TOPIK IV
ANALISIS KROMOSOM MANUSIA DAN ALEL GANDA A. PENDAHULUAN
Kromosom adalah struktur nukleoprotein yang membawa informasi genetik.
Struktur ini terletak di dalam inti sel dan berkumpul membentuk genom. Pada organisme terdapat dua macam kromosom, yaitu kromosom seks (gonosom) yang menentukan jenis kelamin dan kromosom tubuh (autosom) yang tidak menentukan jenis kelamin. Kromosom memiliki dua fungsi utama, yakni untuk memastikan DNA terpisah dalam porsi yang sama pada setiap pembelahan sel dan untuk menjaga integritas dan ketepatan replikasi genom pada setiap siklus sel. Elemen yang bertanggung jawab terhadap proses ini adalah sentromer, telomer, dan unit replikasi.1
Kromosom ialah struktur pembawa gen yang mirip benang yang terdapat di dalam nukleus. Masing-masing kromosom terdiri atas molekul DNA yang sangat panjang dan protein terkaitnya. Kromosom adalah struktur dalam sel yang mengandung infomasi genetik. Citra kromosom saat sel dalam fase metafase berguna untuk mendiagnosis kelainan genetik dan mendeteksi kemungkinan timbulnya kanker.
Analisa citra kromosom dilakukan oleh seorang ahli sitogenetik untuk mendeteksi adanya kerusakan kromosom baik secara jumlah maupun struktur. Kromosom manusia normal terdiri dari 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom gonosom, baik XX maupun XY.2
Kariotipe ialah metode atau cara untuk pengorganisasian kromosom suatu sel dalam kaitanya dengan jumlah, ukuran dan jenis. Kariotipe bermanfaat untuk mengidentifikasi abnormalitas tertentu dari kromosom. Teknisi medis biasanya mempersiapkan kariotipe dengan menggunakan komponen darah berupa Leukosit (sel darah putih).
Kromosom dapat dibagi menjadi dua jenis autosom, dan kromosom seks. Sifat genetik tertentu yang terkait dengan seks, dan diwariskan melalui kromosom seks.
Autosom berisi sisa informasi turun-temurun genetic. Semua bertindak dengan cara yang sama selama pembelahan sel. Sel manusia memiliki 23 pasang kromosom, (22 pasang autosom dan satu pasang kromosom seks) memberikan total 46 sel per. Selain ini, sel-sel manusia memiliki ratusan salinan dari genom mitokondria Sekuensing
1 Kurniasih, Nadia. "PRAKIRAAN USIA GIGI PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME MENGGUNAKAN METODE SCHOUR-MASSLER DAN METODE BLENKIN-TAYLOR DI SEKOLAH LUAR BIASA KABUPATEN JEMBER. 2017"
2 Ramadhani, Dwi, Yanti Lusiyanti, Zubaidah Alatas, and Sofiati Purnami. "Semi otomatisasi kariotipe untuk deteksi aberasi kromosom akibat paparan radiasi." In Jurnal Forum Nuklir, vol. 6, no. 2, pp. 178-186.
2012.
genom manusia telah memberikan banyak informasi tentang masing-masing- kromosom. Jumlah gen merupakan perkiraan karena sebagian didasarkan pada prediksi gen. Panjang kromosom Total perkiraan juga, berdasarkan perkiraan ukuran- daerah heterochromatin unsequenced.3
B. TUJUAN
Menyusun kariotipe kromosom dan belajar menganisa hasil kariotipe C. ALAT DAN BAHAN
1. Kertas berisikan gambar kromosom dalam keadaan acak 2. Gunting
3. Lem 4. Kertas A4
5. Alat tulis termasuk penggaris D. CARA KERJA
Masing masing lembar kerja dikerjakan dengan cara sebagai berikut:
1. Membaca bagian studi kasus yang terdapat pada poa lembar lampiran!
2. Mempersiapkan kertas pada bagian lampiran yang berisikan gambar kromosom dalam keadaan acak!
3. Menggunting masing-masing gambar kromosom menggunakan gunting 4. Memasangkan masing-masing kromosom dengan kromosom homolognya
5. Menempelkan pengelompokan kariotipe kromoso sesuai dengan bentuk kromosom dan urutan nomor
6. Membuat Analisa dari hasil kariotipe tersebut
E. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan kariotipe kromosom manusia normal dapat dilihat susunan kromosom manuisa yang terdiri dari 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom seksual, pada laki laki XY dan pada perempuan XX. Namun, pada kehidupan manusia, susunan kromosom tersebut dapat berubah karena dipengaruhi berbagai faktor. Berikut ini beberapa kelainan yang diakibatkan oleh kelainan kromosom:
1. Laki-Laki Normal dan Wanita Normal
3 Stansfield, William. Terjemahan. Genetika Edisi ke-2.Jakarta: Penerbit Erlangga. 1991
Jumlah kromosom manusia normal memiliki 46 kromosom atau 23 kromosom homolog. Di mana, 22 pasang kromosom merupakan autosom dan 1 pasang kromosom merupakan gonosom. Autosom adalah kromosom yang membawa sifat tubuh/fisik tubuh seperti warna kulit, bentuk hidung, tinggi, dan lain sebagainya, Sedangkan gonosom adalah kromosom yang menjadi penentu jenis kelamin yang disimbolkan dengan kromosom X dan kromosom Y.
Jika kromosom gonosom X dan Y bergabung menjadi XY maka menghasilkan individu baru dengan jenis kelamin laki-laki. Sedangkan jika kromosom X dan X bergabung menjadi XX maka menghasilkan individu baru dengan jenis kelamin perempuan (wanita). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah kromosom manusia normal pada laki-laki adalah 22AA + XY atau 44A + XY. Sedangkan jumlah kromosom pada sebuah sel untuk manusia normal pada perempuan adalah 22AA + XX atau 44A + XX.
2. Turner Syndrome
Gambar 1. Turner Syndrome
Sindrom ini dinamai oleh Henry Turner, seorang endokrinologi Oklahoma, yang digambarkan pada tahun 1938. Sindrom Turner atau Sindrom Ullrich
(disgenesis gonad), ditandai dengan hipogonadisme primer pada fenotipe perempuan. Hal ini terjadi akibat monosomi parsial atau total lengan pendek kromosom X. Pada sekitar 57% penderita sindrom turner, kromosom X hilang sehingga terbentuk kariotipe 45, X.4
Gambar 2. Penderita Sindrom Turner
Komposisi kromosom yang biasa adalah 44 kromosom autosom dan 2 kromosom X. Namun, pada anak perempuan menderita sindrom turner (Disgenesis gonad), yang sebagian atau seluruh dari salah satu kromosom X hilang atau cacat. Gejalanya sindrom turner (Disgenesis gonad) adalah tubuh pendek, webbed neck (kulit diantara leher dan bahunya menyatu, seperti selaput), garis rambut yang pendek pada leher bagian belakangnya, kelopak matanya turun, pembengkakan pada punggung tangan dan puncak kakinya (limfedema), pada leher bagian belakang seringkali ditemukan pembengkakan atau lipatan kulit yang longgar, jari manis dan jari-jari kakinya pendek, kukunya tidak terbentuk dengan baik, perkembangan tulang abnormal (misalnya dada berbentuk seperti tameng, lebar dan datar dengan jarak yang lebar diantara kedua puting susunya). Pada kulitnya terdapat banyak tahi lalat berwarna gelap. Perkembangan seksual sekunder pada masa pubertas tidak terjadi atau mengalami keterbelakangan (rambut kemaluan yang jarang dan tipis, payudara kecil).
3. Klinefelter’s Syndrome
4 WIYASA, Arsana; PUDJIASTUTI, Retno. SINDROMA TURNER (SINDROMA BONNEVIE-URLICH). Jurnal Kedokteran Brawijaya, 2003, 19.3: 96-98.
Gambar 3. kariotipe Klinefelter’s Syndrome
Klinefelter syndrome adalah kelainan genetik yang biasanya banyak terjadi pada pria. Pria dengan kelainan ini, tidak mengalami perkembangan seks sekunder yang normal seperti penis dan testis yang tidak berkembang. perubahan suara (suara lebih berat tidak terjadi), bulu-bulu di tubuh tidak tumbuh; biasanya tidak dapat membuahkan (tidak subur) tanpa menggunakan metoda-metoda penyuburan khusus, yang diakibatkan oleh kelebihan kromosom X. Laki-laki normal memiliki kromosom seks berupa XY, namun penderita Klinefelter syndrome umumnya memiliki kromosom seks XXY. Penderita Klinefelter syndrome akan mengalami infertilitas, keterbelakangan mental, dan gangguan perkembangan ciri-ciri fisik yang diantaranya berupa ginekomastia (perbesaran kelenjar susu dan berefek pada perbesaran payudara), dll.
Sejarah mencatat laporan pertama mengenai Klinefelter syndrome dipublikasikan oleh Harry Klinefelter dan rekannya di Rumah Sakit Massachusetts, Boston. Ketika itu tercatat 9 pasien laki-laki yang memiliki payudara membesar, rambut pada tubuh dan wajah sedikit, testis mengecil, dan ketidak mampuan memproduksi sperma. Pada akhir tahun 1950-an, para ilmuwan menemukan bahwa sindrom yang dialami 9 pasien tersebut dikarenakan kromosom X tambahan pada lelaki sehingga mereka memiliki kromosom XXY.
Pada tahun 1970-an, para ilmuwan menyatakan bahwa kelainan Klinefelter merupakan salah satu kelainan genetik yang ditemui pada manusia, yaitu I dari 500 hingga 1 dari 1.000 bayi laki-laki yang dilahirkan akan menderita sindrom ini.
Penyebab Klinefelter syndrome adalah laki-laki yang mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y; mereka yang mengidap Klinefelter syndrome mempunyai kurang lebih satu tambahan kromosom X. Untuk alasan itu, mereka mungkin digambarkan sebagai pria dengan XXY atau pria dengan sindrom XXY.
Pada kasus-kasus yang jarang, beberapa pria dengan Klinefelter syndrome memiliki sebanyak tiga atau empat kromosom X atau satu atau lebih tambahan kromosom Y.5
Kelebihan kromosom X pada laki-laki terjadi karena terjadinya nondisjungsi meiosis (meiotic nondisjunction) kromosom seks selama terjadi gametogenesis (pembentukan gamet) pada salahsatu orang tua. Nondisjungsi meiosis adalah kegagalan sepasang kromosom seks untuk memisah (disjungsi) selama proses meiosis terjadi. Akibatnya, sepasang kromosom tersebut akan diturunkan kepada sel anaknya, sehingga terjadi kelebihan kromosom seks pada anak.
Gambar 4. Penderita Klinefelter syndrome
Ciri-ciri mental anak laki-laki dengan kromosom XXY cenderung memiliki kecerdasan intelektual IQ di bawah rata-rata anak normal. Sebagian penderita klinefelter memiliki kepribadian yang kikuk, pemalu, kepercayaan diri yang rendah, ataupun aktivitas yang dilakukan dibawah level rata-rata (hipoaktivitas).
Pada sebagian penderita sindrom ini juga terjadi autisme. Hal ini terjadi karena perkembangan tubuh dan neuromotor yang abnormal. Kecenderungan lain yang dialami penderita klinefelter adalah keterlambatan dan kekurangan kemampuan verbal, serta keterlambatan kemampuan menulis. Sifat tangan kidal juga lebih banyak ditemui dibandingkan dengan manusia normal. Pada pasien dewasa, kemampuan seksualnya lebih tidak aktif dibandingkan laki-laki normal.
Gejala klinis dari Klinefelter syndrome ditandai dengan perkembangan seksual yang abnormal atau tidak berkembang, seperti testis yang kecil dan aspermatogenesis (kegagalan memproduksi sperma). Testis yang kecil diakibatkan oleh sel germinal testis dan sel selitan (interstital cell) gagal berkembang secara normal. Sel selitan adalah sel yang ada di antara sel gonad dan dapat menentukan hormon seks pria. Selain itu, penderita sindrom ini juga mengalami defisiensi atau kekurangan hormon androgen, badan tinggi, peningkatan level gonadotropin, dan ginekomastia. Penderita klinefelter akan mengalami ganguan koordinasi gerak badan, seperti kesulitan mengatur keseimbangan, melompat, dan gerakan motor
5 FAJRI, Ari Fuad. Klinefelter Syndrome. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2022, 7.5: 5464- 5472.
tubuh yang melambat. Dilihat dari penampakan fisik luar, penderita klinefelter memiliki otot yang kecil, namun mengalami perpanjangan kaki dan lengan.6 4. Down Syndrome
Gambar 5. Hasil pengamatan pada kariotipe Down Syndrome
Nama Down Syndrome dikenal pada tahun 1866 oleh seorang dokter yaitu Dr.
John Langdon Down dari Inggris. Dokter ini melaporkan adanya kasus hambatan tumbuh kembang psikomotorik dan berakibat gangguan mental. Pada mulanya kelainan genetika ini disebut sebagai Mongolismus, karena ciri fisik penderita mirip dengan ras Mongoloid. Namun istilah tersebut diganti menjadi Down Syndrome sebab barbau rasis dan kelinan ini dapat terjadi pada ras mana pun tanpa membedakan jenis kelamin.
Down Syndrome ini bukan penyakit yang diturunkan tetapi disebabkan oleh adanya kelainan pada kromosom no 21 yang memiliki 3 kembaran (copy), berbeda dengan kromosom normal yang hanya memiliki 2 kembaran. Sehingga kelainan ini secara umum diakibatkan sebagai trisomy kromosom no 21. Selain itu penyebab lain yakni Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan melahirkan bayi dengan Down syndrome. Infeksi virus atau keadaan yang mempengaruhi sisteim daya tahan tubuh selama ibu hamil.7
6 de Oliveira, Rodrigues Vivian, Polisseni Fernanda, Gabriel Duque Pannain, and Carvalho Miralva Aurora Galvão. "Genetics in human reproduction." JBRA Assisted Reproduction 24, no. 4 (2020): 480-491.
7 Putri, Tiara Dita Febriani, Rafli Ramadhan, and Muhammad Noupal. "Building Connections: Parent- Child Relationship and the Development of Motor Skills in Children with Down Syndrome." UInScof 1, no. 2 (2023): 895-905.
Gambar 6. Penderita Down Syndrome
Ciri-ciri dari penderita Down Syndrome memiliki tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol antara lain:
a. Berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar
b. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).
c. Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
d. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics).
Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain.
Komplikasi yang mungkin terjadi pada anak Down Syndrome antara lain adalah penyakit leukimia (penyakit Dimana sel darah putih memiliki jumlah jauh lebih banyak dari sel darah merah, serta terus berlipat ganda). Alzheimer (penyakit diam ia dapat lupa akan hal-hal yang baru dilakukan, serta siapa orang-orang disekitarnya dan berunjung kepada kematian).
5. Edward Syndrome
Gambar 7. hasil pengamatan pada kariotipe Edward Syndrome
Edward syndrome nama lain untuk sindroma ini adalah sindroma trisomi 18.
Nama Edwards syndrome ini diambil dari nama seorang ahli genetika Inggris, John Hilton Edwards adalah suatu kelainan yang diakibatkan adanya ekstrakopi pada kromosom no 18 . Kelainan genetik ini tergolong langka dan terjadi karena sebagian dari kromosom 18 diduplikasi. Kebanyakan orang yang terkena meninggal selama tahap janin dan bayi yang hidup memiliki cacat serius dan cenderung hidup hanya untuk sementara waktu.
Kelainan ini mengakibatkan adanya gangguan pada kemampuan intelektual dan gangguan fisik. Karena tergolong jarang Edward syndrome ini memiliki frekuensi kemunculan 1 kelainan dari 5000-7000 kelahiran. Dikarenakan kelainan ini terjadi pada kromosom, maka anomali ini akan diteruskan pada setiap sel yang ada di tubuh penderita. Akibatnya timbul berbagai kelainan dalam perkembangan janin. Bagaimana mekanisme terjadinya gangguan perkembangan tersebut belum diketahui dengan pasti.8
Kerusakan ini biasanya terjadi pada 3 minggu pertama dari masa perkembangan mesoderm prekordal dapat membawa ke arah defek morfologis dari wajah bagian tengah (midface), mata, dan otak bagian depan (forebrain) dan menginduksi kerusakan pada prosensefalon (hemisfer serebri, diensefalon, hipotalamus, talamus). Dan semuanya itu akan menuju pada apa yang kita kenal sebagai holoprosensefali.
Gambar 8. Foto penderita Edward Syndrome
Ciri-ciri penderita dari Edward syndrome ini adalah memiliki berat badan lahir rendah, gagal tumbuh kembang, pertumbuhan rambut yang berlebihan (hipertrikosis), kelainan jantung, pembuluh darah dan ginjal, kelainan tulang tengkorak dan wajah, kepala yang abnormal kecil (mikrosefali), rahang yang abnormal kecil (mikrognatia), arkus palatum tinggi, leher lebar (webbed neck),
8 SETIJOWATI, Eva Diah, et al. Chromosome aberration on growth and developmental disorder. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 2022, 32.2.
telinga letak rendah, kelainan mata, ptosis unilateral, kekeruhan lensa dan kornea, kelainan ekstremitas, tangan mengepal dengan posisi jari abnormal (akibat hipertoni otot yang persisten), malformasi pada pinggul dan kaki (kaki datar), kelainan kriptorkidisme, kelainan susunan saraf pusat holoprosensefali dalam mekanisme perkembangan otak, bagian depan dari otak janin gagal melakukan pembelahan secara lengkap, disertai dengan gangguan perkembangan dari saraf otak I (olfaktorius) yang berfungsi sebagai saraf penghidu dan II (optikus) yang berfungsi sebagai saraf penglihatan. Keadaan ini seringkali ditandai dengan adanya kerusakan pada garis tengah wajah, dan retardasi mental dan biasanya penderita tidak memiliki kuku.9
6. Patau Syndrome
Gambar 9. Kariotipe Patau Syndrome
Patau Syndrome sering disebut sebagai trisomy 13 ditemuan oleh seorang dokter bernama Dr. Klaus Patau pada tahun 1960. Dokter tersebut melaporkan adanya kelainan kelahiran yang mengakibatkan adanya keterbelakangan mental dan fisik, terutama pada penyakit jantung. Hasil penelitian kelainan tersebut terjadi akibat susunan kromosom yang memiliki ekstrakopi kromosom di no 13.
Adanya kelainan pada kromosom ini diakibatkan karena masalah dengan sperma ayah atau telur ibu yang mengalami disjunction saat terjadinya gametogenesis atau karena mutasi yang terjadi setelah sperma dan sel telur menyatu untuk membentuk embrio. setiap sel dalam tubuh keturunannya memiliki tambahan salinan kromosom. Namun, kesalahan dalam duplikasi kromosom juga dapat terjadi selama pembelahan sel yang cepat yang terjadi segera setelah pembuahan.
9 Shiefa, Sequeira, M. Amargandhi, J. Bhupendra, Shaik Moulali, and T. Kristine. "First trimester maternal serum screening using biochemical markers PAPP-A and free β-hCG for down syndrome, patau syndrome and edward syndrome." Indian Journal of Clinical Biochemistry 28, no. 1 (2013): 3-12.
Gambar 10. penderita Patau Syndrome
Ciri-ciri penderita kelainan Patau Syndrome ini adalah bibir sumbing, ukuran kepala relative kecil, tidak memiliki alis mata, daun telinga tidak rata atau seperti bergelombang. jari tangan melebihi jumlah normal (polydactyly), pada penderita laki-laki terdapat kelainan pada testis. Selain itu penderita memiliki ganguan berat pada perkembangan otak, jantung, ginjal, tangan dan kaki. Jika gejalanya sangat berat janin akan mati setelah beberapa saat dari kelahiran.10
7. Cri-Du-Chat
Gambar 11. kariotipe Cri-du-chat
Cry Du Chat ini pertama kali ditemukan pada tahun 1963. Kelainan ini terjadi karena adanya delesi pada kromosom no 5 akibat adanya delesi tersebut lengan kromosom 5 menjadi pendek dan tidak normal. Seiring dengan kondisi tersebut menyebabkan pita suara menjadi seperti kucing. Selain itu kelainan tersebut mengakibatkan keterbatasan kemampuan entelektual dan gangguan perkebangan.
Sindrom ini terjadi dengan perbandingan 1 dari 20.000-50.000 kelahiran.
10 Elfira, Vanda, Fiva Aprilia Kadi, Bremmy Laksono, and Sjarif Hidajat Effendi. "Patau Syndrome with Genotype 47, XY,+ 13, t (13: 18)." Majalah Kedokteran Bandung, Majalah Kedokteran Bandung 51, no. 3 (2019): 185-188.
Gambar 12. penderita Cry Du Chat
Penderita memiliki ukuran kepala yang kecil (microcephally), berat badan saat kelahiran sangat kecil, dan memiliki struktur otot yang lemah (hypotonia). Pada individu yang memiliki kelainan ini terjadi kelainan pada organ organ di bagian wajah sperti ukuran mata yang tampak lebih besar (hypertelorism), telinga terletak lebih bawah dibandingkan yang normal, ukura rahang tampak lebih kecil, dan wajah relative bulat. Pada anak-anak sindrom ini disertai dengan gangguan jantung.
F. KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa kromosom manusia terdiri dari 23 pasang, dengan total 46 kromosom. Setiap kromosom membawa gen yang berfungsi sebagai pembawa informasi genetik. Kelainan pada kromosom dapat menyebabkan berbagai penyakit genetik. Alel ganda merujuk pada adanya lebih dari dua variasi gen pada satu lokus. Variasi ini dapat mempengaruhi fenotipe individu, seperti warna mata atau golongan darah.
Alel ganda berperan penting dalam keragaman genetik dan evolusi spesies.
Praktikum ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang struktur genetik manusia. Analisis kromosom dan alel ganda membantu dalam memahami pewarisan sifat dan potensi penyakit genetik. Pengetahuan ini penting untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang genetika yang mencakup mengenai kromosom manusia dan alel ganda
G. DAFTAR PUSTAKA
de Oliveira, Rodrigues Vivian, Polisseni Fernanda, Gabriel Duque Pannain, and Carvalho Miralva Aurora Galvão. 2020. "Genetics in human reproduction." JBRA Assisted Reproduction 24, no. 4
Elfira, Vanda, Fiva Aprilia Kadi, Bremmy Laksono, and Sjarif Hidajat Effendi. 2019.
"Patau Syndrome with Genotype 47, XY + 13, t (13: 18)." Majalah Kedokteran Bandung, Majalah Kedokteran Bandung 51, no. 3.
Fajri, A. F. 2022. Klinefelter Syndrome. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(5), 5464-5472.
Kurniasih, Nadia. 2017. Prakiraan Usia Gigi Pada Anak Penderita Down Syndrome Menggunakan Metode Schour-Massler Dan Metode Blenkin-Taylor Di Sekolah Luar Biasa Kabupaten Jember.
Putri, Tiara Dita Febriani, Rafli Ramadhan, and Muhammad Noupal. 2023. "Building Connections: Parent-Child Relationship and the Development of Motor Skills in Children with Down Syndrome." UInScof 1, no. 2.
Ramadhani, Dwi, Yanti Lusiyanti, Zubaidah Alatas, and Sofiati Purnami. 2012. "Semi otomatisasi kariotipe untuk deteksi aberasi kromosom akibat paparan radiasi."
In Jurnal Forum Nuklir, vol. 6, no. 2.
Setijowati, E. D., Suprapti, H., Sugeng, M. W., & Wulandari, R. D. 2022.
Chromosome aberration on growth and developmental disorder. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 32(2).
Shiefa, Sequeira, M. Amargandhi, J. Bhupendra, Shaik Moulali, and T. Kristine. 2013.
"First trimester maternal serum screening using biochemical markers PAPP-A and free β-hCG for down syndrome, patau syndrome and edward syndrome." Indian Journal of Clinical Biochemistry 28, no. 1
Stansfield, William. 1991. Terjemahan. Genetika Edisi ke-2.Jakarta: Penerbit Erlangga.
Wiyasa, A., & Pudjiastuti, R. 2003. SINDROMA TURNER (SINDROMA BONNEVIE-URLICH). Jurnal Kedokteran Brawijaya, 19(3), 96-98.