• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI VALIDITAS DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UJI VALIDITAS DAN "

Copied!
71
0
0

Teks penuh

Nyonya. Istiana, S.Psi, M.Pd., M.Psi., selaku sekretaris tim penguji yang memberikan masukan, saran dan ilmu kepada peneliti demi kesempurnaan skripsi ini. 13. Dan yang terakhir, kepada semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini dan turut berperan selama pengalaman peneliti dalam dunia kemahasiswaan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Harga diri merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap pandangannya terhadap diri sendiri, baik positif maupun negatif (Rosenberg, 2001). Mengenai identifikasi remaja yang memiliki harga diri tinggi yang juga mempunyai prestasi akademik, menurut Pelham & Swan (dalam Aditomo & Retnowati, 2004), individu yang memiliki harga diri tinggi berarti memandang dirinya secara positif.

Identifikasi Masalah

Mengenai identifikasi harga diri yang dimiliki siswa berprestasi menurut Pelham, dkk (dalam Aditomo & Retno Wanita, 2004), individu yang memiliki harga diri yang tinggi berarti memandang dirinya secara positif. Dilihat dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan harga diri siswa yang mempunyai prestasi akademik dan yang tidak mempunyai prestasi akademik.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Manfaat Praktis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang psikologi, khususnya bidang psikologi pendidikan. Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat dalam memperkaya bahan studi literatur dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan masukan untuk penelitian selanjutnya. Bagi peneliti, diharapkan penelitian ini dapat menjadi wacana pengetahuan baru di bidang psikologi pendidikan.

Dan bagi orang tua siswa, penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi mengenai harga diri anak yang juga berstatus pelajar.

Siswa

  • Komponen Self Esteem

Biasanya siswa yang memiliki harga diri yang baik terlihat ketika ia mampu meraih prestasi akademik yang baik. Dalam hal ini terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sikap seseorang yang mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan individu yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi terutama dalam bidang prestasi, Pelham & Swan (dalam Aditomo & Retnowati, 2004 ). Harga diri merupakan hasil penilaian individu terhadap dirinya secara positif atau negatif.

Setiap individu mempunyai peluang untuk mencapai harga diri yang tinggi dengan mewujudkan prestasi dalam empat bidang tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi yang mempengaruhi pembentukan harga diri juga akan mempengaruhi pembentukan nilai-nilai yang realistis dan stabil. Kondisi ini memungkinkan individu pada semua tingkat harga diri untuk memberikan standar nilai yang sama untuk menilai pentingnya hal tersebut.

Individu dengan harga diri tinggi menetapkan tujuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan harga diri rendah. Kita dapat menduga bahwa individu yang memiliki harga diri rendah mempunyai harapan (aspirasi) yang lebih rendah, namun jika dapat mengantisipasi hal tersebut maka sangat mungkin individu dapat meningkatkan harga dirinya. Keberhasilan seseorang, keberhasilan yang mempengaruhi pembentukan harga diri adalah keberhasilan yang berkaitan dengan kekuatan dan kemampuan individu dalam mengendalikan dirinya, meliputi aspek sosial, agama, akademik, dan lain-lain.

Sebaliknya jika kinerja individu dalam kinerja memenuhi tuntutan dan harapan, maka hal ini akan mendorong terbentuknya harga diri yang tinggi. Individu yang dapat memenuhi standarnya dan sadar akan cita-citanya akan berkembang menjadi orang yang memiliki rasa harga diri yang tinggi.

Prestasi Akademik Pengertian Prestasi

Djamarah (2002) mengartikan prestasi akademik sebagai suatu hasil yang dicapai yang hasilnya berupa kesan yang mengakibatkan perubahan pada diri individu sebagai hasil akhir kegiatan belajar. Jadi dapat dikatakan bahwa prestasi akademik merupakan suatu perubahan dalam keterampilan perilaku, atau kemampuan yang dapat meningkat seiring berjalannya waktu dan bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan, melainkan oleh situasi belajar. Suryabrata (2005) juga menambahkan bahwa prestasi akademik merupakan suatu penilaian terhadap hasil pendidikan, yang harus mengetahui kapan penilaian itu dilakukan, sejauh mana siswa telah belajar dan berlatih secara sadar.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil yang dicapai seseorang dalam bidangnya. Faktor non sosial Faktor non sosial tersebut meliputi kondisi udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat dan alat yang digunakan dalam pembelajaran. Faktor Psikologis Faktor psikologis meliputi minat, bakat, kecerdasan, kepribadian dan motivasi siswa.

Banyak faktor yang terlibat dalam aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas prestasi akademik seseorang, antara lain tingkat kecerdasan/inteligensi; Motivasi siswa dapat berupa motivasi intrinsik (yang berasal dari dalam diri siswa, dimana siswa tersebut melakukan proses belajar, siswa menyukai pelajaran yang dipelajarinya) atau motivasi ekstrinsik (yang berasal dari luar siswa, dimana siswa ingin memperoleh nilai optimal atau keberhasilan belajar). Faktor-faktor yang terlibat dalam lingkungan non-sosial adalah gedung kampus dan lokasinya, rumah tempat individu tersebut tinggal, alat belajar yang digunakan, kondisi cuaca, dan waktu yang dihabiskan seseorang untuk belajar.

Perbedaan Self esteem siswa yang berprestasi akademik dengan yang tidak berprestasi akademik

Harga diri dapat bernilai positif jika individu dapat menghargai dirinya dengan baik, namun sebaliknya, harga diri negatif jika seseorang tidak dapat menghargai dirinya dengan baik. Guru sering kali menyadari pentingnya harga diri dan sering kali mendapati anak-anak memasuki sekolah dengan harga diri yang rendah. Siswa yang memiliki harga diri yang tinggi juga mempunyai prestasi akademik, yaitu menurut Pelham & Swan (dalam Aditomo & Retnowati, 2004), individu yang memiliki harga diri yang tinggi berarti memandang dirinya secara positif, dengan ciri-ciri sebagai berikut, individu yang memiliki harga diri yang tinggi. harga diri yang tinggi menyadari kelebihan dirinya dan memandang hal-hal tersebut lebih penting dari pada kelemahannya, selalu termotivasi untuk berprestasi, percaya diri, mengeksplorasi bakat dan kemampuannya untuk mencapai apresiasi yang lebih baik terhadap diri sendiri.

Perlu adanya umpan balik terhadap pekerjaan yang dilakukan agar hasil yang diperoleh dari kegiatan dapat dengan cepat diketahui apakah lebih baik atau lebih buruk. Inovatif, yaitu melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda, efisien dan lebih baik dari sebelumnya. Hal ini dilakukan agar individu memiliki cara yang lebih baik dan menguntungkan untuk mencapai tujuannya.

Sementara itu, siswa yang mempunyai harga diri yang rendah atau low self-harga diri, yang juga berprestasi rendah, cenderung memandang dirinya secara negatif dan fokus pada kelemahannya dibandingkan kelebihannya, kurang percaya diri, memandang kegagalan sebagai hal yang wajar, dan enggan untuk memperbaiki kesalahan dan tidak melakukan apa pun. ingin mengembangkan potensi dan prestasi bagi dirinya Pelham & Swan (dalam Aditomo & Retnowati, 2004). Memiliki harga diri yang rendah Ciri yang paling sering ditemukan pada remaja yang kurang berprestasi secara akademis adalah rendahnya rasa harga diri. Mereka tidak percaya pada kemampuan mereka dan merasa tidak mampu melakukan apa yang diperlukan untuk pemenuhan sosial dan akademik.

KERANGKA KONSEPTUAL

HIPOTESIS

Pendekatan Penelitian

Siswa yang berprestasi secara akademik adalah siswa yang mempunyai nilai rapor 1-10 yang ditentukan oleh kelas masing-masing. Siswa yang tidak berprestasi secara akademik adalah siswa yang mempunyai IPK 10 atau lebih, yang ditentukan oleh masing-masing kelas.

Populasi Dan Sampel

Peserta didik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua orang yang terdaftar secara resmi untuk mengikuti pembelajaran di dunia pendidikan menurut Sarwono (2007). Menurut Sugiyono (2012), karena banyaknya keterbatasan dalam melakukan penelitian, maka sampel akan diambil agar dapat mewakili keseluruhan populasi. Jadi sampel yang digunakan adalah 30 siswa kelas X dan setiap wali kelas yang ada berdasarkan nilai rapor siswa.

Untuk memperoleh sampel yang mencerminkan keadaan populasi, maka sampel harus dipilih sedemikian rupa dan harus digunakan teknik pengambilan sampel yang benar. Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok sampel, yaitu kelompok sampel siswa yang berprestasi akademik dan siswa yang tidak berprestasi akademik. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap sebagai keseluruhan populasi (Notoatmojo, 2005).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah kuota sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang mengambil sebagian dari populasi yang ada berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti (Sugiono, 2007).

Teknik Pengumpulan Data

Skala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skala langsung, yaitu skala yang dilakukan oleh subjek penelitian dan subjek tinggal memilih salah satu alternatif jawaban yang diberikan.

Validitas dan Realibilitas Alat Ukur

  • Validitas
  • Reliabilitas

Overweight ini terjadi karena skor item dikorelasikan dengan skor total yang ikut serta sebagai komponen skor total sehingga menyebabkan koefisien r semakin besar (Azwar, 2000). Instrumen yang dapat dipercaya dan diandalkan juga akan menghasilkan data yang dapat diandalkan (Arikunto, 2010). Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila beberapa pengukuran yang dilakukan pada kelompok subjek yang sama menghasilkan hasil yang relatif sama sepanjang subjek yang diukur tidak mengalami perubahan (Azwar, 2000).

Skala yang reliabilitasnya akan dievaluasi dengan angka yang sama. Untuk menentukan reliabilitas alat ukur digunakan rumus koefisien alpha sebagai berikut.

Metode Analisis Data

Sedangkan variabel yang akan diukur atau variabel terikat (Y) adalah harga diri yang disimbolkan dengan huruf Uji Normalitas pada tabel tertulis untuk mengetahui apakah sebaran data variabel penelitian tersebar normal.

Uji homogenitas varians, yaitu untuk melihat atau menguji apakah data yang diperoleh berasal dari sekelompok subjek yang sama (homogen) dalam beberapa aspek psikologis. Baharudin, Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009 Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Belajar, Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2010. Darsono, M., dkk, Belajar dan Belajar, Semarang: CV. IKIP Semarang Press, 2000 Dimyati & Mudjiono, Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2006 Djamarah, Syaiful.

Jakarta: Penerbit GrafindoJakarta Munandar, 2009 Muhibbin Syah. 2010. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT Pemuda Nana Syaodi.

UJI VALIDITAS DAN

UJI RELIABILITAS

The case statistics used are based on all cases with valid data for all variables in the procedure.

Referensi

Dokumen terkait

Korelasi yang signifikan mungkin saja disebabkan karena individu dengan self-esteem yang rendah memiliki toleransi yang rendah terhadap frustrasi sehingga dapat

Karakteristik individu dengan self-esteem yang tinggi adalah aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik, berhasil dalam bidang akademik dan dalam mengadakan hubungan

Kesulitan yang akan ditemui dalam mengukur self-esteem dijelaskan oleh Lawrence (2006: 54-55) yaitu (1) kurangnya kesadaran yang dimiliki siswa dalam memahami

Alat ukur atau instrumen yang akan disusun tentu saja harus memiliki validitas dan reliabilitas, agar data yang diperoleh dari alat ukur itu bisa reliabel, valid dan disebut

Faktor kepribadian extraversion ini dikatakan mempengaruhi prestasi akademik, dikarenakan individu yang memiliki kepribadian ini cenderung ramah, terbuka, dan mudah

Jadi berdasarkan hasil uji validitas di atas pertanyaan 1 sampai Pertanyaan 9 memiliki r hitung yang lebih besar dari r tabel sehingga dinyatakan VALID sedangkan untuk pertanyaan

Dikatakan oleh Rosenberg dan Owens (dalam Mruk 2006), individu yang memiliki Self-esteem rendah teridentifikasi memiliki karakterisrik rendah diri, terutama apabila

Menurunnya prestasi akademik  Remaja yang memiliki self-control yang tinggi, maka ia bisa mengatur proses belajarnya dengan baik dan menghasilkan prestasi akademik yang memuaskan,