• Tidak ada hasil yang ditemukan

00882 7. Penyusunan Laporan Pengelolaan Teknis 1

N/A
N/A
Ririn Apriana

Academic year: 2023

Membagikan "00882 7. Penyusunan Laporan Pengelolaan Teknis 1"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

DIKLAT PENGELOLAAN TEKNIS

PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA TINGKAT DASAR

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

PUSDIKLAT JALAN, PERUMAHAN, PERMUKIMAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH J l . A b d u l H a m i d C i c a h e u m B a n d u n g , T l p / F a x . 0 2 2 - 7 2 0 8 0 2 4 ,

MODUL 7

Penyusunan Laporan Pengelola

Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara

2016

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Modul Penyusunan Laporan Pengelolaan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara memberikan pemahaman tentang pelaporan kegiatan pengelola teknis pembangunan bangunan gedung negara, yang meliputi monitoring dan evaluasi, laporan, dan laporan penyelenggaraan pembangunan BGN.

Buku ini terdiri atas 5 (lima) bab yang terdiri dari Pendahuluan, Monitoring dan Evaluasi, Laporan, Laporan Penyelenggaraan Pembangunan BGN, dan Penutup.

Modul ini disusun secara sistematis agar peserta pelatihan dapat mempelajari materi dengan lebih mudah. Fokus pembelajaran diarahkan pada peran aktif peserta diklat.

Ucapan terimakasih dan penghargaan kami sampaikan kepada tim penyusun atas tenaga dan pikiran yang dicurahkan untuk mewujudkan modul ini. Penyempurnaan, maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga modul ini dapat membantu dan bermanfaat bagi peningkatan kompetensi aparatur di Pusat dan Daerah dalam bidang penataan bangunan.

Semarang, Desember 2016

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...I DAFTAR ISI...II DAFTAR GAMBAR...IV DAFTAR TABEL...V DAFTAR LAMPIRAN...VI PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL...VII

A. Deskripsi...vii

B. Persyaratan...vii

C. Metode...vii

D. Alat Bantu/Media...vii

E. Indikator Keberhasilan...vii

BAB 1 PENDAHULUAN...9

A. Latar Belakang...10

B. Deskripsi Singkat...11

C. Tujuan Pembelajaran...12

D. Materi dan Submateri Pokok...12

E. Estimasi Waktu...13

BAB 3 MONITORING DAN EVALUASI...15

A. Indikator Keberhasilan...16

B. Umum...16

C. Monitoring...17

D. Evaluasi...18

E. Kaitan Antara Monitoring dan Evaluasi...20

F. Rangkuman...22

BAB 4 LAPORAN...23

A. Indikator Keberhasilan...24

B. Umum...24

C. Pengertian...24

D. Prinsip – Prinsip Penulisan laporan...25

E. Dasar-Dasar Membuat Laporan...25

F. Maksud Pelaporan...27

G. Metode Pelaporan...27

Metode pelaporan dilakukan berkala dan berjenjang, maksudnya sebagai berikut:...27

H. Fungsi dan Sifat Laporan...28

I. Laporan Berdasarkan Waktu...28

(6)

J. Kerangka laporan...29

K. Latihan...29

L. Rangkuman...29

BAB 5 LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN BGN...31

A. Indikator Keberhasilan...32

B. Umum...32

C. Laporan Periodik...32

D. Laporan Insidentil :...37

BAB 5 PENUTUP...39

DAFTAR PUSTAKA...41

GLOSARIUM...43

LAMPIRAN...44

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Mekanisme Pelaporan...34 Gambar 2 Tahapan Proses Pelaporan...35

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pentahapan Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Negara...33 Tabel 2 Prestasi Pelaksanaan Manajelen Konstruksi...34

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 LAPORAN MONITORING

LAMPIRAN 2 PROSEDUR OPERASI STANDAR TENAGA PENGELOLA TEKNIS LAMPIRAN 3 PROSEDUR OPERASI STANDAR MANAJEMEN KONSTRUKSI LAMPIRAN 4 PROSEDUR OPERASI STANDAR KONSULTAN PENGAWAS

LAMPIRAN 5 PROSEDUR OPERASI STANDAR SUSUNAN TIMPELAKSANA KOORDINASI BANTUAN TENAGA TEKNIS DAN PENGELOLA TEKNIS

LAMPIRAN 6 RENCANA PENYERAPAN BIAYA OPERASIONAL KEGIATAN PENGELOLAAN TEKNIS

LAMPIRAN 7 RINCIAN PENGGUNAAN BIAYA OPERASIONAL UNSUR PENGELOLA TEKNIS LAMPIRAN 8 RISALAH RAPAT

(10)

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

A. Deskripsi

Modul Penyusunan Laporan Pengelola Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara terdiri dari tiga kegiatan belajar mengajar, yaitu: Monitoring dan Evaluasi, Laporan, dan Laporan Penyelenggaraan Pembangunan BGN.

B. Persyaratan

Dalam mempelajari modul ini peserta diklat dilengkapi dengan skema, gambar dan tabel yang difungsikan untuk memudahkan peserta latih agar lebih memahami materi modul.

C. Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh pemberi materi (narasumber), adanya kesempatan tanya jawab, curah pendapat, bahkan diskusi.

D. Alat Bantu/Media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/Media pembelajaran tertentu, yaitu:

1. LCD/projector 2. Laptop

3. Papan tulis atau whiteboard dengan penghapusnya 4. Flip chart

5. Bahan tayang

6. Modul dan /atau bahan ajar

E. Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu:

a. Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi

b. Menyusun Laporan Penyelenggaraan Pembangunan BGN

(11)
(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

(13)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Persyaratan administratif bangunan gedung meliputi persyaratan status hak atas tanah, status kepemilikan bangunan gedung dan izin mendirikan bangunan dan persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan persyaratan tata tata bangunan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan. Persyaratan tata bangunan ditetapkan lebih lanjut dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) oleh Pemerintah Daerah.

Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan bangunan gedung.

Penyelenggara bangunan gedung terdiri atas pemilik, penyedia jasa konstruksi dan pengguna bangunan gedung (UU Nomor : 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung).

Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan teknis, dan pelaksanaan beserta pengawasannya. Pembangunan bangunan gedung wajib dilaksanakan secara tertib administratif dan teknis untuk menjamin keandalan bangunan gedung tanpa menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Pembangunan bangunan gedung mengikuti kaidah pembangunan yang berlaku, terukur, fungsional, prosedural, dengan mempertimbangkan adanya keseimbangan antara nilai - nilai sosial budaya setempat terhadap perkembangan arsitektur, ilmu pengetahuan dan teknologi (PP Nomor: 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan pelaksanaan UU nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, Pasal 62).

Pembangunan bangunan gedung negara adalah kegiatan mendirikan bangunan gedung negara yang diselenggarakan melalui tahapan kegiatan persiapan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengawasan teknis dan kegiatan pasca konstruksi. Persiapan pembangunan bangunan gedung Negara meliputi : a.

(14)

penyusunan rencana kebutuhan ; b. penyusunan rencana pendanaan ; dan c.

penyusunan rencana penyedian dana. Setiap pembangunan bangunan gedung negara yang dilaksanakan oleh kementerian / lembaga / SKPD / harus mendapat bantuan teknis dalam bentuk pengelolaan teknis. Pengelolaan teknis oleh tenaga pengelola teknis yang bersertifikat. Tenaga pengelola teknis bertugas membantu dalam pengelolaan kegiatan pembangunan bangunan gedung Negara di bidang teknis administrasif. (Perpres Nomor : 73 Tahun 2011 Tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara )

Untuk memfasilitasi ketersedian tenaga teknis Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah menyusun program Diklat Pengelola Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara Tingkat Dasar.

1. Diklat ini diharapkan akan memberikan bekal kemampuan tentang pengetahuan, dan mampu menjelaskan dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung negara.

2. Adapun mata diklat yang akan diberikan adalah :

a. Kebijakan Pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara,.

b. Pengantar Pengelolaan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

c. Persyaratan Pembangunan Bangunan Gedung Negara d. Penyusunan Program dan Pembiayaan

e. Tahapan Pembangunan Bangunan Gedung Negara f. Biaya Pembangunan Bangunan Gedung Negara g. Pembinaan Pembangunan Bangunan Gedung Negara

h. Penyusunan Laporan Pengelola Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara

i. Kunjungan Lapangan dan Seminar.

F. Deskripsi Singkat

Mata diklat ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang pelaporan kegiatan pengelola teknis pembangunan bangunan gedung negara, yang meliputi monitoring dan evaluasi, laporan, dan laporan penyelenggaraan pembangunan BGN melalui ceramah interaktif dan diskusi.

(15)

G. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran dijelaskan dalam bentuk hasil belajar dan indikator hasil belajar, sebagai berikut:

1. Hasil Belajar

Setelah selesai mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta diharapkan mampu melaksanakan penyusunan laporan pengelola teknis pembangunan bangunan gedung negara.

2. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu menjelaskan dan melaksanakan:

a. Monitoring dan Evaluasi b. Laporan

H. Materi dan Submateri Pokok

Materi dan submateri pokok dalam modul Penyusunan Laporan Pengelola Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara ini adalah sebagai berikut:

1. Monitoring dan Evaluasi a. Monitoring

b. Evaluasi

c. Kaitan Antara Monitoring dan Evaluasi 2. Laporan

a. Pengertian

b. Prinsip-Prinsip Penulisan Laporan d. Dasar-Dasar Membuat Laporan e. Maksud Pelaporan

f. Fungsi dan Sifat Pelaporan g. Laporan Berdasarkan Waktu h. Kerangka Pelaporan

3. Laporan Penyelenggaraan Pembangunan BGN a. Laporan Periodik

i. Laporan Insidentil

(16)

I. Estimasi Waktu

Waktu yang diperlukan dalam mata pelatihan ini adalah : 3 (tiga) JP.

(17)
(18)

BAB 3

MONITORING DAN EVALUASI

(19)

MONITORING DAN EVALUASI

A. Indikator Keberhasilan

Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi pengelolaan teknis pembangunan bangunan gedung negara.

J. Umum

1. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi merupakan komponen perencanaan yang sangat penting, sebagai alat (tools) yang mengontrol kinerja perencanaan. Suatu program ataupun proyek perencanaan pada dasarnya memiliki tujuan umum dan pengaturan aktivitas yang sangat kompleks. Hal tersebut yang seharusnya dilakukan monitoring dan evaluasi, sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal. Monitoring dan evaluasi mengekstraksi informasi yang relevan dari masa lalu, aktivitas yang sedang dilakukan saat ini yang dapat dijadikan basis data untuk program dan orientasi perencanaan dimasa yang akan datang. Monitoring merupakan suatu kegiatan yang dilakukan selama proses perencanaan tersebut dilakukan.

3. Mekanisme Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi

Dalam melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi, dengan memperhatikan aspek- aspek sebagai berikut :

a. Menentukan tujuan monitoring dan evaluasi b. Menyusun desain monitoring dan evaluasi

c. Menyusun tahapan pelaksanaan monitoring dan evaluasi, meliputi metode, sumber data, pembiayaan dll.

d. Menentukan pelaku monitoring dan evaluasi e. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi

f. Mendeseminasikan hasil monitoring dan evaluasi

g. Menggunakan hasil monitoring dan evaluasi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya.

1) Penyusunan Kerangka Logis Kegiatan

(20)

Sebelum dilaksanakannya kegiatan monitoring dan evaluasi, perlu disusun kerangka logis perencanaan kegiatan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi awal mengenai tujuan, sasaran, indikator, target dan rencana pembiayaan. Data ini akan digunakan sebagai basis data yang nantinya akan diperbandingkan dengan hasil pelaksanaan kegiatan. Adapun matrik kerangka logis kegiatan sebagimana terlampir.

2) Mekanisme Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi

Setelah diperoleh data awal mengenai perencanaan kegiatan yang akan dilakukan monitoring dan evaluasi, maka selanjutnya disusun perencanaan mekanisme monitoring dan evaluasi implementasi strategi sanitasi kabupaten. Mekanisme ini dibuat untuk menjadikan panduan dalam menentukan obyek pemantauan, penanggung jawab pelaksanaan kegiatan, waktu pelaksanaan dan pelaporan.

K. Monitoring

Monitoring merupakan suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan. Tindakan tersebut diperlukan seandainya hasil pengamatan menunjukkan adanya hal atau kondisi yang tidak sesuai dengan yang direncanakan semula (Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006).

1. Tujuan Monitoring untuk mengamati/mengetahui perkembangan dan kemajuan, identifikasi dan permasalahan serta antisipasinya/upaya pemecahannya.

a. Monitoring adalah proses rutin pengumpulan data dan pengukuran kemajuan atas objektif program/memantau perubahan, yang fokus pada proses dan keluaran.

1) Monitoring melibatkan perhitungan atas apa yang kita lakukan 2) Monitoring melibatkan pengamatan atas kualitas dan kuantitas serta

proses pelaksanaan pekerjaan.

b. Monitoring adalah aktifitas yang ditujukan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kegiatan yang sedang dilaksanakan.

c. Monitoring dilakukan ketika sebuah kegiatan sedang diimplementasikan.

(21)

d. Monitoring diperlukan agar kesalahan awal dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan perbaikan, sehingga mengurangi risiko yang lebih besar.

e. Melakukan tindakan modifikasi terhadap kegiatan apabila hasil monitoring mengharuskan untuk itu.

2. Data dan Informasi untuk monitoring:

a. Metode dokumentasi: dari berbagai laporan kegiatan seperti laporan tahunan / semesteran / bulanan.

b. Metode survei: tujuannya untuk menjaring data dari para Penyelengara pembangunan bangunan gedung negara.

Metode observasi lapangan: untuk mengamati data empiris di lapangan dan bertujuan untuk lebih meyakinkan dalam membuat penilaian tentang proses dari kegiatan pelaksanaan pembangunan. Dapat digunakan untuk melengkapi metode survei:

Metode wawancara: pedoman wawancara yang menanyakan berbagai aspek yang berhubungan dengan implementasi kegiatan perlu dipersiapkan.

Metode campuran: misalnya campuran antara metode dokumentasi dan survei, atau metode survei dan observasi, atau dengan menggunakan ketiga atau bahkan keempat metode di atas

Metode FGD: dengan melakukan pertemuan dan diskusi dengan para stakeholders yang bervariasi. Dengan cara demikian, maka berbagai informasi yang lebih valid akan dapat diperoleh melalui cross check data dan informasi dari berbagai sumber.

L. Evaluasi

Definisi Evaluasi menurut OECD, disebutkan bahwa Evaluasi merupakan proses menentukan nilai atau pentingnya suatu kegiatan, kebijakan, atau program.

Evaluasi merupakan sebuah penilaian yang seobyektif dan sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Hal-hal yang harus dievaluasi yaitu proyek, program, kebijakan, organisasi, sector, tematik, dan bantuan Negara.

Evaluasi adalah penggunaan metode penelitian secara sistematis menginvestigasi efektifitas program. Menilai kontribusi program terhadap perubahan

(22)

(Goal/objektif) dan menilai kebutuhan perbaikan, kelanjutan atau perluasan program (rekomendasi):

Evaluasi memerlukan desain studi/penelitian

Evaluasi terkadang membutuhkan kelompok kontorl atau kelompok pembanding

Evaluasi melibatkan pengukuran seiring dengan berjalannya waktu

Evaluasi melibatkan studi/penelitian khusus.

Evaluasi adalah penggunaan metode penelitian sosial untuk secara sistematis menginvestigasi efektifitas program, menilai kontribusi program terhadap perubahan (goal/objektif) dan menilai kebutuhan perbaikan, kelanjutan atau perluasan program (rekomendasi). Evaluasi memerlukan desain studi/penelitian, terkadang membutuhkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding, melibatkan pengukuran seiring dengan berjalannya waktu, dan melibatkan studi/penelitian khusus.

Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu.

Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi merupakan merupakan kegiatan yang menilai hasil yang diperoleh selama kegiatan pemantauan berlangsung. Lebih dari itu, evaluasi juga menilai hasil atau produk yang telah dihasilkan dari suatu rangkaian program sebagai dasar mengambil keputusan tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai dan tindakan selanjutnya yang diperlukan.

Evaluasi bertujuan untuk melihat tingkat keberhasilan pengelolaan kegiatan, melalui kajian terhadap manajemen dan output pelaksanaannya serta permasalahan yang dihadapi, untuk selanjutnya menjadi bahan evaluasi kinerja program dan kegiatan selanjutnya. Bentuk evaluasi berupa pengkajian terhadap manajemen dan output pelaksanaannya serta permasalahan yang dihadapi.

Maksud Evaluasi:

 Memberikan kesimpulan dalam bentuk umpan balik sehingga dapat terus mengarahkan pencapain visi/misi/sasaran yang telah ditetapkan;

 Evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara yang terjadi dengan yang

(23)

 Arah evaluasi bukan pada apakah informasi yang disediakan benar atau salah, tetapi lebih diarahkan pada perbaikan yang diperlukan atas implementasi kebijakan/program/kegiatan.

Tujuan Evaluasi

 Menentukan tingkat kinerja suatu kegiatan: melalui evaluasi maka dapat diketahui derajat pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan.

 Mengukur tingkat efisiensi suatu kegiatan: melalui evaluasi dapat diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kegiatan.

 Mengukur tingkat keluaran: mengukur berapa besar dan kualitas pengeluaran atau output dari suatu kegiatan.

 Mengukur dampak suatu kebijakan: evaluasi ditujukan untuk melihat dampak dari suatu kegiatan, baik dampak positif maupun negatif.

 Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan: untuk mengetahui adanya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dengan cara membandingkan antara tujuan dan sasaran dengan pencapaian target.

 Sebagai masukan (input) suatu kegiatan yang akan datang: untuk memberikan masukan bagi proses kegiatan ke depan agar dihasilkan kegiatan yang lebih baik.

M. Kaitan Antara Monitoring dan Evaluasi.

Evaluasi memerlukan hasil dari monitoring dan digunakan untuk kontribusi program. Monitoring bersifat spesifik program. Sedangkan Evaluasi tidak hanya dipengaruhi oleh program itu sendiri, melainkan varibel-varibel dari luar. Tujuan dari evaluasi adalah evalausi efektifitas dan cost effectiveness.

Kegunaan evaluasi, adalah untuk:

1. Memberikan informasi yang valid tentang kinerja kebijakan, program dan kegiatan yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai

2. Memberikan sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yg mendasari pemilihan tujuan dan target

3. Melihat peluang adanya alternatif kebijakan, program, kegiatan yang lebih tepat, layak, efektif, efisien

4. Memberikan umpan balik terhadap kebijakan, program dan proyek

(24)

5. Menjadikan kebijakan, program dan proyek mampu mempertanggung jawabkan penggunaan dana publik

6. Mambantu pemangku kepentingan belajar lebih banyak mengenai kebijakan, program dan proyek

7. Dilaksanakan berdasarkan kebutuhan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi

8. Negosiasi antara evaluator dan pengguna utama yang dituju oleh evaluasi

Evaluasi memberikan informasi mengenai:

1. Benar atau tidaknya strategi yang diapakai 2. Ketepatan cara operasi yang dipilih

3. Pemilihan cara pembelajaran yang lebih baik

4. Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. Pemantauan bertujuan untuk mengamati/mengetahui perkembangan kemajuan, identifikasi dan permasalahan serta antisipasi/upaya pemecahannya. Sedangkan maksudnya, adalah:

a. Mendapatkan informasi perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan secara kontinyu (terus menerus) mengenai pencapaian indikator kinerja dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan;

b. Melakukan identifikasi masalah agar tindakan korektif dapat dilakukan sedini mungkin; dan

c. Mendukung upaya penyempurnaan perencanaan berikutnya melalui hasil pemantauan.

5. Pelaksana: masing-masing pengelola kegiatan/satker di daerah serta komponen pembina/penanggunjawab kegiatan pusat, yang hasilnya menjadi input bagi perumusan kebijakan selanjutnya.

6. Lingkup: aspek perencanaan, penyaluran/pencairan dana, pelaksanaan, dan pelaporan.

7. Bentuk: rapat berkala, pelaporan, dan kunjungan lapangan

(25)

9. Daerah: Gubernur dan Ka.SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan Dekon dan TP; Bupati/Walikota dan Ka. SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan TP, sesuai degan tugas dan kewenangannya.

10. Komponen pemantuan meliputi: (1) perkembangan realisasi penyerapan dana, (2) realisasi pencapaian target keluaran (output), dan (3) kendala yang dihadapi &

tinjut.

11. Bentuk produk (akhir) laporan triwulan.

N. Rangkuman

Monitoring merupakan suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan.

Evaluasi merupakan sebuah penilaian yang seobyektif dan sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Hal-hal yang harus dievaluasi yaitu proyek, program, kebijakan, organisasi, sector, tematik, dan bantuan Negara.

Evaluasi memerlukan hasil dari monitoring dan digunakan untuk kontribusi program. Monitoring bersifat spesifik program. Sedangkan Evaluasi tidak hanya dipengaruhi oleh program itu sendiri, melainkan varibel-varibel dari luar. Tujuan dari evaluasi adalah evalausi efektifitas dan cost effectiveness.

(26)

BAB 4

LAPORAN

(27)

LAPORAN

A. Indikator Keberhasilan

Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu menyusun laporan pengelolaan teknis pembangunan bangunan gedung negara.

O. Umum

Pada bab ini akan dibahas mengenai prinsip pelaporan, dasar pelaporan, metode pelaporan, fungsi pelaporan, jenis laporan, dan kerangka laporan.

P. Pengertian

Menurut wikipedia Laporan adalah suatu bentuk penyampaian berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik secara lisan maupun secara tertulis dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang dan tanggung jawab yang ada antara mereka. Salah satu cara pelaksanaan komunikasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lainnya. Laporan adalah setiap tulisan yang berisikan hasil pengolahan data dan informasi (Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo).

Sedangkan menurut J.C. Denyern, Laporan adalah suatu alat komunikasi tempat penulis membuat beberapa kesimpulan atau keadaan yang telah diselidiki.

Pengertian laporan menurut F X Soedjadi mendefinisikan sebagai berikut: Laporan adalah suatu bentuk penyampaian berita,keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik secara lisan maupun tulisan dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang (authority) dan tanggung jawab (responsibility) yang ada antara mereka. Laporan adalah salah satu cara pelaksanaan komunikasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lainnya. Seputar pengertian laporan adalah suatu bentuk penyampaian informasi, data, atau berita baik secara lisan maupun tertulis. Di dalam laporan terdapat kegiatan pencatatan, pengumpulan, pemeriksaan, pengetikan dan pengolahan data.

Secara umum laporan dapat diartikan sebagai bentuk penyampaian berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik secara lisan maupun secara tertulis dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang dan tanggung jawab yang ada diantara mereka dan salah satu cara pelaksanaan komunikasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lainnya.

(28)

Q. Prinsip - Prinsip Penulisan laporan

Laporan pada dasarnya adalah alat komunikasi juga. Supaya dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif, sebuah laporan harus memenuhi syarat-syarat berikut ini.

1. Lengkap

Artinya data dan fakta yang ada dalam laporan harus lengkap 2. Jelas

Sebuah laporan disebut jelas bila uraian dalam laporan tidak memberi peluang ditafsirkan secara berbeda oleh pembaca yang berbeda. Ini dapat dicapai bila bahasa yang digunakan benar dan komunikatif

3. Benar / akurat

Data dan fakta yang salah dapat menuntun pembaca membuat suatu keputusan yang salah. Jadi kebenaran dan keakuratan isi laporan sangat diperlukan.

4. Sistematis

Laporan harus diorganisasikan sedemikian rupa, dengan system pengkodean yang teratur, sehingga mudah dibaca dan diikuti oleh pembaca. Laporan yang sistematis juga menunjang unsur kejelasan yang sudah diciptakan oleh unsur - unsur bahasa.

5. Objektif

Penulis laporan tidak boleh memasukkan selera pribadi ke dalam laporannya. Pelapor harus bersikap netral dan memakai ukuran umum dalam minilai sesuatu.

6. Tepat waktu

Ketepatan waktu mutlak diperlukan, karena keterlambatan laporan bisa mengakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan.

R. Dasar-Dasar Membuat Laporan

1. Jelas

Kejelasan suatu laporan diperlukan baik kejelasan dalam pemakaian bahasa, istilah, maupun kata-kata harus yang mudah dicerna, dipahami dan dimengerti bagi si pembaca. Kejelasan suatu laporan tersebut tentu saja didukung oleh penguasaan materi laporan dari si pemberi laporan sehingga dengan adanya jaminan bahwa si pembuat laporan menguasai materinya

(29)

merupakan jaminan kejelasan suatu laporan disamping hal-hal tersebut diatas.

2. Sasaran Permasalahan

Caranya dengan jalan menghindarkan pemakaian kata-kata yang membingungkan atau tidak muluk-muluk, demikian juga dalam hal penyusunan kata-kata maupun kalimat harus yang jelas, singkat jangan sampai melantur kemana-mana dan bertele-tele yang membuat si pembaca laporan semakin bingung dan tidak mengerti.

3. Lengkap

Kelengkapan tersebut menyangkut : Permasalahan yang dibahas harus sudah terselesaikan semua sehingga tidak menimbulkan tanda tanya. Dan pembahasan urutan permasalahan harus sesuai dengan prioritas penting tidaknya permasalahan diselesaikan atau dengan kata lain masalah yang sangat penting diutamakan pembahasannya baru masalah-masalah yang timbul dalam pembahasan sampingan seyogyanya juga dibahas. Sehingga laporan menjadi lengkap dan mantap karena sudah mencakup segala segi yang didukung dengan data-data statistik yang jelas dan lengkap.

4. Tepat waktu dan cermat

Tepat waktu sangat diperlukan dalam penyampaian laporan kepada pihak- pihak yang membutuhkan karena pihak yang membutuhkan laporan untuk menghadapi masalah-masalah yang bersifat mendadak membutuhkan pembuatan laporan yang bisa diusahakan secepat-cepatnya dibuat dan disampaikan.

5. Tetap

Laporan yang didukung data-data yang bersifat tetap dalam arti selalu akurat dan tidak berubah-ubah sesuai dengan perubahan waktu dan keadaan akan membuat suatu laporan lebih dapat dipercaya dan diterima.

Keterangan-keterangan dalam menyampaikan laporan tidak boleh saling bertentangan satu sama lain.

6. Objektif dan Faktual

Pembuatan laporan harus berdasarkan fakta-fakta yang bisa dibuktikan kebenarannya maupun dibuat secara objektif.

7. Harus ada proses timbal balik. Laporan yang baik harus bisa dipahami dan dimengerti sehingga menimbulkan gairah dan minat si pembaca dan jika si pembaca memberikan respon berarti menunjukkan adanya proses timbal

(30)

balik yang bisa memanfaatkan secara pemberi laporan maupun si pembaca laporan.

S. Maksud Pelaporan

1. Laporan informatif, yaitu laporan yang dimaksudkan untuk memberi informasi dan bukan dimaksudkan untuk memberi analisis atau rekomendasi. Titik pentingnya adalah pemberian informasi yang akurat dan terinci.

2. Laporan rekomendasi, yaitu laporan yang di samping memberikan informasi juga menyertakan pendapat si pelapor, dengan maksud memberikan rekomendsasi (usul yang tidak mengikat). Meski demikian akurasi dan rincian informasi tetap diperlukan supaya rekomendasi yang diberikan juga meyakinkan.

3. Laporan analitis, yaitu laporan yang memuat sumbangan pikiran si pelapor, bisa berupa pendapat atau saran, setelah melalui analitis yang matang dan mendalam. Kebanyakan laporan akademis berada pada kategori ini.

4. Laporan Pertanggungjawaban, yaitu dimana si pelapor memberi gambaran tentang pekerjaan yang sedang dilaksanakan (Progress report) atau sudah dilaksanakan (bersifat evaluatif)

5. Laporan Kelayakan (feasibility report), yaitu pelapor menganalisis suatu situasi atau masalah secara mendalam untuk menuju penilaian yang bersifat pilihan: layak atau tidak. Berbagai alternatif dinanalisis, kemudian ditentukan mana yang lebih baik.

T. Metode Pelaporan

Metode pelaporan dilakukan berkala dan berjenjang, maksudnya sebagai berikut:

1. Pelaporan dilaksanakan secara berkala yaitu dilakukan setiap bulan (bulanan), 3 bulan (triwulanan), dan 6 bulanan (semesteran) atau tahunan.

2. Pelaporan dilakukan secara berjenjang, maksudnya penyampaian pelaporan dari unit kerja paling bawah sampai pucuk pimpinan organisasi;

dari penanggungjawab kegiatan kepada penanggungjawab program, dan dari penanggungjawab program kepada pimpinan Kementerian / Lembaga;

atau dari suatu tingkat pemerintahan kepada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi, hingga ke pusat.

(31)

U. Fungsi dan Sifat Laporan

Penyampaian laporan biasanya dilakukan oleh seorang bawahan kepada atasan, dalam hal ini adalah atasan yang memberikan tugas / perintah atau yang mempunyai fungsi kontrol dan pengawasan atas dirinya atau atas kegiatan yang dilaporkan. Laporan juga bisa bersifat koordinatif (komunikasi horizontal) bila ditulis oleh petugas dengan posisi sejajar dengan pembacanaya. Atas dasar itu pelaporan mengandung empat fungsi:

1. Fungsi Informatif, laporan bisa digunakan sebagai sumber informasi bagi pembacanya

2. Fungsi Pertanggung jawaban, laporan merupakan suatu bentuk pertanggung jawaban penulis terhadap pembaca laporan / atasannya, atau tugas yang harus dan telah dilaksanakannya.

3. Fungsi Pengawasan, dengan membaca laporan, seorang atasan bisa mengawasi bawahan serta tugas yang dilakukan bawahan tanpa harus melihat langsung.

4. Fungsi Pengambilan Keputusan, laporan dari bawahan dapat digunakan oleh atasan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Juga berlaku untuk laporan koordinatif. Seorang Kepala Bagian atau Manajer dapat menggunakan laporan Manajer lain untuk membuat keputusan di bagiannya sendiri.

Sifat laporan adalah : Laporan biasa adalah laporan yang isinya bersifat biasa dan tidak rahasia, sehingga jika laporan terbaca orang lain tidak menimbulkan dampak negatif dan Laporan penting adalah laporan yang isinya bersifat penting dan rahasia, sehingga hanya orang tertentu saja yang boleh mengetahuinya.

V. Laporan Berdasarkan Waktu

1. Laporan berkala adalah laporan yang dibuat secara periodik atau rutin dalam jangka waktu tertentu (laporan harian, mingguan, bulanan, atau tahunan). Contoh : laporan kehadiran karyawan setiap bulan.

2. Laporan insidental adalah laporan yang dibuat apabila diperlukan

3. Laporan teknis adalah laporan tentang hal teknis penyelenggaraan kegiatan suatu badan atau instansi. Laporan teknis mengandung data obyektif tentang sesuatu data obyektif dalam laporan teknis itu juga mengandung sifat ilmiah, tetapi segi kepraktisannya lebih menonjol, sehingga yang dimaksud dengan laporan teknis adalah suatu pemberitahuan tentang

(32)

tanggung jawab yang dipercayakan, dari si pelapor (perseorangan, tim, badan, atau instansi) kepada si penerima laporan tentang teknis penyelenggaraan suatu kegiatan (E.Zaenal Arifin,1993). Menurut Muljanto Sumardi (1982) dalam laporan teknik manusia menggunakan bahasa tulis untuk mengkomunikasikan gagasan, paham, serta hasil pemikiran dan penelitian.

W. Kerangka laporan

1. Pendahuluan

a. Maksud dan tujuan penulisan laporan b. Masalah pokok yang dilaporkan c. Sistematika laporan

2. Batang tubuh

a. Data dan fakta pelaksanaan kegiatan

b. Kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan c. Masalah yang terjadi

d. Pembahasan masalah 3. Penutup

a. Kesimpulan, dan b. Saran

X. Latihan

1. Buatlah laporan bulanan sesuai dengan format (F1) lampiran.

Y. Rangkuman

Secara umum laporan dapat diartikan sebagai bentuk penyampaian berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik secara lisan maupun secara tertulis dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang dan tanggung jawab yang ada diantara mereka dan salah satu cara pelaksanaan komunikasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lainnya.

(33)

kelayakan (feasibility report). Kemudian laporan menurut waktu dibedakan menjadi laporan berkala, laporan insidental, dan laporan teknis

(34)

BAB 5

LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN

BANGUNAN GEDUNG NEGARA

(35)

LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

A. Indikator Keberhasilan

Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu menyusun laporan penyelenggaraan pembangunan BGN.

Z. Umum

Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasannya (UU N0.28 Tahun 2002 Pasal 35 Tentang Bangunan Gedung). Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui tahapan perencanaan teknis dan pelaksanaan beserta pengawasannya (PP N0. 36 Tahun 2005 Psl.62 tentang.Peraturan pelaksanaan UU 28 Tahun 2002) serta di dalam Perpres no.73 tahun 2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara dinyatakan bahwa Tahapan pembangunan bangunan gedung negara meliputi : a.

Kegiatan persiapan; b. Perencanaan teknis; c. Pelaksanaan konstruksi; d.

Pengawasan teknis ; dan e. Kegiatan pasca konstruksi.

Laporan pengelola teknis pada umumnya dilakukan secara periodik seperti laporan bulanan, laporan triwulan, semesteran dan tahunan serta laporan insidentil atau sesaat untuk keperluan atasan langsung.

AA.Laporan Periodik

Substansi laporan dapat dibagi atas 5 (lima) tahapan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung negara:

1. Tahap Persiapan (Pra DIPA) pembangunan bangunan gedung negara meliputi : penyusunan rencana kebutuhan, penyusunan rencana pendanaan dan penyusunan rencana penyediaan dana.

2. Tahap Persiapan (Pasca DIPA) pembangunan bangunan gedung negara meliputi : pembentukan organisasi pengelola kegiatan dan panitia pengadaan barang / jasa; penysunan jadwal kegiatan, KAK; pengadaan penyedia jasa manjajemen konstruksi / pengawas dan perencana.

3. Tahap penyusunan rencana teknis sesuai KAK; Dokumen Rencana Teknis bangunan gedung negara : gambar rencana teknis (arsitektur, struktur,

(36)

mekanikal dan elektrikal serta tata lingkungan), RKS, RAB, BQ. Untuk pekerjaan pembangunan dengan luas 12.000 m2 atau diatas 8 lantai, diwajibkan pada tahap pra-rencana menyelenggarakan lokakarya selama 40 jam secara in-house. Serta laporan akhir perencanaan.

Pelaksanaan perencanaan teknik bangunan gedung negara pentahapannya adalah sbb :

Tabel 1 Pentahapan Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Negara

No Tahap Bobot

Prestasi (%)

Keterangan

1. Konsep Rancangan 10 TOR Dan Proposal

Perencanaan

2. Pra Rancangan 20 Aktualisasi Ide Rencana

3. Pengembangan Rancangan 25

4. Rancangan detail, spesifikasi teknik, serta RAB

25

5, Pelelangan Konst.Fisik 5

6. Pengawasan Berkala 15 Selama Konst.Fisik (ST1) Produk Perencanan meliputi :

Penyusunan pengembangan rencana, seperti membuat : rencana arsitektur, beserta uraian konsep dan visualisasi dwi dan trimatra bila diperlukan; rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;

rencana mekanikal-elektrikal termasuk IT, beserta uraian konsep dan perhitungannya; membuat gambar-gambar detail, termasuk Penyusunan Spesifikasi Teknik Bangunan Gedung Negara, Perhitungan Rencana Anggaran Bangunan (RAB) untuk Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung Negara dan Perumusan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) untuk pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pelaksana Konstruksi.

4. Pelaksanaan Konstruksi, Tahap Pelaksanaan Konstruksi bangunan gedung negara sudah termasuk tahap pemeliharaan. Pelaksanaan Konstruksi dilakukan berdasarkan dokumen kontrak. Pelaksanaan Konstruksi dilakukan sesuai dengan kualitas masukan seperti bahan,tenaga dan alat, kualitas proses (tatacara pelaksanaan pekerjaan, dan kualitas hasil pekerjaan seperti yang tercantum dalam RKS). Pelaksanaan Konstruksi harus sesuai dengan ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja. Pelaksanaan Konstruksi harus mendapatkan pengawasan dari penyedia jasa pengawasan konstruksi atau manajemen konstruksi. Pemeliharaan konstruksi, uji coba dan pemeriksaan atas hasil pelaksanaan konstruksi fisik

(37)

pada tahap ini : Bangunan gedung negara yang sesuai dengan dokumen kontrak dan dokumen hasil pelaksanaan konstruksi.

Prestasi Pelaksanaan Manajemen Konstruksi

Tabel 2 Prestasi Pelaksanaan Manajelen Konstruksi

No TAHAP Bobot Prestasi

( % )

Keterangan 1. Tahap persiapan / pengadaan

konsultan Perencana

5 TOR Perencanaan

2. Tahap review rencana teknis sampai dengan serah terima

dokumen perencanaan

10

Kinerja MK Tahap Perencanaan 3. Tahap pelelangan pemborong

5

Membantu ULP K/L 4. Tahap konstruksi fisik yang

dibayarkan berdasarkan prestasi pekerjaan konstruksi fisik di lapangan s.d. serah terima kedua

pekerjaan

80 Kinerja Mk Pada

Tahap KOnstruksi

5. Pasca Konstruksi, kegiatan persiapan untuk mendapatkan status barang milik negara dari pengelola barang, sertifikat laik fungsi (SLF) dan pendaftaran sebagai bangunan gedung Negara dan Pendaftaran sebagai gedung negara yang dibangun oleh kementerian / lembaga dilakukan dengan melaporkan bangunan gedung negara yang telah selesai dibangun kepada Menteri dan oleh SKPD kepada Gubernur/ Bupati/ Walikota

Mekanisme pelaporan yang wajib dilaporkan setiap bulan oleh Pengelola Teknis:

Gambar 1 Mekanisme Pelaporan

Pengelola Teknis membuat laporan monitoring form F1

Form F1 disampaikan kepada koordinator

Koordinator melaporkan kepada

menteri PU melalui Dit BPB - DJCK

(38)

Gambar 2 Tahapan Proses Pelaporan

(39)

Contoh Format Laporan Bulanan Pengelola Teknis :

(40)

BB.

(41)

Laporan ini tidak disampaikan secara rutin, hanya sekali- sekali saja dalam rangka suatu kegiatan yang tidak terjadwal tetap missal laporan ringkas atas permintaan pimpinan (Executive report). Laporan berbentuk surat, yaitu laporan yang dibuat dalam bentuk surat biasa, isinya kira-kira satu sampai tiga s/d 5 halaman dengan prinsip laporan ini dapat memberikan gambaran secara menyeluruh dan terkini.

Kerangka Laporan:

1. Pendahuluan, berisi data umum, maksud dan tujuan penulisan laporan, masalah pokok yang dilaporkan dan sistematika laporan

2. Batang tubuh, data dan fakta pelaksanaan kegiatan (disertai photo), kemajuan pekerjaan (progress mengalami percepatan atau keterlambatan), kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan, masalah yang terjadi, pembahasan masalah 3. Penutup, Kesimpulan dan Saran.

CC. Rangkuman

Laporan pengelola teknis pada umumnya dilakukan secara periodik seperti laporan bulanan, laporan triwulan, semesteran dan tahunan serta laporan insidentil atau sesaat untuk keperluan atasan langsung.

(42)
(43)

BAB 5

PENUTUP

(44)

PENUTUP

1. Monitoring adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi serta mangantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin 2. Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input),

keluaran (output) dengan hasil (outcome) terhadap rencana standar.

3. Monitoring dan evaluasi merupakan alat (tools) yang mengontrol kinerja perencanaan.

4. Prinsip penulisan laporan yaitu lengkap, jelas, benar, akurat, sistematis, objektif, dan tepat waktu.

5. Laporan berdasarkan waktu dibagi atas 2 (dua) yaitu laporan periodik (bulanan) dan laporan insidentil (sesaat).

6. Laporan insidentil (sesaat) misalnya laporan ringkas atas permintaan pimpinan (executive report) berbentuk surat yang kerangka laporannya antara lain:

a. Pendahuluan b. Batang tubuh

c. Kesimpulan dan saran

(45)

DAFTAR PUSTAKA

1. UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung.

2. UU N0. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

3. UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya

4. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung.

5. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang 6. Permen PU No.6 Tahun 2007 Tentang Pedoman Umum RTBL

(46)
(47)

GLOSARIUM

Laporan Teknis Laporan tentang hal teknis penyelenggaraan kegiatan suatu badan atau instansi.

Laporan Periodik Laporan yang dibuat secara periodik atau rutin dalam jangka waktu tertentu (laporan harian, mingguan, bulanan, atau tahunan).

Laporan Insidentil Laporan yang dibuat apabila diperlukan Monitoring Suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan.

Evaluasi Penilaian yang seobyektif dan

sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Hal-hal yang harus dievaluasi yaitu proyek, program, kebijakan, organisasi, sector, tematik, dan bantuan Negara.

(48)

LAMPIRAN

(49)

LAMPIRAN 1 LAPORAN MONITORING

(50)
(51)

LAMPIRAN 2 PROSEDUR OPERASI STANDAR TENAGA PENGELOLA TEKNIS

(52)

LAMPIRAN 3 PROSEDUR OPERASI STANDAR MANAJEMEN KONSTRUKSI

(53)

LAMPIRAN 4 PROSEDUR OPERASI STANDAR KONSULTAN PENGAWAS LAMPIRAN 5 PROSEDUR OPERASI STANDAR SUSUNAN TIMPELAKSANA KOORDINASI BANTUAN TENAGA TEKNIS DAN PENGELOLA TEKNIS

(54)

LAMPIRAN 6 RENCANA PENYERAPAN BIAYA OPERASIONAL KEGIATAN PENGELOLAAN TEKNIS

(55)

LAMPIRAN 7 RINCIAN PENGGUNAAN BIAYA OPERASIONAL UNSUR PENGELOLA TEKNIS

(56)

LAMPIRAN 8 RISALAH RAPAT LAPANGAN/KOORDINASI (TEKNIS)

(57)

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Tim Penyempurna Ir. Antonius Budiono

Ir. Sumirat, MM Ir. Ismono Yahmono, MA Ir. Natsir Gunansyah, MM Ir. Normansyah Machmud, MM

(58)
(59)

Edisi 2016

Referensi

Dokumen terkait

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Yang dimaksud dengan Rencana Anggaran Biaya (Begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah,

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau

Laporan ini dibuat berdasarkan keadaan yang telah terjadi dan telah disusun secara seksama oleh Tim Analisis APINDO meskipun demikian APINDO tidak menjamin keakuratan atau