• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi Tentara Nasional Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Transformasi Tentara Nasional Indonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Transformasi Tentara Nasional Indonesia

Oleh Dini Dewi Heniarti

Tentara Nasional Indonesia tidak lahir tiba-tiba di saat negara ini sudah mapan. Cikal bakal TNI adalah sebagian rakyat bersenjata yang berjuang mengorbankan jiwa raganya mengusir penjajah. Keniscayaan sejarah TNI tidak boleh hilang, itulah jati diri TNI. Tentara mempu-nyai kedudukan tesendiri di dalam Islam yang dilebihkan oleh Allah SWT dengan menyebutkan diri-Nya di belakang kata jundun (tentara) menjadi jundana (tentara kami).

Sebutan "tentara kami" dalam surat Ash-Shaffat (37) ayat 173 lebih populer dengan istilah jundullah yang artinya tentara Allah, dengan maksud tentara yang dimuliakan Allah. "Tidak ada seorang prajurit yang terluka di jalan Allah melainkan ia datang pada hari kiamat dengan lukanya yang mengalir darah, yang warnanya warna darah, akan tetapi aromanya seharum aroma minyak kesturi." (HR Muttafaqun’alaihi).

Tentara dengan perannya sebagai the guardian of the nation harus mengambil posisi menjaga keseimbangan antara upaya menegakkan keutuhan serta persatuan bangsa dan upaya mewujudkan demokrasi. Namun, sejak reformasi bergulir, posisi TNI menjadi sangat runyam. Upaya melengkapi unsur tempur agar dapat mencapai combat readiness yang minimal mendapatkan tantangan yang luar biasa. Pengadaan pesawat sukhoi dan pengadaan panser dalam unit kecil diributkan habis-habisan. Sepertinya telah berkembang dendam dan kebencian mendalam terhadap TNI yang dianggap telah berfoya-foya selama lebih dari 30 tahun pada era Orde Baru.

Runtuhnya Orde Baru akibat tuntutan demokrasi telah mengubah secara fundamental hubungan sipil dan militer di Indonesia. Besarnya desakan terhadap militer untuk kembali pada peran pertahanan negara mengharuskan TNI mereposisi dan meredefinisi fungsi dan perannya sebagai alat pertahanan negara. TNI telah menghapus dwifungsi, mencopot dan membersihkan seluruh jabatan yang diduduki personel militer atau mantan militer, mengalihkan bisnis, hengkang dari DPR, menghilangkan fungsi teritorial, dan semua personelnya masuk ke barak. TNI tidak berpretensi memasuki wilayah politik sekaligus tidak ingin dijadikan objek para politisi.

Pada sisi yang lain, TNI ingin otonomi institusinya dihormati oleh kekuatan sipil agar tidak campur terlalu jauh dalam urusan ketentaraan. Namun anehnya, jabatan Panglima TNI harus melalui proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR, salah satu lembaga politik. Satu jabatan jenjang karier yang harus melalui pengalaman puluhan tahun diharuskan melalui tes yang diselenggarakan oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang karier militer, sehingga nuansa politiknya sangat kental. Ulasan-ulasan tentang TNI selalu bernuansa kebencian mendalam terhadap TNI. Mereka tidak mengetahui betapa banyak anggota TNI yang berdedikasi tinggi

menjalankan tugas tanpa memikirkan kepentingan dirinya. Penderitaan para janda dan anak yatim yang ditinggalkan ayahnya dalam menjalankan tugas negara ataupun dalam misi-misi perdamaian dunia.

Reformasi internal TNI terus dilakukan sehingga terwujud postur TNI yang benar-benar solid, profesional, modern, berwawasan kebangsaan, dicintai, dan mencintai rakyat. Reformasi TNI menyediakan lebih banyak waktu untuk membenahi dan menata diri serta menambah bobot intelektual bagi prajuritnya. Pemantapan jati diri TNI merupakan keniscayaan yang harus dicapai oleh reformasi internal TNI. Jati diri bukan sekadar dimaknai sebagai exposed value atau nilai yang harus dipancarkan, melainkan menjadi believed system, yakni sistem kepercayaan dan nilai yang membudaya bagi diri setiap prajurit dan institusi TNI. Sistem kepercayaan atau sistem nilai itu bekerja

menggerakkan perilaku prajurit dalam mengemban tugas pokoknya mengawal tiga aspek fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, serta melindungi segenap bangsa Indonesia. Reformasi ini harus memberikan kontribusi dalam mengembangkan civil society dan demokratisasi tanpa harus mengubah jati diri TNI. Agenda politik utama reformasi sektor pertahanan adalah inisiasi visi politik transformasi militer menjadi institusi yang tangguh dan profesional dalam suatu tatanan negara demokratis. Visi ini menuntut rangkaian regulasi politik yang mengatur peran dan posisi TNI dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Bangsa ini membutuhkan TNI yang kuat guna melindungi kepentingan nasional dari ancaman disintegrasi ataupun intervensi. Kekuatan yang dimiliki TNI perlu dibarengi dengan komitmen TNI memantapkan jati dirinya sebagai prajurit sapta marga dan meningkatkan profesionalismenya. Bagi para militer profesional, peristiwa Bawean

:: repository.unisba.ac.id ::

(2)

(berkeliarannya pesawat terbang Angkatan Laut Amerika Serikat) dan peristiwa Ambalat sebenarnya sudah menempatkan negara kita pada posisi dalam urusan hidup dan mati karena di situ telah terjadi pelecehan terhadap kehormatan dan kedaulatan ibu pertiwi.

Oleh karena itu, postur pertahanan harus memiliki kemampuan menangkal (detterent) dan kemampuan penyangkalan (denial), mempunyai kemampuan penghancuran, pemulihan, serta secara efektif harus mampu melaksanakan operasi militer selain perang. Hal itu tentunya harus didukung oleh kekuatan personel ataupun alutsista yang memadai dan gelar kekuatan yang tepat, serta tentu saja kemampuan dukungan anggaran yang tepat.

Keandalan ini sangat ditentukan oleh profesionalisme militer yang meliputi berbagai komponen seperti kesungguhan (determinasi), kesiapan (readiness), dan kelincahan (mobility), serta komponen kuantitatif seperti alutsista.

Tentara sudah kembali ke fungsi militer yang sebenarnya, yaitu TNI sebagai "tentara perang". Dengan demikian, kita harus meredefinisi secara konkret tugas TNI sebagai militer yang outward-looking (menjalankan fungsi eksternal menjaga kedaulatan negara). Isu yang relevan dalam masalah profesionalisme TNI sebenarnya adalah mentransformasi TNI. Transformasi dapat diartikan dengan berubah bentuk atau berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Selain itu, TNI harus memiliki kapasitas untuk menyerang musuh. TNI membutuhkan alutsista yang berkemampuan perang multifungsi dan jauh dari daratan (perang laut dan udara). Tidak ada pilihan lain bagi TNI dalam

menjalankan tugas dan kewajiban utamanya yang bersifat eksternal, menjaga kedaulatan NKRI secara efektif dan efisien, jika tidak melakukan transformasi dalam segala aspek. Kedaulatan suatu negara akan terancam jika tidak memiliki militer yang kuat. Peran TNI untuk kepentingan negara dan bangsa sangat menentukan. Oleh karena itu, dapat dipahami mereka yang bermaksud melikuidasi NKRI dan menghancurkan bangsa Indonesia selalu lebih dulu berusaha menghancurkan TNI. (Sayidiman Suryohadiprojo).

Realitas geopolitik negara-negara di Asia Pasifik yang menempatkan angkatan perang secara besar di Asia menjadi perhatian mutlak. Amerika Serikat, Cina, Rusia, India, Pakistan, dan Korea adalah kekuatan perang besar yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik. Indonesia merupakan kawasan yang rawan sebagai permutasian arena konflik dan peperangan di antara kekuatan negara-negara besar tersebut. Di sinilah kebijakan strategic defence review dan kajian geopolitik di Asia Pasifik menjadi urgen untuk tidak hanya fokus terhadap ancaman konflik internal tetapi lebih strategis untuk memandang ancaman dari luar. Kekuatan TNI adalah pada kemampuan profesionalismenya dan semangat kejuangannya mengabdi kepada negara. Lanjutkan perjuangan, tenang dalam derita tabah sampai akhir. Selamat ulang tahun TNI!***

Penulis, kandidat doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, dosen Fakultas Hukum dan Pascasarjana Unisba.

Sumber: 

Pikiran Rakyat, Kamis, 7 ktober 2010 

http://newspaper.pikiran‐rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=158996 

:: repository.unisba.ac.id ::

Referensi

Dokumen terkait

This display documents the histories of T&G Mutual Life Assurance Society, National Mutual Life Association, AXA and AMP using film footage, images and objects including items borrowed

Contingent consideration classified as an asset or liability that is a financial instrument is measured at fair value with the changes in fair value recognised in the consolidated