Top PDF Pengujian Penyakit Koi Herpes Virus (Khv) pada Beberapa Ikan Budidaya

Pengujian Penyakit Koi Herpes Virus (Khv) pada Beberapa Ikan Budidaya

Pengujian Penyakit Koi Herpes Virus (Khv) pada Beberapa Ikan Budidaya

kat kematian juga tetap. Gejala klinis yang tim- bul seperti produksi lendir mulai berlebihan ke- mudian lendir menghilang. Insang pucat, timbul lesie pada kulit, beberapa ekor ikan mengalami sisik terlepas, sirip-sirip dorsal, pectoral, abdo- minal, anal dan caudal mengalami erosi/geripis (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan yang ditemu- kan Sunarto (2004) bahwa ikan yang terserang KHV menunjukkan gejala-gejala klinis seperti kehilangan lendir dan sisik terlepas, pendarahan pada operculum, sirip, ekor dan abdomen, lesie pada kulit dan nekrosis pada insang. Yosha (2003) juga mendapatkan bahwa virus KHV merusak sel epitel koi khususnya kulit dan insang. Mu- kosanya menghilang, kulit nampak kering, ter- jadi kematian sel pada insang diikuti infeksi ja- mur, parasit dan bakteri, ikan tidak mau makan, tidak dapat bernafas dan mati secara perlahan. Pemeriksaan terhadap organ dalam dengan cara pembedahan mendapatkan bahwa hati ikan meng- alami pendarahan atau nekrosis. Rukyani (2002) mengemukakan bahwa ikan yang terserang KHV menunjukkkan gejala klinis seperti nekrosis pa- da insang, produksi lendir hilang, pendarahan, sirip rontok/geripis, dan secara makroskopis or- gan dalamnya membengkak, ginjal dan hati meng- alami pendarahan. Tauhid et al. (2004) juga men- dapatkan bahwa ikan yang terserang KHV me- nunjukkan tanda-tanda produksi lendir menurun drastis, sehingga tubuh terasa kesat, nekrosis pa- da insang, dan pucat, pendarahan pada pangkal dan ujung sirip serta permukaan tubuh melepuh dan luka/lesie yang diikuti infeksi sekunder o- leh jamur, parasit dan bakteri.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Teknologi budi daya ikan mas (Cyprinus carpio) tahan KHV (koi herpes virus) melalui aplikasi bioflok

Teknologi budi daya ikan mas (Cyprinus carpio) tahan KHV (koi herpes virus) melalui aplikasi bioflok

Deteksi keberadaan KHV pada ikan mas dilakukan pada saat ada peristiwa ke- matian yang cukup banyak yang diduga sebagai serangan KHV. Serangan ini terjadi pada bulan pertama masa pemeliharaan. Fluktuasi kematian harian disajikan pada Gambar 5A, dan fluktuasi suhu yang terjadi pada Gambar 5B. Jika dilihat kematian masal terjadi pada hari ke 6 (Gambar 5A), dan pada hari sebelumnya terjadi penurunan suhu yang ekstrim (Gambar 5B). Menurut Goowin (2003) in Taukhid et al. (2005), kasus kematian ikan akibat KHV umumnya terjadi pada kisaran suhu air antara 18-27  C. Hal ini sesuai dengan fluktuasi suhu yang cenderung menurun dari 26-30  C menjadi 24- 28  C, kemudian 22-25  C, dan naik kembali menjadi 24-27  C. Suhu tersebut dapat memi- cu virus berkembang dan mencari inang yang spesifik yaitu ikan mas. Suhu merupakan faktor pemicu serangan KHV, namun penyakit KHV terjadi akibat interaksi yang tidak seimbang antara 3 biosistem yaitu inang yang lemah, patogen yang ganas dan kualitas lingkungan perairan yang buruk (Taukhid et al. 2005).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pressure Effect of Temperature on Koi Herpes Virus Diseases (KHVD) at Koi Fish (Cyprinus carpio koi)

Pressure Effect of Temperature on Koi Herpes Virus Diseases (KHVD) at Koi Fish (Cyprinus carpio koi)

Penyakit KHV merupakan salah satu penyakit infeksius yang menyerang spesies ikan Koi dan ikan Mas yang disebabkan oleh golongan virus DNA. Di Indonesia, kasus penyakit KHV diawali di Blitar pada tahun 2002 yang mana telah terjadi kematian massal (80%-95%). Kira-kira akhir April 2002, kasus kematian ikan Mas terjadi di Subang serta kasus serupa pada bulan Mei 2002 terjadi di sentra budidaya ikan Mas di daerah Cirata, Jawa Barat. Wabah penyakit KHV kembali terjadi di daerah Lubuk Linggau, Sumatra Selatan pada bulan Februari 2003 dengan gejala yang ditimbulkan sama seperti yang ditemukan pada ikan Mas di pulau Jawa. Kemudian wabah terus menyebar di propinsi sekitarnya termasuk Bengkulu, dan Jambi. Wabah KHV di Indonesia telah menyebar sampai ke Denpasar (Bali), Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Malang, Kediri, dan Surabaya (Jawa Timur), Semarang dan Brebes (Jawa Tengah), Subang, Bogor, Bandung, Purwakarta, Cianjur, dan Bekasi (Jawa Barat), Banten, dan Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan (Sumatra) (Pasaribu 2003).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

PEMERIKSAAN KHV (Koi Herpes Virus) PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DENGAN METODE PCR DI BALAI BESAR KARANTINA IKAN PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN (BKIPM- KHP) SOEKARNO HATTA TANGERANG, BANTEN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG PROGRAM STUDI BUDI

PEMERIKSAAN KHV (Koi Herpes Virus) PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DENGAN METODE PCR DI BALAI BESAR KARANTINA IKAN PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN (BKIPM- KHP) SOEKARNO HATTA TANGERANG, BANTEN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG PROGRAM STUDI BUDI

Potensi produk perikanan di Indonesia akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya melihat besarnya potensi lahan budidaya yang belum dimanfaatkan. Namun, karena penanganan yang kurang bertanggung jawab mengakibatkan timbulnya penyakit yang berbahaya salah satunya adalah virus. Pencegahan dan pengawasan penyebaran virus ini dilakukan oleh Karantina Ikan. Tujuan dari pelaksanan Praktek Kerja Lapang ini untuk mengetahui teknik pemeriksaan Koi Herpes Virus (KHV) pada ikan Koi (Cyprinus carpio) dengan menggunakan metode PCR di Balai Karantina Ikan Kelas 1 jakarta 1.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Aplikasi Vaksin Dna Koi Herpes Virus (Khv) Melalui Metode Perendaman Dengan Dosis Yang Berbeda Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Pada Ikan Mas (Cyprinus Carpio)

Aplikasi Vaksin Dna Koi Herpes Virus (Khv) Melalui Metode Perendaman Dengan Dosis Yang Berbeda Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Pada Ikan Mas (Cyprinus Carpio)

Kesimpulan dari penelitian ini adalah gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV adalah penurunan nafsu makan, respon tanggap berkurang, perubahan warna tubuh, ikan megap - megap, mata cekung dan ditutupi selaput putih, bagian tubuh terasa kesat, sisik mengelupas, sirip geripis, kulit melepuh disertai luka pada permukaan tubuh serta necrosis pada insang. Dosis vaksin DNA KHV yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan KHV yaitu dosis 10 6 dan 10 7 CFU/ml. Dosis yang lebih rendah dari 10 6 CFU/ml tidak mampu mencegah ikan agar tidak terinfeksi KHV.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

DETEKSI KOI HARPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS KOI (Cyprinus carpio L) DENGAN MENGGUNAKAN METODE APLIKASI Polymerase Chain Reaction(PCR)

DETEKSI KOI HARPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS KOI (Cyprinus carpio L) DENGAN MENGGUNAKAN METODE APLIKASI Polymerase Chain Reaction(PCR)

Sampel yang diidentifikasi sebagai infeksi positif sedang KHV adalah sampel yang secara morfologi memperlihatkan kondisi ikan mengalami hemoragik pada bagian kulit berupa lunturnya zat warna kulit, dan pada hasil pengujian PCR memperlihatkan pita 290 bp dan 440 bp, posisi band tersebut telah menandakan bahwa adanya virion yang menginfeksi insang lebih banyak dari pada ikan yang terinfeksi ringan dan dibuktikan dengan adanya lembar- lembar insang yang berwarna putih pucat hampir disemua lembar insangnya. Sedangkan untuk tingkat serangan infeksi berat berupa hemoragik, adanya lesi ataupun luka, lendir kering disekitar bagian tubuh ikan.dan mata tengge lam atau masuk. Timbulnya hal tersebut kemungkinan diindikasikan adanya serangan bakteri pada ikan tersebut sebagai manifestasi infeksi sekunder, hasil uji PCR memperlihatkan tiga pita yaitu 290 bp, 440 bp, 630 bp. Terbentuknya band tersebut menandakan bahwa terdapatnya virion dalam jumlah yang sangat banyak menyerang sampel tersebut dan kemudian teramplifikasi. Hal lain yang dapat ditandai juga sebelum melakukan uji PCR adalah insang yang seluruhnya berwarna putih dan mengalami kematian kurang dari delapan atau sepuluh hari setelah terinfeksi (Gilda Lio, 2006). Timbulnya suatu penyakit pada ikan dapat disebabkan tiga faktor, yaitu kondisi tubuh ikan yang kurang baik, lingkungan kolam yang kurang baik dan patogen atau hewan lain pembawa penyakit. Ketiga factor tersebut mempunyai hubungan yang erat sekali sebab bila salah satu faktor terjadi maka serangan penyakit pasti terjadi. Sakit pada ikan yaitu suatu keadaan yang abnormal yang ditandai dengan penurunan kemampuan ikan secara gradual dalam mempertahankan fungsifungsi fisiologik normal. Pada keadaan tersebut ikan dalam kondisi tidak seimbang fisiologisnya serta tidak mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Timbulnya kondisi tersebut disebabkan oleh adanya stress yang terjadi, strees yang terjadi karena belum adanya proses adaptasi ikan dengan lingkungan barunya, dapat juga akibat infeksi patogen yang dapat berupa virus, bakteri, fungi atau parasit. Sakit pula dapat pula di defesiensi atau mal nutrisi dan keadaan lingkungan kolam ataupun aquarium yang tidak bersih (Agus irianto, 2006)
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pressure Effect of Temperature on Koi Herpes Virus Diseases (KHVD) at Koi Fish (Cyprinus carpio koi).

Pressure Effect of Temperature on Koi Herpes Virus Diseases (KHVD) at Koi Fish (Cyprinus carpio koi).

Penyakit KHV merupakan salah satu penyakit infeksius yang menyerang spesies ikan Koi dan ikan Mas yang disebabkan oleh golongan virus DNA. Di Indonesia, kasus penyakit KHV diawali di Blitar pada tahun 2002 yang mana telah terjadi kematian massal (80%-95%). Kira-kira akhir April 2002, kasus kematian ikan Mas terjadi di Subang serta kasus serupa pada bulan Mei 2002 terjadi di sentra budidaya ikan Mas di daerah Cirata, Jawa Barat. Wabah penyakit KHV kembali terjadi di daerah Lubuk Linggau, Sumatra Selatan pada bulan Februari 2003 dengan gejala yang ditimbulkan sama seperti yang ditemukan pada ikan Mas di pulau Jawa. Kemudian wabah terus menyebar di propinsi sekitarnya termasuk Bengkulu, dan Jambi. Wabah KHV di Indonesia telah menyebar sampai ke Denpasar (Bali), Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Malang, Kediri, dan Surabaya (Jawa Timur), Semarang dan Brebes (Jawa Tengah), Subang, Bogor, Bandung, Purwakarta, Cianjur, dan Bekasi (Jawa Barat), Banten, dan Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan (Sumatra) (Pasaribu 2003).
Baca lebih lanjut

143 Baca lebih lajut

Lama pemberian ekstrak bawang putih Allium sativum yang optimum pada pakan untuk mencegah penyakit koi herpes virus pada ikan mas cyprinus carpio

Lama pemberian ekstrak bawang putih Allium sativum yang optimum pada pakan untuk mencegah penyakit koi herpes virus pada ikan mas cyprinus carpio

22 seperti nutrisi, lingkungan dan genetik. Menurut Amlacher (1970), darah akan mengalami perubahan khususnya apabila terkena penyakit. Pengamatan gambaran darah ikan selama penelitian meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah leukosit dan diferensial leukosit yang meliputi monosit, neutrofil, limfosit dan trombosit. Jumlah eritrosit normal pada ikan mas Cyprinus carpio adalah 1,43x10 6 sel/mm 3 dengan diameter 7-36 µm (Sjafei et al., 1989). Pada Gambar 3, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah eritrosit yang cukup signifikan untuk semua perlakuan yaitu mencapai 1,47x10 6 sel/mm 3 yang nilainya diatas batas normal. Tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres (Nabib dan Pasaribu, 1989). Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi PBS maupun KHV sehingga produksi lendir di insang berlebih dan terjadi kerusakan pada insang sehingga sulit dalam mengambil oksigen serta patogenitas KHV mulai menyerang pada ikan. Jumlah eritrosit mulai menurun pada hari ke-27 dan kembali normal pada akhir pemeliharaan. Walaupun terjadi hemoragi pada insang, namun hal ini tidak terlalu mempengaruhi jumlah eritrosit dalam darah ikan.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

TRANSMISI TRANSGEN GLIKOPROTEIN DAN KETAHANAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) TRANSGENIK F1 TERHADAP INFEKSI KOI HERPES VIRUS (KHV)

TRANSMISI TRANSGEN GLIKOPROTEIN DAN KETAHANAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) TRANSGENIK F1 TERHADAP INFEKSI KOI HERPES VIRUS (KHV)

Ketahanan penyakit merupakan salah satu karakter selain pertumbuhan yang potensial dikembangkan dengan metode transgenesis pada ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi transmisi transgen glikoprotein-GP11 (GP11) dari KHV dan menguji ketahanan ikan mas transgenik F 1 terhadap infeksi koi herpes virus (KHV). Empat garis keturunan F 1 transgenik (B1, B2, SA1, dan SA2) diproduksi dengan menyilangkan ikan mas jantan F 0 yang membawa gen GP11 di sperma dengan betina non-transgenik. Pengujian transmisi transgen dilakukan dengan mendeteksi transgen pada larva dan benih transgenik F 1 . Deteksi transgen dilakukan dengan metode PCR menggunakan primer spesifik untuk konstruksi gen glikoprotein (krt-GP11). Evaluasi ketahanan terhadap KHV dilakukan dengan uji tantang secara kohabitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jantan F 0 mentransmisikan transgen pada generasi F 1 . Transmisi transgen pada ikan mas transgenik F 1 berkisar antara 0%-3%. Ikan mas transgenik F 1 lebih tahan terhadap infeksi KHV dibandingkan non-transgenik. Ikan mas transgenik F 1 memiliki sintasan (85,56±7,29%) yang lebih baik dibandingkan dengan ikan mas non-transgenik (71,11±18,99%).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

OPTIMASI FREKUENSI PEMBERIAN VITAMIN C PAD A PAKAN KOMERSIAL UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.)

OPTIMASI FREKUENSI PEMBERIAN VITAMIN C PAD A PAKAN KOMERSIAL UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.)

The research with objective to understand optimization frequency of supplemented ascorbic acid (microencapsulated vitamin C CFC-90) feeding to control the Koi Herpes Virus (KHV) disease infecting common carp has been done in Fish Disease Laboratory. Fishes were reared in plastic container (80 litres), with density of 20 fish sized 10 gram in average. The treatments were: (A) daily application, (B) three daily application, (C) five daily application, and (D) without vitamin C as a control. Examined fishes were challenged to KHV infection after the 21 days rearing period by cohabitation method for 2 weeks. Observations been done on behaviour, clinical signs and mortality of fishes. The results showed that the highest survival rate was found on the application of vitamin C given every 3 days (50.0%); followed by every day (12.5%), every 5 days (7.5%), and the lowest was found on control group (1.3%). Control techniques in the case of KHV carp populations through the provision of vitamin C immunostimulatory conducted regularly since well before the existence of KHV infection provides the best protective level.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

DIAGNOSA KOI HERPES VIRUS (KHV) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN NESTED TIMIDINE KINASE

DIAGNOSA KOI HERPES VIRUS (KHV) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN NESTED TIMIDINE KINASE

DNA dari jaringan ikan setelah diekstrak dan diketahui konsentrasinya, dilakukan pengujian KHV menggunakan uji PCR. Step pertama dari amplifikasi PCR menggunankan outer primer timidine kinase (Bercovier et al., 2005) dengan basa forward-nya 5’- GGGTTACCTGTACGAG-3’ dan reverse 5’- CACCCAGTAGATTATGC-3’ dengan target band 409 bp (based pairs). Komposisi reaksi PCR menggunakan Go Taq-Green Master mix 2x (Promega) 12,5 μL; dnase free water (promega) 8,5 μL; primer forward dan primer reverse masing-masing 1 μL dan DNA templatenya 2 μL. Master mix PCR dan DNA template digabung dalam tubes 0,2 mL yang untuk selanjutnya dilakukan uji PCR pada mesin MJ Research Thermal Cycler dengan parameter siklusnya: pra-denaturasi 94ºC-5 menit, denaturasi 95ºC-1 menit, annealing 55ºC-1 menit, extension 72ºC-1 menit diulang 40 siklus, final extension 72ºC-10 menit. PCR produk dianalisis pada gel agarose (1,5% dalam Tris-acetate EDTA buffer/TAE) dan didokumentasikan dengan foto polaroid.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Determinasi Molekuler Koi Herpes Virus (Khv) yang Diisolasi dari Ikan Koi (Cyprinus Carpio Koi)

Determinasi Molekuler Koi Herpes Virus (Khv) yang Diisolasi dari Ikan Koi (Cyprinus Carpio Koi)

KHV telah menyebar ke berbagai tempat dan menyebabkan kerugian yang sangat besar da- lam kegiatan produksi budidaya ikan koi dan mas di Indonesia. Untuk daerah yang terinfeksi KHV, upaya awal dapat dilakukan ialah pemusnahan ikan-ikan yang telah terinfeksi virus KHV. Upa- ya pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi sebagai untuk memicu sistem pertahanan tubuh secara spesifik (Yasumoto et al. 2006). Vaksin juga dapat digunakan sebagai upaya untuk pengen- dalian hama dan penyakit. Vaksin yang digunakan untuk mengendalikan penyakit KHV adalah KV3 (Anonim, 2009). Cara melemahkan virus yaitu dengan UV radiasi. Vaksin KV3 mudah diguna- kan, harganya murah dan tingkat keberhasilan 90 % dan hanya digunakan untuk ikan mas dan ikan koi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata) BAGI PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata) BAGI PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Kematian yang terjadi pada seluruh kelompok perlakuan mengindikasikan bahwa KHV merupakan penyakit yang ganas. Tingginya tingkat kematian pada minggu pertama dibandingkan dengan minggu-minggu berikutnya, sangat mungkin terkait dengan masa inkubasi dari infeksi virus tersebut. Menurut OATA (2001), KHV merupakan penyakit viral pada ikan mas dan koi (Cyprinus carpio) yang sangat menular, mengakibatkan morbiditas dan mortalitas antara 80%—100% dari populasi ikan, dengan masa inkubasi antara 1—14 hari. Adanya perbedaan rataan persentase sintasan yang signifikan antar kelompok perlakuan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif akibat pemberian ekstrak sambiloto pada media pemeliharaan ikan uji. Apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol, maka konsentrasi ekstrak sambiloto yang memberikan nilai positif secara linier didapatkan mulai dari konsentrasi 200 mg/L, kemudian pada 300 mg/L, dan efek terbaik diperoleh pada 400 mg/L. Sedangkan nilai rataan persentase sintasan pada konsentrasi 100 mg/L memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol, meskipun secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Koiprotector : protector ikan koi berbasis vaksinasi melalui injeksi vaksin dna sebagai pencegahan terhadap penyakit koi herpes virus

Koiprotector : protector ikan koi berbasis vaksinasi melalui injeksi vaksin dna sebagai pencegahan terhadap penyakit koi herpes virus

Dari penelitian tentang efektivitas vaksin DNA serta dosis yang tepat dalam memvaksinasi ikan uji yang telah dilakukan didapatkan dosis yang sesuai untuk pencegahan terhadap penyakit KHV serta tingkat kelangsungan hidup berdasarkan perlakuan vaksinasi. Penelitian ini menggunakan sistem Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan 3 kali ulangan serta menggunakan dua kontrol. Kontrol yang digunakan berupa kontrol postif serta kontrol negatif. Kontrol positif berupa ikan yang tidak divaksinasi namun diuji tantang menggunakan filtrate virus KHV. Kontrol negatif berupa ikan koi yang tidak di vaksin serta tidak diuji dengan filtrate KHV namun disuntik PBS (Phosphate Buffer Saline) untuk mengetahui kematian ikan bukan diakibatkan efek injeksi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

TAP.COM -   PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN ... 11950 34959 1 PB

TAP.COM - PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN ... 11950 34959 1 PB

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa inang alternatif yang dikohabitasi yaitu ikan mujair (Tilapia mosambica), ikan tawes (Punt- ius javanicus), bawal (Colossoma spp), gurame (Osphronemus gouramy), mas koki (Carassius auratus) dan komet (Carassius carpio) tidak menunjukkan adanya tanda-tanda klinis terse- rang dan secara PCR tidak terinfeksi KHV. Se- dangkan ikan mas dan koi yang dikohabitasi de- ngan ikan mas terinfeksi KHV tidak ada peru- bahan patologi, tetapi dengan pemeriksaan PCR menunjukkan terinfeksi KHV. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena ikan tersebut memiliki daya tahan tubuh yang kuat atau ikan-ikan ter- sebut telah terpapar KHV sehingga ikan terse- but lebih tahan terhadap serangan KHV. Bebe- rapa ikan koi mempunyai kekebalan alami ter- hadap virus tersebut dan tidak terpengaruh oleh ikan sekitar.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KOLEKSI, KARAKTERISASI, DAN SELEKSI PLASMA NUTFAH IKAN MAS (Cyprinus carpio) TAHAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS

KOLEKSI, KARAKTERISASI, DAN SELEKSI PLASMA NUTFAH IKAN MAS (Cyprinus carpio) TAHAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS

Wabah penyakit koi herpes virus (KHV) terjadi sejak tahun 2002 mengakibatkan jumlah produksi ikan mas nasional mengalami penurunan yang cukup signifikan. Salah satu alternatif penanggulangan penyakit KHV yang bisa dilakukan adalah perbaikan genetik untuk membentuk varietas unggul ikan mas tahan KHV. Pembentukan varietas unggul ikan mas tahan KHV dimulai dari kegiatan koleksi, karakterisasi, dan evaluasi plasma nutfah ikan mas. Koleksi plasma nutfah ikan mas dilakukan di beberapa daerah asal ikan mas antara lain di Kabupaten Kuningan, Bandung, Cianjur, dan Pandeglang (Banten). Karakterisasi plasma nutfah ikan mas hasil koleksi dilakukan dengan metode RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) dan evaluasi daya tahan plasma nutfah ikan mas terhadap serangan KHV dilakukan dengan uji tantang secara laboratorium menggunakan metode kohabitasi. Dari hasil kegiatan koleksi diperoleh lima strain ikan mas yang dominan dibudidayakan di Jawa Barat dan Banten, yaitu strain Majalaya (Bandung), Rajadanu (Kuningan), Wildan (Cianjur), Sutisna (Kuningan), dan Sinyonya (Pandeglang). Hasil karakterisasi menunjukkan derajat polimorfisme strain Majalaya, Rajadanu, Wildan, Sutisna, dan Sinyonya secara berturut-turut sebesar 67,71; 83,33; 83,33; 79,17; dan 79,17 dengan heterozigositas sebesar 0,233; 0,274; 0,297; 0,278; dan 0,299. Analisis lanjutan menggunakan program UPGMA mengelompokkan kelima strain tersebut ke dalam tiga kelompok genotipe, yaitu genotipe A (Rajadanu dan Majalaya), genotipe B (Sinyonya dan Wildan), serta genotipe C (Sutisna). Hasil uji tantang dengan KHV menunjukkan bahwa strain Rajadanu mempunyai sintasan tertinggi sebesar 40%, diikuti oleh strain Majalaya (36,67%), Sinyonya dan Sutisna (26,67%), serta Wildan (23,33%). Berdasarkan hasil tersebut, strain Rajadanu berpotensi besar dikembangkan sebagai varietas ikan mas tahan KHV.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

SELEKSI KARAKTER PERTUMBUHAN POPULASI IKAN MAS (Cyprinus carpio) RELATIF TAHAN KOI HERPES VIRUS

SELEKSI KARAKTER PERTUMBUHAN POPULASI IKAN MAS (Cyprinus carpio) RELATIF TAHAN KOI HERPES VIRUS

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan komoditas yang cukup banyak diproduksi oleh pembudidaya di Indonesia dan telah memberikan kontribusi ekonomi cukup besar. Hal ini tercermin dari angka produksi ikan mas yang menduduki urutan pertama dari produksi ikan hasil budidaya air tawar pada skala nasional selama kurun waktu 1992-1997 (Anonim, 1999). Timbulnya wabah penyakit yang disebabkan oleh virus KHV (Koi Herpes Virus) yang menyerang ikan mas sejak tahun 2002 membuat usaha budidaya ikan tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis (Sunarto, 2005; Sunarto et al., 2005). Kerugian yang ditimbulkan penyakit KHV pada tahun 2002 mencapai lebih dari US$ 10.000.000 (Rukmono, 2005). Selanjutnya wabah KHV menyebar di beberapa sentra budidaya ikan mas seperti di Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga ke Sulawesi dan Irian. Dalam rangka penanggulangan dan pengendalian penyakit KHV, beberapa stra- tegi alternatif telah dilakukan antara lain manajemen kesehatan ikan secara terpadu, penggunaan ikan mas bebas KHV, aplikasi imunopropilaksis dan lain-lain (Taukhid et al., 2005). Namun demikian, alternatif penang- gulangan penyakit melalui perbaikan genetik ikan mas belum dilakukan sehingga perlu diinisiasi. Fjalestad et al. (1993) menjelaskan bahwa kegiatan seleksi ikan untuk menda- patkan populasi tahan terhadap penyakit relatif efektif dilakukan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Diagnosis Penyakit Ikan Koi Menggunakan Metode Naive Bayes Classifier

Diagnosis Penyakit Ikan Koi Menggunakan Metode Naive Bayes Classifier

Ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan jenis ikan hias air tawar yang banyak dibudidayakan karena mempunyai bentuk dan warna tubuh yang menarik. Serangan penyakit dan infeksi parasit merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pembudidaya ikan. Penyakit yang sering menyerang koi disebabkan oleh pathogen yang berupa bakteri, jamur, atau virus. Patogen yang hidup dalam tubuh koi sangat merugikan karena secara tidak langsung akan mempengaruhi warna ikan koi. Penyakit ikan koi pada umumnya memiliki beberapa gejala umum yang hampir sama seperti lendir yang berlebih, muncul bercak luka pada tubuh ikan serta ikan koi jadi menyediri. Dengan banyaknya penyakit yang mempunyai gejala yang sama tersebut sulit mendiagnosis penyakit pada ikan koi. Banyak metode yang bisa digunakan untuk membuat suatu sistem salah satunya yaitu dengan menggunakan metode Naive Bayes Classifier. Dalam sistem ini menerima input berupa data gejala penyakit ikan koi dan data tersebut kemudian diolah menggunakan metode Naive Bayes yang hasil output sistem berupa diagnosis jenis penyakit dan pengobatan hasil penyakit yang didiagnosis. Berdasarkan pengujian akurasi dari 20 data menghasilkan tingkat akurasi sebesar 90%.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERAN KELOMPOK TANI “PRANGGANG KOI FARM” TERHADAP BUDIDAYA IKAN KOI DI DESA PRANGGANG KECAMATAN PLOSOKLATEN KABUPATEN KEDIRI

PERAN KELOMPOK TANI “PRANGGANG KOI FARM” TERHADAP BUDIDAYA IKAN KOI DI DESA PRANGGANG KECAMATAN PLOSOKLATEN KABUPATEN KEDIRI

MUHAMAD DEVID, Dosen Pembimbing Dr. ROPINGI, M.Pd dan NURIL HIDAYATI, M.Hum: Peran Kelompok Tani “Pranggang Koi Farm” Terhadap Budidaya Ikan Koi Di Desa Pranggang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, Ekonomi Syariah, Syariah, STAIN Kediri, 2016.

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects