TINJAUAN KETERLAKSANAAN PRAKTIKUM PADA SMP NEGERI DAN SMP SWASTA PILOTING SE-KOTA PADANG
Suci Sukma Faradila, Renny Risdawati, dan Febri Yanti
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat e-mail : [email protected]
ABSTRACT
The piloting schools of curriculum 2013 (pilot project) is the modelling school which implement the early curriculum 2013. It is hoped that the chosen schools which had the teachers followed the training can apply the learning activities based on curriculum 2013, in fact, there are schools which can not apply the curriculum 2013 well. There were some piloting schools which do not have laboratory, less of tools and infrastucture so that the schools had difficulties in doing laboratory work of science learning. The purpose of the research is to find out the application of laboratory work in the Piloting State and Private Junior High Schools of Padang. The research design was descriptive by taking data directly from the respondents. The respondents were 13 science teachers who is teaching seventh grade students in the Piloting State and Private Junior High Schools of Padang. The data was collected by distributing the questionnares to respondents which was resulted in percentage. The result of the research showed that the highest percentage of laboratory work application in the matrial of differentiating the acid and basic solution was about 96.61%, which included in very good criterion.
Whereas the lowest percentage which was in very low criterion, in the material of distillation, was 25%. The whole highest percentage of laboratory work application of all materials at SMPN 1 Padang was 95.45% within very good criterion, meanwhile the school which had the lowest percentage of laboratory work application about 35.48% which was in very low criterion, was SMP Nasional.
Key word: piloting schools, curriculum 2013, laboratory work.
PENDAHULUAN
Pendidikan IPA sebagaimana dikatakan Depdiknas (2006:47), bahwa: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep- konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah piloting kurikulum 2013 adalah sekolah percontohan atau pilot project yang akan menentukan sejauh mana ketercapaian kurikulum 2013. Diharapkan sekolah yang terpilih dengan guru-guru yang telah mengikuti pelatihan kurikulum 2013 dapat menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara kerja kurikulum 2013 yang akan menghasilkan lulusan dengan kualifikasi yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan,. Namun masih ada sekolah yang belum mampu menerapkan kurikulum 2013 ini dengan baik. Ada beberapa sekolah piloting yang tidak memiliki ruangan khusus untuk laboratorium serta kurangnya kelengkapan alat dan bahan yang disediakan sekolah, sehingga kesulitan untuk
melaksanakan praktikum pada proses pembelajaran IPA.
Dikemukakan pada PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa laboratorium dan jenis peralatannya merupakan sarana dan prasarana penting untuk penunjang proses pembelajaran di sekolah. Biologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup, diperoleh melalui proses penyelidikan/penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik menuntut peserta didik untuk menemukan sendiri konsep pembelajaran dalam kegiatan mengamati, dilanjutkan dengan bertanya, mengumpulkan informasi, mengelola informasi, serta bisa mengkomunikasikan konsep yang ditemukannya.
Di Kota Padang terdapat 6 SMP piloting kurikulum 2013 yaitu, 4 SMP NEGERI yang terdiri dari: SMPN 1, SMPN 8, SMPN 12, dan SMPN 31, serta 2 SMP SWASTA yang terdiri dari:
SMP SIMA dan SMP NASIONAL. Berdasarkan analisis buku guru dan buku siswa serta observasi awal yang penulis lakukan pada setiap BAB, terdapat banyak materi yang dipraktikumkan.
Terdapat kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan praktikum yaitu keterbatasan waktu, kepadatan materi, serta alat dan bahan yang tidak lengkap disediakan oleh sekolah, terkadang ada
juga guru yang membeli sendiri bahan untuk keperluan praktikum. Sedangkan kendala yang dialami oleh SMP Swasta, yaitu tidak memiliki ruang khusus untuk laboratorium dan ada pula yang ruangan laboratoriumnya hanya dijadikan gudang dan tidak dipakai untuk pelaksanaan praktikum, tetapi tetap dilakukan praktikum di dalam kelas.
Dengan begini tentu proses praktikum tidak akan berjalan baik dan optimal sedangkan pembelajaran IPA sangat memerlukan kegiatan penunjang berupa praktikum. Sehubungan dengan itu maka telah dilakukan penelitian tentang tinjauan keterlaksanaan praktikum pada SMP Negeri dan SMP Swasta piloting se-kota Padang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara langsung dari responden. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai dengan Januari 2015, di SMP Negeri dan SMP Swasta piloting se-Kota Padang. Populasi dalam penelitian ini adalah guru IPA kelas VII SMP Negeri dan SMP Swasta piloting se-Kota Padang yang berjumlah 13 orang Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anggota populasi (total sampling).
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket. Data yang didapatkan akan dianalisis untuk mengetahui persentase keterlaksanaan praktikum menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Purwanto (2010:102-103). Angket yang digunakan telah diuji validitasnya oleh 5 orang Validator.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase keterlaksanaan praktikum tertinggi yaitu pada materi membedakan larutan asam basa sebanyak 96,61%, yang termasuk ke dalam kriteria sangat baik. Sedangkan persentase keterlaksanaan praktikum terendah dengan kategori sangat kurang baik yaitu pada materi destilasi dengan persentase keterlaksanaannya hanya sebesar 25%. Sekolah dengan persentase keterlaksanaan praktikum tertinggi adalah 95,45% dengan kategori baik sekali yaitu SMPN 1 Padang, sedangkan sekolah dengan persentase keterlaksanaan praktikum terendah sebesar 35,48% pada kategori sangat kurang baik adalah SMP Nasional.
Perbandingan keterlaksanaan praktikum pada SMP Negeri dan SMP Swasta piloting se- Kota Padang persentasenya adalah sebesar 73,74%
pada SMP Negeri dengan kriteria keterlaksanaan praktikum cukup baik, sedangkan keterlaksanaan praktikum pada SMP Swasta berada pada kriteria sangat kurang baik yaitu hanya sebesar 48,06%.
Keterlaksanaan praktikum tertinggi sebesar 95,45%
dengan kriteria keterlaksanaan baik sekali adalah SMPN 1 Padang.
Keterlaksanaan praktikum tertinggi sebesar 95,45% dengan kriteria keterlaksanaan baik sekali
adalah SMPN 1 Padang dikarenakan kelengkapan sarana dan prasarana laboratoriumnya, adanya laboran yang membantu semua kegiatan di laboratorium, serta dilengkapi pula dengan mobil laboratorium.
Kriteria keterlaksanaan praktikum cukup baik dengan persentase sebesar 62,45% adalah SMPN 8 Padang kendalanya ada beberapa materi yang tidak semua guru IPA kelas VII mempraktikumkannya, dikarenakan tidak adanya laboran yang akan membantu proses kerja dilaboratorium, banyaknya jumlah kelas yang diajar oleh 1 orang guru, serta ada pula salah seorang guru yang mengajar disekolah lain, serta kepadatan jam mengajar guru sertifikasi dan kepadatan materi pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Mulyasa (2010:60) isi dan pesan- pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
Persentase keterlaksanaan praktikum sebesar 57,13% dengan kriteria kurang baik adalah SMPN 12 Padang, kendala yang dihadapi hampir sama dengan guru SMPN 8 Padang, yaitu jam mengajar yang padat, jumah siswa yang cukup banyak serta latar belakang guru IPA ada yang lulusan Biologi atau Fisika sehingga tidak menguasai materi IPA secara keseluruhan, ditambah lagi alat dan bahan yang masih kurang, tidak adanya laboran yang akan membantu untuk mempersiapkan kegiatan praktikum, oleh karena itu proses pembelajaran lebih banyak terjadi dikelas.
Persentase keterlaksanaan praktikum di SMPN 31 Padang, sudah masuk pada kriteria baik dari 22 materi yang dipraktikumkan hanya 1 materi yang tidak terlaksana, yaitu pada materi Mengamati Tubuh Katak. Latar belakang salah seorang guru IPA di SMP 31 Padang ini ada yang lulusan Fisika sehingga tidak menguasai materi biologi dengan baik.
Persentase keterlaksanaan praktikum pada SMP SIMA adalah sebesar 60,64% masuk dalam kategori cukup baik. Guru IPA kelas VII SMP SIMA adalah guru yayasan yang belum sertifikasi, sehingga jam mengajarnya cukup banyak, jumlah murid juga tidak terlalu banyak sehingga bisa dilaksanakan praktikum dikelas saja karena laboratorium sedang dalam kegiatan pembangunan.
Persentase keterlaksanaan praktikum terendah adalah SMP Nasional sebesar 35,48% dengan kategori sangat kurang baik. Kendala yang dihadapi adalah tidak adanya ruangan khusus untuk dijadikan laboratorium, sehingga alat-alat IPA hanya diletakkan di gudang dan tidak terawat, bahan untuk praktikum yang tidak tersedia, kondisi bangunan SMP Nasional yang masih menyewa gedung sekolah bekas SMK Penerbangan, siswa yang sering tidak membawa bahan praktikum, perilaku siswa yang sulit dikontrol karena input
siswa SMP Nasional adalah siswa yang tidak diterima di SMP Negeri, ditambah lagi guru IPA yang mengajar kelas VII adalah guru sertifikasi dengan jam mengajar yang padat, dan mengajar juga disekolah lain, serta latar belakang pendidikannya adalah lulusan Fisika, sehingga tidak begitu menguasai materi Biologi oleh karena itu keterlaksanaan praktikum pada SMP Nasional sangat kurang baik dibanding SMP piloting lainnya.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan persentase keterlaksanaan praktikum tertinggi yaitu pada materi membedakan larutan asam basa, sebanyak 96,61%, yang termasuk dalam kriteria sangat baik.
Sedangkan persentase keterlaksanaan praktikum terendah dengan kategori sangat kurang baik, yaitu pada materi destilasi hanya terlaksana sebesar 25%.
Persentase keterlaksanaan praktikum tertinggi keseluruhan materi adalah pada SMPN 1 Padang 95,45% dengan kategori baik sekali, sedangkan sekolah dengan persentase keterlaksanaan praktikum terendah sebesar 35,48% pada kategori sangat kurang baik adalah SMP Nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. (2006). Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Mata Pelajaran (Repostory.
Uksw. Edu.Jspui/ 1351. Diakses Oktober 2014).
Mulyasa. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:
Remaja Rosdakarya
PP No 19 (2005). Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan. (http:// www.
kopertis3 .or.id/html/ wpcontent/ uploads/20 1/04/pp-19-tahun-2005-ttg-snp.pdf. Diakses 30 Agustus 2014).
Purwanto, Ngalim. (2010). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya.