• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS PENELITIAN

A. Penyajian Data

3. Analisis Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi tentang

Undang-undang Perkawinan (UUP) ini merupakan undang-undang pertama di Indonesia yang mengatur persoalan perkawinan secara nasional.

Sebelumnya, urusan perkawinan diatur oleh beragam sistem hukum, antara lain:

hukum adat bagi warga Negara Indonesia asli; hukum islam bagi warga Indonesia asli yang beragama islam; Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen bagi warga Indonesia yang beragama Kristen di Jawa, Minahasa, dan Ambon; Kitab Undang- undang Hkum Perdata bagi warag Indonesia keturunan Eropa dan Cina; dan Peraturan Perkawinan Campuran bagi perkawinan campuran.27

Tampak jelas bahwa tujuan pokok UUP adalah unifikasi hukum perkawinan yang sebelumya sangat beragam. Idealnya sebagai sebuah produk hukum, UUP perlu dikaji ulang untuk mengukur sejauh mana efektivitasnya dalam mengatur perilaku masyarakat dibidang perkawinan. Sayangnya, setelah 42 tahun berlalu, belum terlihat upaya-upaya serius untuk mengevaluasinya. Dalam rentang waktu yang sedemikian lama dan panjang itu, tentunya wajar bila banyak

27Hanafi, Kontroversi Perkawinan, 106.

perubahan terjadi di tengah-tengah masyarakat, khusunya berkaitan dengan kondisi perempuan.

Perkembangan wacana hak-hak asasi manusia secara internasional telah mendorong banyak pihak untuk mewujudkan pengakuannya secara konkret di tingkat nasioanal dalam berbagai bentuk pengakuan hukum (legal instrumen).

Sejak dari UU HAM, UU Pengadilan HAM sampai pada UU Perlindungan Anak yang membatasi usia anak adalah dibawah 18 tahun. UUP yang masih menetapkan batas minimal uisa perkawinan bagi perempuan adalah 16 tahun jelas tertantang dengan adanya perkembangan terahir ini.

Mayoritas Negara telah mendeklarasikan bahwa usia minimal yang dilegalkan untuk menikah (the minimum legal age of marriage) adalah 18 tahun.

kebijakan tersebut merupakan implementasi dari konvensi Hak-hak Anak yang telah ditetapkan lewat forum Majelis Umum PBB tahun 1989.28

Konvensi Hak Anak (KHA) berlaku sebagai hukum internasional dan KHA diratifikasi melalui Keppres No.36 tahun 1990, untuk selanjutnya disahkan sebagai undang-undang Perlindungan Anak (UU PA) No.23 tahun 2002.

Pengesahan UU tersebut bertujuan untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak. Dalam UU PA dinyatakan dengan jelas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.29

28Yusuf Hanafi, Kontroversi Perkawinan Anak.. 79.

29Eddy Fadlyana, Pernikahan Usia Dini, 139

Konvensi Hak Anak telah menjadi bagian dari sistem hukum nasional, sehingga sebagai konsekuensinya kita wajib mengakui dan memenuhi hak anak sebagaimana dirumuskan dalam KHA. Salah satu prinsip dalam KHA yaitu

“kepentingan yang terbaik bagi anak”. Maksud dari prinsip “kepentingan yang terbaik bagi anak”adalah dalam semua tindakan

Uji materiil batas usia perkawinan dengan nomor Putusan 30-74/Puu- Xii/2014 merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan Undang-undang Perkawinan untuk lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Upaya pembaharuan terhadap UUP secara konkret juga terjadi pada masa Menteri Agama Munawir Sadzali, ditandai denagn lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada 10 Juni 1991 melalui Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991. KHI inpress yang diposisikan sebagai hukum materiil Peradilan Agama itu sesungguhnya merupakan respon pemerintah terhadap keresahan masyarakat akibat beragamnya tafsir dan keputusan Pengadilan Agama untuk suatu kasus yang sama.

Berdasarkan penetapan usia anak dalam undang-undang menunjukkan bahwa semakin tahun semakin banyak produk hukum yang lahirkan, setelah lahirnya UUP muncul Undang Undang lain yang menetapkan batas usia khususnya penetapan usia anak, terdapat perbedaan batas usia anak akan tetapi mayoritas batas usia yang diberikan adalah 18 tahun.

Produk Hukum yang lahir setelah UUP dan penentuan batas usia merupakan suatu kemajuan hukum yang berarti hukum mengikuti sesuai dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat, selain itu banyaknya undang-undang

yang dilahirkan bersifat khusus sehingga kebutuhan masyarakat akan lebih mudah terpenuhi. Penentuan batas usia yang berbeda tidak mengganggu isi dari UUP karena UUP merupakan undang-undang yang bersifat khusus yang tidak dapat dihubungkan dengan peraturan lain. Contoh adanya perkembangan hukum yaitu batas usia pertanggungjawaban pidana anak bagi anak yang melakukan tindak pidana diatur dalam hukum pidana di Indonesia, yaitu dalam KUHP yang tidak menentukan secara jelas usia anak akan tetapi pada pasal 45 menyatakan bahwa yang dikatakan belum dewasa yaitu belum mencapai usia 16 tahun. KUHP digantikan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang menetapkan usia anak adalah usia 8-12 tahun atau belum pernah kawin, namun dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 001/PUU- VIII/2010 tentang batasan umur anak, akhirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak digantikan oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menetapkan usia anak adalah usia 12-18 tahun atau belum pernah kawin. Pergeseran batas usia pertanggungjawaban pidana anak tersebut didasarkan oleh beberapa ide, di antaranya ide filosofis, yuridis, dan historis.

Berdasarkan uraian diatas menunjukkan adanya perbedaan kondisi antara zaman pada saat UUP dilahirkan dengan zaman sekarang. Perbedaan tersebut dikhawatirkan menimbulkan dampak-dampak negatif dari batas usia minimum perkawinan bagi wanita adalah 16 tahun. Dampak negatif yang dikhawatirkan apabila melakukan perkawinan di usia 16 tahun pada kondisi sekarang, antara

lain: putus sekolah, kematian ibu dan kematian bayi, tidak terwujud program BKKBN, perceraian, terjadi perkawinan paksa.

Penetapan usia anak dalam UUPA mendasarkan pada Konvensi Hak Anak karena sudah disesuaikan dengan kondisi yang ada dalam masyarakat. Tujuan dari UUPA adaah untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan fisik, emosional, sosial, seksual, penelantaran, tindakan membahayakan, eksploitasi ekonomi dan seksual, ataupun diskriminasi karena latar belakang ekonomi, politis, agama, sosial budaya, dan orang tuanya sehingga hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal, mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi agar terwujud anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak, dan sejahtera.

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijelaskan dalam Bab-bab sebelumya mengenai analisis yuridis putusan Mahakamah Konstitusi tentang batas usia Perkawinan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Dasar Pertimbangan Hakim MK yang menolak terhadap Uji materiil Batas Usia Perkawinan Pertimbangan Hukum Mahkamah atas menolaknya Uji Materiil tentang Batas Usia Perkawinan hanya melihat moral bukan penjaga konstitusi karena telah mengabaikan fakta-fakta yang dimungkinkan terjadi.

Penentuan batas usia minimum perkawinan untuk menjaga kesehatan suami istri sudah tidak sesuai lagi karena terdapat perbedaan kondisi pada tahun 1974 dengan kondisi sekarang.

2. Dasar Perimbanagan Hakim MK yang memberikan Dissenting Opinion menjelaskan bahwa persoalan usia perkawinan sudah waktunya diperlukan perubahan hukum segera yaitu melalui Putusan Mahkamah sebagai suatu bentuk hukum melalui sarana rekayasa sosial.

3. Analisis Yuridis Putusan MK tentang batas usia perkawinan menunjukkan besarnya pengaruh pernikahan dini atau pernikahan anak, baik dari segi kesehatan psikologi, kesehatan reproduksi, dan konvensi hak-hak anak terbukti sangat melindungi anak dan perempuan. Undang-Undang Perkawinan tentang batas minimal usia perkawinan juga bertentangan dengan beberapa Undang-Undang diantaranya yaitu: Undang-Undang Nomor 39

Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,Undang-Undang Nomor23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor13 Tahun2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor21 Tahun2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan Undang-Undang Nomor44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Tujuan perkawinan adalah suatu hal yang sanagt sakral, oleh sebab itu perlunya perhatian husus dan kematangan baik fisik maupun psikis bagi pihak pria maupun wanita. Dengan adanya peningkatan usia dewasa dalam batas usia perkawinan dapat memberikan kesiapan dan kematangan bagi calon suami isteri, dalam membentuk keluarga yag sakinah mawaddah warahmah, dan dapat mewujudkan masyarakat yang madani.

B. Saran-saran

Setelah dilakukan penelitian, kami sebagai penulis ingin memberikan beberapa saran yang mungkin dapat dijadikan sebagai solusi untuk menanggulangi banyaknya pernikahan anak atau pernikahan dibawah umur, berikut saran-saran dari penulis: pertama, perlunya kesadaran dari masyarakat serta perlunya penyuluhan sadar hukum bahwa pernikahan dibawah umur sangat berpengaruh bagi anak baik dari segi kesehatan psikologi maupun bagi kesehatan reproduksi. Pernikahan dibawah umur bertentangan dengan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan memberikan sosialisasi ke masyarakat akibat dan kerugian dari pernikahan anak di bawah umur akan membangun kesadaran hukum. Tujuannya agar pernikahan yang bertentanagn dengan UU yang berlaku di Indonesia khususnya dalam

masalah pernikahan anak di bawah umur tidak terjadi di masyarakat secara terus menerus.

Kedua, DPR hendaknya merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan melalui kesepakatan bersama dengan Presiden.

Prolegnas diharapkan menambahkan RUU Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya menaikkan batas usia minimum perkawinan bagi wanita dari 16 tahun menjadi 18 tahun keatas dengan mempertimbangkan kembali dan menyesuaikan perkembangan masyarakat pada saat ini serta melihat akibat-akibat yang dapat merugikan seseorang.

Penentuan batas usia perkawinan bagi pria juga perlu dianalisis apakah usia 19 tahun sudah tepat untuk di terapkan dalam kondisi masyarakat pada saat ini.

Alamat asal : Dsn. Langon RT. 001 RW. 031 Desa Ambulu, Desa Ambulu, Kab. Jember.

Fakultas : Syariah Jurusan : Hukum Islam

Prodi : Al Ahwal Al-Syakhsiyyah Email :[email protected]

CP : 085 791 670 095

Riwayat Pendidikan :

TK/RA : TK Al-Hidayah 80 Langon Ambulu (1998-2000) SD/MI : MI Ma’arif 31 Al Hikam Langon Ambulu(2000-2006) SMP/MTS : MTS Ma’arif Ambulu(2006-2009)

SMA/MA : MA Ma’arif Ambulu(2009-2012) Pengalaman Organisasi

1. Pengurus HMPS Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah Periode (2014/2015) 2. Pengurus Asosiation Student of Dream Achiever (Assent Ace) Bidikmisi

(2015/2016)

3. Pengurus IPNU-IPPNU Pimpinan Anak Cabang Ambulu (2014/2015) 4. Pengurus IPNU-IPPNU Pimpinan Cabang Jember (2015/2017)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Fakultas Syariah Jurusan Hukum Islam Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah

Oleh : Ana Qurotul Aini NIM. 083 121 093

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS SYARIAH

JUNI 2016

, ْجﱠوَﺰَـﺘَﻴْﻠَـﻓ َةَءﺎَﺒْﻟَا ُﻢُﻜْﻨِﻣ َعﺎَﻄَﺘْﺳا ِﻦَﻣ ! ِبﺎَﺒﱠﺸﻟَا َﺮَﺸْﻌَﻣ ﺎَﻳ ) ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ِمْﻮﱠﺼﻟﺎِﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻌَـﻓ ْﻊِﻄَﺘْﺴَﻳ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣَو , ِجْﺮَﻔْﻠِﻟ ُﻦَﺼْﺣَأَو , ِﺮَﺼَﺒْﻠِﻟ ﱡﺾَﻏَأ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ

َﻟ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ; ( ٌءﺎَﺟِو ُﻪ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﻖَﻔﱠـﺘُﻣ

Artinya : Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya

ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia

dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi)

































Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka

khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan

perkataan yang benar.

(Q.S. An nisa’ ayat 9)

Orang tuaku tercinta

Kakak-adik

Guru-guru dan dosen-dosenku

Nusa, Bangsa, dan Agama

juga hari pembalasan sehingga sudah sangat pantas bagi kita hambanya yang lemah untuk senantiasa bersyukur dan beribadah kepada-Nya demi mengaharap ridha-Nya semata.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad , nabi akhir zaman, yang tidak ada lagi nabi setelah wafatnya Beliau, yang telah memperjuangkan tersebarnya kedamaian di muka bumi dengan membawa agama keselamatan yaitu islam dari sang pencipta yang maha pemurah lagi penyayang.

Semoga shalawat dan salam juga senantiasa tercurah kepada keluarganya, para istrinya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia meniti langkah hidup Beliau hingga akhir masa.

Kalimat syukur kembali penyusun ucapkan kepada Allah, yang telah memudahkan penyusun dalam merampungkan penyusunan Skripsi untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Fakultas Syariah Jurusan Hukum Islam Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah.

Kemudian penyusun juga menyadari bahwa selesainya Skripsi ini, tentu tidak lepas dari andil pihak-pihak yang telah sangat banyak membantu penyusun, sehingga kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Jember.

2. Bapak Dr. H. Sutrisno RS., M..HI selaku Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Jember.

3. Bapak Muhaimin, M.H.I. selaku Ketua Jurusan Hukum Islam Institut Agama Islam Negeri Jember.

Syariah Institut Agama Islam Negeri Jember.

6. Dan untuk semua pihak-pihak yang terlibat dan membantu kami dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga Allah membalas dan melipatgandakan kebaikan mereka semua dan menjadikannya amalan yang dapat bermanfaat di hari penghitungan amal kelak. Penyusun juga menyadari bahwa Skripsi ini jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik zat yang maha sempurna, yaitu Allah. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan tangan terbuka, demi perubahan yang lebih baik di kemudian hari.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penyusun dan bagi semua pihak pada umumnya.

Jember, 02 Juni 2016

Penulis

2.2 Perbedaan Usia Minimal Perkawinan versi Taher Mahmood... 48 3.1 Percentage of women aged ... 98

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh, 2005, Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Alam, Andi Syamsu, 2005, Usia Ideal Memasuki Dunia Perkawinan(sebuah ikhtiar mewujudkan keluarga sakinah), Jakarta: Kencana Mas Publising House.

Ali, Achmad, 2008, Menguak Realitas Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Anawar, Dessy, 2015, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, Surabaya:

Amelia Surabaya.

Bisri, Cik Hasan, 2001, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Agama Islam, cet. ke-1, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bulughul Maram

Fauzi, Moh. Alex, 2014, Batas Minimal Usia Perkawinan menurut Undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam perspektif hokum dan kesehatan reproduksi, Skripi Fakultas Syariah dan hokum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hadi, Nuruddin, 2010, Teori Konstitusi Negara Demokrasi (PahamKonstitusionalisme Demokrasi Pasca Amandemen), Malang: Setara Press.

Hanafi, Yusuf, 2011, Kontroversi Perkawinan Anak Di Bawah Umur (Child Marriage), Bandung: CV. Mandar Maju.

Hasyim, Abdul Wahid, 2009, Batas Minimal Usia Perkawinan Dalam Islam (Studi Komparatif Antara Pemikiran Jumhur dan Inbnu Syubrumah tentang Batas Minimal Usia Perkawinan), Skripsi Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Jember.

Indah, Elly Surya, 2008, Batas Minimal Usia Perkawinan Menurut Fiqh empat madzhab dan UU No. 1 tahun 1974, Skripsi Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Marzuki, Peter Mahmud, 2008, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Moleong, Lexy, 2011, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. Ke 29.

Nasution, Khoiruddin, 2009, Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim, Yogyakarta:

Academia+Tazzafa.

Purba, Michael R, 2009, Kamus Hukum Internasional dan Indonesia, Jakarta:

Widyatama.

Rahman, H. Asmuni a, 1976, Qa’idah Qa’idah Fiqhih (Qawa’idul Fiqhiyah), Jakarta: Bulan Bintang.

Rofiq, Ahmad, 2003, Hukum Islam di Indonesia, cet. Ke-6, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Siahaan, Maruarar, 2012, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia edisi 2, Jakarta: Sinar Grafika.

Soekanto, Suryono, 2007, Penelitian Hukum normative, Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Sugiono, 2014, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi, Bandung: Alfabeta, Cet. Ke 5.

Syahuri, Taufiqurrohman, 2011, Tafsir Konstitusi berbagai Aspek Hukum, Jakarta:

Kencana.

Tim Penyusun, 2015, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Jember: IAIN Jember Press.

Walgito, Bimo, 1984, Bimbingan dan Konseling perkwinan, cet. 1, (Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada.

Yafie, Ali, 1994, Menggagas Fiqh Sosial, Bandung: Mizan.

Fadlyana, Eddy. 2009. “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya”, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjajaran/RS Dr Hasan Sadikin, Bandung: Sari Pediatri: 136-140.

Wardyaningrum, Damayanti. 2012. “Komunikasi Keluarga dalam Pengambilan Keputusan Perkawinan di Usia Remaja”, Jakarta: Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial: 236-248.

Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 Tentang Peraturan Perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Undang-Undang Perkawinan.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undnag Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang Dasar 1945.

United Nation Development Economic and Social Affairs, “World Marriage Patterns”,

www.un.org/en/development/desa/population/publications/pdf/popfact s/PopFacts_2011-1.

UNICEF STATISTICS http://data.unicef.org/resources/progress-for-children-a- report-card-on-adolescents.html.

http://digilib.uin-suka.ac.id

YURIDIS

PUTUSAN MK

No. 30-74/PUU- XII/2014

TENTANG UJI MATERIIL

BATAS USIA

PERKAWINAN

Tentang Batas Usia Perkawinan

menolak uji materiil batas usia perkawinan

pertimbanagan hakim dalam memutuskan

Sumber data yang diambil dari Putusan Mahkamah Konstitusi 2. Data Sekunder

Sumber data yang diambil dari sumber- sumber terkait dengan batas usia

perkawinan seperti buku- buku, artikel, jurnal

peneltian hokum normatif

2. Sifat Penelitian

Deskriptif analitik 3. Pendekatan

Penelitian

Pendekatan Kasus

4. Metode

Pengumpulan data studi kepustakaan dan documenter

5. Metode

analisis data Analisis isi (content analysis)

Bagaimana Analisis Yuridis Putusan MK no. 30-74/PUU- XII/2014 Tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan?

2. Sub Pokok Masalah

a. Bagaimana dasar Pertimbangan Hakim MK yang menolak terhadap Uji materiil Batas Usia Perkawinan?

b. Bagaimana dasar Pertimbangan Hakim MK yang melakukan Dissenting Opinion Terhadap Putusan NK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan?

c. Bagaimana Analisis Yuridis Putusan MK tentanag Uji

Materiil Batas Usia Perkawinan?

Yang

memberikan Dissenting opinion

a. Dasar

pertimbangan hakim dalam memutuskan

Analisis yuridis batas usia

perkawinan

a. Analisis menurut hokum islam b. Analisis menurut

hokum positif c. Analisis menurut

ilmu psikologi

Dokumen terkait