• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 1 BOLO TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 1 BOLO TAHUN "

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 1 BOLO TAHUN

PELAJARAN 2019/2020

oleh Ivan Fadilla NIM. 160101001

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM

2020

(2)

ii

UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 1 BOLO TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh Ivan Fadilla NIM. 160101001

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii MOTTO

ََش ْخَيْل َو

ََ

َ َََْي َ لا

ََن

َ َََ

ل

َْو

ََََت

ََر

َََ ك

َْو

َ مَا ََ

َْن

ََ

َْلَ ف ََخ

َ ح

َ َ َ ي َََْ

َ ة

َ ض ََ

ََع

َ ف

ََخَا

َ فَا

َْو

ََعا

ََلَْي

َ هَْ

ََََف

َْلََي

َ ت

َ ق

َْو

ََل

ََ

ََوَْل

ََي

َ ق وَ

َ لَْ

و

ََقا

َْو

َ ل

َ َْي ََس

َ ا

َ

َ

Artinya: “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya

َ َ

meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.

Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan kat yang benar.” [Q.S An-Nisa:

[4]: 9]1

1 Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Qur’an, Qur’an Hafalan, Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, (Surabaya, Halim, 2013). Hlm.78

(7)

viii

PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan skripsi ini untuk almamaterku,

semua guru dan dosenku, Ibuku tercinta Siti Hawa, Bapakku Asikin, Keluarga Besar IMBD UIN Mataram, Keluarga besar IMM Komisariat UIN Mataram Semua keluarga yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, dan semua teman-temanku

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020” ini dapat terselesaikan.

Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang ini.

Penulis menyadari bahwa proses peneyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan bernagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Ibu Dr. Nurhilaliati M.Ag dan Bapak Syakban Abdul Karim, M.Ag, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah berkenan memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan;

2. Drs. H. Ziyad, M.Ag sebagai wali dosen studi;

3. Bapak Dr. Saparudin, M.Ag. selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam;

4. Ibu Dr. Hj. Lubna, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram;

5. Bapak Prof. Dr. H. Mutawalli, M.Ag., selaku Rektor UIN Mataram;

6. Bapak dan Ibu dosen fakultas tarbiyah dan keguruan yang telah sabar memberikan ilmu bagi penulis selama ini;

7. Bapak Drs. Moch. Iqbal, selaku kepala sekolah dan guru serta pegawai di SMK Negeri 1 Bolo yang telah membantu dalam proses penelitian;

8. Bapak dan Ibu tercinta beserta keluarga yang selalu memberikan dukungan

(9)

x dan doanya kepada peneliti;

9. Dan seterusnya.

Semoga amal ibadah dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.

Mataram, ______________

Penulis,

Ivan Fadilla

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... ..i

HALAMAN JUDUL ... .ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iiii

NOTA DINAS PEMBIMBNG ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMANPERSEMBAHAN………viii KATAPENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... .x

DAFTAR TABEL………...xii

DAFTAR LAMPIRAN...xiii

ABSTRAK………...xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 4

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 4

D. RUANG LINGKUP DAN SETTING PENELITIAN ... 5

E. TELAAH PUSTAKA ... 6

F. KERANGKA TEORI ... 9

1 Guru Pendidikan Agama Islam ... 9

a. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam ... 9

b. Kedudukan Pendidik dalam Pendidikan Islam ... 14

c. Tugas Pendidik dalam Islam ... 14

d. Kompetensi Pendidik dalam Pendidikan Islam ... 16

2 Motivasi Belajar ... 18

a. Pengerian Motivasi Belajar ... 18

b. Teori Motivasi Belajar ... 24

c. Prinsip-prinsip Motivasi Belajar ... 26

d. Fungsi Motivasi dalam Belajar ... 29

e. Bentuk-bentuk Motivasi ... 30

f. Macam-macam Motivasi ... 31

3 Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar ... 32

(11)

xii

G. METODE PENELITIAN ... 35

1. Pendekatan penelitian ... 35

2. Kehadiran Peneliti ... 36

3. Lokasi Penelitian ... 37

4. Sumber Data ... 37

5. Prosedur Pengumpulan Data ... 38

6. Teknik Analisis data ... 40

7. Pengecekan Keabsahan Data... 41

H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN ... 43

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 45

A. Gambaran Umum Profil Sekolah SMK Negeri 1 Bolo……….45

1. Profil Sekolah SMK Negeri 1 Bolo……….45

B. Upaya Guru PAI dalam meningkatkan Motivasi Belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/20202………..………46

C. Apa hambatan-hambatan yang dihadapi guru PAI dalam meningkatkan Motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020………..……….51

BAB III PEMBAHASAN ... 54

A. Upaya Guru PAI dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020………54

B. Apa hambatan-hambatan yang dihadapai guru PAI dalam meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020………...………...56

BAB IV PENUTUP………...59

A. Kesimpulan………59

B. Saran………..59

DAFTAR PUSTAKA………....61 LAMPIRAN

(12)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jumlah Siswa SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020, 48 Tabel 2.2 Keadaan guru SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020, 50 Tabel 2.3 Sarana dan Prasarana SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran

2019/2020, 55

Tabel 2.4 Struktur Organisasi SMK Negeri 1 Bolo , 66

(13)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Foto wawancara peneliti dengan Kepala Sekolah Lampiran Foto wawancara peneliti dengan guru PAI

Lampiran Foto wawancara peneliti dengan beberapa perwakilan siswa

Lampiran Surat rekomendasi penelitian dari akademik Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.

Lampiran Surat rekomendasi penelitian dari Kesbangpoldagri NTB

Lampiran Surat keterangan telah melakukan penelitian dari SMK Negeri 1 Bolo

Lampiran Foto keadaan Sekolah SMK Negeri 1 Bolo

\

(14)

xv

UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 1 BOLO TAHUN PELAJARAN 2019/2020

oleh:

Ivan Fadilla NIM.160101001

ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh hasil observasi peneliti, dimana peneliti menemukan beberap permasalahan yang terjadi di SMK Negeri 1 Bolo, di mana di sekolah tersebut motivasi belajar dari siswanya masih sangat kurang dengan ditandai masih banyak siswa yang datang sekolah hanya sekedar datang saja tanpa mau belajar dengan sungguh-sungguh, terkadang siswa tidur pada saat proses belajar mengajar berlangsung dan banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas.

Fokus penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah: (1) bagaimana upaya yang dilakukan guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo? (2) apa saja hambatan-hambatan yang dihadapi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo?

Tujuan penulisan skripsi ini adalah: (1) untuk mengetahui apa saja upaya yang dilakukan guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo, (2) untuk mengetahui apa saja hambatan-hambatan yang dihadapi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo.

Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi.

Hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini yaitu: (1) bentuk upaya yang dilakukan oleh guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo yaitu dengan menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan membuat inovasi dalam pembelajaran dan menggunakan metode-metode yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa tergugah semangatnya dalam kegiatan belajar mengajar dan menampilkan video- video yang berkaitan dengan pembelajaran sehingga siswa antusias dan semangat dalam kegiatan pembelajaran dan memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi. (2) hambatan yang di hadapi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo yaitu datang dari luar lingkungan sekolah seperti Kurangnya perhatian keluarga, Lingkungan pergaulan, Penyalahgunaan Internet, dan tayangan televisi.

Kata Kunci : Upaya, guru PAI, Motivasi Belajar

(15)

xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu proses pembinaan tingkah laku manusia yang mana anak harus bisa belajar berpikir, berperasaan, dan bertindak lebih sempurna dan baik daripada yang sebelumnya. Dalam mencapai tujuan tersebut, maka pendidikan harus diarahkan kepada keseluruhan aspek pribadi dan meliputi aspek jasmani, mental kerohanian maupun aspek moral.

Pada hakikatnya, siswa dapat memahami pembelajaran yang diberikan oleh pendidiknya, namun pada kenyataannya siswa didalam proses pembelajaran kurang termotivasi dalam proses belajar mengajar sehingga banyak siswa yang tertidur pada saat belajar mengajar, keluar masuk kelas, dan sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya, dan hal ini terjadi karena seorang pendidik di dalam memberikan pembelajaran kuranng kreatif didalam proses belajar mengajar sehingga siswa merasa jenuh dan bosan di dalam kelas saat proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu seorang pendidik harus berupaya untuk mengembangkan keterampilannya di dalam mengajar dengan metode- metode yang dapat menumbuhkan perhatian yang lebih agar peserta didik tidak merasa bosan dan termotivasi dalam proses pembelajaran. Sehingga

(16)

xvii

pendidik mempunyai taanggung jawab untuk melihat segala sesuatu di dalam kelas untuk membantu proses perkembangan peserta didik.2

Guru sesuai dengan tugasnya adalah fasilitator, motivator, sekaligus sebagai inspirator di dalam kelas, kedudukan ini menunjukkan betapa pentingnya peranan seorang guru dalam menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa.3

Guru memegang peranan strategis sebagai pendidik terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai bangsa. Guru memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Demikian juga dalam hal memberikan motivasi belajar bagi siswa. Motivasi perlu diberikan guna memberi dorongan agar siswa dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.4

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di sekolah, banyak sekali permasalahan yang terjadi yang dihadapi oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar seperti siswa tidak memiliki handphone untuk mengikuti pembelajaran online, siswa tidak memilki kuota untuk mengikuti pembelajaran secara online, dan siswa malas untuk mengikuti pembelajaran online.5 Ini mengindikasikan kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka dari itu seorang pendidik memiliki peranan bukan hanya menyampaikan materi, akan tetapi

1 Moh. Turmudi, “Jurnal Tribakti ”Peningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Keterampilan Berkomunikasi Guru”, Tribakti, Vol. 23, Nomor 2, Februari 2012, hlm. 8.

3 M. Dalyono, Psikologi Prndidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm.56

4Arianti, “Didaktika, Jurnal Kependidikan, Vol. 12, Nomor 2, Desember 2018, hlm. 123.

5Observasi awal SMK Negeri 1 Bolo, Rada, 14 Januari 2020

(17)

xviii

memberikan motivasi kepada peserta didik agar semangat dalam proses pembelajaran.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairoh.

َْ ك م لَع أَ لاَ َوْلاَ ةَلَ زْنَم بَْ كَلَ َ َأَاَم ن َ

Sesungguhnya aku terhadap kamu menduduki sebagai orang tua aku mengajarkanmu.”6

Motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kefektifan dalam kegiatan belajar siswa. Karena dengan adanya motivasi siswa akan terdorong dalam kegaiatan pembelajaran, dan ini merupakan salah satu peran yang harus dimainkan oleh seorang guru disamping memberikan materi, guru juga memiliki peran untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.7

Siswa yang belajar dengan adanya motivasi dapat melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh dan penuh gairah.

Sebaliknya siswa yang belajarnya memiliki motivasi yang lemah, maka siswa akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya, oleh karena itu kuat dan lemahnya motivasi belajar siswa akan berdampak pada keberhasilan siswa itu sendiri. Oleh karena itu, motivasi belajar sebisa mungkin diusahakan terutama dari

6H. Abdul Majid Khon, , Hadis Tarbawi, (Rawamangun: Kencana, 2012), hlm. 65.

7 Ibid,...hlm.66

(18)

xix

dalam diri siswa itu sendiri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh dengan tantangan dan harus dihadapkan untuk mencapai cita-cita dan senantiasa memasang tekad bulat, selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar.8

Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti mengangkat judul

Upaya Guru PAI dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, adapun rumusan masalah dari penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana upaya Guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020 ?

2. Apakah saja hambatan-hambatan yang dihadapi Guru PAI dalam Meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu:

a. Untuk mengetahui bagaimana upaya Guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020

8M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 57

(19)

xx

b. Untuk mengetahui apa saja hambatan-hambatan yang dihadapi oleh Guru PAI dalam meningkatkan Motivasi Belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020

2. Manfaat

Penelitian ini diharapkan bermanfaat, baik secara praktis maupun teoritis.

a) Manfaat Praktis

1) Penelitian ini diharapkan berguna sebagai hasanah baru keilmuan didalam dunia pendidikan, lebih khusunya untuk Guru PAI di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

2) Penelitian diharapakan sebagai sumbangan pemikiran bagi Guru, lebih khususnya Guru PAI di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa

b) Manfaat Teoritis

Penelitan ini di harapkan sebagai tambahan wawasan keilmuan untuk memperkaya serta menambah teori-teori di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam upaya peningkatan motivasi belajar siswa yang di lakukan oleh Guru PAI.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup

Penelitian ini difokuskan pada bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru PAI di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, serta apa saja hambatan-hambatan yang di hadapi oleh guru

(20)

xxi

PAI di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat di carikan solusinya untuk guru PAI didalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

2. Setting Penelitian

Adapun lokasi penelitian yaitu di SMK Negeri 1 Bolo yang berada di Jalan lintas Donggo, Desa Rada Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, sekolah ini merupakan salah satu sekolah kejuruan yang berada di Kecamatan Bolo yang dulunya bernama SMK 9 Bima namun telah berganti nama pada Tahun 2019 menjadi SMK Negeri 1 Bolo.

E. Telaah Pustaka

Telaah terhadap pustaka atau hasil penelitian terdahulu yang memiliki topik yang sama dimaksudkan untuk melihat atau tidak adanya kesamaan baik dari segi isi, metode, maupun pokok permasalahan sehingga dapat di simpulkan bahwa penelitian ini layak untuk dilakukan.

Adapun penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan

“Upaya Guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bolo Tahun Pelajaran 2019/2020” antara lain:

1. “Problematika Guru PAI dalam Meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XI di SMA Negeri 1 Jonggat Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2017”9 Oleh Bukran

9Bukran, “Problematika Guru PAI dalam Meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XI di SMA Negeri 1 Jonggat Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2017”, (Skripsi, FTK UIN Mataram, 2017)

(21)

xxii

2. “Strategi Guru dalam meningkatkan Motivasi Belajar siswa kelas IV MIN Wonosari Tahun ajaran 2015/2016”10 oleh Marsiatun

3. “Upaya Guru meningkatkan Motivasi belajar siswa”11 oleh Manner Tampu Bolon.

Judul Persamaan Perbedaan

Problematika Guru PAI dalam Meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XI di SMA Negeri 1 Jonggat Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2017

Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama mebahas mengenai penigkatan motivasi belajar siswa

Perbedaannya dengan penelitian ini yaitu Bukran terfokus pada problematika yang dahadapi oleh guru PAI dalam

meningkatkan motivasi belajar siswa sedangkan penelitian ini terfokus pada bagaiman upaya yang dilakukan

10Marsiatun, “Upaya Guru dalam meningkatkan Motivasi Belajar siswa kelas IV MIN Wonosari Tahun ajaran 2015/2016”, (Skripsi, FITK UIN Sunan Kalijaga, 2016)

11Manner Tampubolon, “Upaya Guru meningkatkan Motivasi Bleajar siswa”Sabillarasyad, Vol. 1, Nomor 1 Oktober-Desember 2016

(22)

xxiii

oleh Guru PAI di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa

“Strategi Guru dalam meningkatkan Motivasi Belajar siswa kelas IV MIN Wonosari Tahun ajaran 2015/2016

Persamaan dengan penelitian ini yakni terletak pada

peningkatan motivasi belajar siswa

Perbedaannya dengan penelitian ini fokus

penelitiannya pada bagaimana starteginya sedangkan penelitian ini fokus pada upaya guru Upaya Guru

meningkatkan Motivasi belajar siswa

Persamaannya yakni pada peningkatan motivasi belajar

Perbedaannya pada tekhnik pengumpulan datanya

(23)

xxiv F. Kerangka Teori

1. Guru Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam literatur kependidikan Islam, seorang guru/pendidik biasa disebut sebagai ustadz, mu’allim, murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu’addib. Masing-masing dari istilah sebutan bagi guru memiliki arti tersendiri.12

Sebagaimana teori Barat, yang dimaksud dengan pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya, dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik dari segi potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).13

Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, di kemukakan bahwa yang dimaksud dengan guru atau pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.14

Menurut Imam Ghazali dalam Abdul Mujib menyatakan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar (great individualis) yang

12Rizqy Amalia, “Nafi’atul Khasanah “Peran Guru PAI dalam Pembinaan perilaku sosial anak Tuangrahita di SDN Kuripan Kidul 02 Pekalongan”, Jurnal Tarbiyah STAIN Pekalongan, Vol. 14, Nomor 2, November 2017,hlm. 2.

13Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm.87.

14Undang-undang SISDIKNAS No. 20 (2003), hlm 21

(24)

xxv

aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun, Imam Ghazali juga menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik adalah pelita (siraj) segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya (nur) keilmiahannya.

Apabila dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia akan seperti binatang, sebab pendidikan merupakan upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.15

Ramayulis berpendapat bahwa guru (pendidik) adalah orang yang memikul tanggungjawab untuk membimbing peserta didik untuk menjadi manusia yang manusiawi.16

Lebih lanjut Ramayulis menjelaskan pendidik terbagi dua, yaitu pendidik kodrat dan pendidik jabatan. Keduanya akan dijelaskan dalam uraian berikut ini:

1. Pendidik Kodrat

Pendidik kodrat merupakan orang dewasa yang mempunyai tanggung jawab utama terhadap anak adalah orangtuanya.

Orangtua disebut pendidik kodrat karena mereka mempunyai hubungan darah dengan anak. Namun, karena orangtua kurang memiliki kemampuan waktu, dan sebagainya untuk memberikan pendidikan yang diperlukan anaknya, maka mereka menyerahkan sebagian tanggung jawabnya kepada orang dewasa lain untuk

15Muhaimin, Paradigma PAI upaya mengefektifkan PAI di sekolah (Bandung: PT.

RemajaRosdakarya, 2004), hlm. 75.

16Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan,(Jakarta: Kalam Mulia, 2013), hlm. 3

(25)

xxvi

membimbingnya seperti guru di sekolah, guru agama di masjid, pemimpin pramuka, dan tokoh-tokoh masyarkat.17

Orangtua sebagai pendidik kodrat menerima amanah dan tugas mendidik langsung dari Allah Maha pendidik. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah swt dalam surah At-Tahrim [66] ayat 6 yang berbunyi:

َا َاَنَ ْ كْي ل ْه َاَوَْ ك َس فْنَاَاَ ْو قَاَ ْو نَمَاَ َنْيَ لاَاَهٌي اَي َ

َ ح ْلاَوَ سَا نلاَاَهَ دْو قَو

ََج

ََاَهْيَلَعٌَةَ َا

ََ ْو ر َم ْ يَا َمَ َ و لَع ْفَي َوَ ْ هَ َر َمَاَا َمَهَ َ َ ْو صْعَيَ َ

لَ ٌدا َ شَ ٌظَ ََ غَ ةَك ئَلَم

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nerakayang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.18

2. Pendidik Jabatan

Pendidik di sekolah, seperti guru, konselor, dan administrator disebut pendidik jabatan. Dengan tugas utamanya memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu mentransformasikan kebudayaan secara terorganisasi demi perkembangan peserta didik (siswa), khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.19

17Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm.84.

18Badan Penelitian dan Pengembangan dan PendidkanKementerian dan Pelatihan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama Republik Indonesia, (Bekasi, PT. Dinamika Cahaya Pustaka, 2017), hlm. 560

19Ibid ., hlm 85.

(26)

xxvii

Pendidik jabatan adalah orang lain (tidak termasuk anggota keluarga) sebagai kelanjutan pendidik dari orang tua yang memiliki keterbatasan waktu dan boleh jadi keterbatasan pengetahuan, dan kesibukan. Berbeda dari pendidik kodrat, pendidik jabatan dituntut memiliki berbagai kompetensi sesuai dengan tugasnya.

Sedangkan definisi dari pendidikan agama Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan, dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai dala ajaran Islam.20

Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad At-Toumi Asy- Syaibany dalam Bukhari Umar mendefinisikan pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi- profesi asasi dalam masyarakat.21

Menurut Zakiyah Daradjat dalam Abdul Majid, mendefenisikan Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran Islam secara menyeluruh,

20Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 152.

21Bukhari Umar, Ilmu..., hlm 26-27.

(27)

xxviii

menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.22.

Nur Ahid mengemukakan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu proses penggalian, pembentukan, pendayagunaan dan pengembangan fitrah, dzikir dan kreasi serta potensi manusia, melalui pengajaran, bimbingan, latihan dan pengabdian yang dilandasi dan dinafasi oleh nilai-nilai ajaran islam, sehingga terbentuk pribadi muslim yang sejati, mampu mengontrol, mengatur, merekayasa kehidupan dengan penuh tanggung jawab berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.23

Pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada peserta didik secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan potensi fitrahnya untuk mencapai kepribadian Islam berdasarkan nilai-nilai dalam ajaran Islam.24

Berdasarkan beberapa uraian tentang definisi di atas dapat dipahami bahwa guru pendidikan agama Islam adalah guru atau tenaga pendidik yang secara berkelangsungan mentranformasikan ilmu dan pengetahuannya terhadap siswa di sekolah, dengan tujuan agar para siswa tersebut menjadi pribadi-pribadi yang

22Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm.

12

23Nur Ahid, Pendidikan Keluarga dalam Prespektif Islam, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), hlm. 19.

24Ahmad Taufiq, dkk, Pendidikan Agama Islam, (Surakarta: Yuma Pustaka bekerjasama dengan UPT MKU UNS, 2011), hlm. 219-220.

(28)

xxix

berjiwa Islami serta memiliki sifat, karakter dan perilaku yang di dasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.

b. Kedudukan Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pendidik adalah bapak ruhani (spritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilaku yang buruk. Oleh karena itu, pendidik mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam.

Dalam beberapa hadis disebutkan: “Jadilah engkau sebagai guru,

atau pelajar, atau pendengar, atau pecinta, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi rusak”.

Dalam hadis Nabi saw yang lain: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebih berharga ketimbang darah para syuhada”. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang rasul. Asy-Syawki bersyair: “Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja seorang rasul”.25

c. Tugas Pendidik dalam Pendidikan Islam

Menurut Al-Ghazali dalam Bukhari Umar, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan

25Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Bumi Aksara,2011), hlm. 86

(29)

xxx

diri kepada-Nya. Jika pendidik belum mampu membiasakan diri dalam peribatan kepada peserta didik, berarti ia mengalami kegagalan di dalam tugasnya, sekalipun peserta didik memiliki prestasi akademis yang luar biasa. Hal tersebut mengandung arti akan keterkaitan ilmu dan amal shaleh.

Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru (gu dan ru) yang berarti “digugu”dan “ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mrmiliki seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihatkehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru memiliki kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri teladan oleh peserta didik. Pengertian ini diasumsikan bahwa tugas guru tidak sekedar transformasi ilmu, tetapi juga bagaiana ia mampu menginternalisasikan ilmunya kepada peserta didik. Pada tataran ini terjadi sinkronisasi antara apa yang diucapkan oleh guru (didengar oleh peserta didik) dan yang dilakukannya (dilihat oleh peserta didik).26

Tugas pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:

26Ibid.,hlm. 87.

(30)

xxxi

1. Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta melaksanakan penilaian setelah program dilakukan 2. Sebagai pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik

pada tingkat kedewasaan dan kepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah swt menciptakannya.

3. Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.27

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa tugas-tugas pendidik amat sangat berat, yang tidak saja melibatkan kemampuan kognitif tetapi juga kemampuan afektif dan psikomotorik. Profesionalisme pendidik sangat ditentukan oleh seberapa banyak tugas yang telah dilakukannya, sekalipun terkadang profesionalismenya itu tidak berimplikasi yang signifikan terhadap penghargaan yang diperolehnya.

d. Kompetensi Pendidik dalam Pendidikan Islam

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia kompetensi berarti kewenangan, kekusaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Pengertian kompetensi (competency), yakni kemampuan atau

27Ibid.,hlm.88.

(31)

xxxii

kecakapan. Istilah kompetensi menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif.28

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Menurut Bukhari Umar memaparkan bahwa seorang yang disebut profesional harus memiliki kompetensi yang lengkap, meliputi:

1) Penguasaan materi al-Islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan pengayaan, terutama bidang-bidang yang menjadi tugasnya;

2) Penguasaan strategi (mencakup pendekatan,metode, dan teknik) pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya;

3) Kemampuan ilmu dan wawasan kependidikan;

4) Memahami prinsip-prinsip dalam menafsirkan hasil penelitian pendidikan, guna keperluan pengembangan pendidikan Islam masa depan;

5) Memiliki kepekaan terhadap informasi secara langsung atau tidak langsung yang mendudkung kepentingan tugasnya.29

Oleh karena itu, keberhasilan seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar tergantug dari kinerja kompetensi yang dimilikinya.

28Maimun, Kiat Sukses Menjadi Guru Halal, (Mataram: LEPPIM UIN Mataram, 2015), hlm. 25.

2929Bukhari Umar, Ilmu..., hlm. 93.

(32)

xxxiii 2. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari bahasa Latin, movere yang berarti dorongan atau daya penggerak.30 Sedangkan Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced pratice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan menurut Hermine Masrshall, istilah motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar.31

Pengertian motivasi menurut para ahli:

Huitt, W. mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Menurut Weiner pengertian motivasi adalah kondisi internal yang membangkitkan seseorang untuk bertindak, mendorong individu untuk mencapai tujuan tertentu, dan membuat individu tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.32

30Arianti, “Didaktika, Jurnal Kependidikan, Vol. 12, Nomor 2, Desember 2018, hlm. 124.

31Hamzah B. Uno, Teori Motivasi & Pengukurannya (Jakarta: Bumi Aksara: Cetakan ke VX, 2017), hlm. 23

32Maxmanroe, “Pengertian Motivasi, Jenis dan Faktor Motivasi Menurut Para Ahli”, dalam https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-motivasi.html, diakses tanggal 1 Februari 2020, pukul 10:08

(33)

xxxiv

Menurut Uno, arti motivasi adalah dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan.33

Menurut Henry Siamamora pengertian motivasi adalah sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.34

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong sesorang untuk melakukan sesuatu. Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.

Berdasarkan sifatnya, motivasi dapat dibedakan menjadi motif intrinsik dan motif ekstrinsik:35

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsic adalah motivasi yang timbul dari diri sendiri dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Orang yang tingkah lakunya digerakkan oleh motivasi intrinsic, baru akan puas kalau tingkah lakunya

33Hamzah B. Uno, Teori Motivasi & Pengukurannya (Jakarta: Bumi Aksara: Cetakan ke VX, 2017), hlm.24.

34Maxmanroe, “Pengertian Motivasi, Jenis dan Faktor Motivasi Menurut Para Ahli”, dalam https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-motivasi.html, diakses tanggal 19 Agustus 2020, pukul 10:08

35Arianti, “Didaktika.., hlm. 126.

(34)

xxxv

telah mencapai hasil tingkah laku itu sendiri. Misalnya, orang yang gemar membaca tanpa ada yang mendorong, ia akan mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya. Orang yang rajin dan bertanggung jawab tanpa menunggu komando, sudah belajar dengan sebaik-baiknya.

b. Motivasi Ektrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan belajar. Misalnya, siswa yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, sekedar mematuhi perintah guru, kalau tidak dipatuhi guru akan memarahinya.

Untuk menggali potensi itu harus ada kemauan yang kuat (achivement motivation) baik datang dalam diri sendiri (faktor intrinsik) ataupun yang datang dari luar diri sendiri (ekstrinsik) karena ada sesuatu yang ingin dicapai. Demikian disampaikan oleh tokoh motivasi Mc Clelland yang terlihat pada bagan di bawah ini:36

36McClelland,http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/motivation/mot,vate.htmldiakses tanggal 1 Februari 2020, pukul 12:13.

Motivation to Learn

Intrinsic Extrinsic

(35)

xxxvi

Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersbut adalah seluruh mental meliputi ranah- ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotrik.37

Untuk mempertegas pengertian belajar penulis mengemukakan berbagai pandangan dari beberapa ahli pendidikan antara lain:

1. Dimiyati dan Mudjiono

Belajar merupakan suatu proses internal yang kompleks, yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah yang meliputi unsur afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial.

2. Djamarah dan Zain

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.

3. Hamalik

Belajar adalah bukan suatu tujuan tetapi merupakan proses mencapai tujuan. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.

37Nidawati, Jurnal Pionir, Belajar Dalam Prespektif Psikologi dan Agama, Vol. 1, Nomor 1, Juli-Desember 2013, hlm.13.

(36)

xxxvii 4. Hamzah

Belajar merupakan suatu proses yang sistematis yang tiap komponenya sangat menentukan keberhasilan anak didik.38 Bertolak dari arti kata motivasi dan belajar di atas, maka dapat di simpulkan bahwa motivasi belajar adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat belajar atau dengan kata lain sebagai pendorong semangat belajar.

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur- unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan yang besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat dikalsifikasikan sebagai berikut:

a) Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil;

b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar;

c) Adanya harapan dan cita-cita masa depan;

d) Adanya penghargaan dalam belajar

e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar;

f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan baik.39

38Aris Kurniawan, “Pengertian Belajar Menurut Para Ahli”, dalam https://www.gurupendidikan.co.id.pengertian-belajar/ diakses tanggal 7 Februari 2020, pukul 15:01

(37)

xxxviii

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:

a. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir.

b. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya.

c. Mengarahkan kegiatan belajar.

d. Membesarkan semangat belajar.

e. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja, siswa dilatih untuk menggunakan kekuatannya sehingga dapat berhasil.40

Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru.

Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut:

a. Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa.

Dalam hal ini pujian, hadiah, dorongan atau pemicu semangat dapat di gunakan untuk mengobarkan semangat belajar.

b. Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang bermacam-macam sehingga dengan bermacamnya motivasi tersebut di harapkan guru dapat menggunakan bermacam- macam strategi dalam belajar mengajar.

39Hamzah B. Uno, Teori Motivasi & Pengukurannya (Jakarta: Bumi Aksara: Cetakan ke VX, 2017), hlm. 23

40Arianti, “Didaktika..., hlm. 125.

(38)

xxxix

c. Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, dan penyemangat.

b. Teori Motivasi Belajar

Sekurangnya ada empat teori motivasi belajar yaitu teori behavioral, humanisitis, kognitif dan sosial. Masing-masing menjelaskan motivasi belajar dengan cara yang berbeda dan prespektif yang berbeda pula.

Adapun pengertian pemaparan mengenai teori behavioral, humanisitis, kognitif dan sosial sebagai berikut:

a. Teori Behavioral

Presepektif behavioral yaitu teori yang lebih menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam motivasi belajar dengan memberikan insentif.

Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu Koneksionisme atau teori Asosiasi, teori Kondisioning, dan teori Reinforcement (Operant Conditioning). Rumpun teori Behaviorisme berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Rumpun teori ini tidak mengakui sesuatu yang sifatnya mental, perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat dan diamati.

(39)

xl b. Teori Insentif

Insentif merupakan peristiwa atau stimulus positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku peserta didik yang dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran serta mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat. Insentif yang diberikan pendidik dapat berupa nilai yang baik, tanda bintang, pujian dan penghargaan dan sebagainya yang dapat memotivasi perilaku peserta didik. Dengan demikian, belajar menurut teori ini adalah perubahan yang dialami peserta didik dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara- cara yang baru sebagai hasil dari interaksi antara stimulus dan respons.

c. Teori Kognitif

Berbeda dengan prespektif behavioristik yang memandang motivasi belajar sebagai konsekuensi insentif eksternal berupa stimulus dan respon, prespektif kognitif menekankan bahwa peristiwa belajar merupakan proses internal atau mental manusia. Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah laku manusia yangtampak tidak bisa diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental yang lain seperti motivasi sikap, minat, dan kemauan.

(40)

xli d. Teori Humanistik

Prespektif humanisitik menekankan pada kapasitas peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kebebasan untuk memilih nasib mereka. Pandangan ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow, bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Maslow menyusun hirarki kebutuhan manusia untuk menunjukkan, bagaimana memuaskan kebutuhan dasar tertentu sebelum dapat memenuhi kebutuhan dasar yang lebih tinggi.41

c. Prinsip-prinsip Motivasi Belajar

Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi.

Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya sekedar diketahui, tetapi harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut:

a. Motivasi sebagai Dasar Penggerak yang mendorong Aktivitas Belajar

Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya.Karenamotivasilah sebagai dasar penggeraknya

41Syahril, “Jurnal Al-Taujih: Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami”, “Motivasi Belajar Dalam Prespektif Hadits”Vol. 3, Nomor 2, Desember 2017, hlm. 58.

(41)

xlii

yang mendorong seseorang untuk belajar. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenangi suatu objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namum minat adalah motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.

b. Motivasi Intrinsik Lebih Utama daripada Motivasi Ekstrinsik dalam Belajar

Dari sebuah kebijakan pengajaran, guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada setiap anak didik. Anak didik yang malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ekstrinsik oleh guru supaya dia rajin belajar.

Efek yang tidak diharapkan dari pemberian motivasi ektrinsik adalah kecenderungan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak didik juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar.

c. Motivasi Berupa Pujian Lebih Baik daripada hukuman

Meski hukuman tetap diberlakukan untuk memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Karena pada hakikatnya setiap orang senang dihargai dan

(42)

xliii

tidak suka dihukum dalam bentuk apa pun juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya. Tetapi pujian yang diucap itu tidak sembarang, haruslah pada tempat dan kondisi yang tepat. Karena apabila terjadi kesalahan dalam pujian bisa bermakna mengejek.

d. Motivasi Berhubungan Erat dengan Kebutuhan Belajar

Dalam kehidupan anak didik, membutuhkan penghargaan, perhatian, ketenaran, status, martabat, dan sebagainya merupakan kebutuhan yang wajar bagi anak didik. Semuanya dapat memberikan motivasi bagi anak didik dalam belajar. Guru yang berpengalaman harus dapat memanfaatkan kebutuhan anak didik, sehingga dapat memancing semangat belajar anak didik sehingga menjadi anak yang gemar belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi kebutuhannya demi memuaskan rasa keingin tahuannya terhadap sesuatu.

e. Motivasi dapat Memupuk Optimisme dalam Belajar

Siswa yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa belajar bukan kegiatan yang sia-sia. Hasilnya akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga di hari mendatang.42

42Ibid.., hlm. 127.

(43)

xliv d. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Guru sesuai dengan tugasnya adalah fasilitator, motivator, sekaligus sebagai inspirator di dalam kelas kedudukan ini menunjukkan betapa penting peran guru dalam menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa.43

Sebagai fasilitator, guru harus dapat memberikan berbagai kemudahan, petunjuk, bantuan, dorongan, kepada siswa selama proses belajar-mengajar di dalam kelas, memberikan kemudahan, disini artinya sebagai guru jangan terlalu mempersulit kepentingan- kepentingan yang diperlukan peserta didik. Memberikan petunjuk termasuk petunjuk dalam belajar, mengarahkan bagaimana siswa dapat belajar dengan mudah dan sekaligus memberikan dorongan- dorongan yang diperlukan oleh siswa.

Sebagai motivator dalam proses belajar mengajar, guru harus dapat membangkitkan motivasi, hasrat, dan gairah belajar pada diri siswa. Jangan sampai guru hanya datang memberikan pembelajaran, mencatat dan kemudian mengakhiri dengan memberikan ujian.

Sebagai inspirator, artinya guru harus dapat memberikan semangat kepada setiap siswa, tanpa memandang taraf kemampuan intelektual atau tingkat motivasi belajarnya. Setiap siswa harus dapat dibuat senang bergaul dengan guru, baik di dalam maupun di luar kelas.

43Moh. Turmudi, “Jurnal Tribakti ”Peningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Keterampilan Berkomunikasi Guru”, Tribakti, Vol. 23, Nomor 2, Februari 2012, hlm. 8.

(44)

xlv

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong dan penggerak manusia dalam berbuat, penentu arah perbuatan dan menyeleksi perbuatan manusia. Sebagai pendorog maka motivasi dapat menggerakkan dan menumbuhkan keinginan siswa untuk belajar. Tanpa adanya suatu pendorong, maka sedikit keberhasilan siswa dalam belajar dan sangat minim prestasi yang dicapai oleh siswa. Sebagai penentu arah motivasi dapat menunjukkan arah perbuatan sehingga seorang siswa dalam belajar akan tahu apa yang harus dipelajarinya. Dengan adanya motivasi, siswa dapat belajar sesuai dengan yang diharapkan tanpa membuang energi yang melelahkan tetapi dapat berhasil dengan baik dan sempurna.44

e. Bentuk-bentuk Motivasi

Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar, di antaranya:

a. Memberi angka;

b. Hadiah;

c. Saingan/Kompetisi;

d. Ego-invlovement;

e. Memberi ulangan;

f. Mengetahui hasil;

g. Ujian;

44Ibid., hlm. 9.

(45)

xlvi h. Hukuman;

i. Hasrat untuk belajar;

j. Minat.45

f. Macam-macam Motivasi

a. Motivasi dilihat dari pembentukannya

1. Motif-motif bawaan, yaitu motif yang di bawa sejak lahir, jadi motivasi itu tanpa dipelajari. Contoh: dorongan untuk makan, minum, bekerja, dan lain-lain

2. Motif-motif yang dipelajari, maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Di samping itu, Frandsen menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:

a) Cognitive motives b) Self-expression c) Self-enhancement46

b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis 1) Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan

makan, minum, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat.

45Arianti, “Didaktika, Jurnal Kependidikan, Vol. 12, Nomor 2, Desember 2018, hlm. 129- 130.

46Ibid,...hlm.132

(46)

xlvii

2) Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motiv ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu, jelasnya motiv ini timbul karena rangsangan dari luar

3) Motiv-motiv objektif dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motiv- motiv ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmani yakni reflex, insting otomatis, nafsu. Sedangkan motivasi rohaniah adalah kemauan.47 3. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Peran guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa merupakan salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semangat belajar seorang siswa dengan yang lain berbeda-beda, untuk itulah penting bagi seorang guru untuk selalu senantiasa untuk memberikan motivasi kepada siswanya supaya siswa senantiasa memiliki semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang berprestasi serta dapat mengembangkan diri secara optimal.48

47Ibid

48Ibid., hlm. 132.

(47)

xlviii

Adapun upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa sebagai berikut:

a. Menjadikan siswa yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar

Guru memberikan arahan kepada siswa dengan memberikan ilmu dan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan siswapun mengerjakan tugas dengan baik dengan tujuan untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar sehingga siswa dapat menyelesaikannya dengan tuntas, contohnya: setelah guru memberikan pembelajaran kepada siswa lalu guru memberikan pertanyaan dan siswa menjawab pertanyaan dengan tuntas.

b. Menciptakan suasana kelas yang kondusif

Kelas yang kondusif disini adalah kelas yang aman, nyaman dan selalu mendukung siswa untuk bisa belajar dengan suasana yang tenang serta mendukung proses pembelajaran dengan tata ruang sesuai yang diharapkan.

c. Menciptakan metode pembelajaran yang bervariasi

Metode pembelajaran bervariasi ini agar siswa tidak bosan dan jenuh dalam suatu pembelajaran maka diciptakanlah pembelajaran yang bervariasi. Tujuannya agar siswa selalu termotivasi dalam kegiatan proses pembelajaran.

d. Meningkatkan antusias dan semangat dalam belajar

Kepedulian seorang guru dalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat penting untuk menumbuhkan motivasi

(48)

xlix

belajar siswa. Karena apabila guru tidak antusias dan tidak semangat dalam proses belajar mengajar maka siswa tidak akan termotivasi dalam belajar.

e. Memberikan penghargaan

Memberikan penghargaan ini bisa berupa nilai, hadiah, pujian, dan sebagainya agar siswa termotivasi akan belajar dan selalu ingin menjadi yang terbaik.

f. Menciptakan aktivitas yang melibatkan siswa dalam kelas

Menciptakan aktivitas yang melibatkan siswa dengan teman- teman mereka dalam satu kelas, tujuannya agar satu sama lain akan membagikan pengetahuan, gagasan, atau ide dalam penyelesaian tugas individu dengan seluruh siswa di kelas.49

Guru pendidikan agama Islam didalam proses pembelajaran seyogyanya memberikan motivasi kepada peserta didik di dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat termotivasi untuk belajar, guru harus mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa serta mengupayakan pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa termotivasi di dalam pembelajaran dan guru harus melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengam memberikan penghargaan, melakukan kunjungan ke rumah siswa agar mengetahui apa permasalahan siswa sehingga siswa tidak termotivasi dalam proses pembelajaran dan guru juga harus memberikan

49Ibid.

(49)

l

bimbingan kepada siswa yang kurang motivasinya dalam pembelajaran sehingga siswa tersebut termotivasi kembali.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dekriptif.

“Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang”.50 Sedangkan menurut Nazir Metode deskriptif adalah

“suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.51

Peneliti dalam hal ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena di dalam penelitian deskriptif akan dijabarkan secara mendalam mengenai suatu gejala atau peristiwa yang sedang terjadi didalam lingkungan atau sekolah sebagai obyek penelitian.

Dalam penelitian ini, kualitatif deskriptif ditujukan untuk: 1) mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, 2) mengidentifikasi masalah yang ada atau memberikan kondisi atau praktek-praktek yang berlaku, 3) membuat perbandingan atau evaluasi, 4) menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam

50Juliansyah Noor,Metodologi Penelitian, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 24.

51Nazir, Metode Penelitian , (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 84.

(50)

li

menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang berbeda.52

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrumen sekaligus sebagai pengumpul data sehingga kehadirannya di lokasi penelitian mutlak diperlukan.

Adapun hal-hal yang dilakukan peneliti dalam ini adalah sebagai berikut:

a. Melakukan observasi mengenai keadaan lokasi penelitian, keadaan lingkungan sekolah, keadaan sosial guru dengan peserta didik, keadaan lingkungan kelas, serta bagaimana kegiatan belajar mengajar dan cara meningkatkan motivasi belajar siswa oleh guru mata pelajaran pendidikan agama Islam.

b. Mengadakan wawancara dengan pihak-pihak terkait, yakni guru sebagai informasi dan mempunyai peran aktif dalam lingkungan pendidikan.

c. Menarik kesimpulan berupa bagaimana seorang guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, serta hambatan-hambatan yang dihadapi, serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut.

52Bukran,, “Problematika Guru PAI Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XI di SMA Negeri 1 Jonggat Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2017”, (Skiripsi, FTK UIN Mataram, Mataram 2017), hlm. 26.

(51)

lii 3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Bolo yang beralamatkan di Jalan Lintas Donggo Desa Rada Kec. Bolo Kab.

Bima. Adapun alasan peneliti memilih SMK Negeri 1 Bolo sebagai lokasi penelitian, karena di SMK Negeri 1 Bolo siswanya masih malas dalam proses kegiatan belajar mengajar, siswa sering keluar masuk saat proses belajar mengajar dan tidur pada saat proses belajar mengajar, sehingga dengan demikian bagaimana upaya yang dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

4. Sumber Data

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh.53 Sementara menurut Lofland dalam Moleong, sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain.54

Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek penelitian atau informan, atau subyek dari mana data diperoleh. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari informan yakni orang yang diwawancarai secara mendalam, subjeknya ialah guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Bolo. Adapun data lainnya yang diperoleh dari hasil wawancara dalam informan-informan lainnya di antaranya

53Achmad Suhaidi, “Pengertian Sumber Data, Jenis-jenis Data dan Metode Pengumpulan Data”, dalam https://achmadsuhaidi.wordpress.com/2014/02/26/pengertia-sumber-data-jenis- jenis-data-dan-metode-pengumpulan-data/ diakses tanggal 2 Februari 2020, pukul 15:02.

54Lexy J. Melong, Metodologi.., hlm. 157.

(52)

liii

Kepala sekolah serta beberapa siswa-siswi untuk mengetahui keaslian dan kebenaran data. Sumber data utamanya ialah hasil wawncara dan selebihnya ialah tambahan seperti hasil observasi dan dokumentasi, riwayat pendidikan responden, foto dan lain-lain.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi.

a. Metode Observasi

Sanafiah Faisal dalam Sugiyono mengklasifkasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation). Dari kedua pendapat diatas kita dapat menyimpulkan bahwa observasi merupakan alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung oleh peneliti terhadap objek yang diteliti.

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadai participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation (observasi non partisipan).

Dalam penelitian ini digunakan adalah observasi bentuk non partisipasif karena peneliti tidak ikut berpartisipasi dengan guru ataupun siswa, melainkan peneliti sebagai pengamat terhadap kejadian yang menjadi topik penelitian. Sehingga peneliti dapat

(53)

liv

mengamati upaya apa saja yang dilakukan guru bidang studi Agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, dan untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

b. Metode Wawancara (Interview)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.55 Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ada dua jenis wawancara, yakni Wawancara Terstruktur dan Wawancara tidak Terstrukutur

Dalam penelitian ini cenderung menggunakan jenis penelitian wawancara tidak terstruktur,sehingga informasi yang didapat lebih banyak, sehingga peneliti dapat mengetahui apa saja hambatan- hambatan yang dihadapi guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, dan apa saja hambatannya.

c. Metode Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera,

55Lexy J. Moleong,Metodologi.., hlm.186.

Gambar

Tabel 2.1  Jumlah Siswa SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020, 48  Tabel 2.2         Keadaan guru SMK Negeri 1 Bolo Tahun pelajaran 2019/2020, 50  Tabel 2.3  Sarana  dan  Prasarana  SMK  Negeri  1  Bolo  Tahun  Pelajaran
Foto Keadaan SMK Negeri 1 Bolo
Foto Wawancara dengan Perwakilan Siswa XI TKRO
Foto Wawancara dengan Guru PAI
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dalam upaya meningkatkan akhlak siswa melalui kegiatan bimbingan Islami, ada beberapa faktor penghambat yang dialami guru pai di SMK Islam 1 Durenan yaitu pertama ,

Masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada Hubungan Kreativitas Guru Dalam Mengajar dan Motivasi Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Kelas XI SMK Negeri 1 Binjai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Ada tidaknya pengaruh yang signifikan variasi mengajar guru terhadap motivasi belajar siswa Kelas XI SMK Negeri 1

Jadi yang dimaksud dengan upaya disini adalah usaha atau upaya guru PAI memotivasi siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK Muhammadiyah 9 Wagir..

Hasil Penelitian: (1) kompetensi pedagogik guru PAI di SMK Negeri 1 Boyolangu Tulungagung berada pada interval 58-63 termasuk dalam kategori baik,

UPAYA GURU PAI DALAM MEMOTIVASI SISWA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI SMK MUHAMMADIYAH 9 WAGIR KABUPATEN

Penerapan model pembelajaran Problem-Based Learning untuk meningkatkan motivasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa kelas X1 OTKP pada SMK Negeri 3 Tebo

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 upaya yang dilakukan guru dalam memberikan motivasi belajar kepada siswa berkebutuhan khusus tunanetra di SLB Negeri 2 Lombok Tengah yaitu: