tumbuhan dan hewan yang terancam punah karena kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Selain itu, kerusakan hutan juga berdampak pada iklim global karena hutan berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dari udara. Kawasan hutan yang terletak di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis yang menjadi sorotan yaitu Hutan Gambut. Karena adanya oknum yang tidak bertanggungjawab terhadap pengerusakan hutan dengan sengaja mengeringkan lahan gambut, yang seharusnya basah menjadi kering, untuk kepentingan pribadi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penegakan hukum pidana terhadap perusakan hutan gambut, dan menganalisis hambatan yang terjadi dalam penegakan hukum pidana lingkungan di Sektor Ekosistem Gambut di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.
Metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah yuridis empiris. Peneliti menggunakan spesifikasi deskriptif analitis. Sumber data pada penelitian ini adalah data primer yang terdiri dari wawancara, observasi dan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer,sekunder,dan tersier. Metode penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan. Data yang telah diperoleh akan disajikan dalam metode kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penegakan hukum pidana kehutanan di Indonesia dari upaya pemerintah dan seluruh elemen aparat penegak hukum untuk melindungi dan mengelolah sumber daya alam belum cukup efektif.
Hambatan-hambatan yang terjadi dalam penegakan hukum pidana yaitu, sulitnya mengidentifikasi tersangka akibat keterbatasan jumlah saksi dan lokasi yang sulit dijangkau, kurangnya personil dan alat transportasi yang belum memadai untuk menuju lokasi yang masih sulit diakses. Adapun upaya yang dapat dilakukan meningkatkan koordinasi, kapastias, dan evaluasi dengan pihak yang terkait.
Kata Kunci : Penegakan Hukum, Tindak Pidana, Perusakan Hutan, Ekosistem Gambut
ABSTRACT
Forest destruction in Indonesia is an ongoing problem, as our forests are being destroyed by human activities such as illegal logging, land encroachment, and forest fires. As a result of this forest destruction, many plant and animal species are threatened with extinction because they lose their homes and food sources. In addition, forest destruction also has an impact on the global climate because forests play an important role in absorbing carbon dioxide from the air. The forest area located in Pinggir Sub-district, Bengkalis Regency, which is in the spotlight is the Peat Forest. Because there are people who are not responsible for forest destruction by deliberately draining peatlands, which should be wet to dry, for personal gain.
This study aims to determine the enforcement of criminal law against peat forest destruction, and analyse the obstacles that occur in the enforcement of environmental criminal law in the Peat Ecosystem Sector in Pinggir District, Bengkalis Regency.
The approach method used in this research is empirical juridical.
Researchers use analytical descriptive specifications. The data sources in this research are primary data consisting of interviews, observations and secondary data consisting of primary, secondary and tertiary legal materials. This research method is library research and field research. The data that has been obtained will be presented in a qualitative method.
The results of this study indicate that forestry criminal law enforcement in Indonesia from the efforts of the government and all elements of law enforcement officials to protect and manage natural resources is quite effective. Obstacles that occur in criminal law enforcement, namely, the difficulty of identifying suspects due to the limited number of witnesses and locations that are difficult to reach, lack of personnel and inadequate means of transportation to locations that are still difficult to access. Efforts that can be made to improve coordination, capacity, and evaluation with related parties.
Keywords: Law Enforcement, Criminal Offences, Forest Destruction, Peat Ecosystems
KATA PENGANTAR
مِيْحِرَّلا نِمَحِرَّلا هِللا مِــــــــــــــــــسْبِ
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah, karena atas limpah dan karunia-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik walaupun dalam bentuk yang sederhana. Penelitian ini disusun untuk melengkapi persyaaratan guna mencapai gelar Magister Hukum pada di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau dengan judul : “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis”.
Selanjutnya atas keberhasilan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Ayahku tercinta H. Ondolan Syahmi Dalimunthe dan Ibuku tersayang Hj. Masbayani Rambe yang selalu mencurahkan kasih sayang, motivasi dan doa dalam setiap langkah hidup penulis. Jasa Ayah dan Ibu tidak akan pernah ananda lupakan. Selanjutnya untuk yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. H. Syafrinaldi, S.H., M.Cl., selaku Rektor Universitas Islam Riau.
2. Bapak Prof. Dr. H. Detri Karya, S.E., MA selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Riau.
3. Bapak Dr. Surizki Febrianto, S.H., M.H selaku Ketua Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Islam Riau.
4. Bapak Dr. M.Musa, S.H., M.H., selaku Pembimbing I dalam penulisan Tesis, terima kasih atas waktunya yang sangat berharga dalam membimbing penulis.
5. Bapak Dr. Riadi Asra Rahmad, S.H., M.H, selaku Pembimbing II dalam penulisan Tesis, terima kasih atas waktunya yang sangat berharga dalam membimbing penulis;
6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Pascasarjana Imu Hukum Universitas Islam Riau yang telah banyak membantu berjasa memberikan ilmu kepada penulis. Semoga ilmu yang penulis dapatkan selama dibangku perkuliahan, bisa penulis gunakan sebaik-baiknya.
7. Teman-Teman Program Pascasarjana Imu Hukum Universitas Islam Riau terimakasih atas bantuannya di dalam masa perkuliahan ini.
8. Khusus kepada sahabat-sahabat Dr. Zulkifli, S.H., M.H, Bryan Napitupulu, SH, Prayudha Wistu, SH, MH, Rizal Zaki Habib yang selalu menyemangati saya dalam penyelesaian Tesis ini.
Penulis menyadari dalam penulisan Tesis ini masih ada kekurangan baik dari segi bahasa maupun materi penulis mengharapkan dari teman-teman kritikan dan saran yang berguna dalam perbaikan dan kesempurnaan penulisan Tesis ini.
Selanjutnya semoga Tesis ini dapat memberikan manfaat dan faedah bagi kita semua. Amin.
Pekanbaru, Juli 2024
Hormat Penulis
RYAN FAHLEVI HAMIDHAN DALIMUNTHE NPM: 211022205
DAFTAR ISI
COVER TESIS...i
ABSTRAK... ii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI... vi
BAB I... 1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah... 13
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian...13
D. Kerangka Teori...14
E. Konsep Operasional...36
F. Metode Penelitian... 38
BAB II... 44
TINJAUAN UMUM...44
A. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Kehutanan...41
B. Tinjauan Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut...61
C. Tinjauan Umum Tentang Giam Siak Kecil...71
D. Tinjauan Umum Tentang Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 18/PUU-XII/2014... 66
BAB III...84
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...84
A. Penegakan Hukum Terhadap Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis...84
B. Hambatan dalam Penegakan Hukum Pidana Lingkungan di Sektor Ekosistem Gambut di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis...112
BAB IV... 122
PENUTUP...122
A. Kesimpulan... 122
B. Saran... 123
DAFTAR PUSTAKA... 124
LAMPIRAN...133
DAFTAR SINGKATAN
BBKSDA : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
Ha : Hektar
Hlm : Halaman
KHG : Kesatuan Hidrologis Gambut
KUHP : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
MK : Mahkamah Konstitusi
POLRES : Kepolisian Resort
PPLH : Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup PERPU : Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
UU : Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang memiliki luas hutan terbesar ketiga di dunia. Keberadaan hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia baik itu hutan sebagai ekonomi dan hutan sebagai ekologi.1 Hutan sebagai ekonomis bisa kita lihat dengan obat yang menyembuhkan penyakit juga berasal dari hutan, kayu bakar untuk rumahan, meranti, ulin jati atau hasil hutan sebagai penghasil devisa negara sedangkan hutan sebagai ekologi ialah menghisap karbon dari udara dan mengembalikan oksigen bersih kepada manusia. Hutan juga menyaring udara kotor akibat pencemaran kendaraan bermotor dan pabrik, maka hilangnya hutan akan menyebabkan semakin panas (global warming). Hutan menjadi bagian hidup dari sebagian masyarakat berpandangan bahwa hutan merupakan tempat mereka lahir, tumbuh, berkembang, sumber kehidupan dan akhir hidupnya.
Hutan memiliki peranan dan kedudukan penting dalam membangun kepentingan Nasional karena hutan memiliki manfaat yang sangat besar serta kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia, dimana manfaat itu langsung kita peroleh maupun tidak langsung kita dapatkan. Kemudian manfaat langsung kita peroleh dari hutan layaknya berbagai macam kayu dan rotan, getah, binatang untuk diburu, pekerjaan lapangan sebagai sarana sebagai
1 Otong Rosadi, Pertambangan Dan Kehutanan Dalam Perspektif Cita Hukum Pancasila, Ed. Otong Rosadi Yogyakarta: Thafa Media, 2012., Hlm. 78-79
pembuka lapangan kerja, dan kemudian daerah dapat penghasilan lain dari pengelolaan hutan menjadi pariwisata sekaligus memelihara keseimbangan hutan dan lingkungan hidup sekitarnya. yang dimana pengelolaan ini harus dilakukan dengan baik dan terencana tanpa ada kesalahan sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi hutan, agar dapat memberikan manfaat secara optimal bagi khalayak banyak orang.2
Indonesia merupakan negara dengan luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Kongo, yang mana jumlah lahan hutan di Indonesia mencapai 126.302.229,98 ha yang tersebar di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. lindung (29.637.565,72 ha),hutan produksi terbatas (26.844.201,26 ha),hutan produksi tetap (29.265.407,73ha), hutan produksi yang dapat dikonversi (13.120.714.00ha),dan kawasan suaka alam dan pelestarian alam (27.434.342,27 ha).3
Akan tetapi, jumlah lahan hutan di Indonesia terus mengalami penurunan, menurut data yang didapat dari World Wide Fund For Nature (WWF), dalam rentan waktu, antara tahun 1970 sampai tahun 2000, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2,8 juta ha per tahun dan pada saat ini luas hutan Indonesia yang tersisa hanya tinggal 28% dari total hutan Indonesia yang ada.4 Hal tersebut diakibatkan oleh penebangan liar,kebakaran dan pembakaran hutan, kegiatan penambangan dan peralihan fungsi hutan. penelitian terbaru yang
2 Salim, “Dasar-Dasar Hukum Kehutanan”, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, Hlm 1
3 Pusat Data Dan Informasi Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, Statistik Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Tahun 2014, Hlm 99
4WWF Indonesia, Hutan Indonesia Penyerap Atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca Http://Awsassets.Wwf.Or.Id/Downloads/Lembar_Fakta_Deforestasi_Tanpa_Foto.Pdf , Diakses Pada 14 Februari 2023.
diterbitkan di jurnal Nature Climate Change pada 29 Juli 2014, bahwa pada rentan waktu 2000-2012, Indonesia kehilangan 6,02 juta ha hutan setiap tahunnya dan melampaui Brazil sebagai negara “perusak hutan” nomor satu di dunia. 5
Pengerusakan hutan yang banyak dilakukan oleh masyarakat, seperti pembalakan liar, penambangan tanpa izin, dan perkebunan tanpa izin telah menimbulkan kerugian negara, kerusakan kehidupan sosial budaya dan lingkungan hidup, serta meningkatkan pemanasan global yang telah menjadi isu nasional, regional, dan internasional.6
Begitu pula yang terjadi di Provinsi Riau sebagai Provinsi dengan angka deforestasi tertinggi. Di mana Kawasan hutan di Provinsi Riau dari tahun ke tahun semakin berkurang, sedangkan deforestasi dan degradasi terhadap hutan alam di Provinsi Riau berlangsung sangat cepat. Selama kurun waktu 24 tahun (1982-2005) Provinsi Riau telah kelihangan tutupan hutan alam seluas 3,7 juta ha. Pada tahun 1982 tutupan hutan alam di Provinsi Riau masih meliputi 78%
(6.415.655 hektar) dari luas daratan Riau 8.225.199 H (8.265.556 hektar setelah dimekarkan). Hingga tahun 2005 hutan alam yang tersisa hanya 2.743.198 ha (33% dari luas daratan Riau). Dalam kurun waktu tersebut Provinsi Riau rata-rata setiap tahun kehilangan hutan alamnya seluas160.000 ha/tahun dan selama periode 2004-2005 hutan alam yang hilang mencapai
5Berita Lingkungan, Laju Kerusakan Hutan Di Indonesia Lampaui Brazil, Http://Www.Beritalingkungan.Com/2014/07/Laju -Kerusakan-Hutan-Di-Indonesia.Html, Diakses Pada Tanggal 15 Februari 2023.
6 Abdul Halim, Perlindungan Hukum Terhadap Hutan Dan Tumbuh-Tumbuhan Serta Hewan Yang Ada Di Dalamnya , Sinar Grafika, Jakarta, 2010, Hlm. 47.
200.000 ha, dan meninggalkan 22% atau 2,45 juta ha pada tahun 2009. Data tutupan hutan tahun 2013 tersisa 2.005.512 Ha. Berdasarkan pantauan citra satelit Lansat 8 menunjukkan luas hutan Riau tersisa pada tahun 2015 sekira 1.644.862 Ha (15% dari luas daratan Riau, padahal wilayah kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal sebesar 30% dari luas daratan) (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau.7 Kondisi ini sudah sangat memprihatinkan, mengingat besarnya manfaat hutan bagi masyarakat dan besarnya akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan tidak hanya bagi manusia tetapi juga tumbuhan serta hewan. Luas kawasan hutan di Provinsi Riau setiap tahunnya selalu berkurang.
Pengelolaan hutan di Provinsi Riau selama ini menimbulkan begitu banyak permasalahan, diantaranya pertama, mulai dari deforestasi-degradasi hutan Riau, kedua, konflik dengan masyarakat tempatan dan pencemaran/kerusakan lingkungan hidup terjadi sejak korporasi hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit beroperasi, ketiga, kerusakan hutan di Riau mengakibatkan banjir setiap musim hujan, kebakaran hutan saban kemarau dan keempat praktik korupsi merupakan awal pintu masuk praktek monopoli dan berujung pada kerusakan ekologis.
Salah satu Kawasan Hutan yang menjadi sorotan adalah Hutan Gambut.
Riau, miliki gambut cukup luas. Sekitar 4,9 juta hektar atau 55% dari luas daratan provinsi ini berupa lahan gambut. Kebakaran hutan dan lahan gambut
7 Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Dalam 14 Tahun Melawan Monopoli Pengusaha Hutan Dan Lahan, Catatan Hitam Tata Kelola Hutan Dan Lahan Di Riau 2002-2016 , 2016, Pekanbaru, 2016, Hlm.125.
masih langganan di Riau yang menimbulkan kerugian dari berbagai sektor.
Riau juga wilayah pesisir hingga kaya mangrove dengan ragam jenis.8 Hal ini selain karena alam, kerusakan hutan gambut seperti kebakaran dikarenakan banyaknya masyarakat yang mengeringkan lahan gambut, yang seharusnya basah, untuk menanam sawit dan pohon akasia (bahan baku pembuatan bubur kertas dan kertas). Proses ini membuat gambut kering dan rusak sehingga mudah terbakar. Ini menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia.
Di Provinsi Riau, daerah yang memiliki lahan gambut terluas adalah di daerah Indragiri Hilir, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti, Pelalawan, dan Siak.
Total lahan sekitar 500.000 hektare. Pada musim kemarau, lahan gambut jadi sorotan karena terbakar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, pada tahun 2014 sekitar 22.037 hektare lahan gambut yang hangus. Tahun 2015 turun menjadi 7.914 hektare, dan pada tahun 2016 turun kembali menjadi 3.902 hektare.9
Hutan rawa gambut di Provinsi Riau yang paling banyak mengalami pengurangan luas adalah Bentang alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu, atau yang lebih dikenal dengan nama Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu terhampar di tiga kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Riau dengan rincian 67% di Kabupaten Bengkalis, 29% di Kabupaten Siak, dan 4% di Kota Dumai. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit
8 Https://Brgm.Go.Id/Bagaimana-Upaya-ss-Gambut-Dan-Mangrove-Di-Riau/, Diakses Pada 19 April 2024 Pukul 14.00
9 Detik, Tentang Gambut, Kemarau, Dan Kebakaran Lahan Di Riau, Dalam Https://News.Detik.Com/, Diakses Pada 01 Mei 2023 Pukul 13.00
Batu memiliki luas sekitar 701.984 Ha dengan zona inti seluas 178.722 Ha, zona penyangga seluas 222.426 Ha, dan zona transisi seluas 304.123 Ha. Pada zona inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu terdapat Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 Ha, Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 Ha, dan hutan konservasi seluas 72.255 Ha.10
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan yang terdapat di dalam Pasal 12 yang menyebutkan bahwa: “Setiap orang dilarang”:
a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan;
b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang; dan
c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah Dan didalam pasal 82 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan menyatakan :
(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:
a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a;
10 Budiman S. Dalimunthe, Penerapan Sanksi Terhadap Pelaku Perusak Hutan Biosfer Giam Di Kabupaten Siak, JCH (Jurnal Cendekia Hukum) Volume 7 Nomor 2, Maret 2022, Hlm 287
b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b; dan/atau;
c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah dimaksud dalam Pasal 12 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Korporasi yang:
a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a;
b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b; dan/atau;
c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah dimaksud dalam Pasal 12 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Secara normatif pemerintah sudah mengatur dengan jelas mengenai lahan gambut yang tertuang dalam Pasal 57 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa konservasi sumber daya alam meliputi, konservasi sumber daya air, ekosistem hutan, ekosistem pesisir dan laut, energi, ekosistem lahan gambut, dan ekosistem karst. Di samping itu dalam Pasal 2 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menjelaskan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang.
Mengingat dengan dilakukannya perusakan ekosistem gambut dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup, dalam hal ini dapat dikatakan sebagai tindak pidana lingkungan hidup yang dimana merupakan suatu kejahatan baik dilakukan oleh pribadi maupun badan usaha atau korporasi dapat dikenakan pidana atas perbuatan tersebut seperti diatur didalam:
1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan diatur dalam pasal 78 ayat (1) sampai dengan ayat (15), Ketentuan Pidana, Bab XIV.
2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan diatur dalam Pasal 46 sampai Pasal 53, Ketentuan Pidana, Bab XI.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup diatur dalam Pasal 97- 119, Ketentuan Pidana, Bab XV.
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Diatur dalam pasal 83, Ketentuan Pidana Bab X
5. UU No. 06 Tahun 2023 tentang Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja, Pasal 37
Perusakan Hutan gambut seperti kebakaran hutan dan perambahan Kawasan kerap terjadi di beberapa tempat di Riau, khususnya di Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir dan Dumai. Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut dengan jenis tanaman semak belukar. Penyebab kebakaran lahan adalah disengaja untuk pembukaan lahan perkebunan dan pertanian.
Beberapa wilayah di Provinsi Riau banyak terjadi pembukaan Kawasan hutan gambut dengan cara dibakar, salah satunya yang terjadi adalah di terjadi di Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis, yang dimana terjadinya kebakaran di lahan gambut seluas sekitar 50 hektare di wilayah Desa Pelintung (Kota Dumai) dan Desa Tanjung Leban (Kabupaten Bengkalis).11
11 Bersadarkan Wawancara Dengan Kepala Seksi Penegakan Hukum Dinas LHK Provinsi Riau, Agus Suryoko, S.H, M.H
Hutan rawa gambut di Provinsi Riau yang paling banyak mengalami pengurangan luas adalah Bentang alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu, atau yang lebih dikenal dengan nama Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu.
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu terhampar di tiga kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Riau dengan rincian 67% di Kabupaten Bengkalis, 29% di Kabupaten Siak, dan 4% di Kota Dumai. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu memiliki luas sekitar 701.984 Ha dengan zona inti seluas 178.722 Ha, zona penyangga seluas 222.426 Ha, dan zona transisi seluas 304.123 Ha. Pada zona inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu terdapat Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 Ha, Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 Ha, dan hutan konservasi seluas 72.255 Ha.
Hal ini juga ditambah dengan disahkan nya Undang-undang Nomor 06 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-undang, terutama di Sektor Kehutanan, Permasalahan ini akan merujuk pada rumusan Pasal 110A dan 110B Undang-Undang Cipta Kerja. Adapun bunyi ketentuan tersebut, yaitu:
a. “Pasal 110 A”
(1) “Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha yang telah terbangun dan memiliki Perizinan Berusaha di dalam kawasan hutan sebelum berlakunya Undang-Undang ini yang belum memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
kehutanan, wajib menyelesaikan persyaratan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku”.
(2) “Jika setelah lewat 3 (tiga) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini tidak menyelesaikan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku dikenai sanksi administratif, berupa: a. pembayaran denda administratif; dan/atau b. pencabutan Perizinan Berusaha”.
(3) “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif dan tata cara penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (21 diatur dalam Peraturan Pemerintah”.
b. “Pasal 110B”
(1) “Setiap orang yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) huruf b, huruf c, danf atau huruf e, dan f atau Pasal 17 ayat (2) huruf b, huruf c, danf atau huruf e, atau kegiatan lain di kawasan hutan tanpa memiliki Perizinan Berusaha yang dilakukan sebelum berlakunya Undang-Undang ini dikenai sanksi administratif, berupa: a. penghentian sementara kegiatan usaha; b.
pembayaran denda administatif; dan/atau c. paksaan pemerintah”.
(2) “Dalam hal pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan paling singkat 5 (lima) tahun secara terus menerus dengan luasan paling banyak 5 (lima) hektar,
dikecualikan dari sanksi administratif dan diselesaikan melalui penataan kawasan hutan”.
(3) “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif dan tata cara penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah”.
Penjelasan tersebut membawa konsekuensi Terada dua hal, yaitu Pasal 110A terkait dengan dekriminalisasi, yaitu suatu perbuatan yang semula atau semula merupakan tindak pidana diubah menjadi suatu perbuatan yang bukan merupakan tindak pidana. memiliki izin usaha.” Untuk Pasal 110B lebih tepat disebut sebagai penghapusan pertanggungjawaban pidana karena perubahan norma pidana tidak membawa akibat bagi perbuatan, karena sejak semula perbuatan yang dilarang itu sama sekali tidak ada izinnya. Sedangkan kesamaan antara Pasal 110A dan Pasal 110B adalah pada saat undang-undang tersebut dibuat.
Hal inilah yang menjadi polemik di kalangan Penegak Hukum, khususnya di bagian Penegakan Hukum baik dari Kepolisan Resort Bengkalis maupun dari Penyidik Pegawai Negeri Sipil Balai Besai Konservasi Sumber Daya Alam Riau dalam ketika melakukan penegakan hukum di Kawasan Hutan terutama Hutan Gambut yang dimana Para Oknum merusak hutan gambut dengan cara membuka Kawasan hutan tanpa izin.
Dari latar belakang diatas maka penulis telah melakukan penelitian hukum sosiologis terkait dengan perusakan hutan dari aspek pemberantasan atau
mencegah, khususnya proses Penegakannya, maka penulis tertarik ingin meneliti tentang “PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PERUSAKAN HUTAN DI SEKTOR EKOSISTEM GAMBUT DI KECAMATAN PINGGIR KABUPATEN BENGKALIS”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah dalam proposal Tesis ini adalah:
1. Bagaimana Penegakan Hukum Terhadap Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis?
2. Apakah Hambatan dalam Penegakan Hukum Pidana Lingkungan di Sektor Ekosistem Gambut di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan pokok pada tulisan ini, maka yang menjadi tujuan dan kegunaan dari penelitian ini yaitu:
1. Tujuan
a. Meneliti/mengkaji Penegakan Hukum Terhadap Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis;
b. Mengetahui Hambatan dalam Penegakan Hukum Pidana Lingkungan di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis;
2. Manfaat
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi sebagai bahan referensi akademik di bidang hukum bagi pihak yang akan melakukan penelitian pada lokasi dan permasalahan yang hampir sama, sedangkan pada prakteknya diharapkan hasil penelitian tersebut mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang diteliti dan diharapkan mampu mengungkap teori baru atau mengembangkan teori yang sudah ada sehingga secara tidak langsung dapat memberikan dampak positif dalam Penegakan Hukum Terhadap Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis.
D. Kerangka Teori
1. Teori Penegakan Hukum
Definisi penegakan hukum dapat dilihat dari sudut pandang objek, yaitu dalam hal hukum. Dalam hal ini, pemahamannya juga mencakup makna yang luas dan sempit, yang mencakup nilai -nilai keadilan yang terkandung di dalamnya suara aturan formal dan nilai -nilai keadilan yang hidup dalam keadilan masyarakat. Tetapi dalam arti sempit, penegakan hukum hanya menyangkut penegakan peraturan formal dan tertulis.12
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka (rechtsstaat). Dalam hal ini terlihat bahwa hukum dijadikan lawan kekuasaan, tetapi apabila kekuasaan serba penekanan, intimidasi, kekerasan dan pemaksaan, maka dapat saja
12 Muhammad Asri Saleh, Menegakkan Hukum Dan Mendirikan Hukum, Bina Mandiri Press, Pekanbaru, 2003, Hlm. 23.
hukum dimanfaatkan agar mendapatkan keutungan bagi dirinya dan merugikan orang lain. Hal tersebut termaktub dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan negara Indonesia adalah negara hukum. Oleh sebab itu penyelengaraan negara harus berdasarkan hukum yang berlaku.
Implementasi dari negara hukum ini perlu adanya penegakan terhadap hukum itu sendiri yang mana penegakan hukum merupakan subsistem sosial, sehingga penegakan hukumnya dipengaruhi lingkungan yang sangat kompleks seperti perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan sebagainya. Penegakan hukum harus berlandaskan kepada prinsip-prinsip negara hukum sebagimana tersirat dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan asasasas hukum yang beradab.
Jika berbicara tentang penegakan hukum, maka tidak akan lepas Juga untuk membicarakan masalah hukum. Maka perlu dijelaskan pengertiannya hukum. Menurut Kelsen, hukum adalah sebagai sistem aturan, nilai, dan pola perilaku yang pada hakekatnya dipandang untuk menilai atau membandingkan sikap.13
Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide.
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau
13 Purnadi Purbacaraka, Penegakan Hukum Dalam Mensukseskaan Pembangunan, Alumni, Bandung, 1977, Hlm. 77.
berfungsinya normanorma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsepkonsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal.14
Keberhasilan penegakan hukum dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempunyai arti yang netral, sehingga dampak negatif atau positifnya terletak pada isi faktor tersebut. Faktor ini mempunyai hubungan saling berkaitan dengan eratnya, yang merupakan esensi serta tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum. Ada beberapa faktor terkait yang menentukan proses penegakan hukum menurut Lawrence M. Friedman yaitu komponen struktur, substansi, kultur.
Penegakan hukum pada hakekatnya mengandung nilai supremasi yang substansial, yaitu keadilan. Nilai keadilan yang didambakan adalah nilai yang sesuai dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, yaitu nilai yang dapat menjaga dan memelihara keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan individu di satu pihak, dan kepentingan masyarakat lainnya. di sisi lain. Nilai keadilan inilah yang menjadi nilai terpenting dari setiap peraturan perundang-undangan, dengan kata lain
14 Dellyana,Shant, Konsep Penegakan Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1988, Hlm 32
aturan hukum bukan hanya aturan yang valid (yang memiliki validitas), tetapi juga aturan yang adil (harus memiliki nilai).15
Musibah kehidupan hukum di Indonesia akhir-akhir ini, seperti peradilan hakim dan penyalahgunaan kekuasaan hukum oleh aparat penegak hukum serta gesekan-gesekan yang timbul di masyarakat akibat pelaksanaan penegakan hukum, tampaknya tidak perlu dihiraukan.
dikembalikan kepada masalah mentalitas para pelaksana penegakan hukum.
, seperti yang biasa dikedepankan oleh masyarakat, namun tidak menutup kemungkinan juga karena nilai-nilai (keadilan) yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini jauh dari mencukupi, bahkan bertentangan dengan pendapat dan rasa keadilan masyarakat kita.16
Mengenai penegakan hukum, Soerjono Soekanto mengatakan: Secara konseptual, hakikat dan makna penegakan terletak pada kegiatan harmonisasi hubungan nilai-nilai yang dijabarkan dalam prinsip dan sikap yang kokoh dan nyata sebagai rangkaian tahap akhir penjabaran nilai, untuk menciptakan, menjaga dan memelihara. perdamaian sosial. Dalam menegakkan kehidupan pasangan, nilai ketertiban dan ketentraman, nilai kepentingan umum dan nilai kepentingan pribadi, nilai keberlanjutan dan nilai inovasi dijabarkan dalam asas-asas hukum yang kemudian menjadi
15 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, Perspektif Ekstensialisme Dan Abolisionisme, Bina Cipta, Bandung, 2006, Hlm. 67-68
16 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum, Suatu Tinjauan Sosiologis, Yogyakarta: Genta Pubishing, 2009 , Hlm. 9
pedoman atau tolok ukur perilaku atau sikap. yang dianggap tepat untuk tujuan menciptakan, memelihara, dan memelihara perdamaian.17
Beberapa teori penegakan hukum, menurut Aristoteles mengatakan bahwa tujuan dari hukum adalah keadilan. Jimly Asshidiqie mendefenisikan penegakan hukum itu menjadi dua, yakni subyek dan objek. Ditinjau dari sudut subyek dari arti luas, proses penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Dalam arti sempit, dari segi subyeknya penegak hukum hanya diartikan sebagai aparatur penegak hukum tersebut untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana mestinya.
Pengertian penegak hukum ditinjau dari segi obyek dalam arti luas, penegak hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya penegakan hukum peraturan yang formal dan tertulis saja.18
Pelaksanaan hukum harus membuka jalan bagi terciptanya keadilan sosial dan mengatur perbedaan sosial dan ekonomi warga negara sehingga tujuan penerapan hukum adalah untuk menguntungkan mereka yang kurang beruntung, hal ini merupakan konsekuensi dari suatu negara hukum. . Tujuan hukum adalah untuk mewujudkan keadilan dengan manusia. Hal ini dicapai dengan memasukkan prinsip-prinsip keadilan dalam aturan hidup
17 Ibid, Hlm. 69.
18 Jimly Asshidiqie, Penegakan Hukum, Jurnal Hukum, Diakses Tanggal 22 Februari 2023
bersama. Untuk mencapai keadilan, negara harus dipaksa untuk menyeimbangkan kebutuhan sosial dan individu satu sama lain. Cita-cita keadilan yang hidup di hati rakyat dan dicita-citakan oleh pemerintah merupakan simbol harmonisasi yang tidak memihak antara kepentingan satu individu dengan individu lainnya.19
Penegakan hukum dewasa ini masih merupakan refleksi dari suatu persepsi sosial yang bersifat personal dan independen. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang berasumsi, bahwa undang-undang hanya rumusan huruf-huruf mati belaka, rangkaian ide-ide yang tidak berdaya dan alat
“tukar-menukar”, mendistribusikan kepentingan atau keuntungan hidup yang diskresi dan distance dari hukum itu sendiri.20 Dalam menentukan apa yang secara hukum salah dan benar pada kasus tertentu, haruslah memperhitungkan berbagai tujuan, hambatan situasional, dan alternatif praktis.21
Menurut Joseph Goldstein Penegakan hukum pidana dibedakan menjadi tiga, yaitu Total enforcement, yaitu ruang lingkup penegakan hukum pidana sebagaimana yang dirumuskan oleh hukum pidana substantif.
Meskipun keinginan untuk melakukan penegakan hukum pidana secara total, namun penegakan hukum pidana secara total tidak mungkin dilaksanakan sehingga terdapat wilayah yang tidak dapat dilaksanakan penegakan hukum. Hal ini dapat terjadi sebab penegakan hukum diabatasi
19 R. Abdussalam, Prospek Hukum Pidana Indonesia Dalam Mewujudkan Rasa Keadilan Masyarakat, Restu Agung, Jakarta, 2006, Hlm. 17
20 Abdul Wahid Dkk, Hukum, Suksesi, Dan Arogansi Kekuasaan, Tarsito, Bandung, 1994, Hlm. 9.
21 Philippe Nonet Dan Philip Selznick, Hukum Responsif, (Bandung: Nusamedia), 2011, Hlm. 100
secara ketat oleh hukum acara pidana antara lain mencakup aturan-aturan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan pendahuluan, disamping itu juga menghendaki syaratsyarat tertentu untuk suatu tindakan.
Penegakan hukum kedua full enforcement, yakni diharapkan penegak hukum melakukan penegakan hukum secara maksimal, namun semikian hal itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak realistis, sebab adanya sebuah keterbatasanketerbatasan dalam bentuk waktu, personil, alat-alat investigasi, dan sebagainya. Semua yang disebutkan tersebut yang menajdi penyebabkan dilakukannya discration.22
Satjipto Raharjo berpendapat bahwa penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan.
Keinginankeinginan hukum disini tidak lain adalah pikiran-pikiran badan pembuat undangundang yang dirumuskan dalam peraturan hukum tersebut.
23 Penegakan hukum ialah merupakan upaya yang dilakukan untuk menjadikan hukum, baik dalam arti formil yang sempit maupun dalam arti materil yang luas, sebagai pedoman perilaku dalam setiap perbuatan hukum, baik oleh para subjek hukum yang bersangkutan maupun oleh aparatur penegakan hukum yang resmi diberi tugas dan kewenangan oleh undang- undang untuk menjamin berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
22 Joseph Goldstein Dalam Rusli Muhammad, Kemandirian Pengadilan Indonesia, FH UII Press, Yogyakarta, 2010, Hlm 148-149
23 Satjipto Raharjo, Op.Cit, Hlm. 24
Penegakan hukum dilihat dari fase, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu :24
a. Faktor Hukum
Praktik penyelenggaraan hukum di lapangan ada kalanya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, hal ini disebabkan oleh konsepsi keadilan merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak, sedangkan kepastian hukum merupakan suatu prosedur yang telah ditentukan secara normatif.
Justru itu, suatu kebijakan atau tindakan yang tidak sepenuhnya berdasar hukum merupakan sesuatu yang dapat dibenarkan sepanjang kebijakan atau tindakan itu tidak bertentangan dengan hukum. Maka pada hakikatnya penyelenggaraan hukum bukan hanya mencakup law enforcement, namun juga peace maintenance, karena penyelenggaraan hukum sesungguhnya merupakan proses penyerasian antara nilai kaedah dan pola perilaku nyata yang bertujuan untuk mencapai kedamaian. Faktor penegakan hukum, yakni pihak-pihak yang berwenang melakukan penegakan hukum.
b. Faktor Penegak Hukum
Fungsi hukum, mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan peranan penting, kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas petugas kurang baik, ada masalah. Oleh karena itu, salah satu
24 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 1983, Hlm. 8
kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian penegak hukum.
c. Faktor Sarana atau Fasilitas
Faktor sarana atau fasilitas pendukung mencakup perangkat lunak dan perangkat keras, salah satu contoh perangkat lunak adalah pendidikan. Pendidikan yang diterima oleh Polisi dewasa ini cenderung pada hal-hal yang praktis konvensional, sehingga dalam banyak hal polisi mengalami hambatan di dalam tujuannya, diantaranya adalah pengetahuan tentang kejahatan komputer, dalam tindak pidana khusus yang selama ini masih diberikan wewenang kepada jaksa, hal tersebut karena secara teknis yuridis polisi dianggap belum mampu dan belum siap. Walaupun disadari pula bahwa tugas yang harus diemban oleh polisi begitu luas dan banyak.
d. Faktor Masyarakat
Penegak hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Setiap warga masyarakat atau kelompok sedikit banyaknya mempunyai kesadaran hukum, persoalan yang timbul adalah taraf kepatuhan hukum, yaitu kepatuhan hukum yang tinggi, sedang, atau kurang. Adanya derajat kepatuhan hukum masyarakat terhadap hukum, merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum yang bersangkutan.
e. Faktor Kebudayaan
Berdasarkan konsep kebudayaan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan. Kebudayaan menurut Soerjono Soekanto, mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat, yaitu mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, kebudayaan adalah suatu garis pokok tentang perikelakuan yang menetapkan peraturan mengenai apa yang harus dilakuksan, dan apa yang dilarang.
2. Teori Efektivitas Penegakan Hukum
Menurut Soerjono Soekanto, teori efektifitas hukum adalah sejauh mana suatu kelompok dapat mencapai tujuannya. Suatu hukum dapat dikatakan efektif apabila mempunyai akibat hukum yang positif, dimana hukum mencapai tujuannya untuk mengarahkan atau mengubah tingkah laku manusia sehingga menjadi tingkah laku yang berhukum.25
Berkaitan dengan efektivitas hukum, berarti membicarakan efektivitas hukum daIam mengatur dan/atau menegakkan kepatuhan pada hukum.
Suatu hukum bisa efisien bila determinan pengaruhnya dalam hukum itu bisa bekerja yang diusahakan sebaik mungkin. Undang-undang bisa efisien ketika masyarakat berperiIaku sesuai dengan yang diharapkan atau diinginkan, dalam haI mana perilaku tersebut menunjukkan efektivitas undang-undang atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Teori
25 Soerjono Soekanto, Efektivitas Hukum Dan Penerapan Sanksi, (Bandung: CV, Ramadja Karya 1988), Hlm 80
efektivitas hukum yang dituangkan oleh Soerjono Soekanno menggunakan besaran efektivitas yang menegakkan hukum pada Iima haI:26
1. Faktor Hukum Hukum melayani keadiIan, kepastian dan kebermanfaatan. Ada kalanya daIam praktek kepolisian di daerah ini mengalami konflik diantara kepastian hukum dan keadiIan. Kepastian hukum bersifat aktual dan konkrit, disisi lain keadiIan sifatnya abstrak. Maka disaat hakim membuat putusan atas perkara dengan menerapkan hukum saja, ada kalanya nilai keadilan tidak terpenuhi.
Oleh karena itu, setidaknya pertanyaan tentang keadilan ada di latar depan. Karena hukum tidak hanya diIihat dari sudut pandang hukum tertuIis.
2. Faktor Penegakan Hukum daIam penerapan hukum, cara berpikir atau kepribadian sipir penjara memegang peranan penting, jika peraturannya baik tetapi kualitasnya tidak baik, maka ada masaIah.
Sampai saat ini, masyarakat memiliki kecenderungan yang kuat untuk menginterpretasikan undang-undang menurut aparat atau petugas kepolisian, artinya undang-undang disamakan dengan polisi atau perilaku pejabat yang sebenarnya. Sayangnya, permasalahan dalam pelaksanaan kekuasaan seringkali muncul dari sikap atau perIakuan yang dianggap berIebihan, atau tindakan Iain yang mencoreng nama baik dan kewibawaan lembaga kepolisian. Ini karena buruknya kualitas aparat penegak hukum tersebut.
26 Soerjono Soekanto, 2007, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada), 5
3. Faktor Sarana atau FasiIitas Pendukung Menurut Soerjono Soekanto, unsur atau fasilitas pendukung berupa software dan hardware yang penegak hukum tidak dapat berfungsi dengan baik kecuali diIengkapi dengan kendaraan dan sarana komunikasi yang memadai. OIeh karena itu, lembaga dan fasiIitas memainkan peran yang sangat penting daIam penegakan hukum. Tanpa nasihat dan perlengkapan tersebut, lembaga penegak hukum tidak akan mungkin menyelaraskan peraturan yang seharusnya sesuai dengan tugas mereka yang sebenarnya.
4. Faktor Masyarakat Penegak hukum berasal dari masyarakat dan berjuang untuk perdamaian di masyarakat. Setiap warga negara atau kelompok memiliki kesadaran hukum sedikit banyak. Masalahnya adalah bisnis hukum, yaitu. legalitas tinggi, sedang atau buruk.
Tingkat kepatuhan terhadap hukum merupakan indikasi efektivitas hukum yang bersangkutan.
5. Faktor Kebudayaan Kebudayaan pada hakekatnya terdiri dari niIai- niIai yang mendasari hukum-hukum yang berlIku, yaitu pengertian- pengertian abstrak tentang apa yang dianggap baik (yaitu dipatuhi) dan apa yang dianggap buruk (yaitu dihindari). Dengan demikian, kebudayaan lndonesia ialah landasan atau dasar hukum adat yang berIaku. Juga berIaku hukum tertuIis (legislasi) yang dibentuk oIeh kelompok sosial tertentu yang memiliki kekuasaan dan otoritas atas mereka.
Hukum perundang-undangan harus dapat mencerminkan niIai-niIai yang mendasari common law agar dapat menerapkan hukum secara aktif.
KeIima faktor di atas sangat kuat hubungannya sebab menjadi subyek utama kepolisian dan tolok ukur efektifitas kepolisian.
Dari kelima faktor kepolisian tersebut, faktor kepolisian sendiri menjadi poin kunci. Sebab peraturan dibuat oIeh lembaga penegak hukum yang mana bertanggung jawab atas penerapannya, dan polisi sendiri juga menjadi teladan bagi masyarakat umum. Pada unsur pertama, tergantung pada aturan hukum itu sendiri, yang menentukan berfungsinya hukum tertuIis itu benar atau tidak.
Teori efektivitas peradilan yang dipaparkan oIeh Soerjono Soekato ini berkaitan dengan teori yang dipaparkan oIeh RomIi Atmasasmita, bahwaanya indikator penghambat keefektifan penegakan hukum bukan sekedar berada di sisi mentaI aparat penegak hukum, baik itu hakim, jaksa, poIisi, ataupun petugas lainnya, tetapi juga faktor sosiaIisasi hukum yang kerap dilupakan.27
Menurut Soerjono Soekanto, ukuran efisiensi pada eIemen pertama adalah :
1. Peraturan saat ini di beberapa bidang kehidupan dibuat sistematis 2. Peraturan yang berlaku di beberapa bidang kehidupan cukup sinkron, secara hirarki dan horizontaI tak ada konflik
27 Romii Atmasasmita, Hlm 55.
3. Secara kuaIitatif dan kuantitatif, regulasinya cukup untuk menangani beberapa bidang kehidupan
4. Peraturan-peraturan tertentu yang sudah diterbitkan selaras dengan syarat yuridis yang ada. Faktor lain yang menentukan efektif atau tidaknya penegakan hukum tertulis adaIah aparat kepolisian. Dalam konteks ini, diharapkan memiliki perangkat yang andal dalam penggunaan sehingga perangkat tersebut dapat meIakukan tugasnya dengan baik.
Keandalan mencakup profesionalisme dan pikiran yang baik
Isu-isu yang mempengaruhi keefektifan hukum tertulis melalui tinjauan pejabat publik bergantung pada :
1. Sejauh mana para pejabat terikat dengan peraturan yang berlaku 2. Sejauh mana pejabat memiliki kewenangan diskresi.
3. Contoh apa yang harus diberikan pejabat kepada masyarakat.
4. sejauh mana sinkronisasi tugas yang diberikan kepada pejabat sehingga kewenangan mereka sangat terbatas.
Sedangkan unsur ketiga yakni ketersediaan fasilitas yang nampak wujudnya contoh sarana dan prasarana untuk petugas pelaksana yang melakukan tugasnya sebagaimana suatu peralatan untuk mewujudkan keefektivitasan hukum. Berkaitan dengan sarana prasarana yang disebut dengan istiIah fasiIitas ini, Soerjono Soekanto memperkirakan pedoman efektivitas komponen tertentu dari prasarana. Prasarana itu harus diperjelas bahwasanya betul-betul suatu bagian yang berkontibusi guna melancarkan tugas aparat dimana merek bekerja. Adapun komponennya yakni:
6. Infrasktruktur yang ada digunakan dengan baik atau belum.
7. Infrastruktur yang belum tersedia harus diadakan namun juga mempertimbangkan masa pengadaannya.
3. Melengkapi infrastruktur yang kurang.
4. Perbaikan atas infastruktur yang rusak.
5. Kemacetan infastruktur harus diperlancar kembali operasionalnya.
6.Infastruktur yang kegunaannya terjadi pengurangan mesti ditingkatkan kembali.
Ada beberapa eIemen pengukur efektivitas yang tergantung dari kondisi masyarakat, yakni :
1. Faktor penyebab masyarakat tidak patuh pada aturan meski aturan itu positif.
2. Faktor penyebab masyarakat tak patuh aturan meski aturannya baik dan petugasnya berwibawa.
3. Faktor penyebab masyarakat tak patuh aturan meski itu bersifat baik fasiIitas memadai dan aparat berwibawa.
Unsur-unsur itu memberikan pengertian bahwasanya kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat tergantung pada motivasi internaI. lnternalisasi faktor ini ada pada setiap individu yang merupakan unsur terkeciI dari masyarakat sosiaI. OIeh karenanya, dalam hubungan disipliner, pendekatan yang paIing tepat adalah semangat yang dimediasi secara individuaI.
DaIam haI ini tingkat tunduknya masyarakat jadi toIak ukur efektif atau tidaknya undang-undang tersebut, namun disisi Iain tunduknya masyarakat
bisa disebabkan oIeh bermacam sebab, baik kondisi internaI maupun eksternaI.
Kondisi internaI diciptakan oleh beberapa dorongan, yakni positif dan negatif. Motivasi positif bisa disebabkan oleh perasaan positif yang membuat orang meIakukan tindakan positif, dan keinginan negatif bisa disebabkan oleh rangsangan negatif seperti perlakuan yang tidak adil dll.
Insentif bersifat ekstrinsik karena ada tekanan eksternal yang memaksa warga negara untuk mematuhi hukum. Secara umum, kewajiban warga negara untuk patuh dan patuh terhadap hukum bersumber dari sanksi atau hukuman yang menimbuIkan rasa takut atau ketidaknyamanan sehingga mereka Iebih memiIih menaati hukum daripada meIakukan peIanggaran.
Motivasi ini biasanya bersifat sementara.
Kompleksitas perundang-undangan ditandai oleh tiga hal, yaitu penerapan filosofis, hukum, dan sosiologisnya. Penerapan hukum secara sosiologis, yang intinya adalah efektifitas hukum, penting bagi penelitian hukum di masyarakat. Pemeriksaan efisiensi hukum merupakan kegiatan yang menunjukkan strategi penyelesaian masalah secara umum, jadi perbandingan antara realitas hukum dan cita-cita hukum. Secara khusus terIihat jenjang antara hukum daIam tindakan (Iaw in action) dengan hukum yang ada di teori (Iaw in theory), atau dengan perkataan Iain aktivitas ini akan memperIihatkan hubungan diantara Iaw in book dan Iaw in action.28
28 Satjipto Rahardjo, 2000 Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti), Hlm. 11
Fakta hukum berkaitan dengan perbuatan dan apabila undang-undang dinyatakan berlaku berarti menemukan perbuatan hukum yaitu yang sesuai dengan cita-cita hukum, oleh karena itu apabila ditemukan perbuatan yang tidak sesuai dengan cita-cita hukum yaitu tidak sesuai dengan Sesuai dengan suatu rumusan dalam undang-undang atau putusan hakim (yurisprudensi) dapat diartikan bahwa ada keadaan dimana nalar ideal hukum tidak berlaku. Sekali lagi, perbuatan hukum dibentuk oleh motif dan gagasan, jadi tentunya jika suatu perbuatan tidak sah berarti ada faktor- faktor yang menghambat atau menghambat tercapainya perbuatan hukum yang benar.
Masyarakat dan ketertiban menjadi dua haI yang sangat kuat kaitannya satu sama lain, bahkan dapat dikatakan seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Ketertiban dalam masyarakat diciptakan oleh berbagai institusi seperti hukum dan tradisi. Karena daIam masyarakat juga terdapat berbagai jenis norma yang masing-masing berkontribusi terhadap tatanan tersebut. Kehidupan dalam masyarakat berjalan kurang lebih teratur dan terpelihara secara teratur oleh suatu tatanan untuk mencapai efisiensi dalam memecahkan suatu masalah daIam masyarakat.
Efektivitas ini tercermin dalam peraturan hukum, sehingga standar untuk menilai perilaku dan hubungan manusia didasarkan pada hukum.
Bekerjanya hukum sangat dipengaruhi oIeh kekuatan hukum atau faktor sosiaI dan personaI. Faktor sosiaI dan pribadi mempengaruhi tidak hanya orang sebagai subjek hukum yang diatur, tetapi juga Iembaga hukum.
Akhir dari kerja terorganisir daIam masyarakat tidak dapat dimonopoIi oIeh hukum saja. Perilaku masyarakat ditentukan tidak hanya oIeh hukum tetapi juga oIeh kekuatan hukum sosiaI dan pribadi Iainnya.
3. Teori Pemidanaan
Pembahasan teori pemidanaan sangat erat kaitannya dengan tujuan hukum pidana. Oleh karena itu, penulis akan terlebih dahulu memaparkan beberapa pendapat tentang tujuan hukum pidana kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang teori-teori pemidanaan.
Tugas hukum pidana adalah melindungi kepentingan hukum yang diklasifikasikan ke dalam perlindungan jiwa, badan, kehormatan, kemerdekaan, dan kekayaan.29
Wirjono Prodjodikoro menjelaskan tujuan hukum pidana yaitu untuk memenuhi rasa keadilan. Penjelasan mengenai tujuannya yaitu:
b. Menakut-nakuti orang agar tidak melakukan kejahatan, baik dengan cara menakut-nakuti orang banyak (general preventie), maupun menakut-nakuti orang tertentu yang telah melakukan kejahatan, agar di kemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (special preventie), atau c. Mendidik, atau memperbaiki orang-orang yang terindikasi suka melakukan kejahatan, agar menjadi orang yang berakhlak baik, sehingga bermanfaat bagi masyarakat30.
29 Zamhri Abidin, Pengertian Dan Asas Hukum Pidana Dalam Bagan Indonesia, Ghalia Indonesia Jakarta, 1986, Hlm. 4.
30 Wirjono Prodjodikoro, Asas Asas Hukum Pidana, Eresco, Bandung, 1981, Hlm.16
Bassiouni berpendapat bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh hukum pidana pada umumnya diwujudkan dalam kepentingan- kepentingan sosial yang harus dilindungi, seperti:
1. Memelihara ketertiban dalam masyarakat;
2. Perlindungan anggota masyarakat dari kejahatan, kerugian atau kerugian yang tidak dapat dibenarkan yang dilakukan oleh orang lain;
3. Resosialisasi (resosialisasi) pelanggar hukum;
4. Memelihara atau menjaga keutuhan pandangan dasar tertentu mengenai keadilan sosial, martabat manusia, dan keadilan individu31 Merujuk pada pendapat kedua ahli di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan hukum pidana secara umum adalah untuk memelihara ketertiban dan keamanan masyarakat dan secara khusus untuk melindungi kepentingan individu dari berbagai jenis perbuatan jahat serta memberikan efek jera bagi para pelanggar hukum. sehingga mereka tidak mengulangi kejahatan.
Hukuman memiliki beberapa tujuan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan teori-teori tentang pemidanaan. Teori tentang tujuan pemidanaan yang berkisar pada perbedaan esensi ide dasar pemidanaan dapat dilihat dari beberapa pandangan berikut ini.
Herbert L. Packer menyatakan bahwa ada dua teori tujuan pemidanaan yang berbeda satu sama lain, yaitu teori retributif dan teori
31 Bassiouni Dalam Muladi Dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung, 1984, Hlm. 43
utilitarian. Teori retributif mengandaikan pemidanaan sebagai imbalan negatif atas perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anggota masyarakat sehingga pandangan ini memandang pemidanaan hanya sebagai pembalasan atas kesalahan yang dilakukan atas dasar tanggung jawab moral masing-masing. Pandangan ini dikatakan melihat ke belakang. Sementara itu, teori utilitarian melihat hukuman dari sudut manfaat atau kegunaannya, dimana yang dilihat adalah situasi atau kondisi yang ingin dihasilkan oleh hukuman tersebut. Di satu sisi, pemidanaan dimaksudkan untuk memperbaiki sikap atau perilaku terpidana dan di sisi lain pemidanaan juga dimaksudkan untuk mencegah orang lain agar tidak melakukan perbuatan serupa. Pandangan ini dikatakan berwawasan ke depan dan memiliki sifat pencegahan.32
Muladi berpendapat bahwa teori tujuan pemidanaan dapat dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut :33
a. Teori absolut (retributif) memandang bahwa pemidanaan adalah pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan sehingga berorientasi pada tindakan dan terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri. Teori ini mengemukakan bahwa sanksi dalam hukum pidana dijatuhkan semata-mata karena seseorang telah melakukan kejahatan yang merupakan konsekuensi mutlak yang harus ada sebagai pembalasan
32 Herbert L. Packer,. The Limits Of The Criminal Sanction, Stanford University Press, California, 1968, Hlm 9-10.
33 Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, Penerbit Alumni, Bandung, 2002, Hlm. 49-51.
bagi pelaku kejahatan sehingga sanksi tersebut bertujuan untuk memenuhi tuntutan keadilan.
b. Teori teleologis (tujuan) memandang bahwa pemidanaan bukanlah suatu bentuk pembalasan atas kesalahan pelakunya, melainkan sarana pencapaian tujuan yang berguna untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan sosial. Sanksi ditekankan pada tujuannya, yaitu mencegah orang melakukan kejahatan, sehingga tidak ditujukan untuk kepuasan keadilan secara mutlak.
c. Teori retributif-teleologis (teori integratif) memandang bahwa tujuan hukuman itu jamak. Itu karena teori ini menggabungkan prinsip teleologis (tujuan) dan retributif sebagai satu kesatuan. Teori ini memiliki pola ganda, dimana hukuman bersifat retributif karena hukuman dipandang sebagai kritik moral dalam menanggapi perbuatan yang salah. Sedangkan sifat teleologis terletak pada pemikiran bahwa sasaran kritik moral adalah reformasi atau perubahan perilaku terpidana di masa depan. Pandangan teoretis ini menunjukkan kemungkinan artikulasi teori pemidanaan yang mengintegrasikan beberapa fungsi serta retribusi utilitarian, di mana pencegahan dan rehabilitasi semuanya dilihat sebagai target yang ingin dicapai oleh rencana pemidanaan. Karena tujuannya integratif, maka tujuan pemidanaan adalah pencegahan umum dan khusus, perlindungan masyarakat, memelihara solidaritas masyarakat, dan kompensasi/penggantian.
Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arif, penegakan hukum pidana harus melalui beberapa tahapan yang dipandang sebagai upaya atau proses rasional yang sengaja direncanakan untuk mencapai suatu hal tertentu yang merupakan rangkaian kegiatan yang tidak mencantumkan asal-usul nilai dan menjurus pada kejahatan. dan hukuman, ada beberapa tahapan yaitu:34
a. Tahap Formulasi
Tahap penegakan hukum pidana secara abstrak oleh pembentuk undang-undang yang melakukan kegiatan memilih yang sesuai dengan keadaan dan situasi sekarang dan yang akan datang, kemudian merumuskannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang terbaik dalam arti memenuhi tuntutan keadilan dan efisiensi. Tahap ini disebut tahap kebijakan legislatif.
b. Tahapan Aplikasi
Tahap penegakan hukum pidana (tahap penerapan hukum pidana) oleh aparat penegak hukum, mulai dari kepolisian hingga pengadilan.
Dengan demikian aparat penegak hukum bertugas menegakkan dan melaksanakan peraturan perundang-undangan pidana yang dibuat oleh pembuat undang-undang, dalam melaksanakan tugas tersebut aparat penegak hukum harus berpegang pada nilai-nilai keadilan dan efisiensi.
Tahap ini disebut sebagai tahap peradilan atau yudikatif.
c. Tahap Eksekusi
34 Roeslan Saleh, Hukum Pidana Sebagai Konfrontasi Manusia Dan Manusia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2012 , Hlm. 15
Tahap penegakan hukum serta penegakan hukum secara konkrit oleh aparat pelaksana pidana. Pada tahap ini aparatur pelaksana pidana bertugas menegakkan peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang melalui penerapan pidana yang telah dilaksanakan dalam putusan pengadilan. Dengan demikian proses pelaksanaan pidana yang telah ditetapkan di pengadilan, aparat pelaksana tindak pidana dalam menjalankan tugasnya harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan pidana yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang dan undang-undang tentang efisiensi.
E. Konsep Operasional
Konsep Operasional berisikan batasan-batasan tentang terminology yang terdapat dalam judul dan ruang lingkup penelitian Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis”. Dalam hal ini untuk menghindari salah pengertiam terhadap istilah yang digunakan pada judul penelitian, maka penulis memberikan batasan berikut:
1. Penegakan hukum merupakan proses untuk mewujudkan keinginan hukum, yaitu pikiran tubuh pembuat undang-undang yang dirumuskan dan ditetapkan dalam hukum yang kemudian menjadi kenyataan.35. 2. Tindak Pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana. Tindak
pidana merupakan pengertian yuridis, berbeda dengan istilah perbuatan
35 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif, Buku Kompas, Jakarta, 2010, Hlm. 2
jahat atau kejahatan. Dari sudut pandang yuridis formal, kejahatan adalah suatu bentuk perbuatan yang melanggar hukum pidana. Oleh karena itu, setiap perbuatan yang dilarang oleh undang-undang harus dihindari dan siapa saja yang melanggarnya akan dikenakan hukuman. Jadi larangan dan kewajiban tertentu yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara harus dituangkan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.36
3. Perusakan hutan adalah proses, cara, atau perbuatan merusak hutan melalui kegiatan pembalakan liar, penggunaan kawasan hutan tanpa izin atau penggunaan izin yang bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin di dalam kawasan hutan yang telah ditetapkan, yang telah ditunjuk, ataupun yang sedang diproses penetapannya oleh Pemerintah.
4. Ekosistem gambut adalah tatanan unsur Gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya.
5. Kecamatan Pinggir adalah sebuah Kecamatan yang berada di daratan Pulau Sumatra, yang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bengkalis, provinsi Riau, Indonesia.Ibukota kecamatan ini berada di desa Pinggir, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kecamatan Kandis di Kabupaten Siak, Riau.
6. Kabupaten Bengkalis adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia. Ibu kotanya berada di Bengkalis Kota. Wilayah dari
36 P.A.F. Lamintang Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. PT. Citra Adityta Bakti. Bandung.
1996. Hlm. 7.
kabupaten ini mencakup daratan bagian Timur Pulau Sumatra dan wilayah kepulauan
F. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, supaya didapat hasil penelitian yang baik dan berkualitas sesuai dengan standar keilmiahan, metode yang digunakan oleh penulis disusun secara sistematis sebagai berikut:
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Dilihat dari jenisnya, penelitian ini tergolong penelitian yuridis empiris (penelitian hukum sosiologi), memadukan antara realita hukum dan realita dilapangan yang dilakukan dengan cara survei dan wawancara, yaitu penelitian langsung ke lokasi penelitian dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa wawancara. Sedangkan jika dilihat dari sifatnya, penulisan ini bersifat deskriptif analitis, artinya penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara rinci, jelas dan sistematis terhadap masalah pokok penelitian.
Soerjono Soekanto dan Sri Pamuji menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud memberikan data seakurat mungkin tentang manusia, kondisi atau fenomena lain, dengan tujuan untuk mengkonfirmasi hipotesis dan juga memperkuat teori serta mengembangkan teori baru.37 2. Objek Penelitian
Objek Penelitian ini adalah Tindak Pidana Perusakan Hutan Di Sektor Ekosistem Gambut Di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis.
37 Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif ( Suatu Tinjauan Singkat ).
Jakarta, Rajawali Press, Jakarta, 2010, Hlm. 10
3. Lokasi Penelitian
Dalam rangka memperolah data Relevan dengan kebutuhan penulisan Tesis ini, penulis akan melakukan penelitian diwilayah Hukum Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis dengan alasan bahwa penegakan hukum terhadap tindak pidana perusakan ekosistem gambut belum maksimal dilakukan oleh penegak hukum
4. Populasi & Responden a. Populasi
Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari objek yang akan diteliti yang mempunyai karakteristik yang sama, yang berkaitan dengan masalah yang diteliti dalam penelitian ini, adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini antara lain:
1) 1 (satu) orang Koordinator Kelompok Kerja Perlindungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau;
2) 2 (dua) orang yaitu Kasat Reskrim Kepolisian Resort Bengkalis dan Penyidik Polres Bengkalis;
3) 2 (dua) orang Kepala Desa di Kecamatan Pinggir Mewakili Masyarakat di Kecematan Pinggir, Bengkalis yaitu Kepala Desa Buluh Apo dan Sekretaris Desa Tasik Serai Barat;
b. Responden
Adalah orang yang dipanggil untuk menanggapi komunikasi yang dilakukan oleh peneliti melalui jenis angket yang disebarkan dengan jawaban yang mewakili diri sendiri sebagai individu, rumah tangga, atau
organisasi yang menjadi bagiannya. Adapun Populasi dan Responden dalam penelitian ini adalah :
Tabel 1.1
Populasi dan Responden
No Narasumber Populas
i
Responden Persentase Keterangan
1 Koordinator Kelompok Kerja Perlindungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau
1 1 100% Sensus
2 Kepolisian Resort
Bengkalis
2 2 100% Sensus
3 Kepala Desa Kecamatan Pinggir
13 2 26% Purposive
Sampling
Jumlah 16 5
Sumber data : Data Olahan Tahun 2023-2024 5. Sumber Data
Sumber data adalah tempat dari mana data tersebut diperoleh. Adapun sumber data yang akan dipergunakan dalam penulisan tesis ini terbagi atas dua yaitu data primer dan data sekunder. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer