• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA DAN KENDALA PENGUSAHA KERUPUK JANGEK DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA DI KOTA PADANG

JURNAL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)

Disusun oleh :

ROBBY CHANDRA MULYA NIM. 09030232

Disetujui oleh.

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Edi Suarto, M.Pd Widya Prari Keslan, S.Si.M,Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATRA BARAT

PADANG

2015

(2)

EFFORTS AND OBSTACLES ENTREPRENEURS IN INCREASING PRODUCTIVITY CRACKERS JANGEK BUSINESS IN TOWN PADANG

Robby Chandra Mulya¹, Edi Suarto², Widya Prari Keslan³ 1) Students STKIP PGRI West Sumatra

2) 3) Lecturer Education Program Geography PGRI West Sumatra

ABSTRACT

This study aims to gain an overview of the efforts and obstacles entrepreneurs jangek crackers in improving business productivity views of: 1) raw materials, 2) labor, 3) marketing.

This research is qualitative, the subject of this study through purposive sampling, data were collected through: 1) interviews, 2) observation, 3) documentation. Informants in this study is the people of Padang who worked as an entrepreneur and venture cracker crackers jangek jangek who researched as much as 6 production. testing the validity of the data in the study used data analysis techniques, the validity of the data, and triangulation.

Based on the results of the data analysis and discussion concluded the following things: 1) Efforts and constraints jangek crackers entrepreneurs in obtaining raw materials has been quite good skin because employers do not just take in the city but also outside the city of Padang, even abroad to cope of the limited number of raw materials in the capture of skin, 2) Employers crackers jangek get labor from surrounding neighbors entrepreneur environment, there are permanent workers and laborers, businessmen constraints found most of the laborers, 3) Marketing entrepreneur who made crackers jangek relatively varied , ranging from marketing to small shops, restaurants, souvenir shops area, private shops to distribute the desert outside the city, in the marketing of some employers feel the constraints of the existing competition and supply system jangek at home eating crackers.

Keyword : Efforts and Obstacles Entrepreneurs, Productivity Crackers Jangek, in Padang

(3)

UPAYA DAN KENDALA PENGUSAHA KERUPUK JANGEK DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA DI KOTA PADANG

Robby Chandra Mulya¹, Edi Suarto², Widya Prari Keslan³ 1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat 2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Geografi

PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha dilihat dari : 1) bahan baku, 2) tenaga kerja, 3) pemasaran.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif, subjek penelitian ini melalui purposive sampling, data dikumpulkan melalui : 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Padang yang bekerja sebagai pengusaha kerupuk jangek dan usaha kerupuk jangek yang di teliti sebanyak 6 produksi. pengujian keabsahan data dalam penelitian digunakan teknik analisis data, keabsahan data, dan triangulasi.

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1) Upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam mendapatkan bahan baku kulit sudah terbilang cukup baik karena pengusaha tidak hanya mengambil didalam Kota tetapi juga di luar Kota Padang, bahkan ke luar negri untuk menanggulangi dari keterbatasan jumlah bahan baku kulit yang di ambil, 2) Pengusaha kerupuk jangek mendapatkan tenaga kerja dari tetangga disekitar lingkungan pengusaha, ada pekerja tetap dan pekerja buruh, kendala yang didapati pengusaha kebanyakan dari pekerja buruh, 3) Pemasaran yang dilakukan pengusaha kerupuk jangek tergolong bervariasi, Mulai dari memasarkan ke warung-warung kecil, rumah makan, toko oleh-oleh daerah, toko pribadi sampai ke mendistribusikan ke luar kota padang, dalam pemasaran beberapa pengusaha merasakan kendala dari persaingan yang ada dan sistim memasok kerupuk jangek di rumah makan.

(4)

PENDAHULUAN

Di Indonesia industri pangan sering dipandang sebelah mata. Beberapa makanan tradisional yang dikerjakan oleh pengusaha-pengusaha kecil, banyak yang hanya sekedar mengemas dan melupakan fungsi-fungsi dari sebuah kemasan dalam persaingan pasar saat ini. Padahal di era global ini, persaingan dagang semakin ketat dengan masuknya produk-produk asing yang memiliki kemasan yang menarik dan harga yang bersaing.

Membuat produk Indonesia kalah bersaing dalam mendapatkan kepercayaan dari konsumen akan kualitas produk.

Kerupuk adalah salah satu makanan khas Indonesia yang diminati banyak orang.

Baik dari golongan menengah kebawah hingga dari golongan menengah ke atas.

Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Tidak heran, sampai saat ini bisnis kerupuk masih banyak diproduksi dengan peminatnya yang semakin banyak.

Kerupuk pada umumnya adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang dan ikan. Sebutan kerupuk dibeberapa Negara antara lain krupuk/kerupuk/kropoek di Indonesia, keropok di Malaysia, Kropek di Filiphina, bánh phông tôm di Vietnam. Merupakan makanan ringan (snack) di beberapa negara Asia (Anonymous, 2010). Kerupuk bertekstur garing dan dijadikan sebagai makanan selingan, pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi goreng, gado-gado, soto, rawon, bubur ayam dan lain lain dan bahkan orang menganggap kerupuk sebagai lauk sehari- hari. Kerupuk biasanya dijual dalam kemasan yang belum digoreng (kerupuk mentah) atau dalam kemasan yang sudah digoreng (kerupuk matang). Ada dua jenis kerupuk yang dikenal dimasyarakat, yaitu kerupuk dengan bahan baku nabati (seperti ; kerupuk singkong, kerupuk bawang, kerupuk puli, rempeyek, rengginang, kerupuk gendar, kerupuk aci, kemplang, rengginang, emping melinjo (Gnetum gnemon) dan karak) dan kerupuk dengan tambahan bahan pangan hewani

(seperti ; kerupuk udang, kerupuk ikan dan kerupuk kulit (jangek/rambak) (Anonymous, 2010). Sedangkan kerupuk kulit atau yang dikenal dengan nama kerupuk jangek/rambak adalah kerupuk yang tidak dibuat dari adonan tepung tapioka, melainkan dari kulit sapi, kerbau, kelinci, ayam atau kulit ikan yang dikeringkan (Anonymous, 2011).

Kerupuk jangek adalah salah satu jenis kerupuk olahan makanan warisan nenek moyang asli Indonesia. Umumnya kerupuk ini hanya dikenal oleh masyarakat Sumatra dan Jawa. Dengan perkembangan yang begitu pesat kini kerupuk jangek bisa kita temukan dimana saja.

Pada umumnya, bahan baku kulit yang digunakan dalam pembuatan kerupuk ini menggunakan kulit kerbau dan sapi. Tapi para pengolah lebih cenderung menggunakan kulit sapi, karena kulit sapi ini paling mudah didapatkan dipasaran. Kulit merupakan bagian dari hewan yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan baku pangan. Namun, kulit dapat diolah kembali menjadi makanan sehingga menjadikan suatu kesempatan untuk melakukan kegiatan usaha dalam pembuatan kerupuk jangek dan berpeluang besar untuk memasuki perdagangan dipasar.

Di Sumatera Barat sendiri khususnya Kota Padang, pada umumnya sudah banyak pengusaha yang menjalankan usaha kerupuk jangek ini.

Dan bahkan menjadikan makanan ini sebagai salah satu oleh-oleh khas daerah.

Seperti yang telah dilakukan oleh salah seorang pengusaha dari Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang.

Yang sudah sekian tahun menjalankan usahanya. Pada awalnya usaha ini hanya memiliki beberapa karyawan sampai akhirnya memiliki puluhan karyawan di industri rumahan miliknya. Mulai dari buruh angkut bahan baku sampai ke pengolahan bahan baku menjadi kerupuk jangek. Berbagai macam jenis kendala yang didapati dari persaingan pasar yang

(5)

dialami pengusaha ini dengan pengusaha lainnya, membuat pengusaha ini melakukan inovasi-inovasi baru dalam menjalankan usahanya. Seperti membuat ciri khas dari produk kerupuk jangeknya, hingga memberikan kemasan yang menarik dari produknya itu sendiri.

Dengan melihat berbagai tingkah laku para pengusaha yang berbeda-beda khusus dalam mengolah bahan baku (kulit) untuk mendapatkan kualitas dan rasa yang baik dalam memikat konsumen, menjadikan dasar pemikiran penulis dalam melakukan penelitian dalam bentuk skripsi pada kerupuk jangek ini. Yakni

“Upaya dan Kendala Pengusaha Kerupuk Jangek Dalam Meningkatkan Produktivitas Usaha di Kota Padang”.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Upaya yang dilakukan oleh pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usahanya, Kendala-kendala yang ditemukan oleh pengusaha kerupuk jangek dalam menjalankan usahanya.

Pengertian pengusaha adalah

seorang innovator yang

mengimplementasikan perubahan- perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, resiko sosial, dan akan menerima reward berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal.

Menurut Soeharto Prawiro (1997) mengatakan pengusaha merupakan suatu nilai yang diperlukan untu memulai suatu usaha (start up phase) dan perkembangan usaha (venture growth). Pengusaha menjalankan berbagai macam usaha yang bersaing dipasaran, Dipilih berdasarkan analisis yang diperoleh. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Usaha dapat digolongkan dalam beberapa jenis yaitu ; usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah.

Berdasarkan uraian diatas pengusaha yang diteliti saat ini adalah pengusaha kerupuk jangek, yang tergolong pada jenis usaha mikro. Dimana usaha ini milik perorangan dan terbilang produktif. Yang mana pengusaha memproduksi bahan mentah, bahan setengah jadi, hingga siap untuk diproduksi. Pengusaha harus memiliki trik dan cara agar barang yang diproduksi dapat di terima pasaran hingga usaha dapat berjalan dengan baik.

Produktivitas berasal dari bahasa Inggris yaitu productivity. yang merupakan gabungan 2 kata yaitu product + activity, artinya merupakan kegiatan untuk menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) yang lebih tinggi atau lebih banyak.

Menurut Sutrisno (2010:99) dalam Novariza (2011) produktivitas adalah sebagai hubungan antara pengeluaran (barang atau jasa) dengan pemasukan (tenaga kerja, bahan dan uang). Jadi produktivitas adalah ukuran efesien produksi yang membandingkan antara hasil pengeluaran dan pemasukan.

Produktivitas total merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan semua masukan yang dipakai untuk menghasilkan keluaran dalam rasio output, input. Tetapi kalau yang dihitung sebagai masukan hanya satu atau sebagian saja, maka pendekatan yang dipakai tersebut produktivitas parsial.

Mali (Dalam Ilyas, 2001) mendefinisikan produktivitas adalah pengukuran tentang seberapa baik sumber daya digunakan bersama-sama dalam organisasi untuk menghasilkan suatu unit hasil produksi.

Herjanto (1999) mengatakan produktivitas merupakan ukuran bagaimana baiknya suatu sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Sinugan (2008) mengatakan bahwa secara umum bahwa produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata fisik (barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya. Jadi produktivitas diartikan sebagai tingkat

(6)

efisiensi dalam memproduksi barang dan jasa, dan produktivitas mengutamakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber-sumber dalam memproduksi barang atau jasa.

Upaya adalah usaha, ikhtiar untuk mencapai maksud tertentu. tindakan yang dilakukan seseorang, untuk mencapai apa yang diinginkan atau merupakan sebuah strategi. Sehingga dalam kehidupan manusia selalu melakukan upaya sepanjang hidupnya. Manusia tidak mungkin hidup tanpa tujuan karena manusia selalu memiliki kebutuhan, terutama kebutuhan hidup.

Upaya adalah aspek yang dinamis dalam kedudukan (status) terhadap sesuatu. Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu upaya (Soeharto 2002).

Kendala adalah suatu masalah atau persoalan yang harus dipecahkan. Dengan kata lain kendala merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik. Atau sesuatu yang menyimpang dari apa yang diharapkan, direncanakan, ditentukan untuk dicapai sehingga merupakan rintangan menuju tercapainya tujuan.

Menurut apaoerwadarminta (2006:203), kendala artinya rintangan, hal keadaan yang membatasi atau mencegah pencapaian sukses. Pengertian kendala/masalah menurut Hudojo (1990:

32) mengemukakan bahwa kendala sebagai pernyataan kepada seseorang dimana orang tersebut tidak mempunyai aturan/hukum tertentu yang segera dapat digunakan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Kerupuk jangek adalah salah satu makanan ringan yang bersumber dari kulit kerbau dan sapi pilihan yang telah diolah secara tradisional untuk dapat langsung di konsumsi. Kerupuk jangek ini juga sangat baik untuk mereka yang mengalami gejala penyakit mag. Kerupuk Jangek ini juga dapat di masak dalam aneka masakan sayur-sayuran dan lain-lain.Teksturnya agak keras dan aromanya masih berbau

agak amis. Namun perlu diketahui, bahwa mengkonsumsi kerupuk jangek ini sangat baik. Karena begitu banyak serat dan vitamin yang terkandung didalamnya.

Untuk menghasilkan Kerupuk jangek yang bekualitas, maka dibutuhkan kulit yang baik. Jika proses yang di lakukan dengan cara "Rebus" maka Kulit Kerbau yang baik adalah kulit yang berasal dari Kerbau Jantan Muda. Namun demikian, jika proses pembuatan yang dilakukan dengan cara pembakaran, maka kulit dari kerbau tua, muda, jantan atau betina dapat dijadikan bahan baku.

Berikut adalah proses pembuatan kerupuk jangek :

Perebusan, Langkah awal dalam proses pembuatan kerupuk jangek dengan cara perebusan ini adalah memilih kulit yang berasal dari kerbau jantan muda.

Kulit Kerbau tersebut di potong menjadi 4 s/d 6 bagian untuk memudahkan dalam proses pembersihan. Setelah kulit kerbau di potong, kemudian di rendam dalam air panas beberapa saat sampai bulu pada kulit dapat dengan mudah di kelupas dengan tangan. Kemudian kulit kerbau dikeluarkan dari air panas dan selanjutnya membuang semua bulu pada kulit kerbau dengan menggunakan parang. Setelah proses pembersihan, selanjutnya kulit kerbau kembali di potong dengan ukuran kartu pos atau 5 cm x 20 cm untuk memudahkan proses masak selanjutnya.

Kulit kerbau yang telah dipotong-potong dimasak dalam wadah masak selama 15 menit atau sampai warna kulit kerbau tersebut berubah mendekati putih bening (tidak pucat).

Pencincangan, Kulit Kerbau yang telah masak, kulit bagian dalam dibersihkan dan selanjutnya dipotong- potong dengan ukuran 1cm x 5cm atau sesuai selera.

Penjemuran, Sebelum kulit kerbau ini di jemur, terlebih dahulu kulit ini di cuci bersih dan di beri garam secukupnya.

Jika cuaca cukup panas, maka waktu penjemuran cukup membutuhkan waktu 3 hari. Salah satu tanda kulit kerbau sudah

(7)

cukup kering adalah kulit kerbau sudah sangat keras.

Penggorengan, Proses

penggorengan Kerupuk Jangek ini dilakukan 2 (dua) kali untuk dapat dikonsumsi. Penggorengan awal dengan cara merendam dalam minyak goreng dengan api kompor kecil, setelah beberapa waktu dan kerupuk mulai mengembang, api kompor dapat di besarkan untuk memercepat kerupuk mengembang.

Kerupuk yang telah mengembang dapat di angkat dan di tiriskan, kerupuk akan kembali mengecil. Langkah selanjutnya adalah menggoreng kerupuk untuk dapat dikonsumsi, penggorengan ke-2 ini dapat dilakukan seperti menggoreng kerupuk pada umumnya.

METODE PENELITIAN

Berdasarkan dengan keadaan dan latar belakang penelitian maka jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah termasuk jenis kualitatif. Menurut Sugiono (2005), metode kualitatif sering disebut metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Disebut metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisanya lebih kualitatif. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2010).

Dalam penelitian ini metode yang dimanfaatkan adalah metode wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen metode ini dipilih kerena dengan metode ini peneliti bisa melihat dan mengamati secara langsung perilaku informan, sehingga data yang diperoleh lebih akurat.

Setting Penelitian adalah pengusaha-pengusaha yang menjalankan industri kerupuk jangek yang dilakukan di Kota Padang.

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2001). Jumlah informan disesuaikan dengan kebutuhan

data penelitian, apabila data yang ditemui cenderung mengulang atau serupa dengan data yang telah ada maka pengumpulan data dianggap sudah jenuh. Informan dalam penelitian ini diambil secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Peneliti terlebih dahulu mengetahui bahwa orang yang akan dipilih dapat memberikan informasi yang diinginkan.

Yang menjadi informan penelitian adalah pengusaha dan pekerja kerupuk jangek yang memproduksi kerupuk jangek di Kota Padang. Pendekatan yang digunakan terhadap informan adalah pendekatan informal melalui hubungan silahturahmi dan pergaulan sehari-hari, peneliti melihat dan bergaul dalam keseharian mereka dan lain sebagainya dengan tetap menjaga situasi yang alami.

Agar data yang dibutuhkan dapat dikumpulkan dengan baik, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, display data dan verifikasi atau kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha di Kota Padang dalam mendapatkan bahan baku.

Sumber bahan baku kulit yang digunakan oleh pengusaha dalam proses pengolahan berasal dari kulit kerbau dan sapi, antara 15-150 kg kulit perharinya. Pengusaha kerupuk jangek mengambil bahan baku kulit ini di rumah potong hewan di Lubuk Buaya Padang. Ada juga yang menjadi penyedia atau pemasok bahan baku kulit itu sendiri. Bahkan sampai mengambil bahan baku kulit dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia.

Kendala yang ditemui pengusaha dalam pengambilan bahan baku kulit

(8)

ini dirasakan dari sistim pengambilan yang diterapkan oleh rumah potong hewan di Lubuk Buaya Padang dirasa memberatkan pengusaha. Karena bahan yang diambil harus dipanjar dahulu. Yang mengakibatkan bahan baku kulit yang didapati pengusaha tidak menentu. Dan visa yang besar dalam pengambilan bahan baku kulit di Australia, membuat pengusaha beralih ke Malaysia dalam pengambilan bahan baku kulit.

2. Upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha di Kota Padang dalam mendapatkan tenaga kerja.

Upaya dan kendala pengusaha dalam mendapatkan tenaga kerja, masing-masing pengusaha memiliki tenaga kerja antara 10-20 orang.

Tenaga kerja yang ada pada umumnya didapat dari keluarga dan tetangga-tetangga di sekitar lingkungan pengusaha. Ada juga pengusaha yang mencari tenaga kerja dari kampung-kampung yang serius ingin bekerja. Diantara keseluruhan tenaga kerja sepertiganya adalah pekerja tetap, yang bekerja merebus, menjemur, dan menggoreng. Digaji antara Rp.1.200.000,-sampai Rp.1.700.000,-. Dan selebihnya adalah buruh yang bekerja membungkus kerupuk jangek. Digaji antara Rp.18,- sampai Rp.20,- perbungkusnya. Kendala yang ditemui pengusaha didapatkan dari pekerja buruh. Karena pekerja buruh ini hanya bekerja ketika dia bisa.

Atau hanya bekerja diluar pekerjaan pokoknya sebagai ibu rumah tangga.

Sehingga pengusaha mencari lagi tenaga kerja baru untuk menanggulanginya.

3. Upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha di Kota Padang dalam pemasaran.

pemasaran adalah kegiatan terakhir dalam sebuah produksi. Pemasaran

adalah sebuah proses sosial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain (Kolter, 2005).

Upaya dan kendala dalam pemasaran yang dilakukan pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha di Kota Padang tergolong bervariasi, Mulai dari memasarkan ke warung-warung kecil, rumah makan, toko oleh-oleh daerah sampai ke mendistribusikan ke luar Kota Padang seperti Pariaman, Bukittinggi, Batusangkar, Padang Panjang, Lampung, Kalimantan, dan Jawa. Bahkan memiliki toko sendiri dalam memasarkan kerupuk jangeknya. Masing-masing pengusaha lebih mengkhususkan pemasaran di dalam kota padang. Untuk di luar Kota Padang bagi yang memesan saja. Ada 2 jenis produk kerupuk jangek yang di jual oleh pengusaha.

Yang pertama kerupuk yang telah selesai diolah 100%, kedua kerupuk setengah jadi, yaitu kerupuk yang hanya sampai pada proses penjemuran hanya tinggal di goreng.

Kendala yang ditemui pengusaha didapatkan dari persaingan yang ada di pasaran. Karena sudah banyak yang menjalankan usaha kerupuk jangek ini di Padang. Dan juga dari memasok kerupuk jangek ke rumah makan. Karena sistim yang diterapkan oleh orang rumah makan dirasa merugikan pengusaha.

Melihat dari teori yang dijabarkan oleh kotler pada tahun 2005 diatas.

Terlihat adanya kesamaan atau kesesuaian pola tingkah laku yang diterapkan dalam pemasaran suatu produk yang diciptakan, dan menawarkan dengan bebas. Untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan.

(9)

KESIMPULAN

1. Bahan baku kulit yang didapat oleh 6 pengusaha kerupuk jangek di Kota Padang sudah cukup baik. Bahan baku didapat dari rumah potong hewan di Lubuk Buaya Padang. Ada yang mengambil dari luar Kota Padang bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Australia. Kendala atau permasalahan yang ditemui pengusaha kerupuk jangek antara lain (a) sistim pengambilan bahan baku kulit di rumah potong hewan di Lubuk Buaya dirasa memberatkan pengusaha, (b) visa yang dibayarkan untuk membeli bahan baku kulit dari Australia mahal.

2. Jumlah tenaga kerja yang dimiliki masing-masing pengusaha berkisar antara 10-20 orang. Didapat dari tetangga sekitar lingkungan pengusaha. Sepertiga tenaga kerja adalah pekerja tetap, dan selebihnya buruh. Pengusaha menemui kendala dari tenaga kerja buruh yang bertugas membungkus kerupuk jangek.

3. Pengusaha kerupuk jangek memasarkan kerupuk jangek mengkhususkan pemasaran di Kota Padang. Jenis produk kerupuk jangek yang dijual ada 2 jenis, kerupuk jangek yang telah selesai diolah, dan kedua kerupuk jangek setengah jadi.

Kendala Yang dirasakan oleh pengusaha kerupuk jangek didapatkan dari (a) persaingan yang ada di pasaran, (b) sistim pembayaran yang di terapkan oleh pihak rumah makan dirasa merugikan pengusaha.

SARAN

1. Penulis menyarankan agar pengusaha lebih menjaga hubungan kerjasama dengan pedagang yang ada di rumah potong hewan di lubuk buaya Padang.

Agar kekurangan bahan baku kulit yang dirasa bisa terelakkan.

2. Penulis menyarankan kepada pengusaha agar tetap menjaga kualitas produknya, atau

meningkatkan kualitas produknya supaya dapat bersaing dipasaran dan menambah jumlah pelanggan.

3. Penulis menyarankan agar pengusaha mencari tenaga kerja yang bisa diandalkan dalam segi kinerja dan waktu, supaya permasalahan yang terjadi bisa diatasi.

4. Diharapkan kepada pengusaha agar tidak memakai bahan kimia dalam melakukan pengolahan bahan baku kulit, karena berdampak negatif pada konsumen.

5. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar mampu menjelaskan lebih dalam lagi mengenai upaya dan kendala pengusaha kerupuk jangek dalam meningkatkan produktivitas usaha di kota padang.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Amertaningtyas, Dedes. 2008.

Pengolahan Kerupuk Rambak/Kulit di Indonesia. (JURNAL) Malang.

http://acehpedia.org/Kerupuk_Jangek.

html ( diakses 16 juni 2014)

http://repository.ipb.ac.id/handle/1234567 89/14241. html (diakses 16 juni 2014) http://iklanbaris-

umkm.blogspot.com/p/walaupun- saya-bukan-seorang-pakar- dalam.html (diakses 16 juni 2014) http://jiip.ub.ac.id/http://ilmuakuntansi.we

b.id/pengertian-kewirausahaan- menurut-ahli.html (diakses 16 juni 2014)

http://id.shvoong.com/social- sciences/education/2184192- pengertian-upaya-

preventif/#ixzz36lCPcdng (diakses 16 juni 2014)

Iryadini, Lisnawati. 2010. Analisis Faktor Produksi Industri Kecil Kerupuk Kabupaten Kendal. (SKRIPSI) Universitas Diponegoro Semarang.

Kotler. 2009. Manajemen Pemasaran.

Jakarta : Erlangga.

(10)

Masrifatun Na’im, Siti. 2013. Upaya Dan Kendala Petani Dalam Meningkatkan Produktivitas Karet Di Desa Sari Mulya Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.

(SKRIPSI) STKIP PGRI Sumatera Barat.

Moleong. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sukirno, Sadono. 2009. Mikroekonomi Teori Pengantar, Jakarta : Rajawali Pers.

Sugiono. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar kiri menunjukan singkapan sesar dengan azimuth foto N074 o E, gambar kanan atas menunjukan kekar shear dan gash.. 55 Gambar 4.14 Analisis sesar menggunakan aplikasi dips

Kurva Cadsvs t untuk penentuan waktu kontak optimum Berdasarkan kurva Cads terhadap t untuk penentuan waktu kontak optimum, dapat dilihat bahwa lamanya waktu kontak pada proses