PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Jika aparat penegak hukum (Polri, Jaksa, dan Hakim) tidak memahami “ranah” masing-masing wilayah hukum, maka tanpa mereka sadari, mereka akan dimanipulasi dan dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu dengan mengambil jalan pintas untuk segera mencapai hasil yang diinginkan. Dalam penyidikan kasus tersebut ternyata tidak ditemukan unsur pidana dan oleh karena itu Polri khususnya penyidik dapat mengakhiri kasus tersebut dengan menerbitkan surat keputusan berupa Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3), hal ini telah telah diatur Pasal 109 ayat (2) KUHAP mengatur bahwa: “dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak cukup bukti, atau peristiwa itu kelihatannya bukan suatu tindak pidana atau penyidikan dihentikan karena hukum, kemudian laporkan penyidik menyampaikan perkara ini kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.”
Norma Hukum Kontrak
Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam ayat 1 Pasal 1338 BW yang menyatakan: “perjanjian yang dibuat secara sah adalah sah menurut hukum”. Asas itikad baik dapat disimpulkan dari ayat 3 Pasal 1338 BW yang menyatakan bahwa “perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas ini merupakan asas yang harus disadari oleh para pihak yaitu kreditur dan debitur.
Konsep Wanprestasi
Sedangkan untuk penipuan dalam hukum pidana, undang-undang pasar modal juga mengatur tentang penipuan. Sutorius menyatakan,16 bahwa hal-hal umum yang berkaitan dengan hukum pidana diatur oleh undang-undang dalam arti formal.
TINJAUAN HUKUM KONTRAK
Kerangka Teoritik
Kelompok “Kejahatan Pasar Modal” (CPM), Pasal 103 ayat (1) CPM yang diatur dalam pasal ini pada hakekatnya berupa. 10 Lihat pada Tim RUUPM, Prinsip-prinsip yang diatur dalam Proyek Perubahan UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Syarat Subjektif dan Objektif Suatu Kontrak
Tidak dijelaskan lebih lanjut apakah tujuan hukum pidana adalah perumusan undang-undang atau doktrin pidana. Ketentuan asas legalitas dalam RUU (ZUU) KUHP Tahun 2007 dirumuskan sama dengan alinea pertama Pasal 1 KUHP.
KARAKTERISTIK WANPRESTASI
Karakteristik Wanprestasi
Pasal 1234 BW menyatakan bahwa tujuan perjanjian adalah memberi sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Yang dimaksud dengan 'tidak melakukan sesuatu' berarti membiarkan sesuatu pergi atau mempertahankan sesuatu yang sebenarnya seolah-olah tidak ada kewajiban untuk diciptakan.
Syarat Keabsahan Kontrak
Suatu perjanjian timbul karena suatu perjanjian, yang dimaksudkan oleh dua orang atau dua pihak yang membuat suatu perjanjian, sedangkan suatu perjanjian yang timbul karena hukum berada di luar kehendak para pihak. Sedangkan di sisi lain menggunakan patokan usia 18 tahun sebagai landasan Pasal 47 juncto Pasal 50 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor Indonesia Tahun 1974 Nomor 3019). Ketentuan Undang-undang Nomor I Tahun 1974 dan ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia masih menimbulkan keragu-raguan, dengan dalil bahwa undang-undang ini mengatur tentang perkawinan, bukan perbuatan hukum pada umumnya sebagaimana ketentuan yang diatur dalam BW. .
Cacat Kehendak Dalam Pembentukan Kata Sepakat
Suatu akad/perjanjian tanpa adanya sebab akibat tidak ada artinya, apabila syarat-syarat obyektifnya tidak terpenuhi maka akad tersebut terancam batal. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam membuat suatu akad/perjanjian adalah persetujuan para pembuatnya, kesanggupan untuk membuat suatu perjanjian, suatu hal tertentu, dan suatu hal yang sah. Salah satu syarat pokok dalam membuat suatu kontrak/perjanjian adalah adanya persetujuan dari pihak yang mengikatkan diri.
Implikasi Keabsahan Kontrak
Dalam hal terjadi akad/perjanjian yang batal (voidability), perlu diingat bahwa sebab-sebab batalnya akad/perjanjian dapat dikaitkan dengan tiga hal, yaitu: 43. Perjanjian dalam suatu akad/perjanjian haruslah berdasarkan kebebasan, apabila suatu akad/perjanjian tidak berdasarkan kebebasan, maka akad/perjanjian tersebut dapat dimintakan pembatalannya, ada tiga faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu adanya kekeliruan/kekeliruan (mistake), paksaan (coercion), dan penipuan. (penipuan) sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1321 BW dan sebab lain yang menyebabkan kontrak/perjanjian terancam batal, yaitu penyalahgunaan keadaan (abuse of events), dalam hal ini tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi diterima dalam praktek. . Untuk berhasil mendalilkan suatu gugatan yang didasarkan pada penipuan sebagaimana dalam Pasal 1328 BW diperlukan adanya suatu kesalahan penafsiran yang disebabkan oleh keadaan yang salah, penipuan dan serangkaian perkataan yang salah, apabila dapat dibuktikan akibat-akibat yang berkaitan dengan akad/perjanjian yang telah ditutup, maka kontrak tertutup dapat dibatalkan.
Pacta Sunt Servanda
Prinsip Iktikad Baik
Asas ini tertuang dalam Pasal 1338 ayat (3) BW yaitu kewajiban para pihak untuk melaksanakan hak dan kewajibannya berdasarkan kontrak berdasarkan itikad baik. Dalam hal ini yang dimaksud dengan itikad baik atau bonafid adalah perbuatan baik dan patut antara kedua belah pihak (kewajaran dan kewajaran). Kedua, itikad baik juga diartikan sebagai keadaan tidak mengetahui adanya cacat, seperti pembayaran dengan itikad baik sebagaimana diatur dalam Pasal 1386 BW.48.
Wanprestasi Dalam Hubungan Kontraktual
Kewajiban yang bersifat positif (positif tugas) pada prinsipnya adalah kewajiban untuk melakukan sesuatu (duty to do), sedangkan kewajiban yang bersifat negatif (negative tugas) adalah kewajiban untuk mematuhi larangan (duty not to do).55 Prinsip-prinsip yang terkandung dalam kontraktual hubungan, yaitu jaminan kepastian pelaksanaan perjanjian. Ketika mengukur kinerja kontrak, penekanannya adalah pada prinsip penyeimbangan total beban kewajiban yang terkandung dalam hubungan kontraktual. Apabila tidak terjadi keseimbangan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam suatu hubungan kontraktual, maka akan terjadi pelanggaran terhadap kepentingan atau hak salah satu pihak dan akan terjadi peristiwa hukum yang disebut dengan wanprestasi.
PENGERTIAN WANPRESTASI
Pengertian Wanprestasi
Sehubungan dengan perbedaan ingkar janji tersebut di atas, timbul permasalahan, bagaimana jika debitur yang tidak memenuhi prestasinya tepat waktu dianggap terlambat atau tidak dipenuhi sama sekali. Apabila debitur tidak dapat mencapai prestasi tersebut, maka dapat dikatakan debitur sama sekali belum memenuhi prestasi tersebut. Jika tidak menunaikan prestasinya dengan baik maka debitur dianggap terlambat menunaikan prestasinya dengan cara yang kurang baik.
Saat Terjadinya Wanprestasi
Akibat tidak dipenuhinya adalah kewajiban debitur untuk membayar ganti rugi, atau pihak lain dapat menuntut “pembatalan akad/perjanjian” apabila salah satu pihak wanprestasi. Objektif yaitu apabila akibat yang dapat diperkirakan dalam keadaan normal, sedangkan subyektif adalah akibat yang diduga menurut penilaian ahli. Cara yang paling mudah untuk mengetahui apakah seseorang telah melanggar suatu perjanjian adalah dengan perjanjian yang bertujuan untuk tidak melakukan suatu perbuatan.
Petitum Wanprestasi
Dengan tujuan melakukan reformasi hukum pidana (penal reform), khususnya penyelesaian tindak pidana “penipuan” yang merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana (penal policy). Dari uraian di atas, Jaksa Penuntut Umum kemudian mendakwa: Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana “penipuan” sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP. Oleh karena itu perbuatan Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana “penipuan terus menerus”.
KARAKTERISTIK PENIPUAN DALAM HUKUM
Tujuan Hukum Pidana
Maksud dan tujuan pembentukan peraturan hukum pidana diakui dalam dua mazhab, yaitu mazhab klasik dan mazhab modern. Menurut mazhab klasik, hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentingan seseorang dari kekuasaan negara. Aliran hukum pidana modern lahir karena pengaruh kriminologi dan tujuan hukum pidana yaitu perlindungan masyarakat dari kejahatan.
Tujuan Pemidanaan
Sejauh mana pemberian pidana dapat mencegah terulangnya tindak pidana 8 Permasalahan ini adalah permasalahan efektifitas. penjatuhan pidana yang lebih ringan tidak akan mengurangi berat ringannya tindak pidana yang dilakukan terdakwa; Misalnya UU tentang Kejahatan Ekonomi; bandingkan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1955 yang merupakan undang-undang dalam arti formal.
Konsep Penipuan Dalam Hukum Pidana
Menurut Utrecht30, istilah 'tindak pidana' digunakan karena apa yang dinilai dari sudut hukum pidana adalah suatu peristiwa (palsu). UU Tindak Pidana Suap, UU Tindak Pidana Korupsi, UU Tindak Pidana Keimigrasian, UU Pencucian Uang, dan UU KUHP tahun 2007. Istilah 'tindak pidana' digunakan secara terselubung dalam praktik penegakan hukum, misalnya: putusan Mahkamah Agung. Nomor 411 K/Pid/1992 tanggal 28 April 1994 yang menyatakan tersangka tidak terbukti melakukan “tindak pidana”.
Unsur Penipuan Dalam Hukum Pidana
Tuntutan ganti rugi diajukan kepada ketua pengadilan negeri setempat, yang akan menyelidikinya melalui proses praperadilan.”62. Ayat (1) tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 KUHAP hanya dapat diajukan dalam jangka waktu tiga bulan setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap; Namun upaya perlindungan korban masih sebatas memberikan kompensasi saja kepada pelaku tindak pidana.
Penyelesaian Tindak Pidana Penipuan Di Luar Pengadilan
Perbedaan putusan Pengadilan Negeri Lumajang dengan Pengadilan Tinggi Jawa Timur lebih disebabkan oleh perbedaan “rasio putusan”. Terkait dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi Jakarta, serta putusan Mahkamah Agung RI, menurut saya (penulis) ada beberapa hal yang perlu dikaji. Dengan demikian, hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis terdakwa dengan hukuman penjara selama 1 (satu) tahun.
PENERAPAN KONSEP WANPRESTASI
Putusan MA RI No. Perkara 1036 K/Pid/1989 tanggal 31
Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 133.K/Kr/1973, tanggal 15 November 1975, apabila seseorang menarik suatu cek, padahal mengetahui/mengetahui bahwa cek itu tidak mempunyai dana di bank, merupakan “tindak pidana penipuan””, sebelumnya pasal 378 KUHP. Majelis hakim Pengadilan Negeri Lumajang berpendapat bahwa meskipun hubungan hukum antara terdakwa dan saksi korban diawali dengan “kesepakatan”, namun perbuatan materil terdakwa mengandung unsur delik “penipuan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP Sementara itu, majelis hakim Pengadilan Tinggi Jawa Timur bahwa hubungan hukum antara terdakwa dengan saksi korban bermasalah.
Putusan MA RI No. Perkara 933K/Pid/1994 tanggal 28 Agustus
Pertimbangan yang dijadikan dasar hakim Pengadilan Tinggi Jawa adalah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Surakarta dan menambah hukuman dari delapan bulan masa percobaan menjadi enam bulan, menjadi delapan bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Rasio putusan Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Tengah tetap menggunakan pertimbangan Pengadilan Negeri Surakarta, padahal Pengadilan Negeri Surakarta telah mencampuradukkan perkara pidana dan perdata sehingga putusannya harus dibatalkan. Dengan demikian, menurut hemat saya (penulis), putusan Pengadilan Negeri Surakarta dan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah sudah tepat dan lebih mengandung rasa keadilan jika dilihat dari aspek sifat tidak sah dari materi yang dijerat dengan delik. menipu.
Putusan MA RI Perkara Nomor: 2674 K/Pid/2006 tanggal
Menyatakan terdakwa Zulkifli Zainoel Arifin secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penipuan sebagai perbuatan berkelanjutan” sehingga menjatuhi hukuman penjara selama 4 (empat) bulan kepada terdakwa. Mengenai pertimbangan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pengadilan Tinggi Jakarta, dan Mahkamah Agung, saya (penulis) berpendapat unsur-unsur yang didakwakan telah terbukti keduanya. Soal lamanya hukuman, MA mengamini putusan PN Jakarta Pusat yakni dengan menjatuhkan hukuman penjara empat bulan, dan tidak sependapat dengan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada terdakwa. di penjara.
Putusan MA RI Perkara Nomor: 874 K/Pid/2009 tanggal 31
Sutan Sukarnotomo mempercayai terdakwa dan dibujuk untuk memberikan pinjaman kepada terdakwa Dwi Hartanti. Sutan Sukarnotomo menyerahkan uang kepada terdakwa Dwi Hartanti sebesar tujuh puluh delapan juta rupiah); Sutan Sukarnotomo percaya dan terdorong untuk menyerahkan Rp. tiga puluh enam juta rupiah) kepada terdakwa Dwi Hartanti.
Putusan MA RI Perkara Nomor: 1313K/Pid/2009 tanggal 5
Putusan MA RI Perkara Nomor: 1061 K/Pid/1990 tanggal 26
Putusan MA RI Perkara Nomor: 411 K/Pid/1992 tanggal 28
Putusan MA RI Perkara Nomor: 449 K/Pid/2001 tanggal 17
Putusan MA RI Perkara Nomor: 424 K/Pid/2008 tanggal 22
Putusan MA RI Perkara Nomor: 2161 K/Pid/2008 tanggal 14
BATAS PEMBEDA ANTARA WANPRESTASI
Batas Pembeda
Karakteristik
- DAFTAR PUTUSAN PENGADILAN
- DAFTAR PERUNDANG-UNDANGAN