Strategi UMKM Korea Selatan Bertahan di Pandemi COVID-19, (2) Potensi Kerjasama Bilateral Indonesia dan Bangladesh dalam Perjanjian Perdagangan Preferensial, (3) Analisis Pengaruh Reward dan Punishment terhadap Motivasi Pegawai di Balai Pendidikan dan Pelatihan Vokasi, (4) Ekonomi dan pembangunan digital, Mengarusutamakan ekonomi digital di Indonesia: perspektif gender dan penciptaan lapangan kerja (studi kasus pemasar Kampung) (5) Pemilihan sistem pemantauan organisasi dengan teknik untuk orang lain berdasarkan kesamaan dengan solusi ideal (TOPSIS ), (6) Analisis persepsi dunia usaha dibandingkan persepsi konsumen melalui Indeks Tendensi Bisnis (ITB) dan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Indonesia. Pusdiklat Perdagangan menyelenggarakan webinar bertema “Strategi UMKM Korea Selatan Bertahan di Pandemi COVID-19” dengan narasumber Kepala ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) Busan – Korea Selatan dengan menggunakan Kudagang LMS ( Learning Management System ). Salah satu webinar yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan pada masa pandemi COVID-19 adalah “Strategi UMKM Korea Selatan untuk Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19”.
Evaluasi konteks
Jadi, dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan pada kuesioner yang digunakan untuk penelitian adalah valid untuk digunakan. Rumus pengujian reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Alpha Cronbach yang diolah menggunakan Microsoft Excel. Oleh karena itu berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas dapat disimpulkan bahwa angket dalam penelitian ini valid dan konsisten serta layak digunakan dalam penelitian.
Evaluasi Input
Tujuan yang ingin dicapai setelah diadakannya webinar ini adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, memberikan inspirasi dan. Manfaat yang diharapkan setelah diadakannya webinar ini adalah Pusdiklat Perdagangan dapat memperoleh masukan dari peserta mengenai usulan kebijakan yang akan diterapkan untuk mendukung dan membantu MMO dalam menanggulangi pandemi COVID-19. Jumlah peserta yang mengikuti webinar ini hanya 30 orang atau 10% dari kapasitas yang tersedia dengan kualifikasi peserta sebagai UKM di Indonesia.
Evaluasi Proses
Kualifikasi dan Jumlah Pembicara Narasumber pada webinar ini berjumlah 1 orang yaitu Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Kementerian Perdagangan RI di Busan, Korea Selatan. Ada juga beberapa peserta yang tidak dapat mengakses webinar karena kendala jaringan dan user interface situs Kudagang yang dirasa belum familiar atau belum user-friendly, sehingga ada pula peserta yang masih kebingungan dalam mengakses kegiatan online ini. Penilaian dilakukan dalam bentuk angket yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan 4 komponen penilaian yaitu: penilaian narasumber, penilaian media pembelajaran, penilaian pelaksanaan kegiatan dan penilaian hasil pembelajaran.
Evaluasi Produk
Berdasarkan hasil penilaian peserta mengenai pelaksanaan kegiatan, terdapat 4 variabel yang masih dirasa kurang memuaskan oleh peserta, yaitu variabel Q10 (Promosi kegiatan), Q11 (Panduan partisipasi kegiatan), Q12 (Panduan penggunaan LMS Kudagang) , Q14 (jenis aktivitas yang disediakan) dan Q16 (layanan hosting). Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Berdasarkan hasil penilaian konteks pada penelitian ini, peserta webinar yaitu UMKM di Indonesia memerlukan strategi webinar bagi UMKM Korea Selatan untuk bertahan di masa pandemi COVID-19. , dengan tujuan peserta webinar mendapatkan ilmu, inspirasi dan motivasi untuk bertahan hidup di masa pandemi COVID-19. Rekomendasi yang diberikan penulis kepada Pusdiklat Perdagangan berdasarkan hasil evaluasi 4 dimensi yang telah dilakukan yaitu konteks, masukan, proses dan produk, kegiatan webinar ini layak untuk dilanjutkan lebih lanjut dengan materi dan materi yang berbeda. sumber daya dan dengan menyasar peserta kegiatan dari berbagai pemangku kepentingan terkait misi dan fungsi Balai Diklat Perdagangan, baik ASN maupun non-ASN, sebagai center of excellence bagi para pedagang di Indonesia.
Journal of Trade Development and Studies
POTENSI KERJASAMA BILATERAL INDONESIA BANGLADESH DALAM KERANGKA PREFERENTIAL TRADE AGREEMENT
Abstrak
Abstract
115 jalur bea cukai tersebut diurutkan berdasarkan impor Bangladesh dari dunia, sehingga dapat diasumsikan bahwa Bangladesh merupakan pasar yang besar. Dari hasil simulasi, terdapat 168 item tarif potensial yang dapat diminta Indonesia dalam kerja sama PTA Indonesia Bangladesh. Berdasarkan hasil simulasi potensi produk, terdapat 283 pos pabean potensial yang berasal dari 115 pos pabean perdagangan eksisting dan 168 pos pabean perdagangan eksisting.
ANALISIS PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP MOTIVASI PEGAWAI DI PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERDAGANGAN
Sedangkan manfaat dari penulisan ini adalah untuk memberikan rekomendasi kepada pimpinan yang menangani sumber daya manusia di lingkungan internal Pusdiklat Perdagangan dan pimpinan instansi pusat mengenai permasalahan yang timbul akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai Kementerian Perdagangan khususnya. di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan. Dalam konsep manajemen sumber daya manusia, reward merupakan salah satu alat untuk meningkatkan motivasi karyawan. Singkatnya, pengelolaan sistem penghargaan dalam organisasi mempunyai tujuan penting, yaitu untuk menarik dan mempertahankan sumber daya manusia yang ada karena organisasi membutuhkannya untuk mencapai tujuannya.
Selain itu, meskipun penerapan reward dan punishment belum serta merta memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan motivasi pegawai, namun tetap dianggap sebagai metode manajemen untuk mengelola kinerja sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang bekerja dalam suatu organisasi pasti diarahkan pada pencapaian tujuan yaitu tujuan organisasi. Motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para manajer karena mereka harus mampu mempengaruhi sumber daya manusia dalam kerangka organisasi yang dipimpinnya agar dapat mencapai tujuan baik pribadi maupun dapat digerakkan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan organisasi.
Meskipun saling bergantung satu sama lain, namun sumber daya manusia merupakan unsur terpenting yang mendorong suatu organisasi mencapai tujuannya. Tujuan manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi produktivitas manusia terhadap organisasi dengan cara yang strategis, etis, dan bertanggung jawab secara sosial). Organisasi yang percaya pada kemampuan sumber daya manusianya pasti akan memberdayakan mereka dengan wewenang dan tanggung jawab yang besar, sehingga mereka dapat melaksanakan pekerjaan sesuai ruang lingkup yang telah disepakati dan mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi hasil pekerjaannya.
Melihat kajian teoritis para ahli bidang Manajemen Sumber Daya Manusia di atas, penulis tidak melihat adanya keterkaitan.
INKLUSIVITAS EKONOMI DIGITAL DI INDONESIA: PERSPEKTIF GENDER DAN PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA
STUDI KASUS KAMPUNG MARKETER)
Era digital kini semakin berkembang dan mempengaruhi bentuk perekonomian dunia yang dikenal dengan ekonomi digital. Berdasarkan Indikator Survei Konsumen tahun 2018, dampak ekonomi digital di Indonesia dalam hal transaksi menggunakan Internet telah melibatkan dan memberdayakan perempuan. Peningkatan nilai ekonomi digital juga akan berdampak lebih besar terhadap pertumbuhan inklusif, termasuk lapangan kerja.
Penelitian ini akan memaparkan peluang dan tantangan layanan pembangunan ekonomi digital di pedesaan dalam hal penyediaan sumber daya manusia terampil di bidang digital, yaitu dengan mendefinisikan KM sebagai studi kasus. Ekonomi digital adalah sektor ekonomi yang meliputi barang dan jasa yang pengembangan, produksi, penjualan atau penyediaannya bergantung pada teknologi digital. Dalam pengoperasian teknologi ekonomi digital ini diperlukan sumber daya manusia terampil yang memahami dunia digital dan mahir menggunakan perangkat digital.
Sebagaimana dikemukakan oleh Knickrehm dkk (2016) menjelaskan bahwa ekonomi digital adalah bagian dari total output perekonomian yang diperoleh dari sejumlah besar input 'digital'. Seperti halnya dalam bentuk industri dan perekonomian apa pun, sumber daya manusia merupakan komponen penting, termasuk dalam kegiatan ekonomi digital. Strategi harus diterapkan untuk memaksimalkan penguasaan teknologi yang digunakan dalam ekonomi digital di semua tingkatan sosial.
Hal ini terjadi bahkan di era konektivitas internet berkecepatan tinggi yang mendukung perekonomian digital saat ini.
PEMILIHAN SISTEM MONITORING ORGANISASI DENGAN TECHNIQUE FOR OTHERS REFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)
Pemantauan yang dilakukan selama proses pelaksanaan kegiatan utama dilakukan dengan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan. Aplikasi monitoring otomatis pada saat proses pelaksanaan kegiatan Langkah selanjutnya adalah menghitung kedekatan relatif terhadap solusi ideal positif menggunakan rumus. Dengan demikian solusi terbaik adalah alternatif monitoring dengan aplikasi monitoring otomatis pada saat proses pelaksanaan kegiatan, dengan nilai perhitungan proximity terhadap solusi ideal positif sebesar 0.63139.
Urutan kedua adalah aplikasi monitoring yang dilakukan dengan konfirmasi dari atasan terhadap setiap output pekerjaan yang dilakukan pegawai dengan nilai kedekatan solusi ideal positif sebesar 0,53139. Proses monitoring dengan aplikasi otomatis pada saat proses kegiatan tentunya memerlukan peran supervisor yang mumpuni. Alternatif monitoring yang mempunyai nilai tertinggi berdasarkan hasil analisis pengambilan keputusan dengan teknik TOPSIS adalah bagaimana aplikasi monitoring dapat secara otomatis melihat setiap proses pelaksanaan kegiatan.
Jadwal yang tetap dapat diperbaiki secepatnya dengan melakukan pemantauan yang dilakukan sepanjang proses pelaksanaan kegiatan/pekerjaan. Oleh karena itu, penting untuk memutuskan untuk membangun sebuah aplikasi pemantauan yang dapat secara otomatis melaporkan setiap tahapan pelaksanaan aktivitas selama proses melalui aplikasi pemantauan aktivitas otomatis selama proses tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis diketahui bahwa alternatif pemantauan yang dipilih adalah pemantauan dengan aplikasi otomatis dalam proses pelaksanaan kegiatan.
Berdasarkan perhitungan menggunakan TOPSIS, dipilih alternatif pemantauan dengan aplikasi pemantauan otomatis pada saat proses pelaksanaan kegiatan, dengan nilai perhitungan kedekatan relatif terhadap solusi positif ideal sebesar 0,63139.
ANALISIS PERSEPSI BISNIS TERHADAP PERSEPSI KONSUMSI MELALUI INDEKS TENDENSI BISNIS (ITB) DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) DI INDONESIA
ANALISIS PERSEPSI BISNIS TERHADAP PERSEPSI KONSUMSI MELALUI INDEKS TREND BISNIS (ITB) DAN INDEKS TREND KONSUMEN (ITK) DI INDONESIA. Sedangkan Indeks Tendensi Konsumen (CTI) dihitung berdasarkan Survei Tendensi Konsumen (CST) terhadap rumah tangga yang disurvei. Indeks tren bisnis (ITB) dan indeks tren konsumen (ITK) menunjukkan indikasi perkembangan ekonomi bisnis dan konsumen di Indonesia dalam jangka pendek (triwulanan).
Indeks Tendensi Bisnis (ITB) dan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) berkisar antara 0 (nol) sampai dengan 200 (dua ratus). Indikator ini menggambarkan persepsi pengusaha terhadap kondisi perekonomian saat ini, Indeks Tendensi Bisnis Saat Ini (ITB Saat Ini) dan juga kondisi perekonomian di masa depan yang digambarkan oleh Indeks Tendensi Bisnis Masa Depan (ITB Saat Ini). Komponen tersebut antara lain Indeks Tendensi Bisnis Saat Ini (ITB Saat Ini) dan Indeks Tendensi Bisnis Masa Depan (ITB Saat Ini).
Sedangkan indeks tren bisnis masa depan (ITB future) menggambarkan prakiraan kondisi bisnis pada triwulan berikutnya. Indeks tren konsumen saat ini (CPI current) menggambarkan dan mengidentifikasi persepsi rumah tangga (konsumen) terhadap kondisi perekonomian pada triwulan berjalan atau pada saat survei dilakukan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Menurut BPS, Indeks Tren Konsumen (CTI) merupakan indeks gabungan yang merupakan rata-rata tertimbang dari beberapa Indeks Tren Konsumen (CTI) saat ini dan indeks tren konsumen (CTI) di masa depan.
Sedangkan Indeks Tendensi Konsumen Masa Depan (ITK Masa Depan) menggambarkan prakiraan konsumen terhadap kondisi perekonomian pada triwulan mendatang.
IIK= ∑
IIM = ∑
Menurut Della Bitta (2004), perilaku konsumen dapat diartikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas fisik seseorang yang terlibat dalam proses mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau kemungkinan menggunakan barang dan jasa. dilakukan oleh Soegiri (2009). mengenai perhitungan dan indeks prospektif Tendensi Bisnis di wilayah Jawa Timur tahun 2009. Namun dalam penelitian ini belum ada penjelasan mengenai dampaknya terhadap persepsi konsumen yang dilihat dari Indeks Tendensi Konsumen. Oleh karena itu, dalam penulisan penelitian ini, penulis mencoba mendeskripsikan dampak persepsi bisnis terhadap persepsi konsumsi, yang ditunjukkan melalui indikator berupa Indeks Tendensi Bisnis (ITB) terhadap Indeks Tendensi Konsumen (ITK). berkaitan erat dengan kegiatan produksi. .
Data tersebut berasal dari publikasi Indeks Tren Bisnis (ITB) dan Indeks Tren Konsumen (ITK) periode 2017-2019. Data Business Trend Index (BTI) ini menjadi informasi penting bagi pemangku kepentingan seperti pemerintah dan pelaku usaha. Bagi pemerintah, data Business Trend Index (BTI) menjadi dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan di bidang investasi, sedangkan bagi pelaku usaha data atau informasi ini berguna untuk menghitung nilai yang diharapkan dalam melakukan investasi atau perluasan pasar. sebagaimana disepakati oleh Soegiri (2009).
Hal ini menunjukkan naik turunnya persepsi pelaku usaha relatif lebih stabil antar kuartal. Sementara jika ingin melihat persepsi rumah tangga terhadap kondisi perekonomian, dapat melihat Indeks Kecenderungan Konsumen (IHK). Data indeks kecenderungan berusaha pada tahun tersebut menunjukkan bahwa kondisi dunia usaha dan optimisme para pelaku usaha diperkirakan semakin meningkat setiap tahunnya.
Hal ini juga terlihat dari persepsi dunia usaha melalui Indeks Tendensi Bisnis yang lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya.
IV III & IV
I I & II Triwulan
III II & III Triwulan
Memasuki triwulan III dan IV terdapat perbedaan persepsi dunia usaha dan persepsi konsumsi.Untuk persepsi dunia usaha terlihat Indeks Tendensi Bisnis (ITB) mengalami penurunan yang disebabkan oleh kemungkinan kurang konsistennya kebijakan pemerintah dari tahun ke tahun. awal tahun hingga akhir tahun. Namun persepsi konsumsi berbeda, tercermin dari Indeks Kecenderungan Konsumen (IHK) yang meningkat karena faktor musiman, yaitu libur akhir tahun dan perayaan hari besar keagamaan. Sehingga pemerintah dapat memberikan informasi terkait kondisi perekonomian yang lebih mudah dipahami dan dipahami.