Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena buku “Visi Islam dan Nasional Organisasi Keagamaan di Indonesia” telah selesai disusun. Keberadaan organisasi keagamaan (Islam) di Indonesia nampaknya cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan berbagai bentuk pemikiran di Indonesia.
Telaah Pustaka
Persoalan visi Islam dan nasional Nahdhatul Wathan belum dikaji secara serius dalam penelitian ini. Pertanyaan mengenai visi Islam dan nasional al-Irsjad sama sekali tidak dibahas dalam penelitian ini.
Kerangka Teoritik
Hal ini dilakukan secara simultan dalam interaksi sosial untuk menimbulkan beberapa pendapat terkait dengan keberadaan individu atau kelompok tersebut.22. Dalam konteks penelitian ini, politik identitas akan digunakan untuk mengkaji karakter dan gaya organisasi yang dikembangkan oleh tiga ormas.
Metode Penelitian
Dokumentasi adalah proses pengumpulan data tertulis yang relevan dengan desain penelitian. 30 Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen. Miles dan Huberman kemudian memberikan panduan umum mengenai langkah-langkah analisis data kualitatif, yaitu melalui proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. .31.
KONSEP UMUM TENTANG ORMAS ISLAM DAN KEBERAGAMAAN DALAM
KONTEKS BANGSA INDONESIA
Organisasi Masyarakat: Sebuah Telaah Epistemologis
Sebagai wujud demokrasi di Indonesia, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Organisasi memberikan kesempatan terbuka kepada masyarakat luas untuk turut serta mengisi setiap lini pembangunan nasional melalui organisasi kemasyarakatan yang dapat mengaudit, memberikan masukan,. 40 Dimas Prayoga, “Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Studi Kasus di Kota Pontianak),” Jurnal Nestor Magister.
Organisasi Masyarakat dalam Konsepsi Islam
Namun ada beberapa kelompok atau kelompok yang mendefinisikan perjuangan Nabi menjadikan gerakan ormas Islam yang muncul setelah wafatnya Khalifah Usman Bin Affan menjadi kelompok. Berdasarkan semangat persatuan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW maka terbentuklah organisasi-organisasi Islam yang kemudian mendorong organisasi-organisasi Islam untuk menghidupkan kembali semangat keagamaan.
Indonesia dan Keberagaman
Konflik agama yang sering terjadi di Indonesia umumnya disebabkan oleh sikap keagamaan yang eksklusif, serta kontestasi antar kelompok agama untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat yang tidak didasari oleh sikap toleran, karena masing-masing menggunakan kekuasaannya untuk menang sehingga memicu konflik. Dalam pemahaman ini, kebenaran tidak hanya ditemukan pada satu kelompok saja, namun juga pada kelompok lain, termasuk kelompok agama.
Akar Sejarah Islam Moderat di Indonesia
Masa ini merupakan masa peralihan besar dari bahasa Hindu-Jawa yang mulai memudar menjelang awal era Islam. Keramahan terhadap tradisi dan budaya lokal berpadu dengan karakter dasar budaya pesantren. Pribumisasi Islam menggambarkan bagaimana Islam sebagai doktrin normatif yang bersumber dari Tuhan, ditempatkan pada kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan jati dirinya.
Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam dan Moderasi Islam di Indonesia
Di dalam Undang-Undang Dasar NU dinyatakan bahawa NU sebagai Jam’iyah Diniyah Islamiyah menganut Islam menurut pengertian Ahlussunnah waljamaah mengiktiraf empat mazhab iaitu Hanafij, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Penjelasan terperinci, bahwa dalam bidang akidah, NU mengikuti pengertian Ahlussunnah waljamaah, yang didirikan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansir Al-Maturidi. Dalam bidang fiqh, NU mengikuti pendekatan (al-madhab) mazhab Abu Hanifah Al-Nu'man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i dan Ahmad bin Hanbali.
Sedangkan akhlak sederhana (tawassuth) merupakan ciri Ahlussunnah waljamaah yang paling menonjol, bersamaan dengan i'tidal (sikap adil), tawazun (sikap seimbang) dan tasamuh (sikap toleransi), sehingga menolak segala bentuk pemikiran dan tindakan yang melampau. (tatarruf) yang boleh menyebabkan penyelewengan dan penyimpangan daripada ajaran Islam. Sebagai terbitan daripada sikap sederhana, Ahlussunah waljamaah juga mempunyai sikap yang lebih bertolak ansur terhadap tradisi berbanding fahaman kumpulan Islam yang lain.
Organisasi Masyarakat dan Dinamika Keberagaman di Indonesia: Logika Mayoritas-Minoritas
Penganut agama minoritas tertentu dianggap “tidak beragama” atau “belum beragama” atau menganut ajaran sesat dan tidak sehat, sehingga perlu dirawat dan dibawa kembali atau dibina pada pemahaman agama yang sehat. Kelompok agama yang disebut dalam PNPS/1965 sebagai "diizinkan ada", seperti Bahá'í, Sikh, dan Yahudi; Aliran atau aliran kepercayaan yang ada di Indonesia cukup banyak dan tersebar di berbagai tempat di Indonesia.
Berbeda dari keenam agama tersebut, agama nenek moyang atau agama yang berasal dari Indonesia seperti Kaharingan, Parmalim dan Sunda Wiwitan tidak disebutkan sama sekali. Sementara itu, kelompok agama minoritas bahkan terpaksa mengubah keyakinan teologisnya agar bisa diperlakukan setara dengan agama arus utama.
MEMAHAMI NAHDHATUL WATHAN, AL IRSYAD DAN AL WASHILIYAH
Nahdlatul Wathan
Penamaan Madrasah tersebut dengan sebutan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah jelas menggambarkan suasana kerohanian (psikologis) dan kondisi sosial pada masa itu. Karena wilayah hukum pembuat akta hanya terbatas di Pulau Lombok, maka kehadiran Nahdlatul Wathan juga terbatas di wilayah tersebut. Untuk memahami Nahdlatul Wathan ala Islam, setidaknya bisa melihat ideologi, prinsip, dan tujuan organisasinya.
Secara ideologis, Nahdlatul Wathan menganut aliran Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah’ ala Mazhab al-imam al-Syafi’i. Nahdlatul Wathan mempunyai lambang organisasi “Bulan Bintang Lima Bersinar”, dengan gambar berwarna putih dan berwarna.
Al-Irsyad
Organisasi ini kemudian dikenal dengan akronim al-Irsyad al-Islamiyyah dan baru belakangan ini diakui dan diberi izin oleh. Khalid Abud Attamimi, dalam WARTA AL-IRSYAD (Media Informasi dan Komunikasi Al-Irsyad Al-Islamiyah Jawa Timur), No. Banyaknya komunitas Hadrami di Indonesia menyebabkan al-Irsyad berkembang sangat pesat khususnya di Pulau Jawa.
Dalam menyempurnakan ajaran Islam dari segala praktik yang dianggap menyimpang, al-Irsyad tidak sendirian. Al-Irsyad juga merekrut beberapa guru asal Mesir (al-Azhar) untuk mengajar di sekolah al-Irsyad.
Al-Washliyah
Visi al-Jam’iyatul Washliyah adalah melaksanakan hablum minallah wa hablum minas dan membantu mewujudkan negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur serta mewujudkan kehidupan Islami masyarakat Indonesia. Misi al-Jam'iyatul Washliyah adalah membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu dan berakhlak mulia. Pada tahun 1934, empat tahun setelah berdirinya, Al Jam’iyatul Washliyah merumuskan tujuannya untuk direvisi sehingga tujuan Al Jam’iyatul Washliyah adalah berusaha memenuhi tuntutan agama Islam secara kaffah.
Anggaran dasar Mukaddimah Al Jam'iyatul Washliyah menegaskan bahwa sebagai masyarakat sipil yang mandiri, organisasi ini selalu menjalankan tugasnya secara aktif. Tujuan tersebut juga untuk memenuhi semaksimal mungkin syarat-syarat agama Islam yang tertuang dalam sumpah setia yang diucapkan seseorang ketika diangkat menjadi pengurus Al-Jam’iyatul Washlijah.
MEMAHAMI VISI KEBANGSAAN DAN KEISLAMAN NAHDHATUL WATHAN, AL
IRSYAD DAN AL WASHLIYAH
Berislam di Tengah Multikulturalise Indonesia
Benturan antara aturan hukum dan tradisi (adat) Islam di Indonesia juga telah melahirkan banyak teori yang menggambarkan bagaimana dialektika keduanya bekerja sangat dinamis. Hukum Islam ini kemudian diberi landasan hukum oleh pemerintah Hindia Belanda di RegeeringsRegiement (RR) pada tahun 1855 dimana. Menurutnya, hukum Islam tidak bisa diterapkan kepada siapa pun kecuali dikehendaki atau diterima oleh hukum adat.
Pemerintah Belanda mengganti Regeeringsregeling (IS) yang menjadi payung penerapan hukum Islam di Indonesia dengan Indische Staatsregeling (IS) yang mencabut penerapan hukum Islam dalam sistem hukum Hindia Belanda. Ketiga, dialektika antara hukum Islam dengan segala aspek di luarnya jelas telah membawa perubahan signifikan dalam hukum Islam khususnya di Indonesia.
Dialektika Nasionalisme dengan Islam
Oleh karena itu, ketika nasionalisme datang menyapa umat Islam, maka harus bersinggungan dengan nilai-nilai Islam yang sudah mendarah daging dalam kehidupan umat Islam. Kekuatan umat Islam di benua Eropa, seperti di Spanyol dan Sisilia, menjadi jembatan emas bagi Eropa untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan peradaban dari dunia Islam. Akhirnya umat Islam bangkit, dengan semangat persatuan dan cita-cita kemerdekaan untuk lepas dari penjajahan Eropa yang dijiwai oleh semangat nasionalisme Islam.
Islam, kondisi umat Islam tidak serta merta membaik seiring dengan kemajuan peradaban Eropa-Barat modern. Namun nasionalisme Islam dapat menjadi senjata ampuh bagi umat Islam untuk bangkit dan bangkit dari keterpurukannya di segala bidang, terutama dengan memerdekakan diri dari penjajahan negara-negara Barat atas dunia Islam.
Nasionalisme Religius: Visi Kebangsaan dan Keislaman Nahdlatul Wathan
Adapun dalam bidang fiqh, Nahdlatul Wathan dengan tegas mengatakan bahwa mereka mengikuti mazhab Imam al-Syafi'i. Bahkan untuk menyebut jemaah atau pengikutnya, baik Nahdlatul Wathan maupun NU menggunakan istilah “nahdhiyyin”. Dari syair lagu mars tersebut dapat dipahami bahwa Nahdlatul Wathan menanamkan pesan kepada seluruh umatnya.
Ayat terakhir pawai Nahdlatul Wathan “Sebagai Umat Beragama – Hendaknya Menjadi Teladan Yang Mulia – Ikut Membangun Keutuhan Bangsa – Utuh Jasmani Dan Rohani.”. Menegaskan bahwa Nahdlatul Wathan terikat untuk terlibat aktif dalam upaya membangun kesehatan jasmani dan rohani bangsa Indonesia.
Hadramisme dan Salafisme: Visi Kebangsaan dan Keislaman al-Irsyad
Sebaliknya, di daerah yang anggota masyarakat adatnya kuat, keberadaan cabang al-Irsyad biasanya tidak bertahan lama. Pada masa penjajahan (Jepang dan Belanda), al-Irsyad benar-benar mengalami masa sulit untuk berkembang. Hal yang menarik dari Kongres Bondowoso adalah dihapusnya nama ormas (ormas) dari konstitusi al-Irsyad.
Keberadaan Pondok Pesantren al-Irsyad di Tengaran tidak lepas dari penyebaran ideologi Salafi di zaman modern (1980-an). Padahal, Pondok Pesantren Tengaran al-Irsyad dibangun untuk memperkuat kader al-Irsyad khususnya di bidang kemampuan bahasa Arab.
Islam Moderat (al-Washl): Visi Kebangsaan dan Keislaman al-Washliyah
Hal ini pula yang menyebabkan perkembangan al-Washliyah pada masa Orde Baru sangat lambat. Kehadiran era reformasi dimanfaatkan al-Washliyah untuk mengembalikan “Islam” sebagai landasan organisasi setelah khittah organisasi ini berdiri. Keyakinan yang dianut al-Washliyyah membagi Tauhid menjadi 3 jenis: Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma wa Ilmu.
Al-Washliyah memaknai prinsip tersebut sebagai semangat militan untuk memelihara dan membangun negara. Al-Washliyah akan selalu tampil sebagai organisasi yang moderat dan mencari kompromi ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan di sekitarnya.
KESIMPULAN
Dikotomi sosial dan spiritual antara masyarakat sayyid dan non-sayyid turut meramaikan sejarah awal berdirinya al-Irsyad al-Islamiyyah. Kondisi seperti ini membuat al-Irsyad al-Islamiyyah pada awal berdirinya masih setengah hati menerima Indonesia sebagai negara. Kondisi ini perlahan berubah setelah al-Irsyad Islamiyyah resmi menjadi bagian dari Organisasi Islam di Indonesia.
Perspektif Islam yang dikembangkan oleh al-Irsyad al-Islamiyyah adalah salafiyyah ala para pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh, al-Afghani dan Rashid Ridha. Adapun al-Washliyyah, eksistensinya sebagai ormas Islam tidak sehebat Nahdlatul Wathan dan al-Irsyad.
DAFTAR PUSTAKA
Pandangan Kebangsaan Beragama: Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997.
GLOSARIUM
INDEKS