Pola Jaringan Jalan

Top PDF Pola Jaringan Jalan:

PENGGUNAAN CITRA QUICKBIRD UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN POLA JARINGAN JALAN.

PENGGUNAAN CITRA QUICKBIRD UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN POLA JARINGAN JALAN.

Populasi dalam penelitian ini adalah jaringan jalan yang rawan kemacetan di Kota Semarang. Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah titik rawan kemacetan lalu lintas diihat menggunakan Citra Satelit QuickBird yaitu sebanyak 19 titik kemacetan. Variabel dalam penelitian ini panjang dan lebar jalan, Pola jaringan jalan, Landuse, dan Kecepatan rata-rata arus lalu lintas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah (1) Metode dokumentasi dan metode survei. Teknik analisis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah (1) Analisis deskriptif, (2) Analisis Kuantitatif.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

LAPORAN TUGAS AKHIR IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Pendidikan Tingkat[r]

1 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Masyarakat yang menempati kecamatan Ngaliyan 34,88% berasal dari kecamatan Semarang Barat yang telah menetap lebih dari 15 tahun. Dari hasil analisa data dapat diidentifikasi masyarakat yang bergerak ke Kecamatan Ngaliyan 42,4% adalah keluarga muda yang baru berumah tangga. Jarak perjalanan yang ditempuh terbanyak setiap hari adalah 5-10 km kearah pusat kota yaitu 36,42%. Dengan kondisi jalan 56.8% baik (DPU Kota Semarang), maka masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan jarak perjalanan yang jauh dan ketepatan waktu yaitu sebesar 42,96%. Hal ini disebabkan karena pelayanan angkutan umum yang kurang baik dan kurang memadai, sehingga menyebabkan kemacetan di jalan-jalan utama Kecamatan Ngaliyan
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Sebaran dan pergerakan yang dilakukan oleh penduduk daerah pinggiran berpotensi untuk menimbulkan keruwetan pada transportasi Kota Semarang pada nantinya karena mereka cenderung tetap me[r]

6 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Menurut Black (1981) aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu dengan yang lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Pernyataan mudah atau sulit merupakan hal yang sangat subyektif dan kualitatif, mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi orang yang lain, begitu pula dengan pernyataan sulit, oleh karena itu diperlukan kinerja kualitatif yang dapat menyatakan aksesibilitas.

12 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

pinggiran di Kecamatan Ngaliyan............................................. Tabel 5.15. Perhitungan Chi-Square jarak rumah ke jalan dengan rute yang sering dilalui di Kecamatan Ngaliyan .............................. Tabel 5.16. Perhitungan Chi-Square luas bangunan dengan jumlah

15 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

IDENTIFIKASI POLA PENGEMBANGAN DAERAH PINGGIRAN DAN POLA JARINGAN JALAN KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Urban Geography: A Social Perspective, London: Longman, 1973 Hadi Sabari Yunus.. Klasifikasi Kota, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2003 Hadi Sabari Yunus.[r]

2 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK KAJIAN KINERJA JALAN PADA POLA JARINGAN JALAN GRID KOTA SURAKARTA

PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK KAJIAN KINERJA JALAN PADA POLA JARINGAN JALAN GRID KOTA SURAKARTA

Analisis kapasitas jalan memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa besar kapasitas jalan masing – masing ruas jalan Kota Surakarta. Dengan mengetahui kapasitas jalan maka dapat diperkirakan jumlah arus kendaraan maksimal yang dapat ditampung pada ruas jalan selama kondisi tertentu. Perhitungan kapasitas jalan dipengaruhi oleh kapasitas dasar jalan, pembagian arah, hambatan samping dan ukuran kota berdasarkan jumlah penduduk. Analisis Tingkat Pelayanan Jalan

8 Baca lebih lajut

BANGKITAN DAN POLA PERJALANAN TRANSPORTASI DAERAH PERUMAHAN KOTA MANADO | Soleman | SPASIAL 9086 17998 1 SM

BANGKITAN DAN POLA PERJALANAN TRANSPORTASI DAERAH PERUMAHAN KOTA MANADO | Soleman | SPASIAL 9086 17998 1 SM

Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara Penelitian ini dilakukan untuk mengindetifikasi bangkitan dan pola perjalanan di Perumahan Malendeng. Untuk menjawab tujuan tersebut maka metode yang akan digunakan adalah Metode penelitian kualitatif - kuantitatif dengan menggunakan Analisis Deskriptif kualitatif untuk mengetahui karakteristik perilaku perjalanan dan pembebanan pola jaringan jalan yang ada dan Analisis Kuantitatif dengan Analisis Regresi Sederhanadi Kawasan Perumahan Malendeng Residence. Untuk mengetahui model bangkitan perjalanan dengan menggunakan program SPSS 20 For Windows
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Bentuk Morfologi Urban Fringe Selatan Kota Surakarta COVER

Bentuk Morfologi Urban Fringe Selatan Kota Surakarta COVER

Perkembangan kota berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan. Tuntutan kebutuhan lahan tidak dapat diakomodir oleh ruang kota sehingga menimbulkan perembentan kawasan ke wilayah pinggiran (urban fringe). Perkembangan Kota Surakarta yang dipengaruhi perkembangan ekonomi mengakibatkan daya tarik tersendiri. Kepadatan Kota Surakarta yang mencapai 11.530 jiwa/km 2 menuntut perkembangan kota ke wilayah pinggiran terutama pada selatan Kota Surakarta. Kondisi fisik dan jarak yang dekat dengan pusat Kota Surakarta menjadikan Kecamatan Baki, Grogol, dan Kartosuro (urban fringe selatan Kota Surakarta) berkembang. Perkembangan wilayah pinggiran (urban fringe) dibuktikan dengan perubahan penggunaann lahan dari tidak terbangun menjadi terbangun dan pembangunan fasilitas ekonomi di wilayah pinggiran (urban fringe) selatan Kota Surakarta. Akses jalan yang mudah menjadi pendorong perkembangan. Perkembangan urban fringe mengakibatkan kenampakan bentuk morfologi yang beragam pada masing-masing kawasan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bentuk morfologi kawasan permukiman urban fringe selatan Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif dengan dua tahapan: pertama, mengidentifikasi komponen pembentuk morfologi yang terdiri dari penggunaan lahan, pola jaringan jalan, dan pola bangunan. Kedua, menganalisis bentuk morfologi urban fringe selatan Kota Surakarta dengan mengintegrasikan hasil identifikasi komponen pembentuk morfologi. Tingkatan morfologi yang dibahas pada penelitian ini meliputi tingkat kawasan (mikro) dan keseluruhan kawasan (makro). Berdasarkan karakteristik penggunaan lahan, urban fringe selatan Kota Surakarta terbagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan permukiman, industri, dan perdagangan jasa. Hasil penelitian menunjukan pola penggunaan lahan perdagangan dan jasa yang memita, pola jaringan jalan spinal, kepadatan beragam, dan pola bangunan heterogen Jika ditinjau pada tiap kawasan (mikro) menunjukan bentuk morfologi gurita dan konsentris pada tiap kawasan urban fringe selatan Kota Surakarta dan secara keseluruhan (makro) menunjukan bentuk morfologi gurita. Bentuk morfologi yang ditinjau secara mikro merupakan bagian dari morfologi makro.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisa Spasial Permukiman Informal di Pesisir Kampung Nelayan Belawan Medan

Analisa Spasial Permukiman Informal di Pesisir Kampung Nelayan Belawan Medan

Sedangkan menurut Tsenkova (2010), faktor penyebab terbentuknya permukiman informal adalah perencanaan ruang yang tidak memadai, sistem perundang-undangan yang tidak update dan kompleks, kebijakan perumahan yang tidak mampu memastikan penyediaan perumahan dengan harga jual yang mampu dibeli masyarakat, dan struktur administrasi publik yang sudah usang. Perencanaan ruang yang telah ditentukan oleh pemerintah sering sekali tidak selalu sejalan dengan keadaan di lapangan. Kebutuhan ruang masyarakat yang tidak dapat tertampung atau diatasi oleh pemerintah pada akhirnya membentuk ruang-ruang baru tersendiri di luar dari kehendak pemerintah tersebut. Terbentuknya ruang tidak terencana ini dapat bersifat sporadik dan meluas akibat dari kesamaan latar belakang sosial, ekonomi, mata pencaharian, pendidikan, kekerabatan, dan lain sebagainya. Ruang-ruang baru yang tidak terencana ini kemudian dapat membentuk suatu pola ruang.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Pengembangan Sistem Rekomendasi Rute Paling Optimum Dengan Algoritme Voronoi Continuous K Nearest Neighbor (VCKNN), Progressive Incremental Network Expansion (PINE), Voronoi-Based Network Nearest Neighbor (VN3), Berbasis Webgis

Pengembangan Sistem Rekomendasi Rute Paling Optimum Dengan Algoritme Voronoi Continuous K Nearest Neighbor (VCKNN), Progressive Incremental Network Expansion (PINE), Voronoi-Based Network Nearest Neighbor (VN3), Berbasis Webgis

Proses pengolahan data jaringan jalan menggunakan sofware QGIS yaitu membuat titik generator point, membuat voronoi poligon dari generator poin, memotong jalan berdasarkan poligon voronoi, export data jaringan jalan menjadi WebGIS. Sedangkan untuk proses pengolahan data jaringan jalan menggunakan program dengan bahasa pemrograman PHP yaitu import data geojson kedalam database, mencari tetangga voronoi dan menyimpannya ke database, mencari move interval dan menyimpannya ke database.

8 Baca lebih lajut

Daftar Jaringan Jalan

Daftar Jaringan Jalan

Jalan Pulau Nias Jalan Kesehatan Utara Jalan Kesehatan Selatan Jalan Pulau Aru Jalan Pulau Kawe Jalan Pulau Neptunus Jalan Pulau Karas Jalan Pulau Planet Jalan Pulau Satelit Jalan Pulau Sayang Jalan Pulau Rembulan Jalan Pulau Bawean Jalan Pulau Alor Jalan Pulau Alor I Jalan Pulau Morotai Jalan Pulau Morotai I Jalan Pulau Saturnus Jalan Pulau Bacan Jalan Pulau Sula Jalan Pulau Sula I Jalan Pulau Kae Jalan Pulau Kae I Jalan Pulau Menjangan Jalan Pulau Nusa Penida Jalan Pulau Serangan Jalan Pulau Serangan I Jalan Pulau Adi Jalan Pulau Ayu Jalan Pulau Panjang Jalan Pulau Batanta Jalan Dam Tukad Badung Jalan Pulau Supriori
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

KIB D   Jalan, Irigasi, dan Bangunan

KIB D Jalan, Irigasi, dan Bangunan

Apabila nilai jalan, irigasi dan jaringan tersebut tidak dapat diketahui berdasarkan dokumen yang ada, maka perkirakanlah nilai jalan, irigasi dan jaringan berdasarkan harga yang berlaku dilingkungan tersebut pada waktu pencatatan.

3 Baca lebih lajut

Perubahan Kecembungan Jaringan Lunak Wajah pada Maloklusi Skeletal Klas II dan Klas III Sebelum dan Sesudah Perawatan pada Pasien di Klinik PPDGS Ortodonti RSGMP FKG USU

Perubahan Kecembungan Jaringan Lunak Wajah pada Maloklusi Skeletal Klas II dan Klas III Sebelum dan Sesudah Perawatan pada Pasien di Klinik PPDGS Ortodonti RSGMP FKG USU

Pola pertumbuhan jaringan lunak kraniofasial serta kaitannya dengan pola pertumbuhan jaringan keras kraniofasial dan pertumbuhan umum; Kajian sefalometri-rontgenografik lateral dan fot[r]

3 Baca lebih lajut

Pola Komunikasi Organisasi President Director Dengan Karyawan Di PT. International Bunsiness Futures Bandung

Pola Komunikasi Organisasi President Director Dengan Karyawan Di PT. International Bunsiness Futures Bandung

Orang biasanya turut serta membuat jaringan informal melalui tegur sapa yang orang lakukan terhadap rekan atau sejawat di kantor, menjawab telefon yang berdering atau menulis pesan melalui memo kantor, dan sebagainya. Dewasa ini, kemampuan untuk membangun hubungan atau link semakin meningkat dengan kehadiran teknologi pesan singkat (SMS) melalui telepon genggam atau e-mail melalui internet. Dengan kata lain, hubungan tidak terbentuk hanya melalui tatap muka secara fisik, tetapi juga melalui sarana nonfisik. Dengan demikian, Hubungan atau relationship terbentuk melalui komunikasi antar-anggota organisasi secara terus menerus, dan tentu saja tidaklah mudah untuk mencatat setiap hubungan yang terjadi. (Morissan, 2009:50)
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

POLA DAN JARINGAN KOMUNIKASI TENTANG PEN

POLA DAN JARINGAN KOMUNIKASI TENTANG PEN

Pada proses difusi, yaitu proses masuknya inovasi dalam suatu kelompok sehingga terjadi perubahan perilaku, hampir semua pemuka-pemuka opini menyokong perubahan. Akan tetapi, pada beberapa kasus tertentu pemuka pemuka opini menentang pengadopsian suatu inovasi. Jaringan atau network merupakan susunan sosial yang diciptakan oleh komunikasi antar individu dan kelompok. Saat manusia saling berkomunikasi tercipta mata rantai. Mata rantai tersebut merupakan jalur komunikasi dalam sebuah organisasi. Beberapa diantaranya ditentukan oleh aturan-aturan organisasi (seperti susunan birokrasi yang dinyatakan Max Weber bahwa birokrasi adalah sistem administrasi rutin yang dilakukan dengan keseragaman, diselenggarakan dengan cara-cara tertentu, didasarkan aturan tertulis, oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya) dan mendasari jaringan formal ( formal network ), tapi saluran-saluran ini hanya mengungkapkan bagian susunan organisasi. Sebaliknya, jaringan yang berkembang ( emergent network ) adalah saluran informal yang dibangun, bukan oleh regulasi formal organisasi tetapi oleh kontak reguler sehari-hari antar anggotanya.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

PERENCANAAN JEMBATAN TEMBELANG WONOSOBO (Design of Tembelang Bridge At Wonosobo ) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PERENCANAAN JEMBATAN TEMBELANG WONOSOBO (Design of Tembelang Bridge At Wonosobo ) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan Bab III pasal 6 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang jalan Bab II pasal 5, sesuai dengan peruntukannya jalan terdiri dari Jalan Umum dan Jalan Khusus. Untuk jalan umum dikelompokkan menurut sistem, fungsi, status dan kelas, sedangkan jalan khusus bukan diperuntukkan bagi lalu lintas umum dalam rangka distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan, dan ketentuan-ketentuan tentang jalan khusus diatur dalam peraturan pemerintah.

73 Baca lebih lajut

UDG. KUALIFIKASI JALAN DAN JARINGAN

UDG. KUALIFIKASI JALAN DAN JARINGAN

Bersama ini diharapkan kehadiran saudara pada acara pembuktian kualifikasi pada tanggal 25 s.d 26 Juli 2013 pukul : Jam Kerja Kantor (Sesuai dengan jadwal yang ada dalam aplikasi SPSE pada LPSE Kab. Aceh Selatan dengan membawa dokumen asli perusahaan beserta copyannya sesuai dengan data yang telah diinput pada sistem aplikasi spse, bertempat di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Aceh Selatan Jalan Syeh Abdurra’uf No. 02 Tapaktuan.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...