Tinjauan Hukum Dusturiyah dan Siyasah Tentang Desentralisasi Kewenangan Pengelolaan Pertambangan ke Pemerintah Provinsi Penulis: Alan Mukti, NIM:1711150002. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa (1) perubahan kewenangan pengelolaan pertambangan ke arah reklamasi, restorasi vegetasi (reboisasi) dan alih fungsi lainnya menimbulkan dampak lingkungan yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. Kewenangan di bidang pertambangan dan pertambangan batubara yang kewenangannya berasal dari kabupaten/kota menjadi kewenangan provinsi berdasarkan Undang-Undang (UU) No.
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan dewan daerah kabupaten/kota. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dalam Pemerintahan Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan sejauh mana kewenangan pemerintah provinsi dan pusat, sedangkan kabupaten/kota hanya menguasai energi panas bumi. Jika kewenangan pertambangan menjadi kewenangan pemerintah provinsi, maka penyelesaian permasalahan pertambangan di wilayah kabupaten dan kota akan semakin jauh.
Menjelaskan tinjauan hukum dan siyasah dusturiyah terhadap desentralisasi kewenangan pengelolaan tambang kepada pemerintah provinsi. 8 Dedis Elvalina, “Kewenangan Pemerintah Provinsi dalam Penerbitan IUP Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah”, (Jurnal JOM Fakultas Hukum Volume III Nomor 2), hal.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Penelitian Terdahulu
- Metode Penelitian
- Sistematika Penulisan
Dengan kata lain, suatu proses penalaran dari hal yang umum ke hal yang khusus. Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penelitian terdahulu, metode penelitian.
KAJIAN TEORI
Teori Kewenangan
Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 1 ayat (3) menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum” dan segala kewenangan harus bersumber dari Peraturan Perundang-undangan itu sendiri. Sementara itu, Luh Putu Suryani mengutip pendapat Indroharto; Secara hukum, kewenangan adalah kemampuan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menimbulkan akibat hukum. Sedangkan S.F. Marbun mengatakan kewenangan berarti kesanggupan untuk melakukan perbuatan hukum umum, atau secara hukum adalah kesanggupan berbuat yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan hukum.
Catatan di tingkat pusat diperoleh (berasal) dari MPR yaitu konstitusi, dan dari DPR bekerjasama dengan pemerintah yaitu undang-undang. Penguasa di atas disebut pemberi hukum asli atau berasal dari pemberi hukum asli (original wetgever). Jadi kekuasaan ada akibat dari negara kita, Indonesia adalah negara hukum, kekuasaan ini lahir karena diberikan oleh undang-undang (konstitusi), sehingga setiap tindakan, keputusan dan kebijakan pemerintah harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang, dan di Indonesia kekuasaannya sendiri terbagi menjadi badan pemerintah pusat dan badan pemerintahan daerah, atau ada batasan kekuasaan (kekuasaan teritorial) sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Teori Desentralisasi
Kedua peraturan ini menjadi dasar pemberian kewenangan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melaksanakan peraturan dan kebijakan terkait pertambangan. Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan kewenangan pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada badan vertikal di daerah tertentu.
Perintah bantuan merupakan alokasi dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa, namun dapat pula berupa perintah dari pemerintah provinsi. Desentralisasi berarti peralihan atau penyerahan kekuasaan perencanaan, pengambilan keputusan atau pengelolaan dari pemerintah pusat dan wakil-wakilnya kepada organisasi-organisasi di lapangan, unit-unit pemerintahan di bawahnya, badan hukum publik, badan-badan yang lebih luas atau regional, para ahli fungsional atau organisasi-organisasi non-pemerintah. 22. Dalam negara kesatuan yang terdesentralisasi, pemerintah pusat tetap mempunyai hak untuk mengendalikan daerah-daerah otonom.
Konsep Pertambangan
Tujuan mempelajari hukum pertambangan bukan hanya untuk mengatur hak penambang, tetapi juga untuk mengatur kewajiban penambang terhadap negara. Selepas mengetahui elemen asas dari segi perlombongan, kita perlu mengikut prinsip undang-undang perlombongan mineral dan arang batu. Dalam Akta No. 4 Tahun 2009 mengenai perlombongan mineral dan arang batu, seksyen 2 yang menjelaskan prinsip dalam perlombongan mineral dan arang batu ditadbir oleh pihak pengurusan.
Oleh karena itu, tujuan dibentuknya bentuk hukum pertambangan adalah untuk mengatur hubungan antara negara dengan bahan galian dan hubungan antara negara dengan orang perseorangan atau badan hukum dalam pemanfaatan bahan galian. Istilah hukum pertambangan mineral dan batubara berasal dari terjemahan bahasa Inggris yaitu hukum pertambangan mineral dan batubara, dalam bahasa Belanda disebut mineral-en kolenmijnen recht atau dalam bahasa Jerman disebut mineral und kohlebergbau gesetz. Hubungan negara dengan mineral dan batubara adalah negara mempunyai kewenangan mengatur pengelolaan mineral dan batubara.
Bentuk pengaturannya adalah negara membuat dan menetapkan berbagai peraturan perundang-undangan mengenai mineral dan mineral. Bahwa mineral dan batubara yang berada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan merupakan kekayaan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dan memenuhi hajat hidup orang banyak yang dikuasai negara untuk menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara berkeadilan.” 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara setidaknya ada tiga unsur penting, pertama Indonesia diberi anugerah kekayaan sumber daya mineral, kedua kekayaan tersebut dikuasai oleh negara. negara sebagai amanah rakyat, dan ketiga, hasil kekayaan tersebut harus dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
Menjamin ketersediaan mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri; Unsur kedua dalam hukum pertambangan mineral dan batubara, yaitu mengatur hubungan antara negara dan subyek hukum. Kegiatan pertambangan mineral dan batubara tidak hanya dilakukan oleh negara, namun negara juga dapat memberikan izin kepada subjek hukum untuk melakukan kegiatan pertambangan mineral dan batubara.
Badan hukum yang berhak melakukan kegiatan pengambilan mineral dan batubara adalah (1) orang dan (2) badan usaha.
Siyasah Dusturiyah
Setelah kata dustur terserap ke dalam bahasa Arab, maknanya berkembang menjadi asas, landasan, dan pedoman. Dusturi adalah prinsip dasar pemerintahan negara mana pun yang dibuktikan dengan hukum, peraturan, dan adat istiadatnya. Dustur adalah prinsip dasar setiap pemerintahan dan negara, yang dibuktikan dalam undang-undang, peraturan, dan adat istiadatnya.”44.
Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata dustur sama dengan konstitusi dalam bahasa Inggris, atau Constitution dalam bahasa Indonesia, kata “fundamental” dalam bahasa Indonesia tidak mustahil berasal dari kata dustur di atas. Apabila difahamkan penggunaan istilah dusuri, untuk menamakan suatu ilmu yang membicarakan masalah pemerintahan dalam erti kata yang luas, kerana dustur itu merangkumi rangkaian prinsip regulasi kuasa dalam pemerintahan sesebuah negara, seperti. Dusturi dalam sesebuah negara sudah tentu undang-undang dan peraturan lain yang lebih rendah tidak boleh bercanggah dengan perintah itu. Sumber Figh dustur tentunya ialah Al-Qur’an al-Karim iaitu ayat-ayat yang berkaitan dengan prinsip kehidupan bermasyarakat, dalil-dalil Quli dan roh ajaran al-Quran.
Kata dustur sama dengan konstitusi dalam bahasa Inggris, atau hukum dasar dalam bahasa Indonesia. Artinya konstitusi undang-undang mengacu dan mencerminkan asas-asas hukum Islam yang disarikan dari Al-Quran dan As-Sunnah, baik mengenai keimanan, ibadah, akhlak, muamalah, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara.47. Maslahah dharuriyah disyariatkan untuk melindungi dan menjamin kelestarian agama (hifz ad-din), melindungi jiwa (hifz al-nafs), melindungi pikiran (hifz al-aql), melindungi keturunan (hifz al-nasl), dan melindungi untuk melindungi harta benda (hifz al-mal).
Demi menjaga agama, Allah memerintahkan berbagai bentuk ibadah, mengharamkan kemurtadan, mengharamkan mengutuki tuhan selain Allah, dan lain sebagainya. Untuk melindungi jiwa, Allah mengharamkan pembunuhan, mengharamkan segala perbuatan yang membahayakan jiwa, mewajibkan perkawinan, mewajibkan mencari rezeki, dan sebagainya. Untuk melindungi pikiran, Allah mengharamkan minum, mewajibkan mencari ilmu, dll. Untuk melindungi anak cucu, Allah mewajibkan.
Dalam rangka merealisasikan maslahah haji, Allah mensyariatkan berbagai transaksi, seperti jual beli, sewa menyewa dan memberikan beberapa keringanan hukum (rukhshah), seperti mampu menjamak dan mengqasarkan shalat bagi musafir, kemampuan menunda pelaksanaan Ramadhan. berpuasa bagi yang hamil, menyusu dan sakit, dan tidak wajib solat lima waktu bagi orang yang haid dan nifas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dampak Desentralisasi Kewenangan Pengelolaan Pertambanga Terhadap
- Peran Dalam Kewenangan Pengelolaan Pertambanga
- Peran Dalam Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang
Tinjauan Yuridis Dan Siyasah Dusturiyah
- Tinjauan Yuridis
- Siyasah Dusturiyah
PENUTUP
Kesimpulan
Dampak desentralisasi kewenangan pengelolaan pertambangan terhadap peran pemerintah daerah dari segi kewenangannya adalah pemerintah daerah tidak mempunyai kewenangan membina, mengawasi dan mengawasi. Secara hukum, pencabutan kewenangan pertambangan mineral dan batubara dari kabupaten/kota menjadi kewenangan provinsi mengakibatkan kabupaten/kota tidak lagi mempunyai kewenangan untuk menguasai, mengawasi, dan mengusahakan sumber daya alamnya sesuai dengan masyarakat di wilayahnya. diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk mengatur daerah sendiri melalui pemerintahan daerah sendiri. Termasuk di dalamnya adalah siyasah tasyri'iyyah yang memeriksa pemberlakuan suatu undang-undang oleh lembaga legislatif, namun undang-undang tersebut dapat dikenakan judicial review.
Sebab, sentralisasi kewenangan pertambangan menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota tidak memiliki kewenangan pertambangan untuk menjaga lingkungan hidup di wilayahnya, seperti pengawasan pertambangan. Kewenangan pertambangan, termasuk hajiyah maslahah, merupakan kebutuhan sekunder, namun sentralisasi akan berdampak pada hak untuk hidup. Maslahah hajiyah ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan orang banyak.
Saran
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Draft Risalah Rapat Khusus RUU Pemerintahan Daerah dan Desa, Jenis Rapat: RDPU, 7 Juni 2012. Https://www.unila.ac.id/seminar-nasional-uu-pemerintah-region-Solusi -atau-problem new ) diakses 5 Oktober 2020.
Nabilla Desyalika Putri dan Dian Agung Wicaksono, Implikasi Peraturan Perundang-undangan Terhadap Pengambilalihan Kewenangan Sektor Pertambangan Mineral dan Batubara oleh Pemerintah Pusat, Vol. Naskah Akademik RUU Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Sumber: https://mediaindonesia.com/nusantara Lubang-tambang-hiasi-hadap-kalsel Diakses 30 Januari 2021.
Penerbitan IUP Mineral Logam dan Batubara untuk Penanaman Modal Dalam Negeri pada 1 (satu) WIUP Daerah. Wilayah provinsi meliputi wilayah laut. Penambangan mineral bukan logam dan batu melintasi wilayah provinsi dan luas laut lebih dari 12 mil. Penerbitan izin pertambangan mineral bukan logam dan batu untuk penanaman modal dalam negeri pada wilayah pertambangan dalam 1 (satu).
Penerbitan izin pertambangan rakyat komoditas logam, batubara, mineral bukan logam, dan batu pada wilayah pertambangan rakyat. Penerbitan izin pertambangan operasi produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian sehubungan dengan penanaman modal dalam negeri, apabila komoditas pertambangan tersebut berasal dari 1 (satu) wilayah dalam provinsi yang sama. Penerbitan izin usaha pertambangan dan sertifikat terdaftar sehubungan dengan penanaman modal dalam negeri yang kegiatan usahanya berada dalam 1 (satu) wilayah provinsi.
Penerbitan izin usaha jasa pertambangan dan sertifikat terdaftar bagi penanaman modal dalam dan luar negeri yang kegiatan usahanya dilakukan di seluruh Indonesia.