MAKALAH JUDUL
KEDUDUKAN PEKERJA/BURUH PADA PERUSAHAAN YANG PAILIT SEBAGAI KREDITOR PREFEREN PASCA DITERBITKANNYA UU CIPTAKERJA
PROF. DR. JONI EMIRZON, S.H M.HUM
Disusun oleh :
Nama : Yoga Adi Prabowo NIM : 02012682024036 KELAS B
(WEEKEND)
FAKULTAS HUKUM
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2020
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang :
Pembahasan mengenai kepailitan dan rekstrukturisasi hutang perusahaan atau perseroan, tidak hanya bicara mengenai kepentingan bisnis pengusaha/pemegang saham tetapi juga mengenai kepentingan masyarakat luas yang melekat pada kehidupan debitur perseroan/perusahaan tersebut yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Salah satu yang cukup krusial perihal kepentingan masyarakat pada konteks ini adalah kepentingan buruh/pekerja yang bekerja di perusahaan tersebut1. Pengaruh dari pailit akan sangat terasa terutama jika perusahaan tersebut adalah perusahaan besar yang padat karya. Kepailitan perusahaan yang diikuti dengan likuidasi asset perusahaan secara keseluruhan berarti hilangnya mata pencaharian dan penghidupan dari buruh/pekerja pada perusahaan tersebut yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja. Dampak sosial ekonomi kondisi ini akan sangat besar terasa di masyarakat,
Untuk itu putusan untuk mem-pailitkan perusahaan tidak bisa dijatuhkan dengan sembarangan. Apabila berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku perusahaan harus dipailitkan maka hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan kepentingan dan hak-hak pekerja/buruh yang mengabdi dan menggantungkan hidup pada perusahaan tersebut. Pada praktek di lapangan, seringkali pemenuhan hak-hak buruh terutama yang mengalami PHK terabaikan
1Kepentingan masyarakat luas di dalam kehidupan suatu perusahaan/perseroan yang meliputi : 1) Kepentingan Negara yang hidup dari pajak yang dibayar oleh Debitur; 2) Masyarakat yang memerlukan pekerjaan dari debitur, termasuk juga karyawan dari Debitur yang sudah bekerja dengan debitur; 3) Masyarakat yang memasok barang dan jada kepada debitur; 4) Masyarakat yang bergantung hidupnya dari pasokan barang dan jasa debitur baik itu selaku konsumen ataupun selaku pedagang (Lihat, Sutan Remy, 2016, “Sejarah, Asas, Teori Hukum Kepailitan : Memahami Undang-Undang No.37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran”, Edisi-II, Cet-1, Jakarta : Kencana, hlm.170)
begitu saja2. Pada beberapa perusahaan yang pailit, kondisi finansial dan fundamentalnya sangat buruk dimana hampir seluruh assetnya menjadi jaminan hutang sehingga tidak menyisakan sedikitpun bagi pemenuhan hak-hak buruh, termasuk buruh yang mengalami PHK. Padahal rata-rata buruh umumnya hanya mengandalkan upah sebagai satu-satunya sumber pemasukan.
Salah satu perlindungan hukum bagi buruh/pekerja pada saat perusahan pailit adalah melalui pengaturan kedudukan buruh/pekerja pada perusahaan yang pailit sebagai suatu kreditor preferen atas piutang yang berupa upah dan hak-hak normatif pekerja. Sejatinya, aturan mengenai kedudukan buruh/pekerja pada perusahaan yang pailit sebagai suatu kreditor preferen sudah diberlakukan pada KUH perdata (Pasal 1149 KUHPerdata) yang menempatkan buruh/pekerja sebagai pemegang privilege Umum. Aturan ini diubah dengan berlakunya UU No.95 ayat (4) UU No.13 tahun 2003 yang menentukan bahwa upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/ buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Semangat untuk memperkuat perlindungan hukum atas buruh/pekerja secara normatif dalam hal perusahaan pailit juga terlihat melalui Putusan MK Nomor 67/PUU-XI/2013 yang bahkan penempatkan piutang upah buruh/pekerja menjadi lebih didahulukan pada uruan pembayaran kreditor separatis3. Adapun dasar pertimbangan dari Putusan MK Nomor 67/PUU-XI/2013 yaitu 1) Subjek hukum memiliki kedudukan yang tidak seimbang yang mana pengusaha memiliki kedudukan lebih tinggi secara sosial ekonomi dibandingkan dengan pekerja. 2) Segi objek bahwa kepentingan pekerja sebagai manusia terhadap diri dan kehidupannya haruslah menjadi prioritas,
2 Siti Afiyah, 2021, “Pembayaran Upah Buruh Perusahaan yang pailit Akibat Covid-19”, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora : Humanis, Vol.13 No.2, hlm. 122.
3Luthvi Febryka Nola, 2019, Ïmplementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 terkait Kedudukan Upah Pekerja dalam Kepailitan”,Jurnal Negara Hukum: Vol. 10, No. 2, November 2019, hlm.157.
harus menduduki peringkat terdahulu sebelum kreditor separatis. 3) Aspek risiko yang merupakan hal wajar yang menjadi ruang lingkup pertimbangan pengusaha ketika melakukan usaha bukan ruang lingkup pertimbangan pekerja/buruh.
Dengan adanya revisi Pasal 95 Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU No.13 tahun 2003) pada Undang-Undang No.11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja menjadi menarik untuk dilihat bagaimana pengaturan mengenai kedudukan buruh/pekerja pada perusahaan yang pailit sebagai kreditor atas piutang upah dan hak normatifnya untuk melihat perkembangan komitmen perlindungan hukum perburuhan di dalamnya. Dengan melakukan kajian dan review atas ketentuan hukum mengenai kedudukan buruh/pekerja sebagai kreditor pada perusahaan yang pailit setelah adanya aturan baru ini maka akan dapat nampak politik hukum dari perlindungan perburuhan dan rezim hukum kepailitan dan menjadi bahan penelitian guna penyempurnaan bagi ketentuan perlindungan perburuhan dan rezim hukum kepailitan di masa dating. Penulisan makalah ini akan didasari dengan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan Undang-Undang.
B. Rumusan Masalah :
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana ketentuan dan pengaturan mengenai Kedudukan Kreditor Pada Perusahaan yang Pailit dalam Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang?
2. Bagaimana Kedudukan Pekerja/Buruh Pada Perusahaan Yang Pailit Sebagai Kreditor Perferen Pasca diterbitkannya UU Ciptakerja?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN UMUM HUKUM KEPAILITAN DAN KEDUDUKAN KREDITOR DALAM KEPAILITAN
1) KONSEPSI, ASAS DAN ATURAN HUKUM KEPAILITAN Definisi resmi dari Kepailitan ada pada Pasal 1 angka 1 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang mendefinisikan pailit sebagai : sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam UU Kepailitan. Pailit merupakan suatu upaya untuk memenuhi kewajban terhadap kreditor akibat debitur yang tidak mampu untuk bertanggungjawab dalam pembayaran terhadap suatu utang4.
Kepailitan pada prinsipnya merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari Prinsip dalam rezim hukum harta kekayaan yaitu Prinsip paritas creditorum dan prinsip pari passu prorate parte.5,. Tujuan dari hukum Kepailitan adalah untuk mengatur pembagian kekayaan debitor di antara beberapa kreditor dimana pembagian dimaksud dilaksanakan dengan memperhatikan hak-hak masing-masing pihak. Aturan mengenai kepailitan berperan agar proses pengurusan dan pemberesan harta pailit berjalan dengan tertib dan
4Muralina Simalango, 2017,”Asas Kelangsungan Usaha (Going Concern) Dalam Hukum Kepailitan Indonesia”, Jurnal Hukum, November 2017.hlm.57
5. Prinsip paritas creditorum bermakna bahwa semua kekayaan debitor baik yang barang bergerak ataupun barang tidak bergerak atau harta yang sekarang telah dimiliki debitor dan barang-barang dikemudian hari akan dimiliki debitor terikat kepada penyelesaian kewajiban debitor, konsep ini sebagaimana ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata. Sementara itu Prinsip pari passu prorate parte berarti bahwa harta kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama untuk para kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara proporsional antara mereka, kecuali apabila antara para kreditor itu ada yang menurut UU harus di dahulukan dalam menerima pembayaran tagihannya. konsep ini sebagaimana ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata (Lihat : Raden Roro Nymphyra Jasmine Sulistyo dan Sri Harini Dwiyatni, 2019, “Upah Pekerja dalam Perusahaan Pailit (Kajian atas putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 02/PUU-VI/2008; 018/PUU-VI/2018 dan 67/PUU-XI/2013)”, Jurnal Ilmu Hukum Althena Vol.2 Nomor.2 Februari 2019, hlm.117)
teratur6. Hukum kepailitan dirumuskan dan diterapkan di atas prinsip atau asas dalam hukum kepailitan yaitu 1) asas keseimbangan, 2) asas kelangsungan usaha, 3) asas keadilan, dan 4) asas integrasi.
Hukum kepailitan menyediakan sarana bagi Kreditor yang berkepentingan atas pelunasan piutangnya atau debitur yang ingin penyelesaian atas utang-utangnya untuk mengajukan permohonan pailit.
Adapun syarat-syarat kepailitan permohonan kepailitan yang dapat diajukan ke pengadilan setidaknya harus memenuhi beberapa unsur sebagaimana dijelaskan di dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang memberikan ketentuan sebagai berikut: “a) Debitur yang mempunyai dua atau lebih Kreditor b) dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang;
c) yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas satu atau lebih kreditor”7. Adapun persyaratan bahwa diharuskan adanya dua atau lebih kreditor maka syarat tersebut dikenal dengan istilah concursus creditorium.
Atas permohonan tersebut hakim memutus berdasarkan pembuktian sederhana. Proses pembuktian sederhana dalam proses permohonan pailit harus terpenuhi sebagaimana Pasal 8 ayat (4)8. Apabila permohonan pailit dikabulkan maka sejak tanggal dibacakannya putusan pailit debitur kehilangan kewenanggannya dalam mengurus dan menguasai kekayaannya serta debitur tidak lagi mempunyai kewenangan atau tidak lagi bebas atas
6Sutan Remy. Op Cit., hlm.94
7Nelson Kapoyos, 2017, “Konsep Pembuktian Sederhana dalam Perkara Kepailitan : Kajian Putusan Nomor : 125 PK/PDT- SUS-PAILIT/2015”, Jurnal Yudisial Vol. 10 No. 3 Desember 2017, hlm.336
8Ibid, hlm,337
harta kekayaan yang dimilikinya. Harta debitur pailit berada di bawah sita umum dimana pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas.
2) KEDUDUKAN KREDITOR DALAM KEPAILITAN
Menurut Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang No.37 tahun 2004 Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang- Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan. Pada penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan, kreditor dibagi 3 (tiga) meliputi kreditor preferen, separatis dan konkuren9. UU Kepailitan hanya menentukan bahwa posisi kreditor preferen dan separatis didahulukan dan tidak memberikan penjelasan rinci mengenai klasifikasi tersebut. Penerapan klasifikasi atau pembagian kreditor ini sejalan dengan prinsip structured creditors/
structured prorata yaitu prinsip yang mengklasifikasikan dan mengelompokkan berbagai macam kreditor sesuai dengan kelasnya masing-masing10. Klasifikasi dimaksud memberikan kedudukan berbeda- beda bagi masing-masing kreditor berdasarkan hak istimewa yang melekat pada piutang yang dimilikinya. Berdasarkan Pasal 1134 KUH Perdata disebutkan bahwa ‘Hak istimewa adalah suatu hak yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kreditor yang menyebabkan ia berkedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutang itu.’
Dari pengelompokan kreditor dimaksud kreditor separatis yang paling terjamin dan didahulukan dalam pemenuhan piutangnya karena tercantum
9 Farlina Dwi Fitasari, 2021, “Keabsahan Permohonan Pailit yang diajukan oleh Buruh tanpa putusan Pengadilan Hubungan Industrial”, Jurnal Hukum Jurist-Diction Vol.3 (3), 2020,hlm.981
10 Hadi Shubhan, 2008, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Pengadilan, Jakarta: Kencana, hlm. 3
dalam suatu perjanjian, dimana kreditor separatis memegang hak jaminan kebendaan sehingga menurut KUHPerdata memperoleh hak untuk diistimewakan dan didahulukan. Keberadaan kreditor ini diatur dalam Pasal 55 UU Kepailitan. Setelah kreditor separatis maka ada kreditor preferen diurutan selanjutnya. Kreditor preferen, merupakan kreditor pemegang piutang istimewa dan berhak untuk mendapat pendahuluan dalam pemenuhan pembayaran piutangnya karena piutang tersebut telah diakui oleh undang-undang atau melalui suatu perjanjian.11. Piutang istimewa yang dimiliki oleh kreditor preferen dilindungi melalui undang-undang supaya mendapat pendahuluan pemenuhan haknya.12 Kreditor preferens diatur dalam Penjelasan Pasal 60 UU Kepailitan.
Selanjutnya, Kreditor konkuren atau kreditor biasa yaitu kreditor piutang miliknya dapat dipenuhi setelah kreditor preferen maupun kreditor separatis. Hal ini dikarenakan kreditor jenis ini tidak memiliki jaminan hak kebendaan ataupun sebuah piutang istimewa. Dalam KUHPerdata sendiri kreditor jenis ini memiliki tingkat piutang yang berbeda dan pembayaran piutangnya didapat dari sisa aset atau harta debitur pailit setelah dipenuhinya pembayaran piutang dari kreditor preferen maupun separatis13. Kreditor ini diatur antara lain dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan. ‘
B. ASPEK HUKUM PERBURUHAN DALAM KEPAILITAN PADA UNDANG-UNDANG KEPAILITAN
11 Liem Tony Dwi Soelistyo dan Yasin Nur Alamsyah H A S,2021,”Upaya Kepailitan Sebagai Alternatif Buruh Mendapat Haknya”, Jurnal Mimbar Keadilan Volume 14 Nomor 2 Agustus 2021, hlm. 188
12 Ibid
13 Ibid
Aspek hukum perburuhan pada kepailitan terletak pada perlindungan hukum bagi pekerja dalam pemenuhan hak-hak normatifnya pada kasus terjadinya kepailitan perusahaan tempat buruh/pekerja bekerja, baik perusahaan dalam kondisi pailit ataupun dilikuidasi. Ketentuan hukum mengenai perlindungan hak buruh dalam kepailitan pada UU Kepailitan tertuang dalam Pasal 39 ayat (1) dan (2) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU14. Lebih lanjut dalam hal terjadi pailit pada perusahaan maka hak buruh yang meliputi upah dan tunjangan lainnya menurut Undang-Undang Kepailitian dan PKPU akan berubah menjadi utang, sebagaimana ketentuan Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan dan PKPU15 .
Selain kedua pasal tersebut, dalam Undang-Undang kepailitan tidak ditemukan adanya pengaturan dan ketentuan-ketentuan mengenai perlindungan hukum terhadap hak-hak pekerja dalam kepailitan seperti ketentuan khusus bagaimanana secara pembayaran hak-hak normatif pekerja dimaksud dan aturan mengenai bagaimana dan apa langkah yang dapat ditempuh pekerja/buruh jika kemudian sebelum pelunasan hak- haknya harta pailit telah habis dibagi dalam proses kepailitan.
14 Pada Pasal 39 ayat (1) disebutkan bahwa Pekerja yang bekerja pada Debitor dapat memutuskan hubungan kerja, dan sebaliknya Kurator dapat memberhentikannya dengan mengindahkan jangka waktu menurut persetujuan atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dengan pengertian bahwa hubungan kerja tersebut dapat diputuskan dengan pemberitahuan paling singkat 45 (empat puluh lima) hari sebelumnya.Menurut Perjelasan Pasal 39 ayat (1) : Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja, Kurator tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
15Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan dan PKPU berbunyi : Sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, upah yang terutang sebelum maupun sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan merupakan utang harta pailit. Dalam Perjelasan Pasal 39 ayat (2) dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “upah” adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja atas suatu pekerjaan atas jasa yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang- undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga. Dalam implementasinya, Kurator akan menggantikan posisi Perusahaan dalam hal pembayaran upah pekerja/buruh dan hak-hak normatif buruh/pekerja lainnya.
Aturan dalam UU Kepailtan sangat minim yang membahas mengenai pelindungan hukum bagi hak-hak buruh dalam hal perusahaan pailit, UU kepailitan dan PKPU nampaknya hanya sifatnya mengakui secara terbatas eksistensi dari hak-hak buruh tersebut. Misalnya saja aturan mengenai kedudukan dari buruh/pekerja sebagai kreditor preferen dengan hak istimewa, saat ini ketentuan hukum mengenai kedudukan dari buruh/pekerja sebagai kreditor preferen dengan hak istimewa justru hanya ditemukan pada UU Ketenagakerjaan 16 dan Pasal 1149 KUHPerdata, dan tidak diatur dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU bahkan tidak ada pernyataan tegas bahwa hak buruh/pekerjaan dalam perkara perusahaan pailit akan didahulukan untuk pembayarannya pada harta pailit melainkan hanya disebutkan bahwa ia diakui sebagai utang saja.
Padahal apabila melihat materi dan ruang lingkup aturan yang mengatur mengenai pelindungan dan kedudukan hukum bagi hak-hak buruh dalam hal perusahaan pailit maka seharusnya Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang lebih tepat sebagai ketentuan hukum yang mengatur pelindungan dan kedudukan hukum bagi hak-hak buruh dalam hal perusahaan pailit secara lebih detail. Sementara itu UU ketenagakerjaan mengatur mengenai jenis-jenis dan klasifikasi hak-hak normatif pekerja, dalam kasus kepailitan. Hal ini Berdasarkan asas lex specialis derogat legi generali dimana UU Kepailitan dan PKPU menjadi aturan hukum yang bersifat khusus (lex specialis) terhadap UU Ketenagakerjaan.
16 Pasal 95 UU No.13 tahun 2003 yang telah diubah oleh UU No.11 tahun 2020 tentang cipta kerja
BAB III PEMBAHASAN
KEDUDUKAN PEKERJA/BURUH PADA PERUSAHAAN YANG PAILIT SEBAGAI KREDITOR PERFEREN BERDASARKAN HUKUM KEPAILITAN DAN ATURAN HUKUM TERKAIT
Buruh atau pekerja pada perusahaan ditempatkan sebagai kreditor dalam kepailitan sebagai akibat dari adanya pernyataan pailit. Sebagaimana ditentukan Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan dan PKPU berbunyi : Sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, upah yang terutang sebelum maupun sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan merupakan utang harta pailit. Mengenai persoalan pelunasa “utang” atas hak-hak normatif buruh/pekerja pada perusahaan yang mengalami pailit maka hal yang perlu diperhatikan kemudian adalah bagaimana kedudukan buruh/pekerja terhadap harta pailiti dimana di dalamnya ada hak-hak normatif pekerja seperti upah dan lainnya? Karena tentu perusahaan yang mengalami pailit pada umumnya memiliki banyak kreditor yang kepentingannya saling tarik menarik dalam proses pengurusan kepailitan. Berdasarkan aturan dalam KUHPerdata, buruh/pekerja dalam perkara kepailitan merupakan Kreditur preferen karena ia merupakan pemilik piutang istimewa sebagaimana termuat dalam Pasal 1131 dan Pasal 1149 KUHPerdata. Piutang istimewa yang dimiliki buruh/pekerja dalam hal perusahaan pailit adalah privilege umum17. Apabila dibandingkan dengan kedudukan kreditur preferen lainnya
17Privilege menurut Pasal 1134 KUHPerdata merupakan suatu hak istimewa yang dari undang-undang diperuntukkan bagi kreditur berdasar sifat piutangnya sehingga kedudukannya lebih tinggi daripada kreditur lain. Hak privilege terbagi 2 yaitu privilege umum dan privilege khusus. Privilege umum merupakan hak untuk didahulukan terhadap semua harta benda milik debitor sedangkan privilege khusus merupakan hak untuk didahulukan terhadap. Privilege umum diatur dalam Pasal 1149
maka posisi upah buruh dan hak-hak normatif buruh/pekerja lainnya dalam daftar pembayaran berdasarkan KUHperdata secara berturut-turut adalah sesudah privilege khusus (Pasal 1138 KUHPerdata), piutang yang timbul dari tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk Pemerintah (Pasal 1137 KUH Perdata) serta piutang dari kreditor separatis yang dijamin oleh jaminan kebendaan. Sehingga kedudukan kreditor berdasarkan urutannya menurut KUHPerdata dapat diuraikan menjadi sebagai berikut :
Table.1: Kedudukan kreditor berdasarkan urutannya menurut KUHPerdata KREDITOR SEPARATIS (FIRST PRIORITY)
(pemegang hak tanggungan, fidusia dan jamianan kebendaan lainnya) KREDITOR PREFEREN (SECOND PRIORITY)
1. Urutan Pertama : Tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah; Pasal 1138 KUHPerdata
2. Urutan Kedua : Kreditor privilege khusus sebagaimana Pasal 1138 KUHPerdata
3. Urutan Ketiga : Kreditor privilege umum sebagaimana Pasal 1149 KUHPerdata, termasuk di dalamnya upah buruh dan hak-hak normatif buruh lainnya.
KREDITOR KONKUREN (THIRD PRIORITY/THE LAST ONE)
Pada Undang-Undang kepailitan tidak diatur secara tegas dan ekplisit mengenai kedudukan buruh/pekerja sebagai kreditor apakah dia merupakan kreditor preferen ataupun konkruen? dan jika dia kreditor preferen maka bagaimana kedudukannya terhadap kreditor preferen lainnya? Pada Pasal 30 ayat (2) UU Kepailitan dan PKPU hanya ditentukan bahwa upah yang terutang dalam kepailitan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,
KUH Perdata, yang mana yang lebih dahulu disebut didahulukan pembayarannya yaitu: 1) Biaya perkara yang timbul dari penjualan barang sebagai pelaksana putusan atas tuntutan mengenai pemilikan atau penguasaan; dan penyelamatan harta benda; ini didahulukan daripada gadai dan hipotek.2). Biaya penguburan.3). Biaya pengobatan terakhir.4). Upah para buruh dari tahun yang lampau dan apa yang masih harus dibayar untuk tahun berjalan.5). Piutang karena penyerahan bahan- bahan makanan, yang dilakukan kepada debitur dan keluarganya selama enam bulan terakhir.6). Piutang para pengusaha sekolah berasrama untuk satu tahun terakhir.7). Piutang anak-anak yang masih di bawah umur atau dalam pengampuan wali atau pengampuan mereka berkenaan dengan pengurusan mereka.
termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga. Adapun aturan perundan- undangan dalam konteks ini adalah aturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang berlaku.
Aturan mengenai kedudukan dari buruh/pekerja sebagai kreditor preferen dengan hak istimewa dalam perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan terdapat pada UU Ketenagakerjaan Pasal 95 UU No.13 tahun 2003 yang telah diubah oleh UU No.11 tahun 2020 tentang cipta kerja yang menentukan bahwa : (1) Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, upah dan hak lainnya yang belum diterima oleh pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. (2) Upah pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahulukan pembayarannya sebelum pembayaran kepada semua kreditur. (3) Hak lainnya dari pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahulukan pembayarannya atas semua kreditur kecuali para kreditur pemegang hak jaminan kebendaan.
Dari aturan tersebut di atas maka kedudukan dari buruh/pekerja sebagai kreditor preferen dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Kedudukan dari buruh/pekerja yang masih dalam hubungan kerja dengan perusahaan pailit dan masih berhak memperoleh upah berdasarkan Pasal 93 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan, maka kedudukannya adalah sebagai kreditor preferen dengan hak istimewa dimana dia didahulukan sebelum kreditor separatis dan kreditor preferen dengan hak istimewa lainnya seperti Tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah. Hal
ini berdasarkan pada Pasal 95 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan.
Pada penjelasan Pasal 95 ayat (2) UU Ketenagakerjaan yang dimaksud
"didahulukan pembayarannya" yaitu pembayaran upah pekerja/buruh didahulukan dari semua jenis kreditur termasuk kreditur separatis atau kreditur pemegang hak jaminan kebendaan, tagihan hak negara, kantor lelang dan badan umum yang dibentuk pemerintah.
2. Kedudukan dari buruh/pekerja tidak lagi memiliki hubungan kerja dengan perusahaan pailit baik karena mengalami PHK berdasarkan Pasa 154A ayat (1) huruf (f) atau karena mengundurukan diri154A ayat (1) huruf (i), maka atas piutangnya berupa hak-hak normatif, kedudukannya adalah sebagai kreditor preferen dengan hak istimewa yang didahulukan pembayarannya atas semua kreditur termasuk kreditor preferen dengan hak istimewa lainnya seperti Tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah, kecuali para kreditur pemegang hak jaminan kebendaan. Jadi kedudukannya dalam urutan pembayaran masih di bawah kreditur separatis (Pasal 95 ayat (1) dan (3) UU Ketenagakerjaan). Pada penjelasan Pasal 95 ayat (1) dan (3) tidak ada penjelasan mengenai “Hak Lainnya” namun jika menggunakan metode penafsiran a contratio maka “hak lainnya” di sini dapat diartikan sebagai hak-hak normatif pekerja/buruh selain upah18.
18Hak normatif buruh/pekerja dalam hal berakhirnya hubungan kerja karena pailit antara lain : a) Bagi pegawai atau buruh dengan PKWTT yang mengalami PHK sesuai ketentuan Pasal 154A huruf (f) UU Ketenagakerjaan berhak atas Uang Pesangon, uang penggatian masa kerja dan uang penggantian hak dan Pasal 47 Peraturan Pemerintah No.35 tahun 2021. b) B agi pegawai atau buruh dengan PKWTT yang secara sukarela mengundurkan diri berhak atas Uang penggantian sesuai ketentuan Pasal 154A UU Ketenagakerjaan dan Pasal 40 ayat (4) dan Pasal 50 Peraturan Pemerintah No.35 tahun 2021 dan Uang Pisah sesuai Perjanjian Kerja/Perjanjian Kerja Bersama. c) Bagi pekerja PKWT diakhiri hubungan kerjanya sebelum jangka waktu kontrak kerjanya habis berhak atas Uang kompensasi sesuai Pasal 15 ayat (1) dan Pasal 17 Peraturan Pemerintah No.35 tahun 2021.
Adapun Kedudukan kreditor berdasarkan urutannya Pasca Revisi UU Ketenagakerjaan berdasarkan UU No.11 tahun 2020 tentang Ciptakerja dapat diuraikan menjadi sebagai berikut :
Table.2: Kedudukan kreditor berdasarkan urutannya Pasca Revisi UU Ketenagakerjaan berdasarkan UU No.11 tahun 2020
Pembayaran upah pekerja/buruh (FIRST PRIORITY) KREDITOR SEPARATIS (SECOND PRIORITY)
(pemegang hak tanggungan, fidusia dan jamianan kebendaan lainnya) KREDITOR PREFEREN (THIRD PRIORITY)
1. Urutan Pertama : Pembayaran atas hak-hak normative buruh/pekerja kecuali upah buruh , yang wajib didahulukan daripada kreditur separatis
2. Urutan Kedua : Tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah;
3. Urutan Ketiga : Kreditor privilege khusus19 sebagaimana Pasal 1138 KUHPerdata
4. Urutan Keempat: Kreditor privilege umum sebagaimana Pasal 1149 KUHPerdata.
KREDITOR KONKUREN (FOURTH PRIORITY/THE LAST ONE)
Perubahan Pasal 95 UU Ketenagakerjaan pada UU No.11 tahun 2020 tentang Ciptakerja merupakan pelaksanaan Putusan MK Nomor 67/PUU- XI/2013 yang secara politik hukum menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap perlindungan hak-hak buruh pada kasus perusahaan yang mengalami pailit. Hal yang patut dicermati dari dampak aturan ini adalah mengenai perlindungan terhadap kreditor separatis yang harus berhadapan dengan tagihan atas upah buruh/pekerja.. Hendaknya penerapan aturan ini
19Berdasarkan Pasal 1138 KUHPerdata Previlege Khusus meliputi 1) Biaya perkara yang timbul dari penjualan barang bergerak dan tak bergerak sebagai pelaksana putusan; 2) Uang sewa barang tetap; 3) Harga pembelian barang bergerak yang belum dibayar; 4) Biaya menyelamatkan barang; 5) Biaya pengerjaan suatu barang yang masih harus dibayar kepada pekerjanya; 6) Apa yang diserahkan kepada seorang tamu rumah penginapan oleh pengusaha rumah penginapan sebagai pengusaha rumah penginapan; 7) Upah pengangkutan dan biaya tambahan lain; 8) Biaya/upah seorang tukang batu, tukang kayu, dan tukang-tukang lain yang mendirikan, menambah atau memperbaiki bangunanbangunan; dan 9) Penggantian dan pembayaran yang dipikul oleh pegawai yang memangku jabatan umum karena kelalaian, kesalahan, atau pelanggaran dalam melaksanakan jabatannya.
tidak mengabaikan asas keseimbangan dan asas keadilan yang merupan prinsip hukum kepailitan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN:
1) Berdasarkan UU Kepailitan dan PKPU sesuai penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan, kreditor dalam kepailitan dibagi 3 (tiga) meliputi kreditor preferen, separatis dan konkuren. UU Kepailitan menentukan bahwa posisi kreditor preferen dan separatis didahulukan. Adapun Pasal-Pasal yang terkait dengan kedudukan kreditor kepailitan terdapat pada Pasal 18 ayat (5), Pasal 39 ayat (2), Pasal 55, 59 ayat (1) dan Pasal 138 dan Pasal 60 ayat (2) dan (3). Aturan lainnya mengenai kedudukan kreditor dalam kepailitan juga mengacu pada KUHPerdata, UU tentang ketenagakerjaan dan UU Perpajakan.
2) Setelah dilakukan revisi UU Ketenagakerjaan Pasal 95 UU No.13 tahun 2003 dengan diterbitkannya UU No.11 tahun 2020 tentang cipta kerja kedudukan buruh/pekerja sebagai kreditor pada harta perusahaan yang pailit semakin menguat. Buruh/pekerja kedudukannya lebih didahulukan dalam pembayaran piutang dibandingkan dengan kreditor preferen lainnya. Bahkan untuk pelunasan piutang berupa upah kedudukan buruh/pekerjaan perusahaan pailit lebih didahulukan daripada kreditor separatis pemegang jaminan kebendaan.
B. SARAN:
Di dalam revisi UU Kepailitan dan PKPU perlu diwacanakan untuk perbaikan dan penyempurnaan serta sinkronisasi aturan mengenai kedudukan kerja kedudukan buruh/pekerja sebagai kreditor pada harta perusahaan yang pailit
antara UU Ketenagakerjaan dan UU Kepailitan dengan memperhatikan asas- asas keadilan, keseimbangan, perlindungan pekerja/buruh.
Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245 dan Nomor Tambahan Lembar Negara 6673)
Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131 dan Nomor Tambahan Lembar Negara 4443)
BUKU :
Remy, Sutan. 2016. “Sejarah, Asas, Teori Hukum Kepailitan : Memahami Undang- Undang No.37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran”.Edisi-II. Cet-1. Jakarta : Kencana.
Shubhan, Hadi. 2008. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Pengadilan. Jakarta: Kencana.
Subekti, R, dan R. Tjitrosudibio, , 2003. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata), Jakarta : Pradnya Paramita,
JURNAL :
Afiyah, Siti. 2021. “Pembayaran Upah Buruh Perusahaan yang pailit Akibat Covid- 19”, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora : Humanis, Vol.13 No.2.
Diction Vol.3 (3), 2020.
Febryka Nola, Luthvi. 2019. Ïmplementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 terkait Kedudukan Upah Pekerja dalam Kepailitan”. Jurnal Negara Hukum: Vol. 10, No. 2, November 2019.
Kapoyos, Nelson. 2017. “Konsep Pembuktian Sederhana dalam Perkara Kepailitan : Kajian Putusan Nomor : 125 PK/PDT-SUS-PAILIT/2015”.
Jurnal Yudisial Vol. 10 No. 3 Desember 2017.
Roro Nymphyra, Raden, Jasmine Sulistyo dan Sri Harini Dwiyatni. 2019. “Upah Pekerja dalam Perusahaan Pailit (Kajian atas putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 02/PUU-VI/2008; 018/PUU-VI/2018 dan 67/PUU-XI/2013)”. Jurnal Ilmu Hukum Althena Vol.2 Nomor.2 Februari 2019.
Simalango, Muralina 2017.”Asas Kelangsungan Usaha (Going Concern) Dalam Hukum Kepailitan Indonesia”. Jurnal Hukum, November 2017.
Tony Dwi Soelistyo, Liem dan Yasin Nur Alamsyah H A S. 2021. ”Upaya Kepailitan Sebagai Alternatif Buruh Mendapat Haknya”. Jurnal Mimbar Keadilan Volume 14 Nomor 2 Agustus 2021.