Top PDF PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN

PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN

PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN

Yang dimaksud dengan secara proporsional bersama-sama bertanggung jawab adalah bahwa masing-masing memikul tanggung jawab sesuai dengan kontribusinya dalam menimbulkan pencemaran atau kerusakan lingkungan. Pembersihan dan pemulihan lingkungan dalam pasal ini mencakup antara lain studi untuk mengetahui luas dampak, jenis, jumlah, konsentrasi limbah yang ada sebagai dasar untuk melakukan pembersihan dan pemulihan lingkungan, serta pengolahan limbah B3 yang telah dibuang ke dalam lingkungan itu.

0 Baca lebih lajut

PP NO. 101 TH 2014 PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PP NO. 101 TH 2014 PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Terhadap Pengelolaan Limbah B3 perlu dilakukan pengelolaan yang terpadu karena dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia, mahluk hidup lainnya, dan lingkungan hidup jika tidak dilakukan pengelolaan dengan benar. Oleh karena itu, diperlukan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah B3 yang secara terpadu mengatur keterkaitan setiap simpul Pengelolaan Limbah B3 yaitu kegiatan penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan, dan penimbunan Limbah B3. Pentingnya penyusunan Peraturan Pemerintah ini secara tegas juga disebutkan dalam Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan dan sebagai pelaksanaan dari Pasal 59 ayat (7) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Baca lebih lanjut

233 Baca lebih lajut

Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun - Repositori Universitas Andalas

Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun - Repositori Universitas Andalas

Yang dimaksud dengan efisiensi penghancuran dan penghilangan limbah B3 adalah "Destruction Removal Efficiency (DRE)". Penentuan standar emisi udara didasarkan pada standar emisi peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi parameter konvensional (CO, NO. SO2 Hidrokarbon, TSP, Amonia). Sedangkan penentuan standar emisi lainnya didasarkan karakteristik limbah B3, jenis insinerator, kualitas udara setempat dan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

72 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

5. Pemanfaatan limbah B3 adalah kegiatan penggunaan kembali (reuse) dan/atau daur ulang (recycle) dan/atau perolehan kembali (recovery) yang bertujuan untuk mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus juga aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. 6. Reuse adalah penggunaan kembali limbah B3 dengan tujuan yang sama tanpa melalui proses

6 Baca lebih lajut

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

b. Nomor 1 sampai dengan nomor 12 diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3 yang mengirimkan limbah B3 ke tujuan yaitu dari penghasil ke pengumpul atau ke pemanfaat atau pengolah, dan/atau dari pengumpul ke pemanfaat dan/atau ke pengolah (disesuaikan dengan kepentingannya).

6 Baca lebih lajut

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

c. bahwa berdasarkan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, penyelenggaraan kewenangan perizinan dan pengawasan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun serta pengawasan pelaksanaan pemulihan akibat pencemaran limbah Bahan Berbahaya dan Beracun oleh pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Menteri;

68 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) LABORATORIUM DI KAMPUS ITS

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) LABORATORIUM DI KAMPUS ITS

Di Departemen Biologi limbah B3 cair laboratorium yang dihasilkan disimpan dalam jerigen-jerigen berukuran 20 L. Jerigen-jerigen ini disimpan di dalam masing-masing laboratorium. Limbah B3 cair ini disimpan selama satu semester. Jerigen-jerigen ini disimpan di dekat wastafel. Kegiatan ini seharusnya tidak dilakukan karena limbah B3 laboratorium sebaiknya disimpan dalam bangunan yang berbeda dan dilengkapi dengan alat penanggulangan keadaan darurat menurut PP 101 Tahun 2014. Setelah kegiatan praktikum dan penelitian selesai limbah B3 ini diberikan kepada Departemen Kimia untuk diolah. Dari hasil wawancara dengan salah satu kepala laboratorium, dalam sekali pengumpulan, limbah B3 yang dibawa ke Departemen Kimia hanya sebanyak dua hingga tiga jerigen berukuran 20 L. Sedangkan limbah B3 yang dihasilkan lebih dari tiga jerigen, sehingga masih ada limbah B3 laboratorium yang disimpan dalam laboratorium lebih dari satu semester.. Kegiatan penyimpanan ini belum sesuai dengan PP 101 Tahun 2014 tentang pengelolaan limbah B3 laboratorium. Dalam PP tersebut dinyatakan bahwa penyimpanan paling lama dilakukan selama 180 hari untuk limbah B3 kategori 1. Dalam kegiatan penyimpanan limbah B3 laboratorium ini wadah yang digunakan telah dilengkapi dengan tutup sehingga mengurangi kemungkinan limbah B3 laboratorium tumpah dan tercecer di lantai tempat penyimpanan limbah.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

(3) Dalam hal tidak terdapat laut yang memiliki lapisan termoklin permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, lokasi tempat dilakukan Dumping Limbah B3 berupa serbuk bor dari hasil pemboran usaha dan/atau kegiatan eksplorasi dan/atau eksploitasi di laut menggunakan lumpur bor berbahan dasar sintentis (synthetic-based mud) harus memenuhi persyaratan:

233 Baca lebih lajut

SIMBOL DAN LABEL LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

SIMBOL DAN LABEL LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Pengemasan, penyimpanan, pengumpulan, pengolahan dan pengangkutan limbah B3 harus dilakukan dengan cara yang aman bagi pekerja, masyarakat dan lingkungan. Faktor penting yang berhubungan dengan keamanan ini adalah penandaan pada tempat penyimpanan, pengumpulan, pengolahan serta pada setiap kemasan dan kendaraan pengangkut limbah B3.

12 Baca lebih lajut

Laporan limbah Berbahaya dan Beracun th 2015

Laporan limbah Berbahaya dan Beracun th 2015

23 April 2015 Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor : 188/167/KEP/412.11/2 015 Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi Penyimpanan sementara limbah Bahan Beracun dan Berbahaya B3 kegiatan [r]

1 Baca lebih lajut

IND PUU 7 2009 Permen No. 33 Tahun 2009 LTB3 Combine

IND PUU 7 2009 Permen No. 33 Tahun 2009 LTB3 Combine

1. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain. 2. Lahan adalah suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya merangkum

14 Baca lebih lajut

IND PUU 7 2009 DRAF PERMEN NSPK B3 Tata Laksana Combine

IND PUU 7 2009 DRAF PERMEN NSPK B3 Tata Laksana Combine

b. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 64 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, setiap orang atau badan usaha yang menghasilkan, mengumpulkan, mengangkut, mengolah atau menimbun limbah Bahan Berbahaya dan Beracun baik masing-masing maupun bersama-sama secara proporsional wajib melakukan pembersihan dan/atau pemulihan lingkungan;

75 Baca lebih lajut

Penaatan Dan Penegakan Hukum Lingkungan Dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3).

Penaatan Dan Penegakan Hukum Lingkungan Dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3).

B3 dan kondisinya yang sudah tidak dapat berfungsi lagi 12 . Keberadaan instalasi pengolahan air limbah merupakan saran yang penting agar tercapainya upaya pelestarian fungsi lingkungan, karena awal masalah lingkungan salah satunya dapat bermula dari keberadaan instalasi pengolahan air limbah. Banyak penanggungjawab usaha yang tidak memiliki sarana instalasi pengolahan air limbah yang memadai. Bagi mereka instalasi pengolahan air limbah merupakan beban yang sangat berat. Seringkali pengusaha dihadapkan pada pilihan antara keuntungan dan pelestarian lingkungan. Sementara kondisi instalasi pengolahan air limbah yang disediakan oleh pemerintahpun kondisinya sangat memprihatinkan dan jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah industri yang ada. Selain itu jarak tempat instalasi pengolahan air limbah dengan tempat usaha dipandang tidak ekonomis karena untuk mengalirkan air limbah menuju instalasi pengolahan air limbah memakan biaya yang cukup besar. Sehingga banyak penanggungjawab usaha yang memilih jalan pintas dengan langsung membuang air limbahnya ke media lingkungan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Dumping (Pembuangan) Limbah B3 merupakan alternatif paling akhir dalam Pengelolaan Limbah B3. Pembatasan jenis Limbah B3 yang dapat dilakukan Dumping (Pembuangan) ke laut dimaksudkan untuk melindungi ekosistem laut serta menghindari terjadinya Pencemaran Lingkungan Hidup dan Perusakan Lingkungan Hidup di laut karena air laut merupakan media yang mudah dan cepat menyebarkan polutan dan/atau zat pencemar. Dumping (Pembuangan) Limbah B3 ke laut hanya dapat dilakukan jika Limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan di laut tidak dapat dilakukan pengelolaan di darat berdasarkan
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pada tataran implementasi, sering kali sanksi administrasi lebih ampuh menyelesaikan suatu tindakan pelanggaran ketentuan administrasi yang oleh UUPPLH diancam dengan sanksi pidana melalui perumusan delik pidana formal, tidak terkecuali dalam bidang pengelolaan limbah B3, khususnya yang terkait dengan ketentuan Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (4) UUPPLH. Sanksi pidana memang dapat menjerakan pencemar yang merusak lingkungan dengan sanksi pidana penjara, kurungan, atau denda. Namun, sanksi pidana sebenarnya mempunyai batas-batas kemampuan, diantaranya: (1). apabila dilihat dari sifat dan fungsi pemidanaan selama ini, yaitu pemidanaan individual atau personal dan bukan pemidanaan yang bersifat struktural atau fungsional. Pemidanaan yang bersifat individual atau personal kurang menyentuh pada sisi lain yang berhubungan erat secara struktural atau fungsional dengan perbuatan (dan akibat perbuatan) dari si pelaku; (2). Sanksi pidana sangat kaku dan terbatasnya jenis pidana (sebagai obat/remedium) yang dapat dipilih untuk memidana terdakwa. Tidak sedikit dalam perundang-undangan selama ini digunakan sistem perumusan sanksi pidana yang sangat kaku dan bersifat imperatif seperti perumusan sanksi pidana secara tunggal dan komulatif. 23
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERSYARATAN TEKNIS PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PERSYARATAN TEKNIS PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun telah diatur ketentuan mengenai Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;

4 Baca lebih lajut

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

b. bahwa Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep– 68/Bapedal /05/1994 Tentang Tata Cara Memperoleh Izin Penyimpanan, Pengumpulan, Pengoperasian Alat Pengolahan, Pengolahan dan Penimbunan Akhir Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan;

14 Baca lebih lajut

Penentuan Kadar Seng (Zn) Pada Limbah DI PT. Industri Karet Nusantara

Penentuan Kadar Seng (Zn) Pada Limbah DI PT. Industri Karet Nusantara

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PERMENLH 18 2009 LAMP 1

PERMENLH 18 2009 LAMP 1

Kepada Yth : Deputi MENLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Tempat Dengan ini kami mengajukan permohonan rekomendasi pengangkut[r]

2 Baca lebih lajut

Pencemaran Air Tanah Akibat Pem

Pencemaran Air Tanah Akibat Pem

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan- bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...