Sependapat dengan Imam Sya@fi'i, Imam Ma@lik berpendapat bahwa perkawinan tidak sah tanpa alasan apapun. Imam Sya@fi'i berpendapat bahwa wali nikah hendaknya mengutamakan persetujuan janda di bawah umur.
Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Sumber Data
Sumber skripsi ini berupa kitab atau kitab yang memuat informasi khusus membahas masalah perkawinan, antara lain: Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Idris Ahmad Sha@fi'i, fiqih Sha@fi'i, Islami Fiqih menurut madzhab Sya@fi'i. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, sehingga metode pengumpulan data yang lebih tepat adalah dengan menggunakan metode dokumentasi.
Teknik Analisis Data
Sistematika Pembahasan
BAB I Pendahuluan: pada bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian yang
BAB II Kajian Teori: pada bab ini merupakan kerangka teoritik mengenai tinjauan umum tentang wali nikah perspektif Imam Ma@lik
Merupakan analisis komparatif terhadap pendapat Imam Ma@lik dan Imam Sha@fi’i tentang wali dalam perkawinan
Merupakan penutup yang memuat kesimpulan
Biografi Imam Ma@lik
Imam Malik menjadikan perbuatan penduduk Madinah sebagai bukti dengan syarat adat tersebut telah diamalkan sejak zaman nabi. Namun, terdapat ramai fuqaha yang tidak bersetuju dengan pendapat Imam Malik yang tidak dijadikan hujjah oleh penduduk Madinah. 35.
Persyaratan Wali Nikah Menurut Imam Ma@lik
Imam Malik mengartikan Istihsan adalah beramal dengan salah satu dari dua dalil yang paling kuat, atau mengambil maslahah juz'iyah berdasarkan dalil kulli.39. Imam Ma@lik berpendapat bahwa perwalian didasarkan pada keluarga 'ashabah (yaitu keluarga 'ashabah), hanya saja anak laki-laki dan kerabat dekatnya lebih berhak menjadi wali. Apabila semua hal di atas tidak ada (wali dekat), hakim berhak mengawinkan anak laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan perempuan gila, anak laki-laki dan perempuan gila dengan orang yang sekerabat, dan mengawinkan perempuan dewasa yang tidak ada. bodoh dengan persetujuan mereka.43.
Imam Ma@lik membagi wali menjadi dua, terdiri dari wali Kha>sah dan wali 'am. Secara khusus wali yang telah ditetapkan, terdiri dari 9 golongan yang meliputi: ayah, orang yang akan mewariskan, sanak saudara dari pendamping, majikan dan pemerintah. Alasan wali ada 6 (enam), yaitu: karena bapak, orang yang diwariskan, sanak saudara pendamping, harta benda, nafkah, dan pemerintah.
Imam Ma@likketika membincangkan berkaitan perintah wali mengelompokkan mereka kepada dua kategori sahaja iaitu wali mujbir dan wali ghairu mujbir. Contohnya apabila bapa berkata kepada wa>si>': "kahwinkan anak saya dengan si fulan". Manakala wali ghairu mujbir pula terdiri daripada anak, datuk, saudara seibu dan bapa saudara.45 Menurut Imam Ma@lik, selain anak lelaki dan bapa yang berhak menjadi wali mujbir, juga wali wa>si>'.
Wali Nasab Perkawinan Menurut Imam Ma>lik
Hampir sama dengan pengertian yang terakhir, dalam Ensiklopedia Islam pengertian nasab diartikan sebagai keturunan atau saudara, yaitu ikatan keluarga melalui akad nikah yang sah.49 Hal ini sama dengan nasab wali apabila seorang perempuan telah menikah, karena menurut Imam Ma@@ Ibarat wanita yang akan menikah, walinya pun harus hadir. Menurut Imam Ma@lik, wali nasab adalah wali nikah karena adanya hubungan nasab dengan wanita yang akan dinikahi. Mengenai urutan wali, Imam Ma@lik berpendapat bahwa perwalian didasarkan pada keluarga 'ashabahan (yaitu keluarga 'ashabah), hanya saja anak laki-laki dan kerabat dekatnya lebih berhak menjadi wali. lik percaya bahwa anak laki-laki, meskipun lebih rendah, yang lebih penting adalah ayah, saudara tiri ayah dan ibu, hanya saudara laki-laki ayah tiri, anak laki-laki dari saudara kandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki tiri ayah, lalu kakek dari pihak ayah, bahkan jika itu mencapai puncak.
Bagi Imam Ma@likmaula, yang jauh lebih utama daripada maula yang berdekatan, dan wa>si>' (yang ditinggalkan) lebih utama daripada wali keluarga, iaitu wa>si>' bapa. ditegaskan oleh Imam Ma@lik dalam kitabnya al-Mudawwanah yang bermaksud “dalam kes Imam Ma@lik diminta pendapat berkenaan hak penjagaan hamba yang dimerdekakan oleh majikannya sedangkan hamba itu mempunyai saudara lelaki iaitu bapa saudara. , kanak-kanak itu adalah saudara perempuan dan dia tidak mempunyai bapa. Jadi bekas pemilik hamba boleh mengahwini seorang wanita semasa wanita itu masih dara atau janda. Imam Ma@lik berkata "pada pendapat saya" sesiapa sahaja dalam keluarganya boleh berkahwin dengan segera dengan seorang wanita.Kerana pada dasarnya menurut Imam Ma@lik seorang bekas hamba boleh berkahwin dengan orang Arab dari kaumnya apabila wanita dari kaumnya adalah satu tempat dan satu pendapat.
Imam Ma@lik berkata: “menurutku keluarga boleh menikahi wanita tersebut jika tidak ada ayah dan wa>si>'.”. Imam Ma@lik tidak hanya berdasar pada fatwa sahabatnya saja, namun juga berpendapat bahwa ketika surat kuasa diperbolehkan dalam perkawinan, makawa@s}i@ juga diperbolehkan. Akibat ketiga, bagi para ulama yang meyakini bahwa hak asuh hanyalah hak Allah, maka otomatis perkawinannya rusak.
Biografi Imam Sha@fi’i
Setelah hafal isi kitab al-Muwatta‟, Sya@fi'i sangat ingin bertemu dengan penulisnya, Imam Ma@lik, sekaligus memperdalam ilmu fiqh yang sangat diminatinya. Di antara murid-murid Imam Sha@fi'i adalah al Hazan dan Muhammad yang dikenal dengan julukan Az-Za'fari, Imam Ahmad bin Hambal dan al-. Sebagai pendiri mazhab Sya@fi'i, Imam Sya@fi'i meneliti hukumnya berdasarkan lima sumber hukum yang tercatat dalam kitabnya yaitu kitab al-Umm.
Imam Sya@fi'i berkata: "Dalam pemerolehan ilmu ada beberapa tingkatan, pertama Al-Qur'an dan As-Sunnah, ketiga ucapan seorang sahabat yang tidak disanggah oleh sahabat yang lain, keempat adalah tingkatan. Ucapan seorang sahabat, sahabat yang masih mempunyai sahabat lain yang berselisih pendapat, dan yang kelima adalah qiyas. Imam Sya@f'i, seperti ulama lain, berazam bahawa al-Quran adalah sumber hukum Islam yang paling asas, yang dia yakini bahawa "tidak ada yang diturunkan kepada penganut agama melainkan petunjuk dalam al-Quran" an." Oleh itu, Imam Asy-Sya@fi'i sentiasa. Menurut Imam Sya@fi'i, Sunnah Rasulullah SAW dan al-Quran adalah sama taraf kerana kebanyakan fungsi as-Sunnah adalah untuk mengkhususkan sesuatu yang ditetapkan dalam al-Quran.
Para pengikut Imam Sa@fi'i mempunyai pandangan berbeda terhadap ketentuan Imam Sa@fi'i tentang sahabat sebagai dalil. Namun dalam kitab ar-Risala kita temukan riwayat Rabi' bin Sulaiman bahwa Imam Sya@fi'i menggunakan ketetapan Sahabat sebagai dalil dalam qaum Jadid. Sebagian besar ulama, termasuk Imam Syafi'i, sepakat bahwa Qiyas merupakan salah satu dalil syar'i untuk menetapkan hukum yang bersifat amaliyah.
Persyaratan Wali Nikah Menurut Imam Sha@fi’i@
Berbeda dengan Jumhur, mazhab Nidhomiyah dan Dhahiriyah serta sebagian aliran Syiah berpendapat bahwa Sanay Qiyas tidak termasuk dalam salah satu prinsip syar'i dalam menetapkan hukum. 68. Perwalian pada umumnya berarti bahwa seseorang, berdasarkan kedudukannya, mempunyai kuasa untuk bertindak melawan dan atas nama orang lain. Ia dapat bertindak atas nama orang lain, karena orang lain itu mempunyai cacat pada dirinya, artinya ia sendiri dapat bertindak secara sah, baik dalam urusan harta bendanya maupun untuk dirinya sendiri, dan dalam perwalian, wali itu bertindak atas nama orang itu. wanita dalam pernikahan tersebut. kontrak.
Namun untuk menjadi wali, seseorang harus memenuhi standar minimal persyaratan yang juga telah disiapkan oleh para Ulama', khususnya pendapat Imam Sya@fi'i. Menjadi dewasa dan waras berarti anak-anak atau orang gila tidak berhak menjadi wali.
Wali Nasab dalam Perkawinan Menurut Imam Sha@fi’i
Di antara berbagai rukun perkawinan menurut hukum Islam, wali nikah sangatlah penting dan menentukan sah atau tidaknya suatu perkawinan. Padahal menurut Imam Sya@fi'i, perkawinan tanpa wali tidak sah bagi pihak perempuan. , sedangkan laki-laki tidak membutuhkan wali nikah. Kalau tidak ada, maka berpindah, seperti saudara laki-laki bapak, kepada saudara laki-laki bapak, paman kandung dari anak paman bapak, ahli waris yang lain.77. Kelompok pertama terdiri dari saudara laki-laki yang mempunyai hubungan langsung dengan ayah, yaitu ayah, kakek dari pihak ayah, dan seterusnya.
Kelompok kedua, kelompok kerabat dari saudara kandung atau saudara laki-laki ayah beserta keturunan laki-lakinya. Kelompok ketiga, keluarga paman yaitu saudara kandung, ayah, saudara tiri dan keturunan laki-lakinya. Kelompok keempat, kelompok saudara laki-laki, kakek dan saudara perempuan tiri serta keturunan laki-lakinya.79.
Jika datuk nenek tidak sampai ke atas, maka penjaganya ialah saudara kandung (ibu mertua), jika tiada, maka ipar 82. Jika tiada saudara lelaki sebapa, atau jika ada tetapi tidak memenuhi syarat menjadi wali, maka wali itu adalah anak kepada saudara kandung, jika tiada, maka anak sebapa dsb. sepanjang jalan ke bawah. Jika anak lelaki sebapa tidak ada sehingga akhir, maka yang menjadi penjaga kepada bapa saudara sebelah bapa.
اٌ َ َحاٌي ِ َح ا
Adapun syarat-syarat seorang wali ada positif dan negatifnya bagi seorang wali, para fukuha salah satunya Imam Malik berpendapat bahwa sifat-sifat positif tersebut adalah keislaman, kedewasaan dan kejantanan. Imam Ma@lik kaul shehabi telah mengatakan, jika tidak ada wali yang dekat, maka hakim berhak mengawinkan anak laki-laki dan perempuan, laki-laki dan perempuan kecil yang gila, laki-laki dan perempuan gila dengan orang yang sederajat, dan mengawini perempuan dewasa dan tidak dewasa. . marah dengan izin mereka. Mengenai urutan wali, Imam Ma@lik berpendapat bahwa perwalian didasarkan pada 'ashabehan' (yaitu keluarga para 'sahabat'), hanya saja anak laki-laki dan kerabat terdekatnya lebih berhak menjadi wali.
14. Anak lelaki kepada abang 15. Anak kepada abang 16. Pakcik (abang lelaki kepada bapa). Menurut Imam Ma@lik, wali mujbir digolongkan dalam susunan berikut: majikan hamba, bapa, wa>si>'. si mati), manakala Imam Sya@fi'i wali mujbir ialah ayah dan datuk. Bezanya dengan imam ialah wali wasi berhak menjadi wali mujbir.
Menurut Imam Ma@lik, yang berhak menjadi wali mujbir, selain budak dan ayah, adalah wali wa>si>'. Mengenai masalah wali wa>si>' Imam Sya@fi'i mempunyai pendapat berbeda karena yang berhak menjadi wali sebenarnya adalah orang yang tidak boleh menikah. Menurut Imam Sya@fi'i wa>si>' tidak bisa disamakan dengan pembantu dekan dalam perkawinan.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran-Saran
Metode Ijtihad Imam Syafi'i Mengenai Wali Nikah Bagi Janda Di Bawah Umur dan Kemandirian Pernikahan dalam kitab al-Umm.