Urgensi Terhadap Perlindungan Saksi Dan Korban Dan Uu Yang Mengatur

Top PDF Urgensi Terhadap Perlindungan Saksi Dan Korban Dan Uu Yang Mengatur:

TINJAUAN TENTANG PROBLEMATIK NORMATIF UNDANG   UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN SERTA URGENSI KEBERADAAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK ) DI DAERAH

TINJAUAN TENTANG PROBLEMATIK NORMATIF UNDANG UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN SERTA URGENSI KEBERADAAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK ) DI DAERAH

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan, Pertama, ada beberapa problematik normatif yang penulis cermati pada Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Kelemahan – kelemahan tersebut terdapat pada pasal demi pasal dalam undang – undang perlindungan saksi dan korban tersebut. Salah satu contoh kelemahan tersebut adalah definisi “saksi” pada Pasal 1 ayat (1) kurang memadai dan masih dibebani oleh konsep KUHAP sehingga menutup kemungkinan perlindungan terhadap whistleblower, selain itu adanya ketidakjelasan pemberian perlindungan kepada saksi, terkait dengan bentuk perlindungan yang diberikan oleh undang – undang perlindungan saksi tersebut. Kedua, Mengenai urgensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban ( LPSK ) di daerah dapat lihat dari politik hukum Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 maupun dari dokumentasi fakta empiris persebaran tindak pidana di seluruh wilayah NKRI. Tidak sedikitnya kasus yang kandas di tengah jalan oleh karena ketiadaan saksi, merupakan suatu realita kelemahan dari undang – undang perlindungan saksi dan korban yang hanya memprioritaskan kedudukan LPSK di daerah ibukota negara saja. Ketiadaan saksi tersebut disebabkan karena keengganan orang yang mengalami tindak pidana untuk menjadi saksi. Tidak adanya jaminan perlindungan hukum yang memadai, ditambah dengan munculnya intimidasi, kriminalitas atau tuntutan hukum atas kesaksian atau laporan yang diberikan merupakan alasan enggannya seseorang untuk menjadi saksi. Bertolak dari realita yang demikian, maka kehadiran LPSK di daerah sangat dibutuhkan.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI  URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum atau Skripsi dengan judul “URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA” sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Penulis menyadari dengan kemampuan yang sangat terbatas, penulisan hukum ini dapat terselesaikan karena banyaknya dorongan, semangat, serta bantuan dari semua pihak yang telah membantu penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

PENDAHULUAN URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

Jaminan akan perlindungan ini penting karena dalam praktek tidak jarang terjadi seseorang yang mengetahui, mendengar, melihat, atau mengalami sendiri terjadinya suatu tindak pidana, tidak bersedia atau takut untuk memberikan keterangan sebagai saksi. Selain itu, tidak jarang pula terjadi alat bukti berupa keterangan saksi yang telah diperoleh pada tahap penyidikan dan penuntutan ditarik kembali atau dicabut oleh para saksi ketika memberikan keterangan di bawah sumpah di depan sidang pengadilan. Selain itu, dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2006 tentang perlindungan Saksi dan Korban Pelapor tidak memperoleh perlindungan sebagaimana saksi. Pelapor hanya dijamin tidak akan dituntut secara Hukum, ancaman terhadap keselamatan pelapor sebenarnya sama seperti saksi, selama ini banyak kasus korupsi, tetapi hanya sedikit saksi yang berani melapor 1 .
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENUTUP  URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

PENUTUP URGENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN(LPSK) DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

Adanya Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban(LPSK) mempunyai arti yang sangat penting khususnya dalam penyelenggaraan proses peradilan pidana. Keberadaan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban(LPSK) adalah merupakan suatu usaha untuk melindungi Saksi dan Korban agar berani membantu untuk mengungkap dan memberikan keterangan sesuai dengan sebenarnya sehingga usaha mencari kebenaran Materiil lebih terbuka.

6 Baca lebih lajut

LPSK dan Urgensi Perlindungan Saksi

LPSK dan Urgensi Perlindungan Saksi

Undang-Undang No.13 Tahun 2006 telah mengamanatkan pembentukan LPSK yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada saksi dan/atau korban. Ruang lingkup perlindungan ini adalah pada semua tahap proses peradilan pidana untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban ketika memberikan keterangan dalam proses peradilan pidana. Hadirnya LPSK dengan segala mandat dan peran yang diembannya tentu merupakan sebuah capaian penting dalam konteks pemenuhan hak saksi dan korban. Peran strategis ini pada gilirannya diharapkan dapat mendorong pengungkapan kebenaran dan terciptanya keadilan sebagai cita-cita hakiki negara hukum.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Peraturan tentang perlindungan saksi, pelapor dan korban tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan. Di bidang tindak pidana korupsi perlindungan terhadap saksi dan pelapor diatur pada Pasal 41 ayat (2) e UU PTPK 1999 dan Pasal 15 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 tentang Tata Cara Perlindungan Khusus Terhadap Pelapor dan Saksi. Peraturan ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 17 Tahun 2005 yang berlaku sejak 30 Desember 2005. Saksi, pelapor dan korban memerlukan perlindungan hukum ini, dimana diberikan oleh negara untuk mengatasi kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa dan harta bendanya termasuk keluarganya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Buku Perlindungan Saksi dan Korban

Buku Perlindungan Saksi dan Korban

Karena kesejarahannya yang didirikan sebagai penyikapan terhadap kasus perkosaan dan kekerasan seksual pada peristiwa Tragedi Mei 1998, Komnas Perempuan sangat peka terhadap persoalan perlindungan bagi saksi dan korban dalam penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM. Sebagaimana kita semua ingat, tidak ada satu pun perempuan korban perkosaan Mei 1998 yang bersedia mengajukan diri untuk bersaksi kepada para penegak hukum maupun kepada para penyelidik Tim Pencari Fakta yang digagas oleh Presiden Habibie. Menanggapi kenyataan ini, Pelapor Khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan, Radhika Coomaraswamy, menegaskan urgensi dikembangkannya sebuah mekanisme perlindungan saksi dan korban untuk Indonesia dalam laporannya yang diserahkan pada Komisi Tinggi HAM PBB pada tahun 1999. Dalam konteks inilah maka, pada tahun 2001, Komnas Perempuan pertama kali menggagas sebuah proses pengembangan konsep perlindungan saksi dan korban bersama lembaga-lembaga HAM dan anti korupsi yang sama-sama berkepentingan dengan masalah perlindungan bagi saksi dan korban. Lima tahun kemudian, DPR RI mengesahkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang merupakan hasil kerjasama kekuatan- kekuatan masyarakat sipil—di bawah koordinasi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Saksi dan Korban dimana Komnas Perempuan ikut bergabung— dengan lembaga pemerintahan dan legislatif. Kini, Indonesia mempunyai sebuah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang menyandang mandat pelaksanaan undang-undang bersejarah ini.
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

Aspek Perlindungan Saksi dalam R KUHAP

Aspek Perlindungan Saksi dalam R KUHAP

Masalahnya banyak Kelemahan dalam RUU KUHAP, versi RUU KUHAP perlindungan pelapor yang diatur melulu diberikan bagi seseorang yang secara teknis melaporkan perbuatan pidana kepada aparat penegak hukum yang potensi akan dijadikan sebagai saksi dalam proses peradilan. Ini mengakibatkan seorang pelapor yang akan masuk dalam perlindungan hukum harus serta merta melakukan pelaporan yang menurut RUU KUHAP dilakukan secara terbuka. Kecuali pelapor pengadu yang dapat melakukan secara tertulis (Pasal 12 ayat 1 RUU KUHAP). Pelaporan yang secara terbuka ini pastinya akan berpotensi menimbulkan resiko. RUU KUHAP harus mengatur tentang model pelaporan yang bersifat tertutup untuk melindungi kerahasian pelaporan. Disamping itu menyamakan status pelapor dengan status saksi juga menurunkan perlindungan bagi pelapor secara murni , karena sebetulanya tidak semua pelapor dapat dijadikan sebagai saksi dalam pengadilan. KUHAP juga tidak menyusun sebuah norma yang komprehensif terkait pelapor tindak pidana dengan meyatakan : memberikan Tata cara pemberian perlindungan hukum dilaksanakan berdasarkan ketentuan undang-undang. Jika rumusannya seperti itu maka RUU KUHAP mengembalikan prosedur perlindungan ke tiap UU yang mengatur tentang pelapor yang saat ini bervariasi tingkat perlindungannya mapun proseduralnya. Ini justru menambah keruwetan pengaturan perlindungan bagi pelapor. Undang-undang yang manakah menurut RUU KUHAP yang dapat dijadikan patokan tata cara perlindungan ? karena ada banyak UU mengatur tentang Pelapor Tindak pidana yang berbeda-beda termasuk pula ruang lingkup perlindungannya. 29 Dan semua peraturan tersebut masih eksis sampai saat ini.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

EKSISTENSI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

EKSISTENSI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Ranah fungsi LPSK berada dalam ranah kekuasaan executif. Hal ini sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2006 jo UU No. 31 Tahun 2014 yang menyebutkan LPSK sebagai lembaga mandiri yang bertanggung jawab kepada Presiden, dalam konteks lembaga negara, LPSK sebagai LNS yang berada pada ranah executif yaitu memberikan dukungan terhadap sistem peradilan pidana yang baik, seimbang dan adil, yakni berupa perlindungan dan bantuan rehabilitasi terhadap saksi dan/atau korban tindak pidana. Secara keseluruhan kekuasaan negara dalam lingkup sistem peradilan pidana terdiri dari lembaga executif yang dilaksanakan oleh Kepolisian, Kejaksaan, Lembaga Pemasyarakatan (ditjen pemasyarakatan) dan LPSK, serta lembaga yudikatif, yakni Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung. Dengan demikian, dalam konteks perlindungan sebagai fungsi yang dilaksanakan LPSK dimaksud, maka LPSK akan bersentuhan dengan fungsi-fungsi lainnya, baik fungsi dari lembaga executif maupun fungsi dari lembaga yudikatif.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Briefing Paper Koalisi PSK Final

Briefing Paper Koalisi PSK Final

Dalam berbagai Laporan Koalisi, perjalanan pelaksanaan perlindungan saksi dan korban terus mengalami kemajuan yang signifikan. Setidaknya setelah 5 tahun berjalan, UU No. 13/2006 telah terimplementasi dengan cukup baik ditengah berbagai tantangan yang ada. Kemajuan ini dapat dilihat sejumlah indikator: (i) perlindungan saksi dan korban telah mendorong pengungkapan kebenaran dalam berbagai kasus pidana, (ii) meningkatkan keberanian para saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan di pengadilan untuk adanya pengungkapan kebenaran, (iii) adanya dukungan untuk upaya pemulihan korban kejahatan, termasuk korban pelanggaran HAM yang berat, dan (iv) LPSK menjadi tempat pengaduan publik yang dipercaya terkait dengan masalah-masalah perlindungan saksi dan korban. Namun demikian, Koalisi juga mencatat bahwa masih banyak tantangan dalam pelaksanaan perlindungan saksi dan korban, yang disebabkan karena kelemahan pengaturan dalam UU No. 13/2006. Kelemahan tersebut setidaknya memerlukan perubahan yang mencakup: (i) proses sinkronisasi dan harmonisasi antara UU No. 13/2006 dengan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang masih perlu disempurnakan; (ii) masih banyak hak-hak saksi dan/atau korban yang perlu ditambahkan, khususnya terkait dengan hak-hak khusus dari saksi dan/atau korban; (iii) prosedur perlindungan saksi dan/atau korban yang perlu diperkuat; dan (iv) penguatan kelembagaan LPSK.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

PENDAHULUAN REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

Kewenangan yang besar perlu diimbangi dengan kinerja lembaga perlindungan saksi dan korban serta SDM .Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban merupakan satu langkah positif dalam upaya perlindungan saksi dan korban, yang selama ini pengaturannya masih bersifat sektoral. Adanya upaya untuk mengatur secara khusus dalam satu undang-undang boleh dikatakan sebagai langkah maju dalam rangka perlindungan terhadap korban, dan itu sesuai dengan amanat yang telah diletakkan dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pengatruan HAM dalam UUD 1945 tersebut sesuai pula dengan kesepakatan masyarakat internasional sebagaimana tercermin dalam The united Nation Declaration of Basic Principles of justice for Victims of Crime and abuse of Power 2
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

untuk menerima setiap permohonan tertulis yang diajukan oleh korban, baik itu permohonan atas inisiatif langsung dari korban maupun atas permintaan pejabat yang berwenang sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 29 UU Perlindungan Saksi dan Korban.Hal di atas menunjukkan bahwa LPSK tidak boleh hanya menerima permohonan perlindungan dari orang-orang tertentu saja, akan tetapi sebaliknya LPSK harus menerima setiap permohonan tertulis yang masuk/diajukan. Hal tersebut merupakan bentuk penerapan dari pada asas tidak diskriminatif, yaitu tidak adanya perbedaan perlakuan dalam hal setiap orang yang ingin mendapatkan pelayanan perlindungan kepada LPSK. Selain itu asas tidak diskriminatif ini merupakan tindak lanjut dari pada penegakan asas equality before the law ialah kesamaan kedudukan dimata hukum. Selain menerima permohonan tertulis dari korban, sebagai tindak lanjutnya LPSK bertugas untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap permohonan-permohanan yang telah diajukan sebagaimana yang diperintahkan dalam Pasal 29 huruf b UU Perlindungan Saksi dan Korban “LPSK segera melakukan pemeriksaan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Menuju Penguatan Hak Korban dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Menuju Penguatan Hak Korban dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Mengenai hak atas perahasiaan identitas nampaknya hal ini hanya merupakan ketentuan normatif yang tidak diimplementasikan secara serius, terbukti dengan penelitian singkat yang penulis lakukan, dengan mencari putusan tindak pidana perdangan orang dalam direktori mahkamah agung, tertanggal 19 April 2017 penulis menemukan tiga putusan TPPO dalam bentuk eksploitasi seksual, dua diantaranya dapat diuduh, yaitu putusan nomor 1447 K/PID.SUS/2016 dan nomor 2401 K /Pid.Sus/2014) kedua putusan tersebut memuat identitas nama lengkap korban tanpa disamarkan, padahal untuk putusan Nomor 2401 K /Pid.Sus/2014 korbannya adalah anak- anak dimana secara jelas UU SPPA Pasal 97 mengatur bahwa setiap orang yang melanggar kewajiban merahasiakan identitas anak dalam media cetak atau elektronik dapat dipidana paling lama 5 tahun. Praktik ini pun juga terjadi pada media yang memberitakan kasus kekerasan terhadap perempuan, banyak pemberitaan yang justru menyerang kehidupan personal korban, dengan menggunakan kata-kata tidak pantas 74 .
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

707bf17c6e4332651d2bae5688ed074f

707bf17c6e4332651d2bae5688ed074f

4. Undang-Undang menyatakan bahwa pemberian pelayanan medis kepada saksi korban merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konsep pemberian perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pelayanan medis bagi saksi dan korban diatur didalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (selanjutnya disebut UU 13/2006) adalah bentuk pelayanan yang diberikan kepada saksi korban yang mengalami penderitaan yang mencakup kerugian fisik, psikis dan ekonomi, dimana proses pemberiannya ditentukan melalui proses penyaringan permohonan yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Beberapa Catatan Kritis terhadap RUU Per

Beberapa Catatan Kritis terhadap RUU Per

Pengadilan harus merahasiakan perintah seperti itu demi keamanan si tahanan dan investigasi tersebut. Tidak mungkin diperoleh perintah pengadilan untuk mengalihkan perlindungan seseorang dari Kantor Marsekal AS atau Biro Tahanan kepada suatu badan investigasi tanpa terlebih dahulu disetujui oleh Kantor Operasi Penegakan. 56 Selain itu, kasus-kasus menyangkut pengawasan lewat video dan atau pengawasan yang disepakati harus tunduk juga terhadap Undang-undang tentang Pengawasan Elektronik Untuk mempermudah pengurusan permohonan yang diajukan oleh Jaksa Pemerintah untuk mengikutsertakan seorang saksi dalam Program Keamanan Saksi 57 , Unit Keamanan Saksi pada Kantor Operasi Penegakan telah menyiapkan suatu formulir permohonan yang mensyaratkan informasi tertentu untuk mendukung suatu permohonan. 58 Sebagian besar informasi tersebut telah dirumuskan dalam UU tentang Reformasi Keamanan Saksi dimana Jaksa Agung harus mendapatkan dan mengevaluasi semua informasi yang diberikan mengenai pengikutsertaan seorang saksi ke dalam Program. Informasi ini meliputi ancaman yang dialami saksi, riwayat kriminal saksi (bila ada), penilaian psikologis atas saksi dan setiap identitas menyangkut anggota rumah tangganya yang telah dewasa ( berumur 18 tahun atau lebih) yang akan diikutsertakan ke dalam Program.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Potret Perlindungan Saksi dan Korban

Potret Perlindungan Saksi dan Korban

Bermula pada pengurusan sertiikat tanah yang dilakukan para pemo hon perlindungan di kantor BPN Gowa, dimana dalam pengurusan ser ti ikat, dari posisi sertiikat induk kemudian dipecah menjadi 13 ser tiikat, pemohon dimintai sejumlah uang dengan total kurang lebih Rp28.000.000. Pemohon kemudian kembali mendaftarkan pemecahan 13 sertiikat ke BPN Kabupaten Gowa pada tanggal 1 November 2016. Pe mohon melakukan pengecekan biaya yang harus disetor ke kas negara untuk administrasi dan diinformasikan dirinya hanya perlu membayar Rp2.600.000 untuk 13 sertiikat tersebut. Pemohon lalu mendapatkan invoice dari BPN dan membayarkan jumlah tersebut melalui transfer ke rekening kas negara yang telah ditentukan. Selanjutnya, pemohon di minta membayar akomodasi dan transportasi juru ukur. Untuk hal tersebut, pemohon tidak mendapatkan informasi tarif dari BPN, me lain- kan diminta untuk mengonirmasi langsung kepada juru ukur. Juru ukur sendiri meminta tarif sebesar Rp250.000/bidang tanah, sehing ga pada tanggal 22 Desember 2016, pemohon membayarkan se besar 13xRp250.000 langsung kepada juru ukur dan pemohon minta di- terbitkan kuitansi untuk itu. Juru ukur menginformasikan sertiikat akan jadi dalam waktu lima hari ke depan. Selanjutnya, pemohon datang ke kantor BPN pada tanggal 13 Februari 2017 guna melakukan pengecekan, apakah sertiikat sudah jadi atau belum. Oleh juru ukur, pemohon di arahkan menemui pelaku FS (Kepala Subseksi Pendaftaran BPN Kabu- paten. Gowa). FS menunjukan kepada pemohon bahwa sertiikat sudah rampung, tinggal menunggu untuk ditandatangani. Selanjutnya FS meminta “uang penyelesaian” sebesar Rp13.000.000 untuk 13 sertiikat. Namun, pemohon menolak karena dirinya telah menyetor tarif resmi ke kas negara serta membayar juru ukur.
Baca lebih lanjut

176 Baca lebih lajut

PENUTUP  REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

PENUTUP REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

1. Dalam memberikan perlindungan bagi Korban di daerah, LPSK telah melakukan langkah – langkah yang sesuai dengan yang dimaksud dalam Pasal 5, 6, dan 7 Undang – Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yaitu memberikan perlindungan terhadap korban tindak pidana untuk menjamin keamanan korban tindak pidana, memfasilitasi dan memberikan pelayanan terhadap korban berupa Pemenuhan hak prosedural, perlindungan fisik, bantuan, rehabilitasi medis/psikologis, kompensasi dan restitusi,

5 Baca lebih lajut

SKRIPSI  REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

SKRIPSI REALISASI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI DAN KORBAN DI DAERAH.

Puji dan Syukur kepada Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus, serta Bunda Maria yang telah memberikan Berkat, Karunia, dan Kasih yang melimpah dan Tak Berksudahan kepada penulis sejak penulis memulai awal masuk kuliah hingga melakukan Penulisan Hukum / Skripsi, sehingga penulis telah menyelesaikan Penulisan Hukum / Skripsi ini dengan baik dan tanpa halangan dan rintangan yang melebihi batas kemampuan penulis. Penulisan Hukum / Skripsi ini mengambil judul PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN BAGI KORBAN DI DAERAH. Penulisan Hukum / Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana (S – 1) di Fakultas Hukum, Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...