Top PDF HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Subjek penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 17 Surakarta berjumlah 121 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah cluster sample. Alat ukur yang digunakan adalah skala penerimaan kelompok teman sebaya dan skala konsep diri. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa kedewasaan. Namun pada dasarnya masa remaja adalah masa dimana seseorang dituntut untuk memilih sikap atau dapat juga dikatakan belajar merubah sikap kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa, dimana pada masa ini si individu dapat menentukan sendiri kearah mana ia akan memulai berjalan dalam kehidupannya. Faktor yang mempengaruhi konsep diri, diantaranya adalah teman sebaya (peer group). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri, serta mengetahui tingkat penerimaan kelompok teman sebaya dan konsep diri siswa SMP Negeri 17 Surakarta dan sumbangan efektif penerimaan kelompok teman sebaya terhadap konsep diri. Dengan hipotesis : ada hubungan positif antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri pada siswa SMP Negeri 17 Surakarta
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan berbagai aspeknya, yaitu aspek fisik dan psikologis. Perubahan tersebut berdampak terhadap perkembangan mental dan sosial anak. Pola interaksi sosial menjadikan remaja mampu mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan sosial maupun dengan dirinya sendiri. Terutama dengan lingkungan teman sebaya. Lingkungan teman sebaya ini banyak remaja membentuk kelompok-kelompok baik kelompok kecil maupun kelompok besar.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository

Selain itu, melalui hasil perhitungan ditemukan pula rata-rata subjek dalam penelitian ini memiliki kecenderungan konformitas yang relatif tinggi (131,95 > 105). Hal ini didukung dengan pernyataan Hurlock (1990) bahwa pengaruh teman sebaya mencapai masa puncaknya pada usia 12-13 tahun. Oleh karena itu, sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh teman sebaya daripada keluarga. Baron dan Byrne (2004) menyatakan bahwa konformitas remaja adalah sebuah perilaku yang menjadi bentuk penyesuaian diri remaja. Konformitas muncul dalam interaksi remaja dengan kelompoknya. Kelompok teman sebaya menjadi media bagi remaja untuk menguji dirinya sendiri dan orang lain. Pada saat berada dalam kelompok teman sebaya, remaja juga mulai membentuk dan memperbaiki konsep dirinya. Teman-teman sebaya yang berada dalam satu kelompok cenderung dapat mempengaruhi citra diri remaja. Remaja mampu menilai diri secara positif karena mereka cenderung ikut serta dalam kelompok tersebut dan memperoleh penerimaan dari kelompok.
Baca lebih lanjut

192 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA  DAN KONSEP DIRI DENGAN  KEDISIPLINAN SISWA   Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN KONSEP DIRI DENGAN KEDISIPLINAN SISWA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

Knightley dan Whitelock (2006) pada penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa pengembangan konsep diri dan harga diri terkait dengan proses pembelajaran secara integral. Konsep diri yang positif akan mendukung kelancaran dalam proses pembelajaran. Oktaviana (2005) pada penelitiannya menyatakan adanya hubungan yang sangat signifikan antara penerimaan diri terhadap ciri-ciri perkembangan seksual sekunder dengan konsep diri pada remaja putri SLTPN 10 Yogyakarta, sebagaimana dinyatakan oleh penelitian ini, dapat diuraikan sebagai berikut. Remaja dalam perkembangannya seringkali prihatin selama bertahun-tahun di awal masa remaja. Hal ini disebabkan oleh kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap adanya perubahan tubuh yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku, sebagai akibat perkembangan seksual sekunder yang dialami remaja putri. Keprihatinan tubuh yang sedang berkembang semakin diperbesar dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya penampilan diri dalam penerimaan diri remaja.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI  Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

Menurut Papalia dan Feldman (2014) seseorang menda- patkan keuntungan dari interaksi teman sebaya, yaitu dapat mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan dalam hubungan sosial dan intimasi serta mampu memupuk rasa saling memiliki antar teman sebaya. Selain itu interaksi teman sebaya dapat menjadi motivasi untuk mencapai serta memperoleh identitas. Hasil penelitian Chairunnisa (2010) menyebutkan bahwa penerimaan teman sebaya mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa sebesar 24.4%. Semakin tinggi penerimaan kelompok teman sebaya maka semakin tinggi pula prestasi akademik mahasiswa.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

Masalah pacaran tidak bisa lepas dari dunia remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai “naksir” lawan jenisnya. Dikalangan remaja, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Salah satu yang mempengaruhi perilaku pacaran pada remaja adalah Interaksi teman sebaya. Interaksi yang dilakukan remaja dengan lingkungannya, baik itu dengan kelompok teman sebayanya dalam kehidupan sehari-harinya dapat memberikan dampak negatif. Interaksi negatif yang dibangun remaja dengan kelompok teman sebayanya dapat membawa remaja terlibat dalam kenakalan remaja seperti pacaran.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

2 berani ambil resiko, karena bosan dan supaya kelihatan seperti orang dewasa (Nainggolan,2009) akan tetapi lama- kelamaan hal tersebut menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihindari dan dihentikan, hal tersebut disebabkan karena dampak ketergantungan yang ditimbulkan oleh rokok. Selain itu remaja yang merokok biasanya demi diterimanya dalam suatu kelompok teman sebaya, usia remaja merupakan usia yang masih memiliki emosi yang labil sehingga demi diterimanya dalam suatu kelompok teman sebaya ia akan melakukan apapun meskipun menyimpang. Seperti yang diungkapkan Hurlock (2012) Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman- teman sebayanya, tetapi sering kali diperoleh dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab salah satunya perilaku merokok. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chotidjah (2012) Sebagian besar perokok remaja pertama mengenal rokok dari teman- teman mereka (63,63%), orangtua (16,36%) dan keluarga (12,72%) yang
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA   Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

Tujuan dalam penelitian ini, yaitu : untuk mengetahui hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku pacaran pada remaja. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara interaksi teman sebaya dengan perilaku pacaran pada remaja. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 132 orang remaja, penelitian ini memakai studi cluster random sampling, yaitu semua kelompok dalam populasi diberi peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala interaksi teman sebaya dan perilaku pacaran. Teknik analisis data menggunkan korelasi product moment.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

Remaja dalam kehidupan sehari-hari lebih dekat dengan teman sebaya daripada dengan orangtua karena remaja menginginkan teman yang mempunyai minat, sikap, yang sama, sehingga banyak melakukan kegiatan bersama, dalam mengisi waktu luangnya. Hal ini dipertegas oleh Bee (dalam Amin, 1999) yang menyatakan bahwa remaja cenderung melakukan hal-hal yang sama dengan teman- temannya semata-mata agar dapat diterima dan tetap menjadi anggota kelompok tersebut. Persamaan dalam usia, pendidikan, jenis kelamin dan perasaan terabaikan membuat mereka menjalin persahabatan yang kental dan erat dengan kesetiakawanan. Akibatnya apabila salah satu dari mereka merasa menderita, maka yang lainnya akan siap membantu menghilangkan penderitaan itu.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN KONSEP DIRI DENGAN INTENSI PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN KONSEP DIRI DENGAN INTENSI PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA.

Kekeliruan remaja yang masuk ke dunia seks bebas (free sex ) sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari diri mereka sendiri. Iklim yang mendukung menyebabkan remaja banyak bertindak di luar batas. Situasi kondusif itu di antaranya adalah toleransi yang longgar dari masyarakat terhadap perilaku yang melanggar moral dan kebebasan teknologi informasi yang semakin tidak terbendung. Menurut Przybyla (Hidayah, 1992), masyarakat sering kali disuguhi majalah, film, acara televisi, lagu, iklan, dan produk-produk yang berdaya khayal dan mengandung pesan ke arah seksual yang merupakan pelengkap konsep realita masyarakat yang dikenal dengan istilah pornografi, merangsang gairah seksual, mendorong orang gila seks, meruntuhkan nilai-nilai moral.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju usia dewasa. Pada masa remaja individu mulai mengalami perubahan dalam sikap dan perilakunya sejajar dengan tingkat pertumbuhan fisiknya. Remaja berada pada posisi transisi dalam perkembangan hidup manusia mengalami perubahan, baik yang berkaitan dengan perubahan fisik, interaksi sosial ataupun pencarian identitas dirinya. Remaja mulai mengarahkan geraknya menuju kelompok sebaya yang dianggap mempunyai kesamaan pandangan. Kebutuhan untuk diterima kelompok sebaya sangat penting bagi remaja. Dalam usahanya untuk dapat diterima dalam kelompok, remaja harus membuat penampilannya sama dengan pola-pola dan harapan-harapan sesama remaja, sehingga perhatiannya seringkali difokuskan pada diri sendiri. Mereka biasanya mulai sadar akan penampilan dirinya, penampilan wajah, pakaian, rambut, dan penampilan fisik lainnya. Karena mereka berpendapat bahwa penampilan diri memainkan peranan penting dalam penerimaan sosial terutama penerimaan dari teman sebaya (Mahdalela, 1998).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERAN TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMA MUHAMMADIYAH PAKEM SLEMAN YOGYAKARTA Atika Fitrotin Hanifah

HUBUNGAN PERAN TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMA MUHAMMADIYAH PAKEM SLEMAN YOGYAKARTA Atika Fitrotin Hanifah

SMA Muhammadiyah Pakem belum tersedia fasilitas tentang kesehatan reproduksi seperti leaflet atau poster, pertemuan rutin antara orangtua dan guru untuk membahas tentang kesehatan reproduksi remaja juga belum terlaksana. Di sana juga belum ada kelompok Kesehatan Reproduksi Remaja. Diperpustakaan dan UKS juga belum ada alat bantu tentang kesehatan reproduksi remaja yang memadai. Selain itu guru BP atau guru lain memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada murid hanya secara accidental saja karena belum ada jam khusus untuk pelajaran kesehatan reproduksi dan program KRR juga belum dijalankan. Disana terdpat pelajaran tentang keagamaan yang dimasukan ke dalam kurikulum pendididkan selain itu pada saat jam istirahat para siswa juga dihimbau untuk sholat dhuha dan solat dzuhur berjamaah serta kultum selain itu disana juga terdapat kegiatan ekstra kurikuler seperti karawitan, volley, tapak suci.Di SMA Muhammadiyah Pakem masih ada siswa yang berpacaran, disana juga terdapat kelompok-kelompok teman sebaya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA REMAJA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA REMAJA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Pembelian impulsif merupakan suatu fenomena psikoekonomik yang banyak melanda kehidupan masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Fenomena ini menarik untuk diteliti mengingat pembelian impulsif juga melanda kehidupan remaja kota-kota besar yang sebenarnya belum memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Johnstone (dikutip Santoso, 1998, h92), konsumen remaja mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut : (a) mudah terpengaruh oleh rayuan penjual, (b) mudah terbujuk iklan, terutama pada penampilan produk, (c) kurang berpikir hemat, dan (d) kurang realistis, romantis dan impulsif.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal.

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal.

Selain itu, melalui hasil perhitungan ditemukan pula rata-rata subjek dalam penelitian ini memiliki kecenderungan konformitas yang relatif tinggi (131,95 > 105). Hal ini didukung dengan pernyataan Hurlock (1990) bahwa pengaruh teman sebaya mencapai masa puncaknya pada usia 12-13 tahun. Oleh karena itu, sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh teman sebaya daripada keluarga. Baron dan Byrne (2004) menyatakan bahwa konformitas remaja adalah sebuah perilaku yang menjadi bentuk penyesuaian diri remaja. Konformitas muncul dalam interaksi remaja dengan kelompoknya. Kelompok teman sebaya menjadi media bagi remaja untuk menguji dirinya sendiri dan orang lain. Pada saat berada dalam kelompok teman sebaya, remaja juga mulai membentuk dan memperbaiki konsep dirinya. Teman-teman sebaya yang berada dalam satu kelompok cenderung dapat mempengaruhi citra diri remaja. Remaja mampu menilai diri secara positif karena mereka cenderung ikut serta dalam kelompok tersebut dan memperoleh penerimaan dari kelompok.
Baca lebih lanjut

194 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Kebahagian Pada Remaja

Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Kebahagian Pada Remaja

Salah satu kasus yang menggambarkan adanya kebahagiaan yang dirasakan oleh remaja yaitu: terjadi pada salah satu siswi SMTI Yogyakarta bernama Merita Ika. Bagi gadis yang akrab dipanggil Metha ini ia merasa bahagia atas segala pencapaian prestasi yang telah diraihnya saat ini. Kebanyakan orang khusunya remaja mungkin menganggap segala sesuatu yang berbau Kimia terasa begitu memusingkan, mulai dari hitungan atom relative, rumus Kimia dan sebagianya. Namun bagi putri sulung dari 3 bersaudara ini Kimia justru mengantarkannya ke berbagai prestasi antara lain: Juara I Olimpiade Kimia tingkat DIY Jateng antar SMA/ SMK yang diadakan di UGM, Juara II Liga Kimia Tingkat DIY Jateng SMA/ SMK yang diadakan di UNY, selain itu pada saat duduk di SMPN 1 Yogya Metha mendapatkan beasiswa selama 3 tahun karena prestasi nilai belajarnya yang memuaskan. Akibat dari itu semua, Metha menganggap tidak hanya merasakan kebahagiaan pada dirinya sendiri melainkan ia juga dapat memberikan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DANKONSEP DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DANKONSEP DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

Kecenderungan remaja untuk berperilaku konsumtif diduga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu yang dimiliki oleh remaja yaitu tingkat kebutuhan untuk penyesuaian dengan kelompok teman sebaya dan konsep diri yang dimiliki. Mereka ingin kehadirannya diakui sebagai bagian dari komunitas remaja secara umum dan secara khusus sebagai bagian dari kelompok teman sebaya mereka, demi mendapatkan pengakuan tersebut remaja sering kali bersedia melakukan berbagai upaya meskipun hal itu sesuatu yang tidak diperlukan atau tidak berguna bagi mereka bila ditinjau dari kaca mata orang tua atau orang dewasa lainnya. Keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari keterkaitan dengan orang tua membuat remaja mencari dukungan sosial melalui teman sebaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah ada hubungan antara interaksi teman sebaya dan konsep diri dengan perilaku konsumtif pada remaja putri?
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri RemajaHubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri RemajaHubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

Yang terakhir, proses pembentukan konsep diri remaja apabila dipandang dari sudut pan- dang kecerdasan emosional remaja adalah keti- ka seorang remaja mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Goleman (2012) me- nyebutkan bahwa kemampuan dalam membina hubungan baik dengan orang lain ini merupakan sebuah keterampilan yang berguna untuk me- nunjang eksistensi pribadi, popularitas, kepe- mimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Seba- gai dasar dari terjalinnya sebuah hubungan yang baik dengan orang lain adalah kemampuan dan keterampilan dalam menjalin komunikasi. Ma- sih menurut Goleman (2012), orang-orang da- pat menjadi popular dalam lingkungannya dan akan menjadi teman yang menyenangkan ketika mereka mampu untuk berkomunikasi dengan baik. Salovey (2002) bahkan mengemukakan pendapatnya bahwa sejauh mana kepribadian siswa berkembang dapat dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA   HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

Penyesuaian sosial merupakan tingkah laku penyesuaian diri terhadap lingkungan, dimana dalam lingkungan tersebut terdapat aturan-aturan dan norma- norma yang mengatur tingkah laku dalam lingkungan sosial, orang masuk dalam lingkungan tersebut harus menyesuaikan diri dari aturan-aturan dan norma-norma yang ada dan berlaku mengikat setiap individu yang ada dalam masyarakat tersebut. penyesuaian sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor inteligensi, lingkungan keluarga, penerimaan teman sebaya, dan kondisi fisik. Faktor penerimaan teman sebaya mempengaruhi penyesuaian sosial atas permintaan teman- teman dalam pergaulan, oleh karena itu dapat di mengerti social acceptance adalah faktor penentu bagi penyesuaian sosial.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan antara Pemantauan Diri dan Konformitas Teman Sebaya dengan Kecenderungan Pembelian Impulsif pada Remaja Putri

Hubungan antara Pemantauan Diri dan Konformitas Teman Sebaya dengan Kecenderungan Pembelian Impulsif pada Remaja Putri

Penelitian mengenai hubungan antara pemantauan diri dan konformitas teman sebaya dengan kecenderungan pembelian impulsif pada remaja putri dilakukan di Solo Grand Mall yang beralamatkan di Jalan Brigjend Slamet Riyadi nomor 273, Surakarta. Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan survei awal untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan subjek penelitian. Solo Grand Mall merupakan mal terbesar dan terlengkap di kota Solo dan sekitarnya yang mulai beroperasional sejak 4 Desember 2004. Dibangun di atas lahan seluas 12.080 m² yang terdiri atas 7 lantai dengan luas totalnya 63.000 m². Konsep Solo Grand Mall adalah “ one stop f amily entertainment and recreation” yang berarti Solo Grand Mall menyediakan pelayanan yang dilengkapi dengan fasilitas hiburan serta rekreasi keluarga bagi para pengunjung yang ingin berbelanja berbagai macam kebutuhan dengan aneka variasinya tanpa memakan banyak waktu dan lebih efisiensi biaya karena pengunjung tidak perlu berpindah lokasi, segala kebutuhan telah tersedia di Solo Grand Mall.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...