• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Repository UM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Repository UM"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

Syakur, M.Ag yang telah memberikan pengantar bukunya yang diterbitkan dengan judul “Tarekat dan Gerakan Sosial Keagamaan, Dinamika Ordo Shiddiqiyyah di Indonesia”. Mursyid tarekat ini tetap meyakini bahwa tarekat Shiddiqiyyah adalah tarekat mu'tabarah, karena tidak ada yang kurang dalam garis keturunan isnad tarekat tersebut.

Pengantar Editor…

Ketiga, peristiwa buku ini sebenarnya sudah berakhir pada tahun 2006, sehingga berbagai hal terkini (hingga buku ini diterbitkan) terkait perkembangan tarekat ini tidak diberitakan. Hal lain yang tidak diberitakan dalam buku ini antara lain berdirinya Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) pada tahun 2010.

DAFTAR ISI

DINAMIKA DAN POLA GERAKAN SOSIAL- KETAREKATAN | 11

IDEOLOGI DAN DOKTRIN DALAM TAREKAT SHIDDIQIYYAH | 99

TAREKAT SHIDDIQIYYAH DI TENGAH

TAREKAT DAN STRATEGI MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI | 167

STRATEGI PENGEMBANGAN LEMBAGA KETAREKATAN | 183

STRATEGI GERAKAN SURVIVAL TAREKAT SHIDDIQIYYAH | 215

TQN: Kadiriyah ue Naqsyabandiyyah Urdhri THGB: Tarbiyatul Hifdzil Ghulam wal Banat YPS: Fondacioni i Arsimit Shiddiqiyyah.

Manuskrip Pertama -

SUFISME

DAN DINAMIKA PELEMBAGAAN

Pelembagaan Sufisme dalam Sejarah Islam

Tarekat Qadiriyyah wa Naksyabandiyah (selanjutnya disebut: TQN) yang jika dicermati mengandung unsur tarekat Qadiriyyah dan Nakshabandiyah.

Sejarah Masuknya Tarekat di Idonesia

Dalam perjalanannya selanjutnya, tarekat-tarekat ini berkembang melintasi batas-batas bangsa dan negara, dan juga mengembangkan fungsinya, misalnya: menjadi media dakwah Islam di seluruh pelosok dunia; menjadi sarana politik untuk mengumpulkan kekuatan massa untuk melawan rezim atau penguasa yang tidak adil, seperti yang dimainkan oleh tatanan Ti>ja>niyyah di Tunisia dan lainnya. Di Jombang, TQN nampaknya menjadi tarekat dominan yang mewarnai model keagamaan masyarakat, misalnya berupa tradisi Tahlilan, Wiridan, Istighasa, Manaqiban, Yasinan, Diba'iahan, Barzanjiyyah, Khataman Al-Qur'a>n , dan lain-lain. , sehingga seolah-olah umat Islam tradisional Jombang telah menjadi pengikut tarekat tersebut. Padahal, selain tarekat-tarekat di atas, masih banyak lagi tarekat-tarekat yang pada akhirnya punah karena ketidakmampuan generasi berikutnya untuk mengelola, merawat dan mengembangkannya, seperti tarekat yang diatribusikan kepada ibn Sab’ Berdasarkan hal tersebut. Faktanya, dapat dipahami bahwa lembaga-lembaga tersebut dapat bertahan dan berkembang karena memiliki instrumen kelembagaan yang kuat dan dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

Adanya komunitas yang mapan, serta ketidakmampuan tarekat beradaptasi dan juga menarik minat masyarakat menjadi basis massanya, sehingga pada akhirnya kehilangan pengikut dan praktisinya. Usul demikian tampaknya logis karena tarekat merupakan tarekat sufi yang tidak lepas dari persoalan organisasi. Sebaliknya, organisasi sosial akan hilang dan musnah jika tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial budaya sekitarnya serta tidak mampu menyusun strategi dan strategi untuk bersaing melawan dominasi kelompok lain.

Bertahan dan Bergerak Dinamis

Namun karena penggunaan strategi bertahan hidup tertentu, 6 jemaat tersebut tetap eksis dan bertahan. Dua alasan inilah yang mendorong penulis untuk mengkajinya secara mendalam, sehingga penulis dapat lebih mendalami sejarah dan dinamika perkembangan tarekat yang seharusnya diketahui oleh masyarakat.

Tarekat dalam Dimensi Akademik

Dan dalam kajian ini, nampaknya aspek-aspek perjuangan tarekat Shiddiqiyyah untuk mempertahankan diri belum dibahas. Oleh karena itu, pembahasan buku ini secara khusus untuk mengelaborasi lebih intens perjuangan tarekat Shiddiqiyyah sebagai upaya melengkapi ruang kajian yang tersisa dari kajian-kajian sebelumnya. Dengan demikian, pembahasan buku ini berisi penjabaran mendalam tentang pola dan strategi menjaga tatanan Shiddiqiyyah dalam struktur Golkar.

Secara singkat dapat kita kemukakan bahwa kajian-kajian para ahli tarekat Shiddiqiyyah di atas nampaknya masih terbatas pada variabel-variabel tertentu dan belum menggambarkan prosesnya secara utuh. Memang ada beberapa alasan yang menyebabkan kurangnya minat para ulama dalam mengkaji tarekat Shiddiqiyyah. Jelas bahwa fenomena tarekat Shiddiqiyyah seperti di atas masih menarik untuk dicermati karena banyak mengandung ilmu yang penting bagi kehidupan beragama.

Manuskrip Kedua -

SEJARAH DAN POLA

GERAKAN SOSIAL KETAREKATAN

Tarekat sebagai Organisasi Sufi ( Sufi Order )

Perkembangan Struktural KelembagaanTarekat

Peran dan Aksi-aksi Sosial Tarekat

Peran Pendidikan dan Dakwah Islam

42 Di Suryalaya, Jawa Barat, Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dapat berperan sebagai sarana psikoterapi dan rehabilitasi anak korban narkoba, dengan metode zikir tarekat-sufistik, untuk mengembalikan korban menjadi manusia yang berakhlak baik. Contoh di luar nusantara antara lain: gerakan Tijaniyyah Merah di Turki, yang menentang program sekularisasi Kemalis; Tarekat Qadiriyyah di Nigeria Utara, dipimpin oleh Syekh Usman Fobio (w. 1817 M), yang berhasil melawan dan menumbangkan rezim Habe karena dianggap gagal dalam menjalankan pemerintahan Islam yang banyak menindas, tidak adil dan menyebarkan korupsi, 46 dan banyak lagi. Gerakan Tarekat Naqsyabandiyyah yang dipimpin Syekh Waliyullah melawan kekuasaan Inggris di India; Tarekat tarekat Sanusiyyah di Libya, yang berjuang untuk mengusir ekspansi Prancis dan Italia, serta mempertahankan tanah air Muslim;47 dan lainnya terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu di sini.

Gerakan ini berawal dari ketidakpuasan kaum tani terhadap beban pajak yang sangat berat dari pemerintah Belanda kemudian menguat karena adanya suntikan sentimen keagamaan di bawah naungan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah yang pada puncaknya mampu menyulut semangat rakyat. semangat untuk melawan penjajah. Kasus ini terjadi tepatnya pada tanggal 9 Juli 1888 M.48; gerakan Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Blitar; Pemberontakan 20 anggota tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Bogor, Garut. Termasuk gerakan tarekat yang jasanya melawan Belanda tidak mudah dilupakan adalah tarekat Khalwatiyyah Banten.

Strategi dan Perjuangan Tarekat-Tarekat

Dan dalam konteks sejarah perkembangan tarekat, banyak tarekat yang sudah tidak ada lagi di era sekarang ini, antara lain tarekat ibn Sab'i>n, tarekat Bust}a>miyyah54 dan lain-lain. Tarekat-tarekat yang meninggal itu dimungkinkan karena mereka tidak lagi mendapat tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan dengan mereka, mungkin karena ide-ide sufi mereka tidak lagi diterima oleh masyarakat, dengan cara mereka tidak dapat beradaptasi dengan tuntutan lingkungannya. Tarekat yang bubar secara institusional tetapi secara ideologis-sufistik masih hidup akan berpotensi muncul kembali dalam bentuk tarekat revivalis.

Kucing tarek revivalis ini telah lazim dalam sejarah kucing tarek dalam dua bentuk: Pertama, revivalis formal, yaitu kucing tarek yang muncul sebagai representasi dari kucing tarek purba yang telah menghilang. Kedua, revivalis substansial, yaitu kucing tarek yang muncul dengan nama baru, tetapi secara genealogis terkait dengan kucing tarek utama tertentu karena. 55 Berkaitan dengan hal tersebut, tarekat Shiddiqiyyah yang disebutkan dalam Tanwi>r al Qulu>b dapat dikategorikan sebagai kotamadya yang sudah tidak ada lagi, namun menurut pengakuan Muchtar Mu'thi, kotamadya tersebut masih ada yaitu sebagai pusat di Losari, Ploso , Jombam .

Gerakan Kultural: Menembus Akar-akar Budaya

Tarekat ini merupakan salah satu cabang dari Qadiriyet yang pada umumnya memilih strategi menyesuaikan diri dengan kehidupan modern. Tarekat ini unik karena di satu sisi memiliki orientasi konservatif karena didominasi oleh ideologi Morbutik yang mempertahankan posisi pemimpinnya sebagai guru suci yang harus dipatuhi secara ketat. Betapa tidak, jemaah ini mampu beradaptasi dengan perubahan situasi, yakni menghadapi represi Perancis, merespon secara adaptif gerakan nasionalis Senegal dan beradaptasi dengan modernisasi ekonomi Senegal.

Tarekat ini muncul pada awal-pertengahan abad ke-19 M, yang didirikan oleh Muhammad bin Ali sebagai Sanusi. Tarekat ini memulai gerakannya dengan membangun za>wiyyah dan akhirnya mampu mengembangkan identitasnya karena berhasil membangun tradisi intelektual yang tinggi dan mampu memaknai Islam dengan corak yang lebih dinamis. Jemaat ini mandiri secara finansial, sehingga dapat membiayai kebutuhan dan biaya kegiatan serta pergerakan jemaah.

Komodifikasi Aliran Tarekat

Apalagi hal ini didukung secara politis oleh raja/sultan yang telah menerima dan mengamalkan ajaran tarekat sufi, sehingga dapat dipahami bahwa panteisme wih}dat. Banyak dari para ahli hukum, teolog dan tarekat sufi yang tinggal di Aceh juga ingin mengembangkan (baca: mendakwahkan) Islam sesuai dengan ideologi sufi yang mereka yakini. Kedudukan Fansuri dalam perkembangan teosofi panteistiknya dianggap oleh tokoh-tokoh Sunni angkuh, terutama diwakili oleh para ahli hukum sehingga menimbulkan ketidakpuasan dan kegelisahan dari mereka karena menganggap ajaran tarekat Fansuri menyimpang (heretodoksi) dari ajaran spiritual Islam. . dari generasi awal (salaf), dan pada akhirnya muncul keinginan untuk menghalang-halangi bahkan menghilangkan ajaran Fansuri sampai ke akar-akarnya. mengambil posisi mufti kerajaan.

67 Barangkali perkembangan tulisan Fansuri dan Sumatera yang berkaitan dengan ajaran panteistik tersebut menjadi indikasi berdirinya ajaran Fansuri-Sufistik. Konflik sufi Tarekat di Aceh tampaknya telah melembagakan konflik antara kelompok Tarekat Sunni ortodoks dan filosofis. Pesantren ini pada akhirnya bisa menjadi benteng budaya bagi santri yang sangat gigih mempertahankan ortodoksi tarekat sufi di Jawa.

Dinamika Tarekat Pasca Kemerdekaan

Kelompok ini berjuang keras pasca kemerdekaan untuk memperkuat solidaritas34 dengan mendirikan Badan Kongres Kebatinan80 yang tujuannya untuk mendapatkan pengakuan hukum sebagai kelompok kepercayaan yang kedudukannya setara dengan agama yang diakui pemerintah.81 Sementara kubu santri ortodoks berjuang untuk memperkuat barisannya. . dengan penguatan kelembagaan seperti pesantren sebagai benteng ilmu dan tradisi santri. Dalam konteks ini, kelompok Islam tradisionalis (NU) khususnya berhasil mendirikan lembaga-lembaga yang berfungsi untuk membentengi umat Islam ortodoks agar tidak terkontaminasi dan/atau terpengaruh oleh ajaran non-Islam, Kejawen dan Kebatinan, atau untuk membenahi penyimpangan. - penyimpangan yang mungkin terjadi dalam praktek pengabdian. Sunni.82 Lembaga tersebut berbentuk perkumpulan besar, semacam konfederasi yang terdiri dari berbagai kelompok/garis keturunan tarekat di Indonesia yang dianggap ortodoks.

Contohnya, dalam kes gerakan Raniri, ia dalam konteks menyucikan 35 tarekat-tas} awvu daripada penyelewengan ajaran vuju>diyet dan lain-lain. Contohnya adalah Tarekat Naqsyabandi, yang ajarannya di Jawa sering digabungkan dengan ajaran kanoragan, pengakuan kesempurnaan, aliran kemurnian hidup dan lain-lain sebagaimana yang dilakukan oleh Haji Syeikh Abdul H}ayyi Muh}yiddin. Fenomena penyimpangan boleh dikesan daripada kes pertukaran nama tarekat misalnya dalam “Tarekat Waqsyabandi” di Bondowoso, Naqsyabandi.

Manuskrip Ketiga -

LATAR

SOSIOLOGIS MASYARAKAT

Djaelani, Abdul Qodir, Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, Surabaya: Perkembangan Ilmu Pengetahuan, 1994. Jaelani, Abdul Qodir, Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, Surabaya: Pengembangan Ilmu Pengetahuan, 1994. Majma' al Bahroin Shiddiqiyyah: Melakukan Sholat Dhuhur dan Sholat Jum'at Bukan Rukun, Tapi Melaksanakan Perintah Allah Ta'ala dan Rosululloh, jilid 2, Jombang: Unit Percetakan Pusat YPS, 1987.

Majma'al Bah}rain Shiddiqiyyah: Mencegah penduduk untuk beribadah menurut keyakinan berdasarkan agama bertentangan dengan jaminan negara dan bertentangan dengan salah satu tujuan berdirinya Republik Indonesia, Jombang: YPS Pusat, 1985. Putra, Fadillah, satu . al., Gerakan Sosial: Konsep, Strategi, Pelaku, Hambatan dan Tantangan Gerakan Sosial di Indonesia, Malang: Averroes Press, 2006. Shobaruddin, Menelusuri Akar Tasawwuf dan Tarekat di Indonesia, dalam “Tsaqofah”, Jurnal Sains dan Keislaman Budaya, vol.

Referensi

Dokumen terkait

geografis dan segmentasi demografis. Target pasar toko mebel samsuri adalah pasar sasaran jangka pendek, pasar sasaran primer dan sasaran sekunder. Dan posisi pasar toko

There are 3 (three) independent variables tested in this study (leadership style, organizational culture, and work motivation) so that there are three test results