• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI KUFU DALAM PERNIKAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "URGENSI KUFU DALAM PERNIKAHAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 132

URGENSI KUFU DALAM PERNIKAHAN

Solehuddin Harahap

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Tuanku Tambusai Pasir Pengaraian Email: [email protected]

Arisman

Dosen Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau Email: [email protected]

ABSTRAK

Dalam kitab Mausuah al Fiqi‟ah dijelaskan kufu dalam arti bahasa adalah

ةاواسملاو تلثامملا

yang artinya sama atau setara, Sedangkan menurut istilah pengertian Kufu itu berbeda-beda sesuai dengan pembahasannya seperti pembahasan kisos, melahirkan dan nikah. Sedangkan pengertian kufu dalam pernikahan menurut Imam Hanafi adalah:

لجرلا نيب تصىصخم ةاواسم ةأرملاو

yaitu Kesetaraan khusus yang sudah ditentukan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. menurut Imam Hanafi bahwasanya wajib menikahkan perempuan yang sudah setara (kufu) dan haram bagi wali perempuan jika menikahkan perempuan yang tidak kufu . Kata Kunci: Kufu, Pernikahan

A. PENDAHULUAN

Menikah salah satu sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Sejak dahulu hingga saat sekarang ini pernikahan tetap dilakukan oleh manusia. Apabila seorang lelaki merasa cocok untuk mengarungi kehidupan bersama dengan seorang perempuan yang dicintainya maka pernikahan adalah solusinya. Pernikahan terjemah dari kata nakaha, zawaja, az-jauz merupakan salah satu bentuk khas percampuran antar golongan, dan diartikan sebagai pasangan dengan lainnya. Azzaujah artinya wanita pasangan laki-laki dan az-jauz artinya pasangan wanita atau biasa disebut dengan suami.1 Namun sebelum pelaksanaan pernikahan ada beberapa hal yang harus diketahui dan dipertimbangkan oleh dua pasangan sehingga kehidupan keluarganya dapat bahagia dan diridoi Allah SWT. Karena tujuan pernikahan dalam Islam sudah diatur oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur‟an ditemukan ayat-ayat yang menerangkan tujuan pernikahan seperti di bawah ini :









































1Mahmud Al-sabagh, Tuntunan Hidup Bahagia Menurut Islam, alih bahasa Burhanuddin Fahruddin (Bandung:Rosdakarya, 1993), cet ke 3, hlm 1.

(2)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 133

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri- isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Qs. Ar- Ruum: 21).2

Ayat di atas dijelaskan dalam tafsir al-Qurtubi bahwa pada dasarnya Allah swt telah menciptakan perempuan sebagai istri bagi laki-laki karena itu dapat menenteramkan antara sesamanya. Dan jalan untuk mendapatkan itu adalah melaksanakan pernikahan antara laki- laki dan perempuan sesuai dengan ajaran Islam. Pelaksananaan pernikahan yang didasari dengan ke Imanan akan menimbulkan kasih sayang dan saling cinta mencintai. Kesemuaan ini adalah sebagi tanda kebesaran dan kemuliaan Allah Swt.3 Selain dari ayat yang menerangkan tujuan dari pernikahan di atas, Allah juga sudah menjelaskan beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pernikahan sehingga tujuan dari pernikahan itu dapat tercapai diantaranya adalah kufu (keserasian) antara dua pasangan tersebut yaitu si laki-laki terhadap si perempuan.

Kufu adalah peristiwa penting yang harus dilakukan seorang muslim yang hendak melakukan pernikahan. Banyak di antara muslim saat ini, yang belum mengetahuinya sehingga mereka berpikir bahwa pernikahan hanya sebatas setujunya kedua belah pihak, yaitu calon suami dan istri untuk saling mencintai dan membina rumah tangga. Begitu juga dengan pandangan muslim sekarang ini yang mengira bahwa pernikahan hanya ilmu praktek yang tidaklah harus dipenuhi oleh teori-teori yang mengikat sehingga menyusahkan praktek pernikahan itu sendiri. Firman Allah SWT di dalam Al-Qur‟an :













































Artinya: Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. (Qs. Al-Nahl: 71).4 Dalam Tafsir al-Misbah ayat di atas menjelaskan, bahwa manusia memiliki kelebihan fisik, atau berusia muda lagi tidak berpengetahuan, kendati Allah yang menganugrahkan rezeki itu dan membagi-bagikannya sesuai dengan kebijaksanaannya, namun Allah

2Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Semarang: Kumus dasmono Grapindo, 1994), cet ke -4, hlm. 664

3Syekh Imam Al-Qurtubi. Terjemahan Tafsir Al- Qurtubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 1996), cet ke- 1 hlm.

226.

4Ibid, hlm. 340

(3)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 134

memerintahkan agar saling membagi kepada hamba sahayanya agar sama-sama merasakan rezeki itu. Namun sebagian manusia mengingkarinya.5 Pada dasarnya Islam menyatakan adanya persamaan hak dan kewajiban pada manusia. Tetapi dalam konteks pergaulan kemasyarakatan sehari-hari, dalil al-Qur‟an seperti yang di atas juga mengakui adanya kelebihan sesosok pribadi seseorang dibandingkan dengan yang lainnya, baik dalam hal kekayaan maupun kualitas keilmuan dan yang lainya. Ini berarti bahwa teks al-Qur‟an juga mengakui realitas sosial yang memperlihatkan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat sebagai suatu hal yang manusiawi. Namun diperintahkan tetap berbagi dengan sesama manusia. Di ayat lain Allah juga berfirman:



















Artinya: Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Qs. Ar-Rum:

87).6

Dalam tafsir al-Qurtubi ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia itu mempunyai perbedaan baik dalam keturunan atau suku,akan tetapi ketaqwaan adalah sebagai tolak ukur dihadapan Allah, namun diantara para Nabi dan Rasul adalah hamba pilhan Allah Swt yang diutus kemuka bumi ini.7 Keturunan para Nabi, (khususnya keturunan Nabi Muhammad Shallallaahu „Alaihi Wasallam), dengan keturunan lainnya terdapat perbedaan derajat keutamaan dan kemuliaan, hal ini didasari oleh sabda Rasulullah Shallallaahu „alaihi Wa Sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi berasal dari Sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab :

َعْىا َءبَج َهبَق َخَعاَد َٗ يِثَأ ِِْث ِتِيهطَُْىا َِْع ِس ِسبَحْىا ِِْث ِ هاللَّ ِذْجَع َِْع ُ هاللَّ ىهيَص ِ هاللَّ ِهُ٘سَس ىَىِإ ُسبهج

َهبَقَف ِشَجَِْْْىا ىَيَع ٌَهيَس َٗ ِْٔيَيَع ُ هاللَّ ىهيَص ُّيِجهْىا ًَبَقَف بًئْيَش َعََِس ُٔهَّأَنَف ٌَهيَس َٗ ِْٔيَيَع اُ٘ىبَقَف بََّأ ٍَِْ

ُذهََحٍُ بََّأ َهبَق ًُ َلَهسىا َلْيَيَع ِ هاللَّ ُهُ٘سَس َذَّْأ َقْيَخْىا َقَيَخ َ هاللَّ هُِإ ِتِيهطَُْىا ِذْجَع ِِْث ِ هاللَّ ِذْجَع ُِْث

ِئبَجَق ٌَُْٖيَعَج هٌُص ًخَق ْشِف ٌِْٕ ِشْيَخ يِف يَِْيَعَجَف ِِْيَزَق ْشِف ٌَُْٖيَعَج هٌُص ًخَق ْشِف ٌِْٕ ِشْيَخ يِف يَِْيَعَجَف يَِْيَعَجَف َو

َُٖيَعَج هٌُص ًخَييِجَق ٌِْٕ ِشْيَخ يِف بًجَسَّ ٌِْٕ ِشْيَخ َٗ بًزْيَث ٌِْٕ ِشْيَخ يِف يَِْيَعَجَف بًرُ٘يُث ٌْ

Artinya: Dari Al Muththalib bin Abu Wada'ah ia berkata; Al Abbas datang kepada Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam seolah-olah beliau mendengar sesuatu. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di atas mimbar dan berkata; siapakah aku?

Mereka berkata; anda adalah Rasulullah. Semoga keselamatan terlimpahkan

5M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2004), cet ke- 4, hlm. 287-288

6Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Op. Cit., hlm. 220

7Syekh Imam al-Qurthubi, Op Cit., hlm. 337

(4)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 135

kepadamu. Beliau berkata: "Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, dan menjadikanku berada ditengah-tengah kelompok terbaiknya, kemudian Allah menjadikan kelompok tersebut menjadi dua, dan menjadikanku ditengah-tengah kelompok terbaiknya, kemudian Allah menjadikan mereka beberapa kabilah dan menjadikanku ditengah- tengah kabilah terbaiknya, kemudian menjadikan mereka berumah-rumah dan menjadikanku ditengah-tengah rumah terbaiknya, serta orang yang terbaik nasabnya.8

Salah satu cara untuk mencari pasangan yang baik adalah masalah kufu atau kafaah diantara kedua mempelai. Kufu berasal dari bahasa arab yang artinya adalah sama atau setara.

Kata ini merupakan kata yang terpakai dalam bahasa arab dan terdapat dalam al-Qur‟an dengan arti “sama” atau setara. Kata kufu dalam pernikahan mengandung arti bahwa laki-laki harus sama atau setara dengan perempuan yang akan dinikahinya. Sifat kufu mengandung arti sifat yang terdapat pada perempuan yang dalam pernikahan sifat tersebut diperhitungkan harus ada pada laki-laki yang mengawininya.9 Dengan demikian maksud dari kufu dalam pernikahan ialah persesuaian keadaan antara si laki-laki dengan perempuannya, sama kedudukannya. Laki-laki seimbang dengan perempuannya di masyarakat, sama baik akhlaknya dan kekayaannya. Persamaan kedudukan suami dan isteri akan membawa kearah rumah tangga yang sejahtera, terhindar dari ketidak beruntungan. Demikian gambaran yang diberikan oleh kebanyakan ahli fiqh tentang kufu.

Menurut penyusun permasalahan kufu dalam sebuah ikatan pernikahan bukanlah persoalan yang ringan. Pernikahan itu sendiri tidak hanya sebatas hubungan dua orang yang berlainan jenis saja, akan tetapi dampaknya sikap dan tujuan hidup di dunia dan akhirat. Di samping itu, pernikahan juga menjadi cikal bakal terciptanya kehidupan yang harmonis dalam masyarakat dan sekaligus menjadi sarana terbentuknya generasi yang salih dan salihah.

Kehidupan masyarakat sendiri sangat beragam terkadang kebaikan bisa saja bercampur dengan keburukan.

Permasalahan kufu dalam pernikahan adalah alat atau sarana untuk menyaring dan sebagai bahan pertimbangan agar mendapatkan pasangan hidup yang berkualitas baik fisik, mental dan spritual. Islam adalah agama yang fitrah yang condong kepada kebenaran. Islam tidak membuat aturan tentang kufu. Maka dari itulah pembicaraan mengenai kufu menjadi pembicaraan dikalangan ulama, karena tidak ada dalil al-Qur‟an yang mengaturnya dengan

8Abu Isya Muhammad bin Isya bin Syurrah, Kutubu, Sunan Tirmidzi 3455, (Riyadh: Maktabah Al- Muaarrafah, 1823), hlm, 545. Abu Muhammad, Negeri semasa hidup : Madinah, Wafat: 84 H. Menurut Abu Isya Hadit‟s ini hasan.

9Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), cet ke-1, hlm. 141

(5)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 136

jelas dan spesifik. Dari apa yang telah dijelaskan di atas penulis tertarik untuk menulis sebuah jurnal yang berjudul : “Urgensi Kufu Dalam Pernikahan.

B. KAJIAN PUSTAKA

Dalam kitab Mausuah al Fiqi’ah dijelaskan kufu dalam arti bahasa adalah

تلثامملا ةاواسملاو

yang artinya sama atau setara.10 Sedangkan menurut istilah pengertian Kufu itu berbeda-beda sesuai dengan pembahasannya seperti pembahasan kisos, melahirkan dan nikah.

Sedangkan pengertian kufu dalam pernikahan menurut Imam Hanafi adalah:

تصىصخم ةاواسم ةأرملاو لجرلا نيب

yaitu Kesetaraan khusus yang sudah ditentukan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. menurut Imam Hanafi bahwasanya wajib menikahkan perempuan yang sudah setara (kufu) dan haram bagi wali perempuan jika menikahkan perempuan yang tidak kufu. Sedangkan menurut Imam Syafi‟i adalah:

همدع بجىي رمأ اهنأب اراع

artinya: bahwasanya kufu’ itu adalah sebuah perintah yang wajib tanpa adanya aib.

Imam Syafi‟i juga mengatakan bahwa kalaulah ada paksaan supaya setara (kufu), ayah atau kakek dari perempuan itu menginginkannya maka sifatnya sebagai nasehat karena itu merupakan penyempurnaan pandangan perempuan tersebut, dan hal yang demikian sesuatu hal yang lazim bagi perempuan sebagai jalan untuk memilihnya dengan baik, adapun jika tidak ada sesuatu hal yang memaksa maka hal yang demikian tidak menjadi sesuatu yang penting sebagaimana pendapat kedua ulama yang sudah berpendapat sebelumnya11. Dan Imam Syafi‟i berpendapat bahwa kufu bukan menjadi syarat syahnya sebuah pernikahan akan tetapi hanya sebagai syarat lajim saja karena pernikahan yang sah adalah sebuah hak dan para walinya.12

Dalam kitab Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq dijelaskan Kufu secara etimologi artinya sama, sesuai dan sebanding. Sehingga yang dimaksud kufu dalam pernikahan adalah kesamaan antara calon suami terhadap calon isteri, sama dalam kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sama dalam akhlak dan kekayaan.13 Sedangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin syarah Fathu Al-Mui’n Abu bakar ad-Dimyati membahas menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kafa’ah atau keseimbangan adalah sesuatu hal yang penting dalam pernikahan karena untuk menghindari adanya kecacatan dan kemadhoratan dalam rumah tangga, itu semua demi

10 Wajaratu al-wauqofi wa as-saun al-islamiyah al-Kuwait, Mausuah al-Fiqiyah, (Kuwait: Daar al- afwah:,199/1416H), cet ke I, hlm.266

11 Imam Maliki dan Syafi‟i.

12 Ibid, hlm,268

13Sayyid Sabiq, Fiqhus sunnah jilid 7,terjemahan Muhammad Thalib, (Bandung: Al Maarif, 1981), cet ke I, hlm. 36.

(6)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 137

terciptanya keluarga yang bahgia. Tetapi kafa’ah menurutnya bukan merupakan syarat syah dalam akad nikah, namun hanya sebagai syarat lazim. Kafa’ah dalam arti bahasa Abu bakar mengambil kata dari at-tasawa dan at-ta;adul yaitu kesamaan atau kesetaraan karena pernikahan dapat berlangsung atas kemauan perempuan.14

Namun para Imam Madzhab berbeda pendapat dalam memberi pengertian kufu dalam pernikahan. Perbedaan ini terkait dengan perbedaan ukuran kufu yang mereka gunakan.

Menurut Imam Hanafi, kufu adalah persamaan laki-laki dengan perempuan dalam nasab, Islam, pekerjaan, merdeka, nilai ketakwaan dan harta.15 Dan menurut ulama Malikiyah, kufu adalah persamaan laki-laki dengan perempuan dalam agama dan selamat dari cacat yang memperoleh seorang perempuan untuk melakukan khiyar terhadap suami.16 Sedangkan menurut Imam Syafi‟i, kufu adalah persamaan suami dengan isteri dalam kesempurnaan atau kekurangannya baik dalam hal agama, nasab, merdeka, pekerjaan dan selamat dari cacat yang memperbolehkan seorang perempuan untuk melakukan khiyar terhadap suami, dan tidak pada harta.17

Dan menurut Ulama Hanabilah, kufu adalah persamaan suami dengan isteri dalam nilai ketakwaan, pekerjaan, harta, merdeka, dan nasab.18 Meskipun masalah keseimbangan itu tidak diatur dalam Undang-Undang Perkawinan atau dalam Al-Qur‟an, akan tetapi masalah tersebut sangat penting untuk mewujudkan suatu rumah tangga yang harmonis dan tentram, sesuai dengan tujuan pernikahan itu sendiri, yaitu ingin mewujudkan suatu keluarga yang bahagia berdasarkan cinta dan kasih sayang sehingga masalah keseimbangan dalam perkawinan ini perlu diperhatikan demi mewujudkan tujuan pernikahan.19 Dari definisi yang telah diterangkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kufu merupakan keseimbangan atau kesepadanan antara calon suami dan isteri dalam hal-hal tertentu, yaitu agama, nasab, pekerjaan, merdeka dan harta. Sedangkan Nabi Muhammad SAW. memberikan ajaran mengenai ukuran-ukuran kufu’ dalam perkawinan agar mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga berdasarkan hadits Nabi SAW :

14 Abu Bakr ad-Dimyati, Ianah at-Thalibin, (Beirut: Daar Fikri,tt), juz III, hlm. 330.

15Abdurrahman Al-Jaziri, Kitab Al-Fiqh ‘Al Mazahib Al-Arba’ah, Juz 4, (Bairut: Daar al-Fikr, 1969), hlm.

53.

16Ibid, hlm. 56-57.

17 Wahbah, Zuhaily, Al-fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu Juz 9, (Damaskus: Daar al-Fikri, 1988) juz VII, cet ke III, hlm. 229.

18 Sayyid Sabiq, 0p.cit, hlm. 255.

19Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqh Muslimah diterjemahkan oleh Zaid Husein Al-Hamid, (Jakarta:

Pustaka Amani, 1994), cet ke 1, hlm. 267-268.

(7)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 138

َِل ُحَأ ْشََْىا ُحَنُْْر َهبَق ٌَهيَس َٗ ِْٔيَيَع ُ هاللَّ ىهيَص ِ ّيِجهْىا َِْع َُْْٔع ُ هاللَّ َي ِضَس َحَشْيَشُٕ يِثَأ َِْع بَِٖىبََِى ٍعَث ْس

ِث ْشَفْظبَف بَِْٖيِذِى َٗ بَِٖىبَََج َٗ بَِٖجَسَحِى َٗ

َكاَذَي ْذَث ِشَر ِِيِّذىا ِداَز .

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Abu Sa'id dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.20

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa jika seorang laki-laki akan menikahi seorang perempuan, maka ia harus memperhatikan empat perkara yaitu hartanya, derajatnya (nasabnya), kecantikannya, dan agamanya. Namun Nabi SAW. sangat menekankan faktor agama untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih pasangan.

C. METODE PENELITIAN

Adapun bentuk penelitian yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah penelitian kepustakaan (Library Researc), yakni dengan membaca dan menalaah buku-buku serta tulisan yang ada kaitannya dengan kufu dan permasalahannya. Karena penelitian ini adalah kajian kepustakaan, maka sumber datanya adalah pendapat atau pemikiran dari kedua tokoh mujtahid Imam Abu hanifah dan Imam Syafi‟i yang ada di beberapa buku yang dinamakan sumber primer, di antaranya: Kitab ‘al-Umm” karangan Imam Abi Abdillah Muhammad Bin Idris al-Syafi‟i, Penerbit Beirut: Darr fikr tt, sarah kitab fathul Muin atau Kitab ia’nah at- thalibiin, dan kitab al-Mabsut karya Syamsuddin as-Sarakhsi yang berkenaan dengan konsep kufu dalam pernikahan serta pembahasan tentang nikah. Sedangkan sumber data bantu atau tambahan (sekunder) adalah kajian-kajian yang membahas masalah yang ada hubungannya dengan pokok bahasan. Di antaranya:al-Fiqh ala Mazahibil khomsah karya Muhammad Jawad Mughniyah. al-Fiqh Ala Mazahibil Arba’ah karya Abdurrahman Al-Jazir, Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, fiqh munakahat dan buku- buku kajian tentang fiqh sebagai sumber hukum Islam serta juga situs internet.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam al-Qur‟an tidak disebutkan secara jelas tentang konsep kufu dalam pernikahan.

Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah kufu penting dalam sebuah pernikahan atau tidak. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kufu tidak penting dalam sebuah

20Imam Bukhari, Sunan Bukhari Nikah, Bab : Sekufu dalam agama, No. Hadist: 4700, (Riyadh: Maktabah Al-Muaarrafah, 1823), hlm, 876. Beliau berpendapat Hadit‟s ini adalah sahih.

(8)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 139

pernikahan, menurutnya antara orang Islam yang satu dengan orang Islam yang lainnya adalah sama (sekufu’). Semua orang Islam asalkan dia tidak pernah berzina, maka ia berhak kawin dengan semua wanita muslimah yang tidak pernah berzina.21 Berdasarkan firman Allah SWT Qs. Al-Hujurat 10 :





















Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Qs. Al-Hujurat: 10).22

Begitu juga dengan al-Hasan al-Basri, as-Sauri, dan al-Karkhi berpendapat bahwa kufu bukanlah faktor penting dalam pernikahan dan tidak termasuk syarat sah atau syarat lazim perkawinan. Menurut mereka, ketidak kufu‟an calon suami dan calon isteri tidak menjadikan penghalang kelangsungan perkawinan tersebut.23 Alasan-alasan mereka berdasarkan firman Allah SWT:









































Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al-Hujarat: 13).24 Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa semua manusia sama dalam hak dan kewajiban, tidak ada keistimewaan antara yang satu dengan lainnya kecuali dengan takwa.

Dan mereka juga menyatakan bahwa penghormatan dan penghargaan terhadap darah seseorang dalam hukum pidana ialah sama saja. Jika yang membunuh adalah orang yang terhormat dan yang dibunuh adalah orang jelata, maka hukuman qishash tetap dijalankan. Jika kekufu‟an tidak diterapkan dalam hukum pidana Islam, maka begitu pula ketentuan dalam perkawinan seharusnya tidak diterapkan.25 Sedangkan jumhur fuqaha, diantaranya adalah ulama empat madzhab berpendapat bahwa kufu sangat penting dalam perkawinan meskipun

21 Ibn Hazm, Al-Muhalla’ (Beirut: Daar al-Fikr, t.t.), VII: 124

22 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 846

23 Wahbah Al-Zuhaily, Op. Cit, hlm. 231.

24Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan Terjemahannya, hlm. 672.

25 Wahbah al- Zuhaily, Op.Cit. hlm. 236.

(9)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 140

kufu bukan merupakan syarat sah suatu perkawinan dan hanya merupakan syarat lazim suatu perkawinan. Mereka mengemukakan dalil berdasarkan hadits Rasulullah dan akal (rasio).26

Adapun secara rasio mereka berpendapat bahwa kehidupan rumah tangga sepasang suami isteri akan bahagia dan harmonis jika ada ke kufu’an antara keduanya kufu diukur dari pihak perempuan bukan dari pihak laki-laki, karena biasanya pihak perempuan yang mempunyai derajat tinggi akan merasa terhina bila menikah dengan laki-laki yang berderajat rendah.

Berbeda dengan laki-laki, ia tidak akan merasa hina bila ia menikah dengan perempuan yang berderajat rendah darinya.27 Apabila seorang perempuan yang berderajat tinggi menikah dengan laki-laki yang lebih rendah derajatnya, berdasarkan adat kebiasaan, si isteri akan merasa malu dan hina dan si suami seharusnya menjadi kepala rumah tangga yang dihormati akan menjadi rendah dan merasa kurang pantas berdiri sejajar dengan si isteri, dan pada akhirnya, keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga yang merupakan tujuan utama perkawinan tidak akan tercapai.

Namun dikalangan ulama Hanafiyah terdapat perbedaan pendapat tentang kedudukan kufu dalam perkawinan. Mereka mengatakan bahwa kufu merupakan syarat wajib untuk kelangsungan pernikahan. Tetapi menurut ulama Hanafiyah muta‟akhirin, kufu menjadi syarat sah perkawinan dalam kondisi-kondisi tertentu, yaitu:

1. Apabila seorang perempuan baligh berakal menikahkan dirinya sendiri dengan seorang laki-laki yang tidak sekufu‟ atau dalam perkawinan itu terdapat unsur penipuan, maka dalam hal ini wali dari kelompok ashabah seperti ayah dan kakek berhak untuk tidak menyetujui perkawinan sebelum terjadinya akad.

2. Apabila seorang wanita yang tidak cakap bertindak hukum, seperti anak kecil atau orang gila, dinikahkan oleh walinya selain ayah atau kakek dengan orang yang tidak sekufu‟, maka perkawinan itu fasiq karena tugas wali terkait dengan kemaslahatan anak perempuan tersebut, menikahkan anak perempuan itu dengan orang yang tidak sekufu‟ dipandang tidak mengundang kemaslahatan sama sekali.

3. Apabila seorang ayah dikenal sebagai orang yang pilihannya selalu buruk, menikahkan anak perempuan yang belum atau tidak cakap bertindak hukum dengan seorang yang tidak sekufu’ maka pernikahannya menjadi batal.28

26Ibid, hlm. 237.

27 Sayyid sabiq . Op.Cit, hlm. 140.

28 Ibid, hlm. 145.

(10)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 141

Dalam hukum perkawinan Islam, para ulama mempunyai prespektif tersendiri tentang konsep agama, seperti terjaganya seorang dari perbuatan keji serta tetap konsisten dalam menegakkan hukum-hukum agama. Agama dalam hal ini dimaksudkan sebagai ketidakfasikan. Dalam hal ini ulama sepakat bahwa seorang laki-laki yang fasiq tidak sekufu‟

dengan perempuan yang shalihah. Rasulullah SAW. bersabda :

َُ َْ٘ض ْشَر ٍَِْ ٌُْمَءبَج اَرِإ ٌَهيَس َٗ ِْٔيَيَع ُ هاللَّ ىهيَص ِ هاللَّ ُهُ٘سَس َهبَق َهبَق ِ ّيَِّزَُْىا ٌٍِربَح يِثَأ َِْع َُْٔيِد

ِإ ُُٓ٘حِنَّْأَف َُٔقُيُخ َٗ

َهبَق ِٔيِف َُبَم ُِْإ َٗ ِ هاللَّ َهُ٘سَس بَي اُ٘ىبَق ٌدبَسَف َٗ ِض ْسَ ْلا يِف ٌخَْْزِف ُِْنَر اُ٘يَعْفَر هلَّ

ٌَِسَح ٌشيِذَح اَزَٕ ىَسيِع ُ٘ثَأ َهبَق ٍداهشٍَ َس َلََص ُُٓ٘حِنَّْأَف َُٔقُيُخ َٗ َُْٔيِد َُ َْ٘ض ْشَر ٍَِْ ٌُْمَءبَج اَرِإ ا ٌٍِربَح ُ٘ثَأ َٗ ٌتي ِشَغ اَزَٕ َشْيَغ ٌَهيَس َٗ ِْٔيَيَع ُ هاللَّ ىهيَص ِ ّيِجهْىا َِْع َُٔى ُف ِشْعَّ َلَّ َٗ ٌخَجْحُص َُٔى ُّيَِّزَُْى

ِشيِذَحْىا .

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amr bin As Sawwaq Al Balkhi, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Abdullah bin Muslim bin Hurmuz dari Muhammad dan Sa'id anak laki-laki 'Ubaid, dari Abu Hatim Al Muzani berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedang kalian ridha pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan." Para shahabat bertanya; "Meskipun dia tidak kaya." Beliau bersabda: "Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian ridha pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia."29

Hadits di atas ditujukan kepada para wali agar mengawinkan perempuan perempuan yang diwakilinya dengan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Bila mereka tidak mau mengawinkan dengan laki-laki yang berakhlak luhur, tetapi memilih laki-laki yang berkedudukan tinggi atau keturunan mulia atau yang berharta, maka dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan bagi perempuan tersebut dan walinya. Dalam Al-Qur‟an surat As- Sajadah ayat 18, Allah SWT berfirman :

















Artinya: Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? mereka tidak sama. (Qs. As-Sajadah: 18).30

Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang muslim yang shaleh sekufu‟ dengan muslimah shalihah. Dan seorang muslim yang shaleh tidak sekufu dengan seorang yang fasiq. Dan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 54 yang berbunyi :

29Abu Isya Muhammad bin Isya bin Syurrah, Sunan Tirmidzi, kitab nikah, 1005, (Riyadh: Maktabah Al- Muaarrafah, 1823), hlm, 751. Ini merupakan hadits gharib. Abu Hatim Al Muzani adalah seorang sahabat, namun tidak kami ketahui dia meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selain hadits ini."

30 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, hlm. 662

(11)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 142

























Artinya: Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Qs. Al- Furqan: 54).31

Dari ayat al-Qur‟an di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kedudukan manusia itu sama di hadapan Allah, yang satu dengan yang lain tidak ada bedanya, sama-sama terbuat dari air mani. Kemudian Rasulullah susul ajaran persamaan manusia itu dengan perintahnya kepada Abu Huzaifah untuk menikahkan Salim dengan anak perempuan saudaranya yang bernama Hindun binti Al-Walid bin Utbah bin Rabi‟ah (bangsawan). Padahal Saim itu adalah hamba sahaya seorang perempuan Anshar.32

Jumhur ulama (Hanafiyah, Syafi‟iyah, dan Hanabilah) selain Malikiyah berpendapat bahwa nasab merupakan salah satu hal yang paling penting dan masuk dalam kafa’ah„, karena ada beberapa alasan mendasar yang mengilhami mereka, seperti banyaknya orang Islam, khususnya orang muslim arab yang sangat fanatik dalam menjaga keturunan dan golongan mereka. Alasan mereka memasukkan nasab dalam kafa’ah‘ berdasarkan hadits Nabi SAW:

ُهُ٘سَس َهبَق : ٍهبَق ِشََُع ِِْثِا َِِع ٍضْعَجِى ٌُُْٖضْعَث ُة ْشُعْىا : ٌُهيَس َٗ ٔيَيَع ِالله ِّو ِص ِالله

ءافكا

اًماَّجَح وا اكئاحلاا . ٍضْعَبِل ءافكا ْمُهُضْعَب يِلا َىُمْلا َو

Artinya: Dari Ibnu Umar bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW. Bersabda : ”Orang arab satu dengan lainnya sekufu‟. Satu kabilah sekufu‟ dengan kabilah yang sama, satu kelompok sekufu‟ dengan kampung yag sama, antara sesama laki-laki diantara sekufu‟ kecuali tukang jahit atau bekam.33

Maksud dari hadits di atas adalah bahwa orang arab sepadan dengan orang arab, orang arab tidak sekufu’ dengan selain orang arab, kabilah yang satu sekufu‟ dengan kabilahnya, bekas budak sekufu‟ dengan bekas budak. Jadi seseorang yang dianggap sekufu‟ jika ia dari golongan yang sama. Menurut ulama Hanafiyah, nasab (keturunan) dalam kafa’ah„ hanya dikhususkan pada orang-orang arab. Dengan demikian suami dengan isteri harus sama kabilahnya. Jika seorang suami dari bangsa Quraisy, maka nasabnya sebanding dengan perempuan yang berasal dari bangsa Quraisy. Dari sini diketahui bahwa laki-laki selain bangsa arab tidak sebanding dengan perempuan Quraisy dan perempuan arab. Orang arab yang bukan dari kabilah Quraisy tidak sebanding dengan perempuan Quraisy.

31 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 567

32 Al-Son„ani, Subulus Salam, Terjemah oleh Abu Bakar Muhammad, hlm. 466

33 Baihaqi, Sunan baihaqi, jilid VII, hlm. 217. Zailai bekata,” hadit‟s ini diriwayatkan oleh Hakim. Dan penulis at-Tahqih mengatakan bahwa hadits ini munqathi‟ (terputus sanadnya) karena syuja‟ bin walid tidak menyebutkan sebagian sahabatnya.” (Nashbur-Rayah, jilid III, hlm. 249)

(12)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 143

Adapun menurut ulama Syafi‟iyah, orang arab sebanding dengan Quraisy lainnya kecuali dari Bani Hasyim dan Muthalib karena tidak ada orang Quraisy yang sebanding dengan mereka (Bani Hasyim dan Bani Muthalib). Dan yang menjadi pertimbangan dalam hal nasab adalah bapak. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa golongan Quraisy sebanding dengan Bani Hasyim.34 Golongan Malikiyah berpendapat seperti yang dijelaskan dalam kitab

”Al-Fiqh Islam Wa Adillatuhu” bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan antara satu golongan dengan dengan golongan yang lain, bagi orang arab maupun non-arab yang terpenting bagi golongan Malikiyah adalah keimanan dan ketakwaan seseorang terhadap Allah SWT.35

Yang dimaksud merdeka di sini adalah bukan budak (hamba sahaya). Jumhur ulama selain Malikiyah memasukkan merdeka dalam kafa‟ah„ berdasarkan Al-Qur‟an surat an-Nahl ayat 75 :























































Artinya: Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang kami beri rezki yang baik dari kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu sama? segala puji Hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Qs. An-Nahl: 75).36

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa seorang budak dimiliki oleh tuannya dan dia tidak dapat melakukan sesuatu pun termasuk menafkahkan hartanya sesuai dengan keinginannya kecuali atas perintah tuannya. Akan tetapi orang merdeka bebas melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya tanpa menunggu perintah dari siapapun. Jadi, budak laki-laki tidak kufu’

dengan perempuan merdeka. Budak laki-laki yang sudah merdeka tidak kufu‟ dengan perempuan yang merdeka sejak asalnya. Laki-laki yang salah seorang neneknya pernah menjadi budak. Hal ini karena perempuan merdeka bila ia dikawini oleh laki-laki yang salah seorang neneknya pernah menjadi budak.37

Yang dimaksud dengan harta adalah kemampuan seseorang atau calon suami untuk memberikan mahar dan nafkah kepada isterinya. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, harta merupakan hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga sehingga harta dianggap penting untuk dimasukkan dalam kriteria kufu.

34 Al-Gamrawi, As-Sirad al-Wahhaj (Libanon: Daar al-Ma‟rifah, t.t.), hlm. 359

35M. Baqir al-Hasbi, Fiqih Praktis, hlm. 49-50

36Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, hlm. 413

37Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Jilid 3, Terjemah oleh Nur Hasanuddin, hlm. 46

(13)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 144

Ulama Hanafiyah dan Hanabilah mengatakan bahwa yang dianggap sekufu’ adalah apabila seorang laki-laki sanggup membayar mahar dan nafkah kepada isterinya. Apabila tidak sanggup membayar mahar dan nafkah atau salah satu diantara keduanya, maka dianggap tidak sekufu‟. Menurut Abu Yusuf salah satu sahabat Abu Hanifah yang dianggap sekufu

dalam harta adalah kesanggupan memberi nafkah bukan membayar mahar. Sebab ukuran yang mudah dilakukan dan kemampuan seseorang untuk memberi nafkah itu tidak dapat dilihat dari keadaan bapaknya.38 Adapun ulama Malikiyah dan sebagian ulama Syafi‟iyah menentang penggolongan harta dalam kriteria kufu. Menurut mereka harta memang dianggap sebagai suatu hal yang tidak penting dalam kehidupan rumah tangga sekalipun itu merupakan kebutuhan. Memasukkan harta dalam ukuran kufu sama halnya mengajari atau mendidik umat Islam untuk tidak berakhlak terpuji seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.39

Yang dimaksud dengan pekerjaan adalah adanya mata pencaharian yang dimiliki seseorang untuk dapat menjamin nafkah keluarga.40 Menurut jumhur ulama pekerjaan seorang laki-laki minimal mendekati pekerjaan keluarga wanita. Sedangkan menurut golongan Hanafiyah, penghasilan laki-laki harus sebanding dengan penghasilan pihak keluarga perempuan sesuai dengan adat yang berlaku. Apabila menjahit menurut adat lebih tinggi derajatnya dibanding menenun, maka penjahit itu tidak sebanding dengan anak penenun, maka penjahit itu tidak sebanding dengan anak penenun. Menanggapi permasalahan ini golongan Malikiyah berpendapat tidak ada perbedaan mengenai pekerjaan, semua itu dapat berubah sesuai dengan takdir Allah, sehingga pekerjaan bagi ulama Malikiyah tidak dimasukkan dalam kriteria kufu„.41

Murid-murid Syafi‟i dari riwayatnya Ibnu Nasir dari Malik bahkan salah satu syarat kufu’

ini adalah selamat dari cacat. Bagi laki-laki yang mempunyai cacat jasmani yang menyolok itu tidak sekufu‟ dengan perempuan sehat dan normal. Jika cacatnya pandangan lahiriyah, seperti buta, laki-laki yang seperti ini tidak sekufu’ dengan perempuan sehat, tetapi kurang disukai menurut pandangan lahiriah, seperti buta, tangan buntung atau perawakannya jelek.

Dalam hal ini ada dua pendapat. Rauyani berpendapat bahwa lelaki seperti ini tidak kufu‟

dengan perempuan sehat, tetapi golongan Hanafi dan Hanbali tidak menerima pendapat ini.

Dalam kitab al-Mugni “terhindar dari cacat tidak termasuk dalam syarat kufu” tidak seorangpun menyalahi pendapat ini, yaitu kawinnya orang yang cacat itu tidak batal.

38Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Op,Cit, hlm. 48

39 Wahbah Al-Zuhailiy, Op.Cit, hlm. 6753-6754

40 Abdul Azis Dahlan, Op,Cit , hlm. 846

41 Wahbah Al-Zuhailiy, Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu Juz 9,(Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 675-675

(14)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 145

Sedangkan murid Syafi‟i dari riwayatnya Ibnu Nasir dari Malik bahkan salah satu syarat kufu’ ini adalah selamat dari cacat. Bagi laki-laki yang mempunyai cacat jasmani yang menyolok itu tidak sekufu’ dengan perempuan sehat dan normal. Jika cacatnya pandangan lahiriyah, seperti buta, laki-laki yang seperti ini tidak sekufu’ dengan perempuan sehat, tetapi kurang disukai menurut pandangan lahiriah, seperti buta, tangan buntung atau perawakannya jelek. Hanya pihak perempuan mempunyai hak untuk menerima atau menolak, bukan walinya karena resikonya tentu dirasakan oleh si perempuan. Walaupun demikian, wali perempuan boleh mencegahnya untuk kawin dengan laki-laki berpenyakit kusta, gila, tangannya buntung atau kehilangan tangannya.

Imamiyah berpendapat bahwa, sopak dan kusta adalah dua penyakit yang menyebabkan seorang laki-laki boleh melakukan fasakh, tetapi tidak boleh bagi kaum wanita, dengan syarat bahwa hal itu terjadi sebelum akad nikah dan laki-laki tersebut tidak mengetahuinya.

Sedangkan bagi istri, ia tidak mempunyai hak untuk melakukan fasakh, manakala salah satu dari penyakit tersebut terjadi pada laki-laki. Syafi‟i, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa kedua penyakit tersebut merupakan cacat bagi kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan.

Kedua belah pihak boleh melakukan fasakh manakala menemukan penyakit tersebut ada pada pasangannya. Orang yang menderita penyakit tersebut, bagi Syafi‟i dan Hambali, hukumnya sama dengan orang-orang gila.

Sementara itu, Maliki mengatakan bahwa kaum wanita boleh memfasakh manakala penyakit tersebut ditemukan sebelum dan sesudah akad nikah. Sedangkan laki-laki boleh melakukan fasakh manakala penyakit kusta dalam diri wanita tersebut ditemukan sebelum atau ketika akad. Sedangkan sopak, manakala ditemukan sebelum akad, maka kedua belah pihak memiliki hak fasakh. Tetapi kalau sopak tersebut terjadi sesudah akad, maka hak tersebut hanya bagi wanita dan tidak bagi laki-laki. Adapun sopak yang ringan yang ditemukan sesudah akad, tidak berpengaruh terhadap kelangsungan akad. Terhadap orang yang menderita sopak atau kusta, hakim harus memberikan masa tenggang setahun penuh bila ada kemungkinan sembuh dalam jangka waktu ini.42

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-mughi berpendapat bahwa syarat tidak cacat itu bukan ukuran kufu. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa perkawinan itu tidak batal dengan tidak adanya kufu‘, akan tetapi pihak perempuan serta wakilnya berhak meminta khiyar (memilih) untuk meneruskan atau membatalkan perkawinan tersebut. Wali boleh mencegah perkawinan

42Muhammad Jawad Mugniyah, Fiqih Lima Mazhab, Terjemah oleh Afif Muhammad, (Jakarta: Lentera, 2004), hlm. 356-357

(15)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 146

apabila anak gadisnya kawin dengan laki-laki yang berpenyakit kusta, gila, selain cacat-cacat tersebut tidak dianggap sebagai ukuran kafa‟ah„.Al-mughi berpendapat bahwa syarat tidak cacat itu bukan ukuran kafa‟ah„. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa perkawinan itu tidak batal dengan tidak adanya kafa‟ah„, akan tetapi pihak perempuan serta wakilnya berhak meminta khiyar (memilih) untuk meneruskan atau membatalkan perkawinan tersebut. Wali boleh mencegah perkawinan apabila anak gadisnya kawin dengan laki-laki yang berpenyakit kusta, gila, selain cacat-cacat tersebut tidak dianggap sebagai ukuran kafa‟ah„.43

Tujuan keseimbangan kufu dalam pernikahan sama dengan tujuan pernikahan, yaitu untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.

Kebahagiaan dalam rumah tangga, tentulah menjadi tujuan yang ingin diperoleh mereka yang mendirikannya. Sangatlah tepat jika pada setiap orang yang berniat mendirikan rumah tangga dan berkeinginan mencapai kebahagiaan hidup di dalamnya, memilih niat yang baik dan senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Untuk itu, diperlukan adanya keseimbangan sebab tujuan keseimbangan dalam perkawinan tidak lepas dari tujuan perkawinan itu sendiri. Untuk mewujudkan suatu rumah tangga yang harmonis dan tentram diperlukan adanya kufu, karena masalah kufu ini sangat penting dalam masalah rumah tangga.

Agar antara calon suami-istri tersebut ada keseimbangan dalam membina keluarga yang tentram dan bahagia. Jika di antara keduanya sudah ada keseimbangan dan kecocokan, maka akan mudah bagi mereka untuk mewujudkan tujuan pernikahan.

Kufu atau keseimbangan dalam pernikahan sangat penting, karena masalah kufu ini sangat penting dalam masalah rumah tangga. Agar antara calon suami-istri tersebut ada keseimbangan dalam membina keluarga yang tentram dan bahagia. Jika di antara keduanya sudah ada keseimbangan dan kecocokan, maka akan mudah bagi mereka untuk mewujudkan tujuan pernikahan. Dengan demikian, jelaslah keseimbangan dalam pernikahan sangat diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang tentram dan bahagia. Dan akibat dari tidak adanya keseimbangan dalam pernikahan, keluarga tersebut akan mengalami kegoncangan dalam rumah tangga, karena tidak ada kecocokan (keseimbangan) di antara keduanya.44

43 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 3, Terjemah oleh Nur Hasanuddin, (Bandung:al-maarif, 1997), hlm. 48

44 Sumiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, (Bogor: Kencana, 2003), hlm.

16-17.

(16)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 147

E. KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1. Kufu merupakan keseimbangan atau kesepadanan antara calon suami dan isteri dalam hal-hal tertentu, yaitu agama, nasab, pekerjaan, merdeka dan harta. Sedangkan Nabi Muhammad SAW. memberikan ajaran mengenai ukuran-ukuran kufu’ dalam Imam Abu hanifah dan Imam Syafi‟i sepakat sama menempatkan agama, nasab, propesi atau pekerjaan, kemerdekaan sebagai kriteria kufu.

2. Sedangkan Tujuan kufu dalam pernikahan sama dengan tujuan pernikahan, yaitu untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Kebahagiaan dalam rumah tangga, tentulah menjadi tujuan yang ingin diperoleh mereka yang mendirikannya. Sangatlah tepat jika pada setiap orang yang berniat mendirikan rumah tangga dan berkeinginan mencapai kebahagiaan hidup di dalamnya, memilih niat yang baik dan senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Untuk itu, diperlukan adanya keseimbangan sebab tujuan keseimbangan dalam perkawinan tidak lepas dari tujuan perkawinan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Al-Jaziri, Kitab Al-Fiqh ‘Al Mazahib Al-Arba’ah, Juz 4, Bairut: Dar al-Fikr, 1969.

Abu Bakr ad-Dimyati, Ianah at-Thalibin, Beirut: Dar Fikri,tt

Abu Isya Muhammad bin Isya bin Syurrah, Kutubu, Sunan Tirmidzi 3455, Riyadh: Maktabah Al-Muaarrafah, 1823.

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Semarang: Kumus dasmono Grapindo, 1994.

Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqh Muslimah diterjemahkan oleh Zaid Husein Al-Hamid, Jakarta: Pustaka Amani, ,1994.

Imam Abi Abdillah Muhammad Bin Idris al-Syafi‟I, Kitab ‘al-Umm, Penerbit Beirut: Darr fikr tt.

Imam Bukhari, Sunan Bukhari Nikah, Bab: Sekufu dalam agama, No. Hadist: 4700, Riyadh:

Maktabah Al-Muaarrafah.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2004.

Mahmud Al-Sabagh, Tuntunan Hidup Bahagia Menurut Islam, alih bahasa Burhanuddin Fahruddin, Bandung: Rosdakarya, 1993.

Muhammad Jawad Mugniyah, Fiqih Lima Mazhab, Terj. oleh Afif Muhammad, Jakarta:

Lentera, 2004.

Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 3, Terj. oleh Nur Hasanuddin, Bandung: Al-Maarif, 1997.

, Fikih Sunnah Jilid 7, Terj. Muhammad Thalib, Bandung: Al-Maarif, 1981.

Sumiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, Bogor: Kencana, 2003.

(17)

Solehuddin, Arisman – Urgensi Kufu dalam Pernikahan Page 148

Syekh Imam Al-Qurtubi. Terjemahan Tafsir Al- Qurtubi, Jakarta: Pustaka Azzam, 1996.

Wahbah Al-Zuhailiy, Al-fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu Juz 9, Damaskus: Daar al-Fikri, 1988, juz VII, cet ke III

Wajaratu al-wauqofi wa as-saun al-islamiyah al-Kuwait, Mausuah al-Fiqiyah, Kuwait: Daar al afwah: 199/1416H

Referensi

Dokumen terkait

Menurut fuqaha dari kalangan mazhab hanafi, zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki secara sadar terhadap perempuan yang disertai nafsu

Adapun pendapat hukum mengajarkan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan menurut Imam kamaluddin bin al-Humam al-Hanafi dengan mengutip Imam Abu Hanifah berpendapat

Kawin Kontrak Dalam Hukum Nasional, (Pamulang: CV.. 195 Menurut imam malik, apabila akad nikah sudah terjadi sedang istri sudah dijima’ namun belum ada persaksian dari

Sedangkan dalam madzhab Hanafi, murtad terdiri dari beberapa macam; Pertama : murtadnya seorang laki-laki merdeka, maka ia harus diminta bertaubat jika tidak

Manakala menurut jumhur ulama seperti mazhab Shafie, Hambali, Abu Yusuf dan Imam Muhammad, Wakaf adalah menahan sesuatu harta yang boleh dimanfaatkan hasilnya di samping

Berdasarkan uraian diatas dapat disim- pulkan bahwa terdapat persamaan pengertian harta menurut akuntansi dan menurut ulama, yang merupakan sesuatu baik berwujud mau- pun

Menurut ulama’ Syafi’iyah wasiat menjadi makruh hukumnya manakala berwasiat lebih dari sepertiga harta warisan atau berwasiat kepada ahli waris, lain halnya dengan ulama

Oleh karena para ulama membuat standarisasi bagi orang yang ingin menjadi seorang pemimpin, antara lain: islam, merdeka, baligh, laki-laki, berakal, dewasa, adalah, Mempunyai