• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yayasan Kesehatan Perempuan mengajukan perrmohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi dengan perkara nomor 30/PUU-XII/2014 tentang batas usia minimum perkawinan khususnya bagi wanita.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Yayasan Kesehatan Perempuan mengajukan perrmohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi dengan perkara nomor 30/PUU-XII/2014 tentang batas usia minimum perkawinan khususnya bagi wanita."

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

mencapai usia 19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun. Yayasan Kesehatan Perempuan mengajukan perrmohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi dengan perkara nomor 30/PUU-XII/2014 tentang batas usia minimum perkawinan khususnya bagi wanita. Perkara nomor 30/PUU-XII/2014 telah diputus oleh Hakim Konstitusi dalam Putusan Nomor 30-74/PUU-XII/2014 yang menyatakan menolak permohonan judicial review para Pemohon untuk seluruhnya. Penilaian Hakim Konstitusi adalah pokok permohonan para Pemohon tidak beralasan menurut hukum. Hakim Konstitusi Maria Farida Indrati memiliki pendapat yang berbeda atau dissenting opinion.

Fokus kajian yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) bagaimana dasar pertimbangan hakim MK yang menolak terhadap uji materiil batas usia perkawinan, 2) bagaimana dasar pertimbangan hakim MK yang melakukan dissenting opinion terhadap putusan MK tentang uji materiil batas usia perkawinan, 3) bagaimana analisis yuridis putusan MK tentanag uji materiil batas usia perkawinan.

Tujuan Penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan dasar pertimbangan hakim atas menolaknya uji materiil batas usia perkawinan, 2) mendeskripsikan dasar pertimbangan hakim dalam pemberian dissenting opinion terhadap putusan MK tentang uji materiil batas usia perkawinan, 3) mendeskripsikan analisis yuridis putusan MK tentang uji materiil batas usia perkawinan.

Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan kenyataan sosial/empiris (dalam hal ini produk dari putusan MK), dengan teori yang ada.

Selanjutnya peneliti menguraikan dan memberikan komentar dari hasil sinkronisasi dua komponen tersebut. Adapun metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan documenter.

Hasil pembahasan dalam skripsi ini menunjukkan bahwa: 1) Dasar Pertimbangan Hakim MK yang menolak terhadap Uji materiil Batas Usia Perkawinan hanya melihat moral bukan sebagai penjaga konstitusi karena telah mengabaikan fakta-fakta yang dimungkinkan terjadi. Penentuan batas usia minimum perkawinan untuk menjaga kesehatan suami istri sudah tidak sesuai lagi karena terdapat perbedaan kondisi pada tahun 1974 dengan kondisi sekarang. 2) Dasar Pertimbangan Hakim MK yang memberikan Dissenting Opinion menjelaskan bahwa persoalan usia perkawinan sudah waktunya diperlukan perubahan hukum segera yaitu melalui Putusan Mahkamah sebagai suatu bentuk hukum melalui sarana rekayasa social. 3) Analisis Yuridis Putusan MK tentang batas usia perkawinan menunjukkan besarnya pengaruh pernikahan dini atau pernikahan anak, baik dari segi kesehatan psikologi, kesehatan reproduksi, dan konvensi hak-hak anak terbukti sangat melindungi anak dan perempuan.

(2)

A. Latar Belakang

Membentuk suatu keluarga yang harmonis dan kekal, yang diikat oleh tali perkawinan serta untuk mencapai tujuannya adalah merupakan hal yang suci. Namun demikian tidak jarang terjadi bahwa tujuan yang mulia tersebut tidak sesuai yang diharapkan apabila kendalinya dipegang oleh orang yang tidak pantas untuk itu, termasuk juga dalam pembinaan rumah tangga. Ketika salah satu diantara suami istri tersebut belum memiliki kedewasaan baik fisik maupun psikis, maka pembinaan rumah tangga itu akan sulit.

Pendewasaan usia nikah menjadi penting agar pasangan yang akan melangsungkan perkawinan dapat mempersiapkan diri lebih dahulu atau dengan kata lain, seorang laki-laki maupun perempuan diharapkan tidak menikah pada usia muda. Berkaitan dengan usia perkawinan, berdasarkan Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang mnyebutkan bahwa : “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.”1

Penentuan ini dipertegas kembali pada Pasal 15 ayat (1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam yang menegaskan bahwa:

1. Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang

1Undang-undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 7 ayat (1).

(3)

ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No.1 tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun

2. Bagi calon mempelai yang bgelum mencapai umur 21 tahun harus mendapati izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2),(3),(4) dan (5) UU No.1 Tahun 1974.2

Ketentuan batas umur ini, seperti yang disebutkan dalam penjelasan Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan didasarkan kepada pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan.3

Pasal 7 ayat (1) “perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria berumur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun”

bertentangan dengan pasal 1 ayat (1) Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pasal ini juga mengakibatkan perampasan hak- hak anak, terutama hak untuk berkembang, yang berdasarkan pada Pasal 28B dan Pasal 28C ayat 1 Undang-undang Dasar 1945.

Adapun alasan dari batas usia minimal untuk menikah bagi laki- laki 19 tahun dan bagi perempuan 16 tahun dapat dilihat dalam aturan penjelasan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan yang menyebutkan bahwa tujuan dari adanya ketentuan batas usia untuk menikah bagi laki-laki dan perempuan adalah untuk menjaga kesehatan suami, istri dan keturunan.

Dengan demikian, penjelasan tersebut lebih mengarah pada kesiapan fisik biologis saja, tanpa memperhitungkan kesiapan mental.

Adapun kesiapan mental menjadi sangat penting dan harus

2Kompilasi Hukum Islam, Pasal 15 ayat (1) dan (2).

3Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, cet. Ke-6 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 76.

(4)

dipertimbangkan karena dapat berdampak pada masalah-masalah baru dibelakang hari.

Padahal jika kembali pada konsep Islam, jelas disinggung bahwa Islam memberi patokan untuk menikah dengan kemampuan (istita’ah) yakni kemampuan dalam segala hal baik kemampuan memberi nafkah lahir batin kepada istri maupun kemampuan mengendalikan gejolak emosi yang menguasai dirinya. Jika kemampuan dalam hal tersebut ada, maka ajaran agama mempersilahkan seseorang untuk menikah. Namun jika belum mampu, maka dianjurkan untuk puasa lebih dahulu. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW :

َ◌

ﷲا ﻰﻠﺻ ِﻪﱠﻠﻟَا ُلﻮُﺳَر ﺎَﻨَﻟ َلﺎَﻗ ﻪﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر ٍدﻮُﻌْﺴَﻣ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟَا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ , ْجﱠوَﺰَـﺘَﻴْﻠَـﻓ َةَءﺎَﺒْﻟَا ُﻢُﻜْﻨِﻣ َعﺎَﻄَﺘْﺳا ِﻦَﻣ ! ِبﺎَﺒﱠﺸﻟَا َﺮَﺸْﻌَﻣ ﺎَﻳ ) ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ

, ِﺮَﺼَﺒْﻠِﻟ ﱡﺾَﻏَأ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ِمْﻮﱠﺼﻟﺎِﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻌَـﻓ ْﻊِﻄَﺘْﺴَﻳ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣَو , ِجْﺮَﻔْﻠِﻟ ُﻦَﺼْﺣَأَو

( ٌءﺎَﺟِو ُﻪَﻟ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ; ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﻖَﻔﱠـﺘُﻣ

٤

Artinya : Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi)

Dengan demikian, pada hakikatnya Islam menganjurkan bahwa untuk menikah tidak hanya kesiapan fisik yang diperlukan namun juga kesiapan psikis. Hal ini tercermin dalam Firman Allah dalam surat An- Nisa’ ayat 9:

4Bulughul Maram, 993.

(5)

































Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.5

Putusan MK No. 30-74/PUU-XII/2014 tentang Batas Usia Perkawinan menjadi berita yang sangat mengejutkan, putusan itupun juga banyak menimbulkan rasa kecewa dikalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyitir fakta mengenai imbas putusan MK dari aspek sosial medis, khususnya mengenai masalah kesehatan reproduksi pada ibu berusia muda.

Usia Undang-undang yang sudah tidak lagi relevan dengan kondisi masyarakat dan usianya telah mencapai 41 tahun sudah sepatutnya untuk direvisi kembali. Dari sisi konteks sosial seiring berjalannya waktu telah banyak mengalami perubahan dibanding konteks sosiohistoris pada saat undang-undang tersebut dibuat. Hal tersebut melahirkan kesadaran publik untuk mencegah perkawinan anak berusia dibawah 18 tahun.

Namun dari beberapa hakim Mahkamah Konstitusi ada satu hakim yaitu Maria Farida Indrati yang memberikan dissenting opinion atas putusan tersebut. Dalam pendapatnya menyampaikan bahwa definisi anak dalam beberapa Undang-undang tersebut sebenarnya sejalan dengan

5Al-Qur’an, 4:9

(6)

ketentuan dalam Pasal 47 ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan,

“Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau yang belum pernah melangsungkan perkawinan ada dibawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaanya.”6

Dengan demikian, bagi sesorang yang menikah sebelum berusia 18 tahun adalah termasuk dalam definisi pernikahan anak, oleh karena pada usia tersebut seseorang belum siap secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk memikul tanggung jawab perkawinan dan pengasuh anak.

Berdasarkan alur problematika di atas, penyusun memandang perlu untuk menganalisa kembali bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan Putusan MK No. 30-74/PUU-XII/2014. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang “Analisis Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014 Tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan”, agar keharmonisan rumah tangga

dan penyusutan angka perceraian dapat terwujud.

B. Fokus Kajian

Berdasarkan latar belakang di atas, dan juga untuk mempermudah penulis dalam melakukan kajian dalam hal ini, maka dirasa perlu adanya suatu fokus kajian. Adapun fokus kajian dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana dasar Pertimbangan Hakim MK yang menolak terhadap Uji materiil Batas Usia Perkawinan?

6Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 47 ayat (1).

(7)

2. Bagaimana dasar Pertimbangan Hakim MK yang melakukan Dissenting Opinion Terhadap Putusan MK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan?

3. Bagaimana Analisis Yuridis Putusan MK tentanag Uji Materiil Batas Usia Perkawinan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan adalah hal yang penting dalam melakukan suatu pekerjaan.

Dengan ditetapkannya tujuan yang jelas, suatu pekerjaan akan lebih terarah.

Senada dengan hal tersebut, berdasarkan fokus penelitian diatas, maka penelitian ini bertujuan :

1. Mendeskripsikan dasar pertimbangan hakim yang menolak uji materiil batas usia perkawinan.

2. Mendeskripsikan dasar pertimbangan hakim dalam pemberian Dissenting Opinion terhadap Putusan MK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan.

3. Mendeskripsikan Analisis Yuridis Putusan MK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis

Dapat Menjadi tinjauan ulang tentang batas usia perkawinan dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.

(8)

2. Secara Praktis a. Bagi peneliti

1) Penelitian ini sebagai upaya dalam mengembangkan dalam potensi diri baik secara intelektual maupun akademis serta dapat menambah pengetahuan khususnya dibidang Al ahwal Asy Syahsiyyah.

2) Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam penulisan karya ilmiah.

b. Bagi Masyarakat

Sebagai salah satu bentuk informasi dan bertambahnya keilmuan yang berfungsi sebagai khazanah keilmuan yang bisa dibaca dan ditelaah oleh masyarakat secara umum.

c. Bagi IAIN Jember

Diharapkan dapat memberi konstribusi dan bisa menjadi referensi dalam mengembangkan keilmuan khusunya dalam bidang Al ahwal Asy Syahsiyyah.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.7

7Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 52.

(9)

1. Analisis

Analisis adalah penguraian suatu pokok atau berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.8 2. Yuridis

Yuridis adalah menurut hukum; secara hukum.9 3. Putusan Mahkamah Konstitusi

Dalam kamus hukum Internasional dan Indonesia, putusan berarti

“hasil atau kesimpulan dari suatu pemeriksaan perkara yang didasarkan pada pertimbangan yang menetapkan apa yang hukum”.10

Mahkamah Konstitusi dibentuk sebagai lembaga pengawal konstitusi (the guardian of the constitution). Apabila terdapat undang-undang yang bertentangan dengan konstitusi, Mahkamah dapat menyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat baik sebagian maupun seluruhnya.

Dari definisi diatas, maksud yang diinginkan penulis mengenai redaksi Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu, hasil kesimpulan hakim dalam memeriksa perkara Nomor 30-74/PUU-XII/2014 tentang uji materiil batas usia perkawinan.

F. Metode Penelitian

Dalam suatu penyusunan karya ilmiah maka penggunaan metode adalah mutlak diperlukan karena di samping untuk mempermudah penelitian

8Dessy Anawar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, (Surabaya: Amelia Surabaya, 2015), 40.

9Ibid, 604.

10 Michael R. Purba, Kamus Hukum Internasional dan Indonesia, (Jakarta: Widyatama, 2009), 349.

(10)

juga sebagai cara kerja yang efektif dan rasional guna mencapai hasil penelitian yang optimal. Selain itu penelitian merupakan suatu sarana ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka metodologi penelitian yang diterapkan harus senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Maka metodologi penelitian hukum juga memiliki cirri-ciri terentu yang merupakan identitasnya, jadi ilmu hukum dapat dibedakan dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Berikut pemaparannya:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan.11 Pada penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam ilmu penelitian digolongkan sebagai data sekunder. Data sekunder tersebut mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, sehingga meliputi surat-surat pribadi, buku-buku harian, buku- buku, sampai pada dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah.12

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis. Deskriptif adalah dengan menggambarkan secara tepat bagaimanakah Ptusan MK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan. Analitis adalah jalan yang digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mendapatkan penilaian secara normatif tentang batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan (UUP) dan Ilmu-ilmu lainnya dengan jalan

11Suryono Soekanto, Penelitian Hukum Normative, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2007), 13.

12Ibid, 24.

(11)

memilah-milah antara pengertian yang satu dengan yang lain untuk memperjelas.

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kasus. Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.13 Yang menjaddi kajian pokok didalam pendekatan kasus adalah ratio decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada suatu putusan.

Pendekatan Kasus tidak sama dengan studi kasus (case study). Di dalam pendekatan kasus (case approach), beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum.

4. Pengumpulan Data

Penentuan metode pengumpulan data tergantung pada jenis dan sumber data yang diperlukan. Pada umumnya pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik yang bersifat alternatif maupun komulatif yang saling melengkapi.14 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dan dokumentasi yang bersifat tertulis terutama buku-buku yang terkait dengan penelitian tersebut ataupun data tertulis lainnya, yang dikumpulkan kemudian dilakukan penelaahan terhadap naskah-naskah tersebut. Dan dalam hal ini sumber

13Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008). 94.

14Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Agama Islam, cet. ke-1, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 65-66.

(12)

utama (data primer) adalah Putusan MK tentang uji materiil batas usia perkawinan nomor 30-74/PUU-XII/2014.

5. Analisis Data

Terkait penelitian ini, Analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Menurut Weber, Content Analysis adalah metodologi yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shoheh dari sebuah dokumen. Menurut Holsti bahwa

Content Analysis adalah teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha untuk menemukan karakteristik pesan, dan dilakukan secara objektif dan sistematis”.15 Dalam penelitian ini penulis ingin menganalisa dan menarik kesimpulan dari Putusan Mahkamah Konstitusi oleh hakim tentang batas usia minimal perkawinan.

6. Keabsahan data

Keabasahan data memuat bagaimana usaha-usaha yang hendak dilakukan peneliti untuk memeperoleh keabsahan data-data temuan di lapangan.

Keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi. Trianggulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai macam cara, dan berbagai waktu.16Sedangkan untuk menguji keabsahan data yang diperoleh, peneliti menggunakan trianggulasi sumber.

15Moleong, Metodologi, 220.

16Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi, (Bandung: Alfabeta, 2014 Cet. Ke 5), 369.

(13)

Trianggulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.17

G. Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan pada penelitian ini terbagi menjadi lima bab. Bab pertama berisi pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian, serta sistematika pembahasan.

Bab dua berisi tentang penelitian terdahulu yang membahas penelitian yang telah dilakukan oleh orang lain yang serupa dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Kemudian dilanjutkan dengan teori yang menjadi landasan pada bab berikutnya dalam penelitian ini yang berisikan konsep “batas usia perkawinan”

Bab ketiga berisi tentang penyajian data dan analisis peneliti tentang penelitian ini. Yaitu Bagaimana Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014 Tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan.

Dalam bab ke empat sebagai bab terahir, penutup berisi kesimpulan dan saran-saran dengan menyikapi seobyektif mungkin dengan landasan Hukum Perkawinan Indonesia, Hukum Islam, ilmu psikologis, dan teori-teori lainnya. Dengan berlandaskan hukum dan realitas yang terjadi dalam masyarakat penelitian ini menawarkan saran-saran kepada berbagai pihak yang berkepentingan dalam persoalan ini.

17Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011 Cet.

Ke 29), 330.

(14)

A. Penelitian Terdahulu

Sejauh ini peneliti menemukan beberapa penelitian mengenai batas usia perkawinan, beberapa penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

Skripsi Mahasiswa STAIN Jember Abdul Wahid Hasyim yang berjudul Batas Minimal Usia Perkawinan Dalam Islam (Studi Komparatif Antara Pemikiran Jumhur dan Inbnu Syubrumah tentang Batas Minimal Usia Perkawinan). Dalam skripsi ini memiliki fokus masalah bagaimana pemikiran Jumhur tentang batas minimal usia perkawinan, bagaimana pemikiran Ibnu Syubrumah tentang batas minimal usia perkawinan, dan bagaimana perbandingan antara Jumhur dan Ibnu Syubrumah tentang batas minimal usia perkawinan.1

Skripsi Mohammad Alex Fauzi yang berjudul Batas Usia Perkawinan Menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam perspektif hukum dan kesehatan reproduksi. Dalam skripsi ini penyusun lebih membahas tentang bagaimana konsep batas minimal usia perkawinan yang diberikan oleh Undang-undang perkawinan sebagai hukum positif di Indonesia dengan konsep batas minimal usia perkawinan dalam kajian

1Abdul Wahid Hasyim, Batas Minimal Usia Perkawinan Dalam Islam (Studi Komparatif Antara Pemikiran Jumhur dan Inbnu Syubrumah tentang Batas Minimal Usia Perkawinan), Skripsi Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Jember, 2009.

(15)

kesehatan reproduksi, yang untuk kemudian dibandingkan dengan konsep hukum islam.2

Skripsi yang ditulis oleh Elly Surya Indah yang berjudul Batas Minimal Usia Perkawinan Menurut Fiqh Empat Mazhab dan UU Nomor 1 Tahun 1974. Dalam skripsi ini penyusun lebih menekankan pembahasan tentang bagaimana usia perkawinan yang diberikan oleh fiqh empat mazhab dan UU Nomor 1 Tahun 1974 yang sama-sama memiliki peran yang sangat vital dalam hukum perkawinan di Indonesia.3

Dalam telaah pustaka yang peneliti sebutkan, menurut peneliti belum ada tulisan yang membahas secara spesifik tentang “Analisis Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/Puu-Xii/2014 Tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan”,

B. Kajian Teori

1. Mahkamah Konstitusi

Dalam konteks pembentukan Mahkamah Konstitusi di Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 24 dan Pasal 24 C ayat (1) sampai dengan ayat (6) Undang-undang Dasar 1945 pada perubahan ketiga, pada prinsipnya dimaksudkan untuk menjaga dan memperkuat dasar-dasar konstitusionalisme sebuah perundang-undangan, artinya Mahkamah Konstitusi sebagai satu-satunya lembaga yang diberikan

2Moh. Alex fauzi, Batas Minimal Usia Perkawinan menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam perspektif hokum dan kesehatan reproduksi, Skripi Fakultas Syariah dan hokum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014, http://digilib.uin- suka.ac.id/11366/2/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf.

3Elly Surya Indah, Batas Minimal Usia Perkawinan Menurut Fiqh empat madzhab dan UU No. 1 tahun 1974, Skripsi Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, http://digilib.uin- suka.ac.id/2600/1/BAB%20I,V.pdf

(16)

otoritas untuk menafsirkan sebuah konstitusi dan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul antar lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh konstitusi.4

a. Kedudukan dan fungsi Mahkamah Konstitusi

Kedudukan Mahkamah Konstitusi di Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 24 ayat (2) UUD 1945 (Amanademen ketiga), kedudukan Mahkamah Konstitusi yaitu sederajat dengan Mahkamah Agung (MA) sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman. Rumusan pasal tersebut yang secara lengkap berbunyi sebagai berikut :

Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi

Posisi Mahkamah Konstitusi adalah merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman dengan posisi sejajar dengan Mahkamah Agung.5 b. Kewenangan Mahkamah Konstitusi

Wewenang Mahkamah Konstitusi secara khusus diatur dalam Pasal dalam 10 Undang-undang Mahkamah Konstitusi dengan merinci sebagai berikut:

1) Menguji undang-undang terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).

2) Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.

4 Nuruddin Hadi, Teori Konstitusi Negara Demokrasi (Paham Konstitusionalisme Demokrasi Pasca Amandemen), (Malang: Setara Press, 2010), 164.

5Nuruddin Hadi, 164.

(17)

3) Memutus pembubaran Partai Politik.

4) Memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum.

5) Mahkamah konstitusi wajib memberi putuan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melahkukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945.6

Rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk menjadi undang-undang, tidak lagi bersifat final tetapi dapat diuji material (judicial review) dan uji formil (prosedural) oleh Mahkamah Konstitusi atas permintaan pihak tertentu.

Uji undang-undang ini dapat berupa uji material dan uji formil. Uji material apabila yang dipersoalkan adalah muatan materi undang-undang yang bersangkutan, sedangkan uji formil apabila yang dipersoalkan adalah prosedur pengesahannya.7

c. Putusan Mahkamah Konstitusi 1) Pengertian Putusan

Putusan merupakan pintu masuk kepastian hukum dan keadilan para pihak yang berperkara yang diberikan oleh hakim berdasarkan alat buktu dan keyakinannya. Menurut Gustaf Radbruch, suatu putusan

6 Maruarar siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia edisi 2, (Jakarta:

Sinar Grafika, 2012),11-12.

7 Taufiqurrohman Syahuri, Tafsir Konstitusi berbagai Aspek Hukum, (Jakarta: Kencana, 2011),111.

(18)

seharusnya mengandung idee des recht atau cita hukum yang meliputi unsur keadilan kepastian hukum dan kemanfaatan. Hakim dalam memutuskan secara objektif memberikan putusan dengan selalu memunculkan suatu penemuan-penemuan hukum baru (recht vinding).

Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim sebagai pejabat yang berwenang yang diucapkan dalam persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak.

2) Isi Putusan

Ada tiga jenis putusan Mahkamah Konstitusi sebagai berikut : a) Permohonan tidak Diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard)

Permohonan tidak diterima adalah suatu putusan yang apabila permohonannya melawan hukum dan tidak berdasarkan hukum. Dalam putusan ini permohonannya tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 dan 51 UU Mahkamah Konstitusi. Pasal 50 berbunyi “undang-undang yang dapat dimohonkan untuk diuji adalah undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945”. Pasal 51 mensyaratkan pemohon adalah pihak menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang dengan kualifikasi pemohon sebagai berikut : (1) perorangan warga negara indonesia, (2) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan RI, (3) badan hukum publik atau privat, dan (4) lembaga

(19)

negara. Pasal 51 mewajibkan juga pemohon dan permohonannya menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dan menguraikan bahwa pembentukan undang-undang tidak memenuhi ketentuan UUD NKRI 1945 atau materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang dianggap bertentangan dengan UUD NKRI 1945. Dalam permohonan tidak diterima maka amar putusan menyatakan permohonan tidak diterima.

b) Putusan Ditolak (Ontzigd)

Putusan hakim konstitusi menyatakan permohonan ditolak apabila permohonan tidak beralasan. Dalam hal ini undang-undang yang dimohonkan untuk diuji tidak bertentang dengan UUD NKRI 1945 baik mengenai pembentukannya maupun materinya baik sebagian atau keseluruhannya, yang dalam amar putusan menyatakan permohonan ditolak.

c) Permohonan Dikabulkan

Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan pemohon wajib dimuat dalam Berita Negara dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak putusan sejak diucapkan. Putusan Mahkamah Konstitusi yang telah diuji tidak dapat diuji kembali (nebis in idem) yang merupakan asas yang juga dikenal dalam hukum pidana.

Rapat permusyawaratan Hakim (RPH) atau pengambilan putusan adalah bagian dari proses memeriksa, mengadili, dan memutus perkara. Oleh karena itu, RPH harus diikuti ke-9 hakim konstitusi, kecuali dalam

(20)

kondisi luar biasa putusan dapat diambil oleh 7 (tujuh) orang hakim konstitusi. Pada saat diikuti oleh 8 (delapan) orang hakim konstitusi, dan putusan tidak dapat diambil mufakat, terdapat kemungkinan perbandingan dalam pengambilan putusan adalah 4 (empat) berbanding 4 (empat).

Dalam pengambilan putusan, Pasal 45 ayat (10) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 sebagaimana yang telah di ubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mengamanatkan bahwa pendapat anggota Majelis Hakim yang berbeda dimuat dalam putusan. Penda pat berbeda memang dimungkinkan, dan dalam praktek sering terjadi, karena putusan dapat diambil dengan suara terbanyak jika musyawarah tidak dapat mencapai mufakat.

Pendapat berbeda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Dissenting Opinion dan Concurent Opinion. Dissenting Opinion adalah pendapat berbeda dari sis substansi yang mempengaruhi amar putusan. Sedangkan Concurent opinion adalah alasan berbeda tetapi pendapat sama yang mempengaruhi amar putusan.

Perbedaan dalam Concurent Opinion adalah perbedaan pertimbangan hukum yang mendasari amar putusan yang sama.

Concurent Opinion karena isinya berupa pertimbangan yang berbeda dengan amar yang sama tidak selalu harus ditempatkan secara terpisah

(21)

dari hakim mayoritas, tetapi dapat saja dijadikan satu dalam pertimbangan hukum yang memperkuat amar putusan.

Sedangkan dissenting opinion sebagai pendapat berbeda yang memepengaruhi amar putusan harus dituangkan dalam putusan. Disenting Opinion merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban moral hakim konstitusi yang berbeda pendapat serta wujud transparansi agar masyarakat mengetahui secara menyeluruh pertimbangan hukum putusan Mahkamah Konstitusi.

Adanya dissenting opinion tidak mempengaruhi kekuatan hukum putusan Mahkamah Konstitusi. Putusan Mahkamah Konstitusi yang diambil secara mufakat oleh 9 (sembilan) hakim konstitusi tanpa perbedaan memiliki kekuatan yang sama, tidak kurang dan tidak lebih, dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang diambil dengan suara terbanyak dengan komposisi 5 (lima) berbanding 4(empat).

2. Batas Usia Perkawinan

Pengaturan hukum keluarga termasuk hukum perkawinan akan menjamin terpeliharanya sumber daya masnusia. Indikasinya adalah bahwa keluarga yang sehat akan akan melahirkan generasi yang berkualitas tidak hanya dari segi lahiriah tetapi juga dari segi batiniah.8

a. Pengertian Usia Perkawinan

Usia perkawinan merupakan sebuah frase (kelompok kata), usia dan perkawinan. Usia adalah kata lain dari (lebih takzim) umur, yang berarti

8 Andi Syamsu Alam, Usia Ideal Memasuki Dunia Perkawinan(sebuah ikhtiar mewujudkan keluarga sakinah), (Jakarta: Kencana Mas Publising House, 2005), 23.

(22)

lama waktu hidup. Atau dapat pula diartikan sebagai masa; misalnya, masa hidupnya cukup lama berarti ia memiliki usia yang panjang. Sedangkan kawin merupakan kata yang bermakna aktif, mendapat prefix (pe-an) menjadi perkawinan adalah pernikahan yang sungguh-sungguh dilakukan sesuai dengan cita-cita hidup berumah tangga yang aman, sentosa, dan bahagia. Suami isteri mengetahui pendirian masing-masing, berkasih- kasihan sehingga mereka berniat untuk sehidup semati.

Dari pengertian yang sederhana itu dapat dirumuskan bahwa, usia perkawinan adalah usia yang dianggap cocok secara fisik dan mental untuk melangsungkan perkawinan.

Usia perkawinan dalam pengertian ini penekanannya adalah pada perhitungan atas umur yang secara fisik dan mental siap untuk membangun kehidupan rumah tangga. Hal ini tercermin dalam pendapat Al Ghazali yang mengemukakan beberapa hal tentang faedah perkawinan, antara lain untuk :

1) Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia.

2) Memenuhi tuntutan naluriah hidup manusia.

3) Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan

4) Membentu dan mengatur rumah tangga yang menjadi basis pertama dari masyarakat yang besar di atas dasar kecintaan dan kasih sayang.

(23)

5) Menumbuhkan kesungguhan berusaha, mencarai rezeki dan penghidupan yang halal, dan memperbesar rasa tanggung jawab.9

b. Usia Perkawinan Menurut Hukum Islam

Menurut Al Qur’an dan Hadist sebagai sumber hukum Islam memang tidak ditentukan secara jelas tentang batas minimal usia dalam perkawinan. Dalam hukum agama islam, hanya diatur dalam soal baligh, dimana seseorang mulai dibebani atau ditaklif dengan beberapa hukum syara’.

Jika lebih dalam, dalam hukum Islam mengenal adanya al- kulliyyah al-khams. Yaitu manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini mempunyai keperluan yang dia pentingkan untuk menegakkan kehidupannya dan untuk mencapai perkembangan menuju kesempurnaan hidup. Dasar dari segala kepentingan manusia adalah, pertama;

keselamatan dirinya yakni, keselamatan jiwa, raga, dan kehormatannya.

Kedua; keselamatan akal pikirannya, ketiga; keselamatan harta bendanya, keempat; keselamatan nasab keturunannya, dan kelima; keselamatan agamanya. Lima kebutuhan penting tersebut sangat mendasar bagi hajat hidup manusia yang dijadikan standar kemaslahatan setiap orang yang berhubungan dengan martabat kemanusiaanya.10

Dalam rangka pemenuhan al-kulliyah al-khams, dapat dicapai melalui jalan perkawinan yang sah menurut agama, diakui oleh undang- undang dan diterima sebagai budaya dari masyarakat. Pada dasarnya

9Ibid, 42.

10Yafie, Ali, Menggagas Fiqh Sosial, (Bandung: Mizan, 1994), 185.

(24)

ernikahan adalah suatu yang agung dan indah, namun dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak jarang yang mengalami kandas di tengah jalan dan hancur berantakan ditelan masa sehingga mereka tidak mampu mempertahankan rumah tangganya. Mengapa terjadi demikian? Salah satu jawabannya adalah karena mereka melangsungkan pernikahan dibawah umur dewasa.

Hukum perkawinan Islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Prinsipnya bukan hanya sekedar mengatur tata cara pelaksanaan perkawinan saja, melainkan juga mengatur segala persoalan yang erat hubungannya dengan masalah perkawinan tersebut. Untuk memahami kedudukan usia perkawianan dalam hukum perkawinan Islam, terlebih dahulu dikemukakan prinsip-prinsip dalam perkawinan, yaitu:

1) Harus ada persetujuan secara sukarela dari pihak-pihak yang mengadakan perkawinan. Caranya ialah diadakan peminangan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kedua belah pihak setuju untuk melaksanakan perkawinan atau tidak.

2) Tidak semua wanita dapat dikawini oleh seorang pria sebab ada ketentuan larangan-larangan perkawinan antara pria dan wanita yang harus diindahkan.

3) Perkawinan harus dilaksanakan dengan memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu, baik yang menyangkut kedua belah pihak maupun yang berhubungan dengan pelaksanaan itu sendiri.

(25)

4) Perkawinan pada dasarnya adalah untuk membentuk satu keluarga/

rumah tangga yang tentram, damai dan kekal untuk selama-lamanya.

5) Hak dan kewajiban suami-isteri adalah seimbang dalam rumah tangga, diaman tanggung jawab pimpinan keluarga ada pada suami.

Dalam konteks prinsip-prinsip tersebut, usia perkawinan menjadi bagian yang signifikan. Dasarnya adalah di samping wahyu, juga aspek konsepsinal yang bersifat ijtihadi. Oleh karena itu, usia perkawinan dalam pengertian umum akan sangat relevan dengan hukum nikah yang dipahami dari keterangan firman Allah SWT, Q.S Al-Nisa(4): 19, 24; dan al- Mumtahanah (60): 10, yang berbunyi sebagai berikut:11







































































Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

11Al-Qur’an, 4: 19, 24; 60:10

(26)























































































Artinya: “ Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

















































































































Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu Telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu

(27)

dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang Telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang Telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang Telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Memahami keterangan wahyu Ilahi tersebut, mengekspresikan dengan lafaz “halal”sebagai konsekuensi perkawinan dan kewajiban yang berdimensi ibadah. Ketentuan hukum Allah tentang “halal” sebagaimana kandungan wahyu diatas mengindikasikan bahwa, soal usia adalah sangat penting untuk diperhatikan, karena pada kenyataannya “mahar” menjadi parameter. Setidaknya mahar merupakan sejumlah harta yang menjadi hak isteri karena akad perkawinan atau disebabkan terjadinya senggama dengan sesungguhnya.

Kaitan mahar dengan usia sangat erat. Untuk memperoleh mahar, sebagai hak milik isteri dari calon suami, maka calon suami membutuhkan kerja ekstra. Artinya, seorang calon suami berkewajiban untuk menyediakan mahar untuk diberikan kepada calon isteri ketika melaksanakan akad sebagai konsekuensi logis dan wujud dari

“kemampuan material”.12

Dalam diskursus fikih (Islamic Jurisprudence), tidak ditemukan kaidah yang sifatnya menentukan batas usia kawin. Karenanya, menurut fikih, semua tingkatan umur dapat melangsungkan perkawinan. Dasarnya,

12Andi Syamsu Alam.. 45-49.

(28)

Nabi Muhammad SAW sendiri menikahi ‘Aisyah ketika ia baru berumur 6 tahun, dan mulai mencampurinya saat telah berusia 9 tahun.13

Dari sudut pandang yang berbeda dari ahli-ahli fikih tradisional, pakar hukum Islam kontemporer memandang perlunya terobosan hukum (exxepressip verbis) sehubungan dengan legalitas perkawinan anak di bawah umur, mereka beranggapan bahwa kelompok tradisional terlalu kaku dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan juga raktik Nabi SAW saat menikahi ‘Aisyah RA yang masih berusia 6 tahun. akibatnya, kaum tradisional memperkenankan perkawinan anak di bawah umur dengan dasar pemahaman yang literal dan rigid. Sebaliknya, kaum kontemporer berupaya untuk menggagas pemahaman yang lebih fleksibel terhadap ayat dan hadis.14

Perkawinan menuntut kedewasaan dan tanggung jawab oleh karenanya anak-anak muda sebaiknya menunggu dengan sabar sampai cukup umur untuk melangsungkan pernikahan. Pembatasan umur memang beasar gunanya diantaranya adalah supaya kedua calon suami istri yang sudah dewasa tersebut dapat memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan sebagai ibu rumah tangga.

Untuk itu sebelum dilaksanakan perkawinan perlu adanya persiapan yang matang antara kedua calon mempelai. Perkawinan diusia muda dimana kondisi psikologis maupun sosialnya belum matang

13Yusuf Hanafi.. 11.

14Yusuf Hanafi.. 65.

(29)

seringkali menimbulkan social yang kurang baik. KH. MA. Sahal Mahfudh merumuskan term yang berkaitan keluarga dari aspek social yang disebut keluarga maslahah/keluarga ideal, yaitu keluarga yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik yang mendasarnya (biasanya diartikan dengan sandang, pangan dan papan) dengan baik, dan masing- masing anggota keluarganya memiliki kualitas yang memadai sebagai bangunan dari masyarakat.15 Perkawinan merupakan bukanlah kontrak antar kedua belah pihak pengantin semata, namun juga mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat untuk menjadi bagian dari masyarakat tersebut.

Perkawinan tidak akan berhasil jika kedua mempelai masih mentah dari segi fisik maupun mentalnya. Perkawinan menuntut kedewasaan dan tanggung jawab oleh karenanya anak-anak muda sebaiknya menunggu dengan sabar sampai cukup umur untuk melakukan perkawinan.

Kebiasaan dilakukannya perkawinan disuia muda harus ada pertimbangan khusus. Hal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam membinan rumah tangga yang bahagia dan kekal. Untuk itu, apabila dilakukannya mengakibatkan suatu kemadhartan maka perkawinan harus dicegah, hal ini sesuai dengan kaidah fiqh yang berbunyi:

15Moh. Alex Fauzi, Skripsi Batas Minimal Usia Perkawinan enurut Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam perspektis Hukum islam dan kesehatan reproduksi. (Yogyakarta, UINSUKA,2014),http://digilib.uinsuka.ac.id/11366/2/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUST AKA.pdf, 14.

(30)

لاﺰﻳرﺮﻀﻟا

16

.

Penetapan batas usia perkawinan sebenarnya tidak cukup dikaitkan dengan segi fisiologis semata, tetapi juga perlu dikaitkan dengan segi sosial ekonomi. Kematangan sosial ekonomi pada umumnya juga berkaitan dengan umur individu, makin bertambah umur seseorang kemungkinan untuk kematangan sosial ekonomis akan semakin nyata dan pasti. Sebaliknya, dalam usia yang masih muda melangsungkan perkawinan, maka dapat diperkirakan kemungkinan kesulitan-kesuliatan yang berkaitan dengan sosial ekonomi lainnya akan segera muncul yang membawa akbat yang rumit daam kehidupan rumah tangga.17

c. Usia Perkawinan Menurut Hukum Positif

Pasal 7 ayat (1) UUP yang memberikan batasan usia minimal dari mempelai untuk menikah yaitu laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun, penulis melihat bahwa pembatasan pada umur tersebut baru terpenuhi kesiapan fisik, dimana menurut ilmu psikologi bahwa pada umur tersebut memang secara biologis organ-organ reproduksi memang sudah siap untuk melakukan reproduksi namun secara mental umur tersebut masih berada dalam kategori puber atau paling jauh memasuki remaja tengah, dan secara kejiwaan tingkat kelabilan emosinya masih tinggi.

16H. Asmuni a. Rahman,Qa’idah Qa’idah Fiqhih (Qawa’idul Fiqhiyah),(Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 86.

17 Bimo walgito, Bimbingan dan Konseling perkwinan, cet. 1, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1984), 28-29.

(31)

Implikasinya, ketika perkawinan diizinkan pada usia tersebut , kemungkina besar rumah tangga yang akan dijalankan akan selalu mengalami persoalan sehingga rawan untuk terjadinya perceraian.

Batas minimal usia perkawinan UUP yaitu 16 tahun untuk perempuan bertentangan dengan Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentnag kesejahteraan anak (UU Kesejahteraan Anak). Pasal 1 ayat (2) Undnag-undang kesejahteraan anak menjelaskan bahawa: “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin”.

Batasan usia KHI juga bertentangan dengan Konvensi Internasional mengenai hak anak yang diratifikasi Indonesia pada tahun 1990. Konvensi tersebut menegaskan bahwa batas usia anak adalah 18 tahun. Demikian halnya Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak.

Dengan demikian, berarti bahwa melegalkan perkawinan bagi perempuan umur 16 tahun berarti pemerintah melegitimasi perkawinan anak-anak dan hal ini berarti eksploitasi terhadap anak.

1) Sejarah Penentuan usia minimal perkawinan

Penetapan batas usia perkawinan yang ditetapkan oleh UUP pada pasal 7 ayat 1 bertujuan untuk mencegah terjadinya perkawinan anak- anak. Pembatasan usia tersebut dilatarbelakangi dengan kondisi-kondisi pada saat tahun 1974, antara lain:

(a) Sosio-Politik

UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mengatur batas usia minimal kawin (sebagaimana tertera pada Pasal 7 ayat

(32)

(1)), lahir di era pemerintahan Orde Baru. Harus diakui pasca tumbangnya Orde Lama (dan lahirnya Orde Baru), telah memunculkan optimisme, pranata dan tawaran alternatif yang mempengaruhi struktur, pola kultur dan persepsi masyarakat dalam memandang masa depan negara dan bangsa Indonesia. Tidak terkecuali dalam hal ini adalah institusi Islam dan persepsi umatnya dalam konteks upaya aktualisasi diri.18

Pada saat Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan diajukan oleh Pemerintah ke DPR untuk dibahas sampai dengan terbit menjadi Undang-Undang, bentuk hubungan politik pemerintah dengan umat Islam adalah pada posisi tidak harmonis. Sekitar tahun 1968 hubungan politik antara pemerintah dan umat Islam telah terbuka dengan jelas adanya suatu ketegangan, yaitu dengan terbitnya Inpres Nomor 13 Tahun 1968 yang menutup perdebatan tentang dasar negara, gerakan politik Islam bisa ditekan atau dimarginalkan. Maka sejak itulah hubungan umat Islam dengan pemerintah menjadi tegang, jika tidak boleh dikatakan bermusuhan. Sehingga, bila kita cermati lebih jauh jelas menunjukkan adanya pengaruh konfigurasi politik pemerintah dan umat Islam yang berbeda terutama saat terbitnya Undang-Undang tentang Perkawinan (1974).19

18 Dedy Sumardi, “Islam dan Politik di Indonesia (Perspektif Sejarah),” 5; untuk tambahan bacaan dalam konteks ini bisa merujuk pada Mukhlis PaEni (ed. Umum), Sejarah Kebudayaan Indonesia: Sistem Sosial (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), 295-334.

19Ibid., 7-8.

(33)

Berlakunya UU Perkawinan tahun 1974 dapat dinilai sebagai titik tolak keberhasilan Pemerintah dalam melembagakan praktik perkawinan di Indonesia. Secara otomatis, UU ini menghapus beberapa peraturan perkawinan yang sebelumnya berlaku. Namun di balik keberhasilan upaya legislasi ini, akumulasi pergulatan yang panjang dari sisa peristiwa masa lalu seperti ketegangan antara paradigma umat Islam dan negara juga tidak benar-benar selesai sepenuhnya.

Karena bagaimanapun, tarik ulur kepentingan politik yang melatarbelakanginya tidak dapat dihindarkan.20

(b) Pendidikan

sejak awal tahun 1970an pemerintah telah menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Pada tahun 1973 berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 10, pemerintah secara terencana meningkatkan pembangunan sarana pendidikan dasar, yaitu pada tahun 1983 dimulai dengan program wajib belajar untuk usia 7-12 tahun. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Pendidikan Menengah Universal (PMU) atau wajib belajar 12 tahun yang terdapat pada Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini merupakan sebuah lanjutan dari program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang dirasa telah memenuhi target ketercapaian sekalipun masih sebagian masyarakat yang belum merasakan wajib belajar 9 tahun.

20Ratno Lukito, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler; Studi tentang Konflik dan Resolusi dalam Sistem Hukum Indonesia (Jakarta: Pustaka Alvabet,

2008), 264.

(34)

(c) Psikologis

Psikologi Perkembangan masa usia 10-20 tahun dikenal sebagai masa adolesence atau pubertas, dan bagi masyarakat dikenal dengan istilah remaja. Pada tahun 1974, psikologi perkembangan menyatakan bahwa ibu-ibu atau keluarga yang masi berusia remaja akan menghadapi banyak masalah mental dan sosial karena pasangan muda belum mempunyai persiapan yang cukup.

(d) Budaya

Budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagaimana jamak diketahui bahwa pada masa-masa ketika UU No. 1 tahun 1974 disusun (yakni era 70-an), banyak praktek perkawinan di bawah umur, dikarenakan di dalam hukum adat yang dianut oleh sebagian masyarakat pada umumnya tidak ada aturan tentang batas umur untuk melangsungkan perkawinan. Hal ini berarti hukum adat membolehkan perkawinan semua umur. Sudah menjadi hal biasa dan lumrah bagi orangtua pada masa itu menikahkan anaknya yang baru saja menginjak usia belasan tahun, usia di mana seseorang masih berada di fase remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. Banyak pula fenomena perkawinan antar anak-anak, anak wanita yang belum balig

(35)

dengan pria dewasa atau sebaliknya, yakni wanita yang sudah dewasa dengan pria yang masih anak-anak.21

Pada masyarakat Betawi misalnya, mengawinkan seorang anak merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Para orangtua akan merasa malu bila anaknya tidak kunjung mendapatkan jodoh, karena ada anggapan bahwa seorang anak perempuan akan menjadi“perawan tua”apabila tidak segera dinikahkan, begitu pula anak lelaki mereka yang takut disebut sebagai “perjaka tua/bujang lapuk”, walaupun pada kenyataannya usia mereka masih jauh di bawah batas minimal yang dicita-citakan oleh undang-undang.22

Selain itu, sering juga terjadi jenis-jenis perkawinan yang disebut dengan “kawin gantung” (perkawinan yang ditangguhkan masa berkumpulnya suami dan istri), “kawin paksa” (perkawinan antara pihak wanita dan pria yang tidak saling kenal kemudian dipaksa untuk melakukan perkawinan), “kawin hutang” (perkawinan yang terjadi karena orangtua si wanita tidak dapat membayar hutang, maka ia menyerahkan anak gadisnya sebagai pembayar hutang dan si gadis dikawini oleh si berpiutang), atau juga “kawin selir” (yakni, anak gadis diserahkan kepada bangsawan atau raja untuk dikawini sebagai istri selir).23

21 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, cet. III (Bandung: CV. Mandar Maju, 2007), 49.

22Fatimatuzzahra, Implikasi Nikah di Bawah Umur Terhadap Hak-hak Reproduksi Perempuan, Skripsi Fak. Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

2008, 44.

23Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan, 49.

(36)

(e) Perekonomian

Pada zaman dahulu masyarakat belum tertarik dengan profesi bisnis karena zaman dahulu sebelum masyarakat mengenal uang, jual beli dilakukan dengan sistem barter, setelah mengenal uang, masyarakat melakukan jual beli menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Proses ini biasanya terjadi di sebuah tempat yang disebut Pasar karena pada saat itu banyak yang berprofesi sebagai petani, nelayan, dan berdagang dipasar.

Proses jual beli dilakukan dengan nyata, dalam arti penjual dan pembeli saling bertemu, dan pembeli juga dapat melihat barang yang dijual secara langsung. Profesi bisnis sekarang sudah banyak di minati kaum muda dengan memulai bisnis kecil dan mulai menanamkan jiwa entrepreneur.

Kemajuan teknologi juga sangat mempengaruhi proses bisnis, misalnya:

dahulu masyarakat masih melakukan profesi bisnis ini secara langsung tetapi sekarang melalui e-commerce masyarakat dapat bertransaksi tanpa harus bertemu langsung.

2) Efektifitas Kajian Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Meskipun, Undang-Undang Perkawinan telah diberlakukan untuk masyarakat Indonesia lebih dari 30 tahun, akan tetapi keberlakuannya belum berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa secara sosiologis, peraturan-peraturan yang ada di dalamnya belum sepenuhnya diterima dan berlaku secara efektif. Kajian tentang efektivitas hukum merupakan wilayah dari disiplin ilmu sosiologi hukum. Menurut Soerjono Soekanto,

(37)

sosiologi hukum dapat digunakan sebagai sarana memahami hukum dalam konteks sosial. Selain itu, sosiologi hukum juga dapat digunakan untuk menganalisa dan mengevaluasi efektifitas hukum di dalam masyarakat, baik sebagai pengendali sosial, sarana mengubah masyarakat, atau sarana mengatur interaksi sosial untuk mencapai keadaan-keadaan tertentu.24

Kajian tentang efektivitas hukum tidak bisa terlepas dari aspek perilaku masyarakat dalam berhukum. Menurut Soleman B. Taneko, kajian ini merupakan perbandingan antara realitas hukum dengan idealitas hukum. Melalui kajian ini para ahli sosiologi hukum mencoba membandingkan hukum yang tercermin dalam tindakan (law in action) dan hukum yang terdapat di dalam teori (law in the books). Misalnya, membandingkan ketentuan pembatasan usia perkawinan dengan praktik perkawinan yang berlaku di masyakart. Soerjono Soekanto mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya suatu kaidah hukum mencapai tujuannya dapat diukur melalui perilaku tertentu yang muncul di masyarakat. Atau dengan kata lain keberlakuan hukum adalah mewujudnya hukum sebagai sebuah perilaku.25

Berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam berhukum, menarik dikemukakan pendapat Satjipto Rahardjo yang menyatakan bahwa dasar dari hukum suatu bangsa bukan berada dalam sistem hukumnya, melainkan dalam perilaku bangsa itu sendiri, yaitu cara hidup manusia dengan berperilaku yang baik. Hukum tidak hanya muncul dari undang-undang,

24Soejono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum (Jakarta:CV.Rajawali, 1988), 22

25Soleman B. Taneko, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum (Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 1993), 48-49.

(38)

melainkan juga muncul dari perilaku orang. Dan perilaku ini tidak dapat dibendung oleh undang-undang. Dinamika perilaku akan selalu mencari jalannya sendiri untuk muncul ke permukaan.26 Lebih lanjut Satjipto mengatakan bahwa hukum menjadi hidup melalui perantara manusia.

Sebab perilaku atau tindakan manusia dapat merubah teks yang diam dan kaku.27

Menurut Lawrence M. Friendman, perilaku hukum (legal behavior) adalah setiap perilaku yang dipengaruhi oleh aturan, perintah, keputusan, atau undang-undang yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

Jika seseorang berkendara dan melihat rambu batas kecepatan atau melihat polisi dan memperlambat laju kendaraannya, hal itu merupakan perilaku hukum. Termasuk di dalamnya juga seseorang yang memacu kendaraannya lebih cepat untuk menghindari polisi. Kondisi-kondisi ini menunjukkan bahwa ada undang-undang yang ditaati dan ada yang tidak.

Menurut Achmad Ali, perilaku hukum yang dimaksud oleh Friedman bukan hanya perilaku taat hukum, tetapi semua perilaku yang merupakan reaksi terhadap keadaan yang terjadi dalam sistem hukum.

Bahkan menggunakan atau tidak menggunakan hukum yang ada juga termasuk dalam perilaku hukum.28

Menurut Selo Soemarjan, dikenalnya hukum dalam masyarakat merupakan hasil dari suatu proses pelembagaan. Proses ini dipengaruhi

26Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perilak: Hidup Baik adalah Dasar Hukum yang Baik (Jakarta:Kompas,2009), 7-10.

27Ibid., 21.

28Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence):

Termasuk Interpretasi terhadap Undang-Undang (Legisprudence) (Jakarta: Kencana,2012), 143-145

(39)

oleh tiga hal, yaitu: (1) efektivitas menanam, yaitu penggunaan sumber daya dan metode dalam menanamkan unsur yang baru dalam masyarakat.

Semakin besar kemampuan tenaga manusia, semakin canggih alat-alat yang digunakan, semakin rapi dan teratur organisasinya, dan semakin sesuainya sistem penanaman unsur baru dengan kebudayaan masyarakat, semakin besar hasil yang dapat dicapai; (2) kekuatan menentang dari masyarakat, menurut Soemarjan setiap usaha menanam unsur baru pasti akan mengalami reaksi dari beberapa golongan masyarakat yang merasa dirugikan. Sikap ini akan menghambat proses institusionalisasi, semakin kecil penentangan yang terjadi maka proses pelembagaan akan semakin baik. Penentangan masyarakat terhadap unsur baru boleh jadi karena mereka tidak mengerti kegunaan unsur baru tersebut. Menurut Satjipto Rahardjo, Undang- Undang tidak secara langsung berpengaruh terhadap perilaku kecuali disampaikan dengan baik kepada masyarakat. Komunikasi hukumlah yang menjadi jembatan penghubung antara peraturan hukum dan perilaku orang.29 Selain itu, perubahan yang dikehendaki di dalam undang-undang bertentangan dengan kaidah atau nilai yang ada dan berlaku. Menurut Zainudin Ali, semakin besar peran pengendali sosial selain hukum seperti agama atau adat istiadat, maka semakin kecil peran hukum. Hukum tidak akan pernah bisa dipaksakan keberlakuannya di dalam segala hal, selama masih ada sarana lain yang lebih ampuh. Dan hukum digunakan sebagai

29Satjipto Rahardjo, Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalahnya (Yogyakarta:Genta Publishing, 2010), 213.

(40)

sarana terakhir jika sarana yang lain sudah tidak lagi mampu mengatasi persoalan.30

Meskipun demikian, tidak semua nilai atau kaidah yang telah ada bertetangan dengan unsur yang baru, berdasarkan hal ini Soemarjan mengklasifikasikan nilai dan kaidah tersebut menjadi empat, yaitu: a) kaidah dan nilai yang menguntungkan proses perubahan dan karena itu harus dipelihara bahkan diperkuat, b) kaidah dan nilai yang dapat menguntungkan perubahan dengan jalan menyesuaikan dengan proses perubahan tersebut, c) kaidah dan nilai yang dapat menjadi faktor penghambat namun dapat dinetralkan oleh proses perubahan itu sendiri, d) kaidah atau nilai yang menghambat sehingga harus dihapus untuk melancarkan proses perubahan. Selain itu penentangan terjadi karena para warga masyarakat yang kepentingannya ternanam dengan cukup kuat, berkuasa untuk menolak suatu proses perubahan.Resiko yang dihadapi sebagai akibat dari perubahan ternyata lebih berat daripada mempertahankan ketentraman sosial yang ada sebelumnya.

Masyarakat tidak mengakui wewenang dan kewibawaan para pelopor perubahan; (3) kecepatan menanam, hal ini berkaitan dengan jangka waktu penanaman unsur baru dalam masyarakat, semakin tergesa-gesa dan semakin singkat proses yang ditempuh, maka semakin tipis kemungkinan proses institusionalisasi akan tercapai, begitu pula sebaliknya, meskipun

30Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum (Jakarta:Sinar Grafika,2008), 65

Referensi

Dokumen terkait