• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT STRES PADA PERAWAT DALAM PELAYANAN GAWAT DARURAT

N/A
N/A
AGHNIYA ZHAFIRA

Academic year: 2023

Membagikan "TINGKAT STRES PADA PERAWAT DALAM PELAYANAN GAWAT DARURAT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT STRES PADA PERAWAT DALAM PELAYANAN GAWAT DARURAT

Sandrina Fitriani1, Dita Adistia Putri2, Fitri Nurhayati3, Aghniya Zhafira4, Elissa Noorwillah5, Kento Firmanto6 Universitas Pendidikan Indonesia

Email: 1[email protected]

2[email protected]

3[email protected]

4[email protected]

5[email protected]

6[email protected]

ABSTRAK

Latar belakang Tinggi rendahnya kinerja perawat akan terlihat dalam hasil interaksi dengan lingkungannya, yang merupakan respon penyesuaian yang dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan individu atau proses- proses psikologis yang diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal, tindakan, situasi ataupun kesempatan-kesempatan yang menempatkan tuntutan psikologis atau fisik pada individu secara berlebihan Tujuan penelitian Tujuan dari pembuatan artikel ini adalah untuk menganalisis, menjabarkan, serta menguraikan secara empiris artikel-artikel mengenai tingkat stress perawat pada pelayanan gawat darurat. Metode penelitian Penelitian ini kami menggunakan metode library research atau studi kepustakaan. Pengumpulan data atau sumber literature pada penelitian ini melalui Google Scholar dengan menggunakan kata kunci ‘gawat darurat, stres’. Dari kata kunci tersebut terdapat 16.900 artikel, lalu didapatkan 10 literatur. Kemudian analisis data dilakukan untuk mencari data yang sesuai dengan kriteria. Setelah dilakukan analisis, literatur yang sesuai dengan topik

‘Pelayanan Gawat Darurat’ dari jurnal-jurnal dengan kredibilitas jurnal yang terakreditasi 1-5, dan dalam rentang waktu terbit antara tahun 2018-2023, didapatkan 5 artikel atau literatur yang sesuai dengan kriteria. Hasil penelitian Perawat sebagai tenaga profesional di rumah sakit sangat rentan mengalami stres kerja yang menyebabkan gangguan fisiologis, psikologis serta perilaku yang mana stres itu sendiri merupakan bentuk ketegangan dari fisik, psikis, maupun mental. Kesimpulan Stres kerja yang dialami oleh perawat dalam unit ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk beban kerja yang berlebihan, dilema moral, dan situasi sulit seperti menyaksikan kematian pasien.

Manajemen stres yang baik perlu diterapkan untuk menjaga kepuasan dan prestasi kerja perawat di tengah tantangan kerja yang kompleks.

Kata Kunci : Gawat Darurat, Stres

ABSTRACT

Background: The high and low performance of nurses will be seen in the results of interactions with their environment, which is an adjustment response that is related to individual differences or psychological processes caused by external factors, actions, situations or opportunities that place psychological demands. or physical to an individual excessively. Research objectives: The purpose of this article is to analyze, describe and empirically describe articles regarding the stress levels of nurses in emergency services. Research method: In this research, we used the library research method or literature study. Data collection or literature sources for this research were via Google Scholar using the keywords 'emergency, stress'. From these keywords there were 16,900 articles, then 10 pieces of literature were obtained. Then data analysis is carried out to find data that matches the criteria. After analyzing the literature that was in accordance with the topic 'Emergency Services' from journals with accredited journal credibility of 1-5, and within the publication period between 2018-2023, 5 articles or literature were obtained that met the criteria. Research results:

Nurses as professionals in hospitals are very vulnerable to experiencing work stress which causes physiological, psychological and behavioral disorders where stress itself is a form of physical, psychological and mental tension. Conclusion: Work stress experienced by nurses in this unit can

(2)

come from various sources, including excessive workload, moral dilemmas, and difficult situations such as witnessing the death of a patient. Good stress management needs to be implemented to maintain nurses' job satisfaction and performance amidst complex work challenges.

Keywords: Emergency, Stress

LATAR BELAKANG

Pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang diberikan kepada paien sesuai standar pelayanan medis yang telah ditentukan dan biasanya pada pelayanan tersebut digunakan sumber daya serta fasilitas yang optimal. Masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan/ataupun masyarakat.

Permasalahan pada kode etik pelayanan di gawat darurat dilihat dari kinerja pelayanan perawat dalam melayani pasien. Tinggi rendahnya kinerja perawat akan terlihat dalam hasil interaksi dengan lingkungannya, yang merupakan respon penyesuaian yang dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan individu atau proses- proses psikologis yang diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal, tindakan, situasi ataupun kesempatan-kesempatan yang menempatkan tuntutan psikologis atau fisik pada individu secara berlebihan (Wilde, 2009).

Setiap perawat akan memaknakan tuntutan dari lingkungan kerja secara berbeda-beda, karena setiap perawat memiliki pengalaman, harapan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini mengkaji informasi dan penelitian sebelumnya sebagai bahan perbandingan dengan melihat kekurangan,kelebihan yang ada di penelitian tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa sebanyak 10 orang perawat (52,63%) mempersepsikan tuntutan dari lingkungan kerja ini sebagai hal yang negatif atau memberatkannya, hal ini berarti tuntutan dari lingkungan kerja tersebut tidak sesuai dengan pengalaman, harapan, dan kebutuhan perawat, dan jika kondisi ini terus menerus dihadapi oleh perawat maka akan menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan akan dihayati sebagai suatu tekanan bagi perawat, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kondisi fisik maupun psikis para perawat (Sitorus,2011).

Selain itu, ada juga yang menjadi permasalahan pada pelayanan keperawatan di gawat darurat yaitu dilihat dari faktor kinerja kerja. Perawat gawat darurat tidak hanya memberikan asuhan kepada pasien, tetapi perawat juga memperhatikan keluarga pasien terkait kecemasan pada saat menunggu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kecemasan yang dialami oleh keluarga perlu segera diatasi karena hal ini akan berdampak pada kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan (Jeannings, 2008). Selain itu , ada permasalahan yang harus diperhatikan dalam memberi pelayanan kesehatan kepada pasien, perawat juga harus memperhatikan kinerja kerja dan kondisi yang dimilikinya, sekarang banyak perawat yang memiliki resiko stress. Stres adalah perubahan reaksi tubuh ketika menghadapi ancaman, tekanan, atau situasi yang baru. Ketika menghadapi stres, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kondisi ini membuat detak jantung dan tekanan darah akan meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, serta otot menjadi tegang. Bukan hanya perawat

(3)

sektor kesehatan lain juga banyak mengalami stress dalam pekerjaannya yang menyebabkan pekerja lebih rentan terhadap stress (Taylor,2006). Stress kerja yang dialami oleh para perawat diprediksi akan cenderung meningkat di tahun yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah tren yang tidak dapat diabaikan karna sangat erat kaitannya dengan keselamatan para perawat dan pasien (Berland, Natvig, & Guendersen, 2008 ; Dugan et al, 1996; Kilien, 2004; shields & wilkins,2006 dalam zeller & levin, 2013). Konflik perawat dengan stress yang tinggi mencapai 50% di indonesia yang disebabkan karna faktor kondisi kerja, konflik peran, kondisi kerja, beban kerja, tuntutan mental dan lingkungan fisik. Adapun tujuan dalam penyelenggaraan pelayanan kegawat daruratan untuk menangani kondisi akut atau menyelamatkan nyawa dan/atau kecacatan pasien. Menerima pasien rujukan yang memerlukan penanganan lanjutan/definitif dari fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Maka dari itu tujuan dari pembuatan artikel ini adalah untuk menganalisis, menjabarkan, serta menguraikan secara empiris artikel-artikel mengenai tingkat stress perawat pada pelayanan gawat darurat.

METODE PENELITIAN Literatur Review

Dalam penelitian ini kami menggunakan metode library research atau studi kepustakaan. Pengumpulan data atau sumber literature pada penelitian ini melalui Google Scholar dengan menggunakan kata kunci ‘gawat darurat, stres’. Dari kata kunci tersebut terdapat 16900 artikel, lalu didapatkan 10 literatur. Kemudian analisis data dilakukan untuk mencari data yang sesuai dengan kriteria. Setelah dilakukan analisis, literatur yang sesuai dengan topik 'landasan ideal pendidikan' dari jurnal-jurnal dengan kredibilitas jurnal yang terakreditasi 1-5, dan dalam rentang waktu terbit antara tahun 2018-2023, didapatkan 5 artikel atau literatur yang sesuai dengan kriteria. Kemudian data atau informasi yang diperoleh dikumpulkan, dianalisis, dan disimpulkan pada tabel ini,

No Penulis Judul

Jurnal

Subjek Penelitian

Metode Penelitian

Hasil Penelitian 1. Puput Risti

Kusumaningrum, Esri Rusminingsih, Roby Noor Jayadi

Hubungan Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat

Seluruh perawat di ruang IGD RSUP dr.

Soeradji Tirtonegor o Klaten yang berjumlah 26 orang perawat.

Kuantitatif Korelasional

Terdapat hubungan antara jumlah pekerjaan yang harus dilakukan oleh perawat unit gawat darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan derajat stres kerja yang mereka alami. Menurut penelitian, poliklinik 24 jam diperlukan untuk mengurangi jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh perawat gawat darurat dan

mencegah perawat menjadi lebih stres di tempat kerja. Untuk mengurangi stres, peneliti mengantisipasi bahwa rumah sakit akan

(4)

menggilir atau

memindahkan ruang kerja perawat di atas 40 tahun berdasarkan beban kerja dan produktivitas.

Sedangkan perawat yang telah bekerja di IGD lebih dari sepuluh tahun memerlukan lingkungan kerja baru dan ruangan yang segar. Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol.

2. Nonik Eka Martyastuti, Isrofah, Khalilatun Janah

Hubungan Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Perawat Ruang Intensive Care Unit dan Instalasi Gawat Darurat.

Perawat di ruang IGD dan ruang ICU sevanyak 45 responden

Kuantitatif asosiatif analitik.

Jumlah tugas yang diberikan kepada perawat tidak proporsional dibandingkan dengan jumlah rata-rata pasien, banyaknya tugas manajemen yang harus diselesaikan dalam waktu yang ditentukan,

beragamnya pekerjaan yang diperlukan demi keselamatan pasien, dan perasaan terbebani oleh tuntutan layanan

kesehatan. Itulah beberapa faktor yang berkontribusi terhadap beban kerja perawat yang berat.

keunggulan. Stres akan meningkat jika

permasalahan seperti ini tidak ditangani dengan baik. Beban kerja perawat di ICU dan IGD RSU Siaga Medika Pemalang dapat menyebabkan peningkatan tingkat stres.

Karena setiap orang mempunyai keterbatasan dalam pengetahuan, bakat, dan kemampuan fisiknya, maka pekerjaan yang tinggi dapat menimbulkan stres. Jika pekerjaannya sangat menuntut, hal ini juga dapat menyebabkan

(5)

ketegangan fisik.

3. Tatan Hadiansyah, Andria

Pragholapati, Dhito Pemi Aprianto.

Gambaran Stres kerja Perawat Yang Bekerja di Unit Gawat Darurat

Semua perawat yang bekerja di ruang unit gawat darurat (UGD)

Penelitian Deskriptif

Kajian terhadap stres kerja yang dialami perawat di Unit Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Al Islam (RSAI) Bandung didapatkan hasil bahwa dari 36 perawat yang bekerja di IGD RSUD Sumedang menunjukkan bahwa lebih dari separuh (61%) responden berada pada tingkat stres kerja yang tinggi. tingkat stres kerja sedang, dan 19 perawat menunjukkan lebih dari separuh responden (52,63%) berada pada tingkat stres tinggi. Kisaran tingkat stres kerja yang dialami IGD RSUD Sumedang dan RS Al Islam Bandung berkisar dari rendah hingga berat. Faktanya, hal ini dapat meningkatkan produktivitas dan kebahagiaan kerja;

Namun, jika stres kerja tidak dikelola dengan baik, stres tersebut akan

meningkat atau menurun.

Tingkat stres di tempat kerja terlalu rendah 4. Dian ika

Puspitasari, Emdat Suprayitno, Bustami

Tingkat Stres Kerja Perawat Instalasi Gawat Darurat pada Masa Pandemi Covid-19

Seluruh perawat yang bekerja di salahsatu instalasi gawat darurat rumah sakit.

Deskriptif Kuantitatif

Berdasarkan temuan penelitian, 8 orang (36%), atau hampir separuhnya, mengalami tingkat stres yang sangat tinggi, sedangkan 0% mengalami tingkat stres yang normal.

Diharapkan seluruh perawat, khususnya yang bekerja di unit gawat darurat, selalu mengikuti standar kesehatan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Upaya tersebut antara lain memakai

(6)

masker, mencuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah beraksi, serta menjaga jarak minimal satu meter dengan pasien.

5. Ade Herawati, Setyowati, Tuti Afriani, Aat Yatnikasari, Sarvita Dewi.

Analisa Faktor Penyebab dan Manajemen stres bagi perawat unit gawat darurat

30 orang

perawat Study

Analysis Faktor penyebab stres yang di dapat dari hasil pengkajian terdata beban kerja, tuntutan dari pasien serta dari pihak manajemen sangat dominan serta paktor lingkungan dan rasa takut serta cemas terpapar dengan penyakit yang saat ini sedang pandemi di lihat dari dampak nya

yang sangat luar biasa baik bagi personil maupn perusahaan maka di harapkan study analisis ini dengan menggunakan panduan dapat meminimalkan atau melihat potensi resiko terjadinya stres serta dampak akibat stres tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

World Health Organization(WHO) dalam model kesehatan yang dibuat sampai tahun 2020 meramalkan bahwa gangguan psikis berupa depresi akan menjadi pembunuh nomor 2 setelah penyakit jantung. Paling tidak WHO meramalkan stres ataupun depresi akan menjadi sepuluh jenis penyakit yang menyebabkan kematian atau menurun drastisnya kualitas kesehatan masyarakat (Wahyuni, 2009). Unit Gawat Darurat merupakan suatu unit penting di dalam rumah sakit dimana UGD merupakan pintu masuk bagi semua pasien dengan berbagai kasus dan sebagai ujung tombak didalam pelayanan keperawatan di rumah sakit. Unit gawat darurat membutuhkan SDM yang cekatatan, terampil dan cepat di dalam mengambil keputusan untuk meminimalkan angka kematian dan kecacatan pada pasien. Perawat sebagai tenaga profesional di rumah sakit sangat rentan mengalami stres kerja yang menyebabkan gangguan fisiologis, psikologis serta perilaku yang mana stres itu sendiri merupakan bentuk ketegangan dari fisik, psikis, maupun mental. Bentuk ketegangan ini akan mempengaruhi keseharian seseorang (Hermien, 2018). Stres kerja perawat dapat terjadi apabila perawat dalam bertugas mendapatkan beban kerja yang melebihi kemampuannya sehingga perawat tersebut tidak mampu memenuhi atau menyelesaikan tugasnya, maka perawat tersebut dikatakan mengalami stres kerja.

Berbagai situasi dan interaksi dapat menjadi sumber potensial munculnya stres karena setiap aspek dapat dirasakan sebagai stres oleh pekerja. Menurut Dargahi & Shahan perawat

(7)

memiliki sumber utama stres yaitu menyaksikan kematian pasien, pasien dalam keadaan sekarat, konflik dengan rekan kerja, kurangnya dukungan pengawas dan kelebihan beban kerja (Dargahi, N., 2012). Perawat mengalami dilema dan tugas yang sulit, dimana perawat bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan dan pengelolaan pada pasien dalam usaha peningkatan pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas, oleh karena itu perawat memiliki kecenderungan untuk mengalami stres dalam menghadapi kebutuhan pasien yang harus tepat waktu dan efektif (Potter, 2015). Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabakan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres, hal ini bisa disebabkan oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja terlalu tinggi, volume kerja terlalu banyak dan sebagainya (Sunyoto, 2013).

Malara. R.T, et All, (2016) menyebutkan bahwa rasio jumlah perawat perempuan lebih banyak dibanding laki-laki karena jumlah perawat secara umum memang lebih banyak perempuan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang di ungkapkan Dauglas (1994) dalam Septiyan, A. (2015) dunia keperawatan sangat didominasi olehperempuan. Hal ini juga yang menyebabkan berpontensi untuk terjadi stress kerja. Beberapa faktor yang menyebabkan perawat dengan beban kerja yang berat kemudian mengalami stres antara lain kurangnya jumlah perawat sehingga menyebabkan tingginya pelimpahan tugas pekerjaan yang tidak seimbang, ditambah kurangnya perawat yang mempunyai kompetensi khususnya perawat Ruang ICU yang hanya memiliki beberapa perawat yang bersertifikat pelatihan ICU sehingga mereka merasa tidak mampu dalam menangani pasien pasien kritis yang ada di ruang ICU, hal inidirasakan oleh perawat IGD yang kebanyakan adalah perawat baru yang belum berpengalaman sehingga saat menerima pasien di IGD yang dalam kondisi kritis dan gawat darurat merasa kebingungan, dan merasa tidak mampu dengan pelimpahan tugas yang dibebankan pada perawat.Oleh karena itu diperlukan adanya manajemen sumberdaya manusia di rumah sakit untuk mencegah timbulnya stres bagi perawat, berupa dukungan dari pihak-pihak terkait di rumah sakit (Yanto & Rejeki, 2017).

Pada tahun 2012 pernah dilakukan penelitian di India yang mendapatkan hasil bahwa responden dengan jenis kelamin laki– laki sebanyak 57, 2% mengalami stress, sedangkan pada responden perempuan hanya 25, 2% yang mengalami stress (K. Madvhi et.al., 2013).

Hal ini disebabkan oleh individu dengan jenis kelamin laki – laki mengalami kecenderungan lebih mudah mengalami stress psikologis dari pada perempuan. Hal ini disebabkan oleh adanya patomekanisme hormone testosterone yang dapat dikonversi dan dapat menghasilkan zat kimia yang dinamakan dengan kortisol yang akan mempengaruhi lobus frontal pada otak manusia yang akan menyebabkan stress (K. Madvhi et.al., 2013). Stres adalah respon nonspesifik generalisata tubuh terhadap setiap faktor yang mengalahkan, atau mengancam untuk mengalahkan kemampuan kompensasi tubuh untuk mempertahankan homeostatis (Sherwood, 2012). Stres adalah sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar terhadap bahaya ancaman. Stres memiliki 2 komponen yaitu perubahan fisiologis dan perubahan psikologis, bagaimana seseorang merasakan keadaan dalam hidupnya perubahan keadaan fisik dan psikologis ini disebut stressor (pengalaman yang mengiduksi respon stres) (Pinel, 2010).Stressor yang dialami oleh perawat tidak hanya di akibatkan oleh beberapa faktor diatas. Hal lain yang menyebabkan adanya peningkatan tingkat stress hingga pada fase sangat berat adalah karena adanya pandemic COVID19 yang akan meningkatkan pula tingkat kesakitan dan penularan yang terjadi dengan ancaman yang lebih dari sebelumnya. Pandemic covid19 menuntut adanya pekerja untuk lebih berhati – hati dalam menjalankan tugasnya, seperti menggunakan APD yang membuat perawat merasa berat dan mempunyai beban yang bertambah. Ancaman COVID19 dengan sebaran yang mengganggu fisik maupun mental

(8)

perawat IGD, karena pada dasarnya IGD juga dapat disebut dengan pintu masuk bagi pasien yang tidak di ketahui Riwayat penyakit yang di derita oleh pasien, sehingga tingkat penularan penyakit akan semakin meningkat.

Perawat yang bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD) itu mengalami stres yang bisa menurunkan kepuasan dan prestasi kerja dengan, karena dari penelitian pada perawat yang bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Al Islam (RSAI) Bandung, didapatkan simpulan 19 perawat menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden (52,63%) berada pada tingkat stres tinggi dan 36 perawat yang bekerja di UGD RSUD Sumedang, menunjukan lebih dari setengah (61%) responden berada pada tingkat stres kerja sedang. UGD RSUD Sumedang dan UGD RS Al Islam Bandung berada pada rentang stres kerja rendah hingga tinggi, hal ini memang dapat meningkatkan kepuasan kerja dan prestasi kerja, namun ketika stres kerja tidak mendapat manajemen yang baik akan membuat stres kerja ke tingkat rendah atau lebih tinggi. Tingkat stres kerja yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan menurunnya kepuasan dan prestasi kerja. Sehingga diperlukan manajemen stres yang baik dalam menghadapi tantangan kerja yang ada di UGD RSUD Sumedang dan UGD RS Al Islam Bandung.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh perawat, khususnya di Unit Gawat Darurat (UGD), serta dampaknya terhadap kesejahteraan dan kinerja mereka. Proyeksi WHO tentang depresi sebagai penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung menekankan pentingnya memahami aspek kesehatan mental dalam konteks kesehatan masyarakat. UGD sebagai pintu masuk utama di rumah sakit menempatkan perawat di garis depan pelayanan kesehatan mendesak. Stres kerja yang dialami oleh perawat dalam unit ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk beban kerja yang berlebihan, dilema moral, dan situasi sulit seperti menyaksikan kematian pasien. Faktor-faktor seperti kurangnya dukungan, konflik dengan rekan kerja, dan kelebihan beban kerja menjadi penyebab utama stres kerja perawat.

Perawat juga dihadapkan pada tugas yang sulit, seperti pemantauan dan pengelolaan pasien untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Aspek gender dalam profesi perawat juga memainkan peran, dengan dominasi perawat perempuan yang berpotensi meningkatkan stres kerja.

Kurangnya jumlah perawat dan kekurangan kompetensi, terutama di Unit Gawat Darurat, memberikan kontribusi terhadap tingkat stres yang tinggi. Manajemen sumber daya manusia di rumah sakit menjadi krusial untuk mencegah stres perawat. Pandemi COVID-19 juga memperburuk situasi dengan menambah beban fisik dan mental, terutama dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan risiko penularan yang tinggi. Manajemen stres yang baik perlu diterapkan untuk menjaga kepuasan dan prestasi kerja perawat di tengah tantangan kerja yang kompleks, baik sebelum maupun selama pandemi COVID-19.

Saran

Untuk mengatasi tingkat stress pada pelayanan gawat darurat, sangat disarankan untuk mengimplementasikan pelatihan manajemen stres berkala, meningkatkan dukungan

(9)

psikologis, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung. Selain itu, rotasi tugas yang seimbang dan fasilitas istirahat yang nyaman dapat menjadi kunci untuk menjaga kesejahteraan petugas. Penguatan komunikasi tim, pengakuan publik, dan kebijakan fleksibilitas jadwal juga dapat membantu menciptakan kondisi kerja yang lebih positif.

Semua langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan emosional pada petugas gawat darurat dan meningkatkan kualitas pelayanan gawat darurat di Rumah Sakit yang diberikan terhadap pasien.

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Artikel ini.

Pada kesempat ini penulis mengucapkan puji syukur kepada AllahSWT dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan artikel ini.

Tidak lupa terimakasih kepada rekan-rekan di Universitas Pendidikan Indonesia yang telah memberikan banyak motivasi, dukungan dan pengalaman berharga kepada penulis tentang artikel ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sitorus & panjaitan, 2011 . Manajemen keperawatan di ruang rawat, ed. 1 . Jakarta : CV Sagung Seto.

Wilde. E. T, 2009. Do Emergency medical System Responce Times Maner for health Out times Colombia University ; New York.

Jennings. M. B. 2008. Work stress and Burnout Among Nurses. Role Of the Work

Environment and Working Condiction In R. G. Hughes, Patient Safety and Quality : An Envidence - Based handbook for Nurses (p. Ch 26 ) Rockville AHQR.

Taylor. 2006, Healt Psychology Los Angeles : me Graw Hill.

Berland, Natvig, & Guendersen, 2008 ; Dugan et al, 1996; Kilien, 2004; shields &

wilkins,2006 dalam zeller & levin, 2013. Stress kerja yang dialami perawat

diprediksi tidak dapat diabaikan karna sangat erat kaitannya dengan keselamatan para perawat dan pasien.

Wahyuni, 2009. Ramalan stres ataupun depresi menjadi penyakit yang menyebabkan kematian atau menurun drastisnya kualitas kesehatan masyarakat.

Hermien, 2018. Bentuk ketegangan dapat mempengaruhi keseharian seseorang.

Dargahi,N., 2012. Shahan,. Sumber stress bagi perawat.

Potter, 2015. Perawat mengalami dilema dan tugas yang sulit.

Sunyoto, 2013 Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabakan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres.

(10)

Malara. R.T, et All,. 2016. Rasio jumlah perawat.

Dauglas 1994, Septiyan, A. (2015). Dunia keperawatan sangat didominasi oleh perempuan.

Yanto & Rejeki, 2017. Manajemen sumberdaya manusia di rumah sakit untuk mencegah timbulnya stres bagi perawat.

K. Madvhi et.al., 2013. Hasil bahwa responden.

Sherwood, 2012. Stres merupakan respon nonspesifik generalisata.

Pinel, 2010. Pengalaman yang mengiduksi respon stres.

Referensi

Dokumen terkait

Masalah fisiologis, psikologis dan perilaku yang dialami oleh perawat IGD Rumah Sakit “X” kota Bandung dapat memunculkan stres kerja yang berbeda-beda

antara tingkat stres kerja dengan tingkat empati pada perawat di instalasi. rawat inap RSUD

Pada penelitian McCoy (1997) dan Kellow (2000) Memiliki masalah yang sama yang diangkat sebagai poin penting dalam penelitiannya adalah sumber stres yang dialami oleh perawat

Kemudian hasil penelitian pada perawat yang melaksanakan shift malam berjumlah 10 (50%) responden yang didapati mengalami stres kerja ringan dan tidak terdapat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan stres kerja antara perawat instalasi gawat darurat dan perawat di intensive care unit RSUD Sultan

Sedangkan pada rumah sakit dengan sistem tiga shift kerja, menunjukkan bahwa stres kerja lebih tinggi pada perawat dengan masa kerja 2-4 tahun dengan nilai rerata stres

Hubungan Beban Kerja perawat dengan Stres kerja di ruang IGD dan ICU Di RSUD Prof Dr soekandar Mojosari – Mojokerto Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat memiliki beban kerja

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres kerja dengan kinerja perawat di ruang Instalasi Gawat Darurat RSU Kabupaten