i TUGAS BESAR
MATA KULIAH TEKNIK PELAKSANAAN PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN KERUSAKAN BANGUNAN GEDUNG
DISUSUN OLEH :
1. Aldi Eka Pratama (4.11.22.8.03) 2. Ayunda Nurvitania R. (4.11.22.8.05) 3. Elya Faiqotun Nabila (4.11.22.8.10) 4. Rosita Eka P. (4.11.22.8.25) 5. Safira Nurullita W. (4.11.22.8.26)
PROGRAM STUDI TEKNIK PERAWATAN DAN PERBAIKAN GEDUNG JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 2023
ii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Deskripsi Bangunan ... 1
1.2 Lokasi Bangunan ... 2
1.3 Data Umum Bangunan ... 2
BAB 2 DESKRIPSI KERUSAKAN ... 4
2.1 Hasil Pemeriksaan Kerusakan ... 4
2.2 Penyebab Kerusakan ... 4
2.3 Denah Kerusakan Bangunan ... 5
2.4 Analisa Kerusakan ... 7
BAB 3 MANAJEMEN PERBAIKAN ... 17
3.1 Struktur Organisasi Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung ... 17
3.2 Alur Proses Perbaikan Kerusakan pada Bangunan Gedung ... 18
3.3 Teknik Perbaikan Kerusakan Bangunan Gedung ... 19
3.4 Metode Perbaikan Kerusakan Bangunan Gedung... 20
BAB 4 RENCANA ANGGARAN BIAYA PEMELIHARAAN ... 27
4.1 Struktur Organisasi Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung ... 27
iii
4.2 Alur Proses Perbaikan Kerusakan pada Bangunan Gedung ... 28
4.3 Teknik Perbaikan Kerusakan Bangunan Gedung ... 29
BAB 5 KESIMPULAN ... 30
5.1Kesimpulan ... 30
iv DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Lokasi Gedung Teknik Lingkungan ... 1
Gambar 1.2 Site Plan Gedung Teknik Lingkungan ... 2
Gambar 2.1 Denah Kerusakan Lantai 1 ... 5
Gambar 2.2 Denah Kerusakan Lantai 2 ... 6
Gambar 2.3 Denah Kerusakan Lantai 3 ... 6
Gambar 2.4 Cat Mengelupas Kolom Teras Lantai 1 ... 7
Gambar 2.5 Cat Mengelupas Kolom Teras Lantai 1 ... 7
Gambar 2.6 Cat mengelupas Kanopi Jendela Lantai 2 ... 7
Gambar 2.7 Cat mengelupas Lantai 2 ... 8
Gambar 2.8 Cat mengelupas Langit-langit ruang C.103 Lantai 1 ... 8
Gambar 2.9 Cat mengelupas Kanopi ruang C.101 Lantai 1 ... 8
Gambar 2.10 Cat mengelupas Kanopi ruang D.101 Lantai 1 ... 8
Gambar 2.11 Cat mengelupas Plafond Depan Ruang Dosen ... 9
Gambar 2.12 Cat mengelupas Kanopi Jendela ruang 201 & 202 ... 9
Gambar 2.13 Beton keropos Tangga samping D.202 ... 9
Gambar 2.14 Beton keropos Teras ruang dosen Lantai 2 ... 9
Gambar 2.15 Beton keropos Kanopi Jendela 201 & 202 Lantai 2 ... 10
Gambar 2.16 Beton keropos samping WC Lantai 1 ... 10
Gambar 2.17 Beton keropos ruang kuliah C.103 ... 10
Gambar 2.18 Beton keropos Kanopi depan tangga sayap kanan Lantai 2 ... 10
v
Gambar 2.19 Beton keropos kanopi teras ruang C.101 Lantai 1 ... 11
Gambar 2.20 Beton keropos kanopi teras ruang C.101 Lantai 1 ... 11
Gambar 2.21 Kerusakan Handle Jendela tangga ... 11
Gambar 2.22 Kerusakan Handle pintu ruang 202 Lantai 2 ... 11
Gambar 2.23 Kerusakan Lampu atas plat bordes tangga utama Lantai 2 ... 12
Gambar 2.24 Kerusakan Lampu ruang kuliah 303 Lantai 3 ... 12
Gambar 2.25 Kerusakan saklar WC Lantai 1 ... 12
Gambar 2.26 Kerusakan Lampu kanopi ruang kuliah 301 Lantai 3 ... 12
Gambar 2.27 Kerusakan keramik Lab. Teknik Lingkungan Lantai 1 ... 13
Gambar 2.28 Kerusakan keramik teras depan gudangLantai 1 ... 13
Gambar 2.29 Kerusakan keramik teras teras perpustakaan Lantai 3 ... 13
Gambar 2.30 Kerusakan keramik tangga tengah Lantai 1 ... 13
Gambar 2.31 Lantai menggelembung ruang 303 Lantai 3 ... 13
Gambar 2.32 Kerusakan Plafond teras depan ruang 303 Lantai 3 ... 14
Gambar 2.33 Kerusakan Plafond teras depan ruang 303 Lantai 3 ... 14
Gambar 2.34 Kerusakan Plafond teras depan ruang 305 Lantai 3 ... 14
Gambar 2.35 Kerusakan Plafond depan ruang dosen Lantai 2 ... 14
Gambar 2.36 Kerusakan Plafond depan ruang dosen Lantai 2 ... 15
Gambar 2.37 Kerusakan Lapisan kaca tangga lantai 1 ke Lantai 2 ... 15
Gambar 2.38 Lapisan kaca lepas Kanopi ruang kuliah 201 & 202 Lantai 2 ... 15
Gambar 2.39 Railling tangga berkarat tangga utama, sayap kanan dan kiri bangunan ... 16
vi Gambar 3.1 Alur Proses Perbaikan Kerusakan Bangunan ... 19
vii DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data luas tiap ruangan Gedung Teknik Lingkungan ... 2
Tabel 2.1 Analisa Kerusakan Bangunan ... 7
Tabel 4.1 Uraian Volume Kerusakan Gedung Teknik Lingkungan UNDIP ... 27
Tabel 4.2 Daftar Harga Satuan Pekerjaan ... 28
Tabel 4.3 Prosentase Tingkat Kerusakan Gedung Teknik Lingkungan UNDIP ... 29
1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Deskripsi Bangunan
Gedung perkuliahan meruoakan kegiatan belajar mengajar pada sebuah institusi.
Berdasarkan pengertian modern, kampus berarti sebuah kompleks atau daerah tertutup yang teridiri dari gedun-gedung universitas atau perguruan tinggi. Kampus merupakan tempat belajarmengajar berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi. Dalam rangka menjaga kelancaran fungsi fungsi tersebut, memerlukan penyatuan waktu kegiatan beserta ketentuan-ketentuan di dalam kampus. (sasmito.dkk ,2013). Salah satu yang ditinjau dalam proposal ini yaitu Gedung Teknik Lingkungan yang terletak di Universitas Diponegoro Semarang. Departemen Teknik Lingkungan adalah salah satu mata kuliah dalam lingkup Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang resmi berdiri pada tahun 1998 dan mulai menerima mahasiswa pertama pada tahun akademik 1999.
1.2 Lokasi Bangunan
Gedung Perkuliahan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro
Gambar 1.1 Lokasi Gedung Teknik Lingkungan
2 Gambar 1.2 Site Plan Gedung Teknik Lingkungan
1.3 Data Umum Bangunan
Jumlah Lantai : 3 Lantai
Luas Bangunan : 1380 m2
Tinggi Bangunan : 12 meter
Luas Masing-masing ruangan :
Tabel 1.1 Data luas tiap ruangan Gedung Teknik Lingkungan
No. Nama Ruangan Luas (m²)
I Lantai 1
1 R. Kuliah T. Lingkungan D.101 192
2 Lab. Teknik Lingkungan 132
3 Perpustakaan T. Lingkungan 103
4 Mushola 54
5 R. HMTL 49
6 WC ( 2 Unit) 24
7 R. Kuliah T. Geodesi C.101 117.6
8 R. Kuliah T. Geodesi C.103 64.8
9 R. Kuliah T. Geodesi C.104 50.4
10 Gudang 1 48
11 Gudang 2 28.8
Taman Inspirasi
Teknik Lingkungan
UNDIP
Gedung B Teknik PWK
UNDIP
Gedung B Teknik Elektro UNDIP
Lap. Sepakbola T. Elektro
Magister Teknik PWK
UNDIP
Lap. Basket dan Voli Dekanat F Teknik
Dept. Teknik Komputer
Taman Teknik UNDIP Dept. Teknik
Perkapalan Dekanat
Fakultas Teknik
T. Elektro
Lap. Basket dan Voli Dept. T Mesin Taman
Mekanika Raya
Rumah bata KOMPAS
UNDIP
Transfer Elevasi
Lap. Basket dan Voli Dept. T Mesin
U
3
II Lantai 2
1 Lab. T. Siskom D.205 72
2 Lab. T. Siskom D.204 84
3 Lab. T. Siskom D.203 102
4 Lab. T. Siskom D.202 66
5 R. Kuliah T. Siskom E.201 103
6 R. Kuliah T. Siskom E.202 103
7 WC ( 2 Unit ) 24
8 R. Sidang 58.5
9 R. Dosen T. Lingkungan 101.7
10 R. Admin 29.5
III Lantai 3
1 R. Kuliah T. Siskom D. 305 144
2 R. Kuliah T. Siskom D. 304 75.6
3 Perpustakaan T. Siskom 60
4 Mushola 21.4
5 R. HM Siskom 14.8
6 R. Kuliah T. Siskom E. 304 206
7 WC ( 2 Unit ) 24
8 R. Kuliah T. Lingkungan C. 303 144 9 R. Kuliah T. Lingkungan C. 302 78 10 R. Kuliah T. Lingkungan C. 301 87.6
4
BAB 2
DESKRIPSI KERUSAKAN
2.1 Hasil Pemeriksaan Kerusakan
Identifikasi kerusakan dari hasil pemeriksaan melalui survei:
1. Kerusakan lantai:
a. Keramik lantai pecah pada beberapa ruangan b. Keramik lantai menggelembung
2. Kerusakan dinding:
a. Cat dinding terkelupas
b. Cat dinding berlumut dan kotor 3. Kerusakan struktur:
a. Beton pada kolom, balok, dan kanopi mengalami pengeroposan 4. Kerusakan plafond gypsum:
a. Plafond terlepas/runtuh b. Plafond keropos c. Plafond berjamur
5. Kerusakan aksesoris bangunan:
a. Handle pintu dan jendela rusak b. Lapisan kaca jendela pecah dan rusak c. Railing tangga berkarat
6. Kerusakan elektrikal:
a. Lampu mati dan fitting lampu rusak
b. Saklar lampu geser (tidak tepat menempel pada dinding)
2.2 Penyebab Kerusakan
Dari hasil pengamatan dan pemeriksaan terhadap kerusakan yang ada dapat diambil kesimpulan penyebab dari kerusakan tersebut, antara lain:
1. Kerusakan lantai:
a. Keramik tertimpa benda berat dan keras
b. Kurangnya mortar pengisi pada bawah keramik, sehingga mudah pecah apabila terimpa beban berat
c. Pemuaian pada keramik menyebabkan lantai keramik menggelembung
5 2. Kerusakan dinding:
a. Umur cat dan bangunan yang sudah tua b. Rembesan air hujan pada dinding bagian luar 3. Kerusakan struktur:
a. Proses pemadatan beton tidak sempurna
b. Terbentur benda dengan keras pada ujung balok dan kolom c. Umur bangunan
4. Kerusakan plafond gypsum:
a. Umur bangunan
b. Terkena rembesan air hujan dari atap yang bocor c. Kurangnya hollow penyangga rangka plafond 5. Kerusakan aksesoris bangunan:
a. Umur bangunan
b. Pemuaian pada kaca dan pemasangan kusen tidak tepat c. Kualitas handle pintu kurang baik
6. Kerusakan elektrikal:
a. Ruangan atau area tidak terawat sehingga lampu mati tidak segera diperbaiki b. Pemasangan type saklar lampu kurang tepat sehingga mudah geser dan goyang c. Ruangan kurang terawat
2.3 Denah Kerusakan Bangunan
Gambar 2.1 Denah Kerusakan Lantai 1
6
Gambar 2.2 Denah Kerusakan Lantai 2
Gambar 2.3 Denah Kerusakan Lantai 3
7 2.4 Analisa Kerusakan
Tabel 2.1 Analisa Kerusakan Bangunan Jenis
Kerusakan Gambar Kerusakan Volume
Kerusakan
Lokasi Kerusakan
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.4 Cat mengelupas kolom teras lantai 1
= 15 x 8
= 120 cm2
Lantai 1 Kolom Teras R. Kuliah T.
Lingkungan D.101
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.5 Cat mengelupas kolom teras lantai 1
= 52 x 3
= 156 cm2
Lantai 1 Kolom Teras R. Kuliah T.
Lingkungan D.101
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.6 Cat mengelupas Kanopi Jendela Lantai 2
= 160 x 40
= 6400 cm2
Lantai 2 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom D.202
8 Cat Dinding
Mengelupas
Gambar 2.7 Cat mengelupas Lantai 2
= 40 x 5
= 200 cm2
Lantai 2 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom D.201
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.8 Cat mengelupas Langit-langit ruang C.103 Lantai 1
= 35 x 40
= 1400 cm2
Lantai 1 R. Kuliah T.
Geodesi C.103
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.9 Cat mengelupas ruang C.101 Lantai 1
= 15 x 20
= 300 cm2
Lantai 1 R. Kuliah T.
Geodesi C.101
Cat Berlumut / Kotor
Gambar 2.10 Cat mengelupas Kanopi ruang D.101 Lantai 1
= 660 x 40
= 26400 cm2
= 660 x 8
= 5280 cm2
Lantai 1 Kanopi Jendela Kolom Teras R. Kuliah T.
Lingkungan D.101
9 Cat Plafond
Mengelupas
Gambar 2.11 Cat mengelupas Plafond depan ruang Dosen
= 100 x 100
= 10000 cm2
Lantai 2 Plafond Depan R.
Dosen
Cat Dinding Mengelupas
Gambar 2.12 Cat mengelupas Kanopi jendela ruang 201 & 202
= 1500 x 40
= 60000 cm2
= 1500 x 8
= 12000 cm2
Lantai 2 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom 201
& 202
Beton Keropos
Gambar 2.13 Beton keropos Tangga samping D.202
= 3 x 3 x 2
= 18 cm3
Lantai 2 Tangga samping Lab. T.
Siskom D.202
Beton Keropos
Gambar 2.14 Beton keropos Teras ruang dosen Lantai 2
= 4 x 1.5 x 1
= 6 cm3
Lantai 2 Teras R.
Dosen
10 Beton Keropos
Gambar 2.15 Beton keropos Kanopi jendela 201 & 202 Lantai 2
= 140 x 20 x 0.5 = 1400 cm3
Lantai 2 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom 201
& 202
Beton Keropos
Gambar 2.16 Beton keropos Samping WC Lantai 1
= 6 x 4 x 1
= 24 cm3
Lantai 1 Samping WC
Beton Keropos
Gambar 2.17 Beton keropos ruang kuliah C.103
= 18 x 8 x 1
= 144 cm3
Lantai 1 R. Kuliah T.
Geodesi C.103
Beton Keropos
Gambar 2.18 Beton keropos Kanopi depan tangga sayap kanan Lantai 2
= 20 x 8 x 2
= 320 cm3
Lantai 2 Kanopi depan tangga sayap kanan
11 Beton Keropos
Gambar 2.19 Beton keropos ruang C.302 Lantai 3
= 7 x 5 x 3
= 105 cm3
Lantai 3 R. Kuliah T.
Lingkungan C. 302
Beton Keropos
Gambar 2.20 Beton keropos kanopi teras ruang C.101 Lantai 1
= 5 x 6 x 2
= 60 cm3
Lantai 1 Plafond Teras R.
Kuliah T.
Geodesi C.101
Aksesoris Pintu dan Jendela
Gambar 2.21 Kerusakan Handle Jendela tangga
Handle Jendela Rusak 10
buah
Jendela Tangga
Aksesoris Pintu dan Jendela
Gambar 2.22 Kerusakan Handle pintu ruang 202 Lantai 2
Handle pintu rusak 1 buah
Lantai 2 Lab. T.
Siskom 202
12 Elektrikal
Gambar 2.23 Kerusakan Lampu atas plat bordes tangga utama Lantai 2
Lampu Rusak 1 buah
Lantai 2 Atas plat bordess tangga utama
Elektrikal
Gambar 3.24 Kerusakan Lampu ruang kuliah 303 Lantai 3
Lampu 1 buah
Lantai 3 Teras R.
Kuliah T.
Lingkungan 303
Elektrikal
Gambar 2.25 Kerusakan saklar WC Lantai 1
Saklar geser Lantai 1 WC
Elektrikal
Gambar 2.26 Kerusakan Lampu kanopi ruang kuliah 301 Lantai 3
Lampu lepas 2 buah
Lantai 3 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom 301
13 Lantai Pecah
Gambar 2.27 Kerusakan keramik Lab.
Teknik Lingkungan Lantai 1
= 10 x 3
= 30 cm2
Lantai 1 Lab. Teknik Lingkungan
Lantai Pecah
Gambar 2.28 Kerusakan keramik teras depan gudangLantai 1
= 10 x 5
= 50 cm2
Lantai 1 Teras depan Gudang
Lantai Pecah
Gambar 2.29 Kerusakan keramik teras teras perpustakaan Lantai 3
= 5 x 4
= 20 cm2
Lantai 3 Teras
Perpustakaan T. Siskom
Lantai Pecah
Gambar 2.30 Kerusakan keramik tangga tengah Lantai 1
= 5 x 3
= 15 cm2
Lantai 1 Tangga tengah
Lantai
Bergelembung
Gambar 2.31 Lantai menggelembung ruang 303 Lantai 3
= 120 x 90
= 10800 cm2
Lantai 3 Teras R.
Kuliah 303
14 Plafond
Keropos
Gambar 2.32 Kerusakan Plafond teras depan ruang 303 Lantai 3
= 18 x 5
= 90 cm2
Lantai 3 Plafond Teras depan R. Kuliah 303
Plafond Rusak
Gambar 2.33 Kerusakan Plafond teras depan ruang 303 Lantai 3
= 100 x 50
= 5000 cm2
Lantai 3 Plafond Teras depan R. Kuliah 303
Plafond Rusak
Gambar 2.34 Kerusakan Plafond teras depan ruang 305 Lantai 3
= 100 x 50 = 5000 cm2
Lantai 3 Plafond Teras depan R. Kuliah 305
Plafond Rusak
Gambar 2.35 Kerusakan Plafond depan ruang dosen Lantai 2
= 20 x 30
= 600 cm2
Lantai 2 Plafond Depan R.
Dosen
15 Plafond Rusak
Gambar 2.36 Kerusakan Plafond depan ruang dosen Lantai 2
= 15 x 5
= 75 cm2
Lantai 2 Plafond Depan R.
Dosen
Lapisan Kaca Rusak
Gambar 2.37 Kerusakan Lapisan kaca tangga lantai 1 ke Lantai 2
Luas 1 Jendela
= 120 x 50
= 6000 cm2 Jumlah Jendela 9 buah
= 9 x 6000
= 54000 cm2
Kaca tangga lantai 1 & 2
Kaca Lepas
Gambar 2.38 Lapisan kaca lepas Kanopi ruang kuliah 201 & 202 Lantai 2
Luas 1 Jendela
= 80 x 40
= 3200 cm2
Jumlah Jendela 2 buah
= 2 x 3200
= 6400 cm2
Lantai 2 Kanopi Jendela R.
Kuliah T.
Siskom 201
& 202
16 Railling
Tangga Berkarat
Gambar 2.39 Railling tangga berkarat tangga utama, sayap kanan dan kiri
bangunan
Jumlah Tangga = 3 Lokasi
Panjang Railling Tangga Bordes Lt. 3 = 140 cm Bordes Lt. 2 = 30 cm
Miring = 4 x 380 =1520 cm 1690 cm
Diameter Railling 5cm
K.Lingkaran
= 2 π r
=2 x π x 2,5
= 15,71 cm
Luas Permukaan Railling Kell.
Lingkaran x Pj. Railling
= 1690 x 15,71
= 26549,9
= 26550 cm2
Total Luas Permukaan Railling
= Jml.
Tangga x LP. Tangga
= 3 x 26550
= 79650 cm2
Railling tangga utama, sayap kanan dan kiri bangunan.
17
BAB 3
MANAJEMEN PERBAIKAN
3.1 Struktur Organisasi Pemeliharaan dan Perawatan Gedung
STRUKTUR ORGANISASI PEMELIHARAAN & PERAWATAN
GEDUNG DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
Fungsi dan Tanggung Jawab
Chief Engineer:
1. Mengkoordinir, mengarahkan, dan mengawasi kegiatan Supervisi Teknik.
2. Menyusun rencana anggaran operasional.
3. Mengevaluasi kegiatan tentang penggunaan bahan, energi, dan biaya operasional.
4. Menyajikan laporan operasional ke bagian atas koordinasinya.
Ketua Departemen
Koordinator Laboratorium
Koordinator Rumah Tangga
Chief Engineer
Supervisi teknik
Ketua House Keeping
Staff House Keeping
Staff House Keeping Koordinator Kemahasiswaan
Koordinator
Akademik Ketua Prodi
18
Supervisi Teknik:
1. Melakukan pemeriksaan kondisi ke seluruh bangunan.
2. Memantau dan mengawasi pekerjaan penyedia jasa (Kontraktor) mekanikal, elektrikal, dan plambing secara rutin.
3. Melakukan kegiatan khusus, seperti sistem kelistrikan, proteksi kebakaran, IT, dll.
4. Menyusun laporan untuk diberikan kepada Chief Engineer.
Ketua House Keeping:
1. Mengkoordinir dan memimpin pelaksanaan kebersihan.
2. Mengatur jadwal kerja harian, mingguan, dan bulanan.
3. Menyusun dan menyajikan laporan operasional ke bagian atas koordinasinya.
Staff House Keeping:
1. Melaksanakan kegiatan pembersihan ke seluruh bangunan.
3.2 Alur Proses Perbaikan Kerusakan pada Bangunan 1. Mendapatkan laporan kerusakan.
2. Mengidentifikasi dan menganalisa laporan kerusakan dari jenis kerusakan, volume kerusakan, dan skala prioritas.
3. Setelah kerusakan teridentifikasi, dilanjutkan menentukan tindakan yang akan dilaksanakan.
3.1 Apabila kerusakan kecil atau perlu perbaikan komponen tanpa mengganti komponen, persiapkan alat dan material yang menunjang operasional untuk melakukan perbaikan cepat yang dilaksanakan tim engineer.
3.2 Apabila kerusakan besar atau perlu mengganti komponen atau perbaikan tidak teratasi, Menghubungi penyedia jasa (Kontraktor) yang sesuai identifikasi kerusakan.
4. Setelah perbaikan selesai, selanjutnya melakukan tes/trial pada sistem atau peralatan yang rusak untuk memastikan sistem atau peralatan dapat bekerja dengan baik sesuai spesifikasi.
4.1 Apabila masih terdapat kerusakan, lakukan perbaikan ulang sampai kerusakan teratasi.
4.2 Apabila sistem atau peralatan sudah bekerja dengan baik, hubungi tim house keeping untuk membersihkan area perbaikan kerusakan.
19 4.3 Langkah terakhir adalah melakukan pemeliharaan rutin setelah melakukan
perbaikan kerusakan untuk mencegah kerusakan yang akan datang.
Gambar 3.1 Alur Proses Perbaikan Kerusakan Bangunan
3.3 Teknik Perbaikan Kerusakan
Perbaikan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kerusakan yang ada pada banguan Gedung Departemen Teknik Lingkungan UNDIP, antara lain:
1. Kerusakan lantai:
Mengganti keramik yang pecah dengan keramik yang baru dengan type yang sama
Membongkar area lantai keramik yang menggelembung dan memasang kembali dengan baik
2. Kerusakan dinding
Pengelupasan plesteran dan acian pada area yang rusak, untuk dinding yang retak
Untuk kerusakan dinding akibat rembesan air hujan pada dinding bagian luar, perlu dilakukan pelapisan menggunakan water proofing untuk dinding bagian luar bangunan
Untuk dinding berlumut perlu menyikat sisa-sisa lumut pada permukaan dinding sebelum dilakukan pengampelasan dan pelapisan dengan cat dasar dan cat akhir 3. Kerusakan struktur
Menutup bagian yang keropos dengan grouting
20 4. Kerusakan plafond gypsum
Mengganti rangka plafond gypsum dengan yang baru
Melakukan pengecatan plafond 5. Kerusakan aksesoris bangunan
Mengganti keramik yang pecah dengan keramik yang baru dengan type yang sama.
Membongkar area lantai keramik yang menggelembung, mengganti, dan memasang kembali dengan baik
6. Kerusakan elektrikal
Mengganti lampu yang mati dan fitting lampu yang rusak
Mengganti type saklar lampu sesuai dengan ukurannya.
3.4 Metode Perbaikan Kerusakan Bangunan 3.4.1 Pengecatan Umum
Berikut Langkah dalam proses pekerjaan pengecatan
1. Proses persetujuan gambar lokasi/bidang yang akan dicat
2. Proses persetujuan spesifikasi material dan warna yang akan digunakan.
3. Periksa kesesuaian spesifikasi material yang dikirim ke lapangan, meliputi:
- Merk dan produksi yang telah ditentukan - Jenis / Type dan warna yang disetujui 4. Periksa kesiapan lahan antara lain,
- Kondisi permukaan bidang yang akan dicat sudah rata dan halus
- Kondisi bidang harus sudah kering, bila diperlukan ukur dengan alat pengukur kelembaban dinding (protimeter moisture meter).
- Periksa sudutan (pertemuan bidang) sudah baik.
- Proteksi terhadap material lain yang memungkinkan terkena bahan cat atau percikan tetesan cat.
5. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pekerjaan cat dinding dalam
- Permukaan dinding diamplas dan dibersihkan, bekas-bekas semen dikerok.
- 1 kali pengerollan alkali primer
- 1 kali wall filler/plamur, dipulaskan halus - 1 kali roll cat dinding dalam
- Pada dinding yang kurang bagus diadakan perbaikan setempat
21 - 1 kali roll cat dinding dalam
- Perbaikan setempat pada dinding bila masih ada yang kurang baik - 1 kali roll cat dinding dalam (finish)
b. Pekerjaan cat dinding luar (weathershield/sejenis)
- Permukaan dinding diamplas dan dibersihkan, bekas-bekas semen dikerok.
- 1 kali roll alkali primer
- Perbaikan setempat pada dinding yang kurang bagus menggunakan skimcoat.
- 1 kali roll cat dinding luar
- Perbaikan setempat pada dinding luar bila masih ada yang kurang bagus menggunakan skimcoat.
- 1 kali roll cat dinding luar (finish)
c. Pekerjaan cat dinding luar (elastomeric/sejenis)
- Permukaan dinding diamplas dan dibersihkan, bekas-bekas semen dikerok.
- 1 kali roll elastomeric primer - 1 kali cat elastomeric
- Perbaikan setempat pada dinding luar bila masih ada yang kurang bagus menggunakan skimcoat.
- 1 kali roll cat elastomeric
- Perbaikan setempat pada dinding luar bila masih ada yang kurang bagus menggunakan skimcoat.
- 1 kali roll cat elastomeric
- Ketebalan rata-rata yaitu 150 mikron
3.4.2 Perbaikan Beton
Kerusakan-kerusakan yang umum terjadi pada struktur beton bertulang berdasarkan hasil tinjauan pustaka diatas adalah berupa retak, gompal, keropos dan kerontokan beton akibat korosi pada tulangan. Dengan adanya kerusakan tersebut maka perfu dilakukan teknik perbaikan yang sesuai dengan kerusakan yang ada. Beberapa Teknik Perbaikan yang umum dilakukan di Indonesia:
1. Injeksi (Injection), untuk perbaikan retakan dengan cara injeksi bahan epoxy resin
22 2. Penambalan (Patching), untuk perbaikan permukaan yang gompal skala kecil
dengan menggunakan tangan.
3. Grouting, untuk perbaikan permukaan yang gompal dalam skala besar dengan menggunakan alat pompa.
4. Coating, perlindungan beton dari lingkungan.
5. Shotcrete, perbaikan permukaan beton yang gompal skala besar.
Jenis-jenis bahan yang umum digunakan untuk perbaikan beton adalah:
1. Cement-Base, bahan dasar semen.
2. Expanding Cement-Based, bahan dasar semen dengan prosentase polimer < 5% dan dengan I tanpa bahan tambah seperti superplastfdzer, fly ash dan serat fiber.
3. Polymer Modified Cement-Based, bahan dasar semen dengan kadar polymer 2%- 20%
4. Epoxy Resin-Based, dengan bahan dasar resin sintetik sebagai bahan pengikat
Perbaikan Retakan Beton dengan lnjeksi Perbalkan retakan pada struktur beton dengan cara injeksi bahan epoxy resin adalah:
1. Untuk menutup beton terhadap serangan bahan agresif, terutama bahan yang dapat menyebabkan korosi pada tulangan
2. Pembentukan dan perbaikan kesatuan struktur beton 3. Perbaikan retak agar tidak tembus air/ bocor
3.4.3 Perbaikan Plafond
Plafon berfungsi sebagai penutup bagian atas rumah. Kerusakan plafon di Gedung dapat terjadi karena terkena rembesan air hujan dari atap yang bocor dan juga kurangnya hollow penyangga pada rangka plafon. Perbaikan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kerusakan yang ada pada bangunan tersebut antara lain:
a. Muncul noda rembesan air di plafon.
Penyebab : Kurangnya hollow penyangga rangka plafon Perbaikan :
1. Mengecat Ulang Noda Bocor
23 Sebelum mengecat plafon, bersihkan plafon dari jamur dan kotoran menggunakan ampelas dan lapisi menggunakan alkali sealer agar hasil pengecatan rapi.
Pengecatan plafon menggunakan cat dan rol agar merata.
2. Menggunakan Cuka Putih Suling, Baking Soda, dan juga Pemutih.
b. Plafond Bergelombang
Penyebab : Terkena rembesan atau kebocoran air hujan.
Langkah Perbaikan :
1. Bongkar penutup plafon di bagian yang rusak.
2. Tambahkan penahan rangka plafon pada bagian yang terdapat lendutan.
3. Tambahkan kabel sling yang dikaitkan ke rangka kuda kuda untuk menahan beban plafon.
4. Tutup plafon, lalu lakukan pengecatan dengan warna yang sama.
3.4.4 Perbaikan Lapisan Kaca
Lapisan Kaca Jendela berfungsi untuk melindungi privasi kegiatan yang ada di dalam ruangan, dan mampu meredam panasnya sinar matahari yang masuk ke ruangan.
Penyebab lapisan kaca rusak adalah terdapat pemuaian pada kaca sehingga lapisan tidak menempel, dan juga dapat terjadi karena umur pemakaian yang sudah lama.
Langkah Perbaikan :
1. Bongkar lapisan kaca yang telah rusak.
2. Basahi kaca dengan air sabun.
3. Tempelkan lapisan kaca berupa stiker dan rapikan posisinya.
4. Ratakan permukaannya dengan serokan kaca hingga air sabun terbuang ke pinggir.
5. Pastikan stiker kaca tidak menggelembung dan tunggu hingga kering.
3.4.5 Perbaikan Keramik Lantai
Kerusakan lantai di gedung yaitu lantai mengalami retak dan lapisan permukaan mengelupas. Perbaikan yang dapat diterapkan yaitu:
a. Keramik Pecah dan Lapisan Mengelupas
Penyebab: terkena bagian benda yang berat sehingga lantai mengalami retak Metode perbaikan:
24 1. Lepaskan nat lantai dengan pahat pada bagian keramik yang pecah agar mudah dicongkel, saat pelepasan nat tekan keramik disekitarnya agar tidak ikut terlepas.
2. Bersihkan permukaan bawah keramik yang sudah terlepas.
3. Buat sedikit lubang-lubang pada bagian bawah keramik sebagai perekat semen yang baru.
4. Buat adonan semen dengan perbandingan 3 semen : 1 air.
5. Ratakan adonan semen ke permukaan yang akan dipasang keramik baru menggunakan cetok.
6. Letakkan keramik yang baru di atas adonan semen yang telah diratakan.
b. Keramik Menggelembung (Popping) Popping merupakan istiah untuk lantai gelembung. Popping adalah kondisi lantai menggelembung karena ada udarayang terperangkap di bawah ubin.
Penyebab :
1. Terjadi penyusutan di dalam kandungan semen perekat keramik.
2. Suhu yang terlalu ekstrem sehingga terjadi pemuaian pada perekat keramik.
3. Beban yang terlalu berlebihan yang juga bisa mengakibatkan keramik lantai terangkat atau menggelembung.
4. Pada waktu mengaplikasikan perekat keramik yang tidak merata secara
menyeluruh juga bisa menyebabkan ada bagian bawah lantai yang kosong atau kopong yang akan menyebabkan udara terjebak di dalamnya sehingga terjadi pemuaian yang akan mendorong keramik ke atas dan terangkat.
5. Posisi nat keramik pada bagian tertentu yang terlalu mepet atau rapat, tidak memberikan ruang bagi muai atau penyusutan keramik, sehingga membuat lantai keramik terdorong dan terus terangkat ke atas.
Metode perbaikan :
1. Tandai area keramik yang bergelembung agar tidak terjadi kesalahan area pembongkaran keramik.
2. Lepaskan nat lantai dengan pahat pada area luar keramik yang bergelembung agar mudah dicongkel, saat pelepasan nat tekan keramik disekitarnya agar tidak ikut terangkat.
3. Bersihkan permukaan bawah keramik yang sudah terlepas.
4. Buat sedikit lubang-lubang pada bagian bawah keramik sebagai perekat semen yang baru.
5. Buat adonan semen dengan perbandingan 3 semen : 1 air.
25 6. Ratakan adonan semen ke permukaan yang akan dipasang keramik baru
menggunakan cetok.
7. Letakkan keramik yang baru di atas adonan semen yang telah diratakan.
3.4.6 Perbaikan Elektrikal (Penggantian Lampu dan Fitting Lampu)
Pekerjaan Elektrikal dalam konteks penggantian lampu merujuk pada tugas mengganti atau menginstalasi lampu pada sistem listrik. Ini melibatkan langkah-langkah mekanis dan elektris untuk memasang atau mengganti lampu dengan yang baru. Adapun fungsi dari penggantian lampu adalah sebagai berikut:
1. Memperbarui atau memperbaiki pencahayaan dalam suatu area.
2. Memastikan pencahayaan yang optimal dan aman di lingkungan yang relevan.
3. Mengganti lampu yang rusak, usang, atau tidak berfungsi dengan yang baru agar sistem pencahayaan beroperasi dengan baik.
Adapun langkah langkah untuk melakukan penggantian lampu adalah sebagai berikut:
1. Pastikan untuk mematikan sumber daya listrik sebelum memulai pekerjaan. Ini melibatkan mematikan saklar atau memutus aliran listrik ke area atau sirkuit yang terkait.
2. Siapkan alat-alat yang diperlukan seperti tang, obeng, dan tang potong. Selain itu, pastikan Anda memiliki lampu pengganti yang sesuai dan bekerja dengan benar.
3. Tentukan bagaimana Anda akan mengakses lampu yang akan diganti. Mungkin perlu menggunakan tangga atau alat lain untuk mencapai lampu yang terletak di tempat yang tinggi atau sulit dijangkau.
4. Jika lampu yang akan diganti masih terpasang, lepaskan dengan hati-hati. Pastikan untuk memahami mekanisme koneksi dan mengikuti petunjuk penggunaan yang tepat untuk melepaskannya.
5. Setelah melepas lampu lama, periksa koneksi listriknya. Pastikan tidak ada kerusakan pada kabel atau sambungan. Jika ada kerusakan, perbaiki atau ganti dengan yang baru.
6. Pasang lampu pengganti dengan hati-hati sesuai dengan petunjuk penggunaan yang diberikan oleh produsen. Pastikan lampu terpasang dengan aman dan kabel terhubung dengan benar.
26 7. Setelah memasang lampu baru, aktifkan kembali sumber daya listrik dan uji lampu untuk memastikan fungsinya. Periksa apakah lampu menyala dengan baik dan apakah ada masalah seperti ketidakstabilan atau kebocoran arus.
8. Setelah lampu baru terpasang dan berfungsi dengan baik, pastikan untuk membersihkan area kerja dan mengamankan sisa bahan atau alat yang digunakan.
Pastikan tidak ada risiko keamanan yang tersisa setelah pekerjaan selesai
3.4.7 Perbaikan Dak Beton Bocor
1. Periksa Kondisi Dak Beton. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa kondisi dak beton. Hal ini diperlukan untuk mengetahui letak kebocoran dan apa penyebabnya. Pengecekan dapat dilakukan dengan menuangkan air di dak dengan begitu akan mempermudah untuk menemukan titik kebocorannya.
2. Bobok atau potong (dengan menggunakan mesin potong keramik) lokasi retak di beton dengan kedalaman minimal 2 cm. Jika retakan terlalu kecil ada baiknya diketrek (bongkar) agar retakan menjadi lebih besar, sehingga penambalan bisa dilakukan dengan lebih sempurna. gunakan semen adukan dengan daya rekat tinggi misalnya saja dengan semen instant (misal; AM atau Mortar Utama).
3. Kuas dengan WaterProofing serat fiber pada bekas retakan besar tersebut Pemberian WaterProofing dengan serat fiber ini bertujuan untuk menutup lubang-lubang yang lebih kecil sehingga tertutup dengan sempurna. bahan yang digunakan adalah Waterproof dengan 2 komponen (misal; Alkaproof)
4. Aplikasikan Waterproofing secara merata keseluruh permukaan dak beton Tujuannya adalah agar proses pelapisan dapat menutup dengan sempurna, bukan hanya bagian yang diperbaiki saja melainkan seluruh bagian dak beton.
5. Gunakan cat tembok diatas lapisan waterproof jika telah kering. Karena sifat waterproofing yang elastis dari bahan karet sintetis, biasanya bahan ini agak sedikit lengket saat kering. oleh sebab itu perlu diberi tambahan cat dinding agar tidak terasa lengket.
6. Lakukan pelapisan jika kita yakin betul cuaca pada saat itu akan cerah dan kering.
jika kita yakin cuaca akan mendung atau hujan lebih baik tunda perbaikan sampai cuaca benar-benar kering, Jika cuaca mendung mendingan besok aja betulinnya, jangan buang-buang uang, bahan dan tenaga.
27
BAB 4
RENCANA ANGGARAN BIAYA PEMELIHARAAN
4.1 Volume Kerusakan Gedung
Tabel 4.1 Uraian Volume Kerusakan Gedung Teknik Lingkungan UNDIP
1 Dinding Eksterior Cat mengelupas 0.012 8.25 m² 0.15
2 Kolom Cat mengelupas 0.0156 0.84 m² 1.86
3 Kanopi Cat mengelupas 0.64 1.60 m² 40.00
4 Dinding Eksterior Cat mengelupas 0.02 8.25 m² 0.24
5 Kanopi Cat mengelupas 0.14 24.00 m² 0.58
6 Kolom Cat mengelupas 0.03 0.84 m² 3.57
7 Kanopi Cat kotor 6.864 6.86 m² 100.00
8 Plafond Cat kotor 1 18.00 m² 5.56
9 Kanopi Cat kotor 7.2 7.20 m² 100.00
10 Railling Tangga Cat mengelupas 7.965 7.97 m² 100.00
11 Kolom Beton keropos 0.000018 0.25 m³ 0.01
12 Dinding Beton keropos 0.000006 0.68 m³ 0.00
13 Kanopi Beton keropos 0.0014 0.08 m³ 1.75
14 Dinding Beton keropos 0.000024 0.62 m³ 0.00
15 Kolom Beton keropos 0.000144 0.03 m³ 0.57
16 Kanopi Beton keropos 0.00032 0.10 m³ 0.33
17 Kanopi Beton keropos 0.00006 0.13 m³ 0.05
18 Jendela Handle rusak 10 50.00 buah 20.00
19 Pintu Handle rusak 1 10.00 buah 10.00
20 Lampu Mati/ Rusak 1 2.00 buah 50.00
21 Lampu Mati/ Rusak 1 1.00 buah 100.00
22 Lampu Mati/ Rusak 2 2.00 buah 100.00
23 Lantai Keramik Pecah 0.018 132.00 m² 0.01
24 Lantai Keramik Pecah 0.18 12.00 m² 1.50
25 Lantai Keramik Pecah 0.09 15.00 m² 0.60
26 Lantai Keramik Pecah 0.054 0.27 m² 20.00
27 Lantai Keramik bergelembung 1.08 6.00 m² 18.00
28 Plafond Plafond runtuh 0.48 2.00 m² 24.00
29 Plafond Plafond runtuh 0.72 2.00 m² 36.00
29 Plafond Plafond runtuh 1 8.00 m² 12.50
30 Plafond Plafond runtuh 1 10.00 m² 10.00
31 Plafond Plafond runtuh 1 10.00 m² 10.00
32 Jendela Sunblast kaca mengelupas 5.4 12.00 m² 45.00
33 Ventilasi Kaca pecah 0.64 3.20 m² 20.00
No. Komponen Jenis Kerusakan Volume Kerusakan
Volume
Total Sat. Presentase Kerusakan (%)
28 4.2 Daftar Harga Satuan Pekerjaan
Tabel 4.2 Daftar Harga Satuan Pekerjaan
A PEKERJAAN PENGECATAN
1. 1 m2 Pengikisan/pengerokan permukaan cat lama Rp 18,502.00
2. 1 m2 Pengerokan karat pada permukaan baja cara manual Rp 19,492.00 3. Pengecatan 1 m2 tembok lama ( 1 lapis cat dasar, 2 lapis cat penutup) - exterior Rp 34,281.00 4. Pengecatan 1 m2 permukaan baja dengan menie besi Rp 36,230.00
5. Pemasangan 1 m2 sunblast kaca Rp 67,136.00
B PEKERJAAN PLAFOND
1. Pembongkaran 1 m2 langit - langit ( plafond ) Rp 32,285.00
2. Pemasangan 1 m2 langit-langit gypsum board ukuran (120x240x9) mm tebal 9 mm Rp 47,777.00
C PEKERJAAN KUNCI DAN KACA
1. Pemasangan 1 buah handle jendela Rp 118,353.00
2. Pemasangan 1 buah kunci tanam pintu Rp 129,903.00
3. Pemasangan 1 m2 kaca tebal 3 mm Rp 125,840.00
D PEKERJAAN ELEKTRIKAL
1. Penggantian Lampu LED 10 watt daylight (buah) Rp 68,757.86
E PEKERJAAN PENUTUP LANTAI
1. Pembongkaran 1 m2 penutup lantai / penutup dinding lama Rp 65,066.00 2. Pemasangan 1m2 lantai keramik ukuran 30cm x 30cm Rp 237,881.00
F PEKERJAAN BETON
1. 1m3 Grouting 1 titik3 Rp 31,154,131.00
2. Pemasangan 1 m2 acian. Rp 43,868.00
NO ITEM PEKERJAAN HARGA SATUAN
29 4.3 Rencana Anggaran Biaya Perbaikan
Tabel 4.3 Prosentase Tingkat Kerusakan Gedung Teknik Lingkungan UNDIP
A PEKERJAAN PENGECATAN
1. Pengerokan dan pengecatan dinding lama - exterior Rp 840,389.81 15.9216 75.84 17.66 40.00 21 9.27
2. Pengerokan karat dan pengecatan permukaan baja dg cat menie Rp 443,825.73 7.965 7.97 9.33 100.00 100 9.33
3. Pemasangan sumblast kaca Rp 362,534.40 5.4 12.00 7.62 45.00 45 7.62
B PEKERJAAN PLAFOND
1. Pembongkaran dan pemasangan langit - langit gypsum board Rp 336,260.40 4.2 32.00 7.07 36.00 13 2.58
C PEKERJAAN KUNCI DAN KACA
1. Pemasangan 1 buah handle jendela Rp 1,775,295.00 10 50.00 37.31 67.00 20 11.14
2. Pemasangan 1 buah kunci tanam pintu Rp 129,903.00 1 10.00 2.73 10.00 10 2.73
3. Pemasangan 1 m2 kaca tebal 3 mm Rp 80,537.60 0.64 3.20 1.69 20.00 20 1.69
D PEKERJAAN ELEKTRIKAL
1. Penggantian Lampu LED 10 watt daylight (buah) Rp 275,031.43 4 5.00 5.78 100.00 80 4.62
E PEKERJAAN PENUTUP LANTAI
1. Pembongkaran dan pemasangan keramik 30 x 30 Rp 430,790.63 1.422 165.27 9.05 20.00 1 0.39
F PEKERJAAN BETON
1. 1m3 Grouting 1 titik3 Rp 61,435.95 0.001972 1.87 1.29 1.75 0.11 0.08
2. Pemasangan 1 m2 acian. Rp 21,934.00 0.5 10.00 0.46 1.75 5 1.32
4,757,937.95
Rp 100 50.76
Kesimpulan perhitungan presentase kerusakan bangunan:
Nilai tingkat kerusakan sedang 50,76 % ( > 45 % - 60 % ) = Kerusakan Sedang
HARGA VOLUME KERUSAKAN
VOLUME TOTAL
BOBOT KERUSAKAN
MAKS (%)
BOBOT KERUSAKAN SUB
KOMPONEN (%)
PROSENTASE TINGKAT KERUSAKAN BOBOT THD
SELURUH BANGUNAN (%)
TOTAL HARGA PERBAIKAN
NO ITEM PEKERJAAN
30
BAB 5 KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Pada pemeriksaan komponen bangunan Gedung Perkuliahan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dapat disimpulkan bahwa bangunan ini memiliki kerusakan pada bagian struktur yaitu Beton pada kolom, balok, dan kanopi mengalami pengeroposan.
Bagian arsitektur yaitu komponen plafon, keramik lantai, dan cat dinding. Serta kerusakan elektrikal berupa lampu mati dan fitting lampu rusak, Saklar lampu geser (tidak tepat menempel pada dinding). Beberapa penyebab dari kerusakan komponen tersebut yaitu umur komponen yang sudah lama, angin kencang, curah hujan tinggi, dan tertimpa beban yang berat serta faktor eksternal lain seperti gangguan dari binatang.