• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka tentang Media Pembelajaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tinjauan Pustaka tentang Media Pembelajaran"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

Lebih lanjut Cepi Riyana menyampaikan bahwa media pembelajaran juga memiliki nilai dan manfaat sebagai berikut. Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada siswa, hal ini dapat dikonkretkan atau disederhanakan melalui penggunaan media pembelajaran. Dalam setiap permainan terdapat aturan berbeda untuk memulai permainan, sehingga jenis permainan menjadi lebih bervariasi.

Karena salah satu fungsi game adalah untuk menghilangkan stress atau rasa bosan, maka hampir semua orang suka bermain game, baik itu anak kecil, remaja, maupun orang dewasa, yang pastinya berbeda-beda tergantung dari jenis game yang dimainkannya. Jenis permainan bisa banyak dan beragam, mulai dari media memainkannya yang berbeda-beda, cara memainkannya hingga jumlah pemainnya (Ridoi, 2018). Jenis-jenis permainan berdasarkan jenis permainan yang dimainkan adalah sebagai berikut: 1) Permainan aksi. Banyak gamer yang mengorbankan waktunya yang berharga untuk tidur dan menggunakannya untuk bermain game.

Seseorang yang bermain game secara berlebihan membuat orang tersebut memilih untuk mengisolasi diri dari dunia luar. Meski seorang pecandu judi tidak menyadari bahwa dirinya mengalami depresi, namun perlahan penyakit ini akan meresap seiring dengan perasaannya yang diperbudak oleh kecanduannya. Kegagalan untuk mendapatkan level dalam permainan akan menyebabkan stres yang berlebihan. f) Artritis dan Sindrom Terowongan Karpal.

Pecandu game akan beralih ke makanan cepat saji dan memilih makanan beku dan instan.

Lingkup Pengembangan Aplikasi a. Aplikasi berbasis Android

Dalam tataran yang lebih praktis, taksonomi ini telah membantu banyak praktisi merumuskan tujuan pembelajaran dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, dan terukur. Hal ini dikarenakan Android memiliki software development kit (SDK) yang lengkap, dilengkapi dengan emulator yang membantu dalam pengujian aplikasi yang dibuat serta dokumentasi yang lengkap (Hermawan: 2011). Dimana pengguna dapat membuat sendiri aplikasi berbasis Android dan membuatnya juga dengan framework gratis.

Iklan hampir selalu muncul di setiap aplikasi kecuali aplikasi bawaan Android atau aplikasi berbayar. Aplikasi web merupakan aplikasi yang tidak memerlukan instalasi pada setiap komputer karena aplikasi tersebut berada pada server. Aplikasi web juga merupakan aplikasi perangkat lunak yang dikodekan dalam bahasa yang didukung oleh browser web seperti (ASP, HTML, Java, Java Script, PHP, Python, Ruby, dll.) Membukanya cukup menggunakan browser yang terhubung melalui jaringan ke server.

Kelebihan aplikasi web jenis ini adalah sebagai berikut: 1) Tidak diperlukan proses instalasi di sisi pengguna. Menurut Solichin (2016), aplikasi desktop merupakan aplikasi yang memerlukan instalasi pada setiap komputer yang akan digunakan.

Kodefikasi

Seorang Perekam Medis harus bisa membaca tulisan dokter dan mengetahui banyak istilah medis yang dapat mempengaruhi kecepatan dan keakuratan pengkodean. Sebab, kecepatan dan ketepatan pengkodean suatu diagnosis sangat bergantung pada orang yang menangani rekam medis tersebut. Keakuratan data diagnostik sangat penting dalam bidang pengelolaan data klinis, penagihan, dan hal-hal lain yang terkait dengan layanan kesehatan.

Menurut Mathar, seorang jurnalis kedokteran harus mampu melakukan pengkodean secara akurat melalui penggunaan kode tindakan (ICD-9-CM) dan kode penyakit (ICD 10) yang benar. Lengkap artinya data mengenai diagnosa, pemeriksaan dan tindakan terhadap pasien sudah tercantum secara lengkap dalam dokumen rekam medis, sehingga memudahkan Rekam Medis dalam melakukan pengkodean. Konsisten artinya menentukan pengkodean penyakit dan tindakan secara akurat, konsisten benar dalam pengkodean.

Selalu berlatih menganalisis diagnosa dokter, formulir rekam medis yang menunjukkan prosedur medis, dan diagnosa dokter. Tindakan yang diberikan dan diagnosis yang ditegakkan sedapat mungkin sesuai dengan kode yang dimasukkan/diberikan. Jika kode yang diberikan salah, tidak sesuai dengan diagnosa dokter dan tindakan yang diberikan maka dapat menimbulkan kerugian bagi rumah sakit atau sebaliknya.

ICD-9-CM

Untuk pengkodean yang akurat, diperlukan pengetahuan tentang terminologi medis dan memahami fitur, terminologi dan konvensi ICD-9-CM.

Tindakan Medis

Sistem Muskuloskeletal

Menurut Risnant (2012:3), tulang berasal dari tulang rawan hialin embrionik, yang menjadi tulang melalui proses ortogenesis. Seperti : tulang kepala (tengkorak), tulang belakang (vertebra), tulang rusuk dan tulang dada. 2) Tulang apendikular (tulang tangan dan kaki). Menurut Risnant, otot merupakan suatu jaringan yang dapat dirangsang secara kimiawi, elektrik, dan mekanis sehingga menghasilkan potensial aksi.

Menurut Risnanto, tulang rawan merupakan suatu bahan yang tersusun dari serat-serat yang kuat namun fleksibel dan avaskular. Menurut Risnanto, ligamen merupakan sambungan/selubung yang sangat kuat, yaitu jaringan ikat elastis yang terdiri atas kolagen. Menurut Risnanto, tendon adalah tali atau tendon yang kuat dan fleksibel yang terbuat dari protein berserat (kolagen).

Tendon adalah kumpulan jaringan fibrosa yang membentuk ujung otot dan menempel pada tulang. Menurut Risnanto, fasia merupakan lapisan tebal jaringan ikat fibrosa yang membungkus otot, saraf, dan pembuluh darah. Menurut Risnanto, Bursa merupakan kantong kecil jaringan konektivitas lokal yang mempunyai tekanan yang membantu dalam pergerakan.

Menurut Risnanto, persendian adalah semua persendian yang berlubang, terlepas dari apakah memungkinkan tulang saling bergerak atau tidak. Fiksasi Proses menahan, menjahit, atau mengencangkan suatu organ atau jaringan tubuh kembali ke posisi semula (tetap).

Tabel 2.1 Tindakan Medis Sistem Muskuloskeletal dan Definisinya
Tabel 2.1 Tindakan Medis Sistem Muskuloskeletal dan Definisinya

Model Pengembangan a. Metode Waterfall

Sehingga sering dianggap kuno, namun merupakan metode/model yang paling umum digunakan dalam Rekayasa Perangkat Lunak (SE). Fase ini identik dengan fase analisis 2) Mengumpulkan dan menganalisis kebutuhan. Pada fase ini, analisis mencoba menggambarkan masalah sistem dan menggambarkannya dalam diagram yang berbeda untuk menggambarkan situasi saat ini. Pada fase ini analisis juga mencoba merancang solusi yang diberikan kepada pengguna. Menurut Muharto, prototyping adalah proses berulang dalam pengembangan sistem yang mengubah persyaratan menjadi sistem kerja yang terus ditingkatkan melalui kolaborasi dan analisis pengguna.

Prototipe evolusioner merupakan prototipe yang terus dikembangkan hingga prototipe tersebut memenuhi fungsi dan prosedur yang dibutuhkan oleh sistem. Pengguna atau pemilik sistem dapat terus menerus meningkatkan kompleksitas sistem hingga sistem menjadi sangat kompleks, hal ini dapat menyebabkan pengembang meninggalkan pekerjaannya sehingga sistem yang sedang dikerjakannya tidak akan pernah selesai. Menurut McLeod dan Schell, 2007 (dalam Mulyani, 2016:31), RAD merupakan suatu metode yang berfokus pada kecepatan dalam pengembangan sistem untuk memenuhi kebutuhan pengguna atau pemilik sistem, seperti pembuatan prototipe, namun cakupannya lebih luas.

Nama RAD diperkenalkan oleh James Martin pada tahun 1991, yang mengacu pada siklus hidup pengembangan sistem. RAD menggunakan teknik air terjun dan pembuatan prototipe yang menggunakan tata kelola, metode, dan alat yang cukup kompleks. Yang membedakan air terjun dengan RAD adalah pada teknik air terjun pengguna atau pemilik sistem akan ikut serta dalam tahap cutover, sedangkan pada RAD berada pada tahap konstruksi.

Gambar 2. 2 Metode Prototype
Gambar 2. 2 Metode Prototype

Uji Sistem

Menurut Wicaksana, pengujian black box merupakan jenis pengujian yang berhubungan dengan perangkat lunak yang kinerja internalnya tidak diketahui. Jenis pengujian ini melihat perangkat lunak hanya dari spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan pada awal desain. Menurut Suryaantara (2014:13), pengujian black box berfokus pada apakah bagian-bagian program memenuhi kebutuhan yang ditentukan dalam desain sistem (kebutuhan pengguna).

Pengujian dilakukan dengan hanya menjalankan aplikasi pada setiap modul program, mengamati apakah sudah sesuai dan apakah ada bagian yang tidak sesuai dengan proses bisnis. Menurut Wicaksono, pengujian white box secara umum merupakan jenis pengujian yang lebih berkonsentrasi pada “isi” perangkat lunak itu sendiri. Tipe ini lebih berkonsentrasi pada source code dan perangkat lunak yang dibuat, sehingga memerlukan proses pengujian yang jauh lebih lama dan mahal karena memerlukan ketelitian dari pengujinya serta kemampuan teknis pemrograman bagi pengujinya.

Menurut Suryaantara (2014:14), pengujian sistem white box dapat dilakukan oleh pengembang aplikasi/pemrogram dengan menelusuri setiap baris program pada setiap modul.

Uji User

Thompson (1991) juga menyatakan bahwa individu akan menggunakan teknologi informasi jika mereka mengetahui manfaat positif dari penggunaannya. Chin dan Todd (1995) memberikan beberapa dimensi mengenai manfaat teknologi informasi yang terbagi dalam dua kategori, yaitu. Kegunaan dengan estimasi dua faktor dibagi menjadi dua kategori lagi yaitu kegunaan dan efektivitas, dengan masing-masing dimensi dikelompokkan sebagai berikut.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat penggunaan teknologi informasi dapat ditentukan oleh keyakinan pengguna teknologi informasi dalam mengambil keputusan untuk menerima teknologi informasi, dengan keyakinan bahwa penggunaan teknologi informasi memberikan kontribusi yang positif terhadap kemajuan teknologi informasi. pengguna. . Seseorang yakin dan merasa bahwa penggunaan telepon genggam sangat bermanfaat dan meningkatkan prestasi kerja yang akan dicapainya, atau dengan kata lain orang tersebut berpendapat bahwa penggunaan teknologi informasi telah membawa manfaat bagi pekerjaannya dan pencapaian kinerjanya. bekerja. Berdasarkan definisi di atas terlihat bahwa kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha seseorang (baik waktu maupun tenaga) dalam mempelajari teknologi informasi.

Perbandingan kemudahan ini memberikan indikasi bahwa masyarakat yang menggunakan teknologi informasi bekerja lebih mudah dibandingkan dengan masyarakat yang bekerja tanpa menggunakan teknologi informasi (secara manual). Pengguna teknologi informasi meyakini bahwa teknologi informasi yang lebih fleksibel, lebih mudah dipahami, dan lebih kompatibel (mudah dioperasikan) merupakan ciri dari kemudahan penggunaan. Berdasarkan penelitian teoritis dan hasil uji empiris di atas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan penggunaan teknologi informasi juga dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan teknologi informasi.

Perceived ease of use (persepsi kemudahan penggunaan) adalah sejauh mana seorang individu berinteraksi dengan suatu sistem informasi atau teknologi tertentu, terlepas dari pengaruh psikologisnya (Davis, 1989) (dalam Amin: 2016). Kemudahan penggunaan yang dirasakan adalah salah satu keyakinan utama yang mempengaruhi niat perilaku pengguna teknologi model TAM asli dan revisi. Pengembangan model TAM ini bertujuan untuk menyarankan bahwa pengaruh niat perilaku menggunakan teknologi informasi melewati dua saluran, yaitu efek langsung dan efek tidak langsung.

Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka konseptual di atas terlihat bahwa materi pembelajaran pengkodean prosedur medis Sistem Muskuloskeletal yang diberikan oleh dosen masih bersifat konvensional. Oleh karena itu, peneliti berinovasi membuat media pembelajaran game berbasis Android untuk meningkatkan pengetahuan siswa terhadap materi Kode Tindakan Medis Sistem Muskuloskeletal. Sebab jika siswa memahami materi yang disampaikan maka pengetahuan yang diperoleh siswa akan bertambah.

Hipotesis

Gambar

Tabel 2.1 Tindakan Medis Sistem Muskuloskeletal dan Definisinya
Gambar 2. 1 Metode Waterfall
Gambar 2. 2 Metode Prototype
Gambar 2. 3 Metode RAD
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Analisis Keakuratan Kode Diagnosis Pada Dokumen Rekam Medik Pasien Rawat Inap Kasus Penyakit Dalam Berdasarkan ICD-10 Di Rumah Sakit Islam Kustati Surakarta Tahun 2005.

Analisis Keakuratan Kode Diagnosis Penyakit Commotio Cerebri Pasien Rawat Inap Berdasarkan ICD-10 Rekam Medik Di Rumah Sakit Islam Klaten. Jurnal Infokes Apikes Citra

Dari hasil penelitian akurasi kode diagnosis pasien rawat inap berdasarkan ICD-10 Bangsal Dahlia di Badan Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo periode triwulan IV

Berbagai keadaan yang menyebabkan kondisi ini antara lain diagnosis yang tidak tepat, mikroorganisme penyebab yang atipikal, gram-negatif atau mengalami resistensi terhadap

Jenis ketidakakuratan kode tindakan operasi Caesarean Section adalah kode tidak sesuai dengan ICD-9-CM, karena dokter sering tidak menuliskan jenis tindakan yang dilakukan, tidak

Pada laporan rujukan terdapat kode yang tidak akurat sesuai dengan ICD-10 yaitu terdapat kode diagnosis yang hanya menggunakan tiga karakter, pengkodean dilakukan oleh dokter atau

Berikut adalah daftar chapter/bab pada ICD-10 untuk kode klasifikasi : Tabel 2.1 Daftar chapter/bab kodefikasi pada ICD-10 BAB BLOK JUDUL I A00-B99 Penyakit Infeksi dan parasit

TINJAUAN KETEPATAN KODE DIAGNOSIS PADA KASUS CEDERA KEPALA BERDASARKAN ICD-10 DI RUMAH SAKIT TK II.04.05.01 DR.SOEDJONO MAGELANG TAHUN 2019 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai