BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS PENELITIAN
A. Penyajian Data
1. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014
Mahkamah Konstitusi yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Adapun Pekara Nomor 30/PUU-XII/2014 di ajukan oleh Zumrotin yang bekerja sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kesehatan Perempuan, beralamat di Jalan Kaca Jendela II Nomor 9 RT. 007/08, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (untuk selanjutnya disebut sebagai Pemohon I). Perkara Nomor 74/PUU-XII/2014 di ajukan oleh:
a. Nama : Indry Oktaviani
Pekerjaan : Direktur Organisasi Semerlak Cerlang Nusantara (SCN) Alamat : Jalan Teratai BL. Q Nomor 6 RT. 003 RW.002, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan
b. Nama : Fr. Yohana Tantria W.
Pekerjaaan : Koordinator Eksekutif Masyarakat untuk Keadilan Gender dan Antar Generasi (MAGENTA)
Alamat : Jalan T.B Simatupang, RT. 002 RW. 03, Gendong, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
c. Nama : Dini Anitasari Sa’baniah Pekerjaan : Associate pada Organisasi SCN
Alamat : Bukit Pamulang Indah G 9/5 RT.001 RW.005, Pamulang Timur, Tanggerang Selatan
d. Nama : Hadiyatul Thoyyibah
Pekerjaan : Staf Sistem Manajemen Informasi pada Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)
Alamat : Jalan Sendang RT.003 RW.015, Karangsari, Kulonprogo, Yogyakarta
e. Nama : Ramadhaniati
Pekerjaan : Staf Pada Organisasi KPI
Alamat : Jalan 50 Koto, Nomor 652, RT.01, RW.07, Surau Gadang, Nanggalo, 50 Koto, Sumatera Barat
f. Nama : Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA), yang dalam hal ini diwakili oleh Agus Hartono
Pekerjaan : Ketua YPHA
Alamat kantor : Jalan Rawa Bambu, Kompleks Batan Blok D2 Lt.3, Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Alamat rumah : Jalan Taman Siswa 48 YK, RT. 044 rw. 014, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta
g. Nama : Koalisi Perempuan Indonesia, yang dalam hal ini diwakili oleh Dian Kartika Sari
Pekerjaan : Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia
Alamat kantor : Jalan Siaga I Nomor 2B RT.003 RW.05, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12510
Alamat Rumah : Jalan Photo Nomor 11 Perum Wartawan Purimulya, RT.003 RW.008 Kalimulya, Cilodog, Depok, Jawa Barat (Untuk selanjutnya disebut sebagai para Pemohon II).
1) Duduk Perkara
Bahwa Pemohon I telah mengajukan permohonan bertanggal 5 Maret 2014 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal 5 Maret 2014 berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 74/PAN.MK/2014 dan telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dengan Nomor 30/PUU- XII/2014 pada tanggal 13 Maret 2014. Yang telah diperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 15 April 2014, yang menguraikan hal- hal sebagai berikut:
Dalam permohonan ini, Pemohon I adalah pengujian konstitusionalitas Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “16 (enam belas) tahun”
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019, selanjutnya disebut UU Perkawinan) yang selengkapnya menyatakan“Perkawinan hanya diizinkan
bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.”
Dari ketentuan yang di mohonkan pengujian tersebut dianggap bertentangan dengan UUD 1945 khususnya terhadap Pasal 28B ayat (1) dan ayat (2), pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1), pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (1) dan ayat 2 serta Pasal 28I ayat (1) dan ayat (2) yang selengkapnya menyatakan sebagai berikut:
Pasal 28A :”Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”
Pasal 28B ayat (1) :”Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.”
Pasal 28Bayat (2) :”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Pasal 28C ayat (1) :Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 28D ayat (1) :”Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Pasal 28G ayat (1) :Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang
di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Pasal 28H ayat (1) :”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”
Pasal 28H ayat (2) :”Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
Pasal 28I ayat (1) :Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
Pasal 28I ayat (2) :“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”
Menurut Pemohon I, Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “16 (enam belas) tahun” UU Perkawinan tersebut bertentangan dengan Pasal-pasal UUD 1945 di atas sepanjang tidak dimaknai “18 (delapan belas) tahun” sehingga Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan seharusnya menjadi “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak
pria mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 18 (delapan belas)tahun”.
Sedangkan permohonan para Pemohon II adalah pengujian konstitusionalitas Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “16 (enam belas) taun” serta Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan” dan frasa “pejabat lain” UU Perkawinan yang selengkapnya menyatakan sebagai berikut:
Pasal 7ayat (1) :“Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.”
Pasal 7 ayat (2) :“Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lainyang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita.”
Ketentuan yang dimohonkan pengujian tersebut dianggap bertentangan dengan UUD 1945 khususnya terhadap Pasal 1 ayat (3), Pasal 24 ayat (1), Pasal 28B ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (2) yang selengkapnya menyatakan sebagai berikut:
Pasal 1 ayat (3) :“Negara Indonesia adalah negara hukum.”
Pasal 24 ayat (1) :“Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.”
Pasal 28Bayat (1) :“Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.”
Pasal 28Bayat (2) :“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Pasal 28C ayat (1) :Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 28D ayat (1) :“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Pasal 28Iayat (2) :“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. ”
Menurut Pemohon I, Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa“16 (enam belas) tahun” UU Perkawinan tersebut bertentangan dengan Pasal-pasal UUD 1945 di atas sepanjang tidak dimaknai “18 (delapan belas)tahun” sehingga Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan seharusnya menjadi “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 18 (delapan belas) tahun”.
Pasal 7 ayat (2) sepanjang kata “penyimpangan” UU Perkawinan bertentangan dengan pasal-pasal UUD 1945 tersebut sepanjang tidak dimaknai “penyimpangan dengan alasan kehamilan di luar perkawinan”, dan Pasal 7 ayat (2) sepanjang frasa “Pejabat lain” UU Perkawinan bertentangan dengan pasal-pasal UUD 1945 di atas, sehingga selengkapnya Pasal 7 ayat (2) UU Perkawinan seharusnya menjadi, “Dalam hal penyimpangan dengan alasan kehamilan di luar perkawinandalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita ”
Mengingat kembali terhadap putusan yang sudah dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUU-III/2005 tertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 tertanggal 20 September 2007 bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:
a. Adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;
b. Hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh pemohon dianggap dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
c. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut harus bersifat spesifik dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d. Adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud dengan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
e. Adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;
Pemohon adalah Badan Hukum Privat. Dalam hal ini adalah badan Hukum dari “Yayasan Kesehatan Perempuan” yang telah memenuhi persyaratan pendirian badan hukum Yayasan dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Yayasan, dan dicatatkan di Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia tanggal 14 Maret 2006. Oleh sebab itu, kedudukan Pemohon selaku badan hukum privat yang berkedudukan di Indonesia menjelaskan adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945.
HAK Pemohon untuk melakukan kerja-kerja advokasi terkait isu kesehatan reproduksi perempuan tidak dapat berjalan baik dan tidak dapat dipenuhi jika ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan sepanjang masih diberlakukan frsa “16 (enam belas) tahun”
Kesadaran konstitusional Pemohon untuk melindungi hak anak sebagai urusan uatam dalam berbangsa dan bernegara sebagaimana diatur dalam pasal 28B ayat (2) UUD 1945,
“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”
Tidak dapat dilaksanakan. Hak konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap bertentangan dengan amanat konstitusi tentang perlindungan anak yang lebih lanjut telah di atur oleh UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perindungan Anak dengan pengaturan perlindungan anak berusia sampai denga n 18 Tahun. Kerugian tersebut bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi. Selain tu juga terdapat hubungan sebab akibat (causal verband) anatara kerugian dimaksud dan berlakunya Undang-Undang yang diajukan pengujian. Dan terdapat kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Dengan demikian maka jelaslah hak konstitusional tersebut dianggap telah dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, Juga bahwa hak tersebut bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi, serta adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud dengan berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian, dan adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya prmohonan maka kerugian konstitusional tersebut tidak akan atau tidak lagi terjadi pada diri Pemohon.
2) Amar Putusan
Bahwa dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang berbeda-beda 9 Hakim MK tentang Uji Materiil Batas Usia Perkawinan dengan Amar Putusan sebagai berikut:
Amar Putusan Mengadili;
Menyatakan menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya.
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi, yaitu Hamdan Zoelva selaku Ketua merangkap Anggota, Arief Hidayat, Patrialis Akbar, Ahmad Fadlil Sumadi, Wahiddin Adams, Maria Farida Indrati, Anwar Usman , Muhammad Alim, dan Aswanto, masing-masing sebagai Anggota, pada hari seninm tanggal lima, bulan januari, tahun dua ribu lima belas, yang diucapkan dalam sidang Pleno Mahkmah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari kamis, tanggal delapan belas, bulan juni, tahun dua ribu lima belas, selesai diucapkan pukul 14.12 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Patrialis Akbar, Maria Farida Indrati, Aswanto, Suhartoyo, I Dewa Gede Palguna, dan Manahan M.P Sitompul, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Wiwik Budi Wasito sebagai Panitera Pengganti, dihadiri para Pemohon dan/atau kuasanya, Presiden atau yang mewakili, Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, serta pihak Terkait dan/atau kuasanya. Terhadap putusan Mahkmah ini, Hakim Konstitus i Maria Farida Indrati memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion).1
1Putusan Mahkmah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014, 233.
2. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Menolak