BAB IV ANALISA DAN INTERPRETASI
IV. A.2 Gambaran penderitaan yang dialami responden A
Awal tahun 2003 merupakan awal dari sederet penderitaan Eti. Pada saat itu Eti yang berumur 41 tahun baru saja melahirkan anaknya yang ke lima yang nantinya menjadi anaknya yang paling kecil. Hal tersebut merupakan suatu kebahagiaan besar bagi Eti, karena dirinya memang ingin memiliki banyak anak. Tetapi sayangnya kebahagiaan tersebut hanya berlangsung sebentar, tidak lama setelah melahirkan, Eti mengalami keputihan terus menerus. Ia tidak mengalami keluhan apapun selain perasaan tidak nyaman karena keputihan tersebut. Ia mencoba obat tradisional untuk menyembuhkan keputihannya tetapi hal itu tidak
berhasil. Keputihan yang dialaminya berlangsung terus selama 1 tahun sampai akhirnya ia mengalami pendarahan.
Pada Agustus tahun 2004 akhirnya Eti memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Eti yang pada saat itu masih tinggal di Bogor pergi ke Rumah Sakit Salak. Eti menjalani papsmear dan mendapati dirinya didiagnosa kanker leher rahim stadium dini awal. Mendengar hal itu Eti merasa sangat kaget (shock) karena penyakit tersebut mengingatkan dirinya akan kenangan pahit mengenai orang tuanya.
“He..eh…udah ke rumah sakit salak, kita dapat hasilnya dua hari kemudian..waktu itu dibilang ibu katanya..waktu itu saya sendiri..ibu kena awal dini kanker rahim..,kanker leher rahim!..waktu saya dengar itu kaget saya..kebeneran orang tua saya meninggal karena kanker rahim…”
Ibu kandung dari Eti meninggal karena kanker leher rahim stadium 4 pada usia 54 tahun dan hanya 3 bulan setelah didiagnosa Ibunya meninggal. Hal tersebut menimbulkan kengerian tersendiri bagi Eti mengenai bahaya dari penyakit yang dideritanya. Dokter yang memeriksa Eti menyarankan Eti untuk menjalani operasi atau kemoterapi tetapi hal tersebut tidak dilakukannya karena pada saat itu Eti dan keluarga akan segera pindah ke Medan.
Tahun 2005 Eti dan keluarga pindah ke Medan. Di Medan Eti tinggal bersama dengan mertua dan adik iparnya. Pada saat di itu keluhan Eti akibat penyakitnya bertambah, ia tidak hanya mengalami keputihan dan pendarahan tetapi juga rasa pusing dan pembengkakan pada perutnya (impairment). Rasa pusing terus Eti alami ketika Ia di medan, dirinya berkesimpulan bahwa hal tersebut terjadi karena pendarahan yang dialaminya. Pembengkakan perut Eti
memiliki ukuran yang tidak wajar, perutnya besar seperti orang hamil. Selain pada perut di sekitar kaki dan selangkangan Eti juga ditemukan benjolan.
“jadi waktu itu keluhan saya ya itu kepalanya pusing, udah gitu perutnya gak enak gitu lah, trus pendarahannya gak berenti-berenti…”
Akhirnya Eti memeriksakan diri lagi ke Rumah Sakit Pirngadi. Pada saat itu Eti menjalani pemeriksaan lambung dan dirinya disarankan untuk melakukan papsmear tetapi hal itu tidak dilakukannya karena ia telah mengetahui bahwa dirinya terkena kanker leher rahim. Sepulang dari rumah sakit Eti menemukan benjolan pada payudaranya. Hal itu membuatnya sangat takut (fear).
“soalnya waktu itu saya juga dibilang kayak ada benjolan di sekitar payudaranya.. jadi saya waktu itu udah takut kali lah, sejak diagnosa di rumah sakit salak yang bilang kalo saya itu kena kanker rahim itu saya udah takut”
Ia memutuskan untuk menjalani suatu pengobatan alternatif pada seorang dokter yang merupakan lulusan luar negeri. Ia diberikan berbagai macam obat yang terbuat dari bahan-bahan alami. Obat-obat organik yang dikonsumsi Eti harus dibeli dengan harga yang sangat mahal. Dengan keadaan ekonomi keluarga Eti yang kurang mampu Ia harus bekerja ekstra untuk dapat membeli obat-obatan tersebut. Rambut gugur merupakan efek samping dari pengobatan yang dijalani Eti.
Pengobatan yang Eti jalani tidak diketahui oleh keluarganya. Eti menanggung sendiri semua biaya pengobatan. Ia mencoba memendam segalanya karena tidak ingin menyusahkan keluarganya (becoming burden on others). Eti
selalu berusaha untuk tampil sesehat mungkin di depan keluarganya baik anak-anak, suami, mertua maupun adik iparnya. Ia berusaha sangat keras untuk tetap bisa menjalani semua aktivitas sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Hal ini juga dilakukan Eti dalam rangka mengambil hati mertua dan adik iparnya. Eti mengetahui bahwa mertua dan adik iparnya tidak begitu menyukai dirinya dan hal terus ia alami walaupun telah 23 tahun menikah. Kadang-kadang Eti merasa dirinya adalah seorang penipu dan pembohong besar (discrediting definition of self). Ia mencoba untuk menutupi semua kebobrokan dan kelemahan dirinya sendiri. Sesungguhnya Eti merasa sangat lelah, tertekan dan stress karena harus menutupi semuanya.
“Gimana gak pembohong, saya tu sakit! Tapi saya bilang sama orang saya tu gak sakit! Saya gak ada keluhan! Apa namanya saya gak pembohong tu namanya, menipu diri saya sendiri…”
Puncak dari rasa stress Eti terjadi pada bulan April tahun 2007. Pada saat itu ia dan adik iparnya mengalami suatu pertengkaran besar. Adik ipar Eti melakukan kekerasan fisik pada dirinya, ia menjambak rambut Eti dan memarahi Eti. Peristiwa tersebut membuat Eti sangat tertekan dan stress yang akhirnya berdampak negatif terhadap kondisi fisik dirinya. Pendarahan Eti yang tadinya mulai berkurang yaitu hanya 3 kali selama 2 bulan akhirnya kembali seperti dulu yaitu terus menerus terjadi selama 2 minggu, selain itu ia mengalami sakit kepala yang sangat sampai membuatnya merasa mual dan muntah bahkan pingsan. Eti tidak tahan dengan semua rasa sakit itu akhirnya ia masuk ke Rumah Sakit Pirngadi. Pada saat diperiksa ternyata ada penyakit lain yang diderita oleh Eti
yaitu polip, batu ginjal, dan infeksi kandung kemih. Pada saat berada di rumah sakit Eti mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Dirinya merasa sangat sedih karena dengan berbagai macam penyakit yang ada di dalam tubuhnya, ia masih harus mengalami tekanan dari mertua dan adik iparnya. Ia merasa semenjak ia pindah ke Medan masalah tidak pernah berhenti terutama berasal dari keluarga suaminya. Eti merasa ia sudah berusaha cukup keras untuk selalu kelihatan baik di depan mertua dan adik iparnya tetapi hal itu tidak berhasil mertua dan adik iparnya tetap saja membenci dirinya. Eti tidak bisa menceritakan keluhan yang ia alami baik penyakitnya maupun perlakuan mertua dan adik iparnya terutama kepada suaminya. Eti merasa apabila ia terus menerus mengeluh mengenai keluarga suaminya maka hal tersebut akan semakin memperparah keadaan rumah tangganya. Ia juga beranggapan mengeluh terus menerus juga akan membuat suaminya terbebani dan merasa bosan (discrediting definition of self). Tidak adanya teman bercerita juga menimbulkan perasaan kesepian pada Eti, ia merasa ketika ia sakit tidak ada orang disekelilingnya untuk mendukung dirinya.
“Jadi waktu itu, waktu saya kles sama saudara saya itulah, saya sakittt kali rasanya, sampe saya bilang sama suami, beginilah saya disini sendiri, gak ada saudara! apalagi..saya ditimpa penyakit seperti ini… sediihh saya…gimana ya saya sendiri disini…”
Dukungan paling besar hanya didapatnya dari anaknya yang kedua dan kelima. Menurut Eti hanya anak-anaknya lah yang banyak memberikan perhatian pada dirinya. Tetapi ketika di rumah sakit ia tidak bisa mendapatkan hal tersebut. Tinggal di rumah sakit mengharuskannya berpisah selama 2 bulan dari anak-anaknya. Hal itu juga menimbulkan kesedihan pada Eti. Ia sangat merasa sedih
dan khawatir mengenai perawatan anak-anaknya terutama anaknya yang paling kecil yang pada saat itu masih berumur 5 tahun.
“Ya…sedihhh sekali saya, mana anak masih kecil lagi, pas saya tinggal di rumah sakit terpaksa saya tinggal….tapi saya tahan itu semua”
Akhirnya setelah 2 bulan Eti keluar dari rumah sakit. Ia dapat berkumpul lagi dengan keluarganya hal tersebut sedikit memberikan kebahagiaan pada Eti walaupun hal itu juga tidak berlangsung lama. Pada pertengahan 2007 Eti terpaksa harus berpisah dengan anak ke duanya. Anak kedua Eti yang bernama Rendy terjerat suatu masalah di Medan sehingga mengharuskannya pindah ke luar kota. Eti membawa anaknya tersebut ke Jakarta. Pada saat di Jakarta Eti menjalani pengobatan alternatif lainnya dan ia juga melakukan papsmear lagi. Hasil papsmear Eti pada saat itu memberikan sedikit angin segar pada dirinya. Dokter mendiagnosa bahwa dirinya hanya terkena radang leher rahim.
Pada saat ia kembali ke Medan Eti memutuskan untuk menghentikan pengobatannya disebabkan oleh masalah keuangan. Eti merasa biaya pengobatannya sangat mahal dan ia tidak lagi sanggup bekerja untuk dapat membeli obat-obat tersebut. Walaupun telah didiagnosa hanya menderita radang leher rahim Eti tetap mengalami rasa pusing. Rasa pusing yang ia alami tersebut membuatnya tidak bisa bekerja seperti dulu lagi (disability). Eti takut apabila penyakitnya bertambah parah, ia takut akan kematian (death anxiety) yang dapat ditimbulkan oleh kanker sehingga ia memutuskan tidak mau memaksakan dirinya seperti dulu lagi. Eti tidak mau bekerja mati-matian lagi karena hal tersebut hanya akan merugikan dirinya. Eti juga tidak mau lagi berusaha keras untuk selalu
tampil bagus di depan mertua dan adik iparnya karena ia menyadari bahwa sekeras apapun ia berusaha mertua dan adik iparnya tidak akan pernah menyukainya, jadi daripada ia harus merasa stress dan tertekan Eti lebih memilih untuk tidak ambil pusing dengan perlakuan keluarga suaminya. Eti hanya berprilaku selayaknya manusia normal lainnya dalam berhubungan dengan manusia lain.
Karena tidak mau membebani dirinya, Eti juga menarik diri dari pergaulan (social isolation). Eti lebih memilih untuk berdiam saja di rumah dan menghindari sebisa mungkin pembicaraan mengenai penyakitnya. Eti beranggapan apabila ia bercerita mengenai penyakitnya kepada teman-temannya yang tidak mengetahui sepenuhnya mengenai penyakit kanker leher rahim hanya akan menambah kecemasan pada dirinya. Ia beranggapan omongan teman-temannya hanya akan semakin membuat dirinya cemas (anxiety).
“ya soalnya kadang-kadang kalo kita cerita penyakit sama orang ini malah bikin tambah cemas karena nanti dibilang nanti begini-begini jadi saya kepikiran jadinya…jadi momok gitu…ya betul… jadi sekarang tu gak mau misalnya lagi ngumpul-ngumpul”
Pada saat ini, Eti hanya berusaha untuk menerima penyakitnya dan keadaan keluarganya semampunya karena ia merasa hanya hal tersebutlah yang dapat dilakukannya pada saat ini. Eti merasa telah berusaha semampu mungkin untuk menjalani semua pengobatan dari penyakit kanker leher rahim yang dideritanya. Ia berusaha untuk menghidari segala hal yang dapat membuat penyakitnya bertambah parah karena Eti takut akan kematian ia masih merasa cemas apabila ia harus meninggalkan anak-anaknya (anxiety).
Kanker leher rahim yang dialami Eti menyebabkan terjadinya pendarahan dan rasa nyeri setiap kali melakukan hubungan seksual. Hal ini tentu saja menimbulkan gangguan seksual pada dirinya. Pendarahan dan rasa nyeri pada vagina akibat kanker yang dialaminya makin lama makin membuat ia enggan dan juga akhirnya tidak bisa melakukan hubungan seksual dengan suaminya (disability). Keluhan ini sering menimbulkan kemarahan pada diri Eti.