Pola Jaringan Jalan

Top PDF Pola Jaringan Jalan:

PENGGUNAAN CITRA QUICKBIRD UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN POLA JARINGAN JALAN.

PENGGUNAAN CITRA QUICKBIRD UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN POLA JARINGAN JALAN.

Hasil skripsi ini adalah ketepatan Citra Satelit QuickBird untuk identifikasi kemacetan lalu lintas di Kota Semarang 96 untuk panjang jalan, 86 % untuk lebar jalan. Setelah menentukan titik kemacetan yang ada di Citra Satelit QuickBird, kemudian cek lapangan dan memperoleh 19 titik kemacetan, dan membandingkan data dari Dinas Bina Marga dengan perhitungan menggunakan Citra Satelit. Karakteristik titik-titik rawan kemacetan di Kota Semarang berbeda-beda, diantaranya dipengaruhi oleh penggunaan lahan di sekitarnya. Penggunaan lahan disekitar titik rawan bencana diantaranya terdapat kawasan perkantoran, jalan keluar/masuk tol, adanya aktivitas pendidikan, dan aktivitas pasar. Pola jaringan jalan titik-titik kemacetan di Kota Semarang adalah Grid Network, Radial Network, Linier Network, dan Modified Radial Network. Titik kemacetan di Kota Semarang sebagian besar memiliki pola jaringan jalan Radial Network, yaitu pola jalan yang menuju satu titik pusat yang menghubungkan ke beberapa jalan lainnya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

pinggiran di Kecamatan Ngaliyan............................................. Tabel 5.15. Perhitungan Chi-Square jarak rumah ke jalan dengan rute yang sering dilalui di Kecamatan Ngaliyan .............................. Tabel 5.16. Perhitungan Chi-Square luas bangunan dengan jumlah

15 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Masyarakat yang menempati Kecamatan Gunung Pati 51,5% adalah pendatang luar Kecamatan Gunung Pati yang telah menetap lebih dari 15 tahun Dari hasil analisa data dapat di identifikasi 47,1% masyarakat yang bergerak ke Kecamatan Gunung Pati adalah keluarga muda yang baru berumah tangga. Jarak perjalanan yang ditempuh terbanyak setiap hari adalah 5-10 km yaitu 37,11%. Dengan kondisi jalan 74,6% baik (DPU Kota Semarang), maka masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan keamanan, kenyamanan dan kebebasan yaitu sebesar 36.96%. Hal ini disebabkan karena pelayanan angkutan umum yang kurang baik dan kurang memadai, sehingga menyebabkan kemacetan di jalan-jalan utama Kecamatan Gunung Pati.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Menurut Black (1981) aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu dengan yang lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Pernyataan mudah atau sulit merupakan hal yang sangat subyektif dan kualitatif, mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi orang yang lain, begitu pula dengan pernyataan sulit, oleh karena itu diperlukan kinerja kualitatif yang dapat menyatakan aksesibilitas.

12 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK KAJIAN KINERJA JALAN PADA POLA JARINGAN JALAN GRID KOTA SURAKARTA

PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK KAJIAN KINERJA JALAN PADA POLA JARINGAN JALAN GRID KOTA SURAKARTA

Analisis kapasitas jalan memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa besar kapasitas jalan masing – masing ruas jalan Kota Surakarta. Dengan mengetahui kapasitas jalan maka dapat diperkirakan jumlah arus kendaraan maksimal yang dapat ditampung pada ruas jalan selama kondisi tertentu. Perhitungan kapasitas jalan dipengaruhi oleh kapasitas dasar jalan, pembagian arah, hambatan samping dan ukuran kota berdasarkan jumlah penduduk. Analisis Tingkat Pelayanan Jalan

8 Baca lebih lajut

Bentuk Morfologi Urban Fringe Selatan Kota Surakarta COVER

Bentuk Morfologi Urban Fringe Selatan Kota Surakarta COVER

Perkembangan kota berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan. Tuntutan kebutuhan lahan tidak dapat diakomodir oleh ruang kota sehingga menimbulkan perembentan kawasan ke wilayah pinggiran (urban fringe). Perkembangan Kota Surakarta yang dipengaruhi perkembangan ekonomi mengakibatkan daya tarik tersendiri. Kepadatan Kota Surakarta yang mencapai 11.530 jiwa/km 2 menuntut perkembangan kota ke wilayah pinggiran terutama pada selatan Kota Surakarta. Kondisi fisik dan jarak yang dekat dengan pusat Kota Surakarta menjadikan Kecamatan Baki, Grogol, dan Kartosuro (urban fringe selatan Kota Surakarta) berkembang. Perkembangan wilayah pinggiran (urban fringe) dibuktikan dengan perubahan penggunaann lahan dari tidak terbangun menjadi terbangun dan pembangunan fasilitas ekonomi di wilayah pinggiran (urban fringe) selatan Kota Surakarta. Akses jalan yang mudah menjadi pendorong perkembangan. Perkembangan urban fringe mengakibatkan kenampakan bentuk morfologi yang beragam pada masing-masing kawasan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bentuk morfologi kawasan permukiman urban fringe selatan Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif dengan dua tahapan: pertama, mengidentifikasi komponen pembentuk morfologi yang terdiri dari penggunaan lahan, pola jaringan jalan, dan pola bangunan. Kedua, menganalisis bentuk morfologi urban fringe selatan Kota Surakarta dengan mengintegrasikan hasil identifikasi komponen pembentuk morfologi. Tingkatan morfologi yang dibahas pada penelitian ini meliputi tingkat kawasan (mikro) dan keseluruhan kawasan (makro). Berdasarkan karakteristik penggunaan lahan, urban fringe selatan Kota Surakarta terbagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan permukiman, industri, dan perdagangan jasa. Hasil penelitian menunjukan pola penggunaan lahan perdagangan dan jasa yang memita, pola jaringan jalan spinal, kepadatan beragam, dan pola bangunan heterogen Jika ditinjau pada tiap kawasan (mikro) menunjukan bentuk morfologi gurita dan konsentris pada tiap kawasan urban fringe selatan Kota Surakarta dan secara keseluruhan (makro) menunjukan bentuk morfologi gurita. Bentuk morfologi yang ditinjau secara mikro merupakan bagian dari morfologi makro.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BANGKITAN DAN POLA PERJALANAN TRANSPORTASI DAERAH PERUMAHAN KOTA MANADO | Soleman | SPASIAL 9086 17998 1 SM

BANGKITAN DAN POLA PERJALANAN TRANSPORTASI DAERAH PERUMAHAN KOTA MANADO | Soleman | SPASIAL 9086 17998 1 SM

Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara Penelitian ini dilakukan untuk mengindetifikasi bangkitan dan pola perjalanan di Perumahan Malendeng. Untuk menjawab tujuan tersebut maka metode yang akan digunakan adalah Metode penelitian kualitatif - kuantitatif dengan menggunakan Analisis Deskriptif kualitatif untuk mengetahui karakteristik perilaku perjalanan dan pembebanan pola jaringan jalan yang ada dan Analisis Kuantitatif dengan Analisis Regresi Sederhanadi Kawasan Perumahan Malendeng Residence. Untuk mengetahui model bangkitan perjalanan dengan menggunakan program SPSS 20 For Windows
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Daftar Jaringan Jalan

Daftar Jaringan Jalan

9 057 12K 5,54 - 6,34 Jalan SP. Teuku Umar - Batu Belig 0,800 --> 10 059 11K 2,06 - 5,35 Jalan Raya Puputan Nitimandala 3,340 11 059 12K 2,45 - 3,92 Jalan Cok Agung Tresna Nitimandala 2,150 12 059 13K 4,21 - 4,56 Jalan Basuki Rahmat Nitimandala 0,350 13 059 14K 4,64 - 4,92 Jalan DR. Muardi Nitimandala 0,280 14 059 15K 3,54 - 4,17 Jalan Tantular Nitimandala 0,630 15 059 16K 3,66 - 4,29 Jalan Kusumaatmaja Nitimandala 0,630 16 059 17K 3,87 - 4,51 Jalan Ir. Juanda Nitimandala 0,640 17 059 18K 4,22 - 4,86 Jalan D.I. Panjaitan Nitimandala 0,640 18 059 19K 6,61 - 6,41 Jalan Prof. Moch Yamin Nitimandala 0,800 19 059 1AK 3,83 - 4,02 Jalan Cut Nya Dien Nitimandala 0,200 20 059 1BK 4,00 - 3,21 Jalan S. Parman Nitimandala 0,210
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN  LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERANCANGAN DESA WISATA KEBONAGUNG.

LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERANCANGAN DESA WISATA KEBONAGUNG.

4.1.3. Aspek-aspek Kultural Masyarakat Desa 51 4.1.4. Kebudayaan Tradisional Masyarakat Desa 51 4.1.5. Ciri-ciri Pola Kebudayaan Tradisional Masyarakat Desa 52 4.1.6. Aspek-aspek Struktural masyarakat Desa 54 4.1.7. Penggolongan Masyarakat Desa di Jawa yang

Baca lebih lajut

Evaluasi Dan Analisa Desain Kapasitas Saluran Drainase Di Pasar Tavip Pemerintahan Kota Binjai

Evaluasi Dan Analisa Desain Kapasitas Saluran Drainase Di Pasar Tavip Pemerintahan Kota Binjai

Jaringan Drainase outlet II merupakan Pola jaringan drainase jaring-jaring, saluran terdiri dari saluran kuerter, tresier dan sekunder kemudian saluran sekunder langsung menuju ke saluran primer yaitu sungai Bingai. Saluran kuerter dan tersier berfungsi sebagai saluran interseptor. Kondisi saluran interseptor pada Outlet-II banyak terdapat sedimen di dalamnya hingga 80% dari besar dimensinya, ini karena salurannya masih ada yang terbuka dan tidak terawat dengan baik. Banjir sering terjadi pada daerah pengamatan (CP) CP-12 s/d CP-19 dan CP-23. Karena kontur daerahnya yang sedikit cekung dilihat dari peta Kontur. Pada CP-8 ada saluran yang keluar dari Outlet-II dan masuk ke CP-26 Outlet-III, mengingat demensi saluran yang keluar sama dengan CP-8 maka debit yang keluar (Q out 1) setengah dari debit yang terkumpul di CP-8.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengembangan Sistem Rekomendasi Rute Paling Optimum Dengan Algoritme Voronoi Continuous K Nearest Neighbor (VCKNN), Progressive Incremental Network Expansion (PINE), Voronoi-Based Network Nearest Neighbor (VN3), Berbasis Webgis

Pengembangan Sistem Rekomendasi Rute Paling Optimum Dengan Algoritme Voronoi Continuous K Nearest Neighbor (VCKNN), Progressive Incremental Network Expansion (PINE), Voronoi-Based Network Nearest Neighbor (VN3), Berbasis Webgis

Proses memotong jalan berdasarkan poligon voronoi menggunakan fitur instersect pada QGIS dimana data jaringan jalan sebagai input vector layer dan data poligon voronoi sebagai intersect layer. Pada Gambar 4 menunjukan data jaringan jalan yang masih belum dipotong, setiap segmen jalan di hubungkan dengan node-node yang ditunjukkan dengan titik merah. Gambar 5 menunjukkan jaringan jalan yang sudah dipotong, hasil dari pemotongan ini adalah munculnya split node. Split node adalah node- node pada jalan yang berpotongan dengan poligon voronoi yang ditunjukkan dengan titik biru pada Gambar 5. Split node akan digunakan untuk segmen-segmen jalan baru yang di sebut move interval.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pola Komunikasi Organisasi President Director Dengan Karyawan Di PT. International Bunsiness Futures Bandung

Pola Komunikasi Organisasi President Director Dengan Karyawan Di PT. International Bunsiness Futures Bandung

Orang biasanya turut serta membuat jaringan informal melalui tegur sapa yang orang lakukan terhadap rekan atau sejawat di kantor, menjawab telefon yang berdering atau menulis pesan melalui memo kantor, dan sebagainya. Dewasa ini, kemampuan untuk membangun hubungan atau link semakin meningkat dengan kehadiran teknologi pesan singkat (SMS) melalui telepon genggam atau e-mail melalui internet. Dengan kata lain, hubungan tidak terbentuk hanya melalui tatap muka secara fisik, tetapi juga melalui sarana nonfisik. Dengan demikian, Hubungan atau relationship terbentuk melalui komunikasi antar-anggota organisasi secara terus menerus, dan tentu saja tidaklah mudah untuk mencatat setiap hubungan yang terjadi. (Morissan, 2009:50)
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

STUDI KELAYAKAN API ABADI MRAPEN SEBAGAI OBYEK WISATA DI KABUPATEN GROBOGAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

STUDI KELAYAKAN API ABADI MRAPEN SEBAGAI OBYEK WISATA DI KABUPATEN GROBOGAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka perlu dilakukan studi kelayakan Api Abadi Mrapen sebagai obyek wisata di Kabupaten Grobogan. Adapun tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi kelayakan Api Abadi Mrapen sebagai obyek wisata di Kabupaten Grobogan. Kelayakan (feasibility) yang dimaksudkan tidak mengacu pada untung rugi secara ekonomis namun hanya sebatas untuk mengetahui apakah memang Api Abadi Mrapen mempunyai sumberdaya yang potensial dan memadahi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. Selain itu juga untuk mengetahui apakah masih ada segmen pasar untuk produk wisata tersebut dan mengetahui apakah kondisi lingkungan, sosial, budaya lokal mampu mendukung pengembangan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sasaran yang dilakukan antara lain identifikasi potensi obyek yang dilihat dari elemen penawaran wisata meliputi atraksi, aksesibilitas dan amenitas; identifikasi sejauhmana daya dukung lingkungan, sosial dan budaya sekitar dalam menjadikan Api Abadi Mrapen sebagai obyek wisata; identifikasi profil wisatawan kawasan Api Abadi Mrapen; identifikasi motivasi dan pola kunjungan wisatawan ke Api Abadi Mrapen, penentuan kelayakan Api Abadi Mrapen sebagai obyek wisata. Metode pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah metode penelitian kuantitatif-kualitatif dengan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif deskriptif dan deskriptif kuantitatif dengan distribusi frekuensi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

POLA DAN JARINGAN KOMUNIKASI TENTANG PEN

POLA DAN JARINGAN KOMUNIKASI TENTANG PEN

Pada proses difusi, yaitu proses masuknya inovasi dalam suatu kelompok sehingga terjadi perubahan perilaku, hampir semua pemuka-pemuka opini menyokong perubahan. Akan tetapi, pada beberapa kasus tertentu pemuka pemuka opini menentang pengadopsian suatu inovasi. Jaringan atau network merupakan susunan sosial yang diciptakan oleh komunikasi antar individu dan kelompok. Saat manusia saling berkomunikasi tercipta mata rantai. Mata rantai tersebut merupakan jalur komunikasi dalam sebuah organisasi. Beberapa diantaranya ditentukan oleh aturan-aturan organisasi (seperti susunan birokrasi yang dinyatakan Max Weber bahwa birokrasi adalah sistem administrasi rutin yang dilakukan dengan keseragaman, diselenggarakan dengan cara-cara tertentu, didasarkan aturan tertulis, oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya) dan mendasari jaringan formal ( formal network ), tapi saluran-saluran ini hanya mengungkapkan bagian susunan organisasi. Sebaliknya, jaringan yang berkembang ( emergent network ) adalah saluran informal yang dibangun, bukan oleh regulasi formal organisasi tetapi oleh kontak reguler sehari-hari antar anggotanya.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Analisa Spasial Permukiman Informal di Pesisir Kampung Nelayan Belawan Medan

Analisa Spasial Permukiman Informal di Pesisir Kampung Nelayan Belawan Medan

Sedangkan menurut Tsenkova (2010), faktor penyebab terbentuknya permukiman informal adalah perencanaan ruang yang tidak memadai, sistem perundang-undangan yang tidak update dan kompleks, kebijakan perumahan yang tidak mampu memastikan penyediaan perumahan dengan harga jual yang mampu dibeli masyarakat, dan struktur administrasi publik yang sudah usang. Perencanaan ruang yang telah ditentukan oleh pemerintah sering sekali tidak selalu sejalan dengan keadaan di lapangan. Kebutuhan ruang masyarakat yang tidak dapat tertampung atau diatasi oleh pemerintah pada akhirnya membentuk ruang-ruang baru tersendiri di luar dari kehendak pemerintah tersebut. Terbentuknya ruang tidak terencana ini dapat bersifat sporadik dan meluas akibat dari kesamaan latar belakang sosial, ekonomi, mata pencaharian, pendidikan, kekerabatan, dan lain sebagainya. Ruang-ruang baru yang tidak terencana ini kemudian dapat membentuk suatu pola ruang.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

KIB D   Jalan, Irigasi, dan Bangunan

KIB D Jalan, Irigasi, dan Bangunan

Jalan, Jembatan, terowongan, Bangunan Air Irigasi, Bangunan Air Pasang,Bangunan Air Pengembangan Rawa dan Polde, Bangunan Air Pengaman Surya dan Penanggul, Bangunan Air Minum, Bangunan Air Kotor, Instalasi Air Minum, Instalasi Air Kotor, Instalasi Pengolahan Sampah, Instalasi Pengolahan Bahan Bangunan, Instalasi Pembangkit Listrik, Instalasi Gardu Listrik, Jaringan Air Minum, Jaringan Listrik dan lain-lain sejenisnya.

3 Baca lebih lajut

KORELASI ANTARA IRMS DAN BMS DI RUAS JALAN NASIONAL PROVINSI LAMPUNG (Studi Kasus Evaluasi Pertahun Anggaran Dari Tahun 2012 Sampai Tahun 2015)

KORELASI ANTARA IRMS DAN BMS DI RUAS JALAN NASIONAL PROVINSI LAMPUNG (Studi Kasus Evaluasi Pertahun Anggaran Dari Tahun 2012 Sampai Tahun 2015)

Jaringan Jalan Nasional di Provinsi Lampung merupakan jalan pintu gerbang daratan Sumatra dari pulau Jawa menuju ke Provinsi-Provinsi yang ada di pulau Sumatra maupun sebaliknya dan jalan raya sebagai urat nadi pembangunan disuatu wilayah sehingga harus memenuhi kebutuhan pergerakan lalulintas antara lain Cepat, Nyaman, Aman, Awet, dan Ramah lingkungan. Evaluasi atau studi ini dilakukan dengan melaksanakan tinjauan ruas Jalan dan Jembatan Nasional di Propinsi Lampung berdasarkan data IRMS dan BMS yang merupakan suatu alat atau manajemen untuk melihat kondisi jalan dan jembatan. Tidak terkaitnya antara IRMS dan BMS ini mengakibatkan tidak terjadinya evaluasi pada pembangunan dan pemeliharaan jalan dan jembatan pada ruas jalan Nasional di Provinsi Lampung.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II DINAS PERHUBUNGAN KOTA MEDAN A. Sejarah Ringkas - Sistem Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas Pada Dinas Perhubungan Kota Medan

BAB II DINAS PERHUBUNGAN KOTA MEDAN A. Sejarah Ringkas - Sistem Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas Pada Dinas Perhubungan Kota Medan

Rambu lalu lintas adalah untuk kepentingan bahkan keselamatan bersama oleh karena itu pemasangan rambu di seluruh kawasan jalan di Kota Medan terus dilakukan. Bahkan, meksi rambu kerap hilang dari lokasi pemasangan rambu akan diganti dan melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan.

Baca lebih lajut

STUDI EVALUASI KELAYAKAN PEMBANGUNAN JALAN TOL SURABAYA - MOJOKERTO

STUDI EVALUASI KELAYAKAN PEMBANGUNAN JALAN TOL SURABAYA - MOJOKERTO

Surabaya dan Mojokerto sebagai kota dengan aktivitas lalu lintas yang padat dan ramai, tentunya harus terdapat prasarana transportasi yang memadai. Pelebaran atau penambahan jalan penghubung harus disiapkan karena jalan Nasional yang tersedia mengalami kemacetan akibat besarnya volume kendaraan yang ada, tetapi tidak didukung oleh lebar jalan yang memadai. Untuk mengatasi kemacetan di ruas jalan tersebut, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mempertimbangkan perlunya pembangunan jalan tol Surabaya – Mojokerto. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui besarnya penghematan dan kelayakan dari proyek pembangunan Jalan Tol Surabaya - Mojokerto. Sehingga perlu dilakukan analisis kelayakan pembangunan Jalan Tol Surabaya - Mojokerto dari segi ekonomi dan finansial.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kompetensi account executive dalam menulis dan berkomunikasi BAB 1

Kompetensi account executive dalam menulis dan berkomunikasi BAB 1

Kebutuhan akan adanya periklanan berkembang seiring dengan ekspansi penduduk dan pertumbuhan kota-kota yang dipenuhi oleh banyak toko, restoran, dan pusat-pusat perdagangan besar. Hal lain yang turut mempengaruhi perkembangan periklanan adalah tumbuhnya pola-pola produksi secara masal di berbagai pabrik, terbukanya jaringan komunikasi dapat (dalam bentuk jalan raya dan rel kereta api) yang mengalirkan berbagai barang dari satu tempat ke tempat lain, serta terbitnya surat-surat kabar populer yang menjadi tempat menarik untuk memasang iklan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...