• Tidak ada hasil yang ditemukan

View/Open

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View/Open"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Persamaannya adalah keduanya meneliti objek yang sama yaitu Rumah Cemara walaupun objeknya berbeda dan menggunakan komunikasi interpersonal. Penelitian sebelumnya menggunakan teori komunikasi intrapersonal yaitu komunikasi terhadap diri sendiri dan refleksi terhadap diri sendiri sebagai objek dan subjek, serta komunikasi interpersonal untuk berhubungan dengan cara penderita lupus berkomunikasi. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi tatap muka antar orang yang memungkinkan setiap orang yang melakukannya dapat menangkap reaksi orang lain secara langsung.

Menurut Devito (1989), “komunikasi interpersonal adalah pengiriman pesan oleh seseorang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan pengaruh dan kesempatan yang berbeda untuk memberikan umpan balik” (Effendy, 2003:30). . Melalui komunikasi interpersonal kita juga belajar bagaimana dan sejauh mana membuka diri terhadap orang lain.

Tabel 2.1   Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Efektivitas Komunikasi Antarpribadi

Diam, tidak merespons, tidak ingin mengkritik, atau bahkan tidak ingin bergerak secara fisik, mungkin cocok dalam situasi tertentu, namun dalam komunikasi antarpribadi atau percakapan sehari-hari, hal tersebut bisa jadi membosankan. Namun sangat tidak efektif jika ada dua orang yang berkomunikasi, salah satunya mengutarakan pendapatnya, sedangkan yang lain diam dari awal hingga akhir pembicaraan tanpa ada respon. Keterbukaan sangat diperlukan dalam komunikasi interpersonal. Sikap defensif akan lebih melindungi diri Anda dari ancaman yang dibalasnya dalam situasi komunikasi dibandingkan memahami pesan orang lain.

Menurut Freud, 1921 (dalam Rakhmat, empati dianggap sebagai keadaan ketika seorang pengamat bereaksi secara emosional karena menanggapi kenyataan bahwa orang lain mengalami atau siap untuk mengalami suatu emosi).Kesamaan dalam percakapan antar komunikator berarti bahwa dalam komunikasi interpersonal harus ada sama dalam hal mengirim dan menerima pesan. Dari penjelasan di atas dapat dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan di Rumah Cemara Bandung, dalam hal ini untuk mengetahui bagaimana komunikasi interpersonal yang dilakukan petugas terhadap pasien, dimana petugas dan pasien saling berinteraksi secara langsung sehingga tercipta komunikasi interpersonal yang baik. .

Sebaliknya jika orang lain selalu meremehkan, menyalahkan dan menolak maka individu tersebut cenderung tidak menyukai dirinya sendiri (dalam Rakhmat, 2008:99). Menurut Barlund, ketertarikan interpersonal diperoleh dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, sehingga individu dapat memprediksi alur komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Dengan demikian, komunikasi interpersonal yang terjadi dalam lingkup komunikasi dapat disebabkan oleh faktor internal yang terlibat dalam diri individu, seperti persepsi individu dan konsep diri individu, sedangkan faktor eksternal adalah daya tarik dan hubungan interpersonal yang terbentuk.

Komunikasi interpersonal yang dilakukan pendamping berupa keterbukaan, empati, sikap suportif, sikap positif dan kesetaraan akan membantu pendamping dalam mendampingi pasien HIV/AIDS.

Tinjauan Makna

Pemahaman terhadap makna hidup menunjukkan bahwa di dalamnya juga terkandung tujuan hidup, yaitu hal-hal yang ingin dicapai dan dipenuhi. Demikian pula makna yang diperoleh pendengar dari pesan kita akan sangat berbeda dengan makna yang ingin kita komunikasikan. Namun arti dari kata-kata ini terus berubah, dan ini terutama berlaku pada dimensi makna emosional.

Terkait erat dengan gagasan bahwa makna memerlukan referensi adalah masalah komunikasi yang timbul dari singkatan yang berlebihan tanpa dikaitkan dengan referensi yang konkrit dan dapat diamati. Makna yang kita peroleh dari suatu peristiwa mempunyai banyak segi dan sangat kompleks, namun hanya sebagian dari makna tersebut yang benar-benar dapat dijelaskan (dalam Sobur, 2003: 258). Salah satu cara yang digunakan para sarjana untuk membahas makna yang lebih luas ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dan makna denotatif.

Makna denotatif pada dasarnya menyangkut hal-hal yang dilambangkan dengan kata-kata (yang disebut makna referensial). Makna konotatif adalah makna denotatif ditambah segala uraiannya.Jika denotasi suatu kata merupakan pengertian obyektif suatu kata, maka konotasi suatu kata adalah makna subjektif atau emosionalnya. Mirip dengan konstruksi makna yang diperoleh dari pengalaman hidup para pendamping Rumah Cemara, yang mereka bagikan kepada pasiennya melalui pendampingan peer-to-peer.

Makna akan muncul dari pengalaman hidup tersebut, dengan demikian pendamping akan memaknai dirinya sebagai pasien HIV, memaknai pendamping dan perannya serta makna-makna lain yang terdapat ketika pendamping mengalami pengalaman mendampingi pasien HIV/AIDS.

Tinjauan Fenomenologi

Teori Fenomenologi Alfred Schutz

Schutz sependapat dengan pemikiran Weber tentang pengalaman dan perilaku manusia dalam dunia sosial sehari-hari sebagai sebuah realitas yang mempunyai makna sosial. Dalam hal ini Schutz mengikuti pemikiran Husserl, yaitu proses sebenarnya memahami aktivitas kita dan memberinya makna sehingga tercermin dalam perilaku (Kuswarno, 2009: 18). Bagi Schutz dan pemahaman para ahli fenomenologi, tugas utama analisis fenomenologis adalah merekonstruksi dunia 'nyata' kehidupan manusia ke dalam bentuk yang mereka alami sendiri.

Oleh karena itu, Schutz menyimpulkan bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Motif untuk (memotivasi) adalah tujuan yang digambarkan sebagai niat, rencana, harapan yang berorientasi pada masa depan, dan sebagainya. Karena motif mengacu pada pengalaman masa lalu individu (pelaku), karena berorientasi pada masa lalu.

Motif merupakan suatu daya penggerak yang akan tetap melekat pada diri manusia dan akan terus mendorong manusia untuk bertindak, bertindak dan berperilaku untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pemikiran Alfred Schutz dijadikan pemikiran dalam penelitian yang dilakukan di Rumah Cemara Bandung. Dari pemikiran tersebut muncul motif dan motif karena hal ini dirasakan oleh para pendamping Rumah Cemara, pada saat pendampingan muncul motif yang berbeda-beda antar para pendamping, namun motif tersebut mengacu pada motif masa lalu dan motif masa depan.

Pendamping memberikan bantuan dengan harapan segala hal positif yang dilakukan pendamping dapat mempengaruhi orang lain untuk bertindak.

Tinjauan Tindakan Sosial

Tindakan sosial pada hakekatnya merupakan suatu tindakan individu yang ditujukan kepada orang lain dan mempunyai arti, baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain. Suatu tindakan sosial dikatakan terjadi pada diri seseorang apabila tindakan tersebut baru saja terjadi dan tindakan tersebut berkaitan dengan orang lain. Tindakan sosial dimulai dari tindakan individu yang mempunyai keunikan atau ciri khas tersendiri dengan menggunakan metode verstehen, menurut Weber yang dimaksud dengan verstehen adalah “kemampuan berempati atau kemampuan menempatkan diri dalam pikiran orang lain yang perilakunya harus dijelaskan, dan situasi serta tujuan adalah tujuan melihatnya dari sudut pandang itu” (Kuswanto dan Siswanto, 2003:182).

Tindakan sosial mengandung tiga konsep yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman.Menurut Ruswandi dan Rukandi, pada dasarnya tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat jenis tindakan menurut derajat kemudahan pemahamannya sebagai berikut. Merupakan kegiatan sosial yang murni, dimana tindakan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang ingin dicapai (bersifat rasional), dan kegiatan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan pada pertimbangan dan kesadaran. pilihan yang berkaitan dengan tujuan tindakan dan ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya. Tindakan itu dilakukan dengan mempertimbangkan manfaatnya, namun tujuan yang dicapai tidak terlalu diperhitungkan, yang penting tindakan itu baik dan benar menurut penilaian masyarakat.Rasionalitas tindakan seperti ini adalah alat yang ada hanyalah alat-alat yang ada. pertimbangan dan perhitungan yang sadar dan sementara.

Tindakan jenis ini didominasi oleh perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan secara sadar. Tindakan ini dilakukan secara artifisial berdasarkan perasaan atau emosi seseorang dan berpura-pura. Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi atau perencanaan yang disadari. Perbuatan tersebut didasari oleh kebiasaan melakukan sesuatu pada masa lampau atau dilakukan oleh orang-orang sebelumnya, tanpa perhitungan yang matang dan sama sekali tidak rasional (2007:71). Berdasarkan penjelasan di atas, maka tindakan sosial adalah segala sesuatu yang dapat mengubah orang lain, bahwa tindakan sosial adalah suatu usaha atau tindakan yang dilakukan seseorang yang mengandung tujuan dan makna, yang ditanggapi oleh orang yang menerima rangsangan, dengan tujuan agar orang tersebut bertindak untuk melakukan perubahan. .

Hal ini juga terjadi pada kiprah para pendamping Rumah Cemara dalam mengubah pola pikir pasien HIV/AIDS menjadi lebih baik, dimana ada tujuan dan makna dalam perubahan tersebut, dalam hal ini pasienlah yang dapat dipengaruhi oleh pendampingnya. bertindak berdasarkan pengalaman masa lalu dan masa depan yang dibagikan oleh teman mereka dengan pasien.

Tinjauan Pendekatan Sebaya

Pendekatan teman sebaya disebut juga dengan pendekatan teman sebaya, pendekatan teman sebaya diyakini sama-sama memiliki pengalaman hidup yang sama dan sama-sama menderita HIV/AIDS. Pendamping sebaya tidak hanya membantu klien atau pasien untuk sembuh, melainkan meningkatkan keterampilan pribadi klien atau pasien dalam menghadapi masalah, mengambil keputusan, meningkatkan rasa percaya diri dan mampu berpikir realistis, sehingga memiliki motivasi dan optimisme dalam hidup. . Fungsi lain dari pendekatan sejawat melalui pendampingan adalah sebagai wadah bertukar informasi dan berbagi pengalaman untuk memecahkan masalah yang dihadapi pasien HIV.

Bantuan ini juga diberikan untuk meyakinkan pasien bahwa dirinya tidak sendirian dan masih banyak orang lain yang mengalami nasib serupa dan berhasil melewati masa-masa sulit serta menghadapi masa depan dengan kekuatan. Pendamping yang menggunakan pendekatan teman sejawat juga diartikan sebagai teman sejawat yang bertindak sebagai penasihat atau pendamping. Orang yang berperan sebagai faktor eksternal berusaha mempengaruhi klien dengan hal-hal baru untuk menggantikan hal-hal lama yang perlu diubah, dan pendamping bertugas membantu hingga pasien mempunyai cara berpikir yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tujuan utama pendekatan sejawat dengan pendampingan adalah untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita HIV/AIDS. Proses pendampingan melalui pendekatan sejawat diinisiasi oleh Rumah Cemara Bandung bekerja sama dengan Ruang Teratai RS Hasan Sadikin Bandung. Dalam prosedur pelaksanaannya, pasien datang langsung ke ruang teratai, namun ada pasien yang datang langsung ke Rumah Cemara untuk mencari informasi pertolongan atau ada pasien yang kemudian ingin didampingi langsung oleh pendamping.

Hal ini tergantung kebutuhan pasien dan dibawah ini peneliti memaparkan proses pendampingan yang dilakukan oleh para pendamping terhadap pasien HIV/AIDS.

Tinjauan HIV/AIDS

Gejala-gejala penyakit HIV AIDS

Penularan HIV AIDS

Gambar

Tabel 2.1   Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1   Proses Pendampingan

Referensi

Dokumen terkait

LAYERS IN THE SLAG FILM BETWEEN STEEL SHELL AND MOULD IN CONTINUOUS CASTING OF STAINLESS STEEL Paavo Hooli Outokumpu Stainless Oy, Finland ABSTRACT In order to investigate the