• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KAWASAN BERIKAT DAN IMPLIKASINY A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KAWASAN BERIKAT DAN IMPLIKASINY A"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KAWASAN BERIKAT

DAN IMPLIKASINY A

L..-_ _ _ _ Oleb : Yakob Mohsin, S.H. dan Idrus Abdullah, S.H. _ _ _ _

PENDAHULUAN

Usaha untuk meningkatkan ekspor komoditi non·minyak dan gas

bu-mi (bu-migas); te1ah diamanahkan oleh

GBHN sejak tahun 1983. Untuk

men-dukung usaha tersebut, GBHN

mem-berikan pengarahan agar memperluas pasaran serta daya saing barang ekspor Indonesia di pasaran internasional de-ngan ja1an meningkatkan efisiensi pro-duksi, memperbaiki mutu barangmem-perlancar arus barang dan usaha-usa· ha lainnya.

Peningkatan ekspor komoditi non-migas sudah merupakan hal yang dira-sakan makin mendesak sejak menurun-nya harga mimenurun-nyak di pasaran interna-sional pada tahun 1985 dan mencapai titik yang kritis pada triwulan pertama tahun anggaran 1986/1987 khususnya

bagi Indonesia , di mana dalam APBN

dianggarkan harga penjualan minyak

ekspor sekitar US $ 25 per barrel, teo

tapi dalam kenyataannya harga pasar

-an di tempat (spot market) hanya

bergerak belasan dollar AS per barrel· nya. Sedangkan hasil ekspor migas merupakan sumber utama pendapatan negara Indonesia.

Situasi yang tidak menggembirakan itu, ditambah lagi dengan melandanya resesi ekonomi dunia yang berkepan-jangan sehingga mempengaruhi arus

penanaman modal asing di Indonesia.

Di tengah situasi yang demikian

• •

itulah, pada awal bulan Mei atau te-patnya tangga1 6 Mei 1986, pemerin-tah mengumumkan dan mengeluarkan serangkaian peraturan (paket) kebijak-sanaan di bidang ekonomi yang ke-mudian dikena1 dengan sebutan

"Pa-ket Kebijaksanaan 6 Mei" (Pakem).

Paket kebijaksanaan tersebut pada hakikatnya bertujuan untuk mening-katkan ekspor komoditi non·migas, menarik untuk lebih banyak masuk-nya modal asing (PMA) ke Indonesia dan merangsang supaya ditumbuhkan· nya efisiensi di ka1angan pengusaha Indonesia.

Di antara isi Pakem dimaksud

,

yang tampaknya agak baru dalam du-nia perekonomian dan perdagangan In-donesia adalah dibentuk dan diperke-nalkan sarana/ke1embagaan kawasan

berikat

(bonded

zone).

Dalam tulisan

singkaUni akan dicoba untuk

membe-rikan beberapa catatan tentang

kawas-an berikat itu dkawas-an disertai pula suatu tinjauan dari segi yuridis.

Kawasan Berikat (Bonded Zone)

Kawasan berikat merupakan salah satu saran a kelembagaan dalam bi-dang perekonomian dan perdagangan. Secara teoretis, dengan pembentukan lembaga ini diharapkan dapat memain-kan peranan penting dalam upaya untuk meningkatkan/mengembangkan dan memperlancar arus lalu-lintas ba·

Februari 1987

(2)

2

rang dalam kerangka perdagangan in· ternasional (impor, ekspor dan

re-eks-por). Begitu' pula, dengan adanya

be-berapa kemudahan yang diberikan ke-pada pengusaha yang memasukkan ba· rang dan membangun usahanya dalam kawasan berikat (pembebasan bea ma-suk dan penyederhanaan prosedur

per-izinan), diharapkan dapat juga menarik

PMA untuk membangun usahanya da-lam kawasan berikat terse but.

Rumusan yuridis mengenai kawas· an berikat yang tercantum dalam Pasal

1 PP No. 22/1986 adalah: "Suatu ka-wasan dengan batas·batas tertentu di wilayah pabean Indonesia yang di da· lamnya diberlakukan ketentuan-keten-tuan khusus di bidang pabean. Yaitu terhadap barang yang dimasukkan dari luar daerah pabean atau dari dalam daerah pabean Indonesia lainnya tanpa terle bih dahulu dikenakan pungutan

bea, cukai dan/ atau pungutan negara

lainnya, sampai barang terse but dike·

luarkan untuk tujuan impor , ekspor

at au re·ekspor.

Melihat rumusan tersebut di atas ,

maka secara eksplisit dapat dirumus· kan dengan kat a lain bahwa semua ba· rang yang masuk ke kawasan berikat baik dari luar negeri maupun dari da-lam negeri dibebaskan dari bea masuk

dan pungutan lainnya. Dari praktek

yang lazim berlaku dalam hubungan

dengan kawasan berikat adalah hanya diberlakukan untuk barang·barang dari luar negeri (bahan baku) yang tujuan-nya digunakan untuk prosesmengha· silkan barang-barang ekspor. Tetapi de-ngan ditentukannya pula barang-ba· rang dari dalam negeri yang masuk

kawasan berikat , dibebaskan juga bea

masuk, maka ketentuan ini menimbul-kan suatu pertanyaan.

Misalnya kayu gergajian dari

Kali-Hukum dan Pembangunan

mantan yang menurut pengakuan

pe-milik/pemesannya akan dimasukkan

ke dalam kawasan berikat, dengan

de-. mikian akan dapat kemudahan

pembe-basan pungutan negara dalam bentuk

retribusi INH dan lainnya. Apakah

dapat dikontrol semua barang (kayu gergajian itu) betul·betul masuk kawas· an berikat. Mengingat pula luasnya arealkawasan berikat. Menurut Kepu-tusan Presiden (Keppres) No. 16/

1986, wilayah kawasan berikat telah ditentukan yakni tanah seluas 1,7

juta M2 di wilayah sekitar pergudang-an Cakung. Kecamatpergudang-an Sukapura Tpergudang-an· jung Priok Jakarta Utara.

Selain itu pula wilayah kawasan berikat lainnya adalah lokasi tanah se· luas 80 ribu M2 di wilayah pelabuhan Nusantara Tanjung Priok. Jadi dalam hubungan ini yang menjadi masalah adalah pengawasan yang efektif terha dap barang-barang yang "dilaporkan" akan dimasukkan dalam kawasan beri-kat. Apabila barang tersebut memang

senyatanya masuk kawasan berikat ,

tentu tidak merupakan masalah, tetapi

jika hanya " sebagiannya saja", masuk

kawasan berikat , tentu negara akan

dirugikan dalam jumlah yang cukup

besar , sementara sang pengusaha ber·

sangkutan akan mengeruk keuntungan yang cukup besar. Lain halnya dengan

barang eks impor, kontrolnya tentu

akan mudah dilaksanakan melalui pin·

tu-pintu gerbang pelabuhan .

Persero Kawasan Berikat

Untuk melakukan pengusahaan ka ·

wasan berikat didirikan suatu perusa

-haan negara atau BUMN dalam bentuk perusahaan perseroan (persero). Dasar hukum pembentukan persero terse but

tercantum dalam Pasal 33

PP

No. 23 /

(3)

l'injauan Yuridis Kawasan Berikat

Adalah menarik untuk diadakan pengkajian lebih lanjut mengenai ben-ttik perusahaan negara di bidang peng-usahaan kawasan berikat dengan hak-hak (kewenangan) yang diberikan

ke-•

pada persero terse but antara lain:

Mengeluarkan izin usaha · dan izin

lainnya dalam hubungan dengan ke-giatan pengolahan barang dalam

ka-wasan berikat (izin produksi) untuk perusahaan yang berlokasi dan ber-produksi di kawasan berikat.

Mengeluarkan izin mendirikan ba-ngunan (1MB) dan izin Gangguan bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan pembangunan fisik dan kegiatan lainnya di kawas-an berikat.

Perusahaan negara atau BUMN

da-lam bent uk Perusahaan Perseroan

atau PT (Persero) , menurut UU No.

9/1969 adalah perusahaan negara yang

didirikan dan diatur/ tunduk menurut

ketentuan Kitab Undang-undang Hu-kum Dagang (KUHD). Atau dengan

kata lain perusahaan negara yang ber

-bentuk Persero adalah sarna dengan Perseroan Terbatas (PT) lainnya yang berarti pula sebagai badan hukum

privaat. Dan berdasarkan

PP

No. 3/

1983 , pembentukan Persero di sam

-ping mempunyai tujuan lainnya ,

te-tapi pada hakikatnya dititikberatkan

pada usaha untuk mencari /memupuk

keuntungan sebagai salah satu sumber pendapatan negara.

Dengan melihat ketentuan-keten-tuan di atas, maka pembentukan PT (Persero) yang melakukan

pengusaha-an kawaspengusaha-an berikat , tidak terlepas·

de-ngan usaha untuk mencari

keuntung-an. Dan secara yuridis, Persero

terse-but adalah berkedudukan sebagai

ba-dan

hukum privaat.

Tetapi jika dihubungkan dengan ke-•

3

wenangan-kewenangan atau hak-hak

yang diberikan/ dimiliki oleh Persero

Kawasan Berikat, tampaknya badan

usaha ini tidak lagi murni sebagai ba-dan hukum privaat yang tunduk pad a KUHD. Tetapi kewenangannya sudah melebar dan menjangkau pada bidang-bidang yang termasuk dalam Hukum Administrasi Negara atau kewenangan

-administrasi negara (seperti kewenang-an mengeluarkkewenang-an perizinkewenang-an). Sebagai Persero-badan hukum privaat,

seharus-nya PT (Persero) Kawasan Berikat

ti-dak mempunyai

kewenangan-kewe-nangan yang berupa pengeluaran per

-izinan (licenties ) walaupun

kewenang-an terse but berupa pendelegasikewenang-an

ke-kuasaan dan Persero ini bertindak atas

-nama Menteri atau pimpinan instansi bersangkutan dalam mengeluarkan

izin-izin terse but. Secara teoretis yuridis,

kewenangan yang berupa tugas-tugas administrasi negara atau yang bersifat

publiekrechtelijk, hanya dapat

didele-gasikan kepada badan hukum publik

yang dapat berupa badan khusus di

-bentuk untuk itu. Tidak dalam ben

-tuk BUMN apalagi perusahaan negara yang berbentuk Persero.

Pem berian lisensi atau izin

menja-lankan suatu perusahaan , lazimnya

di-keluarkan oleh organ pemerintah

(bes-tuurorganen) yang merupakan bagian

dari tugas administrasi negara.

Apabila dimaksudkan · juga dalam

pengelolaan, pembinaan dan

pengusa-haan di bidang kawasan berikat ,

maka bentuk BUMN/perusahaan nega-ra yang melaksanakan tugas tersebut, seyogyanya bukan dalam bentuk Per-sero tapi Perusahaan Jawatan (perjan) at au sekurang-kurangnya dalam ben-tuk Perusahaan Umum (Perum), ke-dua bent uk perusahaan negara terse-but berdasarkan UU No. 9/1969 dan

(4)

4

PP No. 3/1983, mempunyai tugas uta· rna lebih dititikberatkan pada

pem-berian jasa dan pelayanan kepada ma-syarakat dalam rangka memberikan ke-manfaatan umum_

Pemberian izin usaha dan izin in-dustri/produksi, lazimnya dilakukan oleh Departemen Perdagangan dan

Departemen Perindust.rian. Sedangkan

izin mendirikan bangunan dan izin

Gangguan dilaksanakan oleh Pemerin

-tah Daerah.

Kewenangan lainnya yang dimiliki pula oleh Persero Kawasan Berikat adalah memberikan hak sewa tanah kepada perusahaan-perusahaan yang berlokasi/beroperasi di kawasan ter-sebut. Tanah yang digunakan sebagai lokasi usaha perusahaan pengolahan dalam kawasan berikat disewa dari Persero bersangkutan. Hak sewa yang

berhubungan dengan tanah tersebut dapat dijadikan jaminan (vide Pasal 8 PP No. 22/1986).

Menurut peraturan keagrariaan yang berlaku, hak-hak atas tanah yang dapat dijadikan jaminan dengan dibebani hak tanggungan, hanyalah Hak Milik, Hak

Guna Bangunan dan Hak Guna Usaha.

Dengan demikian pcnetapan hak sewa

atas tanah dalam kawasan' berikat

yang dapat dijadikan jaminan, dapat pula diperbincangkan kekuatan hu-kumnya jika dihubungkan dengan Un-dang-undang Pokok Agraria-UUPA (UU No. 5/1960). Apalagi pengaturan

hak sewa atas tanah yang dapat

dijadi-kan jaminan itu, tercantum dalam

pro-duk hukum (PP) yang berkedudukan

di bawah undang-undang. Dari segi

lainnya lagi , hak sewa, dianggap bukan

merupakan hak kebendaan

(zakelij-krecht) tetapi hak perseorangan

(per-"

Hukum dan Pembangunan

stJonlijkrecht). Dengan demikian pula kekuatan hukumnya untuk dapat

dija-dikan sebagai jaminan, dari segi yuri·

dis, masih dapat dipersoalkan. Dalam

hubungan ini , mungkin tidak menjadi

persoalan lebih lanjut apabila

peng-aturan hcik sewa atas tanah dalam

ka-wasan berikat hanya diatur secara

administratif, tidak dalam arti

peng-aturan secara hukum keagrariaan.

PENUTUP

Apabila dalam tulisan singkat ini ,

diadakan pengkajian/penelaahan secara

"kritis" terhadap bentuk BUMN yang

bergerak di bidang pengusahaan

kawas-an berikat dkawas-an hak/ kewenangan yang

diberikan kepada BUMN tersebut ,

sa-ma sekali tidaklah disa-maksudkan untuk mempersoalkan pembentukan kawasan

bcrikat tersebut dalam kerangka pro dan kontra.

Apalagi sampai kepada kesimpulan

bahwa penulis tidak menyetujui

lang-kah yang diambil pemerintah dalam

hal ini. Sama sekali tidaklah demikian.

Tetapi satu hal , bahwa semua pihak

dan kita seluruh rakyat dan bangsa Indonesia mempunyai komitmen poli-tis dan yuridis terhadap Pancasila dan

UUD 1945 , di mana antara lain

mene-gaskan bahwa: "Negara Indonesia

ber-dasar atas hukum (rechtsstaat), tidak

berdasarkan at as kekuasaan belaka

(machtsstaat). Negara hukum secara

sedcrhana dapat diartikan bahwa nega· ra termasuk di dalamnya pemerintah dan lembaga·lembaga ncgara lainnya dalam melaksanakan tindakan apa pun

harus dilandasi oleh hukum dan dapat

dipertanggungjawabkan sccara hukum.

Dengan demikian, secara

substan-•

(5)

Tinjauan Yuridi. Kawasan Berikat

tive, produk-produk hukum yang ber-hubungan dengan kawasan berikat

ha-rus dapat pula dipertanggungjawabkan pula secara hukum dalam arti tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum dan ketentuan hukum positif lainnya.

Perlunya pembentukan kawasan

5

berikat dalam rangka pengembangan perekonomian dan perdagangan tidak . dapat diragukan . Tetapi hal ini

tidak-lah berarti mengabaikan sendi-sendi

hukum yang merupakan komitmen ki·

ta bersama, bahwa Indonesia se bagai

negara hukum. Dalam kerangka itulah tulisan ini disajikan.

Referensi

Dokumen terkait

Penghapusan kewenangan Jaksa tersebut juga terlihat dalam definisi Upaya Hukum yang diatur dalam pasal 1 KUHAP, dalam huruf 12 dinyatakan : Upaya hukum adalah hak terdakwa

Dengan terjadinya hak milik itu, timbulah hubungan hukum antara subjek dengan bidang tanah tertentu yang isi, sifat dan ciri-cirinya sebagai yang diuraikan di atas, tanah

Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perasuransian berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di

Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan Anugrah-Nya yang wajib

Berkaitan dengan adanya hak pengelolaan yang dimiliki oleh Otorita Batam atas seluruh tanah di Pulau Batam, kewenangan Pemerintah Kota Batam yang diselenggarakan oleh Dinas

131 Pasal 3, Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di