Ujian Tengah Semester
Kelas L2 – PRAKTIK PERPAJAKAN II WN Jepang
Gaji Perbulan = Rp 60.000.000
Gaji Pokok 1 Tahun = Rp 60.000.000 x 12 bulan = Rp 720.000.000 Biaya Jabatan 1 Tahun = 5% x Rp 720.000.000 = Rp 36.000.000
Maksimal Pengurangan Biaya Jabatan Pertahun = Rp 6.000.000 (-) Penghasilan Neto 1
Tahun = Rp 714.000.000
PTKP (K/2) = Rp 67.500.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) 1 Tahun = Rp 646.500.000
PPh 21 Terutang:
5% x Rp50.000.000 = Rp 2.500.000 15% x Rp 250.000.000 = Rp 37.500.000 (+) 25% x Rp 346.500.000 = Rp 86.625.000 (+)
PPh 21 Terutang setahun = Rp 126.625.000
PPh 21 Terutang sebulan = Rp 19.525.000 / 12 bulan = Rp 10.552.083 Gaji yang diterima per bulan = Rp 60.000.000 – Rp. 10.552.083 = Rp 49.447.917
Perhitungan PPh Pasal 21 Karyawan Tomoya Honda Penghasilan Bruto 1 Bulan = Gaji Perbulan + Tunjangan Jabatan
= Rp 60.000.000 + Rp 4.000.000 + 2.960.000 = Rp 66.960.000 Pengurang Penghasilan Bruto = Biaya Jabatan + Iuran
Biaya Jabatan = 5% x Rp 64.000.000 (Maksimal 500.000/bulan)= Rp 500.000 (-)
Iuran THT = Rp 1.600.000 (-)
Penghasilan Neto = Gaji Bruto – Pengurang yang Diperbolehkan = Rp 64.860.000 Penghasilan Neto 1
Tahun = Rp 64.860.000 x 12 bulan = Rp 778.320.000
PTKP (K/0) = Rp 67.500.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) 1 Tahun = Rp 710.820.000
PPh 21 Terutang:
5% x Rp 60.000.000 = Rp 3.000.000 15% x Rp 250.000.000 = Rp 37.500.000 (+) 25% x Rp 400.820.000 = Rp 100.205.000 (+)
PPh 21 Terutang setahun = Rp 140.705.000
PPh 21 Terutang September = 1/ 12 x Rp 140.705.000 = Rp 11.725.417 Gaji yang diterima per bulan = Rp 64.000.000 – Rp. 10.985.417 = Rp 52.014.583
Perhitungan PPh Pasal 21 Karyawan Ny. Alya
Penghasilan Bruto 1 Tahun = Gaji + Tunj. Transport + Uang Lembur + Premi + THR + Iuran
= 70.000.000 + 3.600.000 + 4.800.000 + 180.000
+ 90.000 + 3.000.000 + 2.250.000 = Rp 83.920.000 Pengurang Penghasilan Bruto = Biaya Jabatan + Iuran
Biaya Jabatan = 5% x Rp 83.920.000 (Maksimal 500.000/bulan)= Rp 6.000.000 (-) Iuran THT = 12.000.000 (12 Bulan) = Rp 12.000.000 (-) Penghasilan Neto 1
Tahun = Gaji Bruto – Pengurang yang Diperbolehkan = Rp 65.920.000
PTKP (TK/0) = Rp 54.000.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp 11.920.000
PPh 21 Terutang:
5% x Rp 11.920.000 = Rp 596.000
PPh 21 Terutang setahun = Rp 596.000
Gaji Rp
60.000.000 Biaya Jabatan (5% x Rp 60.000.000) Rp
3.000.000 Maksimal Pengurangan Biaya Jabatan Perbulan (Rp
500.000) Penghasilan Neto
1 Bulan (Gaji 1 bulan – Biaya Jabatan Perbulan) Rp 59.500.000 1 Tahun (Gaji 1 bulan x 12 – Biaya Jabatan
Pertahun) Rp
714.000.000
PTKP (K/2) Rp 399.500.000
PPh terutang setahun :
5% x Rp 50.000.000 Rp 2.500.000
15% x Rp 250.000.000 Rp 37.500.000
25% x Rp 99.500.000 Rp 24.875.000
Total PPh Terutang Rp 64.875.000
Pak Edy adalah karyawan tetap PT.AA dimana pak Edy status terakhir K/2/I selama pak Edy bekerja di PT.AA ditahun 2020 memperoleh gaji rata - rata perbulannya Rp.25.000.000,- sedangkan Istri pak Edy dirumah punya penghasilan dari usaha bebas
selama tahun 2020 memperoleh laba Rp. 250.000.000,- dalam penghitungan PPh penghasilan suami istri digabung berdasarkan informasi tersebt anda Diminta untk menghitung berapa besarnya pph pasal 21 untuk pak Edy di tahun 2020
1. Pak Hono selama bulan september 2021 mempekerjakan beberapa orang sebagai tenaga harian lepas untuk merenovasi rumah pak Hono, dimana seluruh tenaga kerja dibulan september 2021 dipekerjakan selama 30 hari kerja. Tenaga kerja harian lepas yang dimaksud terdiri dari 1 orang tukang ahli, 5 orang tukang dan 10 orang Pembantu tukang adapun kesepakatan pengupahannya adalah sebagai berikut Honor sebagai Tukang ahli sebesar Rp.300.000,-/perhari Honor sebagai Tukang Rp.250.000,-/Hari/orang sedangkan honor sebagai pembantu tukang adalah Rp.150.000,-/hari/orang Berdasarkan informasi tersebut anda diminta untuk menghitung PPh untuk masing - masing tukang dan pembantu tukang selama bulan september 2021
Jawaban :
Sebelum menjawab soal saya akan menjabarkan mengenai tarif PPh 21 yang dikenakan untuk pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas, sebagai berikut :
Penghasilan Sehari Penghasilan Kumulatif (Sebulan)
Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
< Rp 450.000 < Rp 4.500.000 Tidak Ada PPh 21
< Rp 4.500.000 5% x (Upah – Rp 450.000)
< Rp 450.000 5% x (Upah – (PTKP/360)
Penguraian lebih lengkap terhadap tabel diatas adalah:
1) Tidak ada PPh 21 yang dipotong jika upah harian atau rata-rata upah harian kurang dari Rp 450.000 dan jumlah kumulatif dalam satu bulan belum melebihi Rp 4.500.000.
2) PPh 21 harus dipotong sebesar upah harian atau rata-rata upah harian dikurangi Rp 450.000, lalu dikalikan 5% jika, Upah harian atau rata-rata upah harian sudah lebih dari Rp.450.000 tetapi jumlah kumulatif dalam 1 bulan kalender belum melebihi Rp 4.500.000.
3) PPh 21 harus dipotong sebesar upah harian atau rata-rata upah dikurangi PTKP sehari lalu dikalikan 5%, jika, jumlah kumulatif dalam satu bulan kalender sudah lebih dari Rp.4.500.000, tetapi kurang dari Rp.10.200.000.
4) Berlaku Tarif pada Undang-Undang Pajak Penghasilan Pasal 17 ayat (1) huruf (a), jika, jumlah kumulatif dalam satu bulan kalender sudah lebih dari Rp 10.200.000.
Berikut cara hitungnya:
A. Perhitungan PPh 21 sebagai Tukang ahli (Honor Rp.300.000,-/perhari)
Upah Bulan September = Rp 300.000 x 30 hari = Rp 9.000.000 Upah di setahunkan = 12 bulan x Rp 9.000.000 = Rp. 108.000.000
PTKP (TK/0) = Rp 54.000.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak = Rp 54.000.000
PPh 21 Terutang:
5% x Rp50.000.000 = Rp 2.500.000 15% x Rp 4.000.000 = Rp 600.000 (+)
PPh 21 Terutang setahun = Rp 3.100.000
PPh 21 Terutang sebulan = Rp 3.100.000 / 12 bulan = Rp 258.333
B. Perhitungan PPh 21 sebagai Tukang (Honor Rp 250.000,-/perhari)
Upah Bulan September = Rp 250.000 x 30 hari = Rp 7.500.000 Upah di setahunkan = 12 bulan x Rp 7.500.000 = Rp. 90.000.000
PTKP (TK/0) = Rp 36.000.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak = Rp 54.000.000
PPh 21 Terutang:
5% x Rp50.000.000 = Rp 2.500.000
PPh 21 Terutang setahun = Rp 2.500.000
PPh 21 Terutang sebulan = Rp 2.500.000 / 12 bulan = Rp 208.333
C. Perhitungan PPh 21 sebagai Tukang (Honor Rp 250.000,-/perhari)
Upah Bulan September = Rp 150.000 x 30 hari = Rp 4.500.000 Upah di setahunkan = 12 bulan x Rp 4.500.000 = Rp 54.000.000
PTKP (TK/0) = Rp 54.000.000 (-)
Penghasilan Kena Pajak Tidak ada PPh 21 yang dipotong karena dan jumlah kumulatif dalam satu bulan belum melebihi Rp 4.500.000
0
2. PT.ABC sebagai wajib pajak badan diumpamakan melaksanakan kegiatan usaha selam tahun 2020 Omset penjualannya yang tercapai menembus angka 50 milyard adapun Harga pokok penjualan (HPP) diperhitungkan 45% dari omset penjualan yang tercapai sedangkan Biaya operasionalnya diperhitungkan 50% dari laba kotor berdasarkan informasi tersebut anda diminta untuk menghitung PPh Badan ?
Jawaban :
Penghasilan Kotor
(Bruto) Tarif Pajak
Kurang dari Rp4,8 miliar 50% x *22% x Penghasilan Kena Pajak Lebih dari Rp4.8 miliar
s/d Rp50 Miliar
[(50%x25%) x Penghasilan Kena Pajak yang Memperoleh Fasilitas]
+ (25% x Penghasilan Kena Pajak Tidak Memperoleh Fasilitas
*22% tarif PPh Badan yang berlaku di 2021 Langkah 1 (Cari tahu Laba Kotor PT. ABC) Laba Kotor = Penjualan Bersih – HPP
= Rp 50.000.000 – (45% x Rp 50.000.000)
= Rp 22.500.000.000
Noted. Mohon maaf karna saya tidak dapat menyelesaikan soal UTS di nomor 3 ini karena Materi belum dipelajari dan di modul yang di upload dalam e-Learning tidak ada membahas cara menghitung PPh Badan.