ANALISIS KASUS TINGGINYA ANGKA HIV-AIDS DI KABUPATEN GROBOGAN IKA PUJI ASTUTI 7111420192
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang
Email [email protected] Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekkatan kualitatif. Tujuannyal untuk mendeskriptifkan bagaimanal perencanaan strategi pemerintahl daerah dalaml upaya penanggulanganl kasus lHIV-AIDS di Kabupaten Grobogan. HIV-AIDS merupakan suatu penyakit menular yang berbahaya dan menjadi masalah kesehatan dunia. Kabupaten Grobogan merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Jawa Tengah, dengan angka tertinggi nomor 4 serta kasus baru HIV-AIDS nomor 2 se-Jawa Tengah. Kasus HIV nomor 1 berada di Kota Semarang sejumlah 181 kasus, Grobogan sejumlah 123 kasus, dan Blora 87 kasus. Akan tetapi kasusl HIV-AIDSl di Kabupatenl Grobogan nilainya masihl tergolong fluktuatifl dan cenderungl meningkat setiap tahunnya. Menurut Dinas Kesehatan Grobogan, yang terjangkit HIV-AIDS adalah ibu rumah tangga, PNS, dan dokter yang terinfeksi. Sebagian besar penderita ibu rumah tangga yang tidak menyadari virus tersebut masuk ke tubuhnya dan merusak sistem kekebalan tubuh. Biasanya yang membawa virus tersebut para suami yang bekerja di luar kota dan berhubungan badan dengan orang lain atau PSK (Pekerja Sex Komersial). Akan tetapi perencanaan penanggulanganl HIV-AIDSl masih berupal agenda kebijakanl dan exitl strategy.
Meskipunl telah mendapatkan dukungan, serta keterlibatan dengan stakeholderl dalam perumusanl penanggulangan danl program masihl kurang. Koordinasil antara lembaga lainnya tidak berjalan dengan mestinya, sehinggal program tidakl berjalan. Advokasil dinas kesehatanl dengan pimpinanl daerah llemah. Tenagal kesehatan yang kinerjanya mulai di evaluasi serta bupati yang baru menyadari tinggi kasus HIV-AIDS.
Kata Kunci: HIV-AIDS, Dinas Kesehatan, dan Grobogan.
Abstract
This research is a descriptive study with a qualitative approach. The goal is to describe how the local government's strategy planning in an effort to overcome HIV-AIDS cases in Grobogan Regency. HIV-AIDS is a dangerous infectious disease and a world health problem. Groboganl Regency isl one ofl the regencies inl Central lJava, withl the highest numberl 4 and newl cases ofl HIV-AIDSl number 2 inl Central lJava. The number 1 HIV cases are in Semarang City with 181 cases, Grobogan with 123 cases, and Blora with 87 cases. However, HIV-AIDS cases in Grobogan Regency are still relatively volatile and tend to increase every year. According to the Grobogan Health Office, those who contract HIV-AIDS are infected housewives, civil servants, and doctors. Most of the sufferers are housewives who are unaware of the virus entering their bodies and damaging the immune system. Usually those who carry the virus are husbands who
work outside the city and have sex with other people or prostitutes (Commercial Sex Workers).
However, lHIV-AIDSl prevention planning isl still inl the forml of al policy agendal and exitl strategy. Althoughl it has received support, as well as involvement with stakeholders inl the formulationl of countermeasures andl programs isl still llacking. Coordinationl between other agencies is notl working properly, sol the programl is notl running. Healthl department advocacyl with locall leaders isl weak. Healthl workers whose performance beganl to bel evaluated as well as regents who just realized the high number of HIV-AIDS cases.
Keywords: HIV-AIDS, Dinas Kesehatan, and Grobogan Pendahuluan
Hiv atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus berbahaya yang menyerang sel darah putih, yang dapat menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh menurun akibat dari infeksi virus tersebut yang dinamakan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) menurut Murni, Green, Djauzi, Setiyono, dan Okta (2014). Menurut Hawari (2017) orang yang terinfeksi Virus HIV-AIDS sangat rentan terkena beberapa penyakit, seperti infeksi oportunistik yaitu virus yang menyerang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Infeksi oportunistik akan menyebabkan TBC, diare, penyakit kulit, dan kanker.
Di Indonesia, kasus HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Provinsi Bali tahun 1987.
Hingga saat ini HIV-AIDS telah menyebar di 386 Kabupaten/Kota. Menurut Kementrian
lKesehatan, jumlahl orang denganl HIV yangl dilaporkan sampail dengan Maretl 2021 mencapail 427.201l orang. Sedangkanl kasus AIDSl sampai Maretl 2021 sebesar l131.147.
Sedangkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir angkanya cenderung fluktuatif, jumlah HIV cenderung naik, sedangkan AIDS mengalami penurunan sedikit. Menurut data Kememnterian Kesehatan,kasus tertinggi pada tahun 2019 di Indonesia terdapat 50 ribu kasus HIV. Sedangkan yang terinfeksi AIDS sebesar l7.000l orang.
Penyebab jauhnyal jarak antaral HIV danl AIDS disebabkan oleh prosesl peralihan infeksil HIV kel AIDS yang membutuhkanl waktu 5-10 tahun tanpa tindakanl medis sepertil minum obatl antiretrovil untukl mengendalikan jumlahl virus lHIV. Adapun data grafik sebagai berikut ini:
Grafik 1. Kasus HIV di Indonesia dalam 10 tahun terakhir
Sumber : Kementerian Kesehatan Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan datal Dinas Kesehatanl (lDinKes) lGrobogan, kasusl keseluruhan lHIV/AIDSl dari tahun 2002l ada l1.441l kasus denganl 360 kasusl meninggal ldunia. lArtinya, setiapl tahun lrata- ratal ada 40l orang yangl meninggal dil Grobogan karenal penyakit ltersebut. Hinggal bulan inil tercatat adal 58 lODHA. Daril total kasusl sejak 2002l ada l1.441l kasus, denganl 90 kasusl diderita
lanak-anak. Kasusl HIV/AIDSl ini menyebarl merata dil 19 lkecamatan,terutama kecamatan Grobogan menjadi penyumbang terbanyak. Paling tinggi di Purwodadi, Toroh, Wirosari, dan Penawangan.
Dinas Kesehatan juga menyatakan bahwa terdapat 380 orang penderita HIV yang meninggal dalam setiap tahun angkakasusnya cenderung naik, di sepanjang tahun 2022 hingga
akhir bulan Mei terdapat 50 orang kasus baru. Berbagai upaya pun telah dilakukan Dinkes Grobogan dengan pihak terkait.
Pada dasarnya Dinkes sadar bahwa bahwal upaya penanggulanganl HIV AIDSl perlu mendapatkanl dukungan yaitu sebagai berikut ini:
1. Adanya dukunganl dari pihakl legislative ataupun eksekutifl yang pada dasarnya merupakanl pengambilan keputusanl mengenai pengalokasianl anggaran setujul mendukung programl ini. Akan tetapi aturan peraturanl daerah belom diterbitkan sehingga implementasinya belom terlihat.
2. Selain itu dilakukan sosialisasi mengenai lHIV-AIDSl dan kesehatanl reproduksi , materil tentang setia kepada pasangan dengan keterkaitan agama dan pencegah penularan.
3. Dibentuknya KPADl selaku lembagal khusus yangl menangani upayal penanggulangan HIVl AIDS.
Sumber dana pennaggulangan dan pencegahan HIV AIDS berasal dari yaitu:
1. Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsil Jawa Tengahl 2. APBDl Kabupaten Groboganl
3. Danal Global
Programl penanggulangan lHIV-AIDSl terbagi menjadil upaya preventifl dan lpromotif, kuratifl dan lrehabilitatif. Padal renstra dinasl kesehatan inil dapat dilihatl bahwa targetl utama dalaml periode tahunl 2016-2021l dalam kaitannyal dengan HIVAIDS adalahl penemuan kasusl sedini lmungkin. Acuanl dalam kegiatanl salah satunyal adalah targetl SPM danl jalur cepatl TOP (lTemukan, Obatil dan lPertahankan) daril target nasionall untuk mencapail eliminasi lHIV-AIDSl pada tahunl 2030. Ketidakhadiranl pimpinan OPDl yang menjadil anggota KPADl dalam setiapl pertemuan yangl diadakan olehl KPAD menjadil hambatan dalaml membuat lkeputusan. Advokasil yang dilakukanl oleh dinasl kesehatan terakhirl di tahunl 2016 danl vakum dil tahun l2017-l2018.
Perencanan Strategi Penanggulangan HIV –AIDS Kabupaten Grobogan
Adapun Perencanaanl strategis penanggulanganl HIVAIDS tahunl 2016-2019l dibagi menjadil 2 yaitul yang masukl dalam agendal kebijakan danl exit strategyl dalam upayal penanggulangan lHIV-lAIDS. Agendal kebijakan tersebutl antara llain:
1. Strategil untuk Mencapail Target Pengendalianl HIV-AIDSl dan lPIMS, yangl terdiri daril Memperluas Aksesl Diagnosis lHIV, Meningkatkanl Cakupan lART, untukl mengurangi morbiditasl dan mortalitasl pada ODHAl serta memaksimalkanl dampak pengobatanl dan pencegahanl dengan lARV, Meningkatkanl Efektifitas ARTl dengan menjagal Kepatuhan
lberobat, denganl adanya Kartul Pasien beregisterl Nasional danl Ikhtisar lPerawatan, Meningkatkanl kualitas layananl dengan menguatkanl model Layananl Komprehensif
lBerkesinambungan;
2. Penguatanl Peran Koordinatorl Lintas lSektor 3. Pengutan tim peduli HIV AIDS
4. Advokasi peraturan daerah
5. Targetl Penanggulangan lHIV-AIDSl ada dil SPM danl Renstra lDinkes Perilaku Pencegahan HIV-AIDS Pada Kabupaten Grobogan
Perilaku pencegahan adalah perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana mereka berespons, baik melalui secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsikan penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut.
Perilaku pencegahan HIV/AIDS tersebut dapat dilakukan melalui pencegahan ysitu tidak menggunakan narkoba suntik. Kemudian terdapat juga pekerja sex komersial (PSK) yang masih bekerja meskipun telah dinyatakan positif HIV/AIDS, hal tersebut akan mengakibatkan buruk pada pelangganl yang nantinyal akan menularkannyal kepada yangl lain. Perilakul itu merupakanl fungsi daril niat seseorangl untuk bertindakl sehubungan denganl kesehatannya (behaviorl intention), adanyal dukungan sosiall dari masyarakatl sekitarnya (sociall support), adal atau tidaknyal informasi tentangl kesehatan ataul fasilitas kesehatanl (accessibilityl information), adanyal otonomi ataul kebebasan pribadil untuk mengambill keputusan (personall autonomy), danl adanya kondisil dan situasil yang memungkinkanl untuk bertindakl atau tidakl bertindak (actionl situation).
Upayal pencegahan danl penanggulangan HIVAIDS dibagil menjadi 3l jenis yaitul upaya promotifl dan lpreventif; lkuratif; danl rehabilitatif. Upayal promotif danl preventif secaral umum berbentukl kegiatan sosialisasil dan KIEl yang dilakukanl oleh lOPD-OPDl baik berupal kegiatan eksplisitl seperti yangl ada dil Dinas Kesehatanl dan jajarannyal (lRSU, lPuskesmas), lKPA,
DP3AKBl dan Kemenagl maupun secaral implisit dil DISPORABUDPAR, Dinasl Pendidikan,
lFKUB, danl stakeholder llainnya. Untukl upaya kuratifl dilakukan olehl Rumah Sakitl khususnya RSUDl Kabupaten lGrobogan. Upayal rehabilitatif dilakukanl oleh lfasyankes, LSMl dan KDSl berupa pendampinganl untuk terusl berobat, Dinasl Sosial dalaml bentuk danal sosial danl pelatihan/lmotivasi, DISNAKERTRANSl dalam bentukl pelatihan kerjal agar kehidupannyal dalam matal pencaharian lebihl baik, danl OPD lainnyal yang memilikil sumberdaya lrehabilitatif. Upayal pencegahan danl penanggulangan lHIV-AIDSl mulai diadopsil dan direncanakanl bahkan dianggarkanl oleh stakeholderl di luarl bidang lkesehatan, namunl kegiatan/programl mereka masihl berjalan masingmasing danl belum adal komunikasi maupunl program kerjal yang lintegratif.
Menurutl Murti (2006), dalaml tataran disiplinl ilmu, pembuatanl kebijakan, lperencanaan, penentuanl prioritas masalahl dan lintervensi, memerlukanl pendekatan lmultidisipliner. Vakumnyal advokasi dil tahun l2017/2018l karena pimpinanl dinas kesehatanl dan beberapal orang kuncil yang bergantil dan prioritasl pengambilan keputusanl untuk lHIV-AIDSl yang menurunl atau beluml dipahami benarl dampak yangl ditimbulkan olehl pimpinan dinasl yang lbaru.
Mobilisasil sumber dayal untuk penanggulanganl HIV-AIDSl berupa SDMl lebih dilakukanl oleh Dinasl Kesehatan danl RSUD. Sedangkanl mobilisasi anggaranl penanggulangan lHIV-AIDSl tidak hanyal dilakukan olehl bidang kesehatanl tetapi adal stakeholder sekunderl yang saatl ini dalaml proses pengajuanl anggaran untukl sosialisasi yaitul bidang pemudal dan olahragal DISPORABUDPAR. Menurutl Adisasmito (2007), pengembanganl SDM kesehatanl merupakan kegiatanl yang harusl dilaksanakan olehl instansi agarl pengetahuan (lknowledge), kemampuanl (lability), danl keterampilan (lskill) merekal sesuai denganl tuntutan pekerjaanl yang merekal lakukan. Menurutl Sari dan Lele (2017), naiknyal tren HIVAIDS karenal buruknya relasil yang terbangunl antar lStakeholders, baikl Stakeholders lkunci, Stakeholdersl primer danl Stakeholders
lsekunder. Buruknyal relasi yangl terbangun dil antara stakeholdersl juga dipengaruhil oleh powerl dan interestl dari lmasing-masingl stakeholders.
Berdasarkanl situasi yangl ada, perencanaanl strategis yangl dirangkum daril stakeholder yangl menjadi informanl dan jugal dokumen yangl ada yaitul berupa agendal kebijakan danl exit strategyl dalam upayal penanggulangan lHIV-lAIDS. Agendal kebijakan yangl ditemukan dalaml penelitian lebihl mengarah kepadal menggalang dukunganl tegas daril pimpinan daerahl dan mempersiapkanl fungsi koordinatorl penanggulangan lHIV-lAIDS. Exitl strategy pendanaanl
denganl dana desal sudah diajukanl di dalaml Musrenbang Groboganl tahun l2019. Apabilal dana desal ini memperolehl penetapan persetujuanl nantinya, makal meskipun alokasil anggaran semakinl berkurang dil Dinas lKesehatan, lkegiatan-kegiatanl yang terkaitl dengan upayal pencegahan danl penanggulangan lHIV-AIDSl masih tetapl dapat berjalanl bahkan menyentuhl ke lapisanl masyarakat yangl paling bawahl yaitu basisl desa sehinggal upaya yangl dilakukan harapannyal semakin tepatl sasaran. Selainl alokasi danal desa, upayal optimalisasi BOKl yang adal di puskesmasl juga akanl dikoordinasikan kembalil sehingga tidakl semua anggaranl upaya penanggulanganl HIV-AIDSl ditanggung olehl anggaran yangl ada dil Dinas lKesehatan.
Stigma Masyarakat Terhadap Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Kabupaten Grobogan Hambatan yang palingl besar dalaml pencegahan danl penanggulangan Humanl Imunnodeficiency lVirus/Acquiredl Immune Deficiencyl Syndrome (HIVl AIDS) dil Kabupaten Grobogan adalahl masih tingginyal stigma danl diskriminasi terhadapl orang denganl HIV/AIDSl (lODHA). Stigmal tersebut berasall dari pikiranl manusia lindividu/masyarakatl yang berpikir bahwal penyakit AIDSl merupakan penyakit amorall yang tidakl dapat diterimal oleh lmasyarakat.
Stigmal terhadap ODHAl terlihat dari sikapl sinisnya, ketakutanl yang akut, danl pengalaman yang buruk terhadapl ODHA. Banyakl masyarakat yangl berpikir bahwal orang yangl terkena lHIV- AIDSl layak mendaptkan karma akibatl dari perbuatannyal sendiri. Merekal juga menganggap bahwal ODHA orangl yang bertanggungl jawab terhadapl penularan lHIV/lAIDS. Hall inilah yangl menyebabkan orangl dengan infeksil HIV mendapatkan perlakuanl yang tidakl adil, ldiskriminasi, danl stigma karenal penyakit yangl diderita. Selain itu terdapat penolakan dalam berbagai lungkungan seperti lingkungan kerja, pendidikan, dan layanan masyarakat. Tingginya penolakan masyarakat dan lingkungan akan kehadiran orang yang terinfeksi HIV/AIDS menyebabkan sebagian ODHA harus hidup dengan menyembunyikan status.
Stigma terhadap ODHA memiliki dampak yang besar bagi program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS termasuk kualitas hidup ODHA. Masyarakat pun akan merasa takut dan was was dalam melakukan tes HIV AIDS, apalagi jika hasilnya reaktif akan mengakibatkan mereka dikucilkan. Orang yang terkena HIV akan merasa takut mengungkapkan status HIV dan memutuskan menunda untuk berobat apabila menderita sakit, yang akan berdampak pada semakin menurunnya tingkat kesehatan mereka dan penularan HIV tidak dapat dikontrol.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas minat dan kepentingan DINKES Kabupaten Grobogan dalaml upaya penanggulanganl HIV-AIDSl termasuk cukupl baik danl sangat mendukungl terhadap ODHA (Orang Dalaml HIV-AIDS). Peran dukungan lembaga laiinya pun juga sangat penting seperti Stakeholder namun untuk pelaksanaanl kebijakan daerahl belum berjalanl dengan baikl karenal kurangnya komunikasi para anggotal Stakholder. Stakeholderl sekunder sudahl mulai adal yang menganggarkanl untuk sosialisasil HIV-lAIDS. Mobilisasil sumber dayal manusia dalaml pelayanan mulail ditingkatkan muali daril tingkat lkecamatan. Untuk alokasil dana penanggulanganl HIV-AIDSl bersumber daril APBD Jawa Tengah, APBD Kabupatenl Grobogan.
Untuk alokasi dana APBD Groboganl terus mengalamil penurunan denganl belum adal dana ataupun lsolusi. Perencanaanl strategis pemerintahl daerah dalam upayal penanggulangan lHIV- AIDSl di Kabupatenl Grobogan masihl dalam kategori agendal kebijakan danl usulan exitl strategy.
Hall ini masihl membutuhkan prosesl dan pemikiranl lebih lanjutl untuk ldiimplementasikan. Untuk perilaku pencegahan HIVl AIDS dil Kabupaten Groboganl masih tergolong minim danl kurang sadar, karena masih banyak PSK yang tetap bekerja meskipun sudah dinyatakan terkena HIV AIDS.
Saran
1. Perlu ditingkatkan perencanaan strategi dalam penanggulangan HIV-AIDS di Kabupaten Grobogan
2. Mengajak lembaga lainnya dalam pembauran penanggulangan HIV AIDS supaya dapat meningkkatkan dana
3. Memberikan informasi mengenai HIV AIDS yang lengkap kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman yang dapat merubah persepsi mengenai ODHA.
Daftar Pustaka
Djoerban Z. Membidik AIDS: ikhtiar memahami HIV dan ODHA. Yogyakarta: Galang Press;
1999.
Lestari TRP. Kebijakan pengendalian HIV/AIDS di Denpasar. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2013; 8 (1): 45-48.
Carr RL, Gramling LF. Stigma: a health barrier for women with HIV/AIDS. Journal of the Association of Nurses in AIDS Care. 2004;15 (5): 30-9.
Hermawati P. Hubungan persepsi ODHA terhadap stigma HIV/AIDS masyarakat dengan interaksi sosial pada ODH [tesis]. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah;
2011.
Sutanto Priyo Hastono, 2001. Modul Analisis Data, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
Guma JA. Health workers stigmatise HIV and AIDS patients. South Sudan Medical Journal.
2011; 4: 92-3.
Shaluhiyah Z, Musthofa SB, W idjanarko B. Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV/AIDS. Kesmas Natl Public Heal J [Internet]. 2015 [cited 2017 Mar 14];9(4):333–9.
Sosodoro O, Emilia O, Wahyuni B. Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Stigma Orang dengan HIV/AIDS di kalangan Pelajar SMA. Ber Kedokt Masy [Internet]. 2012 Oktarina O, Hanaf i F, Budisuari MA. Hubungan Antara Kar akteris tik Res ponden, Keadaan
Wilayah Dengan Pengetahuan, Sikap Terhadap HIV/AIDS Pada Masyarakat Indonesia.
Bul Penelit Sist Kesehat [Internet]. 2009 [cited 2017 Mar 14];12(4).