• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Penerangan di Tempat Kerja di Indonesia

N/A
N/A
Gabriel Bintang Pangestu

Academic year: 2024

Membagikan "Syarat Penerangan di Tempat Kerja di Indonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Pendahuluan

1. Sebutkan peraturan yang berlaku di Indonesia yang mengatur tentang syarat penerangan di tempat kerja, serta berikan contoh salah satu aturannya!

Jawab :

a. Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, Serta Penerangan dalam Tempat Kerja, Pasal 10-14. Pasal 10 berbunyi : (1) Jarak antara gedung-gedung atau bangunan-bangunan lainnya harus sedemikian

rupa sehingga tidak menganggu masuknya cahaya siang ke tempat kerja.

(2) Setiap tempat kerja harus mendapat penerangan yang cukup untuk melakukan pekerjaan.

b. Permenaker Nomor 5 Tahun 2018, tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, Pasal 16-19. Pasal 16 berbunyi :

(1) Pengukuran dan pengendalian Pencahayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf g harus dilakukan di Tempat Kerja.

(2) Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: Pencahayaan Alami; dan/atau

Pencahayaan Buatan.

(3) Jika hasil pengukuran Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sesuai dengan standar dilakukan pengendalian agar intensitas Pencahayaan sesuai dengan jenis pekerjaannya.

(4) Standar Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

2. Suatu ruangan kerja dengan ukuran 10 x 20 m dengan tinggi 5 m diberi penerangan dengan jenis lampu 2 x TL 40 W. Bila tiap armature memberikan 2 x 3000 lumen.

Tentukan jumlah armature yang diperlukan dan gambarkan denahnya!

Keterangan:

- Bidang kerja 0,85 m dari lantai

- Faktor refleksi adalah rp = 0,7, rw = 0,5, rm = 0,1 - Faktor depresiasi = 0,7

- Pekerjaan yang dilakukan adalah menjahit

- Rendemen/efisiensi armature adalah penerangan langsung Jawab :

Diasumsikan termasuk dalam pekerjaan membeda-bedakan barang-barang kecil yang

(2)

agak teliti yaitu menjahit tekstil, sehingga asumsinya Erata-rata = 200 lux.

A = 10 x 20 m = 200 m2

1) FCR= 5ℎ𝑓𝐶 (𝐿+𝑊)

𝐿.𝑊 = 5.0,85 (10+20)

10.20 =4,25(30)

200 = 127,5

200 = 0.6

Pada tabel menggunakan rw 50 dan rp 70 Sehingga diperoleh kp = 47 = 0,47 2) kd = 0,7

3) Erata- rata= 𝐹𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 ×𝑘𝑝 ×𝑘𝑑 𝐴

200= 𝐹𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 ×0,47 ×0,7 200

40000= F total × 0,329 Ftotal = 40000

0,329

Ftotal = 121.580,55 lumen

4) N=𝐹𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

𝐹1 =121.580,55

2×3000 = 20,26 armature ≈ 21 armature 𝐹1 2𝑥3000

Sehingga pada ruangan tersebut diperlukan sebanyak 21 armature yang masing-masing berisi 2 lampu.

Diketahui luas ruangan tersebut 200 m² maka termasuk dalam kategori luas ruangan lebih dari 100 meter2 sehingga jumlah titik pengukuran minimal 36, pengukuran merupakan titik temuan antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan

Referensi

Dokumen terkait

Seperti diketahui bahwa sebagian besar pekerjaan yang dilakukan membutuhkan penerangan atau cahaya, baik yang datang dari benda itu sendiri maupun dari sumber cahaya yang menerangi

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, jabatan dan/atau pejabat yang ada di lingkungan Museum Penerangan berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan

Tabel Tingkat Penerangan atau NAB Nilai Ambang Batas di Masing-Masing Area Kerja Area Kegiatan Tingkat Peneranga n Minimal Lux Pekerjaan yang membedakan barang-barang yang sangat

Dokumen ini membahas tentang revisi peraturan tentang alat penerangan jalan dengan tujuan untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran lalu

Dokumen ini membahas tentang penetapan pedoman teknis untuk penyelenggaraan alat penerangan

Dokumen ini membahas tentang penetapan Peraturan Kabaharkam Polri tentang tindakan pertama di tempat kejadian perkara

Dokumen ini membahas pengaruh lingkungan kerja serta motivasi kerja terhadap kepuasan kerja karyawan di PT. SKF

Dokumen ini membahas tentang keselamatan dan kelaiklautan kapal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di