TIPE.TIPE REDUPLIKASI SEMANTIS
BAHASA INDONESIA: KAIIAN BENTUK DAN MAKNA-)
Nanik
SumarsihBalai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Pos-el: nandj o gj a@ gmnil. com
Inti Sari
Kajian ini memfokuskan pembahasan mengenai tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia, yang meliputi (1) tipe-tipe berdasarkan bentuk dan (2) tipe-tipe berdasarkan makna dan fungsinya.
Konsep reduplikasi semantis yang digunakan dalam kajian ini menggunakfrn konsep reauptitasi semantis yang dikemukakan olehSimatupang (1983), yaitu pengulangan arti rhelalui penggabungan dua bentuk yang mengandung arti yang sinonim. Data penelitian beiupa bentuk keLahlruu. yurrg berupa reduplikasi semantis.sumber data yang digunakan ialahKamusBesarBahnsnlndonesia(pusa'i Bahasa,2008). Pemerolehan data dilakukan dengan teknik simak-ketik. Analisis data menggunakan metode padan referensial-dan metode agih. Berdasarkan analisis bentuk, dinyatakan ba-h-wa tipe- tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia dapat berupa (1) morfem bebas din morfem bebas, (2) morfem bebas dan morfem terika! dan (3) morfem terikat dan morfem terikat. Menurut kategorinya bentuk tersebut dapat berupa kata benda, kata sifat, dan prakategorial. Berdasarkan rnulr,u du., fungsinya, reduplikasi semantis terdiri atas (1) berbagai (kumpulan) dariberbagai jenis dasar, yang memiliki fungsi menyatakan bermacam-macam dan (2) intensif, yang memiliki ftrngii meny*guikuri Kata kunci: reduplikasi, semantis, kata majemuk
The study focuses on Indonesin reduplication
,;:rt:#:r:er
theteir (1) form antt (2) meaning nndfunction.Senmntic reduplicntion concept used in tlis sttLdy refers to sentnntic reduplncation concipt proposed by Simatupnng (1983) thnt is reduplication nrcnning through the cornbination of two forms, wltichhaae synofiym meaning.Tlu dnta takenislinguisticunit inform of senmntic reduplication.Tlrc data sourceisKamusBesnr Bnhasn Indonesia (Pusat Bnlmsa, 2008). Tlrc collection of dnta is carried out by using rending - typing. The
data annlysis uses referentinl match and apportion ruethod. Based on form analyiis
it
is/oundoit
that lndonesia semantic reduplicntion types can be in form of (L) ftee morylrcnrc oni 7rr, ,rorplrr*r, (2) freemorplrcme andboundedmorplrcme, nnd (3)boundedntorplrcme andboundedmorphenrc.Bnsedontlu category, thefornt cnnbenoun, adjectioe, andprecntegorinl. Bnsed on tlrc menning andfunction semnntic redupliitiin
includes (1) aarious group of dffirent base types thnt function to stnte miscellaneous meaning and (2) intensity tlrut function to intensifu menning.
Key w ords: reduplicntion, sentantic, contpound word
L.
PendahuluanReduplikasi atau pengulangan bentuk
satuan kebahasaan merupakan gejala yang ter- dapat dalam banyak bahasa di dunia ini. Menu-
rut
Gonda (1939) dalam Simatupang (1983:1), reduplikasi terdapat dalam bahasa Jermary Be-landa, Inggris, dan Marathi. Dalam
bahasa Indonesia reduplikasi merupakan mekanisme yang penting dalam pembentukan katadi
sam- ping afiksasi, klitiksasi, komposisi, dan akronimi- sasi (Chaer, 2008:178). Reduplikasi telah banyak dibicarakan meski menggunakan berbagai isti-)
Naskah masuk tanggal 5 Desember 2012. Editor: Dra. Wiwin Erni Siti Nurlina, M.Hum. Edit I: 19-23 Desember 2012.Edit II: 12-16 Februari2013. Edit III: 22-26Mei2013.
lah, misalnya Keraf (1991) menggunakan bentuk ulang atau kata ulang, Ramlan (2001) menggu- nakan proses pengulangan. Namury istilah yang umum digunakan ialah istilah reduplikasi (lih.
Zamzani,1993: 41).
Pengelompokkan
reduplikasi
antara ahli bahasa yang satu berbeda dengan ahli bahasa yanglain
sehingga menghasilkan pengklasifi- kasian yang bermacam-macam, seperti Sam-suri
(1988:91) yang mengelompokkan redupli-kasi menjadi tiga macam, Kridalaksana
(2001:22
*
23) mengelompokkan menjadi lima macam,Alwi
et al. (1992:166) mengelompok- kan menjadi empat macam, Parera (1988:51- 55) mengelompokkan menjadi enam macam/dan Ramlan (2001.:41.-45) mengelompokkan menjadi empat macam. Perbedaan hasil penge- lompokkan
itu
disebabkan oleh dasar penge- lompokkan yang berbeda antara ahli yang satu denganahli
yanglain. Meskipun
sudah ada berbagai pengklasifikasiary masih terdapat ben- tuk-bentuk reduplikasi yang sulit diklasifikasi- kan karenasulit
dicari bentuk dasarnya yang ternyata masih banyak ditemukan dalam ba- hasa Indonesia.Secara garis besar, reduplikasi dapat dike- lompokkan menjadi (1) reduplikasi morfemis
dan (2) reduplikasi
semantis (Simatupang, 1983:16). Reduplikasi morfemis telah banyak dibahas oleh Simatupang dalam disertasinya yang berjudul "Reduplikasi Morfemis Bahasa Indonesia" (1979). Disertasi ini kemudian dipu-blikasikan menjadi buku seri ILDEP
(1983)dengan judul yang sama. Dalam disertasi terse- but, Simatupang juga telah menyinggung ten- tang reduplikasi semantis dalam bahasa Indo-
nesia. Simatupang
(1983:45) menyatakan
bahwareduplikasi
semantis merupakan ben- tukan dari morfem bebas dan morfem terikat.Selain
itu,
reduplikasi semantis juga meruPa- kan bentukandari
kata benda dan kata sifat.Namun begitu, Simatupang belum banyak me- munculkan bentuk-bentuk reduplikasi semantis yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Oleh
karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk melengkapi kajian yang telah dilakukan.
Kajian
ini
memfokuskan pembahasan me- ngenaitipe-tipe reduplikasi
semantis bahasa Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirinci permasalahan yang akan dibahas dalam kajianini,
(1) Apa sajakah tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia berdasarkan bentukdan
(2) apa sajakahtipe-tipe reduplikasi
se- mantis bahasa Indonesia berdasarkan makna dan fungsi.Kajian
ini
bertujuanuntuk
mendeskripsi-kan
(1) tipe-tipe,reduplikasi semantis bahasa Indonesia berdasdrkan bentuk dan (2) mendes- kripsikan tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia berdasarkan makna dan fungsi. Ka-jian ini
diharapkan dapat melengkapi kajian mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia, khususnya mengenai reduplikasi semantis ba- hasa Indonesia.L
2.
LandasanTeori
Secara garis besar, teori yang digunakan ialah teori reduplikasi secara
umum
dan teori reduplikasi semantis secara khusus. Berikutini
penjelasan lebih lanjut.
2.L Pengertian
Reduplikasi
Reduplikasi adalah adanya pengulangan atau repetisi sehingga menghasilkan kata tu- runan. Beberapa tata bahasawan memberikan batasan mengenai konsep reduplikasi, antara
lain Keraf
(1,991),Ramlan
(2001), Samsuri (1988), Matthews (1978),Alwi
et al (2003), dan Zamzani (1993: 44). Keraf (199\:149) menya- takan bahwareduplikasi
merupakan sebuah bentuk gramatikal yang berwujud pengganda- an sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata. Ramlan (2001: 38) menyatakan bahwa proses pengulangan atau reduplikasi merupa- kan pengulangan bentuk, baik seluruhnya mau- pun sebagian, baik dengan variasi fonemrrolr:
pun tidak. Hasil pengulangan
itu
berupa kata, dan bentuk yangdiulang
merupakan bentuk dasar.82 Widyapanfl, Volume 41, Nomor 1, Juni 2013
Samsuri (1988: 14) menyatakan bahwa re- duplikasi merupakan pengulangan bentuk ka- ta, yang dapat
utuh
atau sebagian. Matthews (1,978: 127) mengungkapkan bahwaredupli-
kasi merupakan repetisiyang
dapat parsial,tetapi dapat pula keseluruhan. AIwi et
nl.(2003: 166) memuat pernyataan bahwa redu- plikasi sebagai proses pengulangan kata, baik secara keseluruhan (utuh) maupun secara se- bagian.
Dari
berbagai uraiandari
paraahli
yang telah dikemukakan tersebut, dinyatakan bah-wa hakikat reduplikasi
adalahrepetisi
atau pengulanganbentuk. Bentuk yang diulang
(baik yang menggunakanistilah
kata, bentuk kata, bentuk dasar, atau leksem) dapat diulang secarautuh
atau sebagian.Hasil
reduplikasi berupa kata, termasuk kata turunan atau katakompleks. Tidak demikian halnya
dengan Simatupang (1983) yang menyatakan bahwa reduplikasi dapat juga didasarkan pada peng- ulangan bentuk yang mempunyai makna yang bersinonim.Seperti telah disinggung dalam pendahu- luan bahwa pengelompokkan reduplikasi ber- macam-macam. Tata bahasawan
tidak
meng- gunakan dasar yang samauntuk
mengelom- pokkan reduplikasi. Samsuri (1988:91) menye- butkan ada tiga macam reduplikasi,yaitu
(1)reduplikasi utuh,
(2) reduplikasi parsial, dan (3) reduplikasi semu. Kridalaksana(1985:22-
23) menyebutkan ada lima macam reduplikasi, yaitu (1) reduplikasi penuh, (2) reduplikasi ber- infiks, (3) reduplikasi dengan variasi fonem, (4) reduplikasi dengan pengulangan suku kata per- tama dengan atau tanpa pelemahan vokal, dan (5) reduplikasi antisipatoris.
Alwi
et al. (2003:166) menyebutkan ada empat macam reduplikasi, yaitu (1) pengulang- an utuh, (2) pengulangan salin suara, (3) peng- ulangan sebagian, dan (4) pengulangan disertai pengafikan. Parera (1988:51-55)
menyebutkan ada enam bentuk ulang,yaitu
(1) simetris, (2)regresif, (3) progresrt,
$)
konsonan, (5) vokal,dan (6) bentuk ulang reduplikasi.
Ramlan(2001,:41,-45) menyebutkan ada empat macam pengulangan,
yaitu
(1) pengulangan seluruh- nya, (2) pengulangan sebagiary (3)pengulangan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, dan (a) pengulangan dengan perubahan fonem.Berdasarkan pengamatan
terhadap
pe- ngelompokkan yang telah dilakukan oleh paraahli
tersebut,Zamzani
(1993:48-50)
mena-warkan tiga kriteria pemerian reduplikasi,
yaitu (1) arah perulangan/ (2) bentuk perulang- ary dan (3) bentuk dasar. Berdasarkan kriteria arah perulangan,reduplikasi
dikelompokkan menjadi dua,yaitu
(1)'reduplikasi konsekutif atau progresif (bentuk,!lrngu.,.,ya berada sesu- dah bentuk dasar) dan (2) reduplikasi antisipa- toris atau regresif (bentuk ulangannya berada sebelumbentuk
dasar). Berdasarkan bentuk perulangannya, reduplikasi dapat dikelompok- kan menjaditiga, yaitu (1) reduplikasi ututr, (2)reduplikasi sebagian atau parsial, dan (3) redu-
plikasi
variasi. Berdasarkan bentuk dasarnya, reduplikasi dairat dikelompokkan menjadi dua,yaitu
(1) reduplikasi bentuk dasar asal dan (2)reduplikasi bentuk dasar turunan atau jadian.
Dari berbagai pengelompokkan itu ternya-
ta ada
data-data kebahasaandalam
bahasa Indonesiayang tidak dapat dimasukkan
ke dalam pengelompokkan tersebut, seperti kata hit nm-l e g art 4 g a g ah-b er ani, I e t ih-l e s u. Kata-kata tersebut tidak mungkin dikelompokkan ke da-lam
pengulanganseluruhnya,
pengulangan sebagian, pengulangan kombinasi ataupun pe- ngelompokan yanglain. Hal itu
dikarenakan proses pengulangannya memang berbeda dari reduplikasi-reduplikasi yang telah disebutkan.Proses pengulangan kata-kata
itu
tidak berda-sarkan bentuknya, melainkan
berdasarkan makna leksikal kata-kata tersebut yang bersi- nonim.2.2
Reduplikasi
SemantisSeperti telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya bahwa proses reduplikasi tidak ha- nya berdasarkan pada pengulangan bentuk, te-
tapi dapat juga berdasarkan pada peng-
ulangan makna leksikalnya yang bersinonim.
Simatupang (1983) dalam disertasinya meng- gunakan istilah reduplikasi semantis untuk me-
nyebut
pengulanganyang
didasarkan pada pengulangan maknaleksikalnya
yang bersi- nonim.Reduplikasi
semantistidak
dapat iepas dari semantik leksikal. Dalam kajian reduplikasi semantis, dasar yang digunakanuntuk
meng-ulang ialah
maknaleksikal
yang bersinonim dari dua bentukyang berbeda. Semantik adalahbidang linguistik yang mengkaji
hubungan antara tanda-tandalinguistik
dengan hal-halyang ditandainya.
Dengan katalain,
bidang studi dalam linguistik yang mempelajari mak- na atau arti dalam bahasa (Chaer, 2008:2). Me-nurut Wedhawati
(1998:4)
orang Indonesia yang pertama kali membahas semantik leksikal adalah Slametmuljana (1964). Setelahitu
pene-litian
semantik leksikal di Indonesia mulai ber- kembang.Chaer (2008: 60) menyatakan bahwa kata leksikai merupakan bentuk adjektif yang ditu-
runkan dari
bentuk nomina leksikon (aocabu- lary, kosakata, perbendaharaan kata). Satuandari
leksikon ialah leksem,yaitu
satuan kata yang bemakna. Makna leksikal dapat juga di- artikan makna yang sesuai dengan acuannya/makna yang sesuai dengan hasil observasi pan- ca indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.
Sependapat dengan itu, Aminuddin
(2003: 87
-93)
menyatakan bahwa semantikleksikal
adalah makna lambang kebahasaan yang masih bersifat dasar, yakni belum meng- alami konotasi dan hubungan gramatik dengan kata yang lain. Dalam semantik leksikal diseli-diki
makna yang ada pada leksem-leksem dari bahasa tersebut. Oleh karenaitu,
makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut makna lek- sikal.Istilah'leksem'
pertamakali
digunakan olehWhorf
(1983) via Kridalaksana (1987:51).Ada lima
pernyataanuntuk
leksem,yaitu
(1)satuan terkecil dalam leksikory (2) satuan yang
84 Widyapanui, Volume 41, Nomor 1, Juni 2013
berperan sebagai
input
dalam proses morfo- logis, (3) bahan baku dalam proses morfologis, (4) unsur yang diketahui adanyadari
bentuk yang setelah disegmentasikan daribentuk kom- pleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks, dan (5) bentuk yang tidak tergo-long
proleksem ataupartikel
(Kridalaksana, 1987: 52).Reduplikasi,
sebagaimana halnya proses morfologis yang lairy seperti afiksasi, pe- mendekaru derivasi balik, perpaduan, atau de- rivasi zero berasal dari input yang berupa lek- semdan menjadi
outputyang berupa
kata.Peristiwa itu dapat digambarkan
sebagaiberikut
(KridalaksLna, 1987: 55).Ahli yang telah menyinggung
pemba- hasan mepgenaireduplikasi
semantis ialah Simatupang. IVIenurut Simatupang (19ffi: a5) reduplikasi semantis merupakan pengulanganarti melalui
penggabungan dua bentuk yang mengandungarti yang sinonim. Bentuk itu
dapat berupa morfem bebas dan morfem ter- ikat. Tidak sebagaimana pendapat Alisyahbana (1.975),Slametmuljana
1960),dan Bijleveld
(1943)via Simatupang
(1983: 87)yang
me- ngatakan bahwa hasil penggabungan dua kata yang sinonim tersebut termasuk kata majemuk' Ramlan (2001) yang sebelumnya mengidentifi-kasi
kata-kata seperti sunyi-senyapke
dalam kelompok kata ulang yang mengalami peng-ulangan
dengan perubahanfonem
akhirnya menggolongkan kata tersebutke
dalam kata mhjemuk yang berasal dari morfem unik.Simatupang (1983: 87) mengatakan bah- wa reduplikasi semantis termasuk proses mor- femis. Alasannya,
reduplikasi
semantis me- nyangkut pengulanganarti
yang diwujudkan dengan penggabungan kata lain yang sinonim dengan dasar kata (konstituen pertama). Beda-nya dengan reduplikasi morfemis
adalahterletak pada pengulangan arti ini. Reduplikasi
morfemis merupakan pengulangan bentuk kata (seluruhnya atau sebagian), sedangkan redu- plikasi semantis merupakan pengulangan arti.
Hal ini
berbeda dengan kata majemuk yang memiliki pengertian merupakan gabungan mor- fem dasar yang memiliki makna baru dan me-miliki struktur
tetap, artinyatidak
dapat disi- sipi katalain
atau dipisahkan strukturnya ka-rena
akanmemengaruhi arti
secara keselu- ruhan.Kata hasil reduplikasi semantis termasuk bentuk beku (freeze). Hal ini dikarenakan konsti- tuennya ada yang
tidak
terdapatlagi
sebagai morfem bebas dalam bahasa Indonesia, misal- nya -renta dalam tua-renta, -kuyup dalam basah-kuyup, -rin dalamsuka-ria. Selain itu, tempat ma- sing-masing konstituen tidak dapat begitu saja dipertukarkary misalny a dendam-kesunmt bukan kesumat-dendnm, duka-nestapa
bukan
nestnpa- duka.3.
MetodePenelitian
ini dilakukan
dengantiga
ta- hapan penelitian,yaitu
(1) tahap pemeroleh- an data, (2) tahap penganalisisan data, dan (3)tahap penyajian
hasil
analisis. Tahap peme- rolehan datadilakukan
denganteknik
simakketik, yaitu
disimak dengan membacauntuk
selanjutnyadiketik
(dianalogikandari
simak catat) (lih. Sudaryanto, 1988: 4). Data bersum- berdari
Ksmus Besar Bahasa lndonesia (Pusat Bahasa, 2008). Data dalam penelitianini
ada- lah bentuk kebahasaan yang diduga merupa- kan hasil proses morfemis yang berupa redu- plikasi semantis.Teknik simak diterapkan pada pembacaan sumber data yang berupa kamus. Pembacaan sumber data
dilakukan
dengan menerapkan metode padan referensial, artinya alat penentu yang digunakan beradadi
luar, terlepas, dantidak menjadi
bagiandari
bahasayang
ber- sangkutan. Data diperoleh dengan memperha- tikan makna masing-masing unsur yang didu- ga sebagai reduplikasi semantis. Pertnmn, rnak-na masing-masing unsur mempunyai kemirip-
an makna
dan kedua, maknadari
gabungan unsur tersebut tidak membentuk makna baru.Hal ini
dilakukanuntuk
membedakan antarareduplikasi
semantis dengan kata majemuk.Perhatikan analisis berikut.
Gabungan kata rumoh-snkit memiliki unsur rumnh yang bermakna bangunan untuk tempat tinggal dan unsur sakit yang bermakna berasa tidak nyaman
di
tubuh atau bagian tubuh ka- rena menderita sesuatu. Makna masing-masing unsur jika digabung akan menghasilkan makna yang berbeda dari konsdp makna yang terdapatdalam
pemakaian bailasa Indonesia. Dalam pemakaian bahasa Indonesia rumah sakit ber- maknarumah
tempatuntuk
merawat orang yang sakit. Maknaini
tercipta bukan karena penggabungan makna masing-masing unsur- nya melainkan makna yang berada di luar mak- na unsur-unsurnya. Meskipun maknaini
dapat ditelusuri dari makna unsur-unsur yang mem- bentuknya. Dapat dikatakan bahwa gabungan kataini
merupakan kata majemuk. Halini
ber- beda dengan analisis berikut.Gabungan kata b as ah-kuy up merniliki unsur basnh yang bermakna 'mengandung
air
atau barangcair'
dan unsur kuyup yang bermakna 'basah atau lembab'. Masing-masing unsur me-miliki
kemiripan antara unsur satu dan unsur lainnya. Gabungan kata tersebut dapat dimak- nai'basah sekali atau sangat basah'. Dapat di- katakan bahwa gabungan kataini
merupakan reduplikasi semantis. Data-data sepertiinilah yang dikumpulkan
sebagai data penelitian.Data-data yang sudah diperoleh kemudian di- ketik pada kartu data. Selanjutnya, data dikla- sifikasikan sesuai dengan pokok persoalan yang
diteliti.
Teknik ganti digunakan untuk menen-tukan bentuk dan kategorial kata
(Kesuma, 2007: 58). Selain teknik ganti, teknik sisip danteknik balik
juga digunakanuntuk
menentu- kan kadar keeratan satuan kebahasaan dari da- ta yang dianalisis. Penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal.4. Tipe-tipe Reduplikasi
Semantis Bahasa IndonesiaTipe-tipe reduplikasi semantis bahasa In- donesia dalam kajian
ini
didasarkan pada dua hal, yaitu (1) tipe-tipe redupiikasi semantis ber- dasarkan bentuk dan (2) tipe-tipe reduplikasi semantis berdasarkan makna dan fungsi.4.1.
Tipe-tipe Reduplikasi
Semantis Berdasarkan BentukBerdasarkan
bentuknya reduplikasi
se- mantis dapat terjadidari
penggabungan mor- fem bebas dan morfem bebas, morfem bebas dan morfem terikat, serta morfem terikat dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfemyang tanpa keterkaitannya
dengan morfem lain dapat iangsung digunakan dalam pertutur- an. Morfem terikat adalah morfem yang harus terlebih dahulu bergabung dengan morfem lainuntuk dapat digunakan dalam pertuturan
(Chaer, 2008:17).Morfem bebas dan morfem terikat tersebut dapat berwujud kata benda, kata sifat, maupun prakategorial. Kata benda atau nomina adalah kelas kata yang biasanya dapat berfungsi seba- gai subjek atau objek dari klausa, kelas kata
ini
sering berpadanan dengan orang, benda atauhal lain
yang dibendakan dalam alamdi
luar bahasa (Kridalaks ana, 200L: 1,45 -1,46).Kata
sifat atau ajektiva adalah kata yang menerang- kan kata benda. Kataini
dapat bergabung de- ngan kata tidak, dandapat didampingi partikel, seperti lebih, sangat, agak (Kridalaksana, 2005:59). Prakategorial disebut juga bentuk dasar ter-
ikat
(Chaer,2008:17).4.1.1"
Reduplikasi
Semantis yangterdiri
atas
Morfem
Bebas danMorfem
Bebas Tipereduplikasi ini dibentuk dari dua mor- fem bebas.Dua
morfemini
dapatberwujud
dari gabungan kata benda dan kata benda, kata sifat dan kata sifat, maupun prakategorial dan prakategorial.4J1,.7.L
Berwujud
Kata Benda dan Kata BendaReduplikasi
semantisyang berupa
ga- bunganmorfem
bebas dapatberwujud
katabenda dan kata benda. Berikut contoh redupli-
kasi
semantisyang dibentuk dari
gabungan kata benda dan kata benda. Contoh: (1) dam- batara, (2) hnrta-benda, dan (3) sentak-belukar.Pada contoh (1) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem bebas dewa dan batnra, pada con-
toh
(2) dibentuk dari morfem bebas harta danbenda, dan pada contoh (3) dibentuk dari mor- fem bebas semak
dln
belukar.Reduplikasi serirantis di atas terbentuk atas gabungan morfem bebas yang berwujud kata benda dan kata benda.
Hal itu
dapat dibukti- kan bahwa kata-kata tersebut dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dalam klausa. Misal- nya D ewa-batara mengabulkan permohonan- nya. Dewn-batara pada klausa tersebut mempu-nyai
funggi sebagai subjek. Selain dapat ber- fungsi sebagai subjek atau objek dalam klausa, kata bendatidak
mempunyai potensiuntuk
bergabung denganpartikel
tidak, mempunyai potensi untuk didahului partikel dnri. Misalny a,*tidnk senmk-belukar (secara semantis
tidak
ter- terima). Namun, dapatdidahului
partikel dari.Misalnya pada klausa, ular itu kelaar
dari semak-belukar.4.L.L.2Berwujud
KataSifat
dan Kata Sifat Selainberwujud
kata benda, reduplikasi semantis yang berupa gabungan morfem bebas dapat berwujud kata sifat dan kata sifat. Beri- kut contoh reduplikasi semantis yang dibentuk dari gabungan kata sifat dan kata sifat. Contoh:(4) cerdik-pnndai, (5) arif-bijaksana, dan (6) gagah- berani. Pada contoh (4) reduplikasi semantis di-
bentuk dari
morfem bebas cerdik dan pandai, pada contoh (5) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem bebas arif danbiiaksnna, dan pada contoh (6) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem bebas gagah dan berani.Reduplikasi semantis di atas terbentuk atas
kata yang berwujud kata sifat dan kata sifat.
86 Widyapanrl, volume 41, Nomor 1, Juni 2013
Hal itu
dapat dibuktikan bahwa kata-kata ter- sebut dapat bergabung dengan kata tidnk, rrri- salnya tidak arif, tidak bijaksana. Selainitu,
katasifat
dapatdidampingi partikel,
seperti lebih, sangnt, atau agak. Dari data yang ada misalnya dapat dibentuk menjadi lebih gagah, leb ih b er nni, sangat pandai, agak pandai.4.L.L.3
Berwuiud
Prakategorial dan PrakategorialReduplikasi semantis yang berupa gabung- an morfem bebas dapat juga
berwujud
prak- tegorial dan praktegorial. Berikut contoh redu- plikasi semantis yang dibentuk dari gabungan praktegorial dan praktegorial. Contoh: (7) tegur- sapa, (8) cumbu-rayu, dan (9) senda-gurau. Pada contoh (7) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem bebas tegur dan sapa, pada contoh (8) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem be- bas cuntbu dan rayu, dan pada contoh (9) redu-plikasi
semantis dibentukdari
morfem bebas senda dan gurtru,Reduplikasi semantis di atas terbentuk atas bentuk prakategorial dan bentuk prakategorial.
Bentuk-bentuk tersebut belum
memiliki
kate- gori sehingga tidak dapat digunakan dalam tu- turan. Bentuk-bentuk itu dapat diberi imbuhan agar dapat digunakan dalam tuturan.4.1.2
Reduplikasi
Semantis yangterdiri
atasMorfem
Bebas danMorfem Terikat
Tipe reduplikasi ini dibentuk dari dua mor- fem,
yaitu
morfem bebas dan morfem terikat.Seperti halnya pada reduplikasi semantis yang dibentuk dari gabungan dua morfem bebas, tipe reduplikasi
ini
juga dapat berwujud kata ben- da, kata sifat, dan prakategorial. Berikut uraian lebih lanjut mengenai tipe reduplikasi yang di- bentuk dari morfem bebas dan morfem terikat.4.1.2.LBerwujud
Kata Benda dan Kata BendaReduplikasi
semantis yang berupa gab- ungan morfem bebas dan morfemterikat
da-pat berwujud kata benda dan kata
benda.Berikut contoh
reduplikasi
semantis yangdi-
bentukdari
kata benda dan kata benda. Con- toh, (10) sayur-mayur, (11) rakyat-jelata, dan (12) knuru-kerabat. Pada contoh (10) reduplikasi se-mantis dibentuk dari morfem bebas sayur dan morfem terikat mayu1 pada contoh (11) redu-
plikasi
semantis dibentukdari
morfem bebas rakyat dan morfem terikat jelata, dan pada con- toh (12)reduplikasi semantis dibentuk dari mor- fem bebas kaum dan morfem terikat kerabat.Kata sayur, rakyat, dan kaum merupakan morfem bebas yang berwujud kata benda. Ka- ta-kata tersebut dapat,digunakan dalam per- tuturan tanpa kehadirair morfem lain. Sedang- kan kata nlayur, jelata, dan kernbat merupakan morfem terikat yang berwujud kata benda. Ka- ta-kata tersebut hanya dapat digunakan dalam
pertuturan
apabila bersama dengan morfem1ain.
4.1.2.2
Berwuiud
KataSifat
dan Kata Sifat Selainbefwujud
kata benda, reduplikasi semantis yang berupa gabungan morfem bebas dan morfem terikat dapat berwujud kata sifat dan kata sifat. Berikut contohreduplikasi
se- mantis yang dibentuk dari gabungan kata sifat dan kata sifat. Contoh: (13) hitant-legam, (14) sunyi-seny ap, dan (15) muda-belia.Pada contoh (13) reduplikasi semantis di- bentuk dari gabungan morfem bebas hitam dan morfem
terikat
legam, pada contoh (14) redu- plikasi semantis dibentuk dari gabungan mor- fem bebas sunyi danmorfem terikat senynp, dan pada contoh (15) reduplikasi semantis dibentuk dari gabungan morfem bebas muda danmorfem terikat belia. Kata hitam, sunyi, dan muda meru- pakan morfem bebas yang berwujud kata sifat.Sedangkan kata legnm, senyap, dan belia meru-
pakan morfem terikat yang berwujud
kata sifat.4.1,.2.3
Berwujud
Prakategorial dan PrakategorialSelain berwujud kata benda dan kata sifat
reduplikasi
semantis yang berupa gabungan morfem bebas dan morfem terikat dapat ber-wujud prakategorial dan prakategorial. Berikut contoh reduplikasi semantis yang dibentuk dari gabungan
prakategorial dan prakategorial.
Contoh: (1.6) duka-nestapn, (17) keluh-kesnh, dan
(1,8) coreng-moreng.
Pada contoh (16) reduplikasi semantis
di
bentuk dari gabungan morfem bebas duka dan morfem terikai nestapn, pada contoh (17) redu- plikasi semantis dibentuk dari gabungan mor- fem bebas keluh dan morfem terikat kesah, dan pada contoh (18) reduplikasi semantis dibentuk dari gabungan morfem bebas corengdan morfem terikat nloreng. Kata duka, keluh, dan coreng me- rupakan morfem bebas yang berupa prakatego- rial. Kata nestnpa, kesah, danffioreng merupakan morfem terikat yang berupa prakategorial.
4.1.3
Reduplikasi
Semantis yangterdiri
atasMorfem Terikat
dan Morfem Terikat Tipe reduplikasi ini dibentuk dari dua mor- fem, yaitu morfem terikat dan morfem terikat.Reduplikasi semantis yang berupa gabungan morfem terikat dan morfem terikat dapat ber-
wujud
kata benda dan kata benda, kata sifat dan kata sifat, serta berwujud prakategorial dan prakategorial. Berikutini
uraian lebih lanjut.4JI,.3,L
Berwujud
Kata Benda dan Kata BendaReduplikasi yang berupa gabungan dua morfem terikat dapat berwujud kata benda dan kata benda. Berikut contoh reduplikasi semantis yang dibentuk dari gabungan kata benda dan
kata benda. Contoh, (18)
rau)a-paya, (19) handai-tolsn, dan (20) biang-keladi. Pada contoh (18) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem terikat rawa dan morfem terikat pnya, pada con- toh (19)redupiikasi semantis dibentuk dari mor- fem terikat handai dan morfem terikat tolnn,dan pada contoh (20) reduplikasi semantis diben-tuk
dari morfem terikat biang dan morfem ter- ikat keladt. Kata rawa, paya, handni, tolnn, biang, dankelndi merupakan morfem terikat yang ber-wujud
kata benda.4.7.3.2
Berwujud
KataSifat
dan Kata Sifat Selainberwujud
kata benda, reduplikasi semantis yang merupakan gabungan morfem terikat dapat berwujud kata sifat dan kata sifat.Berikut contoh reduplikasi semantis yang ber-
wujud
katasifat
dan kata sifat. Contoh: (21) sedu-sednn, (22) hiruk-pikuk,dan
(23) porak- pornnda. Pada contoh (21) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem terikat sedu dan morfem terikat sedan, pada contoh (22) reduplikasi se-mantis dibentuk dari morfem terikat hiruk dan morfem terikat pikuft, dan pada contoh (23) re- duplikasi semantisidibentuk
dari
morfem ter-ikat
porak danmorfem terikat
poranda.Kata
sedu, sednn, hiruk, pikuk, porak, dan poranda me- rupakan morfem
terikat
yangberwujud
kata sifat.4.1..3.3
Berwuiud
Prakategorial dan PrakategorialReduplikasi semantis yang berbentuk ga- bungan morfem terikat dan morfem terikat da- pat juga berwujud gabungan prakategorial dan prakategorial. Berikut contoh tipe reduplikasi semantis yang berwujud prakategorial dan pra- kategorial. Contoh: (2a) jeribpayah, (25) belns- kasih, dan (26) suka-ria. Pada contoh (24) redu- plikasi semantis dibentuk dari morfem terikat jerih danmorfem terikat payah, pada contoh (25) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem ter-
ikat
belns dan morfem terikat kasih, dan pada contoh (26) reduplikasi semantis dibentuk dari morfem terikat suka danmorfem terikat ria.Kata jerih, payah, belas, kasih, suka, dania
merupakan morfem terikat yang berwujud prakategorial.4.ZTipe-tipe Reduplikasi
Semantis BerdasarkanMakna
dan FungsiReduplikasi
semantismenyatakan
dua macam makna,yaitu
(1) berbagai (kumpulan) dari berbagai jenis dasar dan (2) intensif. Redu- plikasi semantis yang bermakna berbagai (kum- pulan) dari berbagai jenis dasar memiliki fungsi menyatakan bermacam-macam. Reduplikasi88 Widyapanri, volume 41, Nomor 1, Juni 2013
semantis
yang bermakna intensif memiliki
fungsi menyangatkan. Berikutini
dua tipe re- duplikasi tersebut.4.2.1
Reduplikasi
Semantis yang MenyatakanMakna
Berbagai(Kumpulan)
dari
Berbagaijenis
DasarReduplikasi
semantisyang
menyatakan makna berbagai (kumpulan) dari berbagai jenis dasar merupakanreduplikasi
semantis yangkonstituennya
mengandung makna berbngoiatau bermacam. Berikut contoh tipe reduplikasi semantis
yang
menyatakan makna berbagai (kumpulan). Contoh, (27) hal-ihwal, (28) adat- istindat, (29) lauk-pauk, (30) pepatnh-petitilu dan (31) tipu-daya.Pada contoh (27) dapat dimaknai berba- gai macam hal, pada contoh (28) dapat dimak- nai berbagai macam adat, pada contoh (29) da- pat dimaknai berbagai macam laut, pada con-
toh
(30) dapat dimaknai berbagai macam pe- patah, dan pada contoh (31) dapat dimaknai berbagai macam tipuan.4.2.2
Reduplikasi
Semantis yang MenyatakanMakna Intensif
Selain menyatakan makna berbagai (kum- pulan) dari berbagai jenis dasar, reduplikasi se- mantis juga menyatakan makna intensif. Me- nurut Simatupang (1983: 107 -108), makna in- tensif yang terdapat dalam reduplikasi semantis
dapat bermakna lemah lembut dan
pecahbelah. Makna lemah lembut
ini
dapat diperinci menjadi sangat atau sekali. Berikut contoh tipe reduplikasi semantis yang menyatakan intensif lemah lembut. Contoh: (32) sopnn-snntun, (33)I anfu at -l aun, (34) mu dn-b eli a, (35) ke cil -mun gil, dan (36) lemah-lunglai,
Pada contoh (32) dapat dimaknai sangat sopan atau sopan sekali, pada contoh (33) da- pat dimaknai sangat lambat atau lambat sekali, pada contoh (34) dapat dimaknai sangat muda atau muda sekali, pada contoh (35) dapat di- maknai sangat kecil atau kecil sekali, dan pada
contoh (36) dapat dimaknai sangat lemah atau lemah sekali.
Reduplikasi semantis
yang
menyatakan makna intensif pecah belah menyatakan makna mengeraskan arti kata dasar. Contoh: (37) tum- palrruah, (38) carupur-aduk, dan (39) tumpnng- tindih. PadacontohQn
dapat dimaknai sebagai hal yang sangat tumpah, pada contoh (38) dapat dimaknai sebagai hal yang sangat bercampur, dan pada contoh (39) dapat dimaknai sebagai hal yang sangat tumpang.5. Simpulan i
Reduplikasi semantis merupakan peng- ulangan
melalui
penggabungandua
bentuk yang mengandungarti
yang sinonim. Bentuk yang digabung dapat berupa (i) morfem bebas dan morfem bebas, (ii) morfem bebas dan mor- fem terikat, serta (iii) morfem terikat dan morfem terikat. Bentuk-bentukitu
dapat berwujud kata benda, kata sifat, dan bentuk prakategorial. Re-duplikasi
semantis menyatakandua
makna, yaitu (1) berbagai (kumpulan) jenis dasar, yar.g memiliki fungsi menyatakan bermacam-macam dan (2) intensif, yangmemiliki
fungsi menya- ngatkan.Daftar
PustakaAlisyahbana, SutanTakdir. 1975. Tata Bahasa
Bnru Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka
Dian
Rakyat.Alwi,
Hasan et aI.2003. Tata Bahnsa Baku Bahasa Indonesin. Jakarta: Balai Pustaka.Aminuddin. 2003. S emantik P engantar Studi T en- tang Makna. Bandung: Sinar Baru Algen- sindo.
Chaer,
Abdul.
2008. Morfologi Bnhasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.Keraf, Gorys. 1991.. Tata Bahasa Rujukan Bahasa lndonesia. Jakarta: Grasindo.
Kesuma,
Tri Mastoyo Jati,
2007. Pengnntar (Metode) Penelitinn Bahasa. Yogyakarta:Carasvatibooks.
Kridalaksana, Harimurti. 1985. T ata B ahasa D es-
kriptif
Bnhasa lndonesia: Sintnksis. Jakarta:Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Depdikbud.1988. Beberapn Prinsip Perpnduan Leksent
dalam
Bahnsalndonesia. Seri
ILDEP.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
2001. Knmus
Linguistik. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.Ramlan,
M.
2001. (cetakan ke-1":1967). Morfo- logi Suntu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta:CV Karyono.
Sanrsuri. 1988. Morfologi dnn Pembentuknn Knta.
Jakarta: Dirjen
Dikti
Depdikbud.Simatupang,
Maurits
Dakhtar Soaloon. 1983.Reduplikasi Morfemis Bnlwsa lndonesia. (Seri ILDEP). Jakarta: Penerbit Djambatan.
Slametmuljana. 1960. Kaidah Bahasa Indonesia.
jakarta:
Djambatan.Sudaryanto.
1988. MetodeLinguistik
Bagian Kedun: Metode dan Aneka Teknik Pengum-pulnn
Dnta,Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.Wedhawati. 1998. "Medan Leksikal Verbal Indo- nesia
yang
BerkomponenMakna
Suara Insani". Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah MadaiZamzani. 1993. " Pemerian Wujud Reduplikasi Bahasa