• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ujian Akhir Semester KONSERVASI

N/A
N/A
Meliyana

Academic year: 2025

Membagikan "Ujian Akhir Semester KONSERVASI "

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

CONTOH KASUS LINGKUNGAN DI INDONESIA DAN NEGARA LAIN

Mata Kuliah : Kelembagaan dan Hukum Lingkungan Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Idiannor Mahyudin, M.Si.

Disusun oleh : Meliyana 2320525320037

PROGRAM STUDI MAGISTER PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 2024

(2)

Contoh Kasus Lingkungan Di Sungai Citarum Jawa Barat

Salah satu kasus lingkungan di Indonesia yang menjadi perdebatan di pengadilan adalah kasus pembuangan sampah di Sungai Citarum. Sungai Citarum adalah sungai yang berlokasi di Jawa Barat, Indonesia, dan telah menjadi tempat pembuangan sampah secara tidak tepat. Pembuangan sampah secara tidak tepat telah menyebabkan kualitas air sungai menjadi berkualitas buruk, mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan ekosistem.

Awal peristiwa terjadi pada tahun 2010, ketika kondisi sungai Citarum sudah sangat buruk. Kondisi ini disebabkan oleh pembuangan sampah secara tidak tepat, yang telah menyebabkan kualitas air sungai menjadi berkualitas buruk. Pada tahun 2015, kasus ini masuk ke ranah hukum dan diputuskan oleh lembaga pengadilan.

Pada tahun 2015, pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih baik, yang mencakup pengumpulan sampah secara sistematis, pengolahan sampah, dan pengumpulan limbah. Pemerintah juga mengumumkan tindakan yang lebih ketat terhadap pembuangan sampah secara tidak tepat, yang mencakup penggunaan teknologi dan pengelolaan sampah yang lebih baik.

(3)

Sungai Citarum yang berlokasi di Jawa Barat dan berada di DAS Citarum telah menyandang predikat sebagai salah satu wilayah yang tercemar di dunia. Sungai sepanjang 269 kilometer ini mempunyai tiga masalah utama. Pada bagian hulu DAS, terdapat lahan kritis yang kerap kali memberikan masukan erosi tanah, selanjutnya mengalir pada sepanjang aliran dan mengendap. Sedimentasi yang menumpuk tersebut menyebabkan potensi bencana banjir ketika musim penghujan datang.

Pada tahun 2013, Green Cross Swizerland dan Blacksmith Institute telah membenarkan bahwa Sungai Citarum menjadi salah satu tempat tercemar dan terkotor di dunia.

Aliran air di sepanjang sungai mengalami penurunan kualitas karena banyaknya erosi serta ditambah pencemaran kotoran ternak, sampah rumah tangga dan limbah pabrik. Berbagai senyawa beracun pun ikut muncul di DAS Citarum yang tentunya berdampak buruk pada wilayah serta 35 juta orang di 13 Kabupaten/kota yang dilaluinya. Penelitian yang dilakukan oleh Greenpeace Asia Tenggara dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat telah menemukan hasil bahwa logam berat yang berasal dari limbah pabrik telah menjadi kontaminan utama Sungai Citarum.

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang terus berjalan mengakibatkan DAS Citarum makin terdegradasi. Beberapa aktivitas seperti pembukaan lahan hutan untuk pembangunan perumahan dan pengusahaan lahan pertanian, perilaku membuang sampah ke sungai yang tidak terkontrol juga menjadi satu indikasi sebab kerusakan. Telah diakui bahwa masyarakat sepanjang aliran sungai memiliki budaya membuang sampah yang tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Masih minimnya pemahaman akan lingkungan dan sikap apatis masyarakat terhadap kondisi sungai dan sampah semakin memperburuk kondisi Sungai Citarum.

Telah terdapat beberapa implementasi program yang sangat baik dan berbobot dari Pemprov Jawa Barat seperti “Citarum Bergetar (2000-2003)” dengan fokus program yakni pengendalian pencemaran, selanjutnya “Citarum Bestari (2013)” dengan dokus program yakni pengentasan masalah pencemaran air serta mewujudkan air Sungai Citarum Layak Minum dalam lima tahun. Pada kenyataannya, kedua program tersebut gagal dipenuhi dan tidak dapat diimplementasikan dengan sempurna. Selanjutnya, terdapat satu program terbaru yang baru rilis pada tahun 2018 dan didorong langsung oleh Presiden Joko Widodo yakni “Citarum Harum”. Pada intinya keseluruhan program tersebut dilakukan dengan tujuan memulihkan dan

(4)

mengembalikan ekosistem DAS Citarum agar kondisinya dapat menjadi baik, namun sering kali program yang digencarkan mengalami kendala dalam pelaksanaan.

Persoalan tentang mengembalikan kondisi Sungai Citarum agar dapat kembali sebagaimana kondisi awal tidak semudah membalikan telapak tangan. Beberapa titik DAS Citarum yang melewati 13 Kabupaten/Kota masih dikelola oleh segelintir pihak seperti Perhutani dan Perkebunan Nusantara VII. Sungai Citarum memang melintasi belasan kabupaten/kota sehingga urusan-urusan sampah kerap kali menjadi bola ping pong. Seringkali program yang digencarkan juga mengalami kendala seperti kendala koordinasi, belum sepenuhnya semua stakeholder dilibatkan dalam merumuskan solusi, serta belum semua mengerti akan makna tanggung jawab bersama dalam mengelola Sungai Citarum. Beberapa pihak berkepentingan memang seharusnya didudukan bersama untuk merumuskan solusi menyeluruh atas problematika Sungai Citarum yang tidak kunjung selesai sejak lama, sehingga harapannya tidak akan lagi ditemui tentang persoalan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sinkron.

Pemerintah dan berbagai pihak terkait harus terus berupaya untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada masyarakat, terutama mengenai kelestarian lingkungan hidup.

Seringkali terjadi, perilaku masyarakat yang menyimpang, dalam artian tidak memperdulikan alam sekitar bukan atas dasar kesengajaan, akan tetapi disebabkan oleh minimnya pengetahuan akan kelestarian alam. Berbagai level stakeholder harus bersama-sama terjun Menyusun dan merancang kegiatan edukasi yang dapat mencerdaskan masyarakat. Paling tidak, masyarakat mengerti dan memahami dasar-dasar penjagaan terhadap kelestarian alam, mulai dari hal-hal yang kecil seperti membuangsampah pada tempatnya. Kebijakan yang dirumuskan tentunya harus bermanfaat bagi semua pihak, khususnya masyarakat yang terkena dampak langsung dari kebijakan tersebut.

Stakeholder terkait penanganan masalah DAS Citarum antara lain Bappenas yang berperan menyusun Roadmap Citarum terkait dengan Integrated Citarum Water Resources Management Invesment Program (ICWRMIP). Penyusunan RoadMap dilakukan oleh satu Tim yang dibentuk oleh Bappenas, dengan melibatkan berbagai pihak baik dari unsur pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, pihak swasta, BUMN/BUMD maupun unsur non pemerintah (CSO/NGO). Di tingkat provinsi, Bappeda Provinsi Jawa Barat memegang peranan penting untuk mengawal kebijakan pusat dalam pengelolaan Citarum dalam aspek perencanaan dan koordinasi. Pengelolaan SDA ditangani oleh Bidang Fisik, Dirjen SDA dan BBWS Citarum. BBWS Citarum bertugas untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya air yang

(5)

meliputi: perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai Citarum. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air (BPSDA) Citarum menjadi salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat yang secara spesifik mempunyai tugas melaksanakan sebagian fungsí Dinas di bidang pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai Citarum.

Sungai Citarum di Jawa Barat memiliki panjang sekitar 350 km dan luas daerah pengaliran sungai (DPS) 12,000 km2, mempunyai populasi sekitar 10 juta penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Air dari sungai Citarum digunakan untuk kebutuhan irigasi, tenaga listrik, suplai air baku bagi 80 persen penduduk Jakarta, industry, dan pariwisata. Daerah aliran sungai Citarum didominasi oleh sektor industri manufaktur seperti tekstil, kimia, kertas, kulit, logam/elektroplating, farmasi, produk makanan dan minuman, dan lainnya. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat (BPLHD Jabar) telah mengkonfirmasi bahwa limbah industri jauh lebih intens dalam hal konsentrasi dan mengandung bahan-bahan berbahaya. Sebanyak 48% industri yang diamati, rata-rata pembuangan limbahnya 10 kali melampaui baku mutu yang telah ditetapkan (BPLH Provinsi Jawa Barat, 2010).

Data penyampelan di lokasi-lokasi pembuangan limbah industri menemukan berbagai jenis logam berat dan senyawa kimia organik yang bersifat toksik dilepaskan begitu saja ke badan sungai, yang berasal dari limbahindustri utama yang berada di Daerah Aliran Sungai Citarum antara lain industri tekstil, industri penyamakan kulit, industri makanan, dan industri elektroplating Investigasi ini memperkuat argumen bahwa kita telah kehilangan kendali atas bahan kimia beracun di lingkungan.

Dampak dari bahan pencemar yaitu , Perubahan tingkat keasaman air, Kontaminan organic meningkatkan BOD, COD, membunuh organisme, mengganggu proses fisiologi atau metabolisme, atau merusak organ-organ hewan, mengancam kesehatan manusia. (itaiitai ).

Upaya yang dapat dilakukan, Pendekatan kebijakan ‘atur dan awasi’ dan Pendekatan preventif.

(6)

1.1 SUMBER PENCEMAR LIMBAH BERBAHAYA INDUSTRI DI SUNGAI CITARUM

Sumber pencemar utama diketahui berasal dari aktivitas industri dan domestik.

Faktanya, terdapat sekitar 60% industri pengolahan di Jawa Barat yang keberadaannya juga berimplikasi pada terjadinya gangguan sistem hidrologi.

Sedangkan dalam konteks bahan kimia beracun, kontaminan utama yang mempengaruhi kualitas air Sungai Citarum adalah limbah yang berasal dari kegiatan industri (logam dan senyawa non-logam), pertanian (pupuk sintetis dan pestisida), jasa (minyak dan logam) dan domestik (deterjen, logam, plastik). (Institute of Ecology, 2004).

Pada tahun 2004, PPSDAL Unpad di Waduk Saguling, kualitasair Sungai Citarum sudah tidak memenuhi standar bahwa konsentrasi logam berat seperti Cd, Cr dan Pb di daerah hilir terdeteksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah hulu (Sunardi dan Ariyanti, 2009).

1.2 KARAKTERISTIK BAHAN PENCEMAR DIHASILKAN OLEH INDUSTRI YANG BERADA DI SUNGAI CITARUM

Daerah aliran sungai Citarum, yang mendukung terciptanya 20% total produksi industri Indonesia, merupakan sumber dari 60% produksi tekstil nasional (Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, 2011).

Setiap sektor industri berkontribusi pada jenis limbah yang berbeda bergantung pada proses produksi yang diadopsi oleh industri tersebut. Sebagai contoh, beberapa proses pada industri tekstil menghasilkan baik limbah organik atau limbah B3 dalam bentuk limbah cair.

Limbah organik yang dihasilkan dari industri tekstil mampu merubah nilai pH, atau meningkatkan kadar BOD dan COD dalam badan air. Kebanyakan industri tekstil juga menghasilkan limbah logam berat yang termasuk dalam kategori berbahaya. Banyak macam elemen logam berat yang dihasilkan dari proses produksi tekstil, diantaranya Arsen, Cadmium, Krom, Timbal, Tembaga, dan seng. Proses-proses dalam industri tekstil yang menghasilkan limbah cair antara lain pengkajian dan penghilangan kanji, pengelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnan, pencetakan, dan proses penyempurnaan.

Berbeda dengan industri tekstil, industri pelapisan logam (elektroplating) menghasilkan limbah cair dengan karakteristik yang berbeda. Limbah elektroplating berasal dari campuran proses seperti proses pembersihan lemak, proses pengasaman dan/atau

(7)

pembersihan dengan elektrik, dan proses pelapisan logam. Proses pembersihan lemakpada logam dilakukan menggunakan berbagai jenis pelarut, diantaranya pelarut benzene,trikloroetilin, metil klorida, toluene dan karbon tertraklorida, atau larutan alkali yang mengandung natrium karbonat, kostik, sianida, boraks, sabun, dan sebagainya.

1.3 EVALUASI KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR Pendekatan Kebijakan Atur dan Awasi

Secara umum, model kebijakan pengendalian pencemaran air di Indonesia dan di daerah studi masih mengandalkan model pendekatan atur dan awasi (command andcontrol) di mana pemerintah menerapkan baku mutu dan persyaratan yang harus dipatuhioleh pelaku usaha serta melakukan pengawasan dan penegakan hukum.

Penegakan Hukum (dalam konteks kebijakan Atur dan Awasi)

Kemampuan untuk memberikan respon yang cepat dan pasti dalam pendekatan kebijakan command and control sangat tergantung pada mekanisme penegakan hukum yang dilakukan.Penegakan hukum dalam kasus pencemaran air dapat dilakukan melalui mekanisme penegakan hukum administrasi, penegakan hukum perdata dan penegakan hukum pidana.

(8)

Kasus pencemaran air PT. Roselia Texindo yang ditangani Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2001 baru mendapatkan putusan akhir berupa Putusan Kasasi Mahkamah Agung yang bersifat berkekuatan hukum tetap (inkracht) pada tahun 2011.

Pendekatan Preventif

Prinsip lain yang diyakini mampu mengantarkan kita pada masa depan bebas toksik adalah Prinsip kehati-hatian (Precautionary Principle). Perlu pergeseran paragdima dari hanya mengandalkan pengaturan pada pembuangan akhir (end-of-pipe) menjadi pencegahan, eliminasi dan subtitusi materi toksik di awal sumbernya dengan kata lain Produksi Bersih Keterbukaan Informasi

Jaminan hukum mengenai hak setiap orang untuk mendapatkan akses informasi, aksespartisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dansehat dinyatakan dengan tegas dalam Pasal 65 ayat (2) UU 32/2009.xiii Hal ini sejalandengan prinsip partisipatif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dimana, “setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilankeputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secaralangsung maupun tidak langsung.”

Pemberian informasi dapatdilakukan melalui media cetak, media elektronik atau papan pengumuman yang meliputiantara lain:

a. status mutu air;

b. bahaya terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem;

c. sumber pencemaran dan atau penyebab lainnya;

d. dampaknya terhadap kehidupan masyarakat; dan atau

e. langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi dampak dan upaya pengelolaan kualitas air dan atau pengendalian pencemaran air.

(9)

Landfill Abu Batubara di Amerika Mencemari Air Tanah

Sebuah laporan studi di Amerika menemukan, bahwa sebanyak 91% pembangkit listrik tenaga batubara di Amerika (265 dari 292) yang diketahui telah mencemari air tanah dengan polutan beracun tidak melakukan penaatan hukum terkait upaya pemulihan akibat pencemaran air tanah yang telah terjadi. Pencemaran bersumber dari kolam penampungan abu sisa pembakaran untuk pembangkit listrik. Studi disusun oleh lembaga Earthjustice dan the Environmental Integrity Project dengan mengamati 292 pembangkit batubara yang beroperasi di Amerika.

Studi tersebut menjadi kelanjutan studi dari earthjustice di tahun 2019. Dimana ditemukan, bahwa sebanyak 242 pembangkit dari 265 pembangkit listrik AS yang memantau air tanah, telah melaporkan tingkat yang tidak aman dari setidaknya satu polutan yang berasal dari abu batubara. Lebih dari setengah fasilitas tersebut melaporkan tingkat arsenik yang tidak aman, karsinogen yang terkait dengan berbagai jenis kanker, dengan 60% menemukan peningkatan lithium, yang dikaitkan dengan kerusakan neurologis.

Pembakaran batu bara di pembangkit listrik batu bara yang menghasilkan abu sisa pembakaran batu bara dapat mengandung tingkat kontaminan yang berbahaya dan merupakan

(10)

salah satu jenis limbah industri terbesar yang dihasilkan di Amerika Serikat. Pada tahun 2015, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (the US Environmental Protection Agency/ EPA) mengumumkan serangkaian persyaratan yang komprehensif untuk pengelolaan abu batubara di tempat pembuangan akhir dan penimbunan yang dikenal dengan istilah “the Coal Ash Rule”.

Menurut EPA dalam situsnya, Peraturan tersebut dipicu karena terjadinya bencana tumpahan abu batubara di Stasiun Pembangkitan Sungai Dan Duke Energy dan hampir 160 kasus kontaminasi air di seluruh AS. Residu pembakaran batu bara (Coal combustion residuals / CCR atau abu batu bara), produk sampingan dari pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga batu bara di Amerika, telah dianggap mengandung kontaminan seperti merkuri, kadmium, dan arsenik yang tanpa pengelolaan yang tepat dapat mencemari saluran air, air tanah, air minum, dan udara.

Peraturan the Coal Ash Rule tersebut mewajibkan pembersihan kolam-kolam atau tempat pembuangan limbah abu batubara. Sekitar 500 kolam penampungan abu batubara yang tidak dilapisi, diminta untuk berhenti menampung limbah abu dan memulai ditutup pada April 2021. Diketahui, pembangkit batubara Amerika menghasilkan sekitar 100 juta ton abu batubara setiap tahun, dengan sedikitnya 2 miliar ton tersimpan dalam kolam-kolam penampungan abu batubara dengan kualitas yang berbeda-beda. Sebagian besar kolam abu batubara menua dan tidak dilapisi dengan pelapis yang akan mencegah abu merembes ke sungai atau sempadan sungai.

Namun, setelah tujuh tahun EPA memberlakukan peraturan the Coal Ash Rule, hanya sekitar setengah dari pembangkit listrik yang mencemari air tanah setuju bahwa pembersihan diperlukan. Sedangkan sebanyak 96 persen dari pembangkit listrik tidak mengusulkan pengolahan air tanah.

Menurut hasil studi earthjustice, sebagian besar pembangkit sudah tidak lagi mengirimkan abu batubara ke kolam penampungan abu yang tidak dilapisi. Namun studi menunjukan, bahwa industri tidak melakukan pemantauan kontaminasi air tanah dan membersihkan serta memulihkan kualitas air tanah yang terkontaminasi di sekitar lokasi.

Laporan memaparkan, bahwa secara ilegal cenderung memanipulasi data dan sistem pemantauan untuk membuat lokasi yang terkontaminasi terlihat bersih dan untuk menghindari pembersihan di sekitar penimbunan abu batubara.

(11)

Studi menemukan, bahwa hanya 4 persen dari industri yang telah memilih rencana pembersihan yang mencakup pengolahan beberapa air tanah yang terkontaminasi. Dari jumlah tersebut, hanya 1 pabrik yang merencanakan pembersihan menyeluruh, dengan 10 pabrik mengusulkan rencana pembersihan yang tidak lengkap.

Abu batubara (FABA) di Indonesia

Studi tersebut layak menjadi gambaran kebijakan pengelolaan Faba di Indonesia.

Diketahui, limbah abu batubara di Indonesia dikenal dengan istilah Fly Ash dan Bottom Ash (Faba). Sumbernya adalah dari Pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang saat ini sudah dikeluarkan dari jenis limbah B3 (limbah bahan berbahaya dan beracun). Perubahan pengaturan Faba sebagai Limbah Non B3 diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan Lampiran XIV PP Nomor 22 Tahun 2021, menetapkannya dalam kategori Limbah Non-B3 terdaftar. Jenis limbah batu bara yang dihapus dari kategori limbah B3 adalah fly ash dan bottom ash.

Direktur Jenderal PSLB3, Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan bahwa material FABA yang menjadi limbah nonB3 hanya dari proses pembakaran batubara di luar fasilitas stoker boiler dan/atau tungku industri, seperti antara lain PLTU yang menggunakan sistem pembakaran pulverized coal (PC) atau chain grate stoker. Sedangkan dari Fasilitas stoker boiler dan/atau tungku industri, tetap katagori Limbah B3 yaitu Fly Ash kode limbah B409 dan Bottom Ash kode limbah B410.

Alasannya antara lain pembakaran batubara di kegiatan PLTU pada temperatur tinggi sehingga kandungan unburnt carbon di dalam FABA menjadi minimum dan lebih stabil saat disimpan. Hal ini yang menyebabkan FABA (dan juga CCP/Coal Combustion Products) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, subtitusi semen, jalan, tambang bawah tanah (underground mining) serta restorasi tambang. Selain itu, dalam hal pembakaran batubara dilakukan pada temperatur rendah, seperti yang terjadi di tungku industri kemungkinan terdapat unburnt carbon di dalam FABA masih tinggi yang mengindikasikan pembakaran yang kurang sempurna dan relatif tidak stabil saat disimpan, sehingga masih dikategorikan sebagai limbah B3. Lebih lanjut menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana menjelaskan bahwa, hasil uji karakteristik beracun TCLP dan LD-50

(12)

menunjukkan bahwa FABA yang dihasilkan PLTU memiliki konsentrasi zat pencemar lebih rendah dari yang dipersyaratkan pada PP Nomor 22 Tahun 2021.

Sebagai antisipasinya, menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian LHK, Rosa Vivien Ratnawati, meskipun dinyatakan sebagai Limbah non B3, namun penghasil limbah non B3 tetap memiliki kewajiban untuk memenuhi standar atau persyaratan teknis yang ditetapkan dan tercantum dalam persetujuan dokumen lingkungan. Misalnya persyaratan teknis dan tatacara penimbunan FABA dan persyaratan teknis dan standar pemanfaatan FABA. Vivien juga mengungkapkan bahwa di negara lain seperti Jepang, Eropa, Amerika Serikat bahwa FABA dari PLTU juga dikategorikan sebagai limbah nonB3, namun tatacara dan standar pengelolaanya sama dengan tatacara dan standar pengelolaan yang diterapkan di Indonesia.

Menurut Penelitian Puslitbang tekMIRA, FABA berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan refraktori cor; bahan penimbunan dalam kegiatan reklamasi tambang; bahan substitusi kapur untuk menetralkan air asam tambang serta bahan pembenah lahan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah dan media tanam untuk revegetasi lahan bekas tambang.

Namun saat ini volume limbah FABA yang dimanfaatkan masih rendah. Menurut Litbang ESDM dalam situsnya, pemanfaatan Faba untuk subtitusi bahan baku hanya mencapai maksimal 45 persen (litbang ESDM). Karenanya, sebagian besar pengelolaan Faba masih terbatas melalui penimbunan lahan (landfill). Litbang ESDM juga sudah mengakui, bahwa jika Faba tidak dimanfaatkan dan tidak ditangani dengan baik, maka dapat berpotensi menimbulkan pencemaran. Selain volume, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan FABA , di Indonesia, yaitu kualitas dan lokasi. Kualitas FABA sendiri bervariasi dan fluktuatif, sehingga menyulitkan dalam proses pemanfaatan. Lokasi PLTU terkadang di lokasi terpencil, sehingga biaya pengelolaan FABA menjadi mahal dan kurang ekonomis.

Meskipun secara global telah ada komitmen “shutdown” untuk batubara, namun sebagai sumber bahan baku energi termurah, maka pemanfaatan batubara masih akan terus bertambah setiap tahunnya di Indonesia. Saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, kebutuhan batu bara dalam negeri tahun 2022 mencapai 165 juta ton, sementara tahun 2025 naik menjadi 208,5 juta ton. Kebutuhan batu bara masih didominasi untuk keperluan pembangkit listrik tenaga batu bara milik PT PLN (Persero) yang mencapai 129 juta ton. Diperkirakan, pada tahun 2022 saja, potensi limbah abu batubara yang dihasilkan dari pembangkit listrik mencapai tak kurang dari 6,45 – 12,9 juta ton.[i]

(13)

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan, bahwa FABA yang dihasilkan oleh perusahaan PLTU dan non-PLTU setiap tahunnya berkisar 10-15 juta ton dengan dampak biaya pengelolaannya berkisar Rp50 miliar s.d. Rp2 triliun. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia, China, India, Jepang, dan bahkan Vietnam dianggap sudah sejak lama memanfaatkan FABA sebagai material konstruksi untuk campuran semen di proyek infrastruktur. Bahkan, Apindo mengklaim, bahwa potensi pemanfaatan FABA sebagai material pada berbagai aplikasi mencapai nilai Rp300 triliun pertahun.

Besarnya potensi volume Faba yang dihasilkan di Indonesia layak mendorong kajian lebih lanjut oleh pengambil kebijakan terkait penetapan dan potensi dampak lingkungan Faba sebagai limbah non B3. Namun terlepas dari penetapan jenisnya, maka sudah saatnya berbagai bentuk pengelolaan Faba sebagai material penimbunan dan penanganan Faba melalui proses penimbunan atau landfill yang berpotensi mencemari air tanah dapat dipertimbangkan kembali.

Semoga…

[i] Menurut Publikasi KLHK, Sisa hasil pembakaran dengan batubara menghasilkan abu yang disebut dengan fly ash dan bottom ash (5-10 %). Persentase abu (fly ash dan bottom ash) yang dihasilkan adalah fly ash (80-90%) dan bottom ash (10-20 %)

 

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Wilayah Sungai Citarum. 2011. Citarum River Basin Status Map, www.citarum.org BPLH Provinsi Jawa Barat. 2010. Original Title : Status Lingkungan Hidup Daerah.

Translated : Regional Environmental Status. Sections : Industrial Activitas With Water Contamination Possibility.

Institute of Ecology. 2004. Annual Reposrt of Saguling Dam.

Sunardi dan Ariyanti. 2009. Toksisitas Sedimen Sungai Citarum Terhadap Larva Hydrophsyche sp. Jurnal Biotika, Vol 7 No. 2, hal 1008-117

Sungai Citarum, Predikat Sungai Tercemar di Dunia. Bagaimana Solusinya? – Konservasi DAS (ugm.ac.id)

Studi: Landfill Abu Batubara di Amerika Mencemari Air Tanah – Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM

Referensi

Dokumen terkait

Tugas Ujian Akhir Semester Auditing Lanjutan By Rita Sri Erviani Page 10 Namun, ketika ranah akuntansi forensik berlanjut untuk menemukan fraud maka. muatan

Dua logam terbuat dari bahan yang sama panjangnya berbanding 4 : 3 dan luas penampangnya berbanding 2 : 1, bila beda suhu pada masing-masing ujung kedua logam sama maka jumlah

Maka terkait itu, Direktur Eksekutif Aqua Brand untuk Asia Tenggara, Kenji Sadayuki mengatakan pihaknya bukan berarti menjalin kerjasama dengan Group Danone yang notabene

Penelitian ini akan membandingkan perbedaan kekuatan beton yang menggunakan agregat halus yang berasal dari pasir biasa dan limbah pabrik pengecoran logam

Perairan adalah tempat terakhir dari semua pembuangan limbah baik limbah yang berasal dari rumah tangga maupun industri dan beberapa logam berat dalam konsentrasi

Sumber pencemaran yang paling berat dari limbah pabrik gula berasal dari limbah cair. Tebu yang mengalami proses pencucian, penggilingan, pengendapan dan seterusnya,

Pemanfaatan Hasil Olahan Limbah Cair industri Pertanian informasi Presentasi tugas penje- lasan, 2x15 menit Tanya jawab berkaitan Penanganan Limbah Cair sistem Kolam tentang Cara

Karya tari yang berasal dari daerah Surakarta yaitu tari.. Seksi-seksi khusus dalam pergelaran karya seni tari