• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Bunga Kecombrang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Bunga Kecombrang"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

Penelitian dilakukan untuk menguji efek antiinflamasi ekstrak etanol bunga cecombranca (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm.) dengan metode stabilisasi membran sel darah merah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol bunga kekombranga (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) dengan metode stabilisasi membran sel darah merah. Mekanisme stabilisasi membran sel darah merah dapat diamati ketika diinduksi dengan larutan hipotonik, yang menyebabkan stres oksidatif dan memulai kerusakan membran yang ditandai dengan hemolisis.

Lisis sel darah merah digunakan sebagai ukuran untuk melihat aktivitas antiinflamasi yang terjadi akibat larutan hipotonik. Penelitian uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.).

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Perumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) secara in vitro. Apakah ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) mempunyai aktivitas antiinflamasi dengan metode stabilisasi membran sel darah merah. Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) terhadap aktivitas antiinflamasi menggunakan metode stabilisasi membran sel darah merah.

Untuk mengetahui efek antiinflamasi berbagai konsentrasi ekstrak etanol bunga kekombranga (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.). Menginformasikan kepada masyarakat tentang efektivitas bunga kekombranga (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) sebagai obat anti inflamasi.

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Biologi Tumbuhan Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm)

  • Klasifikasi
  • Sinonim
  • Nama Daerah
  • Morfologi Tumbuhan

Tinjauan Kimia

Daun tersusun dua baris, berselang-seling, bentuk lonjong-lonjong, pangkal membulat, tepi bergelombang, ujung pendek runcing dengan bintik-bintik halus dan padat, berwarna hijau mengkilat. Kelompok flavonol dan flavon merupakan kelompok flavonoid yang terbanyak (secara kuantitatif) terdapat pada sayuran (Lee, 2000). Terdiri dari 2 cincin aromatik yang dihubungkan oleh tiga atom karbon, kemungkinan membentuk cincin ketiga (Markham, 1988).

Flavonoid merupakan senyawa polar dengan adanya beberapa gugus hidroksil bebas, sehingga dapat larut dalam pelarut polar seperti mentol, etanol, butanol dan air. Adanya gula yang melekat pada flavonoid menjadikan flavonoid lebih mudah larut dalam air, sedangkan aglikon yang kurang polar seperti flavon termetoksilasi lebih mudah larut dalam air dan larut dalam pelarut non polar seperti eter dan kloroform (Harborne, 1987).

Gambar 2. Struktur Flavonoid (Ghasemzadeh dan Ghasemzadeh, 2011).
Gambar 2. Struktur Flavonoid (Ghasemzadeh dan Ghasemzadeh, 2011).

Identifikasi

Isolasi

Penetapan Kadar

Identifikasi Flavonoid

Berbagai jenis senyawa steroid yang digunakan dalam dunia kedokteran antara lain estrogen, sejenis steroid hormon seks yang digunakan untuk kontrasepsi sebagai penghambat ovulasi, progestin, steroid sintetik yang digunakan untuk mencegah keguguran dan tes kehamilan, glukokortikoid sebagai anti inflamasi, alergi, demam. , leukemia dan hipertensi dan cardenolide adalah steroid glikosida jantung yang digunakan sebagai diuretik dan tonik jantung (Doerge, 1982).

Tabel I. Pita absorpsi UV dari flavonoid
Tabel I. Pita absorpsi UV dari flavonoid

Penetapan Kadar

Isolasi

  • Tinjauan Farmakologi
  • Tinjauan Farmasetik
  • Inflamasi
    • Pengertian Inflamasi
    • Mediator Inflamasi
    • Jenis Inflamasi (Nugroho, 2012) 1. Inflamasi Akut

Peradangan merupakan respon jaringan terhadap rangsangan yang dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada jaringan. Stimulasi ini menyebabkan sel mast pecah dan melepaskan mediator inflamasi dan enzim lisosom yang berperan dalam proses inflamasi (Mutschler, 1991). Peradangan atau peradangan akut merupakan respon pertama tubuh terhadap rangsangan berbahaya, yang berlangsung selama beberapa hari.

Hal ini disebabkan adanya pengiriman cairan dan sel darah merah serta sel darah putih dari aliran darah ke jaringan interstisial. Demam merupakan sifat peradangan yang muncul di permukaan tubuh dan relatif lebih rendah dibandingkan suhu dalam tubuh yaitu 37oC.

Tabel 2. Mediator-mediator inflamasi (Costa dkk, 1994)
Tabel 2. Mediator-mediator inflamasi (Costa dkk, 1994)

Inflamasi Kronis

  • Mekanisme Inflamasi
  • Obat Antiinflamasi

Terjadi perubahan volume darah pada kapiler dan venula sehingga menyebabkan sel endotel pembuluh darah meregang dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, protein plasma keluar dari pembuluh darah sehingga menimbulkan edema. Kedua jenis leukosit ini berasal dari pembuluh darah, menempel pada dinding endotel venula, dan kemudian berjalan menuju tempat inflamasi (Katzung, 2002). Aktivitas ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan menghambat pembentukan mediator inflamasi prostaglandin, dengan menghambat migrasi sel leukosit pada daerah inflamasi, dan dengan menghambat pelepasan prostaglandin dari sel tempat pembentukannya.

Antiinflamasi-Steroid (SAID)

Obat yang termasuk dalam golongan steroid anti inflamasi adalah prednisolon, hidrokortison, deksametason dan betametason (Katzung, 2006).

Antiinflamasi Non-Steroid (NSAID)

  • Metode Uji Antiinflamasi
  • Metode Pengujian Efek Antiinflamasi
    • Metode Stabilisasi Membran Sel Darah
  • Spektrofotometer UV-Vis
    • Prinsip Dasar

Metode pengujian antiinflamasi in-vitro yang paling banyak digunakan adalah metode stabilisasi membran sel darah merah. Membran sel darah merah manusia atau eritrosit analog dengan membran lisosom dan stabilisasinya menunjukkan bahwa ekstrak juga dapat menstabilkan membran lisosom. Stabilisasi membran lisosom penting dalam membatasi respon inflamasi dengan mencegah pelepasan komponen lisosom dari neutrofil aktif seperti enzim bakterisida dan protease, yang menyebabkan peradangan lebih lanjut dan kerusakan jaringan akibat pelepasan ekstraseluler (Kumar et al, 2012).

Oleh karena itu, penggunaan agen yang dapat mencegah denaturasi protein akan berguna dalam pengembangan obat anti inflamasi. Pemeriksaan agregasi trombosit bertujuan untuk mendeteksi disfungsi trombosit yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan alat analisa berdasarkan perubahan transmisi cahaya. Metode stabilisasi membran sel darah merah merupakan metode yang banyak digunakan dalam penelitian sebagai parameter biokimia untuk menguji aktivitas antiinflamasi secara in vitro.

Stabilitas sel darah merah dapat dilihat ketika sel darah merah diinduksi oleh suatu larutan yang dapat menyebabkan hemolisis. Besarnya hemolisis yang terjadi pada membran sel darah merah yang diinduksi larutan hipotonik digunakan sebagai ukuran aktivitas anti inflamasi (Kumar et al, 2011). Membran sel darah merah analog dengan membran lisosom dan stabilisasinya menunjukkan bahwa senyawa tersebut juga dapat menstabilkan membran lisosom.

Stabilisasi membran lisosom penting dalam membatasi respon inflamasi dengan menghambat pelepasan komponen lisosom dari neutrofil aktif seperti enzim bakterisida dan protease, yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan lebih lanjut (Kumar et al, 2012). Zat yang dapat menghambat enzim lisosom dan menstabilkan membran lisosom dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada struktur sel dan jaringan, serta peradangan akut dan kronis (Kumar et al, 2012). Spektrometer menghasilkan spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sedangkan fotometer adalah alat untuk mengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diserap.

Gambar 6. Skema Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis (Watson, 2009)  1.  Sumber Cahaya
Gambar 6. Skema Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis (Watson, 2009) 1. Sumber Cahaya

METODE PENELITIAN

  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Alat dan Bahan .1 Alat .1 Alat
    • Bahan
  • Metode Penelitian
    • Pengambilan Sampel
    • Identifikasi Tanaman
    • Pembuatan Ekstrak
  • Karakterisasi Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R
    • Pemeriksaan Organoleptis
    • Penentuan Rendemen Ekstrak (Departemen Kesehatan RI, 2000)
    • Penentuan Susut Pengeringan (Departemen Kesehatan RI, 2008)
    • Penetapan Kadar Abu (Departemen Kesehatan RI, 2008)
  • Uji Aktivitas Antiinflamasi dengan Metode Stabilisasi Membran Sel Darah Merah Darah Merah
    • Pembuatan Larutan yang Dibutuhkan
  • Pembuatan Dapar Fosfat pH 7,4 (0,15 M)
  • Pembuatan Larutan Isosalin
  • Pembuatan Larutan Hiposalin
  • Penyiapan Konsentrasi Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R
  • Sm.) dan Ibuprofen
    • Pembuatan Suspensi Sel Darah Merah
    • Analisis Data

Sampel yang digunakan adalah bunga kecombrang yang diambil di Sungai Aro, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Bunga kecombrang yang telah diambil dibersihkan dari kotoran seberat 1 kg, kemudian dijemur di udara terbuka terlindung dari sinar matahari langsung. Kemudian sampel kering yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam botol maserasi dan ditambahkan etanol 70% hingga terendam.

Tempatkan cawan evaporasi yang telah dikeringkan selama 30 menit ke dalam oven bersuhu 105◦C, timbang 1 gram ekstrak, masukkan ke dalam cawan evaporasi, timbang kembali lalu kocok perlahan cawan agar ekstrak merata. B = Berat wadah porselen + sampel sebelum penerangan C = Berat wadah porselen + sampel setelah penerangan 3.4.5 Uji skrining fitokimia. Ekstrak kental bunga kecombrang dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 5 ml aquades dan 5 ml kloroform hingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan air dan kloroform (Harborne, 1987).

Begitu pula dengan ibuprofen, 50 mg ibuprofen dilarutkan dalam 50 ml isosaline (1000 ppm) pada suhu kamar. Darah yang digunakan adalah darah kambing, karena pada uji stabilisasi membran sel darah merah, diambil darah sebanyak 10 ml dengan cara menyimpan darah kambing yang disembelih, kemudian langsung dimasukkan ke dalam tabung vakum yang berisi EDTA, kemudian dimasukkan ke dalam tabung centrifuge. . Volume sel darah diukur dan dilarutkan dengan isosaline sehingga diperoleh suspensi sel darah merah dengan konsentrasi 10% v/v dengan cara mencampurkan 2 ml sel darah merah dengan 18 ml larutan isosaline.

Larutan kontrol terdiri dari 1 ml buffer fosfat pH 7,4 (0,15 M), 0,5 ml suspensi sel darah merah, 1 ml larutan ibuprofen dan 2 ml hiposalin. Analisis ANOVA yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA satu arah karena variabel independen dan dependen yang dianalisis tidak lebih dari satu. Dimana variabel bebasnya adalah konsentrasi senyawa uji, sedangkan variabel terikatnya adalah persen kestabilan membran sel darah merah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pembahasan

Keuntungan penggunaan sel darah merah adalah mudah didapat, mudah diisolasi dari darah, memiliki struktur membran yang sama dengan membran sel lainnya, sehingga sel darah merah dapat diuji aktivitas anti inflamasinya. Sel darah merah kambing digunakan dalam penelitian ini karena mudah diperoleh dan hubungan antara antigen darah kambing dengan sifat antiinflamasinya baik. Stabilisasi membran sel darah merah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui aktivitas anti inflamasi secara in vitro.

Persentase stabilisasi atau disebut juga kestabilan merupakan ukuran kemampuan suatu sampel dalam menstabilkan membran sel darah merah, yang diperoleh dengan membandingkan serapan antara serapan larutan uji dengan serapan kontrol. (Oyedapo dkk., 2010). Lisis sel darah merah dapat digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan aktivitas anti-inflamasi, yang dilihat dari ukuran atau. Kestabilan membran sel darah merah dapat dilihat dari besarnya nilai serapan pada larutan uji, karena larutan uji mengandung hemoglobin akibat terjadinya lisis sel darah merah.

Larutan uji yang digunakan berisi larutan hipotonik sebagai penginduksi hemolisis, suspensi sampel sel darah merah 10% dan senyawa uji berupa ekstrak etanol bunga kekombranga pada konsentrasi 1000 ppm. Masing-masing larutan diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C untuk memberikan waktu penyerapan ekstrak bunga kekombranga dan juga untuk mengamati pengaruh senyawa terhadap sel darah merah. Sel darah merah yang normal akan berbentuk pelet dan sel darah merah yang telah dilisis akan berada pada supernatan.

Semakin rendah daya serap hemoglobin yang terdeteksi pada campuran larutan uji, berarti membran sel darah merah lebih stabil dan tidak mengalami lisis (Kumar et al., Bila membran sel darah merah tidak stabil maka sel darah merah akan hancur dan melepaskan hemoglobinnya dan hemoglobin ini akan menyerap cahaya dengan panjang gelombang UV-Vis.Aktivitas anti inflamasi dari ekstrak tidak dapat dilihat dari nilai serapannya saja, persen penghambatan lisis sel darah merah harus dihitung dengan menggunakan rumus persen stabilitas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Uji aktivitas antioksidan ekstrak metanol bunga dan daun patikala (Etlingera elatior (Jack.) R.M.SM) menggunakan metode DPPH. Uji Efek Antipiretik Ekstrak Etanol Buah Wualae (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) pada Mencit Jantan (Mus musculus L.) Galur Balb/c. Pengaruh ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior) terhadap penyembuhan luka pada tikus putih (Rattus novergicus).

Pembuatan larutan diperlukan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm.) pada membran darah kambing. Pengujian aktivitas anti inflamasi ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm.) pada membran sel darah merah kambing. Jadi konsentrasi yang dibuat untuk ekstrak etanol bunga kecombrang adalah 15 ppm, 60 ppm, 250 ppm dan 1000 ppm.

Uji stabilitas ekstrak etanol bunga kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm.) dan Ibuprofen terhadap membran sel darah merah. Nilai serapan uji aktivitas stabilisasi ekstrak etanol bunga kecombrang dan ibuprofen pada membran sel darah merah kambing, pada panjang gelombang 577,50 nm dengan 3 kali pengulangan.

Gambar 7. Surat Hasil Identifikasi Bunga Kecombrang (Etlingera elatior    (Jack) R. M
Gambar 7. Surat Hasil Identifikasi Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M

Gambar

Gambar 1. Tanaman Bunga Kocombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Sm.)  Menurut United States Department of Agriculture (2008) tanaman Etlingera  elatior diklasifikasikan sebagai berikut:
Gambar 2. Struktur Flavonoid (Ghasemzadeh dan Ghasemzadeh, 2011).
Tabel I. Pita absorpsi UV dari flavonoid
Gambar 5. Struktur Steroid (Lenny, 2006)
+7

Referensi

Dokumen terkait

"Effect of extraction solvents on the phenolic compounds and antioxidant activities of bunga kantan (Etlingera elatior Jack.) inflorescence",.. Journal of Food Composition

Dari hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa formula gel ekstrak etanol daun Kecombrang ( Etlingera elatior ) mempunyai efektivitas dalam menyembuhkan luka sayat pada

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman daging sapi dalam ekstrak bunga kecombrang (Etlingera elatior) antara 10-40 ml belum dapat digunakan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman daging sapi dalam ekstrak bunga kecombrang (Etlingera elatior) antara 10-40 ml belum dapat digunakan

mengenai kadar fenolik total yang terdapat pada ekstrak rimpang kecombrang (Etlingera elatior Jack) dengan menggunakan metode KLT-densitometri dianggap perlu dilakukan

Dari hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa formula gel ekstrak etanol daun Kecombrang (Etlingera elatior) mempunyai efektivitas dalam menyembuhkan luka sayat pada

Dari hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa formula gel ekstrak etanol daun Kecombrang (Etlingera elatior) mempunyai efektivitas dalam menyembuhkan luka sayat pada kelinci

UJI SENSITIVITAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG Elingera elatior jack R.M.Sm SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI PADA Escherichia coli SKRIPSI Oleh : NI PUTU WIDYA ANGGRAYANTI NPM : 19820004