SKETSA BIOGRAFI AL- MUNÂWȊ DAN KARYANYA FAY Ḍ AL- QADȊR
A. Corak Interpretasi Ishârȋ al- Munâw dalam Fay ḍ al- Qadȋr
8. Ḥad th tentang pengubahan rupa menjadi lebih buruk
redaksi yang tidak persis namun diungkapkan dengan pengutipan langsung-positif. Namun setidaknya dalam konteks ini ditemukan adanya tokoh sebelumnya yang telah membicarakan tema serupa di atas.
8. Ḥad th tentang pengubahan rupa menjadi lebih buruk
Rasulullah Saw. bersabda:
Pada akhir zaman akan ada pelenyapan, pelemparan dan pengubahan rupa, bila telah muncul alat musik dan penyanyi, serta penghalalan khamr.223
Al-Suyȗṭȋ menyimbolkan adȋth ini diriwayatkan oleh Al- abrânȋ dalam al-Mu‛jam al-Kabȋr (ب )224 dari Sahl bin Sa‛d.225
Ḥadȋth ini memiliki sejumlah mutâbi‛, antara lain diriwayatkan oleh شAbd
bin Ḥamȋd,226
Ibn Mâjah,227 dan lain-lain.
Ḥadȋth ini juga memiliki sejumlah shâhid, antara lain diriwayatkan oleh al-Tirmidhȋ,228
al-Rȗyânȋ dan al-Shajarȋ229 dari شImrân bin Hu ayn,230 Al- abrânȋ
dari Abȋ Sa‛ȋd al-Khudrȋ,231 al-Dânȋ dari شImrân bin Hu ayn232 dan dari شAbd al-Ra mân bin Sabiṭ.233
223
Al-Suyȗṭȋ, al-Jâmi‛ al-Saghȋr fi Aḥâdȋth al-Bashȋr al-Ẓadhȋr, 2/293. 224
Al- abrânȋ, al-Mu‛jam al-Kabȋr, no. 5810, 6/150. 225
Al-Suyȗṭȋ, al-Jâmi‛ al-Saghȋr fi Aḥâdȋth al-Bashȋr al-Ẓadhȋr, 2/293. 226
Ibn Hamid, al-Muntakhab min Musnad ‘Abd bin amȋd, no. 452, 167. 227
Ibn Mâjah, Sunan Ibn Mâjah, no. 4060, 2/1350. 228
Al-Tirmidhȋ, Sunan al-Tirmidhȋ, no. 2212, 4/65. 229
Ya yâ bin al-Husayn al-Shajarȋ al-Jurjânȋ, Tartȋb al-Ȃmâlȋ al-Khamȋsiyyah, Penyusun: al-Qâḍȋ Mu yȋ al-Dȋn Mu ammad bin A mad al-شAbshamȋ, Editor: Mu ammad Ḥasan M. Hasan Ismâ‛ȋl (Beirut: Dâr al-Kutub al-شIlmiyyah, 2001), cet. I, no. 2748, 2/359; 2814, 2/376.
230
Mu ammad bin Harun al-Rȗyânȋ, Musnad al-Rȗyânȋ, Editor: Ayman شAli Abȗ Yamani (Kairo: Mu’assasah Qurtubah, 1416), cet. I, no. 142, 1/136.
231
Al- abrânȋ, al-Mu‛jam al-Saghȋr, Editor: Mu ammad Shakȗr Ma mȗd (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1985), cet. I, no. 973, 2/172.
Al-Munâwȋ menjelaskan kualitas adȋth di atas dengan mengutip pendapat al-Haythamȋ bahwa dalam sanad yang disebutkannya (al- abrânȋ dalam al-Kabȋr) terdapat perawi ḍa‛ȋf bernama شAbd Allâh bin Abi al-Rayyân.234 Sementara itu, Al-Albânȋ menilainya aḥȋḥ.235
Ḥadȋth ini menerangkan bahwa bila kezaliman telah merajalela dalam suatu kaum; mereka tak canggung berbuat kemungkaran dan kemaksiatan secara terang-terangan,236 maka Allâh mengazab mereka sebab keburukan yang mereka lakukan, baik dengan cara dilenyap-tenggelamkan ke dalam bumi (khasf), dihujani batu (qadhf),237 maupun diubah wujudnya menjadi buruk (maskh). Sebagian ulama mengartikan maskh dengan makna zahir-hakikinya, yakni kutukan berupa perubahan tampilan fisik menjadi lebih buruk, seperti berubah rupa menjadi anjing dan babi,238 sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu.
Selain pemaknaan zahir di atas, al-Munâwȋ juga mengungkapkan
interpretasi batin yang tampak berbeda dari zahir lafaznya:
232شUthmân bin Sa‛ȋd al-Dânȋ, al-Sunan al-Wâridah fȋ al-Fitan wa Ghawâilihâ wa al-Sa‛ah wa
Ashrâtihâ, Editor: Rida’ Allâh bin Mu ammad Idrȋs al-Mubârakfȗrȋ (Riyad: Dâr al-شȂ imah, 1416), cet. I, no. 340, 3/709.
233
Ibid., no. 347, 3/716. 234
Al-Munâwȋ, Fayḍ al-Qadȋr, 4/128. Namun setelah penulis mengonfirmasi langsung penilaian al-Haythami dalam karyanya, perawi ḍa‛ȋftersebut bernama شAbd al-Ra mân bin Zayd bin Aslam. Sementara perawi lainnya dalam salah satu jalurnya adalah para perawi aḥȋḥ. Lihat: Al-Haythamȋ, Majma‛ al-Zawâid wa Manba‛ al-Fawâid, no. 12589, 8/10.
235
Al-Albânȋ, aḥȋḥ al-Jâmi‛ al-Saghȋr wa Ziyadatuh, no. 3665, 1/683. 236
Mereka melakukan kezaliman, kemungkaran dan kemaksiatan itu dengan meyakininya sebagai sesuatu yang halal dilakukan. Lihat: Al-Qârȋ, Mirqât al-Mafâtȋḥ Sharḥ Mishkât al-Ma âbȋḥ, 8/3347.
237
(ف ق) bisa berarti angin kencang, himpitan bumi terhadap mayat dalam kubur, atau hujan batu. Makna terakhir dinilai paling relevan dalam konteks ini. Lihat: Mu ammad Ashraf bin Amir al-شAzimâbâdȋ, ‘Awn al-Ma‛bȗd SharḥSunan Abȋ Dâwȗd (Beirut: Dâr al-Kutub al-شIlmiyyah, 1415), cet. II, 11/283.
238
Sebagian ulama berpendapat, maksudnya adalah pengubahan hati menjadi lebih buruk, sehingga menjadi seperti hati hewan yang menyerupainya dalam tabiat, kelakuan dan wataknya. Ada orang yang berakhlak seperti kaprahnya binatang buas; seperti karakter anjing, babi dan himar. Ada pula orang yang bergaya dengan pakaiannya sebagaimana seekor burung merak bergaya dalam bulunya. Ada juga yang bebal seperti keledai, jinak seperti merpati, meneror seperti serigala, licik seperti rubah, atau lebih baik daripada itu; seperti kambing. Keserupaan batin itu menguat hingga tampak dalam tampilan lahir. Mulanya tampak samar, lalu terlihat terang bagi ahli firasat.239
Lebih jelasnya, interpretasi ishârȋ atas maskh dalam adȋth di atas tampak dalam ketiga unsur berikut:
Denotasi (Mushȋr) Konotasi (Mushâr Ilayh) Relasi
Bila kezaliman telah
merajalela dalam suatu
kaum, maka Allâh
menimpakan azab kepada mereka, salah satunya
dalam bentuk
pengubahan rupa fisik menjadi lebih buruk,
seperti berubah rupa
menjadi anjing atau babi, sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelumnya.
Bila kezaliman telah
merajalela dalam suatu
kaum, maka Allâh
menimpakan azab kepada
mereka, salah satunya
dalam bentuk pengubahan rupa hati, sifat dan mental menjadi lebih buruk, seperti karakter anjing, babi dan
himar. Boleh jadi
perubahan itu hanya dapat
dilihat oleh kalangan
tertentu yang diberi
anugerah oleh Allâh untuk melihatnya, seperti ahli firasat.
Keduanya berelasi
dalam hal “perubahan
bentuk kepada yang
lebih burukس
menyangkut fisik pada pemaknaan zahir, dan mengenai nonfisik pada pemaknaan
batin/ishârȋ.
Interpretasi ishârȋ di atas valid dengan terpenuhinya semua kriteria validitasnya sebagaimana berikut:
239
No Kriteria Validitas Keterangan
1 Didukung oleh dalil syariat yang lain dan
tidak bertentangan dengan salah satu
na -nya
Ada dalil shar‛ȋ lain tentang hati yang diubah menjadi lebih buruk,240 bahkan seperti hati binatang.241 Sebaliknya, tidak
ada na yang bertentangan dengannya.
2 Selaras dengan
redaksi dan denotasi
Keselarasan ini tampak dengan adanya
relasi yang mengikat antara mushȋr
(denotasi) dan mushâr ilayh (konotasi).
3 Tidak diklaim
sebagai satu-satunya yang dimaksud oleh
adȋth
Tidak ada pernyataan bahwa hanya makna konotatif itu yang dimaksudkan
oleh adȋth dengan mengenyahkan makna denotatifnya.
4 Tidak ambigu Bukan shaṭahât.
Setelah terlebih dahulu mengungkapkan pemaknaan zahirnya dan menyatakan bahwa sebagian ulama memaknainya apa adanya menurut hakikinya, barulah Al-Munâwȋ mengungkapkan interpretasi ishârȋ yang berbeda dari makna zahirnya sebagaimana di atas.
Interpretasi ishârȋ tersebut diposisikan sebagai ulasan utama atas adȋth
dengan ditulis sejurus setelah penyebutan matan adȋth meski masih terjeda oleh serangkaian ulasan zahir.
Tampak jelas dari ungkapan al-Munâwȋ bahwa interpretasi ishârȋ tersebut bukanlah berasal darinya, melainkan dari “al-Ba‛ḍ” (sebagian ulama/sufi) yang menjadi sumber kutipannya secara langsung. Terkait hal ini, sejauh pelacakan penulis, ditemukan adanya sejumlah penulis kitab sharḥ adȋth sebelumnya yang
240
Seperti QS. Al-Baqarah: 283. Lihat: شAlȋ bin A mad al-Wâ idȋ, al-Wa ȋṭfȋ Tafsȋr al-Qur’ân al
-Majȋd (Beirut: Dâr al-Kutub al-شIlmiyyah, 1994), cet. I, 1/407; Man ȗr bin Muhammad al-Sam‛ânȋ, Tafsȋr al-Qur’ân (Riyâḍ: Dâr al-Waṭan, 1997), cet. I, 1/287; al-Husayn bin Mas‛ȗd al -Baghawȋ, Ma‛âlim al-Tanzȋl fȋ Tafsȋr al-Qur’ân (Beirut: Dâr I ya’ al-Turâth al-شArabȋ, 1420), cet. I, 1/397.
241
Seperti QS. Al-An’am: 38 yang ditakwilkan oleh Sufyân bin شUyaynah. Lihat: Mu ammad bin Abȋ Bakar Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawâb al-Kâfȋ li Man Sa’ala ‘an al-Dawâ’ al-Shâfȋ
juga mengungkapkan hal senada, seperti Ibn Baṭṭâl (w. 449 H)242 dan al-Qasṭalânȋ
(w. 923 H)243. Bahkan, Ibn al-Qayyim (w. 751 H) mengungkapkannya dengan redaksi yang nyaris persis:
“Di antara sanksi maksiat adalah pengubahan hati menjadi lebih buruk,
sebagaimana terjadi pada rupa fisik. Hati pun berubah seperti hati hewan yang serupa dalam perangai, perbuatan dan wataknya. Ada hati yang diubah menjadi hati babi karena kuatnya keserupaan pemiliknya dengan babi, ada yang diubah menjadi hati anjing, himar, ular, kalajengking, dan lain sebagainya.س244