• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJA TAHUNAN, PESTA TRADISI MASYARAKAT KARO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KERJA TAHUNAN, PESTA TRADISI MASYARAKAT KARO"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

“ KERJA TAHUNAN “, PESTA TRADISI MASYARAKAT KARO

Junita Setiana Ginting

Staf Pengajar FIB Universitas Sumatera Utara

Abstrak: Karya Tulis ini berjudul “Kerja Tahun”,Pesta Tradisi Masyarakat Karo. Masyarakat Karo

adalah etnis yang tinggal di dataran tinggi Karo dan mengandalkan kehidupan ekonomi pada sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Begitu pentingnya tanaman padi sehingga dilakukan acara khusus sebagai upacara syukur maupun kegembiraan atas hasil yang diperoleh. Kerja Tahun adalah tradisi yang berhubungan dengan pertanian padi tersebut. Kerja Tahun bermakna Pesta Rakyat yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Pelaksanaannya tidak bersamaan di setiap desa. Ada yang merayakan pada masa awal tanam, masa padi mulai berdaun, menguning maupun setelah panen. Nama yang diberikan pada Kerja Tahun disesuaikan dengan waktu dilaksanakan. Kerja Tahun dilaksanakan dengan persiapan dan anggaran dana cukup besar, dalam waktu tiga hari yaitu motong (persiapan), matana (hari puncak) dan nimpa (penutup). Tradisi ini tetap bertahan di beberapa desa walaupun tanaman padi tidak ditemukan lagi. Kerja Tahun berhubungan dengan aspek religi, sosial ekonomi dan kekerabatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu terjadi perubahan. Pesta Tradisi ini juga menjadi sarana menunjukkan prestise bagi perantau yang telah berhasil di perantauan.Acara ini juga mulai dimanfaatkan sebagai sarana promosi atau kampanye untuk hal tertentu.

Kata Kunci: Kerja Tahun, Tradisi, Karo

PENDAHULUAN

Karo secara geografis adalah suatu wilayah yang terletak di 2o50-3o19 Lintang utara

sampai 98o-38o Bujur Timur. Wilayah ini

berbatasan dengan kabupaten Langkat, Deli Serdang, Dairi, Simalungun dan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ibu kota kabupaten di Kabanjahe. Etnis mayoritas adalah Etnis Karo.

Mengenai asal-usul Etnis karo ada beberapa versi . Brahma Putro dalam KaroDari Zaman Ke Zaman menghubungkan dengan kerajaan Haru Delitua, (sekitar abad ke-16) dan agressi kesultanan Aceh. Nilakamsastri dalam Sitepu, Dkk menghubungkan sejarahnya dengan pedagang India di Barus yang menetap dan berbaur dengan peduduk lokal. Akibat terjadinya huru-hara, mereka ikut berpindah dan sebagian menyebar sampai ke daerah Karo. Versi lainnya menyatakan Etnis Karo merupakan golongan

Proto Melayu yang terdesak ke pegunungan akibat kedatangan Deutro Melayu. Semua pendapat tersebut didasarkan pada bukti-bukti tertentu.

Etnis karo merupakan etnis yang dinamis dan tersebar bahkan melewati batas geografisnya. Masyarakat Karo, selain bermukim di daerah geografis Karo, juga bermukin di daerah Langkat dan Deli Serdang. Mereka yang bermukim di daerah Karo di sebut Karo Gugung dan yang di Langkat dan Deli Serdang di sebut Karo Jahe. Akan tetapi Etnis Karo baik Karo gugung dan Karo jahe tetap memiliki konsep tentang adat dan budaya yang sama. Hal ini sejalan dengan pemikiran Barth ( 1988:13 ) bahwa walaupun suatu kelompok etnik tinggal dan tersebar di lingkungan ekologi berbeda, namun tetapi akan mencerminkan orientasi budaya yang sama.

(2)

Etnis Karo, seperti juga etnis lain di Nusantara memiliki berbagai tradisi yag berhubungan dengan aspek kehidupan. Tradisi-tradisi tersebut sebagai saluran pemenuhan hasrat maupun kebutuhan hidup masyarakat pendukungnya . Salah satu tradisi yang rutin di laksanakan oleh Etnis Karo (khususnya Karo Gugung) adalah Kerja Tahun. Hal ini berhubungan dengan kehidupan perekonomian masyarakat yang mengandalkan pertanian. Tradisi ini dilakukan pada fase-fase tertentu saat proses penanaman padi. Kerja Tahun awalnya berhubungan dengan aspek religi, sosial ekonomi dan kekerabatan (relasi sosial). Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu terjadi perubahan konteks dan fungsinya.

PEMBAHASAN

Kerja Tahun secara etimologi terdiridari dua kata yaitu kerja dan tahun. “kerja” dalam bahasa karo di artikan pesta. Tahun untuk menunjukkan jarak waktu satu tahun. Jadi kerja tahun adalah pesta tradisi yang dilakukan masyarakat karo setiap tahun. Pesta tradisi tahunan ini berhubungan dengan kehidupan pertanian, khususunya tanaman padi.

Padi adalah tanaman penting bagi masyarakat desa,termasuk Etnis Karo. Selain sebagai bahan makanan pokok juga dianggap sebagai kekuatan ekonomi dan lambang prestise sosial bagi masyarakat. Luasnya lahan pertanian dan saratnya lumbung padi menjadi tolak ukur keberadaan seseorang beberapa waktu yang lalu. Tanaman padi adalah primadona bagi masyarakat Karo.Dahulu padi ditanam dengan masa 1 tahun. Begitu pentingnya tanaman ini sehingga sejak awal penanaman sampai proses panen adalah saat-saat yang selalu dianggap penting.Inilah yang dirayakan pada kerja tahun tersebut.Penyebutan padi dengan nama BERU DAYANG menunjukkan penghargaan terhadap tanaman tersebut. Hal ini juga dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat atas hal-hal yang bersifat supra natural.

Kerja Tahun dilaksanakan tidak bersamaan pada setiap desa di Tanah Karo. Ada desa yang merayakan pada masa awal tanam, ada pula yang menjalankan saat padi mulai berdaun, menguning, saat panen. Sehingga Nama acara juga berbeda sesuai dengan kondisi tanaman padi. Nama yang di berikan untuk Kerja Tahun yaitu:

1. Merdang Merdem.

Kerja tahun ini di laksanakan di sekitar kecamatan Tigabinanga dan Munte Pelaksanaan dilakukan saat akan dimulai proses penanaman padi. Merdang artinya masa awal tanam. 2. Nimpa Bunga Benih.

Sering juga disebut Ngambur-ngamburi. Pelaksanaan di sekitar daerah Kabanjahe, Berastagi dan Simpang empat dan dilakukan ketika tanaman padi mulai berdaun.

3. Mahpah.

Pelaksanaan di sekitar Barus Jahe dan Tiga Panah dan dilakukan ketika padi mulai menguning. Mahpah berasal dari kata Pahpah yaitu padi yang di rendam, dikeringkan dan ditumbuk pipih. Mahpah ini menjadi salah satu makanan pada saat acara.

4. Ngerires .

Pelaksanaan di daerah Batu Karang dan dilakukan setelah panen. Gerires berarti membuat lemang (Rires) beramai-ramai. Meskipun nama dan waktu yang berbeda sesuai dengan moment yang di rayakan, namun Kerja Tahun adalah pengekspresian rasa syukur kepada Tuhan. Di daerah lain mungkin terdapat juga tradisi yang hampir sama yaitu penghormatan terhadap tanaman padi. Akan tetapi kerja tahun di daerah Karo memiliki keunikan. Selain berhubungan dengan kehidupan sosial ekonomi dan religi, acara ini juga berhubungan dengan kekerabatan ( silaturahmi ). Bahkan pelaksanaannya di

(3)

beberapa daerah, khususnya di kecamatan Tigabinaga dan Munte yang menyebut Kerja Tahun dengan Merdang Merdem sangat meriah. Acara ini sering menghabiskan dana puluhan sampai ratusan juta rupiah. Kerja tahun dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga yang berada di luar daerah . Para perantau lebih menyukai pulang ke kampung halaman pada saat Kerja Tahun dibandingkan dengan hari besar keagamaan,seperti saatNatal dan Lebaran. Dengan kata lain, Tradisi ini menjadi sarana mudik. Selain sebagai sarana memperkuat silaturahmi dan melepas rindu.Kerja Tahun juga sebagai sarana mempertemukan jodoh. Adanya acara Guro-Guro Aron (hiburan dengan tari,lagu dan musik tradisional) sering mempertemukan pemuda pemudi dalam perjodohan. Begitu pula orang tua, saling memperkenalkan anak-anaknya sehingga kekerabatan semakin erat. Jika terdapat persoalan di tengah keluarga, saat Kerja Tahun juga dianggap waktu yang baik untuk menyelesaikannya.

Prints dalam adat karo(1996) member gambaran bahwa Kerja Tahun sebagai moment kepentingan sosial ekonomi dan hubungan sosial. Sedangkan Sitepu dalam Tanah karosimalemras pijer podi karo (1993) menghubungkan dengan konsep religi.

Kerja tahun sebagai pesta tradisi tahunan dilakukan dalam beberapa hari. Penentuan jadwal yang dilaksanakan sesuai peredaran bulan dan disepakati secara musyawarah antara masyarakat dan pemuka adat/pemuka desa.Setelah ditentuka jadwal pelaksanaan pesta tahunan ini di laksanakan dengan berbagai persiapan. Acara pesta ini dibagi atas :

 Motong (sering juga disebut mantem) yang merupakan hari persiapan .  Matana (man-man) yang merupakan

acara puncak.

 Nimpa yang merupakan acara penutup.

 Motong ( mantem )

Sehari sebelum pelaksanaan kerja tahun, telah disediakan beberapa ekor hewan (lembu) untuk dipotong. Seekor lembu biasanya akan berbagi beberapa keluarga. Para ibu dan gadis mempersiapkan makanan dirumah masing-masing. Keluargadari luar daerah biasanya mulai datang pada hari motong tersebut. Pada malam hari akan dimulai acara hiburan yang disebut Guro Guro Aron (muda mudi) menari diiringi musik dan lagu tradisional karo. Acara ini merupakan acara yang sangat dinantikan. Kerja Tahun tanpa Guro-Guro Aron dianggap kurang meriah. Hal ini ditentukan hasil panen. Pada tahun tersebut, para orang tua dan tamu undangan juga ikut menari.

 Matana (wari man-man)

Adalah puncak pelaksanaan kerja tahun. Keluarga saling mengunjungi. Begitu juga mengantarkan makanan kepada keluarga tertentu (kalimbubu). Terdapat tiga unsur dalam hubungan kekerabatan etnis karo yang disebut “Deliken Sitelu” Dalam Sitepu, DKK (1996) menyatakan Deliken Sitelu yaitu:

- Sukut (sembuyak dan senina) berarti saudara dari garis ayah. Ataupun dari garis ibu yang disebut sepemeren

- Kalimbubu yaitu pihak keluarga pemberi istri (perempuan yang dikawini)

- Anak beru yaitu keluarga yang mengambil (mengawini) anak perempuan dari suatu keluarga. Kalimbubu adalah pihak yang sangat dihormati sehingga diantar makanan ke rumahnya.

 Nimpa

Pada hari ketiga, dibuat semacam kue yang disebut ( cimpa ) yang bahannya

(4)

tepung beras pulut, dan diisi gula merah dan kelapa. Acara ini merupakan penutup dari kerja tahun tersebut. Cimpa ini selain dimakan bersama juga menjadi oleh-oleh buat keluarga yang akan pulang. Pada daerah lain seperti Batu Karang, cimpa diganti dengan lemang (rires).

Pada saat ini Kerja Tahun pada sebagian daerah sudah mulai menurun pelaksanaannya. Akan tetapi pada beberapa daerah yang lain, tetap berlangsung dengan meriah, hanya terdapat perubahan konteks dan fungsi. Fungsi religius sudah tidak lagi dominan bahkan hampir tidak ada. Faktor berkembangnya agama ikut mempengaruhi kondisi ini. Masyarakat sudah tidak melakukan hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama seperti “Ercibal”(meletakan sesajen). Selain fungsi kekerabatan dan hiburan, mulai muncul aspek prestise (para perantau ingin menunjukkan keberhasilannya di perantauan kepada desanya). Pada saat kampanye (PILKADA ataupun lainnya), Kerja Tahun juga mulai dimanfaatkan sebagai sarana mencari simpati, dukungan ataupun promosi. Hal ini sejalan dengan kondisi yang terdapat pada masyarakat saat ini. Bahkan tanaman padi juga sudah jarang ditemukan di Tanah Karo. Tanaman padi di geser oleh tanaman lain yang di anggap lebih memiliki pangsa pasar, seperti jagung, coklat, dan lainnya. Akan tetapi walaupun Kerja Tahun mengalami perubahan konteks dan fungsi, tapi pelaksanaanya di beberapa daerah di Tanah Karo tetap dipertahankan.

PENUTUP

Kerja Tahun sebagai tradisi yang berhubungan dengan kehidupan sosial ekonomi (pertanian padi) masyarakat Karo. Tradisi ini sarat akan nilai yang mengandung aspek religi dan sosial. Sejalan dengan perubahan konteks dan fungsi. Akan tetapi tradisi ini adalah hal yang perlu dilestarikan dan dilakukan secara rutin dengan penyesuaian terhadap situasi/kondisi dan kebutuhan masyarakat. Tradisi Kerja Tahun adalah tradisi kekayan budaya bangsa kita.

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Bangun, T, 1986, Manusia Batak Karo, Jakarta : Inti Idaya Press.

Barth, Frederich, 1988. Kelompok Etnik dan Batasannya, Jakarta : Universitas Indonesia,

Press, Dove ,Michael , R. (Ed), 1985. Peranan Kebudayaan Tradisi , Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial dan FIS UI.

Prits , Darwan, 1996, Adat Karo , Medan : Tanpa penerbit.

Sitepu , Bujur, 1993 , Tanah Karo Simalem Ras Pijer Podi Karo , Medan: tanpa penerbit Sitepu , Sempa, dkk 1996. Pilar Budaya

Karo,Medan: Percetakan Bali.

Tarigan, Henry Guntur, 1988. Percikan Budaya Karo,Jakarta : Yayasan merga silima.

Ginting, Junita setiana, 2012, Perubahan Sosial Budaya Merdang Merdem Sebagai Tradisi Pada Masyarakat Karo, Medan : Bartong Jaya

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Perkembangan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di Indonesia Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) merupakan instrumen penting dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Perkembangan AMDAL di Indonesia dapat dilihat dari berbagai tahapan, mulai dari tidak adanya peraturan, hingga dilengkapi dan dikembangkan dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Cipta Kerja. Pada awalnya, tidak ada peraturan khusus yang mengatur tentang AMDAL. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan, pemerintah mulai melihat kebutuhan untuk memiliki instrumen yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi dampak potensial suatu kegiatan terhadap lingkungan. Seiring berjalannya waktu, peraturan tentang AMDAL semakin dilengkapi dan dikembangkan. Hal ini tercermin dalam berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk Undang-Undang Cipta Kerja. Undang-Undang ini memberikan penekanan khusus pada pentingnya AMDAL dalam proses perizinan usaha. Perkembangan ini menggambarkan adanya keperluan perubahan sesuai situasi ekonomi dan politik pembuat undang-undang. Dalam konteks ekonomi, AMDAL dianggap sebagai instrumen yang dapat membantu mencapai pembangunan berkelanjutan, dengan memastikan bahwa dampak lingkungan dari suatu kegiatan usaha dapat diidentifikasi dan dikelola dengan baik. Sementara itu, dalam konteks politik, AMDAL menjadi alat bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmennya dalam perlindungan lingkungan. Dengan adanya AMDAL, pemerintah dapat memastikan bahwa setiap kegiatan usaha yang dilakukan tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan demikian, perkembangan AMDAL di Indonesia mencerminkan dinamika dan perubahan yang terjadi dalam konteks ekonomi dan politik di negara ini. Melalui AMDAL, kita dapat melihat bagaimana pemerintah berusaha untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan