• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas 3 Validitas dan Reliabilitas Alat Tes

N/A
N/A
Fahmi Mauliadi

Academic year: 2025

Membagikan "Tugas 3 Validitas dan Reliabilitas Alat Tes"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Dimas Noor Arasy

Nim : 230701501063

Kelas : D

Mata Kuliah : Psikodiagnostik

Dosen Pengampu : Andi Muhammad Faizal Kari

TES MBTI

Myers – Briggs Type Indicator atau dikenal sebagai MBTI adalah alat pengukuran berupa kuesioner yang berguna untuk mengidentifikasi tipe kepribadian seseorang dalam konteks lingkungannya. MBTI, sebuah tes kepribadian yang sedang naik daun dan mendapat banyak perhatian saat ini, telah menjadi terkenal karena kepraktisannya (Ta m et al., 2016). Tes ini dapat diakses secara daring melalui aplikasi berbasis web yang memakai metode 16 Personality Factors (16 PF).

Pada tahun 1921, Katherine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, merangkum konsep psikologi dari buku Carl Gustav Jung, yang berjudul psychological types.

Mereka kemudian mengembangkan konsep tersebut menjadi MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator. Tujuannya adalah menciptakan alat psikotes yang dapat mengukur dan mengklasifikasikan tipe kepribadian manusia ke dalam 16 tipe yang berbeda.

Tes MBTI memiliki empat dimensi karakteristik manusia sebagai berikut:

1. Ekstrovert (E) – Introvert (I)

Ekstrovert adalah orang yang suka bergaul, berinteraksi sosial, dan aktif dengan orang lain. Mereka biasanya mahir dalam urusan yang melibatkan orang lain dan dalam hal- hal yang bersifat operasional. Di sisi lain, Introvert adalah individu yang lebih sering menghabiskan waktu sendiri dan cenderung menghindari terlalu banyak interaksi sosial. Mereka lebih berhati-hati dan selektif dalam berinteraksi sosial.

2. Sensing (S)Intution (I)

Tipe sensing cenderung mengandalkan indra mereka dalam mengumpulkan informasi.

Mereka lebih suka informasi yang konkret, faktual, dan praktis, serta fokus pada masa lalu dan masa kini. Di sisi lain, tipe intuition melihat kemungkinan dari perspektif yang lebih luas dan abstrak, lebih tertarik pada teori, dan memikirkan apa yang bisa terjadi di

(2)

masa depan. Intuisi terkait dengan firasat, inspirasi tiba-tiba, dan wawasan yang mendalam (Sample, 2018).

3. Thinking (T)Feeling (F)

Thinking merujuk pada individu yang cenderung menggunakan logika dan pertimbangan yang terukur dalam pengambilan keputusan. Mereka terampil dalam analisis dan mematuhi prosedur atau standar tertentu. Di sisi lain, feeling mengacu pada orang yang lebih memprioritaskan perasaan dan mempertimbangkan aspek emosional dalam pengambilan keputusan. Mereka memikirkan dampak secara personal dan hubungan antar orang, cenderung empatik, dan menginginkan keharmonisan. Dalam konteks ini, mereka ahli dalam menjaga keharmonisan dan memelihara hubungan dengan baik.

4. Perceiving (P)Judging (J)

Tipe perceiving cenderung terbuka terhadap perubahan, fleksibel, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka bersikap spontan, membiarkan hidup mengalir, dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tiba-tiba. Mereka mudah beradaptasi, pengertian, dan memiliki toleransi yang tinggi, tetapi cenderung impulsif, kesulitan dalam pengambilan keputusan cepat, kurang terorganisir, dan kurang fokus. Di sisi lain, tipe j udging lebih menyukai keteraturan, perencanaan, menetapkan tujuan, dan rutinitas yang terstruktur. Mereka dapat diandalkan dalam membuat keputusan dan mengatur hal dengan baik. Namun, mereka cenderung kaku, cepat membuat kesimpulan, kurang toleran, terlalu kritis, dan sering menghakimi (Gardner, 1996).

Untuk menilai seberapa tepat suatu tes sebagai alat pengukur, diperlukan uji validitas.

Dalam konteks ini, validitas MBTI dalam menilai karyawan selama proses rekrutmen telah dipertanyakan berdasarkan penelitian literatur. Temuan tersebut menunjukkan bahwa MBTI tidak memenuhi standar dasar tes psikologi dalam berbagai aspek. Banyak prediksi dari MBTI telah terbukti salah, dan tidak ada bukti valid bahwa ke-16 jenis kepribadian dapat mencakup semua individu. Selain itu, tidak ada bukti yang menegaskan bahwa tes MBTI konsisten dan dapat diukur. Oleh karena itu, keandalan dan validitas tes MBTI dipertanyakan, sehingga penggunaannya dalam proses rekrutmen menjadi diragukan. Beberapa ahli bahkan meragukan keakuratan ilmiah dari MBTI karena dianggap hasilnya tidak dapat diukur secara konsisten, dan kesimpulan tidak dapat diambil hanya dari hasil tes semata (Openg et al., 2022).

(3)

Ada beberapa kritik utama terhadap MBTI yang menyoroti kurangnya validitas dan reliabilitas dimensi kepribadian yang disajikan. Misalnya, MBTI dikritik karena hasilnya tidak konsisten dari waktu ke waktu dan kurangnya bukti empiris yang mendukung struktur teoritis dari 16 tipe kepribadian yang diusulkan. Beberapa ahli bahkan meragukan akurasi ilmiah dari MBTI karena dianggap tidak dapat diukur hasilnya dan kesimpulan tidak bisa diambil hanya dari hasil tes semata (Openg et al., 2022). Namun, ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan akurasi tes MBTI. Misalnya, tes MBTI dapat digabungkan dengan alat tes lainnya, seperti Big 5, untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Untuk mengatasi kecurangan dalam pelaksanaan tes MBTI, dapat diterapkan batasan penggunaan.

Berdasarkan beberapa penelitian, ditemukan bahwa teori klasifikasi kepribadian Big 5 dianggap lebih informatif dan memiliki performa yang lebih baik dalam prediksi kepribadian dibandingkan MBTI. Namun, penelitian oleh Fabio Celli dan Bruno Lepri menunjukkan bahwa MBTI dapat memiliki performa yang cukup baik dalam prediksi kepribadian dengan menggunakan metode SVM, meskipun variabilitas kinerjanya bergantung pada algoritma yang digunakan (Harahap & Muslim, 2020). Untuk meningkatkan informativitas tes MBTI, perlu dilakukan perbaikan terhadap validitas dan reliabilitasnya. Ini dapat dilakukan dengan menghapus item-item yang memiliki nilai korelasi item-total di bawah kriteria yang ditetapkan.

Begitu pula dengan reliabilitas, alat tes dapat dianggap reliabel jika memberikan hasil yang konsisten meskipun digunakan beberapa kali.

Alat ukur yang tidak dapat diandalkan atau tidak valid dapat memberikan informasi yang tidak akurat tentang subjek atau individu yang diuji. Jika informasi yang salah tersebut digunakan sebagai dasar untuk membuat kesimpulan atau keputusan, maka kesimpulan atau keputusan tersebut tidak akan benar (Risnandar et al., 2014). Ketika tes MBTI memberikan informasi yang tidak akurat, hasil yang diperoleh mengenai kepribadian seseorang bisa salah, dan ini dapat menjadi sangat berbahaya jika individu tersebut langsung membuat kesimpulan tentang dirinya berdasarkan hasil tersebut. Oleh karena itu, dalam melakukan tes, sangat penting untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan dan kesimpulan, karena hanya dengan satu tes saja tidaklah cukup untuk menjadi satu-satunya dasar dalam pengambilan keputusan.

Meskipun tes secara daring memiliki keunggulan dalam hal kemudahan akses, karena bisa diakses kapan saja dan di mana saja selama terhubung dengan internet, namun di sisi lain, hal ini juga membuat tes menjadi kurang valid dan akurat. Tes MBTI yang tersedia secara online seringkali dapat dilakukan berulang kali tanpa ada batasan, sehingga tidak ada norma

(4)

yang membatasi penggunaannya. Ini bisa mengakibatkan seseorang dapat mencoba tes tersebut berulang kali dalam waktu singkat, bahkan bisa mempelajari jawaban-jawaban yang benar sebelum menjawab, sehingga hasil yang diperoleh menjadi tidak valid. Untuk mengatasi ketidakakuratan tersebut, penerapan kode etik psikologi pada tes MBTI secara daring diperlukan untuk melindungi data pribadi dan memastikan bahwa hasil tes tidak disalahgunakan atau diakses secara tidak sah. Selain itu, pertanyaan dalam tes sebaiknya dapat disesuaikan secara dinamis sesuai dengan kondisi responden.

Salah satu tes psikologi yang umum digunakan adalah Four Temperaments atau Empat Temperamen. Aplikasi berbasis web ini dapat mengklasifikasikan tipe kepribadian seseorang berdasarkan kuesioner, dan diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mengidentifikasi tipe kepribadian seseorang tanpa menggunakan tes psikologi tradisional. Meskipun hasil psikotes dapat diketahui secara langsung, namun proses seleksi karyawan biasanya melibatkan beberapa tahapan dengan penilaian yang berbeda-beda. Salah satu tahapan penting adalah psikotes, di mana kepribadian individu dinilai berdasarkan parameter tertentu.

Ketika tes MBTI dilakukan secara daring, ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kurangnya pengawasan yang dapat memastikan bahwa responden tidak memanipulasi jawaban. Dengan akses yang mudah secara online, responden dapat mengakses tes MBTI kapan saja dan di mana saja, yang dapat menyebabkan bias dan memungkinkan proses pembelajaran yang tidak seharusnya. Selain itu, tes MBTI cenderung memberikan gambaran kepribadian seseorang pada satu titik waktu tanpa mempertimbangkan perubahan yang mungkin terjadi seiring berjalannya waktu. Ini bisa menyebabkan interpretasi yang salah karena ada keterbatasan dalam memberikan klarifikasi atas pertanyaan secara daring, yang dapat mengarah pada interpretasi yang keliru terhadap jawaban responden. Oleh karena itu, lebih baik jika melakukan tes MBTI baik secara daring maupun offline, untuk mendiskusikan jawaban dengan seorang psikolog guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Beberapa saran untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes MBTI, sebagai berikut:

 Perlu melakukan penelitian untuk meneliti bukti empiris yang mendukung dasar teoritis dari 16 tipe kepribadian yang diajukan oleh MBTI.

 Pentingnya menerapkan prinsip kode etik psikologi dalam penerapan tes MBTI secara daring.

(5)

 Disarankan untuk menyusun pertanyaan secara adaptif sesuai dengan situasi dan karakteristik responden.

 Penting untuk secara teratur melakukan pengujian validitas dan reliabilitas agar tetap memastikan keberlakuan dan keandalan tes.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Lauster mendefinisikan kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman hidup. kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang berupa keyakinan akan

Aplikasi mobile berbasis android yang di beri nama Rambu dan Simulasi Tes SIM mampu mempermudah dalam memberikan informasi kepada pengguna mengenai arti dari

Pelayanan Tes Bakat Skolastik di sekolah bertujuan untuk memberikan informasi ke sekolah mengenai potensi belajar siswanya. Sekolah akan memperoleh gambaran potensi

Berdasarkan hasil analisis ini diperoleh informasi mengenai proporsi karakteristik konsumen yang membeli ikan di pasar Muara Angke, karakteristik pedagang ikan di

a) BPR RIFI MALIGI telah memberikan informasi mengenai produk BPR RIFI MALIGI secara jelas, akurat dan terkini. Informasi tersebut dapat diperoleh secara mudah oleh

Penelitian ini bertujuan 1)menemukan cara me- ngembangkan tes diagnostik dengan model DINA, sehingga mampu memberikan informasi salah konsepsi dalam aljabar,

Penelitian ini bertujuan 1) menemukan cara mengembangkan tes diagnostik dengan model DINA, sehingga mampu memberikan informasi salah konsepsi dalam aljabar, 2)

Proses kontrol kandungan logam pada bahan makanan memerlukan analisa yang akurat dan tepat, saat ini AAS merupakan salah satu teknik analisa ynag dapat memberikan informasi mengenai