Tugas Mata Kuliah Budidaya Tanaman Perkebunan LAPORAN KASUS PENYAKIT KARET
Disusun Oleh:
Kelompok 6
Firginia Rosinola (20200210028) Avida Merliana (20200210030) Fitri Tri Wahyuningsih (20200210031) Zulfa Kayla Zahra (20200210032)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2022
BAB I PENDAHULUAN A. Kasus
Tanaman karet milik Pak Wito mengalami penyakit gugur daun, apa faktor penyebab daun karet gugur dan bagaimana mengatasinya?
B. Identifikasi Masalah
Tanaman karet milik Pak Wito mengalami pengguguran daun. Hal ini disebabkan karena jamur Pestalotiopsis sp. yang mewabah di sebagian perkebunan karet milik Pak Wito.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Karet
Tanaman karet (hevea brasiliensis) digolongkan sebagai tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, dan tanaman tahunan. Pohon Karet memiliki batang yang lurus dan mulai dibudidayakan pada tahun 1601 (Mustaqim, 2013). Getah karet dihasilkan oleh pohon karet ini berwarna putih dan berbentuk cairan (Fajri, 2014; Maulana et al., 2017). Cara pengambilan getah karet adalah dengan cara disadap. Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional yaitu sebagai sumber devisa, bahan baku industri dan juga berperan dalam pelestarian lingkungan hidup. Pohon karet mempunyai kelebihan yakni mampu menyerap gas buangan dan menghasilkan jumlah oksigen yang jauh lebih maksimal dibanding tumbuhan lainnya (Filie & Kusuma, 2011).
Seperti kebanyakan tumbuhan perkebunan, karet dapat diserang berbagai penyakit yang berasal dari jamur, hama, binatang bahkan sel kanker (Maulana et al., 2017). Penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan kerugian dalam industri perkebunan karet. Penyakit gugur daun karet disebabkan oleh cendawan pestalotiopsis sp (Zambri et al., 2018; Febbiyanti & Fairuzah, 2020). Gejala pada daun muda adalah daun mengeriput, menggulung, ujung daun mati, dan gugur. Gejala pada daun tua terdapat bercak kecil berwarna hitam, berlubang, dan bagian ujung mati. Serangan berat menyebabkan gugur daun dan tajuk meranggas (Shufen et al., 1999). Pada permukaan daun terdapat lapisan putih seperti tepung yang merupakan massa konidia cendawan. Daun yang terserang terlihat pucat, mengering, dan serangan berat mengakibatkan daun gugur (Suryaningtyas, 2012). Pada umumnya penurunan produksi lateks akibat penyakit gugur daun dapat mencapai 7% sampai 45% tergantung dari keparahan penyakit (Pawirosoemardjo, 2004).
B. Good Agriculture Practices (GAP) Tanaman Karet
Penerapan GAP atau konsepsi produksi yang baik tentunya harus mengacu pada konsepsi pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Konsep-konsep dalam GAP antara lain yaitu Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa- sisa tumbuhan hasil tebas tebang, sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman. Kegiatan pembukaan lahan ini meliputi : (a) pembabatan semak belukar (b) penebangan pohon (c) perencanaan dan pemangkasan
(d) pendongkelan akar kayu, (e) penumpukan dan pembersihan. Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun, dan penataan saluran drainase dalam perkebunan. Penggunaan bibit dan bahan tanaman yaitu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah : 1.
Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua. 2. Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas 3. Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral 4. Bebas dari penyakit jamur akar (Jamur Akar Putih). Cara Penanaman pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Pemupukan dilakukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun, Pengelolaan/pemeliharaan dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi: pengendalian gulma,pemupukan,pengendalian hama dan penyakit tanaman, Panen dan Penanganan Pasca Panen produksi lateks dari tanaman karet ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6 tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika 60%
dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap dipanen. Penerapan GAP 100% pada tanaman karet dapat meningkatkan produktivitas sesuai dengan potensinya, sehingga efisiensi ekonomi bisa tercapai dan memiliki keunggulan koparatif serta meningkatkan pendapatan perkebunan.
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya hasil tanaman karet adalah tanaman karet terserang penyakit sehingga mampu menurunkan hasil produksi.
Pada kasus tanaman karet milik Pak Wito mengalami gejala gugur nya daun pada tanaman karet miliknya. Menurut Permana & Diyasti (2022), Pestalotiopsis sp.
penyebab penyakit pada gugurnya daun tanaman karet. Menurut Febbiyanti &
Fairuzah (2020), penyakit ini ditandai dengan terbentuknya gejala bercak coklat awalnya hanya terdapat bintik berwarna coklat kemudian terus melebar hingga berukuran 1-2 cm, kemudian jaringan di sekitar bercak mengalami nekrosis terdapatnya terdapat batas yang jelas antara bagian bercak dan bagian daun yang masih sehat (Maryani & Astuti, 2019). Tulang daun dan helaian daun menguning yang terjadi secara sporadis dan kemudian daun menjadi gugur. Infeksi berat dapat menyebabkan gugurnya daun berlanjut sampai tajuk tanaman gundul Setelah terjadi gugur daun, daun baru yang terbentuk berukuran lebih kecil dari ukuran daun normal Sebagian ranting mati dan tajuk tanaman meranggas serta berkurang lebih dari 50%.
Daun terkadang berubah warna menjadi kuning orange di semua helaian daun.
B. Pembahasan
Berdasarkan kasus Pak Wito diatas, dapat diketahui bahwa penyebab dari penyakit gugur daun Pak Wito disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp. Gejala awal yang ditimbulkan Pestalotiopsis sp. di lapangan ditandai dengan munculnya bintik coklat pada daun muda, kemudian bintik tersebut berkembang menjadi bercak coklat tua dan terjadi nekrosis dibagian tengahnya. Terlihat dengan jelas batas antara bagian bercak dan bagian daun yang masih sehat (Praptono, 2019). Pusat bercak terdapat bintik hitam yang terdiri dari tubuh buah (aservulus) jamur patogen. Infeksi juga dapat terjadi pada batang. Tingginya intensitas serangan menyebabkan daun yang terserang berguguran sebelum waktunya, pada serangan yang lebih lanjut bibit menjadi kering (Wulandari, 2020).
Curah hujan dan kelembaban menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam perkembangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis. Menurut Febbiyanti & Fairuza (2020), harus diwaspadai jika curah hujan >100 mm/bulan karena gugur daun akan mulai muncul dan semakin parah terutama pada curah hujan >300 mm/bulan.
Kelembaban harian dengan rata-rata > 80% harus diwaspadai karena cocok untuk perkembangan patogen penyebab gugur daun tanaman karet (Permana, 2022).
Berbagai upaya pengendalian penyakit gugur daun telah dilakukan, baik dengan cara penggunaan pestisida kimia maupun dengan aplikasi pestisida nabati (Ugbebor & Adekunle, 2005; Evueh et al., 2011) serta peningkatan kesehatan tanaman melalui pemberian pupuk ekstra (Febbiyanti et al., 2020). Berbagai kendala sering dihadapi di lapangan, terutama terkait dengan tingginya tanaman karet yang lebih dari 10 meter sehingga menyulitkan dalam aplikasi pestisida serta biaya yang cukup besar. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kasus Pak Wito, berikut adalah solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang dalam penanganan penyakit gugur daun tanaman karet.
1. Solusi jangka pendek
Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan fungisida dapat dilakukan untuk mengurangi kepekatan spora Pestalotiopsis yang menjadi sumber infeksi (inokulum). Aplikasi fungisida berbahan aktif heksakonazol dapat digunakan dengan metode fogging, sedangkan untuk aplikasi penyemprotan pada gawangan dapat menggunakan fungisida berbahan aktif thiophanatmethyl (Febbiyanti, 2020). Menurut DITJENBUN, pengaplikasian fungisida dilakukan pada saat pembentukan daun baru setelah masa gugur daun, yaitu saat terbentuk 10 – 15% daun muda (berwarna coklat) dan pengaplikasian diulang pada 2 – 2,5 bulan setelah pengaplikasian pertama.
Pengendalian penyakit GDK dengan fungisida akan efektif apabila dilaksanakan pada saatflushbaru akan mekar.
2. Solusi jangka panjang
Menurut Febbiyanti & Fairuza (2020), pengendalian GDK Pestalotiopsis dapat dilakukan dengan aplikasi pemupukan sesuai dosis anjuran DITJENBUN (Tabel 1 & 2), dan akan lebih optimal jika ditambah 25% dari dosis anjuran. Selain itu, pupuk NPK ditambah kieserit juga dapat membantu tanaman untuk pulih dan membentuk daun baru.
Tabel 1. Rekomendasi dosis pemupukan TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) pada karet
Umur tanaman
(tahun)
Jenis Pupuk (g/p/th)
Urea SP 36 KCl Kieserit Frekuensi
Pupuk
Dasar - 125 - - -
1 250 150 100 50 6 kali/th
2 250 250 200 75 6 kali/th
3 250 250 200 100 6 kali/th
4 300 250 250 100 6 kali/th
5 300 250 250 100 6 kali/th
Tabel 2. Rekomendasi dosis pemupukan TM (Tanaman Menghasilkan) pada karet
Umur tanaman
(tahun)
Jenis Pupuk (g/p/th)
Urea SP 36 KCl Kieserit Frekuensi
6-15 350 260 300 75 2 kali/th
16-25 350 190 250 75 2 kali/th
>25 sampai 2
tahun sebelum peremajaa
n
200 - 150 - 2 kali/th
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Dari permasalahan Pak Wito, dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1) Penyebab penyakit gugur daun Pak Wito adalah cendawanPestalotiopsis sp.
2) Terdapat dua solusi yang dapat dilakukan Pak Wito. Solusi jangka pendek dengan cara pengaplikasian fungisida berupa fogging atau pengasapan yang mengandung heksakonazol dan thiophanatmethyl. Solusi jangka panjang dilakukan dengan cara pemupukan sesuai dosis anjuran, karena jika dosis dibawah anjuran akan rawan terserang penyakit gugur daun.
DAFTAR PUSTAKA
Arifsyah, A., & Sindar, A. (2019). Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Pohon Karet Dengan Metode Certainty Factor. Jurnal Nasional Komputasi Dan Teknologi Informasi (JNKTI), 2(2), 175.https://doi.org/10.32672/jnkti.v2i2.1568
Fajri, R. I. (2014). Identifikasi Penyakit Daun Tanaman Kelapa Sawit Menggunakan Support Vector Machine. Jurnal Teknologi Perkebunan. Retrieved from http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/42256
Filie, & Kusuma, M. (2011). Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Penyakit Pada Tanaman Karet Dan Cara Penanggulangannya.
Febbiyanti, T. R., & Fairuza, Z. (2020). Identifikasi Penyebab Kejadian Luar Biasa Penyakit Gugur Daun Karet Di Indonesia.Jurnal Penelitian Karet,37(2), 193–206.
https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v37i2.616
Hendrawan, H., Haris, A., Rasywir, E., & Pratama, Y. (2020). Diagnosis Penyakit Tanaman Karet dengan Metode Fuzzy Mamdani. Paradigma - Jurnal Komputer Dan Informatika, 22(2), 132–138.https://doi.org/10.31294/p.v22i2.8909
Kusdiana, A. P. J. (2021). DIAGNOSIS PENYAKIT GUGUR DAUN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Jurnal Penelitian Karet, 38(2), 165–178.
https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v2i38.728
Malik, A. A. Z., Atan, S., Mahyudin, M., Noran, A. S., & Maiden, N. A. (2019). Leaf fall disease caused by Pestalotiopsis sp. The MRB-IRRDB Workshop. Mahkota Hotel, Melaka, Malaysia.
Maryani, Y., & Astuti, Y. (2019). Buku Saku Penyakit Gugur Daun Karet (GDK).
Maulana, Rizky, J., Fitriyadi, & Fitriani, R. (2017). Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tanaman Karet. JUTISI, 1(3), 67–70.
Mulyono, I. (2021). Pengembangan Produksi Kopi Dan Karet Di Perkebunan Kalijompo Sebagai Penghasil Devisa. FORAGRI: Jurnal Ilmu Pertanian, 25–36.
http://ejournal.unibo.ac.id/index.php/foragri/article/view/19%0Ahttp://ejournal.uni bo.ac.id/index.php/foragri/article/download/19/12
Mustaqim, K. (2013). Aplikasi Sistem Pakar Untuk Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit Menggunakan Naive Bayes (STUDI KASUS : PT . Perkebunan Nusantara V).
Nurhayati, Fatma, D., & Aminuddin, M. I. (2010). Ketahanan enam klon karet terhadap infeksi. Jurnal HPT Tropika, 10(1), 47–51.
Pawirosoemardjo, S. (2004). Manajemen pengendalian penyakit penting dalam upaya mengamankan target produksi karet nasional tahun 2020. Prosiding Pertemuan Teknis, 21–45.
Permana, E. I., & Diyasti, F. (2022). Surveilans Insidensi Penyakit Gugur Daun Karet Pestalotiopsis sp. di Provinsi Kalimantan Barat.AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences,4(1), 24–31.https://doi.org/10.36423/agroscript.v4i1.971 Riswani, R., Yunita, Y., Malini, H., & Thirtawati, T. (2020). Kelayakan Replanting Karet
Pada Kondisi Mutu Bokar Dan Harga Jual Yang Rendah Di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan. Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 4(1), 147–161.https://doi.org/10.14710/agrisocionomics.v4i1.6363
Ulfah, D., Thamrin, G. A. R., & Natanael, T. W. (2015). Pengaruh Waktu Penyadapan dan Umur Tanaman Karet Terhadap Produksi Getah (Lateks). Jurnal Hutan Tropis, 3(3), 247–252.https://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/jht/article/view/2276/1995 Sahara, D. Y. I., Syofia, I., Darwis, H. S. (2022). UJI ASAP CAIR TANDAN KOSONG
KELAPA SAWIT TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN (Pestalotiopsis sp.) PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) DI LABORATORIUM. Jurnal Penelitian Karet.
Shufen, F., Gang, G., & Fucong, Z. (1999). General situation of anthracnose of rubber trees and its researches in China. Proceedings of IRRDBSymposium 1999, 288–297.
Suryaningtyas,H.(2012).Pengendalian Penyakit. In M. Lasminingsih (Ed.), Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat (pp.67–80).Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.
Zambri, A. M. A., Mahyudin, M. M., & Noran, A. S. (2018). Re-Emergence of Hevea leaf spot caused by Pestalotia sp. in Malaysia. Proceeding International Plant Protection Workshop 2018