BB03-RK17a- RII.4 15 Agustus 2019
TUGAS TUTORIAL ONLINE KE-1/2/❸
PDGK4407/PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS/3 SKS PROGRAM STUDI S1 PGSD
No Uraian Tugas Tutorial Skor
Maksimal 1
2 3 4
5
Jelaskan istilah yang digunakan pada tunagrahita!
Jelaskan klasifikasi yang digunakan oleh american asociation on mental degiciency untuk anak tunagrahita!
Jelaskan kebutuhan khusus anak tunadaksa!
Jelaskan definisi anak kesulitan belajar menurut Canadian Association For Children And Adults With Learning Disabilities !
Jelaskan faktor kesulitan belajar menurut Roos (1976) dkk!
20 20 20 20
20
* coret yang tidak sesuai
Jawaban!!
1. Tunagrahita bukan merupakan penyakit melainkan kelainan karena penyimpangan baik dari segi mental, fisik, intelektual, emosi, sikap ataupun perilaku secara signitif. Hal ini menyebabkan proses perkembangan tidak optimal sehingga kemampuan yang dimiliki umumnya di bawah rata- rata usianya.
Terdapat beberapa macam istilah yang digunakan untuk menyebutkan tunagrahita, yaitu : 1. Pikiran lemah
2. Keterbelakangan mental (Mentally Retarded) 3. Dungu
4. Pandir (Imbecile) 5. Moron
6. Oligofrenia (Oligophrenia)
7. Mampu Didik (Educable) 8. Mampu Latih (Trainable)
9. Ketergantungan penuh atau butuh rawat (Totally Dependent) 10. Mental Subnormal
11. Defisit Mental 12. Defisit Kognitif 13. Cacat Mental 14. Defisiensi Mental 15. Gangguan Intelektual
Ke lima belas istilah yang bermacam–macam tersebut diberikan karena adanya perbedaan dari faktor dan gejala yang terlihat pada setiap individunya sehingga menyebabkan perbedaan penyebutan bagi setiap individu yang mengalaminya sesuai dengan gejala yang terlihat. Namun istilah resmi bagi para penderita retardasi mental di Indonesia ialah “Tunagrahita” sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 tahun 1991 mengenai “Pendidikan Luar Biasa”
Pembahasan :
Tunagrahita merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan individu baik anak ataupun orang dewasa yang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata- rata atau bisa juga disebut dengan retardasi mental. Tidak hanya kemampuan intelektual saja tetapi keterampilan yang dimilikinya pun umumnya di bawah rata- rata usianya.
Ciri- ciri dari anak tunagrahita antara lain :
Tidak memiliki kemampuan sosial yang baik
Secara mental di bawah normal
Terhambatnya kecerdasan baik sejak lahir maupun pada saat usia muda
Kematangannya terhambat
Tunagrahita digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
Tunagrahita Ringan
Pada kelompok ini, meskipun kecerdasan dan adaptasi sosial penderitanya terhambat, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, serta mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial serta memiliki kemampuan untuk bekerja.
Tunagrahita Sedang
Pada Kelompok, penderita masih memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan juga kemampuan intelektual di bawah tunagrahita ringan. Mereka tetap dapat mempelajari keterampilan sekolah namun dengan tujuan yang bersifat fungsional dan mencapai tingkat untuk memiliki rasa “tanggung jawab sosial”. Mereka juga dapat bekerja namun harus dengan bantuan.
Tunagrahita Berat dan Sangat Berat
Pada kelompok ini, secara umum para penderitanya hampir tidak memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri ataupun melakukan sosialisasi apalagi kemampuan untuk bekerja. Komunikasi yang dapat mereka lakukan pun biasanya sangat sederhana dan terbatas.
Maka kemampuan diri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya pun sangat terbatas.
Tunagrahita dapat disebabkan oleh hal- hal seperti faktor genetik, faktor pra kelahiran, faktor penyebab pada saat kelahiran dan faktor penyebab selama masa perkembangan pada usia kanak-kanak dan remaja.
2. Menurut American Asssociation On Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip oleh Grossman (1983), anak tunagrahita dibagi menjadi 4 yakni tunagrahita ringan, sedang, berat, sangat ber at, anak tunagrahita ringan dipandang masih memiliki kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian dan kemampua n bekerja meskipun berdasarakan dan adaptasi sosialnya terhambat, mereka masih mempunyai potensi untuk menguasai mata pelajaran akademik di sekolah dasar. Mampu didik untuk melakukan penyesuaian sosial dan bahkan banyak yang dapat mandiri dalam masyarakat. Mereka dapat melakukan pekerjaan semi skill dan sosial sederhana. Hal tersebut diatas menyebabkan seringkali tidak dapat diidentifikasi sampai mengikuti pelajaran di sekolah biasa selama satu atau dua tahun karena kesulitan dalam mengikuti pelajaran dan penyesuaian diri deng an teman-temanya.
Penggolongan/Klasifikasi tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association On Mental Retardation dalam Special Education In Ontario Schools sebagai berikut:
a. Educable. Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak regular pada kelas 5 Sekolah Dasar.
b. Trainable. Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.
c. Custodial. Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khu sus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
3. Dalam pelaksanaan pembelajaran akan dikemukakan ha-hal yang berkaitan dengan keterlaksanaannya, seperti berikut.
a. Perencanaan Kegiatan Belajar-Mengajar
Sehubungan dengan perencanaan kegiatan pembelajaran bagi anak tunadaksa, Ronald L. Taylor (1984) mengemukakan, apabila penyandang cacat menerima pelayanan pendidikan di sekolah formal maka ia harus memperoleh pelayanan pendidikan yang diindividualisasikan. Dalam rangka mengembangkan program pendidikan yang diindividualisasikan, banyak informasi/data yang diperlukan dan salah satunya dihasilkan melalui assessment. Adapun langkah-langkah utama dalam merancang suatu program pendidikan individual (PPI) adalah sebagai berikut.
a. Membentuk tim PPI atau Tim Penilai Program Pendidikan yang diindividualisasikan (TP3I), yang mencakup guru khusus, guru reguler, diagnostician, kepala sekolah, orang tua, siswa, serta personel lain yang diperlukan.
b. Menilai kekuatan dan kelemahan serta minat siswa yang dapat dilakukan dengan assessment.
c. Mengembangkan tujuan-tujuan jangka panjang dan sasaran-sasaran jangka pendek.
d. Merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan e. Menentukan metode dan evaluasi kemajuan
b. Prinsip Pembelajaran Ada beberapa prinsip utama dalam memberikan pendidikan pada anak tunadaksa, diantaranya sebagai berikut.
a. Prinsip multisensori (banyak indra) Proses pendidikan anak tunadaksa sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indra-indra yang ada dalam diri anak karena banyak anak tunadaksa yang mengalami gangguan indra. Dengan pendekatan
multisensori, kelemahan pada indra lain dapat difungsikan sehingga dapat membantu proses pemahaman.
b. Prinsip individualisasi Individualisasi mengandung arti bahwa titik tolak layanan pendidikan adalah kemampuan anak secara individu. Model layanan pendidikannya dapat berbentuk klasikal dan individual. Dalam model klasikal, layanan pendidikan diberikan pada kelompok individu yang cenderung memiliki kemampuan yang hampir sama, dan bahan pelajaran yang diberikan pada masing-masing anak sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
c. Penataan Lingkungan Belajar Berhubung anak tunadaksa mengalami gangguan motorik maka dalam mengikuti pendidikan membutuhkan perlengkapan khusus dalam lingkungan belajarnya. Gedung sekolah sebaiknya dilengkapi ruangan/sarana tertentu yang memungkinkan dapat mendukung kelancaran kegiatan anak tunadaksa di sekolah. Bangunan-bangunan gedung sebaiknya dirancang dengan memprioritaskan 3 kemudahan, yaitu anak mudah ke luar masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian atau segala sesuatu yang ada di ruangan itu mudah digunakan (Musyafak Assyari, 1995). Beberapa kondisi khusus mengenai gedung itu adalah sebagai berikut.
a. Macam-macam ruangan khusus, seperti ruang poliklinik/UKS untuk pemeriksaan dan perawatan kesehatan anak, ruang untuk latihan bina gerak (physiotherapy), ruang untuk bina bicara (speech therapy), ruang untuk bina diri, terapi okupasi, dan ruang bermain, serta lapangan.
b. Jalan masuk menuju sekolah sebaiknya dibuat keras dan rata yang memungkinkan anak tunadaksa yang memakai alat bantu ambulasi, seperti kursi roda, tripor, brace, kruk, dan lain-lain, dapat bergerak dengan aman.
c. Tangga sebaiknya disediakan jalur lantai yang dibuat miring dan landai
d. Lantai bangunan baik di dalam dan di luar gedung sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak licin.
d. Pintu-pintu ruangan sebaiknya lebih lebar dari pintu biasa dan daun pintunya dibuat mengatup ke dalam.
e. Untuk menghubungkan bangunan/kelas yang satu dengan yang lain sebaiknya disediakan lorong (koridor) yang lebar dan ada pegangan di tembok agar anak dapat mandiri berambulasi.
f. Pada beberapa dinding lorong dapat dipasang cermin besar untuk digunakan anak mengoreksi sendiri sikap/posisi jalan yang salah.
g. Kamar mandi/kecil sebaiknya dekat dengan kelas-kelas agar anak mudah dan segera dapat menjangkaunya.
h. Dipasang WC duduk agar anak tidak perlu berjongkok pada waktu menggunakannya.
i. Kelas sebaiknya dilengkapi dengan meja dan kursi yang konstruksinya disesuaikan dengan kondisi kecacatan anak, misalnya tinggi meja kursi dapat disetel, tanganan, dan sandaran kursi dimodifikasi, dan dipasang belt (sabuk) agar aman.
d. PERSONEL
Personel yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan anak tunadaksa adalah berikut ini.
1. Guru yang berlatar belakang pendidikan luar biasa, khususnya pendidikan anak tunadaksa;
2. Guru yang memiliki keahlian khusus, misalnya keterampilan dan kesenian;
3. Guru sekolah biasa;
4. Dokter umum;
5. Dokter ahli ortopedi;
6. Neurolog;
7. Ahli terapi lainnya, seperti ahli terapi bicara, physiotherapist dan bimbingan konseling, serta orthotist prosthetist.
4. Adapun pengertian tentang anak berkesulitan belajar khusus , sebagaimana dijelaskan oleh Canadian Association for Children and Adults with Learning Disabilities(1981) adalah mereka yang tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah meskipun
kecerdasannya termasuk rata-rata, sedikit di atas rata-rata, atau sedikit di bawah rata-rata, dan apabila kecerdasannya lebih rendah dari kondisi tersebut bukan lagi termasuk learning disabilities. Keadaan ini terjadi sebagai akibat disfungsi minimal otak (DMO) yaitu karena adanya penyimpangan dalam perkembangan otak yang dapat berwujud dalam berbagai kombinasi gejala gangguan seperti : gangguan persepsi, pembentukan konsep, bahasa, ingatan, kontrol perhatian atau gangguan motorik. Keadaan ini tidak disebabkan oleh gangguan primer pada penglihatan, pendengaran, gangguan motorik , gangguan emosional, retardasi mental, atau akibat lingkungan.
5. Para ahli mempunyai pandangan yang berbeda mengenai faktor-faktor yang
menyebabkan timbulnya kesulitan belajar (learning disabilities). Namun secara tegas dikemukakan oleh Roos (1976), Siegel dan Gold (1982), serta Painting (1983), bahwa kesulitan belajar kusus disebabkan oleh disfungsi sistem syaraf yang disebabkan oleh: (1) cedera otak pada masa perkembangan otak, (2) ketidakseimbangan zat-zat kimiawi di dalam otak, (3) gangguan perkembangan syaraf, dan (4) kelambatan proses
perkembangan individu.