PEMANFAATAN PRODUK TATA RUANG DALAM LAYANAN PERTANAHAN
Oleh:
Susilo Widiyantoro, S.T., M.Eng.
RENCANA PEMBELAJARAN
• Capaian pembelajaran
Taruna/i dapat memanfaatkan produk penataan ruang dlaam pelayanan pertanahan dalam rangka mengantisipasi terjadinya konflik
• Pokok bahasan
1. Pemanfaatan RTR dalam pemberian HAT
2. Pemanfaatan RTR dalam perijinan pertanahan 3. Pemanfaatan RTR dalam pertimbangan teknis 4. Pemanfaatan RTR dalam pengadaan tanah
• Literature
1. Muta’ali, L, 2013. Panataan ruang wilayah dan kota, BPFG, UGM. Yogyakarta.
2. Sutaryono, 2007. Dinamika penataan ruang dan peluang otonomi daerah. Tugujogja grafika.
Yogyakarta.
3. Undang-undang nomor 5 tahun 1960
4. Undang-undang nomor 2 tahun 2012 dan turunannya 5. PP 13/2010 & perkaban 2/2011
UU 5/1960
SELURUH BUMI, AIR DAN RUANG ANGKASA, TERMASUK KEKAYAAN ALAM YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA DALAM WILAYAH REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI KARUNIA TUHAN YANG MAHA ESA ADALAH BUMI, AIR DAN RUANG ANGKASA BANGSA INDONESIA DAN MERUPAKAN KEKAYAAN NASIONAL.
Pasal 1 (2)
Pasal 2 (2)
Pasal 2 (3)
Pasal 6
Pasal 7
UU 5/1960
HAK MENGUASAI DARI NEGARA TERMAKSUD DALAM AYAT (1) PASAL INI MEMBERI WEWENANG UNTUK :
A. MENGATUR DAN MENYELENGGARAKAN PERUNTUKAN, PENGGUNAAN, PERSEDIAAN DAN PEMELIHARAAN BUMI, AIR DAN RUANG ANGKASA TERSEBUT;
B. MENENTUKAN DAN MENGATUR HUBUNGAN-HUBUNGAN HUKUM ANTARA ORANG-ORANG DENGAN BUMI, AIR DAN RUANG ANGKASA;
C. MENENTUKAN DAN MENGATUR HUBUNGAN-HUBUNGAN HUKUM
ANTARA ORANG ORANG DAN PERBUATAN-PERBUATAN HUKUM YANG MENGENAI BUMI, AIR DAN RUANG ANGKASA.
Pasal 1 (2)
Pasal 2 (2)
Pasal 2 (3)
Pasal 6
Pasal 7
UU 5/1960
Pasal 1 (2)
Pasal 2 (2)
Pasal 2 (3)
Pasal 6
Pasal 7
Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat
(2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam
arti kebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara
hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
UU 5/1960
Pasal 1 (2)
Pasal 2 (2)
Pasal 2 (3)
Pasal 6
Pasal 7
Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
UU 5/1960
Pasal 1 (2)
Pasal 2 (2)
Pasal 2 (3)
Pasal 6
Pasal 7 Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah
yang melampaui batas tidak diperkenankan.
PP 16/2004
Penatagunaan tanah bertujuan untuk:
A. Mengatur penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah bagi berbagai kebutuhan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;
B. Mewujudkan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah agar sesuai dengan arahan fungsi kawasan dalam rencana tata ruang wilayah;
C. Mewujudkan tertib pertanahan yang meliputi
penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah termasuk pemeliharaan tanah serta pengendalian pemanfaatan tanah;
D. Menjamin kepastian hukum untuk menguasai, menggunakan dan memanfaatkan tanah bagi masyarakat yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan.
Pasal 3 Pasal
8
Pasal 9 (1)
Pemegang hak atas tanah wajib menggunakan dan dapat
memanfaatkan tanah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, serta memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah.
Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah tidak
mempengaruhi status hubungan hukum atas tanah.
PEMBERIAN
HAK ATAS TANAH
TIDAK SESUAI
SESUAI
BERITA ACARA PEMERIKSAAN LAPANG OLEH
ANGGOTA PANITIA PEMERIKSAAN TANAH
Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah
Surat Keputusan Kepala Kantor
Mengenai Pemberian HAT
PERIJINAN (IZIN LOKASI)
Pasal 10 (3)
Pasal 10 (2)
Pasal 1 po.9
Pasal 1 po.1
Izin Lokasi adalah izin yang diberikan kepada pelaku usaha untuk memperoleh tanah yang diperlukan untuk usaha dan/atau kegiatannya dan berlaku pula sebagai izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah tersebut untuk keperluan usaha dan/atau kegiatannya.
Lembaga Pengelola dan Penyelenggara Online Single Submission yang selanjutnya disebut Lembaga OSS adalah lembaga pemerintah non kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang koordinasi penanaman modal.
Kantor Pertanahan menggunakan peta Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai dasar untuk memberikan Pertimbangan Teknis Pertanahan dalam rangka
persetujuan/penolakan Izin Lokasi.
Kantor Pertanahan menggunakan peta Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai dasar untuk memberikan Pertimbangan Teknis Pertanahan dalam rangka
persetujuan/penolakan Izin Lokasi.
Permen ATR/KBPN 17/2019
• Pasal 3 (1) pertimbangan teknis pertanahan diberikan dalam rangka:
A. Persetujuan/penolakan izin lokasi;
B. Penegasan status dan rekomendasi penguasaan tanah timbul; atau C. Perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah.
• Pasal 4 (3) pertimbangan teknis pertanahan dalam rangka perubahan penggunaan dan
pemanfaatan tanah diberikan terhadap tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan berubahnya kondisi fisik, penggunaan dan/atau pemanfaatan tanah.
Pertimbangan Teknis (Perubahan Penggunaan)
Permen ATR/KBPN 27/2019
TIDAK SETUJU
SETUJU DITOLAK
TIDAK SETUJU SETUJU SETUJU
TIDAK SETUJU, TITIP
VERIFIKASI
INSTANSI YANG
MEMERLUKAN TANAH GUBERNUR
TIM PERSIAPAN
SOSIALISASI KEPADA PIHAK YG
BERHAK DAN PENDATAAN AWAL
PENGUMUMAN
INVENTARISASI
& IDENTIFIKASI TIDAK LENGKAP
MENOLAK
DOKU MEN
PENGADAAN PENILAI OLEH
INSTANSI
DAFTAR NOMINATIF &
PETA BIDANG
KONSULTASI PUBLIK KONSULTASI
PUBLIK ULANG DOKUMEN
PERENCANAAN
SETUJU
DIBATALKAN
SK PENETAPAN LOKASI TIM KAJIAN KEBERATAN
LENGKAP
MA
PEMBENTUKAN PELAKSANA PT PERMOHONAN
KE KANWIL BPN
PEMBENTUKAN SATGAS A & B
PELEPASAN HAK DIHADAPAN
KAKANTAH
PENAKSIRAN GANTI RUGI OLEH PENILAI MUSYAWARAH
BENTUK GANTI RUGI PEMBERIAN
GANTI RUGI
PN TAHAPAN PERENCANAAN
KANTAH
TAHAPAN PENYERAHAN
HASIL
TAHAPAN PERSIAPAN
TAHAPAN PELAKSANAAN
DIUMUMKAN 14 HARI
SETUJU
PENETAPAN PENILAI OLEH
KETUA PPT
PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM
PENYERAHAN HASIL
01
02
03 04
3hr+20 hr + 30 hr
60 hr 30 hr
30 hr
14 hr 14 hr
30 hr 30 hr
30 hr
JW putusan 30 hr JW putusan 30 hr
10 hr 2 hr
14 hr 7 hr
KEBERATAN
Gugatan ke MA
SETUJU
Gugatan PTUN Putusan MA
lanjut/tidak 14 hr
30 hr 30 hr
14 hr 7 hr
KEBERATAN
14 hr 3 hr 30 hr
14 hr 7 hr
2 hr
2 hr 2 hr
min 2 hr 3 hr
DITETAPKAN OLEH PIMPINAN IYMT (Pasal 15 ayat (3) Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2012 jo Pasal 7 ayat (1) Perpres Nomor 71
Tahun 2012, DIDASARKAN PADA :
1.Maksud dan tujuan rencana pembangunan
2. Kesesuaian dengan RTRW dan Prioritas pembangunan 3. Letak tanah
4. Luas tanah yang dibutuhkan 5. Gambaran umum status tanah
6. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah 7. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan 8. Perkiraan nilai tanah
9. Rencana penganggaran
1. RTRW (Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota) 2. Prioritas Pembangunan
- Rencana Pembangunan Jangka Menengah - Rencana Strategis
- Rencana Kerja Pemerintah/Instansi Yang Bersangkutan
(Pasal 7 dan Pasal 14 Undang-Undang No.2 Tahun 2012 jo Pasal 3 dan Pasal 4 Perpres Nomor 71 Tahun 2012)
STUDI KELAYAKAN 1. Survey sosial ekonomi 2. Kelayakan lokasi
3. Analis biaya dan manfaat
pembangunan bagi wilayah dan masyarakat
4. Perkiraan nilai tanah
5. Dampak lingkungan dan dampak sosial yang mungkin timbul
6. Studi lain yang dibutuhkan
(Pasal 15 ayat 2 UU Nomor 2/2012 jo Pasal 5 Perpres Nomor 71/2012)
ISI DOKUMEN PERENCANAAN
(Pasal 15 ayat 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 jo Pasal 5 Perpres Nomor 71 Tahun 2012)
ISI DOKUMEN PERENCANAAN
(PASAL 15 AYAT 1 UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2012 JO PASAL 5 PERPRES NOMOR 71 TAHUN 2012 SERTA JUKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN DARI DIRJEN PENGADAN TANAH KEMENTERIAN ATR/BPN)
1. MAKSUD DAN TUJUAN RENCANA PEMBANGUNAN, MENGURAIKAN MAKSUD DAN TUJUAN PEMBANGUNAN YANG DIRENCANAKAN DAN MANFAT PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM ;
2. KESESUAIAN DENGAN RTRW DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN, MENGURAIKAN KESESUAIAN LOKASI PENGADAAN TANAH DENGAN RTRW NASIONAL, PROVINSI, KABUPATEN/KOTA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN PADA RPJM, RENSTRA DAN RENCANA KERJA PEMERINTAH/INSTANSI YANG BERSANGKUTAN;
3. LETAK TANAH, MENGINFORMASIKAN SECARA JELAS WILAYAH ADMINISTRASI DESA/KELURAHAN, KECAMATAN, KABUPATEN, PROVINSI DAN TITIK-TITIK KOORDINAT BATAS MASING-MASING BIDANG TANAH LOKASI PEMBANGUNAN;
4. LUAS TANAH, MENGURAIKAN PERKIRAAN LUAS TANAH YANG DIBUTUHKAN, BERUPA LUAS TANAH KESELURUHAN, LUAS TANAH MASING-MASING BIDANG KEPEMILIKAN, PIHAK YANG BERHAK DAN OBJEK PENGADAAN TANAH DAN PEMANFAATAN TANAH;
5. GAMBARAN UMUM STATUS TANAH, MENGURAIKAN DATA AWAL PENGUASAAN DAN PEMILIKAN MASING-MASING BIDANG KEPEMILIKAN TERMASUK BANGUNAN, TANAMAN (JUMLAH DAN JENIS TANAMAN BERUPA TANAMAN SEMUSIM, TANAMAN TAHUNAN ATAU TANAMAN KAYU), UTILITAS YANG MELEKAT PADA BANGUNAN SEPERTI SAMBUNGAN LISTRIK, TELEPON, DAN INSTALASI AIR MINUM;
6. PERKIRAAN JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH, MENGURAIKAN PERKIRAAN WAKTU YANG
DIPERLUKAN UNTUK MASING-MASING TAHAPAN PENGADAAN TANAH YAKNI PERENCANAAN, PERSIAPAN,
PELAKSANAAN DAN PENYERAHAN HASIL, TERMASUK SUDAH MEMPERHITUNGKAN BILA ADA KEBERATAAN DARI
MASYARAKAT DAN MEMPERKIRAKAN WAKTU JIKA MELAKUKAN RELOKASI (WAKTU MEMPERSIAPKAN LOKASI BARU,
WAKTU UNTUK PINDAH DAN WAKTU UNTUK PEMBINAAN DI LOKASI BARU)
RENCANA PEMBANGUNAN BANDARA BARU DI TEMON, KULONPROGO
RTRW Nas 2008
RTRP DIY 2010
RTRK Kp 2012
Studi Bandara
Baru 2013
Kebijakan Kementerian
terkait Bandara KP
IPL Gub
2015
dan kalahDigugatdi PTUN 2015
Menang di MA 2015
Pembayaran ganti untung
14 Sep’16
Hakim PTUN menganggap bahwa :
RTRW Prov dan Kab tidak mengikuti RTRW Nas, karena
didalam RTRW Nas tidak tercantum dg jelas adanya rencana ruang untuk Bandara di Temon
RTRW Prov dan RTRW Kab dinilai
tidak bisa dipakai sebagai dasar
terbitnya IPL