• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi Pesta Masyarakat Makassar

N/A
N/A
yolan aprilia

Academic year: 2024

Membagikan " Tradisi Pesta Masyarakat Makassar"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

DATA DAN ANALISA

A. Data Objek

Tari Pakarena merupakan tari tradisional peninggalan masa lampau di Makassar. Konon cikal bakal tarian ini telah ada beberapa abad yang lalu, dalam rentang waktu yang panjang. Tari Pakarena tetap hidup dan berkembang hingga saat ini dalam masyarakat etnis Makassar karena tertopang oleh tradisi masyarakat yang selalu menyelenggarakan pesta, yakni suatu hajatan yang merupakan perihal penting dalam kehidupan masyarakat Makassar. Mereka yang dapat melaksanakannya menjadi kebanggaan tersendiri, serta dengan cara itu pula akan mengangkat harga diri dan martabat keluarga (Sumiani, 2004 : 47). Kehadiran tari Pakarena tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi masyarakat etnis Makassar meyakini bahwa tari Pakarena terkait dengan kemunculan Tu Manurung di bumi.

Kisah Tu Manurung ini merupakan seorang manusia jelmaan (bidadari) yang turun dari langit dengan menggunakan selendang yang melambai tertiup angin.

Bidadari tersebut turun di awal malam dan meninggalkan bumi ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur, karenanya Pakarena sebagai simbol dari gerakan Tu Manurung/manusia jelmaan (bidadari) yang datang ke bumi untuk mengajarkan pada manusia tentang tata karma dan tata kehidupan dalam bermasyarakat. (wawancara dengan Daeng Serang Dakko: Anrong Guru Pakarena dan Maestro Gendang Makassar).

Dalam hal ini, kebudayaan Suku Makassar terdapat sebuah gelar atau sebutan terhadap seseorang, yakni “daeng”. secara praktikal dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kota Makassar, penggunaan gelar atau sebutan daeng acap ditujukan kepada para pengayuh becak, pedagang sayur keliling, dan para pelaku ekonomi menengah kebawah lainnya. Dimana sebagian besar masyarakat Kota Makassar memiliki latar belakang etnis suku bangsa Makassar masyarakat di Kota Makassar dalam berinteraksi (berkomunikasi langsung) dengan para pelaku ekonomi menengah kebawah tersebut menggunakan istilah atau sebutan daeng sebagai panggilan terhadap mereka.

(2)

7 Secara historikal, gelar daeng itu sendiri dalam kebudayaan Suku Makassar lebih tepatnya merupakan suatu sebutan atau gelar bagi orang-orang tertentu; baik itu orang-orang yang dihormati dalam suatu kelompok sosial maupun orang-orang yang berasal dari stratifikasi sosial atas atau setara dengan kaum bangsawan. Hal ini tentu menimbulkan sebuah ambiguitas mengenai makna dari gelar daeng itu sendiri, yang dalam penggunaannya memiliki perbedaan yang signifikan antara masa lampau dan masa sekarang.

Dalam Tari Pakarena ini memiliki gerakan tarian yang diolah mulai dari motif, ke pengembangan, kemudian dirangkai menjadi beberapa ragam gerak yang pada akhirnya digabung menjadi satu komposisi, dalam hal ini tari Pakarena mimiliki gerakan pokok atau gerakan khas dari tarian tersebut. Antara lain sebagai berikut.

Gambar 1. Tari Pakarena Dokumentasi Pribadi

(3)

8 Gambar 2. Tari Pakarena

Dokumentasi Pribadi

Gambar 3. Tari Pakarena Dokumentasi Pribadi

(4)

9 Gambar 4. Tari Pakarena

Dokumentasi Pribadi

Gambar 5. Tari Pakarena Dokumentasi Pribadi

(5)

10 B. Analisa Objek

Jenis Pakarena dalam etnis Makassar di antaranya: Pakarena Sambori’na/Samboritta (Saudara/keluarga/kerabat), Pakarena Ma’biring Kassi (Bermain di pantai), Pakarena Anni-anni’ (membuat kain/benang/menenun), Pakarena Bisei ri Lau (Mendayung kearah timur), Pakarena Sanro Beja (dukun beranak), Pakarena Angingka Malino (bila angin tak berhembus), Pakarena Dalle Tabbua (meniti nasib dengan sabar), Pakarena ni Gandang (berulang-ulang), Pakarena Sonayya (jangan bermimpi), Pakarena Iyolle (mencari kebenaran), Pakarena Lambasari (kekecewaan), Pakarena leko’ boddong (bulat sempurna), Pakarena Jangang lea-lea (ayam berkokok). (Latief Halilintar, 1995: 77).

Pertunjukan Pakarena pada umumnya dilakukan dalam tiga babak. Babakan tersebut terdiri dari babak pertama/bagian awal pertunjukan yang di sebut Pakarena Paulu jaga/Samboritta/Sambori’na, babak kedua/bagian pengisi atau penghubung yang disebut Pakarena Lantang Bangngia/ Bisei ri Lauk, dan babak ketiga/bagian penutup yang di sebut Pakarena Jangang lea-lea.

Babak pertama/Pakarena Paulu Jaga/Pakarena Sambori’na/Samboritta biasanya di mulai pada pukul 20.00 malam dan pada saat sekarang bisa disesuaikan dengan kondisi yang menyelenggarakan hajatan. Babak kedua/Pakarena Bisei ri Lau/Pakarena Lantang Bangngia dimulai pada pukul 00.00 malam. Babak ketiga dimulai pada pukul 04.30 pagi yang disebut dengan Pakarena Jangang Lea-lea yang artinya ayam berkokok. Pakarena Jangang Lea- lea merupakan tahap akhir dari penyajian tari Pakarena. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas terselenggaranya Hajat yang dilaksanakan. (wawancara dengan Abdul Muin Dg Mile: Anrong Guru Pakarena dan Maestro Gendang Makassar, 2008).

(6)

11 Kebiasaan masyarakat Makassar dalam setiap hajatan, misalnya upacara melepas nasar, pa’buntingang (pernikahan). Khitanan adalah dengan mempertunjukkan Pakarena semalam suntuk. Mereka beranggapan bahwa hajatan tidaklah lengkap jika tidak ada Pakarena. Dengan demikian jika hajatan tersebut sifatnya sacral, mereka terlebih dahulu melakukan appalili (pemotongan hewan, biasanya seekor kerbau dengan menyimpan kepalanya dalam wala suji) kemudian i-salonrengi. Setelah proses appalili dan salonreng selesai dilanjutkan dengan Paulu jaga dengan menampilkan Pakarena Sambori’na/Samboritta dan pada pertengahan malam Pakarena Bisei ri Lauk dan ditutup dengan Pakarena Jangang lea-lea.

Hal tersebut merupakan salah satu bentuk pewarisan dan pelestarian tari Pakarena, karena komunalnya masih ada dan tetap menjunjung tinggi nilai Kala’birang (kemuliaan) dan Pangngadakkang (adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Makassar). Sekalipun demikian beberapa hal mengalami perubahan, akan tetapi tidak mengurangi nilai yang tersemat dalam Pakarena tersebut.

Dengan demikian ketika menyaksikan pertunjukan pakarena dalam sebuah hajatan, terkadang dalam sipinangka (satu kelompok pakarena dalam sebuah pementasan) selalu berjumlah genap, biasanya terdiri dari 4, 6, 8, 10 bahkan 12 orang penari.

Gambar 6. Tari Pakarena

Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/representasi-perempuan-bugis-dalam-tari- pakarena/

(7)

12 Gambar 7. Tari Pakarena

Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/representasi-perempuan-bugis-dalam-tari- pakarena/

Penari memiliki peran sesuai dengan posisi pada saat menari, yakni 1).

Posisi Pauluang (kepala/pemimpin penari). Posisi ini biasanya ditempati oleh penari yang paling lama bergabung dan biasanya anak kandung dari Anrong Guru, menghafal semua gerakan dan urutannya, karena Paulung menjadi patokan penari lainnya dalam sebuah pementasan pakarena dan berada pada barisan depan sebelah kanan, 2). Pattappu (penutup). Tugas dan tanggung jawab Pattappu adalah menghafal lele, dondo dan semua syair kelong atau nyanyian Pakarena karena Pattappu menjadi patokan dalam pementasan Pakarena. 3). Posisi Binting Pangauluang (penari yang ikut dibelakang penari panguluang), Binting Pattappu (penari yang berada dibelakang pattappu), Boko Binting (Penari yang ikut dibelakang Binting Panguluang atau Binting Pattappu), Turitangnga (penari yang ikut dibelakang penari pattappu/berada diposisi tengah), dan Boko Turitangnga (penari yang berada/ikut di belakang penari Turitangnga).

(8)

13 Posisi ini merupakan posisi pengikut dan tidak boleh mendahului gerak maupun nyanyian dari Panguluang maupun Patappu dan posisi ini terkadang dalam sipinangka Pakarena lengkap ataupun kurang. Hal ini tergantung jumlah penari dalam Sipinangka Pakarena.

Banyaknya jenis tari Pakarena, serta penyebaran Pakarena hampir di seluruh desa dalam etnik Makassar dengan Anrong Guru masing-masing yang berbeda, menyebabkan satu sama lain memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan, sekalipun esensinya tetap sama, satu dengan yang lainnya. Kelompok Pakarena tersebut sebahagian berada di desa Kampili Gowa, yang di pimpin oleh Almarhumah Mak Coppong dan keluarga, Kelompok Pakarena Takalar yang salah satunya di pimpin oleh Anrong guru Pakarena Abd. Muin Dg. Mile.

Kelompok Pakarena di Bulu Tana Malino, Kelompok Pakarena di Jeneponto, Kelompok Pakarena di Bantaeng, Kelompok Pakarena di Pangkep dan lain-lain.

Kebanyakan pelaku seni tradisi, khususnya bidang seni tari mengajarkan dan menerima gerak dengan cara mengulang dari awal gerak ketika mereka mentransfer ke penari. Pelakunya tidak mempertanyakan berapa hitungan, apa nama geraknya dan seterusnya. Sehingga penamaan setiap gerak hanya diketahui dan di pahami secara terbatas oleh Anrong guru dan beberapa murid saja. Atau Anrong guru hanya memberi kode atau instruksi ke penari sesuai dengan posisi tubuh saat menari, misalnya: setelah gerak berjalan, maka gerak selanjutnya memutar, atau berdiri dan seterusnya. Karenanya hal ini menjadi kendala ketika Pakarena akan diajarkan dalam lingkup akademik, baik di sekolah maupun Perguruan Tinggi.

Dalam tari Pakarena sendiri menggunakan instrument gendang, Pui-pui (alat musik tiup), gong, katto-katto (alat musik pukul dari bambu). Musik tari dipimpin dan di arahkan oleh Anrong guru yang bertindak sebagai Paganrang Panguluang/Paganrang Ponggawa (pimpinan/pimpinan pemain gendang).

(9)

14 Pemusik lainnya adalah 1 orang paganrang pattanang (pasangan Anrong guru/paganrang panguluang) karena gendang dimainkan secara berpasangan, 1 orang paganrang cadangan, 1 orang pappui-pui, 1 orang Pa’dengkang. Sekalipun penggunaan instrument diberikan tanggung jawab ke masing-masing pemain musik untuk memegang 1 alat musik, akan tetapi idealnya semua pemusik bisa memainkan instrument yang di gunakan dalam pementasan Pakarena, sebagai antisipasi bilamana terjadi kelelahan dari salah satu pemusik, terutama dalam hajatan semalam suntuk.

Gambar 8. Tari Pakarena dan pengiring musik

Sumber: https://www.makassarguide.com/2014/08/tari-pakarena.html

Gambar 9. Pengiring Tari Pakarena Dokumentasi pribadi

(10)

15 Gambar 10. Gendang Makassar

Dokumentasi pribadi

Gambar 11. Pui-pui (alat musik tiup) Dokumentasi pribadi

(11)

16 Gambar 12. Gong

Dokumentasi pribadi

Dalam berlansungnya pementasan tari Pakarena, terdapat syair lagu yang di nyanyikan oleh anrong guru. Salah satunya syair kelong/lagu “Bunganna Ilangkebu/Kembang Putih” sebagai berikut.

Ikatte ri Butta Gowa

Punna nia Panggaukang….

(koor: panggaukang)

La’biritongngi bunganna ilangkebo (koor: alla dende alla saying…) Punna nia Pakarena

(koor: Atudende dendelee alla ri dendang kodong) Pakarena lenggo-lenggo

Paggandang ma’mingki mingki (koor: mamingki mingki)

(12)

17 Pappui-pui bunganna ilngkebo

(koor: Alla dende alla saying…) E…eee…ee….eeee…eeee….

Artinya

Kita di tanah Gowa/di Makassar Jika melaksanakan hajatan,

Menginginkan bukti kehormatan/mulia Juga Kembang Putih oh sayangku…oh Sayangku yang kusayang.

Syair kelong dinyanyikan oleh anrong guru pada saat penari melakukan gerak Ammempo. Dan penari hanya ikut menyanyi pada saat melantunkan syair koor (panggaukang dan mammingki-mingki). Terkadang Anrong guru saat melantunkan syair melakukan improvisasi, yang berisi kalimat-kalimat candaan dan penari tidak boleh tersenyum apalagi tertawa. Hal ini dilakukan disamping menghibur penonton juga mengisyaratkan pesan mendalam bahwa perempuan harus teguh dalam pendirian. Apapun yang terjadi diluar sana, bagaimanapun godaan yang datang, perempuan harus tegar, kuat dan teguh menjaga diri sebagai bentuk kemuliaan dan harga diri bagi perempuan Makassar.

Dalam hal lain dimana para Pakarena memiliki kostum (busana) yang di orang Makassar menyebutnya Baju bodo (baju yang berbentuk segi empat, dengan lengan pendek tanpa jahitan yakni badan baju yang berbentuk lebar sekaligus menjadi lengan, dan pada bahagian tengah diberi lubang seukuran kepala). Nama lain baju bodo adalah baju tokko dan baju rawang. Istilah baju tokko karena kain baju di berikan tepung kanji yang sudah dimasak/dicairkan dengan pewarna (ditokko) menyesuaikan warna baju, sehingga pada saat baju tokko digunakan akan membentuk kotak dan mengembang karena kain baju menjadi keras setelah proses pemberian kanji. Baju rawang karena kain baju terbuat dari bahan tipis dan menerawang (tembus pandang). Biasanya baju ini digunakan oleh penari yang belum balig atau masih remaja.

(13)

18 Gambar 13. Baju bodo

Dokumentasi pribadi

Penggunaan warna baju menyesuaikan dengan kostum yang dimiliki oleh masing-masing penari atau kelompok Pakarena. Sekalipun Pakarena identik dengan penggunaan warna merah dan kuning. Jika masuk ke wilayah-wilayah pelosok, maka terkadang ditemukan kelompok Pakarena menggunakan warna baju yang berbeda atau berwarna-warni karena keterbatasan kostum yang dimiliki.

Terkadang pula ditemukan dua warna sebagai cara praktis untuk mempermudah dan membedakan urutan barisan dan arah hadap penari, juga sebagai penanda atau symbol-simbol tertentu, misalnya penggunaan warna merah dan hijau sebagai symbol kebangsawanan dan status tinggi dalam masyarakat Makassar, juga sebagai penanda usia, misalnya baju warna kuning kebanyakan digunakan untuk penari yang belum balig/remaja.

(14)

19 Sarung Lipa’ yang digunakan adalah Lipa sabbe (sarung sutera) dengan motif (cura’) yang bervariasi. Misalnya lipa sabbe cura’ labba (sarung sutera dengan motif kotak besar), dan lipa sabbe cura’ ca’di (sarung sutera dengan motif kotak kecil). Ciri lipa sabbe memiliki puncang (kepala sarung dengan motif yang berbeda, berukuran sekita 30 cm yang diletakkan pada tubuh bagian belakang saat sarung di pakai).

Gambar 14. Lipa Sabbe cura ca’di (sarung sutera motif kotak kecil)

Dokumentasi pribadi

(15)

20 Terkadang pula penari menggunakan tope (kain yang sudah dibuat menyerupai rok dan berwarna putih). Sekalipun demikian kebanyakan sarung yang digunakan dalam menari adalah lipa sabbe cura’ labba. Busana lainnya adalah selendang yang juga berfungsi sebagai properti tari melengkapi properti kipas.

Gambar 15. Selendang Dokumentasi pribadi

Gambar 16. Kipas Dokumentasi pribadi

(16)

21 Perhiasan yang lain digunakan adalah perhiasan yang terbuat dari kuningan dan terkadang dari perak, yakni rante (kalung), ponto (gelang), bando (mahkota), anting/bangkara (anting), simbolong pattinra (sanggul) dan bunga nigubah (kembang/bunga hidup) atau kembang yang terbuat dari plastik.

Gambar 17. Kutu-kutu/Bando (mahkota) Dokumentasi pribadi

Gambar 18. Rante (kalung) Dokumentasi pribadi

(17)

22 Gambar 19. Ponto labbu (gelang panjang)

Dokumentasi pribadi

Gambar 20. bangkara (anting) Dokumentasi pribadi

(18)

23 Gambar 21. Simbolong pattinra (sanggul)

Dokumentasi pribadi

C. Segmentasi target audience

1. Demografis

Segmentasi demografi ialah pengelompok-an konsumen berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan lain-lain. Demografi memberikan suatu pemahaman atau wawasan tentang tren yang sedang terjadi. Meski tidak dapat digunakan untuk meramalkan perilaku konsumen, demografi dapat digunakan untuk melihat perubahan permintaan aneka produk.

1. Umur : 20 Tahun ke atas, Mayarakat urban yang kurangnya minat serta kurangnya pengetahuan tentang budaya sendiri.

2. Jenis Kelamin : Laki-laki dan Perempuan.

3. Pendidikan : SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

(19)

24 4. Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa, Umum.

5. Status ekonomi : Seluruh tingkat sosial

2. Geografis

Masyarakat yang berada di wilayah perkotaan.

3. Psikografis

Kepribadian : Memiliki minat terhadap sejarah, kebudayaan, dan tarian tradisonal.

4. Behaviour

Status Pengguna : Langsung.

Tingkat Pengguna : Sedang.

Waktu Pengguna : Satu kali pembelian untuk seterusnya.

D. Referensi Perancangan

Perancangan buku ilustrasi tari Pakarena Suku Makassar ini sebagai buku yang membahas tentang tari tradisional dari Suku Makassar, Sulawesi Selatan. Dimana saat ini kurangnya bentuk pengarsipan yang menarik maka penulis menyajikan sebuah buku ilustrasi dengan teknik cat air, lengkap dengan informasi seputar tari Pakarena, Buku ini akan memperkaya pengetahuan tentang kebudayaan tradisional khusunya tarian tradisional dari suku Makassar.

Dalam proses perancangan buku ilustrasi tari Pakarena perlu adanya sebuah referensi sebagai dasar standarisasi atau media contoh dalam perancangan tersebut. Adapun referensi buku yang digunakan sebagai berikut :

(20)

25 Gambar 22. Buku Pajoge Makkunrai

Dokumentasi pribadi

Judul : Tari Pajoge Makunrai

Pengarang : Dr. Andi Jamilah, M.Sn, Muhammad Ramadhan, S.Ds Penerbit : Arus Timur

Kesimpulan : Dalam buku ini menjelaskan tentang sebuah tari dari Suku Bugis yaitu tari Pajoge Makkunrai dimana tari tersebut sebagai tari penghibur raja yang

merepresentasikan nilai-nilai kehormatan, semangat dan kehangatan. menampilkan ilustrasi tari dengan gaya vector sehingga dapat dikatakan buku ini menarik untuk di baca.

(21)

26 E. Landasan Teori

1. Buku

Menurut H.G. Andriese menyebutkan bahwa buku merupakan informasi tercetak di atas kertas yang dijilid menjadi satu kesatuan. Suatu objek fisik, sebuah kumpulan yang bertindak sebagai sistem pencarian informasi. Ia harus dibaca, karena informasi yang berada di dalamnya harus bisa di terima dan juga dimengerti.

2. Buku Visual

Buku visual merupakan salah satu sarana penyampaian informasi berupa bahasa visual (dominan) dan verbal, Selain itu juga memuat tujuan, manfaat, serta sistematika perancangan buku visual ini. Masing- masing buku memiliki pesan berbeda dalam penyampaiannya. Salah satu dari beberapa jenis buku tersebut adalah buku visual.

Sebagai berikut contohnya buku visual :

Gambar 23. Buku Jurnal Uci dan Si Kucing.

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/va/article/view/26687/24423

Jadi tujuan dari buku ini dapat disimpulkan bahwa perancangan buku ilustrasi dirancang sebagai sarana edukasi panduan memelihara kucing untuk anak usia 10 sampai 12 tahun. Pemilihan buku ilustrasi sebagai

(22)

27 sarana, karena pada anak usia 10-12 tahun mulai gemar membaca buku cerita bergambar.

Gambar 24. Buku Jurnal Uci dan Si Kucing.

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/va/article/view/26687/24423

Gambar 25. Buku Jurnal Uci dan Si Kucing.

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/va/article/view/26687/24423

Buku visual tentang Tari Pakarena bertujuan untuk membuat sebuah buku visual yang mengedukasi masyarakat, memberikan informasi tentang kebudayaan tradisional Suku Makassar yaitu sebuah tarian tradisional

“Tari Pakarena” dengan melalui media buku dan visual ilustrasi yang artistik. Ilustrasi dalam buku ini diharapkan dapat mempermudah pembaca untuk memahami dan mengolah informasi dari buku ini nantinya.

(23)

28 3. Ilustrasi

Ilustrasi adalah bentuk visual dari kalimat ataupun teks. Ilustrasi bertujuan untuk memperjelas teks ataupun kalimat khususnya untuk anak-anak yang belum dapat membaca. Dengan menggambarkan adegan suatu cerita, maka gambar tersebut pada umumnya dapat menerangkan karakter atau keseluruhan isi cerita.Adanya ilustrasi juga berfungsi untuk menarik para pembaca agar tertarik untuk membaca.

Menurut Rohidi, ilustrsi berkaitan dengan seni rupa adalah penggambaran sesuatu melalui elemen rupa guna menerangkan, menjelaskan atau memperindah sebuah teks, supaya pembacanya dapat merasakan secara langsung melalui mata sendiri, kesan, dan sifat-sifat gerak dari cerita yang disajikan.

Gambar 26.Ilustrasi realis.

https://id.pinterest.com/pin/568227677987932675/

Dalam perancangan buku Tari Pakarena ini menggunakan ilustrasi realis, ilustrasi realis adalah aliran seni yang mengangkat peristiwa keseharian yang dialami oleh orang kebanyakan. Istilah realisme pada aliran ini bukan merujuk pada tingkat kemiripan atau keakuratan gambar lukisan dengan referensinya, (Gamal Thabroni, Serupa.id).

(24)

29 4. Tipografi

Tipografi adalah seni dan teknik memilih dan menata huruf dengan pengaturan distribusi pada ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, untuk kenyamanan membaca maksimal. Juga dikenal sebagai seni jenis huruf (jenis desain), kerja yaitu atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai simbol suara dapat diabaikan.

Tipografi menurut Dendi Sudiana (2001:1) dalam buku “Pengantar Tipografi” Tipografi adalah elemen grafis yang paling mudah dibaca.

Tetapi melalui kata-kata yang terdiri dari huruf dan oleh huruflah yang memandu pemahaman pembaca pesan atau ide. Font yang digunakan lebih dari 2 jenis karena judul, headline, dan isi akan menggunakan font yang berbeda.

1. Tipografi Cover

Tipografi yang akan digunakan pada bagian cover buku adalah font dengan jenis Script seperti Ambar Pearl Personal Use dan juga menambahkan aksara daerah Makassar yaitu Lontara Mangkasara’ untuk menunjukkan kesan visual yang elegan dan klasik.

Gambar 27. Font Ambar pearl

https://www.fontspace.com/ambar-pearl-font-f29813

(25)

30 Gambar 28. Aksara Lontara Makassar

http://www.infobudaya.net/2018/04/aksara-lontara-aksaranya-orang- bugis-makassar/

2. Tipografi Isi a) Headline

Untuk headline menggunakan font yang merupakan font Ambar Pearl Personal Use berjenis script Memiliki ketebalan yang cukup baik dan tingkat keterbacaan yang jelas

b) Sub Headline

Untuk sub headline menggunakan font Century751 BT yaitu font berjenis serif.

Gambar 29. font Century751 BT

https://www.fontsplace.com/century-751-bt-free-font-download.html

(26)

31 c) Font Body copy / Isi

Untuk sub headline menggunakan font Calibri yaitu font berjenis sans serif.

Gambar 30. font Calibri

https://www.dafont.com/forum/read/26966/calibri

5. Layout

Layout adalah penyusunan dari elemen-elemen desain yang berhubungan ke dalam sebuah bidang sehingga membentuk susunan artistik. Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan bidang.

Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan.

Prinsip-prinsip layout dapat dianalogikan sebagai suatu formula untuk membuat suatu layout yang baik. Prinsip dasar layout adalah juga prinsip dasar desain grafis (Surianto Rusan, 2009).

(27)

32 Gambar 31. Elemen Layout

https://bambangherlandi.web.id/elemen-dalam-sebuah-halaman-majalah/

Gambar 32. Elemen Layout

https://bambangherlandi.web.id/elemen-dalam-sebuah-halaman-majalah/

Konsep layout dalam perancangan buku panduan tari pakarena dibuat dengan media ukuran 14,8 x 21,0 cm (vertikal) dan margin 2 cm. Penempatan ilustrasi di susun secara berbeda mulai dari tengah, horizontal, vertikal, align left, align right, top dan bottom sesuai

(28)

33 dengan keperluan pada tiap-tiap halaman pada buku. Namun masih dengan satu acuan.

Gambar 33. Referensi Layout, Buku Ilustrasi cerita anak

http://digilib.isi.ac.id/6796/4/JURNAL%20Gufront%20Vedian%20Rizky%20Setiady.pdf

Dengan gaya layout dinamis masyarakat urban yang selalu menginginkan hal-hal yang baru. Poin utama promosi media adalah eksistensi. Yang diperoleh dengan aplikasi gaya popular dan berubah- ubah sesuai dengan trend. Konsep layout merupakan pengembangan dari gaya konvensional dengan sedikit modifikasi namun tetap komunikatif.

6. Warna

Warna dapat didefinisikan secara objektif/fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan atau secara subyektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indra penglihatan (wong, 1986:67). secara objektif atau fisik, warna dapat diperikan oleh panjang gelombang. dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang nampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dan gelombang elektromagnetik. (Sumber : SARWO NUGROHO

"MANAJEMEN WARNA DAN DESAIN" ( halaman 22 ) 2015. Buku Elektronik).

(29)

34 Teknik yang akan digunakan pada buku ilustrasi Tari Pakarena ini adalah Teknik watercolor dengan gaya Wet On Wet dengan warna tone yang soft dan terang, transparan dan gradasi dengan menyerupai objek sehingga tidak merubah ciri khas dari objek tersebut.

Teknik atau gaya Wet on Wet (brush dan kertas basah)

Teknik ini berfungsi untuk menimbulkan hasil yang bervariasi dari bentuk lembut sampai memudar,. Caranya, membasahi permukaan kertas dengan brush. Kemudian dalam keadaan brush masih basah, ambil cat dan pulaskan diatas permukaan kertas basah tersebut.

Watercolor atau populer juga dengan sebutan aquarel adalah medium lukisan yang menggunakan pigmen dengan pelarut air dengan sifat transparan.

Gambar 34. Contoh gambar Teknik Watercolor https://i.pinimg.com/736x/2e/e2/d1/2ee2d16d5d6f088dc4add3db35bffc57.jpg

Teknik ilustrasi yang diterapkan pada buku ini adalah teknik manual menggunakan media watercolor (cat air) diatas kertas. Karena ingin menunjukan kesan yang artistik dan dapat menjadi sebuah buku yang menari untuk koleksi bagi para penggunanya.

Gambar

Gambar 1. Tari Pakarena  Dokumentasi Pribadi
Gambar 3. Tari Pakarena  Dokumentasi Pribadi
Gambar 5. Tari Pakarena  Dokumentasi Pribadi
Gambar 6. Tari Pakarena
+7

Referensi

Dokumen terkait

yang mendorong didirikannya sebuah restoran dengan interior tradisional Makassar yang mampu memperkenalkan masakan tradisional Makassar kepada masyarakat Sulawesi dan luar

Pada masalah ini perhatian utama yang akan diteliti adalah pada upacara tradisi pesta laut yang merupakan suatu bentuk upacara khas masyarakat nelayan yang hidup di

dari rumpun tari Topeng khas Betawi karya Mak Kinang dan Kong Jiun ini. sebagai warisan budaya Betawi yang

Begitu pentingnya tanaman ini sehingga sejak awal penanaman sampai proses panen adalah saat-saat yang selalu dianggap penting.Inilah yang dirayakan pada kerja

Identifikasi dan penentuan karaktersitik mitos masyarakat Bugis dan Makassar didasarkan pada ciri khas mitos menurut Bascom (1965:3–6), yaitu: mitos merupakan cerita

Begitu pentingnya tanaman ini sehingga sejak awal penanaman sampai proses panen adalah saat-saat yang selalu dianggap penting.Inilah yang dirayakan pada kerja

yang mendorong didirikannya sebuah restoran dengan interior tradisional Makassar yang mampu memperkenalkan masakan tradisional Makassar kepada masyarakat Sulawesi dan luar

Tari Bedana memiliki beberapa ciri khas, antara lain: Lagu pengiring tari Lagu dalam tari Bedana merupakan keharusan,karena lagu yang dilantunkan dapat merupakan panduan