uji pelepasan in vitro

Top PDF uji pelepasan in vitro:

Pengaruh Campuran Metilselulosa Khitosan Udang Swallo Metapenaeus monoceros terhadap Pelepasan Teofilin secara In Vitro

Pengaruh Campuran Metilselulosa Khitosan Udang Swallo Metapenaeus monoceros terhadap Pelepasan Teofilin secara In Vitro

Berat maksimum kitosan dan metilselulosa dalam satu kapsul teofilin, yaitu 850 mg adalah 609,24 mg dan 20,00 mg. Pelepasan teofilin dari formula yang menggunakan pengikat campuran maksimum kitosan dengan metilselulosa ini sekitar 4,5 jam dengan persen kumulatif teofilin terlarut (97,9637 ± 1,0551)% pada medium II (pH = 6,8). Uji t tehadap pelepasan teofilin saat t = 180 menit antara penelitian dengan yang diharapkan, basil prediksi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk uji dua pihak dengan a = 0,05; dk = 5 (t tabel = ± 2,57 dan t hitung = -
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Pelepasan Ibuprofen dari Mikrokapsul Tersalut Paduan Lilin Lebah dan Poli(asam laktat) Secara In Vitro

Pelepasan Ibuprofen dari Mikrokapsul Tersalut Paduan Lilin Lebah dan Poli(asam laktat) Secara In Vitro

Ibuprofen sebagai obat antiradang memiliki laju eliminasi singkat sehingga dapat menyebabkan iritasi lambung. Teknik mikroenkapsulasi dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut serta memberikan khasiat terapi yang lebih baik melalui mekanisme pelepasan obat terkendali. Dalam penelitian ini, mikroenkapsulasi ibuprofen dilakukan melalui proses pencampuran dan metode emulsi-penguapan pelarut. Senyawa ibuprofen disalut menggunakan paduan lilin lebah dan poli(asam laktat) (PLA) berdasarkan ragam komposisi paduan lilin lebah:PLA (9:1, 8:2, 7:3 dan 6:4) dan konsentrasi gelatin (1%, 1.5%, dan 2%) sebagai pengemulsi. Efisiensi enkapsulasi dilakukan pada media simulasi usus pH 7.2. Efisiensi enkapsulasi tertinggi dihasilkan oleh paduan lilin lebah:PLA 6:4 dengan konsentrasi gelatin 2% yaitu sebesar 84.21%. Uji pelepasan ibuprofen menggunakan nisbah paduan lilin lebah:PLA 8:2 dan 6:4 menghasilkan rerata persentase pelepasan tertinggi pada menit ke-225 yaitu sebesar 15.31% dan 19.25%. Pola pelepasan ibuprofen mengikuti model kinetika orde ke-0 yang menjelaskan bahwa konsentrasi ibuprofen yang dilepaskan relatif konstan pada setiap waktu pelepasan. Pengamatan morfologi permukaan mikrokapsul menggunakan mikroskop elektron payaran (SEM) memperlihatkan tonjolan halus berbentuk tidak beraturan yang tersebar pada permukaannya.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Pengaruh matriks kombinasi carrageenan dan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam bentuk tablet lepas lambat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pengaruh matriks kombinasi carrageenan dan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam bentuk tablet lepas lambat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang “Pengaruh matriks kombinasi carrageenan dan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam bentuk tablet lepas lambat”. Dalam penelitian ini, matriks yang digunakan adalah carrageenan dan kalsium sulfat, dimana jika dikombinasikan dapat membentuk crosslinking yang menghasilkan struktur yang rigid sehingga menghambat pelepasan obat dari tablet lepas lambat ketoprofen. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelepasan in vitro tablet lepas lambat ketoprofen yang menggunakan matriks kombinasi carrageenan dan kalsium sulfat dalam berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini, dibuat empat formula. Konsentrasi carrageenan yang digunakan pada semua formula adalah 2,75% dari bobot tablet. Formula A mengandung carrageenan saja, formula B mengandung carrageenan:kalsium sulfat 1:0,5 (b/b), formula C mengandung carrageenan:kalsium sulfat 1:1 (b/b), dan formula D mengandung carrageenan:kalsium sulfat 1:1,5 (b/b). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro. Parameter pelepasan yang digunakan adalah persyaratan pelepasan menurut Banakar, nilai %ED 360 , K disolusi , mekanisme pelepasan menurut Lapidus & Lordi, serta
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh matriks low methoxyl pectin dengan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan In Vitro tablet lepas lambat ketoprofen - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pengaruh matriks low methoxyl pectin dengan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan In Vitro tablet lepas lambat ketoprofen - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang “Pengaruh matriks kombinasi low methoxyl pectin dan kalsium sulfat terhadap profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam bentuk tablet lepas lambat”. Dalam penelitian ini, matriks yang digunakan adalah low methoxyl pectin dan kalsium sulfat, dimana jika dikombinasikan dapat membentuk crosslinking yang menghasilkan struktur yang rigid sehingga menghambat pelepasan obat dari tablet lepas lambat ketoprofen. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelepasan in vitro tablet lepas lambat ketoprofen yang menggunakan matriks kombinasi low methoxyl pectin dan kalsium sulfat dalam berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini, dibuat empat formula. Konsentrasi low methoxyl pectin yang digunakan pada semua formula adalah 2,5% dari bobot tablet. Formula A mengandung low methoxyl pectin saja, formula B mengandung low methoxyl pectin: kalsium sulfat 1:0,5 (b/b), formula C mengandung low methoxyl pectin:kalsium sulfat 1:1 (b/b), dan formula D mengandung low methoxyl pectin: kalsium sulfat 1:1,5 (b/b). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro. Parameter pelepasan yang digunakan adalah persyaratan pelepasan menurut Banakar, nilai %ED 360 , K disolusi , mekanisme pelepasan
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengaruh pH saliva terhadap pelepasan ion nikel pada beberapa jenis braket stainless steel dalam saliva buatan (In Vitro)

Pengaruh pH saliva terhadap pelepasan ion nikel pada beberapa jenis braket stainless steel dalam saliva buatan (In Vitro)

2.1.3 Sifat mekanis stainless steel...................................... 2.2 Saliva dan Saliva Buatan............................................................ 2.3 Braket dalam Saliva................................................................... 2.4 Efek Biologis dari Nikel............................................................. 2.5 Korosi dan Pelepasan Ion Logam............................................. 2.6 Alat Uji..................................................................................... 2.6.1 Uji XRF....………………………...................... ........... 2.6.2 Uji ICP......……………………………………. ........... 2.7 Landasan Teori…...................................................................... 2.8 Kerangka Konsep Penelitian..................................................... 2. 9 Hipotesis Penelitian… ..............................................................
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Profil pelepasan in vitro teofilin dalam tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks natrium alginat pada berbagai konsentrasi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Profil pelepasan in vitro teofilin dalam tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks natrium alginat pada berbagai konsentrasi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang “Profil Pelepasan In Vitro Teofilin Dalam Tablet Lepas Lambat dengan Menggunakan Matriks Natrium Alginat pada Berbagai Konsentrasi”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui profil pelepasan secara in vitro teofilin dari tablet lepas lambat yang menggunakan matriks natrium alginat pada berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini, dibuat empat formula. Formula A tidak mengandung matriks natrium alginat, formula B mengandung natrium alginat 10% (b/b) formula C mengandung natrium alginat 20% (b/b), dan formula D mengandung natrium alginat 30% (b/b). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PROFIL PELEPASAN IN VITRO PROPANOLOL HCl DALAM TABLET LEPAS LAMBAT DENGAN MATRIKS ETIL SELULOSA PADA BERBAGAI KONSENTRASI

PROFIL PELEPASAN IN VITRO PROPANOLOL HCl DALAM TABLET LEPAS LAMBAT DENGAN MATRIKS ETIL SELULOSA PADA BERBAGAI KONSENTRASI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelepasan in vitro propanolol HCl dengan menggunakan matriks etil selulosa pada berbagai konsentrasi. Propanolol HCl merupakan obat yang mudah larut air, mempunyai waktu eliminasi yang pendek sehingga cocok dibuat sebagai sediaan lepas lambat. Etil selulosa merupakan matriks hidrofobik, dalam medium cair akan membentuk channel pada stuktur tablet. Pelepasan pada penelitian ini, dibuat empat formula dengan konsentrasi etil selulosa berbeda-beda. Formula A tidak mengandung etil selulosa, formula B mengandung 15% (b/b), formula C mengandung 30% (b/b), dan formula D mengandung 45% ( b b ). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro. Parameter pelepasan yang digunakan adalah persyaratan pelepasan menurut Banakar, nilai %ED 360 ,
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PROFIL PELEPASAN IN VITRO IBUPROFEN DALAM BENTUK TABLET LEPAS LAMBAT DENGAN MENGGUNAKAN MATRIKS GUAR GUM PADA BERBAGAI KONSENTRASI

PROFIL PELEPASAN IN VITRO IBUPROFEN DALAM BENTUK TABLET LEPAS LAMBAT DENGAN MENGGUNAKAN MATRIKS GUAR GUM PADA BERBAGAI KONSENTRASI

Ibuprofen merupakan salah satu obat yang sering digunakan dalam pengobatan reumatik dengan frekuensi penggunaan berulang kali dalam sehari. Karena itu ibuprofen perlu diformulasikan dalam bentuk lepas lambat dan dicari formula yang sesuai dengan menggunakan matriks guar gum pada konsentrasi masing-masing 10%, 20%, dan 30%. Respon yang dipilih mengikuti kriteria Banakar yaitu persen obat larut dalam 3 jam sebesar 25 – 50% dan persen obat larut 6 jam sebesar 45 – 75%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi matriks guar gum yang mempengaruhi profil pelepasan tablet lepas lambat ibuprofen dengan kinetika pelepasan orde nol dimana mekanisme pelepasannya difusi dan erosi, dan memperoleh formula yang pelepasannya mengikuti kriteria Banakar. Metode uji yang dilakukan meliputi uji mutu fisik granul, uji mutu tablet dan uji disolusi seperti % obat terlepas dan k disolusi . Jumlah
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks guar gum pada berbagai konsentrasi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Profil pelepasan in vitro ketoprofen dalam tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks guar gum pada berbagai konsentrasi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang “ Profil pelepasan in Vitro ketoprofen dalam bentuk tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks guar gum pada berbagai konsentrasi”. Dalam penelitian ini, matriks yang digunakan adalah guar gum, dimana guar gum dapat membentuk viscous gel yang dapat menghambat pelepasan obat dari tablet lepas lambat ketoprofen. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelepasan in vitro tablet lepas lambat ketoprofen yang menggunakan matriks guar gum pada berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini, dibuat tiga formula. Formula A menggunakan matriks guar gum 20% (b/b), formula B dengan konsentrasi guar gum 30% (b/b) dan formula C dengan konsentrasi guar gum 40% (b/b). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro. Parameter pelepasan yang digunakan adalah persyaratan pelepasan menurut Banakar, nilai %ED 720 ,
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengaruh Campuran Metilselulosa dengan Khitosan Udang Swallo (Metapenaeus monoceros) terhadap Pelepasan Teofilin secara In Vitro

Pengaruh Campuran Metilselulosa dengan Khitosan Udang Swallo (Metapenaeus monoceros) terhadap Pelepasan Teofilin secara In Vitro

Berat maksimum khitosan dan metilselulosa dalam satu kapsul teofilin, yaitu 850 mg adalah 609,24 mg dan 20,00 mg. Pelepasan teofilin dari formula yang menggunakan pengikat campuran maksimum khitosan dengan metilselulosa ini sekitar 4,5 jam dengan persen kumulatif teofilin terlarut (97,9637 ± 1,0551)% pada medium II (pH = 6,8). Uji t tehadap pelepasan teofilin saat t = 180 menit antara penelitian dengan yang diharapkan, basil prediksi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk uji dua pihak dengan a = 0,05; dk = 5 (t tabel = ± 2,57 dan t hitung = -0,30).
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Pengujian Terhadap Pengikatan Dan Pelepasan Sefaleksin Pada Eritrosit Secara In Vitro

Pengujian Terhadap Pengikatan Dan Pelepasan Sefaleksin Pada Eritrosit Secara In Vitro

2 ml darah yang telah dicuci dicampur dengan 8 ml larutan natrium klorida fisiologis didalam membran selulosa dengan panjang 12 cm, ikat ke 2 ujung membran dengan benang bedah dan dilakukan uji kebocoran, kemudian masukkan ke dalam beaker glass 250 ml yang berisi medium 50 ml larutan sefaleksin dalam larutan natrium klorida fisiologis dengan konsentrasi 0,02 mM. Setiap 15 menit aduk perlahan-lahan, dan lakukan percobaan selama 1 jam. Ukur absorbansi dari larutan medium pada λ = 263 nm. Lakukan percobaan sama seperti prosedur di atas dengan variasi konsentrassi 0,02 mM – 1,5 mM.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Matriks Hidroksi Propil Metil Selulosa Terhadap Profil Pelepasan In Vitro Salbutamol Dalam Bentuk Tablet Lepas Lambat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pengaruh Matriks Hidroksi Propil Metil Selulosa Terhadap Profil Pelepasan In Vitro Salbutamol Dalam Bentuk Tablet Lepas Lambat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Hasil Uji Mutu Fisik Granul................................... Hasil Uji Kekerasan Tablet Salbutamol.................. Hasil Uji Kerapuhan Tablet Salbutamol................. Hasil Penetapan Kadar Tablet Lepas Lambat Salbutamol............................................................... Contoh Perhitungan................................................. Persamaan Formula A............................................. Persamaan Formula B............................................. Persamaan Formula C............................................. Persamaan Formula D............................................. Sertifikat Analisis Hidroksi Propil Metil Selulosa.. Sertifikat Analisis Polivinil Pirolidon K-30............ Sertifikat Analisis Talkum...................................... Sertifikat Analisis Magnesium Stearat.................... Sertifikat Analisis Laktosa...................................... Sertifikat Analisis Natrium Hidroksida................... Sertifikat Analisis Kalium Dihidrogen Fosfat......... Tabel Uji r............................................................... Tabel Uji HSD (0,05).............................................. Hasil Uji Statistik Kadar Air Antar Formula.......... Hasil Uji Statistik Waktu Alir Antar Formula........ Hasil Uji Indeks Kompresibilitas Antar Formula... Hasil Uji Statistik Sudut Diam Antar Formula....... Hasil Uji Statistik Kekerasan Tablet Formula A Antar Batch.............................................................
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB 5 KESIMPULAN SARAN 5.1 - Formula ODT metoklopramid HCl menggunakan bahan ko-proses amilum kulit pisang agung semeru, crosspovidone, dan avicel PH 101 - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

BAB 5 KESIMPULAN SARAN 5.1 - Formula ODT metoklopramid HCl menggunakan bahan ko-proses amilum kulit pisang agung semeru, crosspovidone, dan avicel PH 101 - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Berdasarkan hasil uji pelepasan obat secara in vitro diperoleh nilai konstanta laju disolusi untuk ODT metoklopramid HCl dengan menggunakan bahan ko-proses (0,833 menit -1 ) lebih cepat dibandingkan dengan ODT metoklopramid HCl yang dibuat tanpa menggunakan bahan ko-proses (0,747 menit -1 ) maupun tablet generik (0,483 menit -1 ) dan efisiensi disolusi selama 60 menit untuk ODT metoklopramid HCl dengan menggunakan bahan ko-proses (65,012%) lebih besar dibandingkan dengan ODT metoklopramid HCl yang dibuat tanpa menggunakan bahan ko-proses (54,309%) maupun tablet generik (31,826%), hal ini menunjukkan bahwa bahan ko-proses dapat mempengaruhi pelepasan obat.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMBINASI HIDROKSIPROPIL METILSELULOSA- XANTHAN GUM SEBAGAI MATRIKS PADA PROFIL PELEPASAN TABLET TEOFILIN LEPAS TERKENDALI

PENGARUH KOMBINASI HIDROKSIPROPIL METILSELULOSA- XANTHAN GUM SEBAGAI MATRIKS PADA PROFIL PELEPASAN TABLET TEOFILIN LEPAS TERKENDALI

Berdasarkan evaluasi sifat fisik yang dilakukan terhadap sediaan tablet, diketahui bahwa ketiga formula memenuhi persyaratan sifat fisik tablet yang ideal. Peningkatan konsentrasi xanthan gum dalam komposisi formula berbanding lurus dengan peningkatan sifat alir massa dan kekerasan tablet teofilin. Evaluasi profil pelepasan obat dari sistem matriks dilakukan secara in vitro melalui uji disolusi. Berdasarkan hasil uji disolusi diketahui bahwa seluruh kombinasi memiliki profil pelepasan obat yang berbeda-beda. Peningkatan konsentrasi HPMC memperpanjang waktu pelepasan teofilin. Perbedaan jumlah pelepasan obat pada sediaan Retaphyl SR ® dengan tablet
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Profil pelepasan in vitro ibuprofen dalam bentuk tablet lepas lambat menggunakan matriks tara gum dan kalsium sulfat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Profil pelepasan in vitro ibuprofen dalam bentuk tablet lepas lambat menggunakan matriks tara gum dan kalsium sulfat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang “Profil pelepasan in vitro ibuprofen dalam bentuk tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks kombinasi tara gum dan kalsium sulfat”. Dalam penelitian ini, matriks yang digunakan adalah tara gum dan kalsium sulfat, dimana jika dikombinasikan dapat membentuk crosslinking yang menghasilkan struktur yang rigid sehingga menghambat pelepasan obat dari tablet lepas lambat ibuprofen. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pelepasan in vitro tablet lepas lambat ibuprofen yang menggunakan matriks kombinasi tara gum dan kalsium sulfat dalam berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini, dibuat empat formula. Konsentrasi tara gum yang digunakan pada semua formula adalah 2,5% dari bobot tablet. Formula A mengandung tara gum saja, formula B mengandung tara gum : kalsium sulfat 1:0,5 (b/b), formula C mengandung tara gum : kalsium sulfat 1:1 (b/b), dan formula D mengandung tara gum : kalsium sulfat 1:1,5 (b/b). Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dan dilakukan uji pelepasan secara in vitro. Parameter pelepasan yang digunakan adalah persyaratan pelepasan menurut Banakar, nilai %ED 360 , K disolusi , mekanisme pelepasan menurut nilai
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Optimasi formula tablet lepas lambat ibuprofen menggunakan kombinasi matriks guar gum – carrageenan dan PVP K-30 sebagai pengikat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Optimasi formula tablet lepas lambat ibuprofen menggunakan kombinasi matriks guar gum – carrageenan dan PVP K-30 sebagai pengikat - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Al-Saidan et al. (2005) melakukan penelitian tentang guar gum yang digunakan sebagai matriks untuk tablet lepas lambat diltiazem hydrochloride dengan konsentrasi 30%, 40%, dan 50% (b/b), pada ketiga konsentrasi tersebut menunjukkan suatu pelepasan yang diperlambat. Uji disolusi dengan konsentrasi 30% (b/b) menunjukkan tablet mengembang sempurna dalam waktu 8 jam dan terdisintegrasi sempurna 12 jam. Pada konsentrasi 40% dan 50% (b/b) tablet mengembang sempurna dalam waktu 12 jam, dengan jumlah obat yang terdisolusi berturut-turut 81,2% ± 1,4% dan 79,6% ± 1,4%, sedangkan dalam waktu 24 jam jumlah obat yang terdisolusi berturut-turut mencapai 88,0% ± 1,2% dan 88,8% ± 1,9%.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Optimasi formula tablet likuisolid klorfeniramin maleat menggunakan HPMC K100M dan TWEEN 80. [CD-ROM] - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Optimasi formula tablet likuisolid klorfeniramin maleat menggunakan HPMC K100M dan TWEEN 80. [CD-ROM] - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Likuisolid technique was the technique which a drug formulation did not dissolve in water but dissolved in a non-volatile solvent to be converted into a form that easier flowing powder, dry looking, and ready to be compressed by direct compress methods. Excess likuisolid techniques for water-soluble drug was able to inhibit the solubility and dissolution rate of the drug lowered. Chlorpheniramine maleate (12 mg) was an antihistamine agent with high solubility in water and has good permeability. The purpose of this study was to determine the optimum amount of formula HPMC K4M and tween 80 were used for the in vitro release tablet dosage sustained release chlorpheniramine maleate likuisolid and get the optimum combination of design composition formula polymer HPMC K4M and tween 80 which theoretically has the physical properties of mass tablet that meets the requirements and produce a pattern of drug release tablets by zero-order kinetics. In this study, a set of four formulas using the factorial design 2 factors and 2 levels. Based on the Design Expert, the concentration of tween 80 and HPMC K4M resulted in significant differences in tablet hardness because HPMC K4M tablets due to elastic deformation by providing pressure and fines resulted granules were more likely to be lower compactibility tablet mass. Optimum formula can be obtained by using tween 80 63.5% in liquid medication and HPMC K4M 17.5% which will provide theoretical response is tablet hardness 10.66 Kp, tablet friability 0.27%, Hausner Ratio 1.24, Carr's Index 20,43, and k dissolution of 0.011 mg / min.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

UJI POTENSI BAKTERI TOLERAN PLASTIK POLYVINYL CHLORIDE (PVC) SEBAGAI PUPUK HAYATI (BIOFERTILIZER)

UJI POTENSI BAKTERI TOLERAN PLASTIK POLYVINYL CHLORIDE (PVC) SEBAGAI PUPUK HAYATI (BIOFERTILIZER)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan dari tiga isolat bakteri (IPD 1, IPD 2, IPD 8) yang toleran plastik polyvinyl chloride (PVC) sebagai pupuk hayati secara in vitro dan in vivo. Pengujian secara in vitro meliputi tiga macam, yaitu uji fiksasi N, uji produksi indoleacetic acid (IAA), dan uji perombakan bahan organik (selulosa dan lignin) sedangkan pengujian secara in vivo, bakteri ini digunakan sebagai inokulum pada tanaman selada yang dikombinasikan dengan pupuk kandang sapi dan kambing menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah kombinasi bakteri inokulum (IPD 1-2, IPD 1-8, IPD 2-8, IPD 1-2- 8) dan faktor kedua adalah pupuk kandang (tanah steril tanpa pupuk, pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing) dilanjutkan dengan Uji Berjarak Ganda Duncan taraf 5%. Hasilnya menunjukkan bahwa secara in vitro ketiga isolat dan kombinasinya mampu tumbuh pada media bebas N, memproduksi IAA dengan kisaran 7.5-8.9 ppm, mampu tumbuh pada media yang mengandung selulosa dan lignin sebagai pengganti glukosa. Pengujian secara in vivo menunjukkan bahwa kombinasi ketiga isolat bakteri yang dikombinasikan dengan pupuk
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Inhibisi Ekstrak Air Kumis kucing dan Tempuyung terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) secara In Vitro

Inhibisi Ekstrak Air Kumis kucing dan Tempuyung terhadap Aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) secara In Vitro

dan sebaliknya pelarut kurang polar akan melarutkan senyawa yang kurang polar. Selain itu, maserasi cocok digunakan untuk senyawa yang belum diketahui sifat- sifatnya, karena dapat menjaga kandungan senyawa dalam sampel yang tidak tahan panas agar tidak rusak, sehingga ekstrak diperoleh dalam jumlah yang besar. Tanaman kumis kucing dan tempuyung yang telah menjadi ekstrak ini selanjutnya diuji toksisitasnya terhadap larva udang, penentuan kadar flavonoid total dan daya inhibisinya terhadap aktivitas ACE secara in vitro. Penentuan kadar flavonoid total bertujuan mengetahui kandungan flavonoid di dalam ekstrak khususnya kuersetin yang diduga berkorelasi positif dengan daya inhibisi terhadap ACE.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS PESTISIDA NABATI SECARA IN VITRO

UJI AKTIVITAS PESTISIDA NABATI SECARA IN VITRO

Pengujian Secara In Vitro dari Penyediaan Bahan Baku yang Difermentasi Selama 24 jam Proses penyediaan pestisida nabati dengan cara fermentasi mampu meningkatkan keaktifan kandungan bahan antibakterinya. Hal ini terlihat adanya Daerah penghambatan antibakteri yang ditunjukkan oleh batang serai terhadap bakteri gram positif berbentuk basil (8,6 mm 2 ) dan bakteri gram negatif berbentuk kokus (30,6 mm 2 ). Adapun daun sirih menunjukkan

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...