B E N T U K D A N
D I N A M I K A K O T A
Arsitektur Kota
Ahmad Nadif Naki - Safril Ade Arya Djuba
U K U R A N D A N T I P I K A L
K O T A
Ukuran dan tipikal di dalam arsitektur kota rata-rata dibedakan berdasarkan skalanya saja, yaitu secara makro (kota) dan mikro (rumah), sedangkan prinsip-prinsip arsitekturalnya sebenarnya sama saja. Pendekatan ini sangat penting dilakukan dalam perancangan, karena banyak yang menganggap prinsip-prinsip arsitektur hanya berlaku pada skala mikro saja dan kurang memperhatikan skala makro. Skala makro bukan sesuatu yang abstrak di luar jangkauan pemikiran orang, melainkan bersifat nyata sebagai tanda kehidupan perkotaan.
Ukuran suatu kota dapat dilihat dari aspek skala perkotaan, jika secara arsitektural dilihat dari sebuah tempat yang sama, yaitu di pandang dari aspek:
a. kota secara keseluruhan,
b. skala makro besar (wilayah kota),
c. skala makro kecil (kawasan kota), d. skala mikro (rumah)
D I M E N S I D A N
P E R K E M B A N G A N K O T A
Secara teoritis dikenal 3 cara perkembangan dasar didalam kota, yakni perkembangan secara horizontal, vertikal juga interstisial.
Perkembangan horizontal: cara perkembangan mengarah keluar. Daerah bertambah sedangkan ketinggian tetap.
Perkembangan vertikal: cara perkembangannya mengarah ke atas. Daerah tetap sedangkan ketinggian bertambah.
Perkembangan interstisial: cara perkembangannya mengarah
ke dalam. Daerah dan ketinggian tetap sedang.
I D E O L O G I K O T A
Ideologi kota adalah konsep yang mencakup nilai-nilai, prinsip,
dan visi yang mendasari perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan suatu kota. Ideologi ini bisa mencerminkan
bagaimana pemangku kepentingan—termasuk pemerintah,
pengembang, dan masyarakat—melihat peran kota dan
bagaimana mereka ingin kota tersebut berkembang.
G E R A K A N U R B A N I S M E
Gerakan urbanisme adalah berbagai pendekatan atau aliran
pemikiran yang berfokus pada perencanaan, desain, dan
pengembangan lingkungan perkotaan. Gerakan-gerakan ini
sering muncul sebagai respons terhadap tantangan yang
dihadapi kota-kota, seperti kepadatan penduduk, degradasi
lingkungan, dan ketidaksetaraan sosial.
K R I T E R I A P E R A N C A N G A N
K O T A
Dalam hal kualitas fisik ini, perencana dan perancang kota tidak akan dapat merancang seluruh unsur bentuk fisik kota, kecuali bila yang dihadapi kota baru atau kawasan kosong yang akan direncanakan (Shirvani, 1985). Berdasarkan pengalaman “Urban Design Plan of San Fransisco, 1970” (Wilson et al, 1979 dalam Shirvani, 1985), ruang-ruang dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu :
a. Pola dan citra internal : menjelaskan maksud ruang-ruang di antara bangunanbangunan dalam lingkup kawasan kota;
b. Bentuk dan citra eksternal : berfokus pada garis langit kota, serta citra dan identitas kota secara keseluruhan;
c. Sirkulasi dan perparkiran : mengkaji karakteristik jalan serta persyaratan dan lokasi perparkiran;
d. Kualitas lingkungan : berkaitan denag sembilan faktor, yaitu kecocokan penggunaan, kehadiran unsur alam, jarak ke ruang terbuka, kepentingan visual dan fasad jalan, kulitas pandangan, kualitas pemeliharaan, kebisingan dan iklim setempat.
Hamid Shirvani (1985) adalah seorang pakar arsitektur kota yang telah mencetuskan teori tentang “ delapan elemen perancangan kota” sebagai pedoman dalam merancang sbuah kota yaitu : Land use, Building Form and Massing, Circulation and Parking, Open Space, Pedestrian Ways, Activity Support, Signage. Preservation.
a. Land Use, merupakan elemen pokok dalam perancangan kota yang menentukan dasar perencanaan dalam dua dimensi, bagi terlaksananya ruang tiga dimensi;
b. Building Form and Massing, membahas bagaimana bentuk dan massa-massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antar massa yang ada;
c. Circulation and Parking, elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan;
d. Open Space, unsure ruang alam yang dibawa ke dalam kota atau lapangan terbuka yang dibiarkan tetap seperti keadaan aslinya;
e. Pedestrian Ways, tempat pejalan kaki yang merupakan alat untuk pergerakan internal kota, untuk memenuhi kebutuhan interaksi di dalam aktivitas kehidupan kota;
f. Activity Support, berkaitan dengan bangunan-bangunan dan hubungan antar ruang bangunan, ruang terbuka di sekelilingnya, serta fasilitas transportasi yang dapat di capai;
g. Signage, iklan mengisi ruang visual kota melalui papan kota, spanduk, baliho dan sebagainya, sangat mempengaruhi visualisasi kota baik secara mikro maupun makro;
h. Preservation, perlindungan terhadap lingkungan tempat tinggal yang ada dan urban places (alun-alun, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai cirri khas (bangunan bersejarah).
K O N S E P K U A L I T A S R U A N G
D A L A M P E R A N C A N G A N K O T A
Untuk menciptabn kebutuhan fasilitas kota yang tepat basi masyarakat penghuninya, perlu dikaji dulu bbutuban dasar apa yang diinginbn oleh penshuoi kota itu sendiri. Ruang public, kualitas ruang kota dan tigkat social masyarakat merupabn benang merah yang tidak bisa putus. HlldebraNl Frey (1999) mengkaitkan kebutuhan kota dengan kebutuhan dasar manusia dari hirarkhi Maslow sebagai berikut:
1) Pada tingkatan dasar (basic level), fasilitas kota yang disediakan adatah semua kebutuhan fisik masyarakat antara lain: tempat tinggal dan tempat kerja, pendapatan yang memadai, pendidikan dan kursus, transportasi dan memungkinkan untuk mengadakan komunikasi dengan fasilitas fasilitas dan pelayanan pelayanan kota.
2) Pada tingkatan kedua, hal hal yang harus diperhatikan oleb kota adalah keselamatan
(safety), keamanan (security) dan perlindungan (protection), unsur visua~fungsi. susunan
dan kontrol terhadap lingkungan yang harus bebas dari polusi,kebisingan, kecelakaan,
dan kriminologi.
3) Tingkatan yang ketiga adalah menciptakan lingkungan sosial yang kondusif. Suatu tempat yang penghuninya mempunyai pertumbuhan yang baik, anak anak mereka bisa saling mengadakan sosialisasi, mereka merasa sebagai bagian dari komunitas dan merasa memiliki terbadap lingkungannya.
4) Tingkatan yang ke-empat, bahwa fasilitas kota harus memberikan kesan yang cocok Ruang Publik dan Kualitas Ruang ... (Edy Dannawan) (appropriate image), reputasi yang baik serta gengsi yang dapat menggambarkan penghuninya. Disamping dapat memberikan rasa percaya diri yang kuat, status dan martabat yang tinggi bagi mereb.
5) Pada tingkat diatasnya (kelima), fasilitas kota hanas dapat memberi kesempatan penghuninya untuk bedcreasi sendiri, melDbentuk ruang pribldi yang mengebpresikan pribadi mereka.
Disamping itu secara bers1ma sama merelca juga dapat 1IlCftCiptakan daerah dan lingkunpnnya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi mereka sendiri. 6) Tingkat yang- terakhir. bahwa fasilitas kota harus berupa karya desain yang baik, sebagai tempat yang estdis, secara flSik dapat memberi kesan yang mendalam, merupakan suatu tempat budaya dan lauya seni yang bennutu.