Nama : Kartika Nanda Rizkiya Susanto
NPM : 24041034 Prodi : Ilmu Hukum 19
Overcrowding Lapas Kelas 1 Cipinang
A. Latar Belakang
Setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan dalam kehidupan sehari – hari. Hak ini tidak hanya berlaku untuk masyarakat umum tetapi juga bagi narapidana yang sedang menjalani masa pidana di lembaga pemasyarakatan. Meskipun narapidana telah melanggar hukum dan menjalani hukuman, mereka tetap memiliki hak – hak dasar yang harus dihormati sesuai dengan prinsip pemasyarakatan yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan.
Dalam sistem hukum Indonesia, narapidana bukan hanya sekedar individu yang menjalani hukuman, tetapi juga manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan secara bermartabat. Hak – hak tersebut mencakup aspek kesehatan, lingkungan yang layak serta perlakuan yang tidak diskriminatif selama menjalani masa tahanan. Salah satu permasalahan yang terjadi dalam pemenuhan hak – hak tersebut adalah Overcrowding.
Overcrowding adalah kondisi kelebihan kapasitas dalam suatu fasilitas pemasyarakatan yang menyebabkan dampak negative bagi narapidana serta sistem hukum secara keseluruhan.
Salah satu lembaga pemasyarakatan yang saat ini sedang mengalami overcrowding di Indonesia adalah Lapas Kelas I Cipinang di Jakarta. Overcrowding yang terjadi di lapas ini mencapai 300% dari kapasitas normal yang dapat ditampung.
Overcrowding di Lapas Cipinang tidak hanya berdampak pada kualitas hidup narapidana tetapi juga pada efektivitas pembinaan dan keamanan dalam lapas. Keterbatasan sumber daya, seperti tenaga medis, makanan, dan fasilitas rehabilitasi, memperburuk kondisi ini. Selain itu, tingginya jumlah penghuni juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit, kekerasan antar-napi, dan penyalahgunaan wewenang oleh oknum tertentu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor utama penyebab Overcrowding yang terjadi di Lapas Kelas 1 Cipinang?
C. Dasar Hukum
Overcrowding dalam lapas diatur dalam berbagai peraturan perundang – undangan di Indonesia. Hal ini dikarenakan dalam kasus Overcrowding terjadi beberapa pelanggaran HAM yang cukup perlu disoroti.
Dasar Hukum yang pertama adalah UUD 1945 pasal 28 G ayat 2 “Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan martabat manusia” hak yang dapat diperoleh setiap orang juga disebutkan pada pasal 28 H ayat 1 “Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat yang termasuk dalam kondisi hunian yang layak”. Dalam kedua pasal ini dijelaskan bahwa setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik dan hidup di lingkungan yang sehat dan layak termasuk narapidana.
Selain dua pasal yang terdapat dalam UUD 1945, Dasar hukum lain yang mengatur tentang hak narapidana untuk bisa tinggal di lingkungan yang sehat dan layak terdapat dalam UU No. 22 tahun 2022 tentang permasyarakatan. Dalam Undang Undang ini dijelaskan bahwa narapidana memiliki hak dasar yang meliputi tidak didiskriminasi, hak untuk beribadah, hidup dengan layak, hak untuk mendapatkan pendidikan dan pembinaan. Hak hak ini diatur bertujuan untuk memastikan bahwa narapidana tetap diperlakukan dengan adil, manusiawi, dan sesuai dengan prinsip permasyarakatan.
Implikasi beberapa dasar hukum diatas tidak terjadi dengan baik karena kebijakan hukum di Indonesia masih banyak menggunakan KUHP lama yang cenderung memidanakan banyak pelaku kejahatan kecil. Selain penggunaan KUHP lama, di Indonesia juga masih menggunakan peraturan penahanan yang terdapat dalam Undang – Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Peraturan Pemerintah No. 99 tahun 2012 yang memperketat pemberian remisi dan pembebasan bersyarat..
Undang Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika tidak membahas tentang hak asasi manusia, namun Undang undang ini bersangkutan dengan terjadinya Overcrowding yang terjadi di lembaga permasyarakatan di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada regulasi undang undang ini menjadi acuan terhadap pemidanaan terkait pengguna narkoba di Indonesia.
D. Pembahasan
Lapas Kelas 1 Cipinang merupakan salah satu lembaga permasyarakatan terbesar di Indonesia mengalami permasalahan Overcrowding yang sangat buruk. Bagaimana tidak, Kapasitas resmi Lapas Kelas 1 Cipinang adalah 880 – 1000 orang, namun kenyataannya jumlah narapidana yang menghuni lapas tersebut adalah 3.679 orang. Overkapasitas yang terjadi di lapas ini lebih dari 300% . Penghuni terbanyak dalam lapas ini adalah narapidana yang terjerat kasus narkoba sebesar 80% dari total penghuni lapas kelas 1 Cipinang.
Menurut beberapa dasar hukum yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab dari Overcrowding di Lapas kelas 1 Cipinang. Faktor - faktor tersebut tidak terlepas dari regulasi regulasi yang di terapkan pada sistem hukum di Indonesia. Beberapa undang undang yang masih digunakan saat ini membuat membeludaknya jumlah narapidana yang ada di beberapa lapas di Indonesia salah satunya di Lapas kelas 1 Cipinang.
Undang – undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika merupakan salah satu regulasi yang menjadi faktor utama penyebab overcrowding di Lapas Kelas 1 Cipinang. Hal ini dikarenakan dalam undang – undang ini mengatur bahwa setiap bentuk kepemilikan, penggunaan dan peredaran narkotika merupakan tindak pidana yang dapat dikenakan hukuman berat. Tidak hanya Bandar atau pengedar, tetapi penggunaan narkotika pun dipidana dengan hukuman penjara, meskipun seharusnya mereka lebih membutuhkan rehabilitasi daripada hukuman pidana.
Faktor lain juga disebutkan dalam Undang – undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Dalam undang – undang ini mengatur bahwa tahanan yang masih belum terbukti bersalah tetap harus mendekam didalam rutan untuk waktu yang lama. Dalam undang undang ini juga mengatur bahwa tahapan peradilan yang panjang, menyebabkan banyak terdakwa yang menunggu putusan dalam kondisi ditahan. Hal ini menyebabkan penumpukan dan perpanjangan masa tahanan bagi terdakwa di rutan.
Selain adanya 2 dasar hukum diatas sistem pemidanaan pelaku kriminal di Indonesia masih terpaku pada KUHP lama yang masih memiliki kecendurungan memidanakan banyak pelaku kejahatan kecil. Selain penggunaan KUHP lama yang menjadi acuan untuk memidanakan pelaku kriminal, Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 juga dianggap menjadi faktor penyebab overcrowding di Lapas. Peraturan Pemerintah ini menjelaskan tentang betapa ketatnya pemberian remisi dan pembebasan bersayarat bagi narapidana kasus
narkotika, korupsi, dan terorisme. Karena aturan yang semakin ketat ini, banyak narapidana yang harus tetap menjalani hukuman penuh. Dalam peraturan ini juga memperjelas hukuman pengguna narkotika harus dipidanakan padahal banyak pengguna narkotika yang seharusnya menerima rehabilitasi.
E. Kesimpulan
Lapas Kelas 1 Cipinang menghadapi kondisi overcrowding yang sangat serius. Hal ini dikarenakan adanya regulasi hukum di Indonesia yang menitik beratkan melakukan pemidanaan sebagai hukuman utama yang digunakan untuk membuat jera pelaku kriminal di Indonesia. Faktor overcrowding paling utama adalah kebijakan pemidanaan yang masih berorientasi pada pemenjaraan terutama pada pengguna narkoba yang seharusnya lebih membutuhkan rehabilitasi. Faktor lainnya adalah lambatnya proses remisi dan pembebasan bersyarat yang justru dipersulit.
Terjadinya Overcrowding ini menjadi pelanggaran hak asasi manusia karena para narapidana kehilangan hak hak mereka untuk mendapatkan hunian yang layak. Selain akibat dari overcrowding ini juga membuat lembaga permasyarakatan kekurangan sumber daya.
Kekurangan ini membuat banyak narapidana tidak mendapatkan bekal yang cukup untuk reintegrasi sosial, sehingga mereka kembali melakukan tindak pidana lagi.
Pada undang – undang No. 22 Tahun 2022 tentang permasyarakatan dijelaskan beberapa solusi untuk menanggulangi overcrowding di Indonesia yaitu dengan mengutamakan alternatif pemidanaan di luar penjara bagi pelaku tindak pidana ringanatau yang bukan pelaku kejahatan berulang. Pada undang undang ini juga mengadopsi pendekatan keadilan restoratif untuk menghindari pemidanaan berbasis pemenjaraan bagi kasus tertentu.
Dijelaskan juga bahwa perlu untuk mendorong rehabilitasi bagi pengguna narkotika agar tidak semuanya masuk kedalam lapas. Solusi yang utama yang disebutkan dalam undang undang ini adalah dengan mempermudah pemberian remisi, asimilasi, dan pembebasan bersyarat agr kapasitas lapas bisa lebih terkendali dan mengurangi penumpukan narapidana.
Dari penjelasan diatas, overcrowding ini merupakan pelanggaran HAM. Meskipun narapidana mereka juga adalah manusia yang juga memiliki hak untuk di manusiakan dan berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang baru.